Meskipun Presiden AS sudah berganti dengan Obama, namun kebijakan negara itu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Islam masih belum berubah (baca berita di bawah ini). Islam phobia masih melekat pada negara Amerika, misalnya untuk hal-hal yang sepele seperti nama. Bagi orangtua muslim, memberi nama pada anak ada maksudnya. Nama adalah doa atau pengharapan. Diberi nama “Muhammad” dengan harapan anaknya mempunyai sifat yang baik seperti nabi, diberi nama “Hanif” supaya mempunyai sifat yang lurus, diberi nama “Rahman” dengan harapan dia menjadi orang yang penyayang pada sesama, diberi nama “Mizan” dengan harapan dia menjadi orang yang adil, dan sebagainya. Mengidentikkan atau mencurigai nama dengan hal-hal lain, apalagi terorisme, jelas keliru. Tentu tidak mungkin orang harus ganti nama dulu supaya bisa mendapat visa.
Tapi, itulah Amerika, kita tidak berdaya dengan aturan diskriminatif seperti itu. Memang sih itu hak Amerika menerima atau menolaknya tamunya, kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun setidaknya ada alasan yang lebih adil dan tidak menyakitkan. Mudah-mudahan ini kasus terakhir, sesuai dengan janji Obama yang ingin membangun suasana bersahabat dengan dunia Islam.
Berita diambil dari Republika. Berita yang sama juga muncul di koran Pikiran Rakyat Bandung.
Nama Bernuansa Islam, Visa Ditolak
BANDUNG–Rencana tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengikuti kegiatan Harvard National Model United Nation (HNMUN) 2009 di Boston, Amerika Serikat (AS), kandas. Hanya gara-gara namanya bernuansa Islam, Kedutaan Besar AS dinilai tak mau mengeluarkan visa kepada salah seorang mahasiswa. Keputusan itu dinilai sangat mengecewakan.
Mahasiswa ITB yang gagal berangkat karena namanya adalah Misykat Fahada Mochamad Nur. Sedangkan, Tizar MK Bijaksana, yang awalnya ditolak karena berjenggot, akhirnya memperoleh visa setelah mencukurnya. ”Kalau yang lain, begitu wawancara, langsung dibilang ambil visa tanggal sekian. Kalau saya, harus melengkapi syarat administrasi lain yang tidak jelas,” ujar Misykat.
Misykat mengaku kecewa. Hanya gara-gara nama, kata dia, rencana yang telah disusunnya untuk menghadiri HNMUN batal. Apalagi, Misykat telah ditunjuk sebagai ketua rombongan mahasiswa ITB. Ia terpaksa menyerahkan jabatan ketua rombongan kepada temannya, Tizar MK Bijaksana.
”Seharusnya, kalau presidennya ganti, kebijakan luar negerinya pun berubah. Sehingga, bisa melihat lebih objektif, siapa yang mengajukan visa dan untuk kepentingan apa,” kata Misykat. Ia meminta agar AS mengubah kebijakan luar negerinya dan tak fobia terhadap nama-nama bernuansa Islam.
Dosen pendamping mahasiswa yang akan pergi ke Boston untuk acara HNMUN 2009, Dermawan Wibisono, menuturkan, tiga mahasiswa ITB tak bisa berangkat karena visa belum keluar dengan alasan tak jelas.
Tahun ini, ITB memberangkatkan 16 mahasiswanya untuk menghadiri pertemuan internasional di Boston. Mereka adalah mahasiswa terpilih. Namun, yang berangkat hanya 13 mahasiswa. Semua mahasiswa, kata dia, hanya diwawancarai sekitar lima menit untuk mendapatkan visa.
”Laki-laki ternyata memang lebih susah memperoleh visa dibandingkan perempuan. Pertanyaan yang diajukan ke laki-laki lebih detail dan terperinci, kemungkinan karena mereka fobia dengan terorisme,” tuturnya. Untungnya, kata dia, dua mahasiswi berjilbab masih bisa memperoleh visa. ”Mahasiswa yang hadir dalam acara itu diharapkan nantinya bisa mengolah isu dalam diskusi. Kami sudah mengirimkan tiga angkatan untuk menghadari acara tersebut,” ujar Dermawan.
Saat dihubungi Republika, atase pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Paul Belmont, belum berani memberikan komentar atas masalah ini. Ia mengatakan belum mengetahui secara pasti alasan penolakan visa tersebut. ”Tanyakan lagi kepada saya besok.” Ia mengatakan akan mengeceknya terlebih dulu ke bagian konsuler. kie/lan
28 tanggapan so far ↓
Arry Akhmad Arman // 12 Februari 2009 pada 14:59 |
“Rinaldi Munir” tampaknya masih bisa lolos dengan mudah untuk mendapatkan visa ke Amerika, tetapi kalau “Arry AKHMAD Arman” agak lebih sulit. he3x
rinaldimunir // 12 Februari 2009 pada 15:19 |
Saya kira Pak Arry bakal lolos, karena “Arry” bernuansa Barat, kan? Mirip-mirip seperti “Harry” gitu.
reiSHA // 12 Februari 2009 pada 15:35 |
Kalau Reisha Humaira gimana ya Pak?
Byaryoga // 12 Februari 2009 pada 15:45 |
Setidaknya Misykat terhindar dari “islamofobia yang sesungguhnya”. Saya rasa di lingkungan kedubes AS islamofobia tidaklah amat sangat, karena ini Indonesia. (Juga karena mereka adalah para diplomat.) Sedang kalau di AS…yaah, banyak sekali kisah-kisah buruk islamofobia di sana.
Sungguh keji fitnah islamofobia yang telah mereka (?) sebarkan kepada dunia.
Catra? // 13 Februari 2009 pada 09:56 |
hmmm…. sepertinya Amerika Serikat yang didirikan atas nama kebebasan, kemerdekaan dan persamaan hak asasi ternyata malah diskriminasi, sepele, diskriminasi nama, diskriminasi jenggot. lha?
dwinanto // 13 Februari 2009 pada 10:28 |
Kasus diskriminasi memang semakin banyak bermunculan, mulai dari isu suku hingga agama,.
Ayub // 13 Februari 2009 pada 10:42 |
Hm…
Setelah saya di sini (US) ada beberapa hal yang saya coba pahami pandangan orang sini terhadap orang Indonesia. Mereka melihat banyak sekali berita mengenai orang kita yang terlibat dalam terorisme (merujuk POLRI) dan menurutku sangat wajar ketika suatu negara menolak warga negara lain karena dianggap akan “membahayakan” warga/negara tersebut, terlebih lagi dengan berita2 mengenai banyaknya warna kita yang melanggar hukum, jadi tukang copet, maling, atau kejamnya para perampok, sampai mutilasi. Mereka melihat negara kita itu mengerikan (dan itu karena ulah orang2 kita jg). Dengan melihat kondisi seperti itu, negara kita pun, mungkin akan melakukan hal yang sama, terlebih lagi US yang banyak musuhnya.
Hal itu salah satu alasan yang saya tahu, dan mungkin ada tambahan lain: aspek ekonomi misalnya, ratusan ribu orang minta ijin masuk US juga di tolak, seperti dari China, Mexico, bahkan Eropa yang mereka biasanya memanfaatkan momen2 khusus seperti seminar, pelatihan, wisata yang pada ujung2nya malah menetap di US, dan US mengaanggap itu sebagai beban, apalagi di saat krisis seperti ini.
Islamphobia ada, tapi tidak selalu terjadi. Namaku ke-arab2an, malah yang mewancarai ngomong ke aku, kalo itu nama panglima pasukan muslim pas perang salib, istriku berjilbab juga, tapi tetep dkasih visa jg dengan mudah. Menurutku hak mereka untuk menolak atau menerima siapapun untuk masuk ke negara mereka, buat kita, jadikan itu sebagai koreksi. Bahwa wajah negara dan bangsa kita juga harus diperbaiki, sehingga mereka jg hormat dengan kita, sehingga negara kita jg dianggap negara yang menjalankan hukum, bukan negara yang memiliki banyak pemalas, koruptor, copet, maling, perampok, pemerkosa, pembunuh… dan sombong pula!
Tentu ada banyak kelebihan kita yang mereka ga punya, tapi ada banyak hal mendasar yang perlu kita banyak pelajari dari mereka! Contoh yang bisa dibandingkan, di US:
1. Korupsi dikit, hampir ga ada, di Indo di mana ga ada korupsi?
2. Ketika naik dari bis hampir selalu ada “good morning, how are you? are you ok?”, di Indo adakah?
3. Ketika turun dari bis hampir selalu ada “thank you, you’re welcome”, di indo?
4. Semua orang berjalan sesuai dengan aturan, mereka minimal tidak merusak orang lain, di Indo? banyak orang berebut jalan bahkan harus membahayakan orang lain
5. Selalu ada tempat buat orang tua dan cacat di tempat umum atau kendaraan umum, di Indo?
6. Selalu ada orang datang dan bilang “can I help you?” kalo kita kelihatan bingung, di Indo, walaupun kita dah nanya malah, jawaban “tau! atau sono!”
Tapi walaubagaimanapun, I LOVE INDONESIA!
ekoph // 13 Februari 2009 pada 13:20 |
Padahal nama presiden barunya saja bernuasa Islam, Barack Husein Obama. Ah… bagaimanapun Amerika sepertinya phobia dengan Islam
Billy Koesoemadinata // 13 Februari 2009 pada 13:33 |
inget,, meski obama presiden, yang jadi menlu kan hillary clinton.. dia kan yang nerapin kebijakan politik luar negerinya..
Treante // 13 Februari 2009 pada 18:10 |
kenapa masih ada diskriminasi? bukankah Amerika negara besar yang dibangun para Imigran?
friska // 13 Februari 2009 pada 20:00 |
hai, menanggapi blog ini, saya sih pengen comment aja ttg berita di republika dan beberapa koran harian yang beredar belakangan ini.
sebenernya saya adalah salah satu dr team yg berangkat ke boston itu dan menurut saya pribadi, nama yg bernuansa Islami bukan penghalang krn team yang berangkat banyak memiliki nama bernuansa Islam tersebut seperti Hussein, Muhammad, Achmad, Nabilla dan toh tidak ada masalah mengenai nama mereka.
Di sini saya bukan pihak yang membela US Embassy ataupun membela team kami, saya berusaha netral.
FYI, sewaktu diwawancara, staff kedutaan menanyakan beberapa pertanyaan kpd pemohon visa dan keputusan dikeluarkannya visa berasal dr jawaban si pemohon.
Memang dr kita semua ada 2 orang yang mengenakan jilbab, tetapi saya tidak menemukan diskriminasi thd 2 orang teman saya ini, bahkan salah satu diantara mereka mendapatkan visa 5 thn yang notabene adalah hal yg cukup langka.
Team kita semua sekarang udah sampai di Amerika utk menghadiri acara yang disebut HNMUN tersebut, sewaktu memasuki Amerika, tidak ada perlakuan yang diskriminatif, orang2 di sini sangat ramah.
Memang setelah melewati tahap cap paspor, anak2 cowok harus diinterview terlebih dahulu, tp interview tsb bersifat sangat umum, cuma menanyakan tempat tinggal dan tujuan datang ke Amerika.
Jadi di sini dpt disimpulkan bahwa nama bernuansa Islami tdk memberikan pengaruh apa2 terhadap permohonan visa krn keluar atau tidaknya visa tersebut tergantung dr jawaban si pemohon.
scooterboyz // 13 Februari 2009 pada 20:40 |
Saya sudah nama “MUHAMMAD Arif” tampang Arab..
Berat..:D
Ditolak sekali waktu ngajuin visa amerika dan walo sudah dapet, di bandara kena wawancara di secondary 2 jam..
gumi // 13 Februari 2009 pada 22:19 |
Kak friska..saya angkatan 2010, teman sekelas misykat..
nama misykat fahada muhammad nur sangatlah muslim sekali..trus wajahya misykat kan agak serius gt..
dia bilang ke saya klo HARVARD adalah impian dia..dia pengen bgt kesana..walaupun ndak sekarang, insyaallah tahun2 berikutnya..qta do’akan saja..karena perjuangannya luar biasa..=D
sukses bt tim HNMUN..smoga membawa perubahan yang baik bt dunia..aamiin
friska // 14 Februari 2009 pada 05:55 |
hai gumi, menanggapi komen kamu nih, sebenernya saya mau meluruskan sekali lagi.
Emang miskat itu nama muslim banget, tp kita yg berangkat juga punya temen yang namanya muslim, dan ga pa pa sampai saat ini.
contohnya muhammad arif yang ngasi komen, dy bisa diterima kan visanya, utk masalah interview 2 jam itu, adalah hal yang biasa, banyak orang yg kayak gitu terlebih lagi utk cowo. ga peduli deh agama apa, suku apa, ras apa, semuanya tetep harus di-interview.
kalo tampang serius? mksd gumi tampang kita yg lain ga serius? ato mksd gumi tampang miskat arab banget?? aku agak2 ga ngerti .. yah emang sih lo pasti tegang banget pas diinterview krn itu US Embassy dan mereka sangat selektif banget. tp pasti kan ada pertimbangan.
ingat visanya miskat itu di POSTPONE bukan ditolak langsung, mereka staff embassy pasti pny pertimbangan dalam menunda di-issue-nya visa miskat.
mengenai masalah visa di postpone ini, ternyata satu orang delegasi UNPAR juga dipostpone dan sampai sekarang dy ga bisa berangkat, padahal namanya ga ada nuansa Islami sama sekali dan dy adalah keturunan etnis Tionghoa. see? dibalik semua itu pasti ada pertimbangan mgp visa itu bisa dipostpone atau ditolak.
dan contoh lain mengenai nama ini, tahun lalu, delegasi HNMUN ada yang namanya Ibnu Gamal Alhadid, Islami banget kan? dy dapet2 aja visa tuh. itu masih di pemerintahan Bush loh.
coba dipikirkan, dengan miskat bikin pernyataan kayak gt di pers, dy itu bisa jadi oposisi US kan, dan kemungkinan terburuk, dy bisa di-blacklist oleh US.
dan gumi, syp sih yg ga maw ke harvard? semuanya pengen ke harvard, at least dateng doank di kampus terkenal gt. tp hanya krn visa lo ga di-issued dan lo ga bisa dateng ke impian lo , lo jangan melampiaskan ke media dengan asumsi sendiri kan? itu tuh bisa jadi bumerang.
team kita di sini udah sangat kewalahan dengan ‘ulah’ miskat, di samping kita harus ke konferensi tsb, kita masi dipusingkan dengan urusan di Indonesia.
thanks banget yah perhatiannya..
yah gw sih mohon support-nya aja spy mslh ini cepet selesai dan ga menimbulkan efek apa2 terhadap hubungan Indonesia-US.
rinaldimunir // 14 Februari 2009 pada 13:51 |
@scooterboy: ternyata tidak hanya masalah nama saja ya, tetapi juga tampang. Kalau tampangnya Arab dipersulit? Menjadi Arab, Tionghoa,atau Indonesia, bukanlah keinginan kita, tetapi keputusan Allah SWT.
Oemar Bakrie // 14 Februari 2009 pada 18:06 |
Saya pernah ke Jepang, mendarat di Osaka bareng teman yg bernama sangat Islam demikian juga dengan penampilannya (rambut kriting dan berjenggot). Saya cuma diperiksa secara formalitas nggak ada 5 menit, teman saya tadi saya tunggu 45 menit kemudian baru keluar …
Menghadapi media negara kita memang agak susah ya, berita model begini di tangan mereka bisa ke mana-mana tuh …
bowo // 16 Februari 2009 pada 08:25 |
Tak ada asap kalau tak ada api, itu adalah Hak setiap negara….
solah // 16 Februari 2009 pada 10:03 |
bener dan bukan hanya mahasiswa loh hampir semua pendatang yang memakai nama islam di tolak walaupun gak semua…. kemarin ridho slank juga ditolak untuk konser bareng 4temannya yang sdah boleh konser,juga pemboikotan yusuf islam si “C stevens”.untuk masalah sekolah masih banyak yang kualitasnya gak kalah dari harvard&oxsford masih sorrbonne(prancis),cammbridge(inggris),kanada,jepang dll…atau juga ke negri cina…he..he
riqriq // 16 Februari 2009 pada 12:11 |
wahh..jangankan mahasiswa, Muhammad Ridho ( gitaris SLANK ) aja ditolak pas sampe di airport LA. padahal slank mau go internasional.
amat // 16 Februari 2009 pada 17:26 |
Inilah Amerika. Perubahan di tingkat elite, tidak serta merta turut merubah UU dan peraturan di AS. Kalau di Indonesia lain kan. Inilah yang namanya negara yang berlandaskan hukum, senantiasa berpedoman pada aturan dan bukan pada figur penguasa. Jadi jangan salah artikan, bukan berarti islam phobia, tapi lebih pada sifat kehati-hatian.
keeola // 16 Februari 2009 pada 22:37 |
mestinya kita koreksi diri juga. dulu banyak orang amerika yang tinggal di indo di sweepingkn? sama ajalah, sama anehnya…
Abu Shidqie // 22 Februari 2009 pada 09:46 |
Nama islami yang kita sandang itu adalah bagian dari keteguhan aqidah. jadi kalau sampai ada yang rela berganti nama islami menjadi nama seperti nama orang non-muslim hanya karena untuk mendapatkan Visa, pasti nggak lama lagi dia juga akan rela mengganti aqidah nya dengan selain islam…. demi ….. kemudahan dunia.
Muslim Baby Names
————————–
http://www.namaislami.com
anugrahkusuma // 24 Februari 2009 pada 14:13 |
Gak usah protes…… negara2 mereka kok. Suka2 merekalah mau nerima atau menolak. Image kita buruk ? Ya jangan salahkan mereka. Siapa yang ngebom Bali ? Orang kita juga.
Cuman masalahnya : BERANI GAK kita punya sikap kayak mereka : Ini negara2 gw. Boleh dong gw nolak siapa yang masuk negara gw. Hehehe…
kuliinternet » botd 14 feb // 24 Februari 2009 pada 21:50 |
[...] Hanya Karena Nama Berbau Islam, Visa Ditolak Meskipun Presiden AS sudah berganti dengan Obama, namun kebijakan negara itu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan […] [...]
hambaAllah // 3 Maret 2009 pada 07:23 |
http://jihadbukankenistaan.com/
TinTin // 23 Juli 2009 pada 08:51 |
Senang melihat masih ada idealisme di anak-anak ITB sekarang. Apalagi Ayub, yang sepertinya “shock-culture” ya berada di sana? langsung men-judge bahwa di sana lebih baik dari di sini
Welcome to US, and dont forget your beloved country
Nanda Firdausi // 23 Juli 2009 pada 19:57 |
Bukan terserah mereka… tapi terserah yang wawancara. Justru itu yang bikin bingung, kekuasaan pewawancara ini besar sekali. Kalo mereka bilang ditolak yah ditolak, kalo mereka bilang masuk yah masuk. Ada juga yang dibilang ditunda, berarti harus nunggu lagi yang ga jelas waktunya. Bisa sebulan… bisa 6 bulan, bisa bertahun2.
Payahnya, untuk mendapatkan visa kita harus bayar biaya administrasi di muka, yang kalau gagal hilang. Ini yang bodoh menurut saya.
catur // 21 November 2009 pada 11:23 |
makanya pak, ketika suatu golongan kecil atau kelompok yg mengatas namakan suatu agama berbuat suatu kekejian dan justru sebagian umat agama itu menilai bahwa “Perbuatan” tsb adalah suatu kepahlawanan, secara nalar, pastilah pemangku disuatu wilayah yg banyak korbannya akan memblacklist justru pada umat agama tsb, bukan kepada suatu kelompok, krn akan sulit membedakan anggota kelompok dng umat.
jd musti pendidikan agama diseluruh golongan musti dibina pak,
ya wajar lah pak jika sebuah entitas agak phobhia terhadap Terrorisme namun dianggap kepahlawanan oleh suatu golongan kecil. yg dilihat adalah dampak korbannya. jd stigma yg berkembang adalah ” ohhhh ternyata ajaran ini menyebarkan suatu terror”
contoh nyata spt ini :
kasus Trio Bom Bali , yg setelah dieksekusi justru menjadi pahlawan bagi segelintir kelompok, http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/2955/minat-terhadap-trio-syuhada-masih-tinggi
org yg melakukan teror aj disebut syuhada/Martir ,bagaimana tidak para pemangku kepentingan di negara korban terror semakin protektif
nah stereotip inilah yg mustinya diubah dng mengendalikan golongan yg miring tsb, spt kata org mas, setitik cuka di olahan susu……maka rusaklah susu itu.
namun mungkin perlu dikaji lagi untk tidak selamanya stereotip tsb terus menerus melekat di suatu ajaran oleh para pemangku entitas yg menjadi korban Terror
salam sejuxxxxxx
catur