Gedung Benny Subianto Dimana Ya?

Kalau anda datang ke kampus ITB nanti, jangan kaget kalau beberapa gedung di kampus Ganesha diberi nama dengan nama-nama orang. Ada nama yang mungkin terasa asing, ada pula nama yang beken. Atau, jangan kaget kalau ada orang luar datang ke kampus bertanya begini, “Mas, mas, Gedung Benny Subianto di sebelah mana ya?”

labtek5 (Keterangan foto: LabTek V)
Gedung Benny Subianto? Ya, itulah nama Gedung LabTek V tempat Prodi Informatika dan Fakultas FTI berada. Melalu SK Rektor terbaru, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama alumni. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.

Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek” (Laboratorium Teknologi). Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII. Kadang-kadang nama gedung itu susah diingat dimana lokasi fisiknya. Coba jawab, dimana gedung LabTek I, II, atau III? Saya sendiri tidak tahu yang mana gedung-gedung itu, apalagi orang luar (pendatang) ya. Tapi, kalau disebutkan Prodi apa di gedung itu, saya rasa banyak orang di kampus ini bisa menunjukkannya.

Sekarang nama-nama gedung itu akan diganti dengan nama-nama alumni ITB supaya mudah diingat. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp 25 milyar (Haaa! 25 milyar?) yang bisa diabadikan namanya. Ceritanya begini, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 milyar. Fantastis!

Dua nama tersebut sudah dikenal luas, yaitu Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro. Kalau dua orang yang lainnya, yaitu Benny Subianto dan Teddy P. Rachmad, saya sama sekali tidak kenal dan tidak pernah mendengar sepak terjangnya. Kuper sekali saya ini. Siapa dua orang itu ya? Apa nama perusahaan milik mereka? Halo..halo, adakah yang bisa memberitahu? Yang jelas Benny Subianto bukan alumni IF (belum ada alumni IF yang menjadi pengusaha kakap), tahu-tahu namanya sudah dilekatkan ke gedung tempat Prodi IF berada.

Memberi nama gedung dengan nama alumni sudah biasa dilakukan di perguruan tinggi lain. Nama alumni yang dipilih memang yang sangat berjasa bagi perguruan tinggi itu, dan biasanya nama mereka diabadikan sesudah alumni tersebut meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya, maka diabadikanlah namanya sebagai nama gedung, nama lab, atau nama lainnya di lingkungan kampus. Tapi, di ITB lain sendiri, nama alumni diabadikan sebagai nama gedung karena faktor uang dan alumni tersebut masih hidup. Satu-satunya nama alumni yang sudah meninggal dan diabadikan di dalam kampus adalah Galeri Soemardja di Fakultas Senirupa dan Desain (FSRD). Oh iya, ada satu lagi sih tapi ruang kuliah yang bernama Ruang Boscha di jurusan Fisika.

Memang sah-sah saja sih saya kira cara begitu, sekarang ini perguruan tinggi yang berlabel BHMN memang harus memeras otak untuk mencari uang buat dana operasional pendidikan yang kian tahun kian melambung. Subsidi Pemerintah tidak bisa diandalkan lagi. SPP atau uang sumbangan dari mahasiswa juga tidak bisa diandalkan karena SPP hanya menyumbang kurang dari 10% dari dana pendidikan tinggi. Karena itu, menghimpun Dana Lestari ini saya kira ide brilian juga. Jika Dana Lestari yang nilainya em-em-an disimpan dalam bentuk deposito, berapa tuh ya labanya per bulan? Yah, anggaplah semacam tabungan bagi ITB, untuk jaga-jaga kebutuhan operasional pendidikannya.

Hanya saja, karena nama gedung di kampus ITB dikomersilkan seperti itu, pasti ada negatifnya. Tidak ada jaminan di kemudian hari orang yang namanya sudah dipatrikan tersebut terlibat masalah hukum, misalnya, maaf, korupsi atau masalah kriminal besar lainnya. Masih banggakah ITB menyandang nama orang tersebut di gedungnya? Ada lagi negatif lainnya. Nama-nama “pahlawan” yang berjasa bagi ITB dan telah mengharumkan nama ITB bakal tersingkir diabadikan di almamaternya. Pahlawan yang dimaksud mungkin Rektor ITB zaman dulu yang dicintai banyak orang, seperti alm Pak Dodi Tisnaamijaya yang legendaris itu (benar gak ya namanya itu), nama dosen yang gugur di medan perang (ada nggak ya?) atau gugur di medan tugas, nama alamamater ITB yang sudah mendunia karena penemuannya tetapi sudah almarhum (ada satu contohnya yaitu mantan presiden B.J Habibie, tetapi B.J Habibie kan masih hidup), dan lain-lain.

Mereka-mereka — “pahlawan” yang saya sebutkan tadi — mungkin tidak meminta namanya diabadikan di dalam kampus (lha, sudah “di alam sana” gimana mau meminta) tidak juga keluarganya yang meminta. Tetapi, kita-kita yang masih hiduplah yang perlu menyatakan terima kasih dengan cara mengabadikan namanya di dalam kampus. Dengan begitu kita yang masih hidup menjadi orang yang tidak melupakan sejarah. Bagaimanapun, sejarah adalah bagian perjalanan sebuah kampus seperti ITB, dan ITB menjadi besar dan terkenal (mode narsis) seperti ini karena mereka-mereka juga.

Masih ada 8 gedung LabTek lagi yang belum diberi nama, dan masih banyak gedung-gedung lain (yang bukan LabTek) yang tidak bernama. Mungkin nanti Gedung TVST, Gedung Oktagon, Gedung GKU Timur dan Barat akan berganti nama dengan nama-nama alumni “kelas kakap”.

Hayo.. hayo para alumni, siapa yang ingin namanya diabadikan di kampus almamater? 25 M, 25 M. He..he

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

55 Balasan ke Gedung Benny Subianto Dimana Ya?

  1. reiSHA berkata:

    Ah, tapi saya tetap cinta nama ‘LabTek V’ Pak…
    Lagian di lagu angkatan IF 2005, ada kata-kata ‘Labtek V’, kalo diganti ga cocok lagi liriknya, hehe…

  2. rinaldimunir berkata:

    @reiSHA: ganti syair lagunya dengan nama “Gedung Benny Subianto”, nama angkatannya “duo ribu limo”. Cocok kan? he..he

  3. wp berkata:

    Theodore Permadi Rachmat, angkatan 1960-an, alumni Mesin, pernah jadi PresDir Astra.

    Benny Subianto, angkatan 1960-an juga, alumni Mesin, pernah jadi pimpinan di Astra International.

  4. Habib berkata:

    Uang saya masih kurang Rp. 24,999 M Pak… ^_^

  5. pebbie berkata:

    hoo… kalau 4 labtek bisa dibilang baru, mungkin seharusnya gedung-gedung yang bernilai historis harganya lebih mahal ya Pak?

    jadi penasaran.. berapa harga ‘ruang legendaris’ di fisika..

    hayo2.. harga pembukaannya 100M saja.. LoL

    btw, mungkin nggak sih.. nama gedung labtek V bisa di reclaim oleh alumni IF.. kalo nggak bisa pake uang, pake award ACM aja deh.. hehehe…

  6. Agust Andy berkata:

    Kalo yang ruangan ada nggak ya (untuk skala yang lebih kecil :p)?
    Misalnya ruang 7606 dikasih alias ruang “Siapa” gtu..
    Hehehe

  7. dziki berkata:

    Memang Pak Rin, biasanya nama gedung memakai nama orang apabila orang tersebut dianggap berkontribusi besar dan sudah meninggal. Terlalu beresiko apabila menggunakan nama orang yang masih hidup apalagi karena pertimbangan materiil meskipun orang tersebut telah berjasa besar sampai saat ini. ‘Sepak terjang’ orang ke depan, siapa yang tahu..

  8. addie baratha berkata:

    @Agust Andy:
    Kalo nyumbang 100 Jt, mungkin bisa nyumbang nama buat ruangan.

    Pak Rin, ada daftar tarifnya nggak?
    Kalo gedung kan 25M, kl ngasi nama ruangan harus nyumbang brp? trus jalan brp ?

  9. rinaldimunir berkata:

    @wp: terima kasih infonya. Oo.. orang Astra tho mas…

    @habib: yang 0,0001 M itu bisa untuk beli buku di Perpus dulu, Bib

    @pebbie: belum ada alumni IF yang ‘kelas kakap’ saya rasa, tidak seperti tetangga sebelah yang sudah mapan alumninya.

    @August Andy: saya kira bisa saja tuh. Di Gedung LabTek VIII, ada ruang rapat STEI yang seluruh furnitur dan desainnya disumbang oleh Yani Panigoro (alumni EL), namanya ditulis di dinding ruangan itu.

    @dziki: setuju, dzik. Btw, sudah sampai surat rekomendasinya? Mudah2an diterima ya. Kapan main-main dari Papua ke sini?

    @addie barata: saya kurang tahu tuh tarifnya, saya kira tidak pakai tarif-tarifan. Matre sekali kedengarannya kalau pakai tarif.

  10. dwinanto berkata:

    Sulit juga jadi menghapalnya, Pak,.
    Butuh waktu penyesuaian dulu agar terbiasa,.
    Khawatirnya nanti malah ketika anak ITB ditanya lokasi gedung bernama baru itu malah belum familiar kan malah memalukan,. :D

  11. didims berkata:

    “… dan biasanya nama mereka diabadikan sesudah alumni tersebut meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya…” mungkin bagi Rektor ITB, mereka memang “tiada” kecuali “uangnya” hehehe… ini fenomena aneh saat APBN pendidikan 20%, sementara byk proyek di diknas yg nilainya diatas 100M yg kebutuhannya terkesan diada-adakan. Sungguh ironi, banyak nama2 pahlawan pendidikan di ITB bahkan dari Labtek V sendiri yg cocok utk diabadikan dan memenuhi syarat “berjasa” dan “almarhum”.

  12. nugie berkata:

    uɐɥɐɹnɯ qʇı

  13. dsawung berkata:

    saya amt sangat tidak sepakat.
    kalau gedung/lab tersebut dibangun oleh alumni ybs okelah tapi ini kan cuma nyumbang uang saja.

  14. khairil berkata:

    Agak OOT Pak Rin, saya makin kagum dengan kisah sukses persahabatan TP Rahmat dan Benny Subianto (juga Pak Palgunadi).. saking soulmate-nya ternyata sekarang pun kompakan sama-sama ‘beli’ gedung di ITB :) (Pak Palgunadi aja nih yang gak ikutan ^-^)

  15. W4hy03 berkata:

    Well…well…well….sy usul kalo nama Prof. Semaun Samadikun hrs diabadikan….hrs itu, aula barat aja yg diganti dgn namanya….

  16. dsawung berkata:

    nambahin.
    Nama ruang bosscha karena bosscha dulu termasuk penyumbang besar untuk pembangunan awal ITB.
    Kalo pak soemardja karena jasanya dalam senirupa modern/itb.
    Saya sepakat nama pak dody tisnaamidjaya dan pak iskandar alisyahbana perlu diabadikan.

  17. nugie berkata:

    Saya membayangkannya, misalnya nama Anda PAIJO, maka :

    1. Anda menyumbang Rp. 10 miliar ke ITB ? Mungkin lapangan sepakbola bisa menjadi Lapangan Bola PAIJO

    2. Anda menyumbang Rp. 1 miliar ke ITB ? Mungkin akan ada Lapangan Tenis PAIJO

    3. Anda menyumbang Rp. 500 juta ke ITB ? Mungkin akan ada Kantin PAIJO

    4. Anda menyumbang Rp. 100 juta ke ITB ? Mungkin akan ada Kolam PAIJO

    5. Anda menyumbang Rp. 50 juta ke ITB ? Mungkin akan ada Laboratorium PAIJO

    6. Anda menyumbang Rp. 10 juta ke ITB ? Mungkin akan ada WC Pria PAIJO

    7. Anda menyumbang Rp. 1 juta ke ITB ? Sumbangan kok Rp. 1 juta….. :P

  18. johaneko berkata:

    klo 25 miliar kecil itu, coba cari tahu deh dana abadi ITB sekarang berapa. akan lebih terperangah lagi… abadi lho yah… abadi ini;-)

  19. Johan Batubara berkata:

    Pak Teddy Rachmat ini mantan Presdir Astra dan keponakan William Suryajaya.. Sekarang beliau aktif di grup bisnis sendiri di Grup Triputra, salah satu perusahaan yang terkenal adalah Adaro Energy. Pak Benny Subianto alumni Mesin, juga mantan direksi Astra satu masa dengan Pak Teddy, dia juga salah satu shareholder Adaro Energy. Pak Benny juga anggota MWA ITB. Bisa di cek di Forbes 2008 mereka berdua masuk Top 40.

    Saya ga terlalu soal dengan ini.. Rasanya sudah lazim dimana mana.. Boleh di cek kok, kalo memang bisa bantu mahasiswa ITB, why not?

  20. wah..
    ntar kalo saya mau kuliah di ITB bisa jadi bingung dong..

  21. leksa berkata:

    Almarhumkan saja dulu,..
    lebih masuk akal kalo begitu,..

  22. dziki berkata:

    Wah, ramai ya Pak, tampaknya topik ini lagi hangat..OOT, suratnya sudah sampai, terima kasih Pak Rin. Insya Allah klo ke bandung saya main-main ke kampus..:)

  23. darmawan berkata:

    Bakrie sumber petaka lapindo bisa dijadikan nama gedung di ITB. Kasihan orang-orang baik yg udah jadi nama gedung harus disejajarkan di dia :(.

    Kalau Soeharto boleh ndak ya?

  24. reiSHA berkata:

    Buat yang bilang AlBar aja yang diganti namanya, saya pernah baca, kenapa 4 Labtek kembar itu yang diganti namanya? karena 4 Labtek kembar itu bisa dibilang iconnya ITB lah, hanya saja nilai sejarahnya kan ga kaya AlBar sama AlTim. 4 Labtek kan baru ada tahun berapa gitu, sementara AlBar n AlTim udah ada dari jaman dahulu kala ITB berdiri. CMIIW… (sepertinya kalimatnya rada membingungkan, hehe…)

  25. bocahbancar berkata:

    Walah apalagi saya pasti malah puyeng kalo ke sana hoihohohoho..

    Salam Bocahbancar…

    http://bocahbancar.wordpress.com/2009/01/19/mahasiswa-untuk-negeriku/

  26. risalahelektro berkata:

    kira-kira sebuah gedung labtek, waktu di bangunnya menelan berapa biaya? apakah lebih dari 25M.

    tapi sepertinya tidak mungkinkan ada gedung bernama “Donna” yang legendaris itu!

  27. ROVI berkata:

    kalo nyumbang ‘patungan’ bersepuluh jadi gimana ya…???…..^_^….Udah gitu tiap nama dari 10 orang itu memiliki minimal 30 karakter…..^_^……

  28. wp berkata:

    Gedung Labtek dibangun dengan dana (pinjaman) dari OECF loan. Kalau sifatnya pinjaman, maka ada pelunasan dahulu. Sekarang mendapat dana dengan kasih nama alumni yang berduit.

    “Teknik ini diterapkan di gedung Labtek VII dan Labtek VIII di Institut Teknologi Bandung yang pembangunannya dibiayai oleh dana pinjaman OECF IP434 pada tahun 1996.”

    http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbsi-gdl-grey-2005-rizalzainu-1527&q=Teknologi

  29. za berkata:

    Saya malah baru tahu, Labtek diberi nama orang. Apakah ada plakat di gedung Labteknya?

  30. fathiiiii berkata:

    Memang lucu ITB sekarang ini. Beberapa tahun terakhir malah banyak dipasang monumen2 baru yang bertuliskan angkatan yang memasangnya. Kemudian water fountain yang tersebar di seluruh kampus (yang sudah tidak berfungsi lagi), semuanya dikasih nama penyumbangnya.

    Mungkin nanti kalau saya udah kaya raya, ikutan juga ah, nyumbang 10 trilyun buat bikin skyscrapper di tengah kampus. Trus dikasih nama gedung Fathi Nashrullah. heuheu…

  31. Arie berkata:

    Hmm, kalau dengan sumbangan Dana Lestari itu, biaya pendidikan di ITB jadi jauh lebih murah, saya sih mendukung…

    Apakah tahun 2009, SPP S1 tiba-tiba drop menjadi 500 ribu per semester?

  32. firdaus berkata:

    Bagaimana nantinya jika ada anak korban lumpur yang menjadi mahasiswa ITB saat mengetahui di kampusnya ada gedung yang bernama Aburizal Bakrie?

  33. Pak ada satu lagi nama prof yang diabadikan sebagai sebuah nama gedung yaitu lab fisika bangunan Fisika Teknik yang bernama Lab. adhiwiyogo. Letaknya di sebelah BSC A pak..

    Kalo labtek biru, semua orang bakalan tau kayaknya pak, soalnya kan satu2nya labtek yang berwarna biru di ITB. hehehehe. Tapi kalo ITB pengen mengganti namanya dengan nama yang nyumbang ya apalah daya pak.. Tapi kayaknya bakalan lebih dari 25 M deh pak, soalnya kan labtek paling modern gitu katanya..

  34. rinaldimunir berkata:

    Ini wartawan Detik.com nggak mau menyebutkan darimana dapat bahan tulisannya: http://bandung.detik.com/read/2009/02/24/104345/1089559/486/nyumbang-dana-ke-itb-mantan-dirut-astra-diberi-satu-gedung

    Kalimat terakhir di berita itu: “Di ITB ada 12 Gedung Labtek. Labtek V tempat Program Studi (Prodi) Informatika dan Fakultas FTI, gedung LabTek VI merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan, gedung Labtek VII, lokasi Prodi Farmasi dan Gedung LabTek VIII tempat Elektro dan Fakultas STEI.”

    diambil dari bagian awal tulisan ini, bukan?

  35. bennythegreat berkata:

    berarti kalo nama “Joko” atau “Ipon” mau dipakai jadi nama WC di kampus ada 2 alternatif yak..
    harus sudah bergelar Alm. atau membayar 25 milyar..

  36. murid berkata:

    Wah – wah wah…sayang saya belum punya uang 25 milyar, saya masih merantau di negeri ‘pembangun ITB’ nyari ilmu dan rezeki. Tapi kalau alumni sekelas Arifin Panigoro dan Aburizal Bakrie harusnya nyumbangnya lebih dari 25 M, 50 Milyarlah perorang. Kalau ada 10 alumni kelas paus biru menyumbang 50 milyar perorang dan 20 alumni sekelas gajah afrika menyumbang 10 milyar peorang, berarti terkumpul dana Rp.700 milyar. Terus dana ini diinvestasikan untuk membangun kebun kelapa sawit 20000 hektar beserta pabrik CPO kapasitas 120 ton TBS/jam (cukup kok investasinya, malah sedikit lebih), kayaknya SPP mahasiswa ITB bisa dikembalikan ke jaman saya angkatan 98 dahulu, yaitu sebesar Rp. 450 ribu rupiah persemester bahkan kurang.
    Semoga.Amiin

    Roby Fauzan TL98 NIM 15398009
    Wageningen-Belanda

  37. murid berkata:

    To:bennythegreat

    kira – kira tuan Ipon Von Tampansteger membacakah :D ?

  38. coretanpinggir berkata:

    Yah, nyumbang uang kok harus dibuatkan prasasti yang sangat “kasar” seperti ini ya? Tapi oklah pertimbangannya uang, ITB butuh uang, terus menjual “space” kampusnya tapi harus ada limit waktu nama tersebut dipajang di sana, misalnya 25 M untuk 3 tahun, kalau mau dipajang lagi si empunya nama harus bayar lagi biaya perpanjangan, persis seperti iklan billboard ataupun iklan di media lainnya (yang ini usul serius Pak, tolong sampaikan ke Pak joko)

    Ah…andai saya punya 1001 Milyar saya akan bayar ITB dan minta ITB untuk melepaskan nama-nama tersebut dan minta 4 orang tersebut membuat Facebook dan blog saja untuk membuat namanya dipajang. Misalnya: http://www.Aburizalbakrie.nor.ak he…he…he…

  39. Ping balik: Nama-nama Mereka Sudah Terpatri « Catatanku

  40. eric berkata:

    “belum ada alumni IF yang menjadi pengusaha kakap” — walau belum sekakap mereka tapi sudah ada lho lulusan IF yg masuk ke 40 besar pengusaha nasional (majalah swa).

  41. wp berkata:

    @coretanpinggir

    kalau dilimit selama tiga tahun, kayaknya kurang lama. Jumlah
    Rp 25 M itu saja dicicil selama 5 tahun

    “Wakil Rektor Senior Bidang Sumberdaya ITB Carmadi Machub, Selasa (24/2), mengatakan, ITB tidak memasang tarif terkait perubahan penamaan gedung itu. “Sesuai proporsional aja nilainya (sumbangan),” tuturnya. Dana Rp 25 miliar itu diangsur hingga lima tahun mendatang dan diperuntukkan sepenuhnya untuk Dana Lestari di ITB.”

    Kayak beli motor, laptop, kulkas, bisa dicicil nih :D

  42. erikeren berkata:

    baiklah, saya akan coba cari 25M biar labtek 3 diubah jadi nama saya, ato kalo nggak bisa jadi nama gedung, nama tempat parkir nggak apa2 deh. misal parkir sipil = parkir erik.
    hihihihi

  43. Wah,, kalo “gedung”nya korupsi gimana yah? haha

  44. joice berkata:

    Menurut situs ini, http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5701

    Baik Benny Subianto maupun TP Rachmat adalah alumni T.Mesin.
    Situs itu juga sedikit banyak menjelaskan mengenai TP Rachmat dan Benny Subianto

  45. Risdo Wilson berkata:

    wahh…
    mudah2an semua tidak dikomersialisasi ya pak..
    tapi ada substansial yang lebih penting..

  46. Aditya berkata:

    haha,
    yang punya duit namanya jadi nama gedung,
    tapi yang punya jasa luar biasa tak ternilai utk bangsa dan negara ini, namanya cuma jadi nama tugu kecil didepan gedung2 itu..

    mnyedihkan..

  47. ivanwidyarsa berkata:

    Tiba-tiba saya kepikiran untuk mencantumkan nama saya di salah satu ubin di Labtek V (a.k.a Gedung Benny). Boleh ngga ya? Hehehe.

    Lumayan, jadi ada ubin “Ivan Widyarsa IF02″

  48. iwan berkata:

    aku jg alumni KI nich, tap pns gajinya mungil coy…, pesan untuk pak bakrie gimana kalau dirumahku saja dipasangin nama anda gak tanggung2 langsung ku pasang digerbang dech tulisannya besar, cukup pak bakrie bayar 250 juta saja gak muluk2 he..he… gimana ayo… mungkin lbh berguna, sayang jg tuh dihambur2.

  49. Shanti berkata:

    Kerjasama antara Benny Subianto dengan T.P.Rachmat :
    http://www.bankmandiri.co.id/corporate01/news-detail.asp?id=HHJJ43208965

    Benny Subianto sendiri pernah menjadi president director PT UNITED TRACTOR Tbk (1984-1997), President Director of PT ASTRA AGRO LESTARI Tbk (1989-1999), dan Vice President Director of PT ASTRA INTERNATIONAL Tbk (1990 – 1998).
    Selain itu beliau adalah pendiri PT. Persada Capital Investama yang merupakan holding company untuk PT Tri Nur Cakarwala dan PT Pandu Alam Persada. Selain itu beliau juga memeliki beberapa perusahaan lainnya.

    Saya sendiri tidak mempermasalahkan hal ini. Toh, mereka semua menyumbang demi kemajuan ITB bukan? hehehe..

  50. dicky marianov berkata:

    Setuju dengan Shanti, ambil aja sisi positifnya. Sapa tau nanti uang-uang donasi bakalan kena ke kita-kita buat bantu mahasiswa yang kekurangan:).
    Bravo Dies Emas ITB

  51. Sandi Mohammad Solihin berkata:

    Galeri Soemardja memang didedikasikan untuk Prof. Soemardja.. guru besar seni rupa pendiri FSRD pak.. tapi yang saya bingung ada juga di sebelah BSC A.. Lab. Adhi Wijogo, Laboratorium instrumentasi prodi FT.. itu Adhi Wijogo siapa ya?

  52. agah garnadi berkata:

    Penamaan Lab. Adhi Wijogo, didasarkan atas nama salah satu Guru Besar FT di bidang Fisika Bangunan, termasuk bidang akustik. Prof. Adhi Wijogo, meninggal saat Lab. anechoic (untuk akustik) dibangun dari dana NUFFIC (Belanda), Prof. Adhi Wijogo saat itu adalah pimpinan program kerja-sama ilmiah ITB-NUFFIC(Belanda). Untuk menghargai jasa beliau sebagai perintis pendidikan TF dan keahliannya (akustik), maka Lab. akustik tersebut dinamai Lab. Adhi Wijogo.

    Jadi, kalau di IF menganggap Ketua Jurusan pertamanya dianggap berjasa, bisa saja namanya diabadikan menjadi nama salah satu ruangan di IF (ruang rapat staff IF ?).

    Di kultur Asia, penamaan gedung (yang identik dengan mendirikan patung) dengan nama orang yang masih hidup, dianggap hal yang tabu.
    Tapi, di kultur Eropa, pemberian hadiah/grant/nama gedung dengan nama orang yang masih hidup, bukan hal yang tabu.
    Contoh, penamaan sebuah gedung Fakultas Teknik Mineral sebuah Univ. papan atas di Texas, dengan nama Presiden Direktur Freeport McMoran Corp.
    Kemudian, juga nama Yayasan dengan menggunakan nama orang yang masih hidup, semisal Bill & Melissa Gates Foundation.

    Tak perlu mencemooh siapa yang menyumbang, tapi tanya diri anda sendiri, apakah anda sudah membantu memberikan sumbangan agar seseorang bisa melanjutkan studi di ITB selama 1 semester ?
    Dengan cara itu, anda bisa meringankan mahasiswa yang kesulitan untuk menyelesaikan studinya di ITB.

    Salam dari seorang alumni ITB.

  53. Nikole berkata:

    Great info. Lucky me I found your site by accident (stumbleupon).
    I’ve bookmarked it for later!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s