Rumah Sakit Jiwa Siap Menampung Mantan Caleg

Rumah sakit – rumah sakit jiwa (RSJ) di Indonesia siap menampung para caleg yang gagal terpilih dalam Pemilu 2009 (lihat berita di bawah). Pemilu 2009 memang beda sekali dengan yang sudah-sudah. Para caleg tidak hanya bersaing dengan caleg parpol lain, tetapi juga dengan caleg di kandangnya sendiri. Untuk meraih dukungan para pemilih, tabungan terpaksa dikuras, harta dan rumah terpaksa dijual atau digadaikan. Jutaan rupiah uang harus digelontorkan untuk membuat kaos, spanduk, pasang iklan, dan uang angpau buat simpastisan. Benar-benar habis-habisan para caleg ini.

Karena itu, jika tidak terpilih, wajar para caleg ini depresi, frustasi, dan gejala penyakit jiwa lainnya.

RSJ Jabar Siap Layani Caleg Frustasi
(berita diambil dari sini: Republika)

BANDUNG — Separuh calon anggota legislatif di Jawa Barat mengalami gangguan emosional dan depresi. Karena itu, menjelang pelaksanaan pemilu 9 April 2009, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar menyediakan klinik khusus pasien depresi dan layanan konsultasi 24 jam.

Direktur RSJ Provinsi Jabar, Baniah Patriawati, mengakui, separuh caleg di Jabar mengalami depresi dan gangguan emosional. Dia menjelaskan, kondisi itu dinilai wajar. Dia menjelaskan, depresi dan gangguan emosional tidak bisa dijadikan dasar untuk menghalangi niat menjadi wakil rakyat.”Yang tidak boleh itu psikotik (gila) atau gangguan jiwa,” ujar Baniah kepada Republika di kantornya, Rabu (18/3). Dia menyatakan, banyak faktor yang menunjang seseorang mengalami gangguan emosional atau depresi.

Hasil penelitiannya, kata Baniah, 20 persen dari populasi warga Jabar (42 juta jiwa) mengalami gangguan emosional. Gangguan emosional, sambung dia, terjadi pula anak usia di bangku SD, SMP, dan SMA. Untuk itu, imbuh dia, bukan hal yang aneh bila gangguan tersebut terjadi pula pada caleg.

Meski demikian, pihaknya tetap akan mengantisipasi melonjaknya pasien gangguan jiwa, khusus pascapemilu. Menurut dia, bukan hal yang tidak mungkin caleg yang gagal menjadi wakil rakyat mengalami gangguan jiwa.

Antisipasi yang dilakukan RSJ Jabar, sebut Baniah, yakni dengan menyediakan klinik depresi dan layanan konsultasi 25 jam. Bahkan, tambah dia, jumlah sumber daya manusia (SDM) yang akan menangani pasien akan ditambah.

Saat ini, tambah Baniah, di RSJ Jabar terdapat psikiater, psikolog, perawat, rekan medis, psikolog, dokter umum, dan pembantu rumah sakit. Dalam situasi normal, sambung dia, masing-masing profesi menyediakan dua personel.Di musim kampanye dan pemilu ini, pihaknya menyediakan masing-masing profesi sebanyak lima orang. ”Itu bagian dari antisipasi kami, baik untuk caleg atau masyarakat umum,” tambahnya.

Dia menandaskan, fasilitas rawat inap pun disiagakan bagi 285 pasien. Kata Baniah, saat ini sekitar 80 persen dari kapasitas rawat inap sudah terisi.

Psikiater dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, dr Tedi Hidayat, menjelaskan, pada pemilu 2009, ancaman terjadinya gangguan mental emosional caleg lebih berat dibandingkan pemilu 2004. Dia menyatkan, dalam pemilu 2009, caleg yang gagal terpilih menjadi wakil rakyat berpeluang frustasi, cemas, hingga gangguan jiwa berat.”Bisa jadi psikotik (gila),” ujar Tedi kepada Republika, Rabu (18/3). Dia menandaskan, saat ini, baik secara kualitas dan kuantitas, peluang maraknya caleg yang akan mengalami gangguan jiwa sangat terbuka.

Tedi menandaskan, pada musim kampanye sekarang, dipastikan caleg mengalami kecemasan. Banyaknya rival dan pengeluaran uang untuk suksesi pemilu 2009, tambah dia, memberi kontribusi kuat pada kondisi psikologis caleg.

Terlebih lagi, sambung Tedi, warga Indonesia saat ini sudah memiliki bakat mental emosional. ”Tidak pemilu pun sering emosional, apalagi saat menjadi caleg,” tambahnya. san/kpo

Habis-habisan dan Kini Tambah Miskin
(berita diambil dari sini: Kompas)

Walau menolak menyebutkan nominal dana yang telah dikeluarkan selama berkampanye, aktivis yang kini mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Golkar untuk Daerah Pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta, Binny Bintarti Buchori, Rabu (18/3) di Jakarta, mengaku sudah habis-habisan membiayai kampanyenya.

Selama ini ia menerapkan beragam strategi berkampanye, mulai dari mencetak stiker, kalender, hingga buklet yang di dalamnya terdapat foto diri dan sejumlah program yang ditawarkan. Selain itu, ia juga mengunjungi masyarakat di sejumlah kecamatan atau kabupaten di daerah pemilihannya, menggelar pendidikan dan pelatihan di pengajian, pertemuan dengan warga, serta talkshow di radio.

”Untung saya dibantu teman-teman aktivis dan jaringan lain, seperti alumni semasa sekolah. Mereka banyak membantu, bahkan ikut menyumbangkan sejumlah dana,” ujar Binny. Ia juga membentuk tim sukses yang berasal dari sesama aktivis.

Menurut Binny, tidak jarang masyarakat yang dia datangi secara terang-terangan meminta sesuatu darinya, baik dalam bentuk uang maupun fasilitas lain. ”Yang jelas, tambah miskin nih karena keluar duit banyak. Jangan-jangan kalau ada survei statistik lagi nanti, saya bisa masuk kategori masyarakat miskin deh,” ujarnya sambil berkelakar.

Binny mengakui, tidak semua daerah di dapilnya didatangi. Paling sekitar 40 persen lokasi strategis yang dia datangi. ”Saya cuma berkampanye di daerah tertentu. Untuk menarik masyarakat mau datang, biasanya saya memberikan doorprize untuk ibu-ibu atau menyumbang untuk kas RT/RW ala kadarnya,” kata Binny.

Harus sungguh-sungguh

Lain lagi cerita Agung Putri Astrid Kartika, aktivis yang kini menjadi calon anggota DPR untuk PDI- P di Dapil Bali. Ia semula menganggap langkahnya sebagai sesuatu yang belum serius. ”Namun, lama-lama saya merasa hal ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” katanya. Untuk itu, sejak September 2008, ia nonaktif dari jabatan Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat serta hampir selalu tinggal di Bali.

”Menjadi caleg adalah pelajaran yang amat berharga bagi saya. Tidak ada yang dapat dipegang sebagai kepastian saat terjun di dunia ini. Suara rakyat tidak dapat dipastikan, apalagi dengan ketentuan suara terbanyak,” kata Agung Putri.

Menurut dia, suara terbanyak menyulitkan berjalannya mesin partai. Sesama kader partai bersaing dengan bebas. ”Bagaimana mesin partai dapat berjalan efektif jika, misalnya, pengurus partai tingkat provinsi dan tingkat kabupaten sama-sama bertarung memperebutkan kursi DPRD dari dapil yang sama,” katanya.

Agung Putri selama ini lebih banyak memakai jaringan sesama aktivis LSM dan keluarga. Namun, uang memang memegang peranan penting. Apalagi sebagian tokoh di Bali biasa menerima sumbangan, seperti untuk upacara adat, dari orang yang mereka anggap berhasil.

Apakah itu politik uang? ”Hal itu menjadi kebiasaan. Ini yang menjadi tantangan bagi caleg miskin seperti saya,” kata Agung Putri. Ia tidak pernah menghitung uang yang telah dikeluarkan. ”Saya bisa pusing jika memikirkan uang. Pokoknya, jika ada uang, baik dari diri sendiri maupun bantuan teman, dipakai saja,” lanjutnya.

Agung Putri mengakui lebih memilih menawarkan ide tentang keikutsertaan rakyat dalam ruang politik nasional sebagai ujung tombak kampanyenya. Kampanye dengan menghadirkan ribuan orang dalam satu rapat umum tak menarik baginya. ”Saya selalu mengatakan tidak bisa bekerja tanpa kalian. Kalau kalian percaya kepada saya, dukung saya, tetapi jika tidak pilih PDI-P,” katanya lagi.

Aktivis buruh, Dita Indah Sari, yang kini menjadi caleg dari Partai Bintang Reformasi untuk Dapil Jawa Tengah V juga mengaku lebih menggunakan pendekatan pertemuan langsung dengan konstituen untuk menjaring dukungan. Selain bertemu dengan kelompok masyarakat, baik dari kalangan buruh maupun petani, ia juga aktif mengunjungi masyarakat secara langsung dari pintu ke pintu serta menemui mereka di jalan.

Untuk berkampanye, Dita mengaku tidak memiliki dana mencukupi untuk beriklan di televisi maupun radio. Karena itu, ia mengandalkan wawancara di media untuk menyebarkan pemikiran dan profilnya kepada calon pemilih.

Namun, ia mengakui saat ini sudah menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta di luar penyediaan atribut. Ia memperkirakan akan menghabiskan dana tak kurang dari Rp 300 juta. Dana itu 100 persen berasal dari sumbangan keluarga, rekan aktivis, pengusaha, dan aktivis politik lain.

Aktivis The Indonesian Pluralism Institute, Galata Conda Prihastanto, yang menjadi caleg Partai Amanat Nasional untuk DPR dari Dapil Jateng V, pun memanfaatkan jaringan untuk mendulang dukungan. Ia, didukung berbagai lembaga dan aktivis, rutin mengadakan beragam kegiatan, seperti pendidikan bagi pemilih pemula dan pelatihan caleg.

Dengan dukungan itu, ia tak terlalu memikirkan dana. Dana baru tersedot saat harus membuat beragam atribut.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

13 Balasan ke Rumah Sakit Jiwa Siap Menampung Mantan Caleg

  1. wah,, sangat berguna nih rumah sakit. ntar awak rekomendasikan ke yg lain. hihihi

  2. dwinanto berkata:

    Kemarin lihat di berita ada oknum yang membuat penjara nikah siri,. :D

  3. Aris berkata:

    Mereka sampai keluar ratusan juta buat kampanye. Ratusan juta rupiah buat promosi, cetak poster, etc. Coba gabungin caleg2 se-Indonesia. Berapa milyar rupiah habis buat promosi, sementara banyak rakyat yang butuh bantuan langsung… Duitnya malah dipake buat advertising.

  4. bodrox berkata:

    wakakaka… ternyta ada dua jalan yah. satu menuju gedung dewan dan satunya lagi menuju RSJ…

    pengorbanan yang sungguh mahal.

  5. ekoph berkata:

    kalo saja biaya demokrasi ini dirupiahkan, maka bisa buat bayar utang, bisa buat ratusan bahkan ribuan sekolah, bisa buat kredit usaha kecil…
    kalo ujungnya di RSJ mending buat yang sudah saya sebutkan

  6. Ping balik: Peluang Bisnis : Rumah Sakit Untuk Caleg Yang Gagal « Sains-Inreligion

  7. ulfiarahmi berkata:

    yakin??
    rumah sakit jiwa di Indonesia sepertinya tidak mencukupi untuk caleg yang tidak duduk sebagai Aleg.
    karena selama ini, rumah sakit jiwa tidak mencukupi untuk orang-orang gila. Liat saja, masih banyak orang gila yang berkeliaran.
    sekarang saja sudah banyak orang gila yang berkeliaran apalagi ditambah dengan ribuan caleg-caleg yang stres akibat gagal jagi Aleg.

  8. paijo berkata:

    rangkaiannya mestinya gak cuma RSJ,untuk instutusi terkait ada baiknya nyiapin KUBURAN GRATIS bagi caleg yg gagal,terkena serangan jantung&imbas lainnya gitu: dengan karangan bunga & nisan bertuliskan “di sini beristirahat dengan tenang CALEG GAGAL th 2009″

  9. a3u5z1i berkata:

    Jabatan dikejar mati-matian sih :P
    Jadi depresi sih deh begitu gagal…

  10. ieman berkata:

    Sunnguh sangat memprihatinkan melihat fenomena yang terjadi dimana banyak calon calon wakil rakyat yang mengalami depresi karena suara yang didapat jauh dari harapan, apalagi dana yang dikeluarkan bisa dibilang sudah habis habisan.
    Apakah kalaau seandainya dia terpilih akan memprioritaskan kepentingan rakyat atau kepentingan pribadinya (menghalalkan segala cara untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk kampanye)??????
    Wallahualam bisawab.

  11. Humris berkata:

    Demikianlah kenyataannya apabila menjadi caleg perlu banyak biaya untuk menggolkan sampai menjadi anggota Dewan.
    Berhubungan dngan psikiater masuklah ke http://www.keswais.com
    Humris

  12. ny v h berkata:

    ya gitu deh…. pinter2 nya hidup saja

  13. meysa5 berkata:

    kasihannnnnnnnnnn,,,,makanya kalau mau nyaleg harus ikhlas karna allah,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s