Nama-nama Mereka Sudah Terpatri

He..he, akhirnya nama-nama mereka — para alumni ITB itu — sudah terpatri dengan megahnya di empat gedung LabTek, di tengah pro dan kontra yang mengiringinya (baca tulisan sebelum ini). Ternyata ada perubahan nama. Aburizal Bakrie meminta nama ayahnya, Achmad Bakrie, yang dipatrikan di Gedung LabTek VIII (Elekto), begitu pula Arifin Panigoro meminta nama ayahnya, Yusuf Panigoro, yang diabadikan di Gedung LabTek VII (Prodi Farmasi). Hmm…penghargaan anak kepada orangtua mereka, kali. Tapi, Yusuf Panigoro dan Achmad Bakrie tidak pernah mengenyam pendidikan di ITB, bukan? Jadi aneh!

Di bawah ini foto-foto gedung yang telah bernama itu (dipotret ditengah cuaca mendung). Dengar-dengar peresmian nama ini akan dilakukan pada acara Dies Emas ITB pada tanggal 2 Maret 2009 nanti.

Gedung Benny Subianto (LabTek V):

bennysubianto

Gedung Teddy P. Rachmat (LabTek VI):

tprachmat

Gedung Yusuf Panigoro (LabTek VII):

panigoro

Gedung Achmad Bakrie (LabTek VIII):

bakrie

Nasi Timbel Merah Ceu Eti

Bagi penggemar nasi timbel, Nasi Timbel Istiqamah di Jalan Taman Citarum Bandung mungkin tidak asing lagi. Berada di pinggir jalan di depan masjid, setiap jam makan siang warung tenda ini ramai dengan orang-orang yang datang untuk makan. Kalau hari Sabtu dan Minggu apalagi, para wisatawan dari Jakarta ramai-ramai makan di sini bersama keluarganya. Bagi orang Jakarta, ke Bandung itu ya untuk makan dan belanja-belanja.

Tapi sekarang Nasi Timbel Istiqamah sudah pindah ke Jalan Citarum, di samping Rumah Makan Raja Melayu. Bukan berbentuk warung tenda lagi, tetapi sudah berupa pondok permanen, yang tempat parkirnya sudah diatur oleh juru parkir. Tidak asik lagi makan di sana, tidak seperti dulu makan di pinggir jalan di bawah naungan pohon dan deru kendaraan terasa lebih asik dan nikmat. Lagipula terlalu ramai, apalagi Hari Sabtu, padahal saya kurang suka tempat makan yang terlalu ramai.

Sepeninggal Nasi Timbel Istiqamah, bermunculan warung nasi timbel lain di seputar Masjid Istiqamah dengan rasa yang tidak jauh berbeda, salah satunya Nasi Timbel Ceu Eti. Ceu itu panggilan buat wanita Sunda.

Siang ini saya makan nasi timbel merah Ceu Eti yang jualan di depan Masjid Istiqamah, Jalan Taman Citarum, Bandung. Warungnya tidak terlalu padat, jadi bisa makan lebih santai.

ceueti

Nasi timbel merah… waah saya suka sekali itu. Nasi timbel merah dibuat dari beras merah. Entah siapa yang memulai pertama kali membuat nasi timbel beras merah di tatar Pasundan ini. Yang jelas nasi timbel merah itu menyehatkan karena mengandung vitamin B. Cocok juga buat orang yang diet. Kalau beras merahnya kualitas nomor 1 nasi timbelnya akan terasa pulen seperti nasi putih.

Seperti Nasi Timbel Istiqamah, Nasi Timbel Ceu Eti menyajikan masakan Sunda yang serba pepes: pepes ayam, pepes jamur, pepes tahu, pepes ikan, dan lain-lain. Ada pula yang serba goreng yaitu tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, ikan asin, dan lain-lain. Masakan Sunda ya begitu itu, sederhana dan tidak bersantan-santan serta tidak berbumbu aneka rupa seperti masakan Padang. Justru karena tidak bersantan itu masakan Sunda tampak lebih sehat karena tidak mengandung banyak lemak. Makan nasi timbel merah dengan lauk semacam itu ditemani sambal terasi, sayur lalap, dan air teh hangat di siang hari jelas terasa nikmat, apalagi nasi merahnya disajikan hangat. Oh ya, selain nasi merah juga ada nasi timbel putih.

Nah, ini yang saya makan di sana: nasi merah, ayam goreng, pepes tahu, ikan asing, sayur lalap, dan sambal terasi. Harganya? Hanya Rp 9.500 untuk semua itu. Murah juga ya.

nasitimbel

Pohon Nabi

Mahasiswa saya yang sudah jadi alumni, Ali Akbar, membawa oleh-oleh dari Tanah Suci sepulang dari menunaikan ibadah haji. Oleh-olehnya adalah sebuah lukisan dari bambu yang menggambarkan pohon nabi. Seperti ini foto lukisan pohon nabi:

pohonnabi

Apa itu pohon nabi? Pohon nabi adalah pohon silsilah para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Dimulai dari akar adalah manusia pertama, yaitu Nabi Adam (1). Dari keturunan Nabi Adam melahirkan Nabi Idris (2), Nabi Nuh (3). Ket: nomor urut di dalam tanda kurung menyatakan urutan nabi

Selanjutnya, dari keturunan Nabi Nuh lahir Nabi Hud (4), Nabi Shalih (5), Nabi Ibrahim (6), dan Nabi Luth (7).

Nabi Ibrahim mempunyai 2 anak yang semuanya menjadi nabi, yaitu Ismail (8) dan Ishaq (9). Keturunan Nabi Ishaq melahirkan banyak nabi, sedangkan dari keturunan Ismail hanya melahirkan satu nabi yaitu Nabi Muhammad (25).

Dari keturunan Nabi Ishaq lahir Nabi Ya’qub (10), Yusuf (11) yang merupakan putera Nabi Ya’qub, Ayub (13), dan Zulkifli (14). Oh ya, jauh dari abad Nabi Ibrahim ada satu nabi lagi yang diutus Tuhan yaitu Nabi Syu’aib (12).

Keturunan nabi Ya’qub selanjutnya melahirkan Nabi Musa (15), Harun (16), Daud (17), dan Yunus (21).

Dari Daud kemudian diteruskan oleh Sulaiman (18). Keturunan Sulaiman melahirkan Nabi Isa (24), Nabi Zakaria (22) dan Nabi Yahya (23).

Keturunan Nabi Harun melahirkan Nabi Ilyas (19), dan Ilyasa’ (20).

Jika diurut, maka susunan Nabi itu adalah:
1. Adam
2. Idris
3. Nuh (Inggris: Noah)
4. Hud
5. Shaleh
6. Ibrahim (Inggris: Abraham)
7. Luth
8. Ismail
9. Ishaq (Inggris: Isaac)
10. Ya’qub (Inggris: Jacob)
11. Yusuf (Inggris: Joseph)
12. Syua’ib
13. Ayub
14. Zulkifli
15. Musa (Inggris: Moses)
16. Harun
17. Daud (Inggris: David)
18. Sulaiman (Inggris: Solomon)
19. Ilyas
20. Ilyasa’
21. Yunus (Inggris: Jones)
22. Zakaria
23. Yahya (Inggris: John)
24. Isa (Inggris: Jesus)
25. Muhammad. (Inggris: Mohammed)

Dari pohon nabi tersebut terlihat bahwa Nabi Ibraham adalah bapak dari semua agama samawi. Keturunan Ibrahim melahirkan 3 nabi pembawa ajaran (agama) tauhid, yaitu Nabi Musa (Yahudi), Nabi Isa (Nasrani), dan Nabi Muhammad (Islam). Jadi, titik temu dari ketiga agama samawi itu ada pada Nabi Ibrahim.

Gedung Benny Subianto Dimana Ya?

Kalau anda datang ke kampus ITB nanti, jangan kaget kalau beberapa gedung di kampus Ganesha diberi nama dengan nama-nama orang. Ada nama yang mungkin terasa asing, ada pula nama yang beken. Atau, jangan kaget kalau ada orang luar datang ke kampus bertanya begini, “Mas, mas, Gedung Benny Subianto di sebelah mana ya?”

labtek5 (Keterangan foto: LabTek V)
Gedung Benny Subianto? Ya, itulah nama Gedung LabTek V tempat Prodi Informatika dan Fakultas FTI berada. Melalu SK Rektor terbaru, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama alumni. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.

Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek” (Laboratorium Teknologi). Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII. Kadang-kadang nama gedung itu susah diingat dimana lokasi fisiknya. Coba jawab, dimana gedung LabTek I, II, atau III? Saya sendiri tidak tahu yang mana gedung-gedung itu, apalagi orang luar (pendatang) ya. Tapi, kalau disebutkan Prodi apa di gedung itu, saya rasa banyak orang di kampus ini bisa menunjukkannya.

Sekarang nama-nama gedung itu akan diganti dengan nama-nama alumni ITB supaya mudah diingat. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp 25 milyar (Haaa! 25 milyar?) yang bisa diabadikan namanya. Ceritanya begini, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 milyar. Fantastis!

Dua nama tersebut sudah dikenal luas, yaitu Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro. Kalau dua orang yang lainnya, yaitu Benny Subianto dan Teddy P. Rachmad, saya sama sekali tidak kenal dan tidak pernah mendengar sepak terjangnya. Kuper sekali saya ini. Siapa dua orang itu ya? Apa nama perusahaan milik mereka? Halo..halo, adakah yang bisa memberitahu? Yang jelas Benny Subianto bukan alumni IF (belum ada alumni IF yang menjadi pengusaha kakap), tahu-tahu namanya sudah dilekatkan ke gedung tempat Prodi IF berada.

Memberi nama gedung dengan nama alumni sudah biasa dilakukan di perguruan tinggi lain. Nama alumni yang dipilih memang yang sangat berjasa bagi perguruan tinggi itu, dan biasanya nama mereka diabadikan sesudah alumni tersebut meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya, maka diabadikanlah namanya sebagai nama gedung, nama lab, atau nama lainnya di lingkungan kampus. Tapi, di ITB lain sendiri, nama alumni diabadikan sebagai nama gedung karena faktor uang dan alumni tersebut masih hidup. Satu-satunya nama alumni yang sudah meninggal dan diabadikan di dalam kampus adalah Galeri Soemardja di Fakultas Senirupa dan Desain (FSRD). Oh iya, ada satu lagi sih tapi ruang kuliah yang bernama Ruang Boscha di jurusan Fisika.

Memang sah-sah saja sih saya kira cara begitu, sekarang ini perguruan tinggi yang berlabel BHMN memang harus memeras otak untuk mencari uang buat dana operasional pendidikan yang kian tahun kian melambung. Subsidi Pemerintah tidak bisa diandalkan lagi. SPP atau uang sumbangan dari mahasiswa juga tidak bisa diandalkan karena SPP hanya menyumbang kurang dari 10% dari dana pendidikan tinggi. Karena itu, menghimpun Dana Lestari ini saya kira ide brilian juga. Jika Dana Lestari yang nilainya em-em-an disimpan dalam bentuk deposito, berapa tuh ya labanya per bulan? Yah, anggaplah semacam tabungan bagi ITB, untuk jaga-jaga kebutuhan operasional pendidikannya.

Hanya saja, karena nama gedung di kampus ITB dikomersilkan seperti itu, pasti ada negatifnya. Tidak ada jaminan di kemudian hari orang yang namanya sudah dipatrikan tersebut terlibat masalah hukum, misalnya, maaf, korupsi atau masalah kriminal besar lainnya. Masih banggakah ITB menyandang nama orang tersebut di gedungnya? Ada lagi negatif lainnya. Nama-nama “pahlawan” yang berjasa bagi ITB dan telah mengharumkan nama ITB bakal tersingkir diabadikan di almamaternya. Pahlawan yang dimaksud mungkin Rektor ITB zaman dulu yang dicintai banyak orang, seperti alm Pak Dodi Tisnaamijaya yang legendaris itu (benar gak ya namanya itu), nama dosen yang gugur di medan perang (ada nggak ya?) atau gugur di medan tugas, nama alamamater ITB yang sudah mendunia karena penemuannya tetapi sudah almarhum (ada satu contohnya yaitu mantan presiden B.J Habibie, tetapi B.J Habibie kan masih hidup), dan lain-lain.

Mereka-mereka — “pahlawan” yang saya sebutkan tadi — mungkin tidak meminta namanya diabadikan di dalam kampus (lha, sudah “di alam sana” gimana mau meminta) tidak juga keluarganya yang meminta. Tetapi, kita-kita yang masih hiduplah yang perlu menyatakan terima kasih dengan cara mengabadikan namanya di dalam kampus. Dengan begitu kita yang masih hidup menjadi orang yang tidak melupakan sejarah. Bagaimanapun, sejarah adalah bagian perjalanan sebuah kampus seperti ITB, dan ITB menjadi besar dan terkenal (mode narsis) seperti ini karena mereka-mereka juga.

Masih ada 8 gedung LabTek lagi yang belum diberi nama, dan masih banyak gedung-gedung lain (yang bukan LabTek) yang tidak bernama. Mungkin nanti Gedung TVST, Gedung Oktagon, Gedung GKU Timur dan Barat akan berganti nama dengan nama-nama alumni “kelas kakap”.

Hayo.. hayo para alumni, siapa yang ingin namanya diabadikan di kampus almamater? 25 M, 25 M. He..he

Fenomena Ponari dan Bagaimana Sikap Kita Seharusnya

Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bocah cilik asal Jombang Jawa Timur, bernama Ponari yang tiba-tiba mendapat kemampuan untuk mengobati berbagai penyakit dengan sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air minum. Akibat ekspos media massa yang luar biasa, dengan cepat puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia memadati dusun tempat tinggal Ponari di Jombang. Sudah empat orang yang tewas terinjak-injak karena berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah Ponari.

ponari (Keterangan foto: Ponari yang digendong keluarganya sedang mencelupkan batu ditangannya ke dalam air minum yang dibawa pasien. Sumber foto: www.kompas.com)

Bagi yang belum tahu, begini kisahnya. Ponari mendapat kemampuan supranatural itu setelah terkena petir. Seperti dikutip dari sini, Ponari saat itu bermain di bawah guyuran hujan deras yang ditingkahi sambaran petir. Tiba-tiba, tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti baru terkena sambaran petir. Saat itulah, di bawahnya muncul batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman. Batu ini, oleh Ponari, dibawa pulang. Oleh neneknya, batu itu sempat dibuang. Namun, menurut cerita, batu tersebut muncul kembali di rumahnya.

Ihwal berita bahwa Ponari bisa mengobati penyakit, terjadi setelah salah seorang tetangganya menderita sakit. Tanpa sadar, Ponari memberi minuman air putih, yang dicelupi batu itu. Menurut pengakuan warga di dusun itu, orang yang diberi minuman Ponari itu bisa sembuh. Peristiwa ini menjadi bahan pembicaraan warga dusun.

Selanjutnya, lewat ‘radio dengkul’ alias dari mulut ke mulut, cerita itu pun menyebar ke berbagai tempat: bahwa di Dusun Kedungsari, muncul dukun tiban yang bisa mengobati segala macam penyakit. Puluhan ribu orang pun kemudian berbondong-bondong ke sana. Calon pasien yang datang bukan hanya orang miskin, tapi juga orang-orang kaya–terutama yang frustrasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah berobat ke dokter.

Begitulah berita yang kita baca dari media.

Apa yang dilakukan oleh Ponari sebenarnya tidak beda dengan praktek pengobatan alternatif lain. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Ustad Haryono di Bekasi melalui air minum dan minyak kelapa yang sudah diberi doa atau transfer penyakit ke tubuh hewan. Kunci penyembuhan dari pengobatan alternatif adalah karena faktor sugesti. Pasien percaya atau tidak dengan teknik penyembuhan seperti itu. Kalau yakin dan percaya, maka pada beberapa kasus penyakit memang berhasil disembuhkan, tapi kalau ragu-ragu atau kurang yakin biasanya memang sulit sembuh.

Tapi, Ponari memang fenomenal. Mengapa bisa sampai puluhan ribu orang datang menyemut mengharapkan pengobatan dari Ponari? Biasanya pasien pengobatan alternatif tidak sebanyak itu. Penyebabnya mungkin karena Ponari masih anak-anak, biasanya masyarakat lebih percaya kepada ‘dukun’ anak-anak karena anak-anak biasanya lebih tulus dalam memberi pertolongan, tidak seperti ‘dukun’ dewasa yang cenderung lebih pragmatis. Apalagi Ponari tidak membuka praktek, tetapi orang-orang saja yang ramai mendatanginya mengharapkan celupan tangannya. Ponari sendiri tidak menerapkan tarif pengobatan, pasien hanya dikenakan infaq Rp 2000.

Beberapa kalangan menilai fenomena Ponari menunjukkan matinya logika. Cibiran dan cemoohan ditujukan kepada orang-orang yang datang ke Ponari. Masyarakat dinilai sudah tidak percaya kepada pengobatan modern yang lebih rasional. Bahkan, beberapa ulama dengan cepat menyatakan bahwa pengobatan ala Ponari itu tergolong perbuatan syirik, sebab orang lebih percaya kepada batu, bukan kepada Allah.

Menurut Prof Haryadi seperti dikutip dari sini, fenomena pengobatan yang dilakukan Ponari tidak bisa hanya dianalisis dari sisi ilmiah. Semua orang seharusnya lebih bijaksana menghadapi fenomena Ponari ini, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya kekuatan gaib pada diri Ponari yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.

“Ini bukan sekadar ilmu logika. Harus diakui bahwa masyarakat yang berduyun-duyun ke praktik Ponari melihat hal ini dari sisi kegunaan, dari sisi aksiologinya saja. Mereka tak butuh penjelasan ilmiah, mereka hanya ingin sembuh,” ujar Hariyadi.

Menurut saya, kita memang harus hati-hati memberikan penilaian (syirik atau bukan) dan tidak cepat berburuk sangka. Ada dua kemungkinan skenario Tuhan tentang ini.

Skenario pertama, mungkin saja Ponari diberi anugerah kekuatan penyembuhan penyakit oleh Allah SWT. Hal seperti ini sudah sering kita dengar dibeberapa tempat bahwa ada orang yang tiba-tiba mendapat kekuatan atau ‘ilmu’ dari Tuhan sehingga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi Allah SWT, apapun yang tidak mungkin dalam pandangan manusia, bagi Dia mudah saja. Kun faya kun, jadilah maka terjadilah ia.

Skenario kedua, melalui Ponari dan batunya itu, Allah SWT ingin menguji iman ummat-Nya, sejauh mana akidah manusia berubah melalui pengobatan Ponari itu. Apakah manusia lebih percaya bahwa batu itu yang menyembuhkan penyakit atau tetap percaya bahwa Allah yang menyembuhkan sedangkan Ponari hanyalah perantara kesembuhan belaka. Jika meyakini batu atau Ponari itu yang menyembuhkan, jatuhlah ia keperbuatan syirik yaitu sikap mempersekutukan Tuhan, yang mana dosanya tidak bisa diampuni.

Saya lebih percaya Tuhan sedang menjalankan skenario kedua. Kita, manusia, sedang diuji keimanannya melalui fenomena Ponari dan batu ajaibnya.

Menurut saya, sikap yang paling bijaksana adalah kehati-hatian. Kesembuhan sumbernya tetap dari Allah SWT. Allah yang menciptakan penyakit, Allah juga yang menyediakan obatnya. Kedokteran atau pengobatan alternatif hanyalah perantara kesembuhan saja. Mungkin melalui tangan dokter, tabib, shinse, paranormal, atau Ponari obat itu diberikan Tuhan kepada si sakit.

Khusus mengenai pengobatan Ponari, ulama wanti-wanti mengingatkan untuk tidak meyakini batu milik Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit, juga tidak meyakini bahwa Ponari bisa menyembuhkan penyakit. Keyakinan seperti itu bisa merusak akidah. Mengikuti pengobatan seperti yang dilakukan Ponari, akidah harus kuat. Kalau akidah tidak kuat, bisa berubah menjadi syirik. Menurut ketua MUI Jombang, seperti dikutip dari sini, berobat ke Ponari boleh-boleh saja, tapi harus meyakini bahwa yang bisa menyembuhkan penyakit hanya Allah SWT. Untuk menyembuhkan penyakit, kata dia, Allah memberikan berbagai macam cara, diantaranya melalui ilmu kedokteran.

Manusia hanya berikhtiar mencari jalan kesembuhan, tetapi kesembuhan tetap milik Allah SWT. Ponari hanyalah perantara saja.

Hanya Karena Nama Berbau Islam, Visa Ditolak

Meskipun Presiden AS sudah berganti dengan Obama, namun kebijakan negara itu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Islam masih belum berubah (baca berita di bawah ini). Islam phobia masih melekat pada negara Amerika, misalnya untuk hal-hal yang sepele seperti nama. Bagi orangtua muslim, memberi nama pada anak ada maksudnya. Nama adalah doa atau pengharapan. Diberi nama “Muhammad” dengan harapan anaknya mempunyai sifat yang baik seperti nabi, diberi nama “Hanif” supaya mempunyai sifat yang lurus, diberi nama “Rahman” dengan harapan dia menjadi orang yang penyayang pada sesama, diberi nama “Mizan” dengan harapan dia menjadi orang yang adil, dan sebagainya. Mengidentikkan atau mencurigai nama dengan hal-hal lain, apalagi terorisme, jelas keliru. Tentu tidak mungkin orang harus ganti nama dulu supaya bisa mendapat visa.

Tapi, itulah Amerika, kita tidak berdaya dengan aturan diskriminatif seperti itu. Memang sih itu hak Amerika menerima atau menolaknya tamunya, kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun setidaknya ada alasan yang lebih adil dan tidak menyakitkan. Mudah-mudahan ini kasus terakhir, sesuai dengan janji Obama yang ingin membangun suasana bersahabat dengan dunia Islam.

Berita diambil dari Republika. Berita yang sama juga muncul di koran Pikiran Rakyat Bandung.

Nama Bernuansa Islam, Visa Ditolak

BANDUNG–Rencana tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengikuti kegiatan Harvard National Model United Nation (HNMUN) 2009 di Boston, Amerika Serikat (AS), kandas. Hanya gara-gara namanya bernuansa Islam, Kedutaan Besar AS dinilai tak mau mengeluarkan visa kepada salah seorang mahasiswa. Keputusan itu dinilai sangat mengecewakan.

Mahasiswa ITB yang gagal berangkat karena namanya adalah Misykat Fahada Mochamad Nur. Sedangkan, Tizar MK Bijaksana, yang awalnya ditolak karena berjenggot, akhirnya memperoleh visa setelah mencukurnya. ”Kalau yang lain, begitu wawancara, langsung dibilang ambil visa tanggal sekian. Kalau saya, harus melengkapi syarat administrasi lain yang tidak jelas,” ujar Misykat.

Misykat mengaku kecewa. Hanya gara-gara nama, kata dia, rencana yang telah disusunnya untuk menghadiri HNMUN batal. Apalagi, Misykat telah ditunjuk sebagai ketua rombongan mahasiswa ITB. Ia terpaksa menyerahkan jabatan ketua rombongan kepada temannya, Tizar MK Bijaksana.

”Seharusnya, kalau presidennya ganti, kebijakan luar negerinya pun berubah. Sehingga, bisa melihat lebih objektif, siapa yang mengajukan visa dan untuk kepentingan apa,” kata Misykat. Ia meminta agar AS mengubah kebijakan luar negerinya dan tak fobia terhadap nama-nama bernuansa Islam.

Dosen pendamping mahasiswa yang akan pergi ke Boston untuk acara HNMUN 2009, Dermawan Wibisono, menuturkan, tiga mahasiswa ITB tak bisa berangkat karena visa belum keluar dengan alasan tak jelas.

Tahun ini, ITB memberangkatkan 16 mahasiswanya untuk menghadiri pertemuan internasional di Boston. Mereka adalah mahasiswa terpilih. Namun, yang berangkat hanya 13 mahasiswa. Semua mahasiswa, kata dia, hanya diwawancarai sekitar lima menit untuk mendapatkan visa.

”Laki-laki ternyata memang lebih susah memperoleh visa dibandingkan perempuan. Pertanyaan yang diajukan ke laki-laki lebih detail dan terperinci, kemungkinan karena mereka fobia dengan terorisme,” tuturnya. Untungnya, kata dia, dua mahasiswi berjilbab masih bisa memperoleh visa. ”Mahasiswa yang hadir dalam acara itu diharapkan nantinya bisa mengolah isu dalam diskusi. Kami sudah mengirimkan tiga angkatan untuk menghadari acara tersebut,” ujar Dermawan.

Saat dihubungi Republika, atase pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Paul Belmont, belum berani memberikan komentar atas masalah ini. Ia mengatakan belum mengetahui secara pasti alasan penolakan visa tersebut. ”Tanyakan lagi kepada saya besok.” Ia mengatakan akan mengeceknya terlebih dulu ke bagian konsuler. kie/lan

Geodesi oh Geodesi

Hari-hari ini ITB ketiban musibah. Menjelang peringatan Dies Emas 50 Tahun ITB, muncul kejadian yang tidak diinginkan, yaitu meninggalnya seorang mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika (dulu Teknik Geodesi saja) Angkatan 2007 — namanya Dwiyanto Wisnugroho — dalam kegiatan OS (Orientasi Studi) yang diadakan oleh IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) ITB. Anda pasti sudah melihat berita tentang ini di TV atau membacanya di media massa maupun di milis-milis. Yang jelas ITB kembali menjadi sorotan nasional karena ini kasus yang tidak lazim, seakan-akan mengulang lagi kejadian yang sama ketika meninggalnya mahasiswa Fisika Angkatan 1995 bernama Zaky dalam acara OS yang diadakan oleh HIMAFI (Himpunan Mahasiswa Fisika).

Kita tentu simpati pada keluarga Dwiyanto. Orangtua mana yang tidak hancur hatinya mendapati anaknya sudah menjadi mayat. Dikirim jauh-jauh kuliah ke Bandung, pulang-pulang hanya tinggal nama. Tragisnya, meninggalnya karena mengikuti suatu kegiatan mahasiswa. Sampai hari ini tidak diketahui penyebab kematian Dwiyanto, tetapi polisi sudah memastikan tidak ada kekerasan fisik dalam kematian Yanto. Biarlah polisi yang mengungkap penyebab lebih pasti, kita tunggu saja hasilnya.

Sehari setelah kasus ini muncul ke permukaan, ITB bertindak cepat. Setelah melakukan rapat, Rektorat mengeluarkan serangkaian keputusan sebagai berikut:
1) Memberhentikan Ketua Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB dari jabatannya (untuk keputusan yang ini, wartawan Detik.com salah menafsirkan, wartawannya menulis “diberhentikan dari ITB”, besoknya mereka buru-buru meralatnya menjadi “diberhentikan dari jabatannya sebagai Kaprodi”. Yang sangat parah adalah wartawan Pos Kota yang menulis bahwa yang dipecat adalah Rektor ITB. “Rektor ITB dipecat”, begitu tulis koran ini di situsnya. Parah kan?)
2) mem-blacklist 57 orang alumni Geodesi dari layanan adminstratif karena dituduh memprovokasi (misalnya layanan memperoleh transkip nilai, legalisasi ijazah, dsb);
3) segera memutuskan nasib panitia OS dan Ketua Himpunan IMG (kemungkinan besar akan dikeluarkan dari ITB);
4) membekukan IMG;
5) tidak melakukan penerimaan mahasiwa Geodesi selama setahun (Komentar: mirip kasus di IPDN yang tidak menerima mahasiswa selama 1 tahun untuk memutus rantai kekerasan di sana) ;
6) dan yang paling mengejutkan: segera memutuskan nasib Program Studi Geodesi, apakah akan dilanjutkan atau ditutup.

(berita selengkapnya baca di koran PR ini)

Untuk keputusan nomor 1 hingga 4 saya bisa mengerti, untuk keputusan nomor 5 patut dipertanyakan apa dasarnya dan untuk keputusan nomor 6 saya nilai ini tindakan reaktif yang berlebihan. Ibaratnya kalau ada proses produksi yang trouble, maka pabriknya yang ditutup. Ini tentu saja logika yang keliru, justru yang harus diselesaikan adalah penyebab trouble-nya itu.

Menutup sebuah Progarm Studi tidak segampang itu. Ada faktor sejarah yang tidak boleh dinafikan begitu saja. Jurusan Geodesi sudah ada sejak lama di ITB. Di Indonesia hanya beberapa Perguruan Tinggi yang membuka jurusan Geodesi dan ITB adalah Perguruan Tinggi yang pertama yang membuka Jurusan Geodesi strata S1 di Indonesia.

Saya orang yang awam mengenai Geodesi. Yang saya tahu, Geodesi berkaitan dengan pemetaan bumi. Meski awam, namun saya simpati dengan dosen, mahasiswa, karyawan, dan alumni Geodesi ITB yang hari-hari ini menjadi sorotan. Saya tidak setuju Prodi Geodesi dibubarkan hanya karena musibah ini. Meminjam istilah seorang rekan, jangan sampai akibat satu gugur lalu memicu kepunahan massal. Moga-moga saja Bapak Rektor arif dalam mengambil keputusan.

Selamat Jalan Rekan Kami, Bapak Dr. Ir. Farid Wazdi

Jam 3 dinihari tadi saya terbangun dan memeriksa telepon genggam. Ada sebuah SMS yang masuk, dan ketika saya membacanya, inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun. Kabar duka itu datang tiba-tiba, rekan senior kami, Bapak Dr. Ir. Farid Wazdi telah dipanggil oleh Allah SWT pada pukul 0 lewat sedikit dalam usia 57 tahun.

pakfarid

Pak Farid Wazdi meninggal di RSHS Bandung setelah hari Minggu pagi 8 Februari 2009 beliau terjatuh di kamar mandi. Pak Farid memang baru saja “sembuh” dari stroke. Tidak sembuh total sih, tapi lumayan sudah bisa berjalan dan datang ke kampus untuk mengajar. Ceritanya bermula pada tahun 2008 (bulannya lupa). Waktu itu setelah selesai rapat dan makan siang, beliau muntah-muntah hebat di ruang rapat. Setelah dibawa ke RS Borromeus, didapatkan hasil beliau terkena serangan stroke. Pembuluh darah di dalam otak pecah, tapi Pak Farid masih sadar dan masih bisa berkomunikasi. Setelah beberapa bulan berlalu alhamdulillah ada perubahan, beliau sudah mulai bisa berjalan tertaih-tatih, dan lambat laun karena semangat hidupnya yang tinggi serta perjuangan ingin lekas sembuh, Pak Farid bisa berjalan agak lebih cepat dan bisa mengajar lagi. Hanya satu hal yang belum bisa dilakukannya: menulis. Rupanya serangan stroke tersebut membuat syaraf motorik dari otak ke tangan untuk menulis menjadi terganggu.

Bagi saya, Pak Farid adalah orang yang mempunyai prinsip hidup yang teguh. Jika ia mengajar (pernah mengajar saya waktu S1), beliau menyampaikan kuliah dengan menarik. Kuliah yang dia ampu kala itu adalah Teknik Kompilasi dan Sistem Operasi II. Tugas Teknik Kompilasi adalah membuat interpreter Bahasa Pascal S (S = standard). Kami diberikan program sumber interpreter Pascal S dalam Bahasa Pascal juga, tugas kami waktu itu adalah menambahkan beberapa fungsi pada interpreter. Untuk kuliah Sistem Operasi II, materi utamanya adalah concurency. Disini saya mengenal konsep mutual exlusion (mutex), semaphore, monitor, dan producer-consumer. Pak Farid menyampaikan materi konkurensi yang sulit itu dengan sangat memikat. Satu hal ciri khas Pak Farid, beliau tidak hanya menyampaikan materi kuliah, tetapi juga suka bercerita panjang lebar tentang hal-hal diluar kuliah (politik, ekonomi, ketekunan, kedisiplinan, dsb). Kadang-kadang kuliahnya berisi nasehat yang panjang lebar, pola pikir, berpikir kritis, dan sebagainya. Jika beliau sudah bercerita, maka waktu 2 jam kuliah tidak terasa sudah habis.

Siang tadi almarhum sudah dimakamkan di pemakaman Nagrok, Ujungberung, Bandung Timur. Kami dari STEI ramai-ramai mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan yang terakhir. Di bawah ini beberapa foto pemakaman.

1. Usai dishalatkan di Masid Arcamanik, siap-siap menuju pemakaman:

dsc003721

2. Makam Pak Farid:

dsc00375

2. Istri dan anak-anak almarhum Pak Farid (Ceu Ade, Icha, Adi, dan satu lagi putranya tidak kelihatan di dalam foto):

dsc00374

Bagi alumni IF, dosen-dosen ITB, dan komunitas network security, Pak Farid tentu sudah dikenal luas. Minimal tadi yang datang ke pemakaman cukup banyak dari alumni, khususnya alumni IF angkatan 80 ke atas.

Satu kenangan yang tersisa adalah permintaan Pak Farid kepada saya untuk ikut nebeng naik motor pulang ke rumahnya. Sejak terserang stroke, Pak Farid sudah mengeluarkan banyak biaya dan kabarnya mobilnya terpaksa dijual untuk memenuhi biaya pengobatan. Kalau ke kampus untuk mengajar, praktis Pak Farid mengandalkan anaknya, Icha, untuk mengantarkannya ke kampus. Begitu juga kalau pulang. Namun kalau anaknya tidak bisa mengantar atau menjemput, Pak Farid naik angkot saja. Suatu kali Pak Farid minta ikut nebeng naik motor saya, namun saya tolak secara halus, karena khawatir kalau terjadi apa-apa di atas motor (misalnya serangan stroke) gimana? Lagipula saya tidak langsung pulang, sering singgah dulu ke beberapa rumah makan untuk membeli makan malam. Kasihan kalau beliau menunggu di atas motor. Pak Farid lebih aman naik mobil daripada naik motor, sebab naik motor tidak stabil untuk beliau. Padahal, orang yang pernah terkena stroke tidak boleh jatuh, kalau jatuh bisa fatal akibatnya, dan itulah yang terjadi Minggu pagi.

Berarti dalam 2 tahun ini sudah 2 orang rekan kami yang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, pertama Bu Sri Purwanti dan yang kedua Pak Farid Wazdi.

Selamat jalan Pak Farid, semoga arwahmu diterima oleh Allah SWT dan diberi tempat yang layak di sisi-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Fatwa Haram Merokok Yes, Haram Golput No

MUI baru-baru ini di Padangpanjang, Sumater Barat, mengeluarkan beberapa fatwa terkait masalah-masalah kontemprer yang diajukan oleh masyarakat. Fatwa yang dikeluarkan antara lain masalah pernikahan dini, vasektomi, yoga, rokok, golput, dan lain-lain. Dua fatwa yang memicu pro dan kontra adalah fatwa haram merokok dan fatwa haram golput (golongan putih) dalam Pemilu bagi ummat Islam. Fatwa pertama memang sesuai dengan garapan MUI, tetapi fatwa kedua masih patut dipertanyakan relevansinya.

Soal fatwa rokok dikatakan bahwa merokok haram bagi anak-anak, wanita hamil, dan di tempat-tempat umum. Dalam UU Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak-anak adalah manusia yang berusia hingga 17 tahun (remaja). Hukum ini sebenarnya ‘jalan tengah’ karena pengharaman rokok secara total belum bisa dilakukan di Indonesia sat ini mengingat ketergantungan rakyat pada industri rokok sangat tinggi (buruh pabrik rokok, petani tembakau, dan lain-lain). Di negara Islam lain seperti Arab Saudi, Mesir, Malaysia, merokok sudah dikategorikan haram. Hanya di Indonesia yang belum tegas soal hukum merokok.

Fatwa haram rokok ada yang mendukung ada yang tidak. Yang mendukung antara lain Komnas Anak karena anak-anaklah yang banyak menjadi korban dari budaya merokok. Merokok sejak kecil menimbulkan banyak masalah kesehatan dan sosial.

Anehnya, yang menolak fatwa haram merokok ini justru dari ulama-ulama atau kyai-kyai yang memang sehari-harinya merokok, khususnya dari kyai-kyai NU. Hampir tidak terdengar suara penolakan dari perokok biasa. Boleh jadi para kyai yang menolak fatwa haram rokok karena mereka tidak mau kebiasaan merokok mereka jadi terganggu akibat fatwa ini (he..he, semoga saja dugaan saya salah). Mereka hanya menyatakan bahwa merokok itu hukumnya makruh (dikerjakan tidak berdosa, ditinggalkan lebih baik atau berpahala). Titik.

Saya sependapat dengan MUI bahwa rokok itu haram. Tanpa difatwakan pun rokok jelas-jelas haram, karena mengandung zat kimia berbahaya yang merusak kesehatan. Sesuatu yang mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya maka hukumnya adalah haram. Jelas-jelas dalam iklan rokok sudah ditulis bahwa merokok dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti kanker, impotensi, dan gangguan kehamilan. Jadi, merokok itu memang sangat tidak baik untuk kesehatan.

Untunglah saya tidak pernah merokok, sebatang pun belum pernah saya isap. Jadi, soal fatwa haram rokok itu tidak masalah buat saya. Difatwa haram atau tidak, tidak ada pengaruhnya buat diri saya pribadi dan keluarga.

Tentang fatwa yang satu lagi, yaitu golput haram, nah yang ini saya tidak sependapat. Orang tidak memilih dalam pemilu karena banyak alasan. Pertama, seseorang menjadi golput karena ia tidak terdaftar sebagai pemilih. Dalam pilkada banyak kita temukan kasus seperti ini. Apakah orang tersebut berdosa karena tidak memilih?

Kedua, seseorang tidak mau memilih karena dia merasa tidak ada partai atau caleg/capres yang sesuai dengan kriterianya. Dia tidak bisa dipaksa untuk memilih karena tidak ada caleg/capres yang berkenan di hatinya. Memilih adalah hak, bukan kewajiban, jadi kalau dia memilih untuk tidak memilih, maka itu juga hak asasinya. Sebagai konsekuensinya, dia tidak boleh keberatan dengan hasil pemilu. Salah sendiri mengapa tidak menggunakan hak pilihnya.

Jadi, fatwa haram MUI tentang golput ini sudah out of topics alias “diluar batas” atau kebablasan. Dalam hal ini, saya sependapat dengan tulisan Adian Husaini di dalam Hidayatullah, yang menuliskan sebagai berikut:

Demokrasi itu tergantung kehendak rakyat. Kalau rakyat mau memilih silakan, tidak memilih pun tidak soal. Itu bagian dari demokrasi. Mengapa rakyat tidak mau memilih? Sejumlah alasan mengapa golput antara lain:

1. Kriteria pemimpin tidak sesuai dengan selera pemilih.

2. Sistem pemilu diskriminatif, karena tidak memberikan peluang yang sama kepada seluruh rakyat untuk dipilih sebagai pemimpin. Calon pemimpin khususnya presiden dan wapres harus melalui partai atau gabungan partai dengan syarat perolehan kursi 20% dari total kursi parlemen, sehingga menutup potensi pemimpin lain di luar partai yang bisa jadi lebih baik.

Di semua negara yang menganut demokrasi, memilih tidak wajib apalagi dosa.

Sistem pemilu memaksa rakyat memilih orang-orang itu saja dari partai-partai besar dan berduit, padahal rakyat sudah melihat kegagalannya ketika mereka memimpin negeri ini. Rakyat menghendaki pemimpin baru yang bersih dari berbagai skandal masa lalu.

Pemilih adalah raja, tidak bisa dipaksa oleh siapa pun untuk memilih yang tidak sesuai dengan pilihannya. Sekalipun memilih yang terbaik dari yang jelek-jelek. Karena calon yang baik-baik dipersulit memasuki bursa calon pemimpin, seperti ditutupnya jalur independen untuk capres dan cawapres.

Sebagai seorang muslim yang baik, saya mengikuti perkembangan seputar kedua fatwa tersebut. Pro dan kontra soal fatwa itu saya anggap hal yang biasa karena apa yang dilakukan oleh para ulama itu adalah sebuah ijtihad terkait masalah yang hukumnya tidak tertulis di dalam Al-quran dan Hadis Nabi. Soal ijtihat, bisa benar bisa salah. Jika benar berpahala, jika salah juga berpahala.

Meskipun saya tidak sependapat soal fatwa haram golput, saya tetap menghormati para ulama. Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka sudah berusaha menjawab permasalahan kontemporer yang berkembang di masyarakat sesuai dengan kompetensi mereka yang menguasai masalah fiqih berdasarkan Al-quran dan Hadis. Jika kita tidak setuju dengan fatwa MUI itu, tidak perlu pula kita mencelanya atau mencacimaki para ulama itu, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh kelompok liberal. Ulama adalah tempat bertanya. Ummat bertanya, ulama menjawab. Benar salahnya kita kembalikan kepada Allah saja. Tidak setuju dengan fatwa tersebut, ya tidak usah dituruti. Mari kita hargai jerih payah ulama dan tetap ber-khusnudhon alias berpikir positif.

Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen

Sesuai dengan UU Guru dan Dosen yang sudah disahkan, setiap dosen di Indonesia diwajibkan menjalani sertifikasi. Sekarang ini tampaknya segala hal harus disertifikasi supaya mendapat pengakuan.

Beberapa hari yang lalu dosen-dosen di ITB menjalani sertifikasi. Kita diminta mengisi dokumen sertifikasi. Penilaian sertifikasi didasarkan pada penilaian: mahasiswa, atasan, teman sejawat, dan pernilaian diri sendiri. Jika salah satu penilaian tidak lulus, maka dosen gagal meraih sertifikasi dan harus mengulang lagi tahun depan (seperti mengulang kuliah saja, ha..ha). Makanya dosen harus berbaik-baik dengan mahasiswa supaya mahasiswa memberi nilai yang bagus, he..he (bercanda).

Nah, yang merepotkan dan cukup sulit adalah penilaian diri sendiri. Penilaian diri sendiri ini ada dua macam, pertama penilaian persepsional dosen yang mana mengisinya cukup mudah sebab kita hanya tinggal melingkari jawaban yang berupa skala nilai 1 sampai 5.

Kedua, instrumen deskripsi diri. Nah yang kedua ini yang lebih sulit karena kita harus mengisi jawaban pertanyaan dalam bentuk narasi/deksripsi. Jika jawabannya pendek-pendek (satu kalimat misalnya), maka dipastikan tidak lulus sertifikasi, karena jawaban pendek dianggap tidak mencerminkan deskripsi yang lebih terang. Itu pengalaman dosen senior saya yang sudah mumpuni di bidang ilmunya, sudah doktor, punya jabatan ketua ini dan itu, punya reputasi internasional, tapi tahun lalu dia gagal.

Kesulitan kedua muncul karena kita harus mendeskripsikan karakter diri kita sendiri (sifat, perilaku, dsb). Kalau menilai orang lain sih kita pasti bisa, tetapi menilai diri sendiri dalam bentuk deskriptif, alamaak ternyata tidak mudah.

Seperti apa contoh pertanyaanya dan seperti apa jawaban yang diinginkan? Contoh berikut ini bisa dijadikan gambaran (diambil dari contoh dokumen yang dibagikan):

Contoh Deskripsi:

Aspek : Prestasi kerja dosen

Pernyataan Dosen:
Sekitar tiga semester yang lalu, saya mulai menyadari bahwa mahasiswa saya kesulitan memahami kuliah yang saya berikan, ketika saya sajikan tanpa bantuan media visual. Saat itu saya belum memahami teknologi media dan saya mulai mempelajarinya. Secara bertahap saya menerapkan pemakaian media visual dalam perkuliahan, sehingga saya dapat memberi banyak ilustrasi dan melengkapi presentasi perkuliahan dengan animasi untuk memperjelas konsep, bahan, materi, proses terkait dengan bidang ilmu yang saya ajarkan. Kelas menjadi lebih bergairah dan hidup. Implikasi suasana pembelajaran itu, prestasi mahasiswa meningkat jika dilihat dari sebaran nilai ujian dan/atau kualitas tugas mahasiswa. Sekarang, semakin banyak dosen di universitas saya yang mengikuti model pembelajaran ini.

Nah, seperti itu contohnya. Ternyata pelajaran mengarang itu penting lho, nyatanya banyak teman-teman saya kesulitan dalam mendeskripsikan jawaban.

Seperti apa pertanyaan instrumen deksripsi diri itu? Di bawah ini daftar pertanyaannya.

Bagian 1
Pada Bagian I ini, uraikan apa saja yang telah Anda lakukan dalam beberapa tahun terakhir yang dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal berikut.

Pertanyaan:
1. Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan bagaimana dampaknya!

Deskripsi jawaban: …………………….

2. Jelaskan karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana keterkaitannya dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya ilmiah (dan jurnalnya) Saudara!

3. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan manajemen pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

4. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

5. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

Nah, Bagian I tidak terlalu sulitlah, jawabannya bisa diambil dari CV, daftar publikasi, dokumen histori, dan sebagainya.

Bagian II pertanyaannya lebih sukar dijawab, butuh usaha ekstra untuk menuliskan jawabannya. Saya sendiri membutuhkan 3 hari baru dapat merumuskan jawabannya.

Bagian II
Pada Bagian II ini, sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada aspek-aspek berikut.

Pertanyaan:
1. Jelaskan karakter/kepribadian Saudara (pengendalian diri, kesabaran, empati, rasional) pada berbagai situasi! Berikan contohnya!

Hmmm…ternyata sukar juga bagi kita menggambarkan karakter/kepribadian diri kita sendiri, apalagi kita harus menuliskan jawabannya seobyektif mungkin secara panjang lebar, pakai contoh lagi.

2. Jelaskan etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan) dan bagaimana cara Saudara menghadapi masalah! Berikan contohnya!

3. Jelaskan dan beri contoh integritas Saudara dalam kaitannya dengan kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contohnya!

4. Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan contohnya!

5. Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan berbagai pihak (teman sejawat, staf administrasi, atasan, mahasiswa, dan masyarakat)? Berikan contohnya!

6. Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek pekerjaan Saudara! Berikan contohnya!

Demikian daftar pertanyaanya yang sulit-sulit-gampang. Setelah saya cek, total halaman jawaban saya ada sekitar 10 halaman. Lumayan melelahkan otak juga.

Yah nggak tahulah, bisa lulus sertifikasi apa nggak ya. Santai aja lagi.

Moral of this story: jangan menganggap remeh pelajaran mengarang. Mengarang itu penting, minimal untuk menjawab pertanyaan sertifikasi dosen ini, he..he.