Tsunami Kecil di Situ Gintung dan Keajaiban yang Terjadi

Sedih dan berbuncah kepedihan di hati kita ketika mendengar, membaca, dan melihat warga bangsa kita dihantam ‘tsunami’ kecil di kawasan Situ Gintung, Tangerang pada Jumat dinihari yang lalu. Seperti yang kita lihat di TV atau membaca di portal berita maupun di suratkabar, Situ Gentung jebol dan memuntahkan 2 juta meter kubik airnya ke pemukiman di sekitarnya. Di saat sebagian orang bersiap-siap shalat Subuh dan sebagian lagi masih tertidur lelap, air bah setinggi 5 hingga 10 meter menghantam apapun yang dilaluinya. Rumah-rumah hancur diterjang air bah termasuk penghuni di dalamnya ikut terseret dibawa arus. Air bah yang mendadak itu mengingatkan kita pada tsunami dahsyat di Aceh akhir tahun 2004. Bedanya, di Aceh tsunami berupa air laut sedangkan di Tangerang berupa air danau. Hingga tulisan ini dibuat, sudah hampir 100 mayat ditemukan dan masih ratusan lagi warga yang dinyatakan hilang atau mayatnya belum ditemukan.

Foto Situ Gintung yang indah sebelum musibah terjadi (foto diambil dari www.panoramio.com):
situ-gintung

Foto Situ Gintung yang jebol (sumber: Detik.com):

situ-gintung2

Foto kawasan Situ Gintung, saat pemantauan udara menggunakan helikopter. Rekahan tanggul yang jebol dan situ yang telah mengering membuat warga dari berbagai kalangan datang berduyun-duyun untuk melihat (Sumber: Kompas Online):

gintung2

Foto-foto lainnya (diambil dari Kompas Online, yang merupakan kiriman dari seorang pembaca):

Sebelum tragedi:
gitung-before

Sesudah situ jebol:
gintung-after

Perbandingan lainnya:
gintung

Seperti biasa, bangsa kita mempunyai rasa solidaritas yang tinggi setiap kali ada musibah atau bencana alam yang datang. Bantuan segera mengalir, ratusan atau ribuan orang bahu membahu memberikan pertolongan, mengevakuasi mayat, dan sebagainya. Posko-posko bantuan segera bermunculan di sekiat daerah bencana, tidak ketinggalan para caleg dan parpol yang tengah sibuk kampanye juga ikut turun tangan ke sana. Tidak tertutup kemungkinan keterlibatan caleg dan parpol yang memasang bendera mereka di sana untuk meraih simpati publik. Tetapi, kita berbaik sangka sajalah, mudah-mudahan saja niat mereka tulus membantu, tidak ada niat tersembunyi lain.

Diantara banyak orang yang peduli dengan musibah Situ Gintung, ada saja sebagian pihak yang kurang terasah kepekaannya. Sehari setelah kejadian, sebuah televisi swasta tetap menyiarkan acara hura-hura dari sebuah Kemayoran secara live, seakan-akan peristiwa yang berjarak kurang lebih 10 km dari Jakarta itu tidak pernah ada. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa pasca tsunami Aceh yang terjadi menjelang tahun baru 2005 dan menewaskan ratusan ribu warga Aceh (termasuk yang dinyatakan hilang). Perayaan tahun baru di berbagai tempat maupun di televisi tetap berlangsung semarak dan meriah, puluhan ribu orang tetap berjoget di panggung-panggung hiburan seakan-akan musibah tsunami itu tidak pernah terjadi.

Kalau pihak-pihak itu sedikit peka, mereka bisa mengundurkan acara hura-hura itu sampai situasinya memungkinkan, atau dilangsungkan saja secara sederhana, sementara uang hasil pertunjukan digunakan untuk membantu korban Situ Gintung yang rumahnya sudah lenyap disapu air bah.

Baiklah, lupakan sejenak perilaku hodonisme sebagian orang di ibukota itu. Marilah lihat sebuah fenomena langka. Pada setiap bencana, selalu saja ada keajaiban atau ‘mukjizat’ yang terjadi. Masjid Jabalur Rahman yang berada sekitar 50 meter dari tanggul Situ Gintung yang jebol, tetap berdiri kokoh meski sebagian besar bangunan di sekitarnya lenyap atau rusak berat diterjang air bah dari danau itu (lihat foto di bawah ini, foto diambil dari sini).

masjid-jabalurrahman

Foto Masjid Jabalur Rahman lebih dekat (Sumber: Detik.com):

masjid-jabalurrahman2

Dikutip dari situs tersebut: Wartawan ANTARA yang mengujungi masjid itu Minggu melaporkan, nyaris tidak ada kerusakan pada masjid bercat putih yang tingginya sekira 10 meter tersebut.

Sementara berbagai bangunan di sekitarnya rusak berat, bahkan ada yang luluh lantak dan tengah dibersihkan oleh tim SAR gabungan. “Saya tak tahu, mungkin ini mukjizat,” kata seorang warga, Ade (26 th). Tanggul jebol pada Jumat (27/3) dini hari hampir bersamaan dengan dilantunkannya azan Subuh di masjid itu.

Kejadian langka seperti ini juga mengingatkan kita pada tsunami di Aceh. Beberapa masjid di Aceh tetap kokoh berdiri meski tsunami yang setinggi lebih dari pohon kelapa menerjang kawasan hingga jauh ke daratan. Lihat foto-foto di bawah ini (Sumber: Detik.com):

clip_1

clip_3

clip_4

clip_2
Apakah semua masjid ‘selamat’ dari amukan air bah/tsunami seperti masjid Jabalur Rahman di Situ Gintung atau masjid-masjid yang di Aceh itu? Tidak juga. Banyak juga masjid dan mushala yang hilang diterjang air bah, hancur, rusak parah, dan sebagainya. Sunnatullah berupa hukum alam tetap berlaku. Bangunan-bangunan kokoh seperti gedung maupun Rumah Allah (masjid) sekalipun tetap tunduk pada sunnatullah itu, bahwa kekuatan alam yang dahsyat tetap tidak bisa ‘dilawan’ oleh mereka. Energi yang sangat besar dari dorongan air bah terlalu kuat bagi bangunan-bangunan tersebut. Mereka hancur juga ditelan air bah, termasuk masjid sekalipun. Allah SWT tidak mungkin mengingkari sunnah-Nya.

Lalu, mengapa ada satu dua masjid yang tetap kokoh berdiri seperti Masjid Jabilur Rahman di Situ Gintung atau yang masjid di Aceh itu? Apakah kekuatan alam memilih-milih sasaran? Bagaimana mungkin kekuatan alam yang maha dahsyat itu tidak berhasil menggoyahkan masjid di sana? Bagaimana menjelaskan semua ini? Insinyur Sipil sekalipun pasti heran sebab secara teori dorongan air bah dengan kecepatan alir yang tinggi seharusnya sudah menghancurkan masjid Sabilur Rahman itu, tetapi yang terjadi sebaliknya. Jika rasio kita tidak berhasil menjelaskannya, maka keimananlah tempat berpulang jawabannya. Sebagai orang beriman, kita hanya bisa berkata: Allahu akbar. Wallahu alam bissawab, hanya Allah SWT yang tahu jawabannya. Allah SWT menghancurkan banyak rumah termasuk sebagian masjid/mushala pada musibah Situ Gintung, tetapi meninggalkan sebuah satu masjid kokoh berdiri tentu ada maksud atau hikmahnya. Hikmah dari fenomena ini adalah untuk menunjukkan kebesaran-Nya agar manusia bertambah-tambah imannya kepada Allah SWT, dan tidak menjadikan bencana itu untuk menjauh dari Allah SWT, tetapi malah menjadi lebih dekat dan lebih bertawakal kepada-Nya dengan melihat keajaiban ini.

Mudah-mudahan kita diberi hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian.

Beasiswa “ITB Untuk Semua” (Sekolah Gratis di ITB)

Tahun 2009 ini ITB akan menerima mahasiswa baru melalui jalur ujian seleksi mandiri (USM) lebih besar porsinya dibandingkan dengan jalur SNMPTN (klasikal). Perbandingannya sekitar 60% : 40%. Alasan yang dikemukakan pihak rektorat adalah kualitas mahasiswa jalur USM jauh lebih baik daripada mahasiswa jalur SNMPTN (lihat kapasitas penerimaan mahasiswa di sini). Tampaknya pada tahun-tahun yang akan datang porsi jalur USM akan lebih besar lagi dari SNMPTN.

Jalur USM menjaring mahasiswa golongan “the have”, sebab sumbangan biaya pendidikannya (diluar SPP) tahun ini meningkat yaitu sekitar Rp 60 juta (tahun lalu Rp 45 juta). Artinya, kalangan calon mahasiswa yang tidak mampu akan semakin kecil peluangnya kuliah di ITB. Bagi kalangan ini, satu-satunya harapan (dengan sumbangan biaya pendidikan yang jauh lebih murah tergantung kemampuan orangtua, bahkan bisa Rp 0,-) adalah melalui jalur SNMPTN yang sayangnya porsinya semakin kecil saja setiap tahun.

Menurut hemat saya, ITB tetap perlu memiliki mahasiswa dari kalangan tidak mampu, sebab kelompok mahasiswa inilah yang umumnya lebih peka memperjuangkan nasib rakyat kecil karena mereka pernah merasakannya. Jika mereka lulus dari ITB nanti dan menjadi pemimpin bangsa, mereka tidak akan lupa dengan “kacang dengan kulitnya”. Ehm.., bukan berarti mahasiswa “the have” tidak peka, tetapi tingkat sensitivitasnya — menurut pengamatan saya– masih di bawah mahasiswa “miskin”. Di lingkungan program studi saya sebagai contoh, fenomena yang saya saksikan adalah banyak mahasiswa yang terbiasa hidup dengan kegiatan borju alias senang-senang (makan di tempat mahal, hiburan seperti karaoke, nonton film terbaru, kumpul-kumpul d kafe, main bilyar, jalan-jalan, ke kampus pakai mobil pribadi, dll) yang intinya menghabiskan banyak uang. Dengan pola hidup seperti itu, sangat susah kita harapkan kepedulian mereka pada nasib bangsa ini (yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan).

Untunglah beberapa pihak di ITB memikirkan juga hal ini sebelum ITB menjadi semakin elitis dan semakin tidak terjangkau oleh kaum miskin. ITB tidak hanya untuk kalangan berada saja, tetapi juga untuk kalangan tidak mampu. ITB untuk semua. Baru saja saya membaca situs web “Beasiswa ITB Untuk Semua”. Ini adalah program sekolah gratis bagi mahasiswa baru ITB tahun 2009 yang ditujukan khusus kepada mahasiswa dari kalangan tidak mampu.

Bagi yang tidak bisa membuka situs web tersebut, di sini saya kutipkan isi leaflet-nya:

Beasiswa ITB untuk semua

Program “ITB Untuk Semua” adalah suatu skema penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung yang secara khusus menyediakan bangku kuliah bagi para lulusan sekolah menengah umum dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi (penghasilan kedua orang tua di bawah Upah Minimum Regional setempat). Uang pendidikan, ongkos tempat tinggal, dan biaya hidup selama menempuh kuliah di Bandung akan didanai beasiswa “ITB Untuk Semua”. Sekitar 100 bangku kuliah disediakan secara khusus bagi para lulusan SMU angkatan 2009 dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.

Para calon penerima beasiswa akan mengikuti Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi ITB (PMBP) jalur bea siswa penuh. Sebelum kuliah, para calon yang diterima akan mengikuti masa persiapan untuk membantu penyesuaian diri dengan suasana kuliah serta kehidupan di Bandung.

Selama kuliah, para mahasiswa program “ITB Untuk Semua” akan mendapat pembimbing khusus untuk membantu menyelesaikan kendala studi dan mengatasi persoalan personal yang mungkin muncul selama menempuh kuliah di ITB. Para mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti ceramah-ceramah inspirasional, studi banding ke lokasi-lokasi penerapan teknologi tepat guna, dsb. Para lulusan program “ITB Untuk Semua” diharapkan kelak akan menjadi agen perubahan di daerah asal mereka

Persyaratan
Para calon penerima beasiswa “ITB Untuk Semua” harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Calon lulusan sekolah menengah umum pada tahun ajaran 2009 (bidang studi IPA untuk fakultas Sains dan Teknik).
2. Berasal dari keluarga yang tak mampu secara ekonomi (penghasilan kedua orangtua di bawah Upah Minimum Regional setempat)
3. Memiliki prestasi akademik yang sangat baik.
4. Aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah (lebih diutamakan yang memiliki bakat memimpin)
5. Mendapat rekomendasi dari kepala sekolah
6. Bersedia mengikuti ujian penerimaan yang dilakukan ITB

Bidang Studi yang Dapat Dipilih
Fakultas/Sekolah yang dipilih oleh calon peremina beasiswa adalah sbb:
* Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
* Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
* Fakultas Teknologi Industri (FTI)
* Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
* Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD)
* Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
* Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
* Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
* Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
* Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
* Sekolah Farmasi (SF)
* Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)

Cara Mendaftar
Kirimkan berkas formulir pendaftaran (pada halaman terakhir leaflet ini, boleh di-fotocopy) dengan dilengkapi dokumen sbb:
* Fotocopy halaman depan rapor SMU dan halaman-halaman nilai (dari semester I hingga V) yang telah dilegalisir pihak sekolah
* Surat keterangan berasal dari keluarga yang secara ekonomi tak mampu dengan ditandatangani Ketua RT/RW (Yang dimaksud keluarga yang secara ekonomi tak mampu adalah penghasilan kedua orangtua per bulannya di bawah atau sama dengan Upah Minimum Regional setempat. Kami akan melakukan survey lapangan secara random untuk mengetahui kondisi keluarga calon mahasiswa)
* Surat dukungan/referensi dari kepala sekolah
* Tulisan 1 halaman kertas HVS (boleh diketik atau tulis tangan) yang menjelaskan mengapa pendaftar ingin mengikuti program “ITB Untuk Semua”
* Tulisan 1 halaman kertas HVS (boleh diketik atau tulis tangan) yang menggambarkan kondisi keluarga pendaftar [misalnya menceritakan pekerjaan orang tua, kegiatan pendaftar di luar bersekolah, kondisi masing-masing anggota keluarga, dsb]

Berkas pendaftaran lengkap dimasukan amplop coklat ukuran besar dan dikirim ke:

Panitia Penerimaan Beasiswa “ITB Untuk Semua”
Direktorat Pendidikan ITB
u.p. Kasubdit Penjaringan Mahasiswa/Ketua Lembaga TPB
Gd. CCAR ITB Lt.4
Jl. Tamansari 64 Bandung
*Berkas paling lambat dikirimkan pada 20 April 2009 (cap pos)

Ujian Penerimaan
Panitia seleksi tahap awal program “ITB Untuk Semua” akan melakukan penilaian berdasarkan berkas yang masuk. Penilaian meliputi:
* Kemampuan akademik
* Motivasi (dilihat dari tulisan mengapa pendaftar ingin mengikuti program “ITB Untuk Semua”)
* Kondisi keluarga (dilihat dari tulisan kondisi keluarga pendaftar)
* Pengujian kebenaran data yang diberikan kepada pihak sekolah

Dari hasil penilaian tersebut, panitia tahap awal akan memanggil (melalui surat) calon-calon potensial untuk mengikuti ujian saringan mahasiswa (USM) jalur PMBP terpusat dan interviu di kampus ITB di Bandung. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama ujian akan disediakan oleh ITB. Ujian ini akan berlangsung pada 29 Mei- 31 Mei 2009.

Panitia akan mengumumkan penerima beasiswa (hanya calon potensial, yang diterima yang akan dikirimi surat) pada pertengahan bulan Juni 2009. Penerima beasiswa akan berkumpul kembali di Bandung pada akhir Juni 2009 untuk mengikuti program penyesuaian diri.

Agustus 2009, penerima beasiswa “ITB Untuk Semua” mulai mengikuti kuliah di ITB.

Semoga ini awal sebuah program mulia yang menghimpun mutiara-mutiara terpendam dari berbagai wilayah daerah di Indonesia yang mempunyai hasrat yang tinggi sekolah di ITB namun apa daya terbentur dengan permasalahan klasik: uang. Tidak punya uang, anda tetap dapat kuliah di ITB.

Tambahan informasi (diambil dari situs ITB):
Untuk beasiswa ini, alokasi dana yang disediakan ialah 100 juta per anak untuk lima tahun. Dana akan diperoleh dari alumni ITB, baik perseorangan atau berkelompok. Alumni yang sudah bersedia menjadi orang tua asuh diantaranya Ir. Benny Subianto, Ir. Martiono Hadianto, Ir. Betty Alisjahbana, Ir. Karen Agustiawan. Sekitar 100 bangku kuliah disediakan secara khusus bagi para lulusan SMU angkatan 2009.

Rumah Sakit Jiwa Siap Menampung Mantan Caleg

Rumah sakit – rumah sakit jiwa (RSJ) di Indonesia siap menampung para caleg yang gagal terpilih dalam Pemilu 2009 (lihat berita di bawah). Pemilu 2009 memang beda sekali dengan yang sudah-sudah. Para caleg tidak hanya bersaing dengan caleg parpol lain, tetapi juga dengan caleg di kandangnya sendiri. Untuk meraih dukungan para pemilih, tabungan terpaksa dikuras, harta dan rumah terpaksa dijual atau digadaikan. Jutaan rupiah uang harus digelontorkan untuk membuat kaos, spanduk, pasang iklan, dan uang angpau buat simpastisan. Benar-benar habis-habisan para caleg ini.

Karena itu, jika tidak terpilih, wajar para caleg ini depresi, frustasi, dan gejala penyakit jiwa lainnya.

RSJ Jabar Siap Layani Caleg Frustasi
(berita diambil dari sini: Republika)

BANDUNG — Separuh calon anggota legislatif di Jawa Barat mengalami gangguan emosional dan depresi. Karena itu, menjelang pelaksanaan pemilu 9 April 2009, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar menyediakan klinik khusus pasien depresi dan layanan konsultasi 24 jam.

Direktur RSJ Provinsi Jabar, Baniah Patriawati, mengakui, separuh caleg di Jabar mengalami depresi dan gangguan emosional. Dia menjelaskan, kondisi itu dinilai wajar. Dia menjelaskan, depresi dan gangguan emosional tidak bisa dijadikan dasar untuk menghalangi niat menjadi wakil rakyat.”Yang tidak boleh itu psikotik (gila) atau gangguan jiwa,” ujar Baniah kepada Republika di kantornya, Rabu (18/3). Dia menyatakan, banyak faktor yang menunjang seseorang mengalami gangguan emosional atau depresi.

Hasil penelitiannya, kata Baniah, 20 persen dari populasi warga Jabar (42 juta jiwa) mengalami gangguan emosional. Gangguan emosional, sambung dia, terjadi pula anak usia di bangku SD, SMP, dan SMA. Untuk itu, imbuh dia, bukan hal yang aneh bila gangguan tersebut terjadi pula pada caleg.

Meski demikian, pihaknya tetap akan mengantisipasi melonjaknya pasien gangguan jiwa, khusus pascapemilu. Menurut dia, bukan hal yang tidak mungkin caleg yang gagal menjadi wakil rakyat mengalami gangguan jiwa.

Antisipasi yang dilakukan RSJ Jabar, sebut Baniah, yakni dengan menyediakan klinik depresi dan layanan konsultasi 25 jam. Bahkan, tambah dia, jumlah sumber daya manusia (SDM) yang akan menangani pasien akan ditambah.

Saat ini, tambah Baniah, di RSJ Jabar terdapat psikiater, psikolog, perawat, rekan medis, psikolog, dokter umum, dan pembantu rumah sakit. Dalam situasi normal, sambung dia, masing-masing profesi menyediakan dua personel.Di musim kampanye dan pemilu ini, pihaknya menyediakan masing-masing profesi sebanyak lima orang. ”Itu bagian dari antisipasi kami, baik untuk caleg atau masyarakat umum,” tambahnya.

Dia menandaskan, fasilitas rawat inap pun disiagakan bagi 285 pasien. Kata Baniah, saat ini sekitar 80 persen dari kapasitas rawat inap sudah terisi.

Psikiater dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, dr Tedi Hidayat, menjelaskan, pada pemilu 2009, ancaman terjadinya gangguan mental emosional caleg lebih berat dibandingkan pemilu 2004. Dia menyatkan, dalam pemilu 2009, caleg yang gagal terpilih menjadi wakil rakyat berpeluang frustasi, cemas, hingga gangguan jiwa berat.”Bisa jadi psikotik (gila),” ujar Tedi kepada Republika, Rabu (18/3). Dia menandaskan, saat ini, baik secara kualitas dan kuantitas, peluang maraknya caleg yang akan mengalami gangguan jiwa sangat terbuka.

Tedi menandaskan, pada musim kampanye sekarang, dipastikan caleg mengalami kecemasan. Banyaknya rival dan pengeluaran uang untuk suksesi pemilu 2009, tambah dia, memberi kontribusi kuat pada kondisi psikologis caleg.

Terlebih lagi, sambung Tedi, warga Indonesia saat ini sudah memiliki bakat mental emosional. ”Tidak pemilu pun sering emosional, apalagi saat menjadi caleg,” tambahnya. san/kpo

Habis-habisan dan Kini Tambah Miskin
(berita diambil dari sini: Kompas)

Walau menolak menyebutkan nominal dana yang telah dikeluarkan selama berkampanye, aktivis yang kini mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Golkar untuk Daerah Pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta, Binny Bintarti Buchori, Rabu (18/3) di Jakarta, mengaku sudah habis-habisan membiayai kampanyenya.

Selama ini ia menerapkan beragam strategi berkampanye, mulai dari mencetak stiker, kalender, hingga buklet yang di dalamnya terdapat foto diri dan sejumlah program yang ditawarkan. Selain itu, ia juga mengunjungi masyarakat di sejumlah kecamatan atau kabupaten di daerah pemilihannya, menggelar pendidikan dan pelatihan di pengajian, pertemuan dengan warga, serta talkshow di radio.

”Untung saya dibantu teman-teman aktivis dan jaringan lain, seperti alumni semasa sekolah. Mereka banyak membantu, bahkan ikut menyumbangkan sejumlah dana,” ujar Binny. Ia juga membentuk tim sukses yang berasal dari sesama aktivis.

Menurut Binny, tidak jarang masyarakat yang dia datangi secara terang-terangan meminta sesuatu darinya, baik dalam bentuk uang maupun fasilitas lain. ”Yang jelas, tambah miskin nih karena keluar duit banyak. Jangan-jangan kalau ada survei statistik lagi nanti, saya bisa masuk kategori masyarakat miskin deh,” ujarnya sambil berkelakar.

Binny mengakui, tidak semua daerah di dapilnya didatangi. Paling sekitar 40 persen lokasi strategis yang dia datangi. ”Saya cuma berkampanye di daerah tertentu. Untuk menarik masyarakat mau datang, biasanya saya memberikan doorprize untuk ibu-ibu atau menyumbang untuk kas RT/RW ala kadarnya,” kata Binny.

Harus sungguh-sungguh

Lain lagi cerita Agung Putri Astrid Kartika, aktivis yang kini menjadi calon anggota DPR untuk PDI- P di Dapil Bali. Ia semula menganggap langkahnya sebagai sesuatu yang belum serius. ”Namun, lama-lama saya merasa hal ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” katanya. Untuk itu, sejak September 2008, ia nonaktif dari jabatan Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat serta hampir selalu tinggal di Bali.

”Menjadi caleg adalah pelajaran yang amat berharga bagi saya. Tidak ada yang dapat dipegang sebagai kepastian saat terjun di dunia ini. Suara rakyat tidak dapat dipastikan, apalagi dengan ketentuan suara terbanyak,” kata Agung Putri.

Menurut dia, suara terbanyak menyulitkan berjalannya mesin partai. Sesama kader partai bersaing dengan bebas. ”Bagaimana mesin partai dapat berjalan efektif jika, misalnya, pengurus partai tingkat provinsi dan tingkat kabupaten sama-sama bertarung memperebutkan kursi DPRD dari dapil yang sama,” katanya.

Agung Putri selama ini lebih banyak memakai jaringan sesama aktivis LSM dan keluarga. Namun, uang memang memegang peranan penting. Apalagi sebagian tokoh di Bali biasa menerima sumbangan, seperti untuk upacara adat, dari orang yang mereka anggap berhasil.

Apakah itu politik uang? ”Hal itu menjadi kebiasaan. Ini yang menjadi tantangan bagi caleg miskin seperti saya,” kata Agung Putri. Ia tidak pernah menghitung uang yang telah dikeluarkan. ”Saya bisa pusing jika memikirkan uang. Pokoknya, jika ada uang, baik dari diri sendiri maupun bantuan teman, dipakai saja,” lanjutnya.

Agung Putri mengakui lebih memilih menawarkan ide tentang keikutsertaan rakyat dalam ruang politik nasional sebagai ujung tombak kampanyenya. Kampanye dengan menghadirkan ribuan orang dalam satu rapat umum tak menarik baginya. ”Saya selalu mengatakan tidak bisa bekerja tanpa kalian. Kalau kalian percaya kepada saya, dukung saya, tetapi jika tidak pilih PDI-P,” katanya lagi.

Aktivis buruh, Dita Indah Sari, yang kini menjadi caleg dari Partai Bintang Reformasi untuk Dapil Jawa Tengah V juga mengaku lebih menggunakan pendekatan pertemuan langsung dengan konstituen untuk menjaring dukungan. Selain bertemu dengan kelompok masyarakat, baik dari kalangan buruh maupun petani, ia juga aktif mengunjungi masyarakat secara langsung dari pintu ke pintu serta menemui mereka di jalan.

Untuk berkampanye, Dita mengaku tidak memiliki dana mencukupi untuk beriklan di televisi maupun radio. Karena itu, ia mengandalkan wawancara di media untuk menyebarkan pemikiran dan profilnya kepada calon pemilih.

Namun, ia mengakui saat ini sudah menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta di luar penyediaan atribut. Ia memperkirakan akan menghabiskan dana tak kurang dari Rp 300 juta. Dana itu 100 persen berasal dari sumbangan keluarga, rekan aktivis, pengusaha, dan aktivis politik lain.

Aktivis The Indonesian Pluralism Institute, Galata Conda Prihastanto, yang menjadi caleg Partai Amanat Nasional untuk DPR dari Dapil Jateng V, pun memanfaatkan jaringan untuk mendulang dukungan. Ia, didukung berbagai lembaga dan aktivis, rutin mengadakan beragam kegiatan, seperti pendidikan bagi pemilih pemula dan pelatihan caleg.

Dengan dukungan itu, ia tak terlalu memikirkan dana. Dana baru tersedot saat harus membuat beragam atribut.

Nasi Pecel Madiun Jl. Hariangbanga

Kita tinggalkan dulu hiruk pikuk kampanye Pemilu yang tengah berlangsung. Mari kita pikirkan soal…. makanan. Ho..ho, soal makanan tidak akan pernah habis-habisnya untuk dibahas. Sesulit apapun krisis hidup yang melanda, separah apapun masalah yang dihadapi, setiap orang tetap perlu makan. Maka, bisnis makanan tidak pernah kenal krisis.

Sejak dulu saya senang makan nasi pecel. Kalau di Padang namanya pical, tapi intinya sama saja dengan pecel di Jawa, yaitu aneka sayuran yang sudah dikukus lalu disiram dengan kuah kacang pedas. Makan nasi dengan pecel sangat nikmat, apalagi dalam keadaan panas, selain itu murah lagi. Di Jawa Timur, nasi pecel adalah makanan khas yang sudah mendarah daging.

Pecel yang terkenal adalah pecel Madiun. Sebenarnya Kediri juga terkenal dengan pecelnya, tapi di Bandung entah kenapa pecel Madiun lebih populer, nggak tahu ya kalau di Jawa Timur apa pecel Madiun juga sudah menjadi trade mark.

Di Bandung cukup banyak yang menjual nasi pecel. Pergilah ke jalan dekat Gasibu, setiap hari ada orang Madiun yang menjual nasi pecel dengan mobil carry. Kalau hari Minggu pagi ada beberapa warung dadakan yang menjual nasi pecel.

Tapi semua nasi pecel itu masih kalah enak dengan yang satu ini. Kata rekan senior saya, Pak Mary Handoko, nasi pecel di Jalan Hariangbanga itu yang asli, rasanya persis sama sepertu pecel di Madiun sana. Bagi yang tidak tahu dimana Jalan Hariangbanga, Jalan Hariangbanga itu adalah sepotong jalan ke arah Unisba Jalan Tamansari, kalau mau ke sana bisa dari Unisba atau dari Jalan Purnawarman belok ke kiri. Kedai yang menjual nasi pecel Madiun ada di sebuah rumah kuno peninggalan Belanda di pertigaan jalan.

Karena Pak Mary orang Madiun asli, saya sih percaya saja. Selera orang Madiun soal pecel pasti tidak salah, bukan? Ketika ada kesempatan melewati Jalan Hariangbanga, saya sempatkan singgah di sana untuk membeli satu bungkus nasi pecel. Satu porsi nasi pecel harganya Rp 7.500 (mahal juga ya), jika ditambah ayam goreng atau lauk yang lain harganya bisa belasan ribu. Selain nasi pecel, kedai ini juga menjual rawon, rujak cingur, dan aneka masakan Jawa Timur lainnya.

Nih foto nasi pecel madiun + telur asin + kerupuk (kata teman saya, orang Jawa makan nasi ‘wajib’ pakai kerupuk):

dsc00417

Rasanya? Memang berbeda dengan yang di Gasibu, hanya saja kurang pedas, saya masih lebih suka nasi pecel di Gasibu. Soal selera tiap orang bisa saja berbeda.

Kandidat Partai Pilihan Saya pada Pemilu April 2009

Pemilu 9 April 2009 tinggal sebulan lagi. Tangal 16 Maret kampanye partai politik akan segera dimulai. Siap-siap saja kita nanti dihadang pawai simpatisan parpol, gerungan suara motor, kemacetan, dan hiruk pikuk khas setiap kali Pemilu.

Saya lagi mikir-mikir nih partai apa nanti yang akan saya pilih. Pada Pemilu kali ini kita tidak lagi mencoblos lambang partai, tetapi mencontreng caleg (nama atau nomor urutnya). Memang aneh Pemilu kali ini, menurut UU Pemilu selain menconterng nomor caleg, mencontreng lambang partai juga sah. Jadi, bagi orang-orang yang tidak mau berlama-lama di bilik suara dan bingung caleg mana yang akan dia pilih, maka cara yang paling aman adalah contreng saja lambang partainya. Wajar sih, kebanyakan masyarakat kita asing dengan para caleg. Tiba-tiba saja wajah-wajah para caleg itu bermunculan di ruang publik dalam bentuk spanduk maupun poster. Sebagian besar kita tidak mengenal siapa mereka sebenarnya, lalu dalam pemilu kita diminta memilih salah satu dari mereka.

Menurut saya banyak caleg yang berkualitas, tetapi sayang caleg itu berada di papol yang kurang dikenal atau parpolnya punya reputasi kurang baik. Referensi pertama orang memilih adalah partainya dulu, baru melihat siapa caleg di partai itu.

Baiklah, saya nanti akan memilih caleg di parpol yang saya sukai. Saya sudah menginventarisir beberapa kandidat parpol yang calegnya nanti akan saya contreng. Seperti halnya orang lain, referensi orang dalam memilih parpol bisa bermacam-macam. Mungkin karena kedekatan kultural atau emosional, mungkin karena kesamaan prinsip, mungkin karena pertimbangan rasional, dan sebagainya. Sah-sah saja argumen kita dalam memilih. Itu hak kita, bukan?

Inilah beberapa kandidat partai yang mungkin nanti akan saya pilih calegnya (nomor urut tidak mencerminkan prioritas):

1. Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Sederhana saja alasan saya mempertimbangkan memilih partai ini. Hingga saat ini PKS relatif ‘bersih’, belum ada anggotanya yang terlibat kasus suap, korupsi, manipulasi, pelecehan seksual, dan kasus-kasus kriminal. Partai-partai besar seperti PDIP, PAN, PPP, PD, dan Golkar sudah tercemar namanya karena ulah buruk anggotanya. Masih ingat dengan Al Amin, Agus Tjondro, dll? Malahan, anggota dewan dari PKS selalu mengembalikan setiap uang pemberian (gratifikasi) yang mereka terima. Sebuah sikap jujur yang patut ditiru. Alasan lain saya akan memilih partai ini karena kader dan anggotanya adalah orang terpelajar. Faktor agama (Islam) juga ada sebagai pertimbangan, tetapi ini bukan faktor utama (banyak juga partai lain yang berlandaskan Islam selain PKS, bukan?).

2. Partai Demokrat (PD)
Terus terang, PD ikut saya pertimbangkan karena faktor SBY. Saya bukan pengagum SBY, namun saya melihat SBY masih lebih baik daripada Mega atau Gus Dur. PD seperti halnya PKS adalah partai ajaib pada Pemilu 2004, karena sebagai partai baru bisa melejit menjadi partai besar. Apakah pada Pemilu 2009 ini PD bisa mengulangi kesuksesan seperti Pemilu 2004? Kalau membaca hasil-hasil survei, tampaknya sih bisa.

3. Gerindra
Dalam setiap Pemilu selalu ada partai baru yang bermunculan, tetapi tidak semua partai baru bisa sukses. Orang memilih partai baru sebagai suatu cara ‘menghukum’ partai-partai lama atau partai yang berkuasa karena rakyat sudah muak melihat kinerja partai tersebut. Tidak ada perubahan yang terjadi. Yang terjadi malah para anggotanya memperkaya diri di tengah kemalaratan sebagain besar rakyat Indonesia. Dengan memilih partai baru, rakyat berharap ada perubahan dalam kehidupan di negara ini. Pada Pemilu 2004, harapan perubahan itu disandangkan pada PKS dan PD. Pada Pemilu 2009, partai baru yang menonjol dan merebut perhatian adalah Gerindra. Partai ini gencar beriklan dimana-mana karena dana kampanyenya luar biasa besar. Prabowo yang kaya raya sanggup menggelontorkan uangnya untuk beriklan setiap hari di berbagai stasiun televisi. Pesan-pesan iklannya mengena dan berpihak kepada rakyat kecil (petani, nelayan, pedagang kecil). Himbauan Prabowo untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri cukup berkesan bagi kalangan rakyat kecil yang selama ini tidak berdaya dengan produk impor (Belakangan partai-nya Jusuf Kalla pun ikutan gaya Gerindra ini). Saya memasukkan Gerindra sebagai salah satu kandidat partai yang akan saya pilih nanti.

4. Partai Matahari Bangsa (PMB)
Kenapa partai ini saya pertimbangkan? Karena ini partai yang didirikan oleh warga Muhammadiyah. Waktu di Padang saya bersekolah di SD Muhammadiyah, jadi saya merasa juga bagian dari warga Muhammadiyah. Apalagi kultur orang Minang di Sumatera Barat dekat dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah memang didirikan di Yogyakarta, namun dibesarkan di Ranah Minang. Dulu partai yang dekat dengan Muhammadiyah adalah Partai Amanat Nasional (PAN), namun sekarang PAN sudah berubah sejak dipimpin oleh Soetrisno Bachir. PAN merekrut banyak artis sebagai calegnay sehingga PAN diplesetkan sebagai Partai Artis Nasional. Pada Pemilu 1999 saya memilih PAN karena simpati dengan Amien Rais, tetapi kali ini tidak lagi. Orang Muhammadiyah yang kecewa dengan PAN lalu keluar mendirikan PMB. Sebagai seorang yang pernah dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, maka saya memasukkan PMB sebagai salah satu kandidat partai yang akan saya pilih.

5. Partai Bulan Bintang (PBB)
Terus terang saya juga mempertimbangkan PBB sebagai salah satu kandidat. Kenapa? Saya pengagum (alm) M. Natsir, pendiri Masyumi. Natsir adalah orang yang sederhana, harta saja dia tidak punya, namun dia mempunyai keteguhan dalam melawan kesewenang-wenangan. Menurut saya cita-cita Masyumi masih diteruskan oleh PBB. Partai ini terkenal gigih dalam memperjuangkan aspirasi ummat, misalnya saja dalam memperjuangkan UU Pornografi tahun lalu.

Itulah lima partai kandidat yang akan saya pilih. Tentu tidak bisa semua saya pilih karena kita hanya boleh memilih satu saja. Namun, berkaca pada Pemilu 2004 yang lalu, saya membagi rata beberapa partai pada setiap surat suara supaya adil. Untuk surat suara DPR saya pilih partai X, untuk DPRD Provinsi saya pilih partai Y, dan untuk DPRD Kota/Kabupaten saya pilih partai Z. Saya rasa ini jalan tengah supaya beberapa partai kandidat kebagian suara saya.
Untuk Pemilu 2009 ini saya belum memutuskan 3 partai untuk masing-masing surat suara DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota.

Ngomong-ngomong, apa kandidat partai pilihan kalian?

Soal Komitmen yang Payah

Rekan saya yang mengurusi kemahasiswaan ITB mengeluarkan uneg-uneg kekesalannya. Katanya, mahasiswa sekarang ini payah sekali komitmennya. Janji tinggal janji. Berjanji mau datang, tetapi tidak nongol-nongol. Dia mencontohkan pengalaman pahit. Sebuah perusahaan di Jakarta mengundang mahasiswa untuk menghadiri acara peluncuran produknya. Perusahaan itu menawarkan 15 orang mahasiswa untuk diundang. Disediakan angkutan gratis pp Bandung-Jakarta, plus akomodasi lain dan sejumlah hadiah sponshorship lainnya. Bagian Kemahasiswaan segera mengumumkan hal ini kepada mahasiswa, siapa yang tertarik silakan mendaftar. First come first serve. Menjelang hari terakhir pendaftaran, yang berminat untuk ikut ternyata banyak sekali. Karena tempat duduk hanya untuk 15 orang pertama yang mendaftar, maka mahasiswa lainnya yang tidak kebagian memohon agar jumlah peserta ditambah lagi. Okelah, staf bagian kemahasiswaan melobi perusahan di Jakarta itu agar jumlah perwakilan mahasiswa ditambah. Lobi disambut baik, perusahaan menyediakan tambahan tempat untuk 25 orang, hampir dua kali jumlah semula.

Di hari H, pagi-pagi sekali, mobil jemputan dari Jakarta sudah menunggu di gerbang kampus. Acara di Jakarta akan dimulai pukul 10.00 pagi. Ada 4 mobil yang disediakan perusahaan pengundang. Hingga pukul 7.00 — batas waktu terakhir penantian — mahasiswa yang datang tidak sampai 8 orang. Kemana yang lainnya? Kemana mahasiswa yang memohon-mohon agar jumlah peserta ditambah? Staf bagian kemahasiswaan sibuk menelpon atau me-SMS ria para mahasiswa yang terpilih dan berjanji mau datang. Sibuk menananyakan kenapa belum hadir jua? Beberapa SMS dijawab, ada yang menyatakan sedang kuliah, ada yang menyatakan ada kesibukan lain, dll. Bagian kemahasiswaan tidak dapat menutup rasa malunya ke perusahaan pengundang. Kemana muka ni mau disurukkan? Yang datang hanya 8 orang, 3 mobil lainnya percuma saja. Konsumsi sudah terlanjur dibeli. Kalau memang ada kuliah atau kesibukan, mengapa bela-belain mendaftar, mengapa memohon-mohon tempat duduk ditambah? Banyak mahasiswa lain yang berminat tetapi terpaksa ditolak karena tempat duduk terbatas.

Payah! Begitulah kita menyebut soal komitmen mahasiswa kita. Institusi tidak hanya malu, tetapi juga terkesan mempunyai citra yang kurang baik dimata perusahaan. Mungkin perusahaan itu berpikir seribu kali kalau nanti mengundang mahasiswa ITB lagi.

Itu contoh satu kasus komitmen yang payah. Seorang alumnus pernah bercerita, perusahaan tempat ia bekerja baru saja menerima pegawai baru yang merupakan adik kelas di jurusannya. Dari sekian banyak pelamar, beberapa orang diterima bekerja. Tetapi, baru 5 hari bekerja di sana, tiba-tiba pegawai baru tersebut mengajukan pengunduran diri karena ada tawaran lain yang lebih wah. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada pegawai baru itu. Payah, kata alumnus tersebut. Pintar sih pintar orangnya, tetapi soal komitmen tidak bisa diandalkan, lanjut dia. Perusahaan harus kembali ke titik nol untuk mencari pegawai baru dan menjelaskan dari awal spesifikasi pekerjaan.

Pengalaman pribadi, saya pun pernah mengalami kekecewaan soal komitmen mahasiswa. Beberapa mahasiswa pernah datang untuk meminta sesi diskusi. Setelah dicari waktu yang luang antara mahasiswa dan saya, disepakati diskusi akan dilakukan pada hari dan jam sekian. Pada waktu yang telah ditentukan, ternyata mahasiswa yang mau ketemuan tidak nongol-nongol. Tidak ada kabar lewat SMS dari mereka kenapa tidak datang. Ditunggu sampai sore, akhirnya saya pulang saja. Untung saja saya tidak termasuk tipikal orang yang sangat sibuk, jadi yaa… easy going sajalah, masih bisa mengerjakan yang lain, tapi coba kalau hal ini menimpa orang lain yang super sibuk dimana dia harus membatalkan beberapa acaranya guna memenuhi janji dengan mahasiswanya, eh tahu-tahu mahasiswanya tidak datang-datang. Payah ‘kali kau, meminjam istilah orang Medan.

Tentu tidak semua mahasiswa kita seperti itu, tidak pula bisa kita rampatkan semuanya mempunyai sifat serupa. Namun ibarat kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena ulah sebagian yang mempunyai etika kurang baik, akhirnya yang mendapat getah ya insitusi pendidikan juga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Kalau sudah terikat dengan janji, ya harus ditepati. Itu konsekuensinya. Orang yang mempunyai komitmen yang tinggi pertanda orang yang baik, sebab dia mampu menghargai pihak lain. Selama ini pendidikan kita hanya melatih kecerdasan otak semata, sementara aspek lain kurang diperhatikan atau malah diabaikan. Anak didik sering dinilai dari IPK, nilai mata kuliah, kemampuan matematika, Bahasa Inggris, dan lain-lain, padahal sukses dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh angka-angka di transkip akademik saja, tetapi juga integritas moral, kejujuran, amanah, tanggung jawab, etika, dan juga komitmen untuk melaksanakan sesuatu yang sudah disepakati.

Jika Semua Polisi Seperti Ini, Amanlah Negeri

Jarang-jarang ada Kapolda seperti Pak Bachrul Alam ini. Dia memerintahkan semua polisi (yang beragama Islam, tentu) di Jawa Timur untuk mengutamakan shalat guna mewujudkan trust building (membangun kepercayaan). Tidak hanya itu, Pak Kapolda juga minta dicarikan 30 orang polisi yang pandai mengaji Al-Quran untuk shalat subuh, satu hari dibaca 30 juz hingga setiap hari khatam Quran (baca beritanya di bawah ini).

Pak Bachrul Sadar kalau citra polisi di mata masyarakat sangat buruk. Masyarakat mengidentikkan polisi dengan perilaku sogok atau suap (denda uang tilang di jalan misalnya), backing bisnis maksiat, dan lain-lain. Tidak heran ICW (Indonesian Corruption Watch) meletakkan Kepolisian sebagai lembaga negara terkorup. Memang tidak semua polisi begitu, itu hanyalah ulah oknum — demikian pembelaan yang sering dikemukakan — tetapi masyarakat nyaris menganggap hampir semua polisi perilakunya sama saja.

Simak berita tentang hal tersebut di bawah ini (dikutip dari sini):

SURABAYA — Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, meminta anggotanya untuk mengutamakan shalat dibandingkan tugasnya.Permintaan itu disampaikan Kapolda Jatim yang baru itu saat bertemu dengan anggota untuk pertama kalinya di Mapolda Jatim, Senin, setelah serahterima kesatuan pada tanggal 20 Februari lalu.”Pak Anton memberi arahan agar kami mengutamakan shalat, karena shalat akan mewujudkan ‘trust building’ (membangun kepercayaan),” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dra Pudji Astuti MM.

Didampingi Kasubbid Publikasi Humas Polda Jatim, AKBP H Suhartoyo, ia mengatakan Kapolda Jatim berpendapat kepercayaan masyarakat muncul bila kultur polisi berubah.”Untuk mengubah kultur polisi itu, maka sosok polisi sebagai manusia harus berubah dan perubahan manusia sangat ditentukan shalat atau ibadahnya,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, jenderal angkatan Akpol 1980 itu meminta anggota untuk meninggalkan pekerjaan dan shalat bila mendengar azan (panggilan untuk shalat).”Kalau ada tamu, maka ajaklah tamu untuk shalat. Bagi anggota yang non-Muslim dapat mengikuti waktu yang ada dengan berdoa di tempat yang sudah ditentukan bersama,” katanya, mengutip Kapolda.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Jatim juga mencari 30 polisi yang pandai mengaji untuk shalat subuh di Mapolda Jatim, kemudian mengaji bersama di ruangannya.”Pak Anton minta 30 orang, karena masing-masing orang diminta mengaji satu juz Alquran, sehingga setiap hari khatam (tamat atau menyelesaikan) 30 juz Alquran,” katanya.

Menurut Kapolda Jatim, katanya, pembacaan 30 juz Alquran setiap hari di Mapolda Jatim, Mapolwil, dan Mapolres diharapkan akan membuat Jawa Timur menjadi aman, karena mendapat perlindungan dari Allah Swt.”Itu karena waktu setelah shalat subuh itu merupakan waktu turunnya malaikat ke bumi, sehingga doa yang dipanjatkan akan didengar,” katanya, menirukan Kapolda Jatim.

Setelah memberi arahan kepada anggota, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengisi hari pertamanya dengan mengantar mantan Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja ke Bandara Juanda, lalu meninjau latihan pra Operasi Pengamanan Pemilu 2009.ant/kpo

Tentu saja penegakan shalat di kalangan polisi belum menjamin akan tercipta polisi yang bersih. Tidak ada jaminan sekali shalat lalu polisi itu menjadi baik. Banyak juga polisi yang berperilaku kurang baik namun dia dikenal sering shalat. Untuk mencapai insan berperilaku mulia, perlu konsistensi dan kedisiplinan dalam menegakkan shalat, dan yang paling adalah memahami bacaan shalat lalu menjadikan bacaan itu sebagai pegangan moral dalam berperilaku keseharian. Kalau tidak, gerakan-gerakan shalat menjadi kosong belaka, hampa, seperti rangka yang tidak mempunyai jiwa.

But, least or not, gebrakan awal Kapolda Jatim ini patut didukung, niatnya sudah baik (segala sesuatu dinilai dari niat, bukan?). Semoga bukan menjadi sebuah utopia, tetapi realita yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia.

Kunjungan Wapres Muhammad Hatta Tahun 1959 ke ITB

Jangan bosan-bosan lihat foto jadul ya. Ini masih terkait 50 tahun ITB.

Peristiwa 50 tahun yang lalu kembali terulang. Kata orang, sejarah memang selalu berulang.

Tanggal 2 Maret 1959 (kalau nggak salah) Wapres Muhammad Hatta datang ke kampus ITB sesaat setelah peresmian ITB oleh Presiden Bung Karno (lihat fotonya pada tulisan terdahulu). Pada waktu itu rupanya ITB juga mengadakan pameran besar-besaran.

Tanggal 2 Maret 2009 Wapres Jusuf Kalla datang ke kampus ITB guna menghadiri peringatan Dies Emas 50 tahun ITB.

Bung Hatta datang untuk melihat pameran yang diadakan oleh ITB dan open house di berbagai Jurusan/Program Studi pada saat itu. Bedanya, Pak Jusuf Kalla hanya datang sampai ke Sabuga saja dan tidak sempat melihat keramaian pameran Inovasi IPTEKS di yang tengah berlansung di dalam kampus (baca tulisan sebelum ini).

Foto-foto jadul kunjungan Bung Hatta berikut ini semoga dapat membangkitkan kenangan bagi para pelaku sejarah yang masih hidup atau sekedar mengingatkan sejarah bagi mahasiswa ITB saat ini. (Sumber foto: album foto milik Prof. TM Sulaiman yang dipindai oleh T.U STEI ITB dalam rangka peringatan Dies Emas ITB)

1. Bung Hatta berjalan memasuki gerbang di depan Aula Barat.

80

2. Bung Hatta melihat sebuah stand pameran di Aula Barat

85

yang ini juga:

97

3. Mahasiswa ITB jadul melihat stand pameran di Aula Barat

111

atau yang ini:

128

Kalau yang ini mahasiswa di Lab Hidrolika Teknik Sipil sedang menunggu kedatangan Bung Hatta:

132

4. Bung Hatta memasuki Gedung Arsitektur. Lihat para menwa (atau pramuka?), seragamnya masih celana pendek kala itu.

78

dan yang ini:

325

5. Sebuah Lab di Teknik Mesin bangunannya masih seperti yang dulu, lengkap dengan kolam di depannya.

164

6. Dara-dara Jurusan Biologi ITB di stand pameran di sebuah lab Biologi.

295

Bung Hatta melihat fosil Dinasaurus di Lab Geologi:

277

7. Bung Hatta menyimak penjelasan seorang dosen di sebuah Lab. Kursi rotan di lab itu mengingatkan kursi di rumah saya dulu.

237

8. Bung Hatta melihat mesin-mesin pembangkit listrik di Lab Konversi Energi Jurusan Teknik Elektro.

253

Foto-Foto Dies Emas ITB

Tadi siang saya dengan Bu Harlili dan Pak Dwi menyempatkan diri melihat-lihat pameran dan suasana keramaian dalam rangka Dies Emas ITB yang ke-50. Sayang jika dilewatkan karena hanya 50 tahun sekali. Sementara itu di Sabuga ada acara resmi yang dihadiri oleh Wapres. Selama Wapres di kampus, Jalan Tamansari ditutup. Aduh, susah benar hari ini mau ke kampus sebab beberapa ruas jalan macet akibat penutupan jalan Tamansari.

Pameran Dies Emas diadakan di area terbuka di dalam kampus, yaitu jalan-jalan utama kampus, lahan parkir LabTek V dan VIII (saya tetap belum ngeh menyebutnya Gedung Benny Subianto dan Gedung Achmad Bakrie, he..he), lapangan basket, lapangan depan PL, Gedung SC, dan selasar LabTek V dan LabTek VIII. Pameran diikuti puluhan (atau ratusan) perusahaan swasta, BUMN, instansi pemerintah, pokoknya di tempat-tempat yang diisi oleh banyak alumni ITB. Selain pameran, ada juga pertunjukan band, bazaar, dan lain-lain. Ramailah pokoknya selama seminggu ini, sebab pameran da acara Dies berlangsung hingga Hari Sabtu depan.

Saya sempat memotret suasan keramaian dengan kamera ponsel. Di bawah ini beberapa foto-fotonya:

1. Gajah dari rotan (menurut saya inilah maskot acara Dies Emas yang menarik banyak perhatian, yaitu aneka gajah Ganesha dengan berbagai gaya tidak lazim).
dsc00389

2. Para gajah siap menyambut tamu di gerbang utama kampus.
dsc00388

3. Bola emas dies di lapangan basket
dsc00408

4. Mendaki “janjang ampek puluah”
dsc00411

5. Dua fakultas dengan setia “menjaga” sebuah program televisi swasta
dsc00406

6. Umbul-umbul di sepanjang jalan utama kampus
dsc00401

dan yang ini:
dsc00407

atau yang ini layar besar di tengah jalan:
dsc00403

7. Stand pameran di Gedung Student Center (nanti namanya menjadi gedung apa ya? Menunggu alumni yang berani bayar mahal, ho..ho)
dsc00400

8. Panggung musik di depan kolam “Indonesia tenggelam”
dsc00413

Alhamdulillah, Hoka Hoka Bento Sudah Halal

Kemaren ketika melewati restoran Hoka Hoka Bento di Stasiun Kereta Api Bandung, saya melihat logo sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia di restoran ini. Oh, jadi Hoka Hoka Bento sudah dijamin halal?

hokahokabento

mui1

Ketika kembali ke Bandung, saya cari di Mbah Google, ketemu beritanya dari Situs Hoka Hoka Bento, begini bunyinya:

Sertifikat HALAL MUI
Pada tanggal 24 September 2008, Komisi Fatwa MUI telah mengeluarkan SERTIFIKAT HALAL Hoka Hoka Bento no. 00160048830908, sehingga secara resmi seluruh produk Hoka Hoka Bento telah dinyatakan memenuhi persyaratan HALAL. Setelah melalui proses audit yang merupakan prosedur standar MUI, sertifikat ini telah diserah-terimakan ke pihak Hoka Hoka Bento pada tanggal 17 Oktober 2008.

Sertifikat HALAL yang diterbitkan oleh LPPOM MUI Pusat berlaku untuk seluruh restoran Hoka Hoka Bento, dari mulai pemasok bahan baku, logistik sebagai pusat distribusi sampai pengiriman ke setiap restoran. Setiap restoran Hoka Hoka Bento tidak diperkenankan membeli bahan baku dari luar selain dari logistik Hoka Hoka Bento. Jadi proses sertifikasi halal tidak hanya di restoran saja melainkan keseluruhan prosesnya mulai dari pemasok, pengangkutan dari pemasok ke logistik atau restoran, pengangkutan dari logistik ke restoran semuanya di sertifikasi HALAL.

Sejak beberapa tahun lalu saya memang menahan diri untuk tidak makan produk Hoka Hoka Bento (selain itu juga roti BreadTalk, donat J.Co, dll, baca tulisan terdahulu terkait hal ini). Alasannya saya mendengar restoran ini masih ‘abu-abu’ soal kehalalan makanannya. Ada isu — yang entah benar atau tidak — yang menyatakan bahwa restoran ini menambahkan arak Jepang pada masakannya supaya lebih lezat. Karena masih di wilayah ‘abu-abu’ dan belum mendapat sertifikat halal, maka saya memilih untuk berhenti sementara membeli makanan Hoka Hoka Bento, sampai tuntas masalah kehalalannya.

Bagi saya soal kehalalan makanan sangat krusial, tidak peduli restoran tersebut restoran beken dan ramai pengunjungnya. Banyak orang mengira bahwa soal halal haram itu sebatas tentang daging babi saja. Padahal halal dan haramnya makanan cukup luas cakupannya, misalnya: apakah makanan tersebut disengaja mengandung alkohol, apakah ayam atau sapinya disembelih dengan nama Allah, apakah makanan itu makakan sesaji untuk para dewa, leluhur, atau apalah, dan lain-lain.

Alhamdulillah, restoran Hoka Hoka Bento sudah mendapat serifikat halal ke LPOOM MUI, jadi saya tidak khawatir lagi dan bisa makan dengan tenang. Yang saya suka dari restoran ini adalah nasinya yang pulen abis, enak deh. Beras apa sih yang digunakan Hoka Hoka Bento kok enak sekali, apakah beras impor dari Jepang, atau berasnya dicampur beras ketan supaya lebih manis?

Saya rasa mereka tidak rugi tuh mengurus setifikat halal, yang biayanya tidak seberapa (saya dengar 2 juta rupiah), malah mereka akan diuntungkan karena kepercayaan konsumen muslim bertambah (minimal pelanggan Hoka Hoka Bento bertambah satu, yaitu saya, he..he). Lihat saja restoran KFC atau McDonalds, sejak mendapat sertifikat halal dari MUI restoran tersebut tambah ramai pengunjungnya.

Kalau tulisan ini menajdi promosi gratis buat Hoka Hoka bento tak apalah, moga-moga jadi amal baik karena menginformasikan makanan halal.