Catatanku

Soal Komitmen yang Payah

10 Maret 2009 · & Komentar

Rekan saya yang mengurusi kemahasiswaan ITB mengeluarkan uneg-uneg kekesalannya. Katanya, mahasiswa sekarang ini payah sekali komitmennya. Janji tinggal janji. Berjanji mau datang, tetapi tidak nongol-nongol. Dia mencontohkan pengalaman pahit. Sebuah perusahaan di Jakarta mengundang mahasiswa untuk menghadiri acara peluncuran produknya. Perusahaan itu menawarkan 15 orang mahasiswa untuk diundang. Disediakan angkutan gratis pp Bandung-Jakarta, plus akomodasi lain dan sejumlah hadiah sponshorship lainnya. Bagian Kemahasiswaan segera mengumumkan hal ini kepada mahasiswa, siapa yang tertarik silakan mendaftar. First come first serve. Menjelang hari terakhir pendaftaran, yang berminat untuk ikut ternyata banyak sekali. Karena tempat duduk hanya untuk 15 orang pertama yang mendaftar, maka mahasiswa lainnya yang tidak kebagian memohon agar jumlah peserta ditambah lagi. Okelah, staf bagian kemahasiswaan melobi perusahan di Jakarta itu agar jumlah perwakilan mahasiswa ditambah. Lobi disambut baik, perusahaan menyediakan tambahan tempat untuk 25 orang, hampir dua kali jumlah semula.

Di hari H, pagi-pagi sekali, mobil jemputan dari Jakarta sudah menunggu di gerbang kampus. Acara di Jakarta akan dimulai pukul 10.00 pagi. Ada 4 mobil yang disediakan perusahaan pengundang. Hingga pukul 7.00 — batas waktu terakhir penantian — mahasiswa yang datang tidak sampai 8 orang. Kemana yang lainnya? Kemana mahasiswa yang memohon-mohon agar jumlah peserta ditambah? Staf bagian kemahasiswaan sibuk menelpon atau me-SMS ria para mahasiswa yang terpilih dan berjanji mau datang. Sibuk menananyakan kenapa belum hadir jua? Beberapa SMS dijawab, ada yang menyatakan sedang kuliah, ada yang menyatakan ada kesibukan lain, dll. Bagian kemahasiswaan tidak dapat menutup rasa malunya ke perusahaan pengundang. Kemana muka ni mau disurukkan? Yang datang hanya 8 orang, 3 mobil lainnya percuma saja. Konsumsi sudah terlanjur dibeli. Kalau memang ada kuliah atau kesibukan, mengapa bela-belain mendaftar, mengapa memohon-mohon tempat duduk ditambah? Banyak mahasiswa lain yang berminat tetapi terpaksa ditolak karena tempat duduk terbatas.

Payah! Begitulah kita menyebut soal komitmen mahasiswa kita. Institusi tidak hanya malu, tetapi juga terkesan mempunyai citra yang kurang baik dimata perusahaan. Mungkin perusahaan itu berpikir seribu kali kalau nanti mengundang mahasiswa ITB lagi.

Itu contoh satu kasus komitmen yang payah. Seorang alumnus pernah bercerita, perusahaan tempat ia bekerja baru saja menerima pegawai baru yang merupakan adik kelas di jurusannya. Dari sekian banyak pelamar, beberapa orang diterima bekerja. Tetapi, baru 5 hari bekerja di sana, tiba-tiba pegawai baru tersebut mengajukan pengunduran diri karena ada tawaran lain yang lebih wah. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada pegawai baru itu. Payah, kata alumnus tersebut. Pintar sih pintar orangnya, tetapi soal komitmen tidak bisa diandalkan, lanjut dia. Perusahaan harus kembali ke titik nol untuk mencari pegawai baru dan menjelaskan dari awal spesifikasi pekerjaan.

Pengalaman pribadi, saya pun pernah mengalami kekecewaan soal komitmen mahasiswa. Beberapa mahasiswa pernah datang untuk meminta sesi diskusi. Setelah dicari waktu yang luang antara mahasiswa dan saya, disepakati diskusi akan dilakukan pada hari dan jam sekian. Pada waktu yang telah ditentukan, ternyata mahasiswa yang mau ketemuan tidak nongol-nongol. Tidak ada kabar lewat SMS dari mereka kenapa tidak datang. Ditunggu sampai sore, akhirnya saya pulang saja. Untung saja saya tidak termasuk tipikal orang yang sangat sibuk, jadi yaa… easy going sajalah, masih bisa mengerjakan yang lain, tapi coba kalau hal ini menimpa orang lain yang super sibuk dimana dia harus membatalkan beberapa acaranya guna memenuhi janji dengan mahasiswanya, eh tahu-tahu mahasiswanya tidak datang-datang. Payah ‘kali kau, meminjam istilah orang Medan.

Tentu tidak semua mahasiswa kita seperti itu, tidak pula bisa kita rampatkan semuanya mempunyai sifat serupa. Namun ibarat kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena ulah sebagian yang mempunyai etika kurang baik, akhirnya yang mendapat getah ya insitusi pendidikan juga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Kalau sudah terikat dengan janji, ya harus ditepati. Itu konsekuensinya. Orang yang mempunyai komitmen yang tinggi pertanda orang yang baik, sebab dia mampu menghargai pihak lain. Selama ini pendidikan kita hanya melatih kecerdasan otak semata, sementara aspek lain kurang diperhatikan atau malah diabaikan. Anak didik sering dinilai dari IPK, nilai mata kuliah, kemampuan matematika, Bahasa Inggris, dan lain-lain, padahal sukses dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh angka-angka di transkip akademik saja, tetapi juga integritas moral, kejujuran, amanah, tanggung jawab, etika, dan juga komitmen untuk melaksanakan sesuatu yang sudah disepakati.

Kategori: Budi Pekerti

17 tanggapan so far ↓

  • Dhimas L N ---- (^-^)v // 10 Maret 2009 pada 17:34 | Balas

    wah,, wah,, astaghfirullah

  • hilda widyastuti // 10 Maret 2009 pada 18:34 | Balas

    payah….sebaiknya dikeluarkan sangsi untuk para pendaftar acara yang ternyata tidak datang, sebagai pelajaran bahwa dia tidak bisa secara sepihak membatalkan komitmen

  • Badrus // 11 Maret 2009 pada 07:21 | Balas

    He..he..kyaky mrk gk pnah saQt hti krn dhianati x.

  • Oemar Bakrie // 11 Maret 2009 pada 08:47 | Balas

    teman Pak Rin baru tahu ya ? kalau saya dengan masa kerja lebih dari 20 tahun sudah kenyang dibegitukan … hehehe …

  • denz // 11 Maret 2009 pada 11:10 | Balas

    hanya satu kata, kata bang Roma Irama:

    “TERLALU !”

  • reiSHA // 11 Maret 2009 pada 12:27 | Balas

    Biasanya kalo kegiatannya itu gratis, mahasiswa emang sering gitu Pak. Ya namanya juga gratis, ga ada ruginya daftar kalaupun ntar emang ga bisa hadir. Kalau cuma satu orang yang mikir gitu ya ga bakal masalah, tapi kalau banyak, jadi masalah…

  • Billy Koesoemadinata // 11 Maret 2009 pada 12:33 | Balas

    budaya itu musti dirubah.. kalo ga, susah juga nanti cari negarawan sejati.. –> loh, koq malah nyambung ke sana?

  • Treante // 11 Maret 2009 pada 22:22 | Balas

    yup janji adalah hutang, kalo gak ditepati ya… kayak punya kut, ups, utang :-P

  • yudiwbs // 12 Maret 2009 pada 18:22 | Balas

    Mengenai janji dengan mahasiswa saya juga punya pengalaman yang sama. Yg saya lakukan dua hal: Pertama, mahasiswa tersebut harus “diberitahu” (dimarahi tepatnya). Tujuannya supaya dia tidak mengulangi kesalahan yang sama saat lulus nanti, karena merugikan dia sendiri dan memalukan almamater tentunya. Kedua kalau saya tidak ke kampus, tidak ada janjian dengan mahasiswa. Jadi kalaupun mahasiswanya tidak hadir, saya tidak rugi sudah ke kampus.

    Untuk kasus diatas, menurut saya ke-17 mahasiwa yang tidak hadir tadi harus dipanggil pihak jurusan dan mendapat surat peringatan, kalau perlu diumumkan saja biar malu dan memberikan efek jera. Dan tentu saja mereka harus diblacklist untuk kegiatan yang lain.

  • sandy eggi // 18 Maret 2009 pada 12:17 | Balas

    Padahal kesempatan bagus buat engineer dan entrepreneur untuk melihat dan belajar tentang peluncuran produk. Rugi sekali bagi yang membatalkan janji nya.

  • davsam // 21 Maret 2009 pada 23:23 | Balas

    wah, parah juga ya mahasiswa ITB..

    tapi, sepertinya bukan hanya “mahasiswa”, sebagai masyarakat ITB, yang terkadang tidak menepati janji/komitmen itu..
    (cape.. makan ati saya sebagai mahasiswa.. ^^)

  • ade // 11 Mei 2009 pada 22:25 | Balas

    orang hanya akan takut kalau dia merasa selalu diawasi, Nah menanamkan rasa merasa senantiasa malu diawasi oleh-Nya inilah satu2 nya penghalang dari orang berbuat kesalahan…

  • FajarF // 15 Mei 2009 pada 11:35 | Balas

    pathetic juga ya…

  • Aya // 15 Mei 2009 pada 13:46 | Balas

    Dosen juga pernah curhat kalo anak sekarang janjian acc jam 3 baru dtg jam 5 n malah dia yg marah2 karena dosen udh pulang…dosen dianggap ga mendidik…loh? bgemane ini?

  • rubahkelabu // 15 Mei 2009 pada 15:05 | Balas

    lagian kaderisasi di larang sih…. mampus aja deh jadi seneng datang telat mhs jmn skr :P

  • Agung // 27 Mei 2009 pada 14:19 | Balas

    Mungkin karena faktor dosen juga pak? Bukan bapak sih, sejauh dulu saya menjadi murid bapak ga pernah ada kuliah bapak yang tiba2 batal atau molor. Ini pengalaman istri saya sendiri yang sekarang sedang ambil S2 Informatika ITB, beberapa dosennya sendiri juga PAYAH komitmennya. Antara lain :
    1. Telat datang masuk kuliah, kalao dalam rentang 15menit sih ga masalah, tapi udah keseringan sampai lewat 1 jam, dengan berbagai alasan yang tidak jelas
    2. Pembatalan jadwal UTS/UAS yang secara tiba-tiba, tanpa alasan jelas dari sang dosen. Kabarnya, si dosen sendiri belum membuat soal untuk ujian, atau sedang ada kesibukan lain (sibuk apa, mroyekk????)
    Dan masih ada beberapa hal lain yang kurang sreg, yang menunjukkan rendahnya komitmen dosen. Saya tahu, dari nama-nama dosen yang disebut istri saya, mereka juga mengajar S1, kalau dengan mahasiswa S2 saja seperti itu, apalagi dengan anak S1 kali ya..
    Maaf pak kalo jadi tempat unek-unek, tapi mungkin ini bisa jadi introspeksi bersama.
    Fyi, di UI, terutama manajemen, dosen S2 yang mangkir ga jelas bisa dituntut oleh mahasiswa, untuk di-”pecat”, diganti dosen lain yang lebih kompeten. Apakah ITB perlu seperti itu juga?

  • rinaldimunir // 27 Mei 2009 pada 16:07 | Balas

    @Agung: Ini Agung Prihanggoro IF2000? Ya dosen juga manusia biasa, pasti ada plus minusnya. Mudah2an rekan saya yang nggak sengaja membaca komentar Agung ini bisa lebih baik lagi.

Tinggalkan sebuah Komentar