Rencana Pemberian Doktor Honoris Causa Buat SBY

Di milis dosen ITB (juga di milis alumni ITB) lagi gonjang-ganjing isu pemberian gelar Doktor Honoris Causa (DR HC) kepada Presiden SBY. Gelar DR HC akan diberikan pada saat peringatan Dies Emas ITB ke 50 pada tanggal 2 Maret mendatang. Rencana pemberian gelar DR HC ini menimbulkan pro dan kontra, baik dari kalangan dosen maupun dari kalangan alumni.

Di dalam milis disebutkan bahwa SBY diberi gelar DR HC untuk bidang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). What? TIK? Banyak alumni dan dosen ITB yang mungkin tercengang: apa relevansi SBY diberi gelar doktor di bidang TIK? Apa sumbangsih keilmuan SBY di bidang TIK? Apa karena SBY berhasil mendirikan Depkominfo kah? Banyak yang tidak tahu alasan semua ini, dan seperti anda, saya yang nyata-nyata berkecimpung di bidang TIK pun tidak tahu apa yang menjadi dasar pertimbangan ITB memberikan SBY gelar DR HC untuk bidang TIK ini.

Berita tentang ini sudah muncul di media massa, misalnya saya kutipkan dari Kompas berikut ini:

Bila tak ada halangan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan memberikan gelar Doktor Honoris Causa (DR HC) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena dianggap berhasil di bidang Teknologi pada 2 Maret mendatang. Rencana pemberian gelar ini sudah mendapat persetujuan senat serta perimbangan dari Majelis Guru Besar ITB.

Namun, rencana ini diakui oleh salah satu anggota senat ITB, Prof
Hasanuddin kepada Persda Network, Sabtu (31/1), masih menuai pro dan kontra, termasuk dari kalangan alumnus ITB, yang menganggap waktu yang tidak tepat, dinilai sarat politis karena menjelang pelaksanaan Pemilu. Rencana pemberian ini bertepatan dengan Dies Natalis ke-50 ITB.

Di Harian Republika berita yang sama juga muncul, tapi yang ini isinya protes dari alumni, seperti yang saya kutip dari sini:

Alumni ITB Pertanyakan Pemberian Doktor Kehormatan SBY
By Republika Newsroom, Sabtu, 31 Januari 2009 pukul 03:38:00

BANDUNG — Sebagian alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) mempertanyakan rencana pemberian gelar doktor honoris causa kepada Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Senat Guru Besar ITB dalam Dies Natalis pada 2 Maret 2009 karena tidak ada sumbangan keilmuan yang diberikan oleh Presiden RI itu.

Mantan mahasiswa dan aktivis ITB, Fadjroel Rahman kepada ANTARA di
Bandung, Jumat menyatakan pemberian gelar menimbulkan cacat politik pada independensi ITB karena publik akan melihatnya sebagai bentuk dukungan kampus terhadap calon presiden mendatang.”Saya menolak sekeras-kerasnya pemberian gelar doktor honoris causa ini. Apa kaitan SBY dengan keilmuan di ITB sehingga bisa mendapatkan gelar terhormat itu?” kata Fadjroel.

Ia mengatakan seseorang seharusnya bisa mendapatkan gelar itu karena keilmuannya namun gelar yang dimiliki SBY sama sekali tidak ada kaitannya dengan seluruh keilmuan yang ada di ITB.”Sepertinya ada seseorang atau sekelompok orang yang sengaja mengaitkan jurusan keilmuan yang ada di ITB dengan SBY sehingga keputusan ini muncul,” ujarnya.

Nah, begitu yang kita baca dari media.

Yah, begitulah, menjelang Pemilu 2009 yang sudah semakin dekat ini, wajar saja kecurigaan muncul. Semua hal bisa dipolitisasi, termasuk gelar DR HC buat SBY yang merupakan salah seorang Capres 2009. Ada yang curiga, jangan-jangan supaya dapat jatah menteri di kabinet baru SBY, jangan-jangan supaya dipromosikan sebagai pejabat ini itu, wah.. wah…wah, yang namanya orang bisa kemana-mana curiganya, apalagi bagi para politisi rival SB, isu ini senjata ampuh untuk menyerang SBY.

Perguruan Tinggi seperti ITB memang mempunyai hak untuk memberikan gelar DR HC kepada siapa saja yang telah berjasa bagi masyarakat luas — baik dari dalam PT atau dari luar PT — karena sumbangsihnya sebagai penyumbang atau penemu ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, diluar tugasnya sebagai professional. Seperti diberitakan baru-baru ini Universitas Indonesia memulai babak baru dalam dunia akademis. Guna memberikan apresiasi kepada putra terbaik bangsa, penegak panji-panji peradaban, Sabtu (31/1) di Balairung Universitas Indonesia, Depok, dalam penyelenggaraan wisuda semester Gasal 2008/2009, Universitas Indonesia akan menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Taufiq Ismail dan Taufik Abdullah.

Saya sih tidak menolak pemberian gelar Dr HC buat Presiden SBY. Silakan saja, sebab itu adalah wewenang Senat Akademik (SA) atawa Majelis Guru Besar (MGB) yang menentukannya. Saya percaya SA/MGB pasti mempunyai sejumlah alasan, dasar pertimbangan yang kuat, dan kriteria penilaian mengapa SBY layak diberi gelar DR HC. Hanya saja, mumpung gelar Dr HC itu belum diberikan kepada SBY, saya mempunyai beberapa keberatan sebagai berikut :
1. Perlu dipikirkan lagi di bidang teknologi apa atau di bidang ilmu apa SBY pantas diberikan gelar DR HC. Kalau di bidang TIK, jelas-jelas saya tidak setuju. Lha wong SBY tidak pernah punya rekam jejak (track record) sebagai orang yang berjasa di bidang TIK. Menurut saya, masih banyak orang lain yang telah berjasa di bidang TIK yang layak diberikan gelar Dr HC. Hayo siapa coba… (asal bukan Roy Suryo saja ya)

2. Perlu dipikirkan waktu yang tepat pemberian gelar DR HC ini. Pemberian gelar sebelum Pemilu bisa menimbulkan tafsiran politik yang bukan-bukan yang pada akhirnya merugikan ITB sendiri, padahal ITB sama sekali jauh dari politik dan tidak ikut urun campur sari dari perpolitikan. Kompetensi ITB ya di bidang sains, teknologi, dan seni.

3, Ini juga tidak kalah penting: SBY harus ditanya dulu, apa dia mau diberi gelar DR HC oleh ITB? Jangan-jangan beliau tidak mau karena mungkin merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang TIK. Kalau beliau mau, ya udah, berikan saja.

Bagaimana ya pendapatmu?

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

21 Balasan ke Rencana Pemberian Doktor Honoris Causa Buat SBY

  1. fixmanius berkata:

    Ada udang di balik batu. Saya sendiri juga tidak setuju, rasanya terlalu memaksa. Atau jangan-jangan ITB tidak mau kalah dengan IPB. Haha.

  2. Oemar Bakrie berkata:

    Jadi inget lagunya siapa itu yg pernah populer beberapa waktu yg lalu :

    Oo … Oo … kamu ketahuan …

  3. Astrid Dita berkata:

    Kayaknya semua civitas ITB pasti curiga ada bakwan di balik batu..
    Pertanyaannya, mungkinkah Mr. Bakwan membatalkan niatnya itu?

    Duh.. Duh..

    Kalaupun dibilang SBY bersumbangsih dalam bidang ekonomi dalam masa kepemimpinannya kini, dan ITB memungkinkan untuk memberi Dr. HC karena ITB juga punya SBM (ehem..), kok rasa-rasanya yang lebih pantas dapat adalah Ibu Sri Mulyani..

    Kalau SBY dapat Dr. HC karena sumbangsih dalam dunia seni, nyanyi sana-sini, dan ITB memungkinkan untuk memberikan Dr. HC karena punya FRSD, kok rasanya lebih ngawur lagi..

  4. bolang berkata:

    Orang jawa bilang:

    ngono yo ngono ning ojo ngono …

    (baca: kebangetan, yg punya ide dan yg setuju).

  5. pebbie berkata:

    coba cek agenda riset nasional 2006-2009 aja Pak.. :D diverifikasi satu-per-satu target capaiannya (indikator keberhasilan) pada masa jabatan SBY..

    entah sih, walaupun seringkali SBY ‘ditipu’ event berjudul teknologi.. blue energy, padi supertoy…

    kalau memang mau berniat memberi gelar, sebaiknya ditunda saja setelah pemilu 2009. biar jelas sekalian kalau mau memuat niatan politik. jadi kalau SBY terpilih lagi jadi presiden, baru dikasi gelar DHC, barter dengan peningkatan anggaran pendidikan dan penelitian teknologi strategis. biar publik sendiri yang menilai.. pantas tidaknya SBY mendapat gelar tersebut..

  6. irfin berkata:

    wadoh, baiknya SA/MGB memaparkan dulu secara jelas dan transparan, alasan kenapa gelar DR HC tsb hendak diberikan. Jgn sampe terkesan di negeri ini gelar DR HC bisa didapatkan bak kacang goreng. Klo ITB saja uda mulai beri gelar DR HC secara ga jelas, gmn bisa kasih contoh yg baik buat perguruan2x tinggi yg lain. Well, harapannya semoga tidak ^_^

    Note: pejabat yg tiap hari ga kekurangan makanan, naik kendaraan ke kantor ga merasakan macet (krn dikawal ama motor polisi), menikmati fasilitas negara yg diperoleh dari pajak rakyat, ga merasakan beratnya keluar ongkos buat beli BBM, ga pernah merasakan ngantri berjam2x utk dapetin tabung elpiji atopun minyak tanah, ga pernah berdiri berdesak2x-an di atas kendaraan umum, ga pernah telat gaji, dan ironisnya mereka inilah yg membuat kebijakan dan yg menerima penghargaan. Kapan negara ini bisa maju? 50? 100? 200 tahun lagi? cape de ;p

  7. kalo bingung2, tanya sama menkominfo ajee.. kenapa koq SBY bisa jadi dikasih Doktor HC

  8. dwinanto berkata:

    Hal yang sangat kontroversial, namun tidak bisa diganggu gugat lagi,.

  9. Rizli berkata:

    Menarik untuk dibandingkan :)
    __
    http://web.mit.edu/newsoffice/2001/commdegrees.html

    No honorary degrees is an MIT tradition going back to … Thomas Jefferson
    ___

    CAMBRIDGE, Mass. — Honorary degrees are a routine part of graduation ceremonies at nearly every college in the land — but not at the Massachusetts Institute of Technology. MIT’s founder, William Barton Rogers, regarded the practice of giving honorary degrees as “literary almsgiving … of spurious merit and noisy popularity.”

    Since MIT held its first graduation ceremony in May, 1868, every MIT degree has been earned by academic labor. It is an MIT tradition of meritocracy that traces its origin back to Rogers and to Thomas Jefferson, the founder of the University of Virginia.

    Rogers was a geologist from the University of Virginia who believed in Thomas Jefferson’s policy barring honorary degrees at the university, which was founded in 1819.

    In 1845, Rogers was serving as the chairman of the University of Virginia faculty when the policy was under discussion by the Virginia Legislature’s Committee of Schools and Colleges. In a report to the Committee, Rogers strongly condemned honorary diplomas.

    “In most other colleges and universities, as is well known,” he wrote, “such honors are extended not only to those who have earned some reputation in divinity, medicine or law, or even in the uncongenial pursuits of party politics, but are accorded, as [a matter] of course, in the case of a Master of Arts, after the interval of a few years, to all who have taken their first academical degree.

    “Rejecting a system so unfriendly to true literary advancement,” wrote Rogers, “the legislators of the University have, we think, wisely made their highest academic honor — that of Master of Arts of the University of Virginia — the genuine test of diligent and successful literary training, and, disdaining such literary almsgiving, have firmly barred the door against the demands of spurious merit and noisy popularity.”

    To this day, MIT and the University of Virginia have awarded no honorary degrees. Jerome B. Wiesner, who was president of MIT from 1971 to 1980, considered this an advantage in recruiting presidents of the Institute.

    When Charles M. Vest, then provost of the University of Michigan, was offered the job of president of MIT in 1990, he met with Wiesner, who also had come to MIT from the University of Michigan. Wiesner, in ten words of concise persuasion, cited three worries of university presidents that Vest would not have at MIT — “No big time athletics. No medical school. No honorary degrees.”

  10. irfin berkata:

    Mungkin karena wapres JK sendiri sudah menerima 2 gelar DR HC sedangkan SBY belum, padahal ini lagi mendekati momen2x pemilu maka dicarilah alasan dan kesediaan utk diberikan gelar tsb. Mungkin loh, ini cuma dugaan negatif saja =p

  11. Monang berkata:

    Atau Rektor ITB dulu sudah tanda tangan barter posisi menteri dengan gelar HC, hehe.

  12. anggriawan berkata:

    saya juga tidak setuju dengan rencana pemberian gelar Dr.HC buat pak SBY karena latar belakang dan pencapaian pak SBY tidak berkaitan dengan disiplin ilmu di ITB..

    saya lebih setuju kalau ITB bertindak seperti MIT,
    no honorary degrees.. supaya gelar dari ITB tidak terkesan ‘murahan’.. :)

    @irfin:
    JK punya 2 Dr.HC, SBY belum?? coba cek lagi referensi Anda..

    yang benar:
    selain 1 doktor ekonomi pertanian IPB (secara akademis), SBY juga punya 2 gelar Dr.HC: ilmu hukum (Webster University – US, almamater S2-nya) dan ilmu politik (Thammasat University – Thailand)

    sumber: presidenri.go.id

  13. bah reggae berkata:

    Benar, sebaiknya SBY ditanya dulu. Siapa tau beliau gak mau klo cuma dikasih satu gelar HC. ITB sdh siap klo beliau minta 2 atau 3 gelar sekaligus?

  14. wp berkata:

    Kalau Ho Chi Minh dikasih Doktor HC buat apa ya dulu itu? Dien Bien Phu?

    http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/06/00440359/itb.akan.anugerahkan.doktor.hc.ke.yudhoyono

    “ITB dikenal sangat selektif dalam menganugerahi HC. Sejak ITB berdiri, hanya empat orang yang dianugerahi doktor HC, yaitu mantan Presiden Soekarno, tokoh asal Vietnam Ho Chi Minh, mantan Dirjen Pertambangan Umum Sutaryo Sigit, dan mantan Menteri Perindustrian Hartarto”

  15. irfin berkata:

    @anggriawan:
    i see. thanks utk koreksinya

  16. Arie berkata:

    BTW, “honorary degree” itu maksudnya kalo di Indonesia “predikat cum laude” kan?

    Beda dong dengan Dr HC..

  17. rizqon berkata:

    Telepas banyak kontroversi ttg kompetensi, politik, timing dll seputar gelar HC SBY sebaiknya ditunda seperti permintaan beliau, tapi setelah beliau tidak terpilih lagi (plg cepet kan 8 bln kedepan). Biar tidak ada prasangka buruk terhadap ITB, SBY, org-2 yg berkepentingan. Pertanyan??? Kenapa ITB jadi kayak yang lain2? yg tahu ITB sendiri…

  18. Agung berkata:

    Pak mau tanya, sampai saat ini pihak ITB udah mem-publish tentang alasan-alasan pemberian gelar tersebut belum?
    Lalu parameter “sumbangan nyata dengan dampak yang luar biasa” yang tertuang dalam SK/SA Doktor Kehormatan ITB tersebut sudah dijabarkan belum? kemudian sudah pernah dibandingkan belum dengan apa yang telah diperbuat SBY?

  19. Triono berkata:

    Saya kira anda tidak setuju karena tidak paham saja, wajar memang. Namum dibalik itu semua, barangkali anda tidak tahu bahwa perkembangan TIK selama hampir 5 tahun ini (saya kebetulan menjadi saksi sejarahnya dan juga orang ITB), terutama dari sisi kebijakan telah sangat membantu pengembangan TIK di Indonesia, terutama dari sisi pertahanan dan keamanan NKRI(yang memang tidak dibuka untuk publik), telah membantu negara kita mampu melalui berbagai rintangan. Demikian, saya hanya ingin turut sumbang tulisan dan tidak bermaksud lain, apalagi terkait pemilu. Salam persahabatan.Triono

  20. pebbie berkata:

    @Triono:betul! perkembangan TIK sangat pesat, bahkan kita sekarang punya UU ITE yang digunakan untuk menjerat seorang ibu karena mengirim curhat via e-mail.

    betul juga! sistem pertahanan dan keamanan kita pun sangat baik sampai sampai dalam waktu 2 minggu prajurit2 kita meninggal karena peralatan yang sudah usang!

    kita pun sekarang punya jembatan suramadu, yang menggunakan rakyat kecil sebagai kelinci percobaan dengan cara menggratiskan penggunaan jembatan tersebut.

    memang hebat presiden kita mah..

    besok, ada apa lagi yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s