Bulan Oktober dan November yang baru saja berlalu adalah masa seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ratusan ribu pelamar di seluruh Indonesia mengikuti seleksi ini. Bagi sebagian besar orang di daerah, menjadi PNS adalah idaman, seolah-olah tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik selain PNS. Beberapa hari yang lalu hasil seleksi penerimaan PNS di beberapa daerah sudah diumumkan di media lokal. Di daerah asal saya, pengumuman ini disambut dengan meriah, sebagaimana dapat dibaca di koran Singgalang ini, media lokal di Padang.
Apa sih yang yang menyebabkan begitu banyak orang di daerah-daerah tergiur menjadi PNS? Banyak. Misalnya menjadi PNS ada jaminan di hari tua (pensiun), tidak terkena krisis (meski zaman lagi krisis gaji PNS tetap saja besarnya, tidak bakal berkurang), jaminan kesehatan, asuransi, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan bahwa menjadi PNS kerjanya lebih santai daripada pegawai swasta. Benarkah?
Pada pengumunan seleksi penerimaan PNS Tahun 2008 saya melihat banyak formasi untuk lulusan Informatika/Sistem Informasi di berbagai departemen dan berbagai pemerintah daerah. Saya bertanya kepada seorang wiudawan yang lulus bulan Oktober kemaren, apakah dia ikut tes CPNS? Dia jawab tidak berminat. Saya menduga sebagian besar lulusan wisuda Oktober maupun wisuda yang lalu-lalu juga tidak berminat mengikuti tes CPNS.
Saya tidak heran mengapa menjadi PNS tidak menarik bagi alumni ITB, khususnya alumni Informatika. Saya menduga-duga saja penyebabnya. Pertama, mungkin karena masalah gaji. PNS identik dengan gaji kecil. Menurut saya ini tidak selalu benar. Ada tunjangan-tunjangan lain selain gaji yang bakal diperoleh, lalu ada honor tambahan karena ikut dalam suatu tim, kepanitiaan, kunjungan kerja, dan lain-lain. Cukuplah untuk hidup bersahaja.
Kedua, mungkin karena karena citra PNS yang dianggap kurang baik, misalnya PNS dianggap identik dengan santai, malas, lamban, tidak profesional, terlalu birokratis, banyak korupsi, dan sebagainya. Menurut saya dulu mungkin begitu, tetapi sekarang dengan efektifnya lembaga pengawasan, maka kinerja PNS sudah lebih baik dari zaman dulu.
Saya rasa masih ada penyebab lain dari kedua hal yang saya sebutkan di atas, tetapi saya yakin alasan utama mungkin karena faktor materi. Lulus dari ITB kok menjadi PNS, mungkin begitu pertanyaan orangtua dan keluarga di kampung. Bagi keluarga di kampung, setidaknya lulus dari ITB itu kerjanya ya di perusahaan swasta yang gajinya besar atau di BUMN. Hingga saat ini masih ada anggapan di masyarakat kalau lulusan ITB harus mempunyai penghasilan besar. Ini tentu saja tidak benar. Kaya bukanlah tujuan hidup, bukan?
Minimnya lulusan ITB bekerja sebagai PNS di pemerintahan dan departeman sebenarnya patut disayangkan. Mereka mempunyai kualitas akademik yang bagus. Tenaga dan pikiran mereka sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa ini, tetapi mereka tidak mau masuk ke dalamnya. Akhirnya formasi PNS diisi oleh lulusan dari perguruan tinggi lain yang mungkin beberapa diantaranya tidak memenuhi kaidah the right man in the right place.
Saya sih berharap agar banyak alumni ITB yang mau bekerja menjadi PNS di lembaga pemerintah dan departemen, supaya terjadi keseimbangan intelektual di lembaga-lembaga tersebut. Menjadi PNS bukan untuk kepentingan jangka pendek, tetapi untuk kepentingan jangka panjang, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara kita juga.
17 tanggapan so far ↓
wahyuapriani // 12 Desember 2008 pada 18:00 |
Iya, emang jarang bgt lulusan ITB mo jd PNS, mereka rata² melamar d BUMN atau PMA yg secara nyata gaji lebih besar. Hmmm….
Gpp deh, mengurangi persaingan. Aku kmr nyoba ikut daftar CPNS. Mmg kebanyakan formasi yg dibutuhin adalah TI.
Salam ya, just blog walking ajah…
Zakka Fauzan Muhammad // 12 Desember 2008 pada 22:11 |
hahaha… itu wisudawannya saya ya pak??
dwinanto // 13 Desember 2008 pada 00:22 |
Mungkin para lulusan ITB masih memandang pekerjaan sebagai pegawai negeri adalah pekerjaan yang kurang menguntungkan,.
Akan tetapi, pada akhirnya orang-orang yang menjadi pegawai negeri adalah yang berbasis memenuhi kebutuhan dan memperoleh jaminan hidup semata, tanpa visi membangun bangsa,.
ekoph // 13 Desember 2008 pada 07:49 |
bukan hanya “ogah jadi PNS” tapi juga yang terjun ke dunia pendidikan masih minim.
Pendidikan di negara kita justru harus dipegang, diolah, dikelola oleh orang-orang yang mengerti pendidikan dan mengerti materi yang akan diberikan pada peserta didik. untuk poin pertama, mungkin orang eks-IKIP akan lebih paham, tapi untuk urusan yang kedua sepertinya harus oleh orang-orang yang memiliki kualitas akademik yang benar-benar OK.
someone // 13 Desember 2008 pada 07:59 |
kualitas lulusan2 itb juga sepertinya menurun, banyak yang masih harus disuapin
mungkin fenomena ini juga terjadi di universitas/perguruan tinggi lain. sistem pendidikan?
buchin // 13 Desember 2008 pada 09:36 |
ga hanya Informatika ITB, Informatika ITS pun mengalami hal yang sama.
Males jadi PNS
catra // 15 Desember 2008 pada 10:14 |
kenapa gitu ya pak? kenapa lulusan ITB gak mau menjadi PNS? yah, jawaban nya sudah saya temukan di atas, karena PNS identil dengan gaji kecil. dan ngapain jauh2 kuliah di ITB kalau ujung2nya juga mau jadi PNS.
pak postingan bapak di gay ITB, banyak yang berkata-kata kasar pak. Mungkin komentar mereka dihapus saja. Sakit hati saya membaca komentar mereka yang menjelek2an bapak.
rinaldimunir // 15 Desember 2008 pada 10:41 |
@zakka: benar Zak, saya tanya ke seorang wisudawan IF yang sudah 2 bulan masih wara-wiri ke kampus. Belum dapat kerja tho?
@Catra: komentar terakhir yang kurang pantas dibaca sudah saya hapus. Terima kasiha atas perhatiannya.
fina // 17 Desember 2008 pada 16:29 |
Saya dari dulu memang bercita-cita ingin wirausaha, Pak. Selain itu, saya ingin bisa menyediakan waktu sebaik-baiknya untuk pendidikan keluarga. Saya kurang suka aturan-aturan kerja kantoran.
Mungkin suatu saat nanti bisa jadi saya mencoba jadi PNS karena saya ingin jadi guru/dosen.
Tapi, untuk saat ini saya masih ingin jadi ibu rumah tangga merangkap mahasiswa dan partner suami. Hehe.
Untuk teman-teman alumni yang lain, mungkin ada alasan-alasan khusus mengapa banyak yang tidak mencoba menjadi PNS. Apapun alasannya, sebaiknya kita hormati.
Toh, alasan ingin kaya tidak salah, kan, Pak? Selama niatnya ibadah, caranya halal dan thoyib, insya Allah kekayaan kita bisa memudahkan kita untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain.
Totto Chan : Tribute to Sosaku Kobayashi | Alamsyah Rasyid Blogry | New Wave Marketing // 22 Desember 2008 pada 21:46 |
[...] PNS itu lulusan terbaik dari ITB, UGM, IPB dsb dan terjun jadi guru, tapi kayaknya gak deh secara imbalan materinya gak [...]
Agung Pri // 23 Desember 2008 pada 18:40 |
Kalo saya pikir sih, ada dua faktor tambahan pak
#1 : materi di IF-ITB sendiri selalu bicara tentang penerapan IT ke korporasi (sisanya teori
), jarang yg ke goverment, misal Sistem Informasi, contoh di kuliah selalu aja perusahaan supply-chain, kalau Networking, ga jauh-jauh contohnya dari perusahaan Telco. Side-effectnya berasa sewaktu mengimplementasikan di pemerintah. Tahun2 awal saya dan temen2 berwirausaha, saat berhadapan dengan klien orang2 pemerintah selalu harus pakai “sabar, sabar.. dan sabar”. Setiap hari seperti menerangkan IT ke anak SD. Padahal cuma pas proyek, gimana kalo kerja di dalamnya.
#2 : Gaya hidup mahasiswa ITB juga pak. Di zaman saya, ponsel saja sedikit yg punya, skrg ke kampus pakai sedan, ngetik di laptop sambil jalan. Dengan gaya seperti ini, didukung mindset di pemerintah “tidak mendukung gaya hidup demikian”, maka wajar saja tidak ada yang mau jadi PNS.
Sedikit joke terkait poin #1, saya pernah pas presentasi serius SI yg kami buat, dan tiba2 salah satu PNS itu bertanya (dengan serius pula), “Pak Agung, ‘login’ itu apa sih??” => beberapa rekan saya keluar ruangan lalu tertawa ngakak, sementara saya ‘tersiksa’ untuk berusaha tidak tertawa
–
Agung Pri, IF2K
dhany // 13 Januari 2009 pada 13:09 |
@Agung Pri, IF2K
Agung, sepertinya kalau dulu kamu baru masuk IF terus ada yang ngobrolin Mutex, kamu juga bakalan terlihat bloon. Masih untung bapak PNSnya mau nanya.
numpang neeh // 20 Januari 2009 pada 15:23 |
Orang milih jd PNS tergantung dr tujuannya, sy jg klo ada kesempatan jd PNS, boleh aj, asal departemen apa dulu, intinya punya Visi ke dpan, mau ngapain di perusahaan trsbut, toh kerja di BUMN or Swasta jg klo ga ada visi yah datar2 aj ga ad peningkatan, gaji emang penting, tp menrut sy bukan nomor 1,soalnya byak teman awalnya nyari gaji gede, udah dpt, pingin keluar, nyari tmp yg sesuai minatnya en ga pa2 gajinya di bawah perusahaan sblumnya,
intinya banyak bersyukur, kerja di manapun, klo itu diniatkan ibadah insya Allah hal itu menjadi berkah,
Ada teman UGM, dia lebih senang jualan dr pd kerja di BUMN, meski gaji dibawah BUMN tmp awalnya, dia ngerasa lebih berkah dapat gaji dr jualan.
Sy skarang di BUMN,tp ad ketakutan kena kasus KKN, maklum lah kontraktor,dan lingkungannya emang udah terkondisikan utk itu, lagian hal tersebut kayaknya berlaku utk perusahaan konstruksi lainnya, sok sy jg ga tau nih , jalani aj dulu, yakin aja Allah akan memberikan jlan yg terbaik
akbar sap // 25 Januari 2009 pada 20:41 |
ya pilih mana selera sajalah, nga’ mesti justice bgtu
setiap orang kan ada tujuan masing2
PNS atao inga’ terserah orangnya.
itu kan pilihan hidup. ada orang pengen BUMN atau swasta, tapi PNS di depan mata, knapa ingga.
atau ia disuruh keluarga masuk PNS, apa boleh buat. yang jelas sdah bekerja. dan ambil berkahnya
Mahe // 16 April 2009 pada 07:48 |
sama juga di kampus saya, IT Telkom. Kalo saya lihat jarang anak lulusan IT Telkom mau jadi PNS. Kata sebagian temen sih kurang menantang, dan ilmu nya gk berkembang…
Btw, saya juga agaknya enggan jd PNS, walaupun kedua ortu saya PNS…
Wallahu’alam…
awik1212 // 9 November 2009 pada 13:28 |
selama pilihan bekerja itu untuk berikhtiar, saya rasa mau jadi apa aja ga masalah, seperti selama pilihan beragama itu untuk beribadah, saya rasa mau agama apa aja ga masalah…
Hidayat // 9 November 2009 pada 17:21 |
@awik1212. Kalau dalam agama Islam, paham semua agama adalah benar tidak bisa diterima. Karena dalam Islam, setiap manusia hanya boleh BERIBADAH kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan yang mencipta dan menguasai alam ini, yang menamakan diri-Nya Allah SWT. Padahal agama-agama yang lain menyembah tuhan-tuhan lain.
Tetapi Islam adalah agama toleransi, mempersilakan setiap orang beragama sesuka mereka, dan tidak memaksa mereka untuk beragama Islam. Tetapi di lain sisi, Islam tidak akan pernah MEMBENARKAN agama itu. Perhatikan perbedaannya. Toleransi dalam Islam tidak berarti membenarkan agama lain.
Kalau ada orang Islam yang membenarkan agama lain, Insya Allah, itu hanya orangnya yang membenarkan dan bukan Islamnya.