Catatanku

Fenomena Ponari dan Bagaimana Sikap Kita Seharusnya

14 Februari 2009 · & Komentar

Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bocah cilik asal Jombang Jawa Timur, bernama Ponari yang tiba-tiba mendapat kemampuan untuk mengobati berbagai penyakit dengan sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air minum. Akibat ekspos media massa yang luar biasa, dengan cepat puluhan ribu orang dari seluruh Indonesia memadati dusun tempat tinggal Ponari di Jombang. Sudah empat orang yang tewas terinjak-injak karena berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah Ponari.

ponari (Keterangan foto: Ponari yang digendong keluarganya sedang mencelupkan batu ditangannya ke dalam air minum yang dibawa pasien. Sumber foto: www.kompas.com)

Bagi yang belum tahu, begini kisahnya. Ponari mendapat kemampuan supranatural itu setelah terkena petir. Seperti dikutip dari sini, Ponari saat itu bermain di bawah guyuran hujan deras yang ditingkahi sambaran petir. Tiba-tiba, tubuh bocah itu kemasukan hawa panas, seperti baru terkena sambaran petir. Saat itulah, di bawahnya muncul batu sebesar kepalan tangan, berwarna kehitaman. Batu ini, oleh Ponari, dibawa pulang. Oleh neneknya, batu itu sempat dibuang. Namun, menurut cerita, batu tersebut muncul kembali di rumahnya.

Ihwal berita bahwa Ponari bisa mengobati penyakit, terjadi setelah salah seorang tetangganya menderita sakit. Tanpa sadar, Ponari memberi minuman air putih, yang dicelupi batu itu. Menurut pengakuan warga di dusun itu, orang yang diberi minuman Ponari itu bisa sembuh. Peristiwa ini menjadi bahan pembicaraan warga dusun.

Selanjutnya, lewat ‘radio dengkul’ alias dari mulut ke mulut, cerita itu pun menyebar ke berbagai tempat: bahwa di Dusun Kedungsari, muncul dukun tiban yang bisa mengobati segala macam penyakit. Puluhan ribu orang pun kemudian berbondong-bondong ke sana. Calon pasien yang datang bukan hanya orang miskin, tapi juga orang-orang kaya–terutama yang frustrasi karena penyakitnya tak kunjung sembuh meski sudah berobat ke dokter.

Begitulah berita yang kita baca dari media.

Apa yang dilakukan oleh Ponari sebenarnya tidak beda dengan praktek pengobatan alternatif lain. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Ustad Haryono di Bekasi melalui air minum dan minyak kelapa yang sudah diberi doa atau transfer penyakit ke tubuh hewan. Kunci penyembuhan dari pengobatan alternatif adalah karena faktor sugesti. Pasien percaya atau tidak dengan teknik penyembuhan seperti itu. Kalau yakin dan percaya, maka pada beberapa kasus penyakit memang berhasil disembuhkan, tapi kalau ragu-ragu atau kurang yakin biasanya memang sulit sembuh.

Tapi, Ponari memang fenomenal. Mengapa bisa sampai puluhan ribu orang datang menyemut mengharapkan pengobatan dari Ponari? Biasanya pasien pengobatan alternatif tidak sebanyak itu. Penyebabnya mungkin karena Ponari masih anak-anak, biasanya masyarakat lebih percaya kepada ‘dukun’ anak-anak karena anak-anak biasanya lebih tulus dalam memberi pertolongan, tidak seperti ‘dukun’ dewasa yang cenderung lebih pragmatis. Apalagi Ponari tidak membuka praktek, tetapi orang-orang saja yang ramai mendatanginya mengharapkan celupan tangannya. Ponari sendiri tidak menerapkan tarif pengobatan, pasien hanya dikenakan infaq Rp 2000.

Beberapa kalangan menilai fenomena Ponari menunjukkan matinya logika. Cibiran dan cemoohan ditujukan kepada orang-orang yang datang ke Ponari. Masyarakat dinilai sudah tidak percaya kepada pengobatan modern yang lebih rasional. Bahkan, beberapa ulama dengan cepat menyatakan bahwa pengobatan ala Ponari itu tergolong perbuatan syirik, sebab orang lebih percaya kepada batu, bukan kepada Allah.

Menurut Prof Haryadi seperti dikutip dari sini, fenomena pengobatan yang dilakukan Ponari tidak bisa hanya dianalisis dari sisi ilmiah. Semua orang seharusnya lebih bijaksana menghadapi fenomena Ponari ini, termasuk di dalamnya kemungkinan adanya kekuatan gaib pada diri Ponari yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.

“Ini bukan sekadar ilmu logika. Harus diakui bahwa masyarakat yang berduyun-duyun ke praktik Ponari melihat hal ini dari sisi kegunaan, dari sisi aksiologinya saja. Mereka tak butuh penjelasan ilmiah, mereka hanya ingin sembuh,” ujar Hariyadi.

Menurut saya, kita memang harus hati-hati memberikan penilaian (syirik atau bukan) dan tidak cepat berburuk sangka. Ada dua kemungkinan skenario Tuhan tentang ini.

Skenario pertama, mungkin saja Ponari diberi anugerah kekuatan penyembuhan penyakit oleh Allah SWT. Hal seperti ini sudah sering kita dengar dibeberapa tempat bahwa ada orang yang tiba-tiba mendapat kekuatan atau ‘ilmu’ dari Tuhan sehingga dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi Allah SWT, apapun yang tidak mungkin dalam pandangan manusia, bagi Dia mudah saja. Kun faya kun, jadilah maka terjadilah ia.

Skenario kedua, melalui Ponari dan batunya itu, Allah SWT ingin menguji iman ummat-Nya, sejauh mana akidah manusia berubah melalui pengobatan Ponari itu. Apakah manusia lebih percaya bahwa batu itu yang menyembuhkan penyakit atau tetap percaya bahwa Allah yang menyembuhkan sedangkan Ponari hanyalah perantara kesembuhan belaka. Jika meyakini batu atau Ponari itu yang menyembuhkan, jatuhlah ia keperbuatan syirik yaitu sikap mempersekutukan Tuhan, yang mana dosanya tidak bisa diampuni.

Saya lebih percaya Tuhan sedang menjalankan skenario kedua. Kita, manusia, sedang diuji keimanannya melalui fenomena Ponari dan batu ajaibnya.

Menurut saya, sikap yang paling bijaksana adalah kehati-hatian. Kesembuhan sumbernya tetap dari Allah SWT. Allah yang menciptakan penyakit, Allah juga yang menyediakan obatnya. Kedokteran atau pengobatan alternatif hanyalah perantara kesembuhan saja. Mungkin melalui tangan dokter, tabib, shinse, paranormal, atau Ponari obat itu diberikan Tuhan kepada si sakit.

Khusus mengenai pengobatan Ponari, ulama wanti-wanti mengingatkan untuk tidak meyakini batu milik Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit, juga tidak meyakini bahwa Ponari bisa menyembuhkan penyakit. Keyakinan seperti itu bisa merusak akidah. Mengikuti pengobatan seperti yang dilakukan Ponari, akidah harus kuat. Kalau akidah tidak kuat, bisa berubah menjadi syirik. Menurut ketua MUI Jombang, seperti dikutip dari sini, berobat ke Ponari boleh-boleh saja, tapi harus meyakini bahwa yang bisa menyembuhkan penyakit hanya Allah SWT. Untuk menyembuhkan penyakit, kata dia, Allah memberikan berbagai macam cara, diantaranya melalui ilmu kedokteran.

Manusia hanya berikhtiar mencari jalan kesembuhan, tetapi kesembuhan tetap milik Allah SWT. Ponari hanyalah perantara saja.

Kategori: Agama · Indonesiaku

52 tanggapan so far ↓

  • Catra? // 14 Februari 2009 pada 21:09 | Balas

    Hebat ya pak, seorang anak kecil mempunyai mukjizat seperti nabi Isa AS, bisa menyembuhkan orang sakit. nah, seperti ini lah gambaran masyarakat Indonesia sekarang, yang masih percaya dengan mistis atau bentuk pelarian dari dunia medik yang belum bisa menyembuhkan penyakit mereka

  • amir // 14 Februari 2009 pada 22:54 | Balas

    Ujian sedang di berikan umat manusia…akidah dan keimanan sedang di uji…benar mas kita harus yakin bahwa Alloh SWT yang membuat segala sesuatunya…manusia wajib berikhtiar tetap berpegang teguh pada iman dan akidah..

  • Ponari & the Sorcerer's Stone // 14 Februari 2009 pada 23:15 | Balas

    Petir, kepala pusing, batu ajaib, mengingatkan pada psychic ability-nya George Malley (John Travolta) si petani dusun di “Phenomenon”

    *hobi nonton film

  • aang // 14 Februari 2009 pada 23:38 | Balas

    ya menurut saya syirik itu tergantung pada orang yang menilainya……..

    menurut aq siiiih sembuh itu datangnya dari tuhan….batu atau ponari memang sebagai perantara….

    kalau ponari sirik berarti dokter juga sirik dong….

    kan percaya sama jarum suntik……….

  • GB. Giyarso // 15 Februari 2009 pada 07:13 | Balas

    Itulah keadilan Tuhan, DIA bisa mengubah nasib manusia dalam sekejap mata tidak perlu pakai audisi karena TUHAN MAHA KUASA, yang bilang syirik pasti karena iri pada Ponari … heee…hee. Ingat IRI itu adalah sumber MALAPETAKA maka mari berpikir yang positif sajalah.

  • Nadiaztonama // 15 Februari 2009 pada 09:25 | Balas

    Sirik atau tidak, memang tergantung yg menilai, begitulah caranya orang mau sembuh.
    Ada dua alasan berobat kepada ponari: pertama sudah berobat secara medis tetapi belum sembuh juga.
    Kedua tidak cukup biaya berobat secara medis yg ujung ujungnya ke pengobatan tradisional juga, kalau banyak uang masih bisa ke Singapore yg kalau Tuhan tidak mengizinkan, belum sembuh juga.
    Lam kenal bro! Trims

  • unduk // 15 Februari 2009 pada 11:39 | Balas

    Semestinya ada campur tangan langsung aparat terkait, supaya hal-hal yang (setidak-tidaknya mengarah kepada) syirik tidak terjadi seperti pada fenomena ponari.

  • Checa // 15 Februari 2009 pada 13:33 | Balas

    percaya sama batu?
    namanya apa tuh om…(mungkin yg ada a…isme)
    belum nemu ajaran agama Islam yang mengajarkan percaya dengan benda mati
    manusia dikasih akal buat mikir kali ya
    lha kalo yang mati terjepit sebelum berobat aja udah banyak
    yang udah benar-benar sembuh secara medis?
    kasihan bangsa ku……….

  • mudha // 15 Februari 2009 pada 16:03 | Balas

    fenomena ini timbul karena kurangnya ilmu agama dan moral bangsa ini yang sedang krisis.

  • roberthendrik // 15 Februari 2009 pada 17:12 | Balas

    soale biaya ke dokter terlalu mahal…btw, ponari bayar pajak ga ya???

  • mdnugroho // 15 Februari 2009 pada 17:38 | Balas

    SALUT DEH..

  • Admin // 15 Februari 2009 pada 18:07 | Balas

    Ponari….ponari….ponari lagi trend….

    salam,
    http://bursasepatu.wordpress.com
    http://planetshoes.wordpress.com

  • ayadila // 15 Februari 2009 pada 19:52 | Balas

    ponari for presiden , ok guys

  • roberthendrik // 15 Februari 2009 pada 19:56 | Balas

    hehehe, kalau dengan janji “SAYA AKAN MENGNENTIKAN LUMPUR LAPINDO”, 26 juta warga JATIM sangat berpotensi pilih PONARI,hehehe

  • maskaryo // 15 Februari 2009 pada 20:17 | Balas

    Bisa saja skenarionya seperti ini.
    Syetan menyaru nyaru jadi manusia, sakit dan minta sembuh dengan batu itu, nah karena batu itu gak bisa napa napa, ya syetan juga yag masuk ke batu itu, walau sekali dua kali, dan bisa menyembuhkan…
    seteah itu tersiarlah kabar bahwa batu itu bisa menyembuhkan, walau sampai sekarang gak ada adta yang pasti, berapa umlah pasien yang berhasil sembuh denagn batu itu…
    yang penting syetan sudah bisa membuat keruskan dengan mendekatkan orang agar percaya pada batu, dan bukan pada Tuhan, pembuat batu….

    kasian banget ponari…,
    jadi peantara ..

  • joeismail // 15 Februari 2009 pada 21:34 | Balas

    Karena rata-rata pendidikan rendah maka masyarakat kita memang masih suka percaya pada hal-hal yang irrasional. Dalam hal ini peran pemerintah dan tokoh agama sangat diperlukan

  • edwar // 15 Februari 2009 pada 21:40 | Balas

    @joeismail
    setuju, yg harus dipercaya itu rahmat allah, bukan batunya, pandangan yg sering salah, menyesatkan dan ujungnya syirik.. mudah2an deh orang indonesia tambah pinter :)

  • tribanaty // 15 Februari 2009 pada 21:45 | Balas

    Menurut saya tidaklah terlalu penting, apakah pasien yang datang kepada Ponari sembuh atau tidak. Yang terpenting adalah sejauh manakah keyakinan masyarakat terhadap “kehebatan” Ponari dan batunya itu. Tidak hanya Ponari, siapapun orangnya yang mengaku atau diakui oleh masyarakat memiliki “kekuatan” di luar kebiasaan haruslah selalu di lihat dengan tinjauan yang kritis. Terlebih bagi seorang muslim, yang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena adanya “ijin” dari Allah SWT. Semuanya telah jelas, sejarah mencatat : Mahluk yang paling mulia di sisi Allah , yang maksum, yang telah dijamin sebagai penghuni syurga tampil dengan sangat bersahaja dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh kecuali mukjizat yang diberikan Allah SWT kepadanya (itupun kalau mau dianggap aneh), …. Wallahu a’lam.

  • inyang // 15 Februari 2009 pada 23:02 | Balas

    gawat, pasti kejaan jin nih. parah..

  • inyang // 15 Februari 2009 pada 23:06 | Balas

    ah, mungkin syetan.
    tapikan setan kan juga jin, bingung gue..

  • dwinanto // 16 Februari 2009 pada 02:00 | Balas

    tampaknya hal semacam ini memerlukan suatu bentuk pencerdasan tersendiri bagi masyarakat agar tidak tergesa-gesa dalam bersikap,.

  • denz // 16 Februari 2009 pada 10:39 | Balas

    fenomena ini tidak mungkin mu’jizat(untuk org soleh namanya ma’unah) karena yg namanya mu’jizat/ma’unah tidak diberikan kecuali kepada para wali Allah, dan berlakunya hanya pada saat itu (tidak berulang). saya rasa ini perbuatan syetan/jin fasik yang ingin mengikis akidah umat. Yg ada pengobatan ‘ajaib’ yang diajarkan oleh rasul/orang orang saleh itu dengan bacaan al-quran bukan dengan BATU.

    wallahualam

  • Checa // 16 Februari 2009 pada 13:46 | Balas

    @ Denz
    saya sebagai seorang anak bangsa ikut bangga dengan bro Denz
    mencerminkan pemikiran Islami yang sesungguhnya. Dapat diterima oleh siapapun secara wajar dan rasional.
    Itulah Islam sesungguhnya.
    (just my opinion….)

  • uwinarno // 16 Februari 2009 pada 22:41 | Balas

    Hati-hati jadi syirik lo ya.. kalau percaya Batu Ponari

  • Billy Koesoemadinata // 17 Februari 2009 pada 08:58 | Balas

    yang pasti sih, saya kasian sama ponari. dia kan harusnya cuman menjadi anak2 yang bermain dan riang karena menikmati masa kecilnya…

    bentuk eksploitasi nih

  • roberthendrik // 17 Februari 2009 pada 09:13 | Balas

    iya, harusnya ponari bermain selayaknya anak2 lain…stuju kalau ini dikatakan exploitasi…

  • frezzworld // 17 Februari 2009 pada 14:27 | Balas

    sebenarnya yg tdk saya sukai dr fenomena ini knp org2 pada nekat ambil air selokan dan tanah di sekitar rumah ponari..

    kasian ya masyarakat kita krn himpitan ekonomi jd terpaksa berbuat yg menjurus syirik

    memang benar kata rasulullah saw bahwa kefakiran itu dekat dg kekafiran…

    ayo bg yg diberi nikmat harta lebih oleh Allah, bantulah saudara kita itu…:)

  • nurrahman18 // 17 Februari 2009 pada 16:45 | Balas

    untuk saat ini, aku cuma bisa berdoa ..:)

  • Jung // 18 Februari 2009 pada 05:12 | Balas

    Itu menunjukkan negara semakin tidak mampu membuat masyarakat kita tambah sehat jasmani maupun rohani.

  • mahro // 19 Februari 2009 pada 10:02 | Balas

    Ponar-Ponari dan Ponari >Alloh akan menguji keimanan Umat dengan berbagai cara, sebab Alloh sendiri telah memberi kebebasan kepada syetan untuk mengerahkan pasukannya menghasut dan memberi janji kebohongan kepada manusia, tinggal umatnya sampai dimana kekuatan akidah dan iman pada dirinya, ini sebagai ukuran iman kita masing-masing, dalam sesuatu hal yang berhubungan semacam yg dilakukan Ponari tidak ada yang instan (perlu dipertanyakan dan hati-hati) simak dalam Alqur’an sbb : hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan kepada Alloh dengan sabar dan tetap tegakkan Sholat sebab orang sabar dikasihi Alloh.
    disini ada kata sabar notabene segala sesuatu tidak jadi begitu saja hingga selalu ada proses.
    demikian juga yang dilakukan Ponari dan Ponari yang lain. Sadarlah wahai saudara muslim ku jauhkan diri kita dari syirik walaupun hanya setetes.Jangan lupa pakai juga secara rasio,ini bukti kelemahan kita semua mungkin saja karna bidang pendidikan yang gagal,dan kesulitan ekonomi hingga mau berobat ke dokter saja bukan main mahalnya.Semoga semua dapat sadar dan membuka mata hati yang sebaik-baiknya ,meny ayangi kaum duafa bukan cuma program, nyatanya masih banyak saudara kita yang memerlukan bantuan.

  • arvianata // 19 Februari 2009 pada 13:53 | Balas

    aq gag komen akh. . .:-(

  • nanay // 21 Februari 2009 pada 09:47 | Balas

    sedih, sakit, meyaksikan fenomena ‘ponari’ ini, melihat ketidakberdayaan materi dan pengetahuan dari begitu banyak masyarakat kita. saya setuju dengan tulisan bapak ini memang harus arif menyikapi fenomena ini. Mungkin saja Allah kasian melihat ketidakberdayaan mereka (sementara pemerintah dan msyrkt yang mampu kurang perhatian); kemudian ‘menurunkan batu’ kepd ponari (anak kecil yg msh bersih dr dosa), kembali kepada niat orang-orang yang mencari kesembuhan itu apakah ia akan menjadi syirik atau yakin kepada Allah yg menyembuhkan dengan perantaraan batu ponari. wallahualam

  • waskita // 22 Februari 2009 pada 09:45 | Balas

    Saya heran, orang berbondong-bondong ke Ponari jadinya heboh. Sementara orang berbondong-bondong ke dokter untuk berobat dengan biaya mahal, malah tidak heboh.

  • roberthendrik // 22 Februari 2009 pada 10:01 | Balas

    barusan kemari ada berita, ada yang meninggal lagi. setlah 4 meninggal gara2 berdesak2akan, seorang anak kecil meninggal gara2 gak sembuh, trus akhirnya dilarikan ke rumah sakit, namun terlambat, dan akhirnya meninggal.

  • ekoph // 22 Februari 2009 pada 14:21 | Balas

    “radio dengkul” hehehe… kosa kata baru nih….
    bener juga, fenomena ponari ini, merupakan matinya logika, ummat ini… kita yang masih berlogika jangan ikut-ikutan

  • Moeda // 22 Februari 2009 pada 20:08 | Balas

    sehat dan sakit itu datangnya dari Allah swt, jadi mari sikapi dengan bijak fenomena ponari ini

  • wp // 23 Februari 2009 pada 06:49 | Balas

    Sekedar ingin tahu.

    Kalau percaya bahwa obat-obatan farmasi, dokter medis,manajemen rumah sakit yang modern dst bisa menyembuhkan penyakit apakah termasuk definisi “syirik”? Begitu juga kalau percaya science, ilmu kedokteran bisa menyembuhkan penyakit apakah termasuk definisi “syirik”?

  • roberthendrik // 23 Februari 2009 pada 09:10 | Balas

    Hahaha.. itu kan barang2 kedokteran moderen kan buatan BARAT, waktu itu katanya koar2 mau diboikot, gimana sih, aneh2 aja indonesia ini…

    Di Ponari, katanya SYIRIK..
    Kalau produk “barat” katanya harus diboikot..(pas lagi marak palestina)
    lha harus berobat dimana donk.. serba salah…

  • Bocah Edan // 25 Februari 2009 pada 09:22 | Balas

    @ Denz @ Checa
    apa batu itu ciptaan selain Allah ? apa ciptaan syetan.
    yang memberikan kelebihan terhadap batu itu juga Allah. itu tanda tanda kebesaran Allah. jangan mempunyai sudut pandang Islam yang picik.

  • galuh // 1 Maret 2009 pada 15:22 | Balas

    inilah orang indonesia,,yang penting semua murah dan cepat.
    Saya prihatin sebetulnya melihat fenomena dukun cilik ini, prihatin karena ternyata orang Indonesia masih dibawah garis kebodohan. Saya tidak begitu mempermasalahkan masalah syirik-nya,tetapi coba lihat logika nya, mungkin itu adalah suatu kebetulan kalau ada pasiennya yg sembuh, tp kenyataannya masih ada juga yg tidak sembuh.
    yah,Wallahualam sebetulnya, hanya Allah yg menyembuhkan, dengan cara apa pun. Tetapi saya yakin, hanya sedikit dari pasien Ponari yg beranggapan demikian. Mereka hanya mencari jalan cepat dan murah saja, apalagi berita dari mulut-ke-mulut ini begitu hebatnya.

  • hambaAllah // 3 Maret 2009 pada 04:43 | Balas

    Assalamu ‘alaykum

    Pak dosen. tanpa mengurangi rasa hormat saya,
    hal ini jelas syirik. Bila batu petir tersebut memang mengandung bahan kimia khusus yang menyembuhkan maka hal ini sama dengan obat. Namun tidak demikian kenyataannnya. uji coba lab membuktikan bahwa batu ini tidak berpengaruh terhadap air yang telah dicelupkan kedalamnya.

    Maka masalahnya terletak pada keyakinan orang-orang yang datang kesana dan inilah yang menyebabkan syirik. untuk lengkapnya mengenai sebab-sebab itu (sesuai Qur’an dan sunnah) dapat dibaca :
    http://www.mimbarislami.or.id/?module=artikel&opt=default&action=detail&arid=159

    Maka sudah seharusnya para ulama negeri ini memberitahukan kepada masyarakat akan hal ini dan memberitahukan bahaya syirik karena dosa bagi mereka2 yang bertanggung jawab untuk memberi tahu namun mereka diam. Syirik adalah satu-satunya dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah subahanahu wata’ala. Hingga saat ini Alhamdulillah langkah yang diambil sudah tepat. Dan pemerintah sudah seharusnya memberikan solusi bagi masyarakat untuk pengobatan murah.

    Satu yang dapat dijadikan alternatif solusi adalah pengobatan murah dengan bahan alami yang diajarkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Pengobatan ini dirangkum oleh Imam Ibnul Qayim Al Jauziyah dalam buku beliau ” Healing with the Medicine of the Prophet ” (versi bahasa inggris). Buku ini dapat dicari ( salah satu cara :diunduh), dipelajari dan diterapkan.

    Dan masih banyak pengobatan murah lainnya termasuk obat2 an tiongkok (tentunya yang tidak mengandung syirik)

    Jazakallahu khairan

  • hambaAllah // 3 Maret 2009 pada 05:13 | Balas

    Maaf tertinggal,

    Mengenai karamah (bukan mukjizat, karena mukjizat hanya ada pada para Nabi dan Rasul) menyembuhkan itu hanya dimiliki oleh wali Allah yang benar2 taat, tidak sembarangan orang dapat memiliki ini. Sehingga, sifat menyembuhkan itu datangnya dari batu tersebut. Dan bukan hal mustahil bahwa batu tersebut memang dapat menyembuhkan karena sangat mungkin bahwa jinn ingin merusak akidah ummat Islam. Syaithan- termasuk golongan jinn yang kafir- adalah musuh yang nyata.

    Untuk penjelasan dasar mengenai realita sihir/magic (bukan sulap tentunya yang dimaksud di sini) dapat dibaca buku ” Fundamentals of Tawheed (Islamic Monotheism)” karya Dr. Abu Ameenah Bilal Philips.
    Dapat diunduh di sini :
    http://www.kalamullah.com/aqeedah.html
    scroll saja kebawah hinggga menemukan buku yang dicari ini

    Jazakallahu khairan

  • hambaAllah // 3 Maret 2009 pada 06:56 | Balas

    Rahasia di Balik Sakit
    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-sakit.html

    Semoga kita selalu bersabar.. Ameen

  • hambaAllah // 3 Maret 2009 pada 07:02 | Balas

    Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis
    http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=349

    Jazakallahu khairan

  • Asop // 7 Maret 2009 pada 11:42 | Balas

    Ini kan syirik… jelas sekali ini perbuatan syirik…. Kasihan warga kita…

  • Affan // 14 Maret 2009 pada 19:18 | Balas

    Kalau pendapat pribadi saya sih ada dua hal :

    1. Nggak usah yakin dengan Ponari pak, kalau kita yakin yang menyembuhkan kita itu Dokter, atau obat yang diberikan oleh dokter, bukan Allah SWT yang Maha Menyembuhkan, itupun sebenarnya orang sudah jatuh syirik tanpa sadar. Yang benar adalah semuanya Allah SWT yang memberi kesembuhan melalui perantaraan dokter dan obat yang diberikan kepada kita.
    Mari sama2 kita cek keimanan kita, mudah2an nggak sampai jatuh ke syirik seperti ini.

    2. Jika kita merasa kasihan melihat banyak masyarakat yang katanya syirik dsb, saya mau tanya, ada nggak alternatif pengobatan gratis/bayar seikhlasnya untuk menyelamatkan akidah umat ini ? Gimana mau ke dokter, biayanya mahal, sementara yang sakit orang miskin. Kalaupun ada yang murah, ngurusnya repot, harus ada surat keterangan miskin dsb. Menurut saya, daripada kita mencibir Ponari dan masyarakat yang datang kesitu, ya mestinya dibuatkan alternatif pengobatan yang bertujuan melayani orang2 tadi sehingga nggak perlu pergi ke Ponari atau dukun2.

    Kalau yang dibuat pemerintah saat ini dengan pengobatan gratis, obat dengan harga murah, tapi masih belum mencukupi juga, ya sudahlah, mudah2an di atas usaha2 kita yang belum sempurna ini ada rahmat dari Tuhan, kalau kita semua ikhlas.

    Mohon maaf atas segala kekurangan,

  • logic // 15 Maret 2009 pada 17:07 | Balas

    contoh salah mengerti tentang ISLAM….jadilah PONARI menjadi pengharapan….

  • Kamaluddin Fikri // 17 Maret 2009 pada 12:00 | Balas

    jadi inget yang namanya Philosopher’s Stone

    Jaman dulu, di eropa ada suatu kajian keilmuan, namanya alchemy. Keilmuan ini mengkaji soal perubahan zat. Dari kajian-kajian keilmuan pada saat itu, orang-orang tertarik untuk mengubah batu jadi emas dan menghasilkan elixir kehidupan yang menjamin hidup abadi. Tersimpulkan bahwa dua hal tersebut akan dapat ditemukan bila orang-orang dapat membuat yang namanya Philosopher’s Stone.

    Kajian mistik alchemy terbantahkan dengan dirancangnya periodic table. Paradigma keilmuan mengenai perubahan zat berubah. Nama keilmuannya pun berubah menjadi chemistry. Dari paradigma dan pemahaman baru inilah orang-orang berhenti mencari yang namanya Philosopher’s Stone.

    Tampaknya secara tak terduga “Philosopher’s Stone” itu yang menemukan justru orang Indonesia. Hehehe…

    punten pisan kalau kepanjangan

  • hambaAllah // 20 Maret 2009 pada 18:33 | Balas

    Assalamu ‘alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

    Apakah meyakini bahwa obat itu menyembuhkan adalah suatu kesyirikan ?
    tentu tidak, karena meyakini bahwa obat itu menyembuhkan adalah sesuai dengan takdir Allah menciptakan obat sebagai penyembuh. Namun berobat tanpa meminta kesembuhan kepada Allah, inilah yang salah.
    Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca link berikut :
    http://buletin.muslim.or.id/aqidah/ponari-sweat

    Apakah yang disebut-sebut sebagai ‘philosopher stone’ ini sesuai dengan syari’at ?
    Apakah batu tersebut telah terbukti melakukan prubahan secara kimia dalam air sesuai dengan kaidah disiplin ilmu chemistry (kimia) ?
    dapat dibaca link yang sama :
    http://buletin.muslim.or.id/aqidah/ponari-sweat

    Semoga jelas bagaimana kedudukan kasus ponari dan batunya ini serta dampaknya kepada kesyirikan sesuai dengan hukum sebab.
    Berobat kepada ponari dan batunya, tanpa diragukan adalah bentuk kesyirikan

    Dan harus diingat, jangan berputus asa dalam hal ekonomi … Allah Subhanahu Wata’ala selalu memperhatikan hamba-Nya. Jika ada usaha insha Allah ada jalan. Manusia hanya berusaha dan Allah Subhanahu Wata’ala yang menentukan akhirnya. Selalu berdo’a kepada Allah Subhanahu Wata’ala untuk kesembuhan.
    Dan kita semua sudah seharusnya membantu saudara-saudara kita yang kesusahan sesuai dengan segala kemampuan yang kita sanggupi saat ini. Mungkin dapat dimulai dengan mengingatkan bahayanya berobat kepada ponari dan batunya.

    Jazakallau khairon

  • andi // 2 April 2009 pada 18:41 | Balas

    Lanjutkan terus wahai bocah cilik, biar melek pemimpin bangsa ini, bahwa biaya kesehatan masih selangit mahalnya,,kalau ada pimpinan negeri ini nanti yang berani membuat kebijakan untuk biaya kesehatan gratiz tuk wong2 cilik baru dech,tinggal kita yang milih.yang penting agama mengajarkan carilah obat kemanapun,jagn pernah berhenti berusaha tuk menyembuhkan penyakit,tapi janganlah Ponari dianggap dewa yang hadir ditengah2 krisis globalini,itu namanya NgawuuuuuuuuR…..

  • adefadlee // 15 April 2009 pada 23:02 | Balas

    hati2 yang nuduh orang syirik, kalau orang yang dituduh itu ternyata tidak syirik, tuduhan itu bisa berbalik ke kita lho.
    Selain itu, yang mendewakan pengobatan ‘rasional’/medis, jika kita meyakini bahwa dokter/medis itulah yang menyembuhkan, bukan Allah yang menyembuhkan, itupun artinya sudah syirik, karena yakin bahwa dokter lah “yang berkuasa” menyembuhkan…
    Selain itu bagi orang-orang akal ini, sepertinya saudara-saudara tidak percaya bahwa Allah bisa saja menetapkan sesuatu di luar kebiasaan/adat. Itulah efek dari belajar hukum Sebab-Akibat

  • arifuddin bahar // 27 April 2009 pada 12:03 | Balas

    ada gambar ponari swet di sini

Tinggalkan sebuah Komentar