Geodesi oh Geodesi

Hari-hari ini ITB ketiban musibah. Menjelang peringatan Dies Emas 50 Tahun ITB, muncul kejadian yang tidak diinginkan, yaitu meninggalnya seorang mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika (dulu Teknik Geodesi saja) Angkatan 2007 — namanya Dwiyanto Wisnugroho — dalam kegiatan OS (Orientasi Studi) yang diadakan oleh IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) ITB. Anda pasti sudah melihat berita tentang ini di TV atau membacanya di media massa maupun di milis-milis. Yang jelas ITB kembali menjadi sorotan nasional karena ini kasus yang tidak lazim, seakan-akan mengulang lagi kejadian yang sama ketika meninggalnya mahasiswa Fisika Angkatan 1995 bernama Zaky dalam acara OS yang diadakan oleh HIMAFI (Himpunan Mahasiswa Fisika).

Kita tentu simpati pada keluarga Dwiyanto. Orangtua mana yang tidak hancur hatinya mendapati anaknya sudah menjadi mayat. Dikirim jauh-jauh kuliah ke Bandung, pulang-pulang hanya tinggal nama. Tragisnya, meninggalnya karena mengikuti suatu kegiatan mahasiswa. Sampai hari ini tidak diketahui penyebab kematian Dwiyanto, tetapi polisi sudah memastikan tidak ada kekerasan fisik dalam kematian Yanto. Biarlah polisi yang mengungkap penyebab lebih pasti, kita tunggu saja hasilnya.

Sehari setelah kasus ini muncul ke permukaan, ITB bertindak cepat. Setelah melakukan rapat, Rektorat mengeluarkan serangkaian keputusan sebagai berikut:
1) Memberhentikan Ketua Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB dari jabatannya (untuk keputusan yang ini, wartawan Detik.com salah menafsirkan, wartawannya menulis “diberhentikan dari ITB”, besoknya mereka buru-buru meralatnya menjadi “diberhentikan dari jabatannya sebagai Kaprodi”. Yang sangat parah adalah wartawan Pos Kota yang menulis bahwa yang dipecat adalah Rektor ITB. “Rektor ITB dipecat”, begitu tulis koran ini di situsnya. Parah kan?)
2) mem-blacklist 57 orang alumni Geodesi dari layanan adminstratif karena dituduh memprovokasi (misalnya layanan memperoleh transkip nilai, legalisasi ijazah, dsb);
3) segera memutuskan nasib panitia OS dan Ketua Himpunan IMG (kemungkinan besar akan dikeluarkan dari ITB);
4) membekukan IMG;
5) tidak melakukan penerimaan mahasiwa Geodesi selama setahun (Komentar: mirip kasus di IPDN yang tidak menerima mahasiswa selama 1 tahun untuk memutus rantai kekerasan di sana) ;
6) dan yang paling mengejutkan: segera memutuskan nasib Program Studi Geodesi, apakah akan dilanjutkan atau ditutup.

(berita selengkapnya baca di koran PR ini)

Untuk keputusan nomor 1 hingga 4 saya bisa mengerti, untuk keputusan nomor 5 patut dipertanyakan apa dasarnya dan untuk keputusan nomor 6 saya nilai ini tindakan reaktif yang berlebihan. Ibaratnya kalau ada proses produksi yang trouble, maka pabriknya yang ditutup. Ini tentu saja logika yang keliru, justru yang harus diselesaikan adalah penyebab trouble-nya itu.

Menutup sebuah Progarm Studi tidak segampang itu. Ada faktor sejarah yang tidak boleh dinafikan begitu saja. Jurusan Geodesi sudah ada sejak lama di ITB. Di Indonesia hanya beberapa Perguruan Tinggi yang membuka jurusan Geodesi dan ITB adalah Perguruan Tinggi yang pertama yang membuka Jurusan Geodesi strata S1 di Indonesia.

Saya orang yang awam mengenai Geodesi. Yang saya tahu, Geodesi berkaitan dengan pemetaan bumi. Meski awam, namun saya simpati dengan dosen, mahasiswa, karyawan, dan alumni Geodesi ITB yang hari-hari ini menjadi sorotan. Saya tidak setuju Prodi Geodesi dibubarkan hanya karena musibah ini. Meminjam istilah seorang rekan, jangan sampai akibat satu gugur lalu memicu kepunahan massal. Moga-moga saja Bapak Rektor arif dalam mengambil keputusan.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

18 Balasan ke Geodesi oh Geodesi

  1. nurrahman18 berkata:

    bencana lagi yah di kasus ospek…sebenarnnya klo mo diinvestigasi secara komprehensif, lebih banyak kasus akan muncul di permukaan lho :D

    salam kenal, by nurrahman

  2. zamakh berkata:

    wah, berita di media massa simpang siur dan sangat asal menurut saya pak,
    dari kata “ditemukan warga” yang mengesankan almarhum ditinggal begitu saja, padahal karena mobil ambulance tidak bisa digunakan saat itu.

    kalau menurut saya, geodesi ini sial sekali, metode dan metodologi kaderisasi sudah diperbaiki pun (berita dari mahasiswa geodesi mengatakan, bahkan hukuman push-up pun sudah tidak ada) masih terjadi kasus seperti ini.

    turut berduka cita dan berbela sungkawa untuk Almarhum, semoga amal ibadahnya diterima dan keluarga yang ditinggal tetap tabah menghadapi cobaan ini.

  3. master cherundolo berkata:

    Hukuman alumni tepat tuh.
    Kadang-kadang panitia ditekan oleh pihak ini untuk melakukan suatu tindakan walaupun panitia sendiri tidak berkenan untuk melakukannya.

  4. car design news berkata:

    wah..kalo dibekukan…ga ada lawan anak HMM ITB buat tawuran lagi donk

  5. prabu berkata:

    harus segera diselesaikan masalah ini

  6. Dhika berkata:

    Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa mahasiswa itu……

    jadi tercemar begini deh itb
    semoga kasusnya bisa selesai, cepat ditemukan yg bertanggung jawab

    salam dari 10105004

  7. fajuri berkata:

    Ia tuh..kalo GD di bubarkan ga ada lagi lawan HMM (he..he..komennya car new…).Anggap aja GD itu kaya pendekar yang sakti mandraguna jadi sudah saatnya tidak turun gunung lagi).. Tapi HMM rugi ga ada serunya lagi dong.. pas wisudaan
    Btw: turut berduka cita smoga arwah almarhum di terima di sisinya, Amien

  8. gd ugm berkata:

    hiduuuppp geodesi UGM!!!!

    hiyakakakkaka

  9. dikrezz berkata:

    Lagian hari gini OSPEK, udah ga jaman lagi, jadull!

    saya rasa INDONESIA TIDAK BUTUH OSPEK, tidak berguna, tidak efektif, pemborosan, berbahaya, dll.

    HAPUSKAN OSPEK DARI KAMPUSKU!

  10. nurul berkata:

    Hare gene masih militerisasi… !
    wekkekek

  11. ipank berkata:

    gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd gd

  12. hijau berkata:

    hidup gd itenas……hahahaha moga cepet selesai bro masalahny…..hidup geodesi

  13. Fans berkata:

    yahh namanya juga indonesia tanah air beta pak guru…gitu dehh seringnya solusi tidak nyambung dari masalahnya…sy juga gak setuju tu yg point 5 n 6..jadi inget duluuu ada kasus suporter bonek di sby..krn suporternya yg ribut kok yg dilarang permainan sepak bolanya..herann deehh..but for better or worse this is portrait of our beloved country…:)

  14. Hau hau berkata:

    Turut belasungkawa untuk keluarga Dwiyanto…

    Musibah, kasihan juga temen2 di GD ITB yg ga tau apa2 jadi kena cap buruk.

    ———

    Tentang Detik.com: wah, ternyata selain hobi copy-paste tulisan orang, detik.com hobi juga nulis ngasal. Kejadian berita yg ga akurat / penjiplakan tanpa menyebutkan sumber berita udah sering banget loh dilakukan sama detik.com.
    Coba posting di kaskus.us sesuatu yg boombastis (meskipun cuma ngibul), pasti bentar lagi masuk di detik.com, hehe..

    Pos Kota: koran sampah! Penulis beritanya bener2 ga prof. Judul sama isi beritanya aja bertolak belakang.
    Judul: “Rektor ITB Dipecat.”
    Isi: “…Prof. Joko Santoso memecat…”

    Nanti kalo Pak Rin sudah jadi Menkominfo, yang seperti ini tolong “ditertibkan.”

  15. Asop berkata:

    Nama ITB jadi tercemar gara2 kasus ini…. >.<

    Duh, kampusku..!!

  16. dewi berkata:

    mohon maaf, boleh tau tentang milis teman-teman dari geodesi? saya ada lowongan kerja untuk surveyor dan kita mau memposting lowongannya, salam, dewi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s