Bagi penggemar nasi timbel, Nasi Timbel Istiqamah di Jalan Taman Citarum Bandung mungkin tidak asing lagi. Berada di pinggir jalan di depan masjid, setiap jam makan siang warung tenda ini ramai dengan orang-orang yang datang untuk makan. Kalau hari Sabtu dan Minggu apalagi, para wisatawan dari Jakarta ramai-ramai makan di sini bersama keluarganya. Bagi orang Jakarta, ke Bandung itu ya untuk makan dan belanja-belanja.
Tapi sekarang Nasi Timbel Istiqamah sudah pindah ke Jalan Citarum, di samping Rumah Makan Raja Melayu. Bukan berbentuk warung tenda lagi, tetapi sudah berupa pondok permanen, yang tempat parkirnya sudah diatur oleh juru parkir. Tidak asik lagi makan di sana, tidak seperti dulu makan di pinggir jalan di bawah naungan pohon dan deru kendaraan terasa lebih asik dan nikmat. Lagipula terlalu ramai, apalagi Hari Sabtu, padahal saya kurang suka tempat makan yang terlalu ramai.
Sepeninggal Nasi Timbel Istiqamah, bermunculan warung nasi timbel lain di seputar Masjid Istiqamah dengan rasa yang tidak jauh berbeda, salah satunya Nasi Timbel Ceu Eti. Ceu itu panggilan buat wanita Sunda.
Siang ini saya makan nasi timbel merah Ceu Eti yang jualan di depan Masjid Istiqamah, Jalan Taman Citarum, Bandung. Warungnya tidak terlalu padat, jadi bisa makan lebih santai.

Nasi timbel merah… waah saya suka sekali itu. Nasi timbel merah dibuat dari beras merah. Entah siapa yang memulai pertama kali membuat nasi timbel beras merah di tatar Pasundan ini. Yang jelas nasi timbel merah itu menyehatkan karena mengandung vitamin B. Cocok juga buat orang yang diet. Kalau beras merahnya kualitas nomor 1 nasi timbelnya akan terasa pulen seperti nasi putih.
Seperti Nasi Timbel Istiqamah, Nasi Timbel Ceu Eti menyajikan masakan Sunda yang serba pepes: pepes ayam, pepes jamur, pepes tahu, pepes ikan, dan lain-lain. Ada pula yang serba goreng yaitu tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, ikan asin, dan lain-lain. Masakan Sunda ya begitu itu, sederhana dan tidak bersantan-santan serta tidak berbumbu aneka rupa seperti masakan Padang. Justru karena tidak bersantan itu masakan Sunda tampak lebih sehat karena tidak mengandung banyak lemak. Makan nasi timbel merah dengan lauk semacam itu ditemani sambal terasi, sayur lalap, dan air teh hangat di siang hari jelas terasa nikmat, apalagi nasi merahnya disajikan hangat. Oh ya, selain nasi merah juga ada nasi timbel putih.
Nah, ini yang saya makan di sana: nasi merah, ayam goreng, pepes tahu, ikan asing, sayur lalap, dan sambal terasi. Harganya? Hanya Rp 9.500 untuk semua itu. Murah juga ya.

5 tanggapan so far ↓
Arie // 25 Februari 2009 pada 14:12 |
Yummy pak.. hehehe..
Yang di Punclut juga enak Pak, nasi timbel merahnya
ekoph // 25 Februari 2009 pada 14:29 |
wah… wah… jadi laper lagi nih…
kapan-kapan saya mampir sana ah…
dwinanto // 25 Februari 2009 pada 14:37 |
Jadwal makan siangnya bervariasi ya, Pak,.
rinaldimunir // 25 Februari 2009 pada 15:25 |
@Arie: iya, saya dengar di Punclut kalau hari Sabtu atau Minggu ramai orang “hiking” dan sesudah itu mereka makan nasi timbel. Saya belum pernah ke sana.
@dwinanto: nggak juga, sebelum ke kantor, saya sempatkan beli makan siang, kadang-kadang makan di sana kadang-kadang dibungkus saja untuk dimakan di kantor.
linusfans // 25 Februari 2009 pada 16:28 |
salam kenal, semoga usaha Anda sukses..
Jika berkenan berkunjung ke blog linus fans.
Sudah tahu Linus Airways?
Perusahaan penerbangan baru yang menerbangi beberapa wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Saat ini dari Jakarta – Palembang-Batam-Pekanbaru-Batam-Medan.(PP),
Jakarta-Tanjung Pandan-Jakarta-Pangkalan Bun-Semarang- Pangkalan Bun- Jakarta.
Untuk info lebih lanjut 021. 6220 3755
Dalam waktu dekat ini akan membuka Route baru Bandung-Palembang (PP) akan sangat menyenangkan jika Anda mau menyebarkan informasi ini ke segenap rekan Anda.
Semoga persahabatan kita bisa berlanjut ke dalam bentuk kerja sama yang saling menguntungkan.
Sukses selalu buat Anda.
e-mail: linus.fans@yahoo.com
htpp://linusfans.wordpress.com
http://www.linusairways.co.id