Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman

Awal tahun baru 2009 kemaren, saya membawa anak-anak pulang ke Padang. Anak-anak minta liburan ke rumah neneknya di Padang setelah menerima rapor.

Di Padang saya mengajak anak-anak naik kereta api wisata yang menjalani rute dari Padang ke Pariaman. Pariaman adalah sebuah kota di pinggir Samudera Hindia di propinsi Sumatera Barat. Nama daerah ini sering diplesetkan Piaman saja. Orang Pariaman yang merantau ke daerah lain kebanyakan menjadi pedagang, sebagian lagi berjualan sate. Sate padang yang khas adalah sate Pariaman. Dari Padang ke Pariaman ada jalur rel kereta api yang dibangun pada zaman Belanda.

Di Indonesia kereta api hanya ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Di Sumatera pun hanya ada di propinsi Sumbar, Sumut, Sumsel dan Lampung. Jaringan jalan kereta api di Sumbar dibangun sejak ditemukannya tambang batubara Ombilin pada abad 19. Sebenarnya di Sumatera Barat kereta api sudah lama mati suri semenjak tambang batubara Ombilin tidak berproduksi lagi. Kereta api tidak digunakan untuk mengangkut penumpang, tetapi batubara, sebab kalah bersaing dengan bus. Beberapa tahun terakhir kereta api mulai dihidupkan kembali untuk tujuan wisata. Rute yang dibuka barulah Padang – Pariaman. Rencananya nanti akan dibuka jalur wisata dari Padang ke Padangpanjang melewati Lembah Anai, jalur Padang ke Solok melewati Danau Singkarak dan jalur Padang – Sawahlunto melewati tambang batubara Ombilin.

Mulai tahun lalu kereta api melalui rute Padang – Pariaman setiap hari untuk mengangkut pegawai, selain hari Minggu untuk kereta wisata. Setiap hari ada dua kali rit, yaitu jam 6.30 dan jam 11.00. Dari Pariaman ke Padang juga dua rit yaitu jam 9.00 dan jam 16.00.

Saya sudah sering naik kereta api di Pulau Jawa. Naik kereta api di Padang tentu pengalaman yang berbeda. Semasa kecil di Padang dulu saya sering naik kereta api. Sekarang saya ingin mencobanya lagi untuk melihat sisa-sisa kejayaan kereta api di sana. Saya naik kereta api jam 11.00 siang dari stasiun Simpang Haru, Padang.

Ini gerbang stasiun Simpang Haru:

simpang-haru-3

Ini kereta api wisata yang saya naiki, berwarna-warni seperti marawa di ranah Minang:

dsc00236

Jam 11 lewat sedikit kereta berangkat. Olala, kereta penuuh sekali, mungkin karena masih suasana libur. Harga karcisnya murah, hanya Rp 5000 per orang. Di atas kereta banyak orang berdesak-desakan. Ini pertanda warga Sumbar memang merindukan kereta api. Bagi orang-orang tua, naik kereta api membangkitkan romantisme dan kenangan masa lalu, seperti tahun 60-an dan 70-an. Karena sifatnya kereta rakyat yang murah meriah, maka di atas kereta api berseliweran pedagang asongan yang menjajakan makanan seperti telur rebus, kacang tojin, tebu, sala lauak, dan jajanan anak-anak. Persis seperti kereta api rakyat di Pulau Jawa.

Kereta melewati stasiun kecil seperti Tabing, Duku, Pasar Usang, Lubuk Alung, Kayutanam, Kurai Taji, dan beberapa stasiun lain yang saya lupa mencatatnya. Stasiun-stasiun yang dilewati mempunyai aristektur zaman kolonial dan dipertahankan hingga saat ini. Sayangnya kereta api tidak bisa berlari kencang tetapi berjalan agak pelan sehingga jarak Padang – Pariaman ditempuh 2 jam kurang. Tetapi untunglah rasa bosan di jalan terobati dengan pemandangan yang menawan seperti sawah, kebun, dan sungai yang lebar-lebar.

Kereta api akhirnya sampai di kota Pariaman. Stasiun kereta api persis di pinggir laut. Jadi, tidak salah jika penumpang kereta kebanyakan ingin berwisata ke pantai di Pariaman. Nama pantai dekat stasiun ini adalah Pantai Gandoriah. Di Pariaman nama pantainya mirip dengan nama pantai di Bali, misalnya Pantai Kata (Bali: Kuta), Pantai Sunur (Bali: Sanur). Entah disengaja atau kebetulan, saya kurang tahu. Kalau pantai Gandoriah ini mirip dengan nama apa ya? Gandaria di Jakarta?

Ini foto stasiun Pariaman:

dsc00235

Penumpang turun dari atas kereta menuju Pantai Gandoriah. Di gerbang pantai ini ada sebuah masjid besar tempat penumpang dan wisatawan menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Agama Islam memang tidak bisa dipisahkan dari adat dan budaya Minang.

dsc00237

Sepanjang pantai banyak ibu-ibu yang berjualan jajanan khas Pariaman, sala lauak. Sala adalah gorengan yang terbuat dari adonan tepung beras dicampur kunyit, garam, dun seledri, cabe, dan ikan. Ikan yang cocok untuak sala adalah ikan tukai. Rasanya asin dan sedikit pedas. Enak dimakan selagi panas. Harganya Rp 250/buah. Bagi orang Pariaman, sala sering dijadikan lauk dan dimakan dengan nasi.

Ini foto sala lauak yang menggugah selera bagi siapa saja yang memandangnya.

dsc00246

Tentang sala lauak ini, ada lagu lama yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Minang bernama Elly Kasim. Judul lagunya adalah Sala Lauak. Begini syairnya (dalam bahasa Minang tentu):

Sasaklah bana pasa rang Tarusan yo lah alai
bakaruang sumpik, yo alai di tangah balai (2x)

Lamaklah bana sala rang Piaman yo lah alai
badaun kunyik yo alai balauak tukai (2x)
salaaa lauak (2x)

Urang Cimparuah, pai ka Sintuak yo lah alai
naiak kureta yo alai di Kurai Taji (2x)

Kok lah tacubo sala rang Situngkuak yo lah alai
makan batambuah tasigi sapiriang lai (2x)
salaaa lauak (2x)

Klik video di Youtube di bawah ini yang mendendangkan lagu Sala Lauak daru uniang Elly Kasim itu.

Selain sala juga dijual udang goreng, kepiting goreng, dan goreng ikan baledang. Ikan baledang adalah ikan yang panjang dan rasanya manis kalau digoreng dalam keadaan segar.

Ini foto goreng ikan baledang dengan tepung:

dsc00247

Puas bermain di pantai, penumpang kereta kembali menuju stasiun. Di sana kereta sudah menunggu untuk keberangkatan jam 16.00 sore, membawa penumpang kembali ke kota Padang.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita perjalanan, Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

22 Balasan ke Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman

  1. reiSHA berkata:

    Wah, dulu saya juga pernah naik kereta wisata ini. Baru sekali siy. Seru juga. Dulu naiknya di Tabing. Tapi kayanya kereta apinya bagusan yang sekarang. Dulu belum dicat warna-warni… :)

  2. dwinanto berkata:

    Wow, keretanya bagus tuh, suasananya tampak asri juga,.

    Kapan-kapan berminat ke sana nih,. :)

  3. Ardianto berkata:

    Wah, Pak Rin sepertinya penggemar kereta api ya?

  4. Fauzan berkata:

    wah jadi ingat. Dulu juga pernah naik kereta wisata yang ke malibou anai. skarang dah gak ada lagi :D

  5. dhany berkata:

    Pak Rin, khas-nya sate Pariaman apa yah? ada beda yang spesifik dengan sate madura atau sate padang yang umum?

  6. rinaldimunir berkata:

    @Ardianto: benar sekali, kereta api itu klasikal. Saya menyukai hal2 yang berbau sejarah.

    @dhany: Sate Padang adalah nama generik untuk semua sate masakan Minang, bisa itu sate dari Pariaman, sate dari Padangpanjang, sate Bukittinggi, dll. Sate padang kuahnya bukan bumbu kacang seperti sate madura, tapi dari tepung beras yang dimasak dengan kaldu daging + bumbu-bumbu berupa kunyit, sereh, cabe, ketumbar, merica, dll. Satenya dimakan dengan ketupat yang disirami kuah tadi. Dagingnya dari daging sapi yang sudah dimasak lebih dahulu dengan bumbu-bumbu.

  7. trainlover berkata:

    Enak ya naek KA Padang yang baru ? ? ?

    Salam dari Surabaya

  8. trainlover berkata:

    Salam kenal . . . .

    emg mas . . . pemerintah selaku regulator , masih kurang memperhatikan sektor KA , apalagi , fasilitas-fasilitas yang ada . . .
    regulator hanya memperhatikan masalah penambahan gerbong-gerbong baru untuk kereta konvensional . . seperti KRD Minangkabau
    , KRL-KRL yang baru seri 800 ato yang lain , serta overhaul gerbong-gerbong rusak/tdk siap operasi misalnya gerbong KA New Gumarang . . .
    sedangkan untuk urusan prasarana , PT KA selaku operator yang menjalankan perannya , bahkan tahun lalu (2008) kabarnya PT KA defisit 800 juta , hanya untuk perbaikan rel akibat jalur rusak , pembuatan jalur baru serta mengganti sarana . . .
    hal ini karena PT KA juga belum mengeksplorasi sektor pengangkutan barang. Kita hanya punya KA Babarandek di Jawa dan KA Babaranjang di Sumatera , tapi kita kalah dengan US yang tiap sektor angkutan barang selalu mengandalkan jasa angkutan kereta api . . .
    disini , angkutan penumpang menjadi prioritas , padahal pendapatan terbesar jatuh pada sektor barang . .

    masalah pembukaan jalan baru semakin mempersulit keadaan , kita ambil contoh pembukaan Tol Cipularang oleh pemerintah tujuan Bandung-Jakarta , menyebabkan sepinya kereta api kelas Argo yaitu Argo Gede . Bahkan popularitasnya menurun.

    tetapi kita ada beberapa kemajuan , dulu kita naik kereta dari jakarta ke surabaya dalam waktu 2 hari namun sekarang dengan JS950 KA Argo Bromo Anggrek , kita mampu menempuh perjalanan 9 jam 50menit, dengan keceatan 100km/jam . . .
    hal itu memang sudah bagus, dengan adanya lokomotif baru kelas CC204 dengan kekuatan sampai 2300HP dan kecepatan bahkan 180km/jam . Untuk kecepatan maksimal seperti itu, rel tipe R54 belum mampu menahan kecepatan setinggi itu . . .

  9. ryan berkata:

    Waduh pak..
    rancak bana pak.
    Awak lah lamo pengen naiak kereta api tu tapi ndak ado waktu. Apolai kini lah jarang pulang. Cuma bisa pulang katiko lebaran.

  10. akbar sap berkata:

    wah pak, jadi ingek pulang n pingin naik kerta api tu
    awak ndak pulang taun patang do n awak alun pernah naik kerata api wisata tu

    awak urang pariaman, tapi kalo pulang biaso naik bis ajo (alisma atau Kawan)
    tapi kni kawan lah mati takahnyo, tingga alisma se lai merek oto yg kapariaman tu

    mungki karano rumah wak indak di kota pariaman kali, jadi ndak pernah naik kereta tu

    rumah awak di pauh kamba, jadi awak hanyo bisa maliek kereta tu lewat se dulunyo

  11. Catra berkata:

    wah saya jadi ingat ketika pulang bulan juli 2008 kemarin, ketika saya baca2 di internet bahwa KAI Sumbar lagi menggalakkan lagi transportasi massal kereta api, saya pun mencobanya. seru banget

  12. Muhammad Ihsan berkata:

    Pak,
    Kebetulan juga penggemar kereta api. Saking senangnya, g bisa beli kereta api miniatur. Jadinya yang di komputer aja.

    Sebenarnya ada yang unik dengan perkeretaapian di Sumatera Barat. Di sumatera Barat terdapat 12 lokomotif kelas “mercy”, buat pecinta kereta api dinamakan begitu. Dulu harganya per unit US$ 2 juta. Beberapa tahun sempat cuma “tidur” sambil dibangunin sekali2. Mulai tahun kemaren mulai diberdayakan bahkan sekarang “Mak Itam”, kereta api uap yang sempat “diinapkan” di Ambarawa telah pulang kampuang.

    Tahun kemaren, semua rel dari Padang-Lembah Anai-Padang Panjang-Sawahlunto sudah diperbaiki bantal2nya.

    Bahkan Pak Jusuf Kalla (Wapres 2004-2009) menyarankan rel ke Bukittinggi juga dihidupkan, jadi tidak harus sampai 12 jam ke bukittinggi seperti pas lebaran.

  13. Muhammad Ihsan berkata:

    Selain itu, dari data yang saya peroleh ada 1 daerah lain di dunia yang memiliki rel seperti yang di Sumatera Barat, di Swiss. Rel ini punya ciri khas rel gerigi di tengah.

    Disamping itu juga, jembatan2 kereta api di atas lembah2 yang terjal tapi asri juga diwarnai dengan orange.

    Bahkan gerbong yang sudah disiapkan untuk jalur Padang-Padangpanjang-Sawahlunto, dibekali alat sehingga selama perjalanan itu tidak kehilangan sinyal GSM, dan bisa ber-internet ria.

    Ada pesan dari orang kampung. Ajak kawan2 dari rantau untuk berwisata dengan kereta api ini. Biar jangan sampai usaha “mambangkik batang tarandam” ini tidak “angek2an se”.

  14. abrar berkata:

    saya abrar pengen terima kasih, karena kamu telah mengekspos pariaman. saya suka sekali dengan situs ini.
    ini no handphone saya 081374587897..
    kamu berapa?
    saya ingin kita terus mengekspos potensi yang ada di ranah minang ini.
    salam kenal.

  15. Merantau Movie berkata:

    Merantau dan Silat Harimau

    http://www.merantau-movie.com

  16. trusmansjah berkata:

    bener banget pak Rinaldi… lelet amat tuh kereta… kalo saya mah sudah bosan duluan 2 jam perjalanan… cerita papa saya dan keindahan pemandangan gak bisa buat saya betah dan akhirnya tidur he he he.. tapi saya gak naek tuh yang gerbongnya udah di cat… baru ya?

    FYI pak, sala yang dijajakan di pinggir pantai terlalu banyak minyak dan kecil2.. kata papa saya yang memang orang pinggir pantai (rumahnya sebelah masjid raya) itu mah bukan sala asli pariaman…

  17. maulana berkata:

    Alah sering ambo mancubo KA Wisata Pariaman, khususnyo kelas eksekutip. Lain kali, nio mancubo lo yang ekonomi baru. Ambo berdomisili di Padang dan termasuk pecinto KA. Jadi, indak heran kalau ambo tiok minggu acok naiak KA Semen. hehehe….

  18. lola berkata:

    pengen sala lauaknya…makanan favorit saya kalo ke Pariaman (kampuang ibu),tp sekarang sudah ada yg jual tepung sala lauak, jd bisa bikin sendiri di rumah…mak nyoss…

  19. asnarni berkata:

    onde uda jadi taragak lo awaknyo jadi ingat sepuluh taun silam samaso masih kuliah dipdg ,rindu jo kereta apinyo ,rindu jo sala lauaknyo rindu jo pantainyo ,nasi seknyo ,tabuiknyo hiks hiks bilo lai yo

  20. darussalam berkata:

    hebat,tp saya punya cerita yg unik,tentang anak ketinggalan kareta api,hingg nekat berjalan mengikuti rel menuju padang

  21. Willy Fandri berkata:

    Kalau ke Pariaman memang enaknya naik kereta api pak, kalau naik mini bus bisa jengkel setengah mati. Ngetem nya lama dan sering berhenti. Kalau di Piaman, saya lebih suka cari Nasi SeK alias Sekali Kenyang, kata teman saya yang orang jogja, mirip nasi kucing di jawa katanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s