Catatanku

Nasi Goreng Padang Kesukaan Pak Bondan

24 Desember 2008 · & Komentar

Sudah lama saya berkeinginan makan nasi goreng khas Minang di Bandung. Dulu Catra pernah merekomendasikan nasi goreng padang di Pasar Simpang Dago, katanya nasi goreng ini pernah masuk tipi dalam acara Wisata Kuliner asuhan Pak Bondan Winarno.

Kemaren sore saya melewati ke Pasar Simpang Dago, saya cari-cari pedagang nasi goreng padang itu, syukurlah ketemu juga. Warung kaki lima ini terletak di pinggir Jalan Ir.H.Juanda (depan pertigaan Jl. Tubagus Ismail), tepatnya di depan Gedung Pusat Penelitian Air. Ini dia foto warungnya:

nasgor-1

Saya masuk ke dalam. Ternyata benar, di atas meja ada foto pemilik warung ini dengan Pak Bondan:

nasgor-2

Wah, promosi nih, kata saya dalam hati. Berarti benar Pak Bondan pernah makan di sini sekalian shooting acara makan-makannya itu.

Saya pesan dua bungkus nasi goreng untuk dibawa pulang (lebih enak makan di tempat). Selain nasi goreng khas Minang (Padang), ada juga soto padang. Saya juga pesan satu bungkus soto.

Ini dia foto nasi goreng khas Minang yang sudah ditaruh ke dalam piring setiba di rumah (sayang pencahayaannya kurang ya):

nasgor-3

Ada telur mata sapi, irisan ketimun, irisan tomat, dan kerupuk merah. Sepintas tidak ada bedanya dengan nasi goreng yang dijual kebanyakan pedagang Jawa Timur atau pedagang asal Tegal/Banyumas. Tapi kalau dilihat lebih detil dan dicoba rasanya, baru kelihatan bedanya. Nasi goreng padang tidak berminyak atau basah, hal ini karena penggunaan minyak goreng lebih sedikit. Warnanya merah karena kecap tidak digunakan overdosis seperti pada nasi goreng lainnya. Warna merah berarti penggunaan porsi cabe lebih banyak, maka dapat ditebak rasanya pedas menggugah selera, tapi tidak terlalu pedas. Di dalam nasi goreng kita temukan irisan daun seledri sehingga nasi goreng terasa lebih harum.

Nasi goreng semacam itu umum kita temukan di Sumatera Barat dan di rumah makan di semua tempat di sana. Bumbunya macam-macam: bawang merah, bawang putih, cabe merah, pala, garam, merica, digerus sampai halus dengan batu lado. Bumbu ini dirajang dengan sedikit minyak sampai harum. Masukkan irisan daun seledri dan bawang daun (bawang perai kalau bahasa Minangnya). Tidak perlu mencampurnya dengan telur, karena telurnya nanti dibikin sebagai telur mata sapi atau telur dadar saja. Kecap cukup sedikit saja. Penyedap? Tidak usah, sebab bumbu itu saja sudah enak, tapi kalau mau ya boleh-boleh saja.

Silakan dicoba, atau kalau malas memasaknya datang saja ke Pasar Simpang Dago, cari warung nasi goreng di atas.

Kategori: Makanan enak

16 tanggapan so far ↓

  • anggriawan // 24 Desember 2008 pada 14:33 | Balas

    saia pernah makan di situ, pak..
    di situ pertama kalinya makan nasi goreng padang..
    ternyata bumbunya beda dari nasi goreng biasanya.. :)

    oo.. pernah diliput di pak bondan toh?
    dapet komentar ‘maknyus’ atau cuma ‘hm.. enak’, pak??
    *beda komentar (katanya) beda kualitas rasa lho.. :)

  • rinaldimunir // 24 Desember 2008 pada 15:24 | Balas

    @anggriawan: ooo, kamu juga sudah sampai ke warung itu? Saya tidak tahu apa komentar Pak Bondan ya, soalnya saya tidak menonton acaranya. Mungkin Catra yang pertama kali merekomendasikan nasi goreng ini ke saya bisa memberi jawaban. Apa kata Pak Bondan, Cat?

  • Byaryoga // 24 Desember 2008 pada 16:38 | Balas

    Selain di simpang dago, di daerah Dipati Ukur juga ada dua rumah makan yang menjual Nasgor Padang: Tiga Putra, dan…saya tidak ingat namanya. Kalau dari arah simpang, letak keduanya setelah SPBU, Tiga Putra di sisi kiri, rumah makan yang lain di sisi kanan. Saya lebih suka Tiga Putra, porsi mahasiswa. :D

    Pengalaman pertama saya dengan nasgor padang adalah di warung nasgor Marah Sulaiman, daerah Sadang Serang sebelum Borma (dari arah Tubagus). Saya awalnya lebih suka ini, karena relatif dekat dengan kos dan tidak terlalu pedas :P Sayang, baru sekali coba dan mulai suka, warungnya tidak lagi buka.

    Ingin tukar pengalaman, Pak. Bapak tahu di daerah mana di Bandung yang jual Nasi Gandul?

  • rinaldimunir // 25 Desember 2008 pada 14:29 | Balas

    @Byaryoga: Nasi gandul? Kayak sinetron Si Doel saja: Cinere – Gandul. Apa tuh nasi gandul? Saya baru dengar.

  • catra // 25 Desember 2008 pada 18:29 | Balas

    eh, akhirnya nyoba juga ya pak?
    hehehe
    nasi gorengnya simpel, porsi mahasiswa pak, bukan porsi kuli. harganya juga lumayan, cuma beda seribu daripada nasi goreng gerobak dekat kosan saya. tapi rasanya mantap, sesuai lidah. hahaha

  • reiSHA // 26 Desember 2008 pada 11:12 | Balas

    Heheu… Tadi malam makan di sana…

  • dwinanto // 27 Desember 2008 pada 00:12 | Balas

    Pasang iklan di Blog nih, Pak,. :D

    Tampaknya lezat dari gambar dan kisahnya, layak dicoba nih,. :D

  • rinaldimunir // 28 Desember 2008 pada 15:40 | Balas

    @dwinanto: he..he, tak apalah nto, sekalai-sekali pedagang kecil patut kita promosikan.

  • irfanhanif // 29 Desember 2008 pada 11:51 | Balas

    Dulu tingkat 2, waktu ngekost di Cisitu kadang-kadang makan disana, tempatnya masih sepi..
    Terakhir makan disana lagi, sudah makin ramai. Katanya sih memang sejak pak Bondan berkunjung disana.
    Mudah-mudahan setelah ditulis diblog ini makin ramai lagi y pak… :)

    Eh,, Akhirnya gw saya komen juga di blog bapak,, biasanya hanya melihat-lihat saja… :D

  • ghifar // 30 Desember 2008 pada 06:41 | Balas

    wah, di sana salah satu tempat makan favorit saya bareng temen2 :) memang maknyus siy pak..

  • rinaldimunir // 31 Desember 2008 pada 10:36 | Balas

    @irfanhanif, ghifar: ternyata kalian penggemar nasi goreng khas Minang juga ya.

  • branca // 2 Januari 2009 pada 17:47 | Balas

    Setelah makan nasi goreng Padang,minuman yang cocok, menurut saya, adalah teh manis, dan bukan teh tawar.

    Nasi Gandul? Setahu saya itu makanan daerah Jawa Tengah. Coba di RM Soto Kudus di Gandapura arah dari Riau.

  • rizaldi // 5 Januari 2009 pada 13:52 | Balas

    Kl Saya pernah nyoba soto nya pak, memang enak.

  • stefanus astrianto // 6 Januari 2009 pada 16:59 | Balas

    wah, itu tempat makan favorit saya juga pak.
    karena selain harganya lumayan terjangkau untuk mahasiswa.

    yang bikin menarik adalah porsinya,
    karena menurut saya porsinya itu nanggung,
    tidak terlalu banyak dan tidak sedikit juga,
    jadi pas habis makan, masih tersisa rasa penasaran,
    justru disitulah menariknya :p

    o iya,
    untuk nasi goreng padang,
    silakan coba juga rekomendasi dari mas Yoga,
    yang depan kampus UNPAD DU,
    lumayan enak juga itu.

    mari berkuliner :)

  • byaryoga // 16 Januari 2009 pada 16:55 | Balas

    Ada kabar baik dan kabar kurang baik.

    Kabar kurang baiknya, RM. Tiga Putri (ralat, sebelumnya saya menyebut Tiga Putra) juga tutup, atau mungkin pindah ke tempat lain yang tidak diketahui. :(

    Kabar baiknya, nasgor Marah Sulaiman hadir kembali, kini berlokasi di sebuah kedai di Tubagus Ismail (dulu hanya warung tenda), beberapa meter setelah RM.Singgalang. Tapi kokinya ganti, dulu laki-laki kini ibu-ibu. Rasa relatif sama. Juga tersedia menu lainnya.

  • Dewi Syarif // 20 Oktober 2009 pada 23:32 | Balas

    hai salam kenal.. nama saya dewi..
    cuma mau share aja nih mas..
    kalo diMedan tempatku nasgor Padangnya lebih unik lagi deeh..
    jdinya nasi gorengnya polos2 aja cuma aja warnanya gtu deh merah, trus daging sapinya dipisah,sbgai lauk ditaro diatas telur dadar atau matasapi setengah masak (hmm) dagingnya agak basah dan merah mirip semur tomat..
    enaaaak sekaliiii

Tinggalkan sebuah Komentar