Catatanku

Tsunami Kecil di Situ Gintung dan Keajaiban yang Terjadi

30 Maret 2009 · & Komentar

Sedih dan berbuncah kepedihan di hati kita ketika mendengar, membaca, dan melihat warga bangsa kita dihantam ‘tsunami’ kecil di kawasan Situ Gintung, Tangerang pada Jumat dinihari yang lalu. Seperti yang kita lihat di TV atau membaca di portal berita maupun di suratkabar, Situ Gentung jebol dan memuntahkan 2 juta meter kubik airnya ke pemukiman di sekitarnya. Di saat sebagian orang bersiap-siap shalat Subuh dan sebagian lagi masih tertidur lelap, air bah setinggi 5 hingga 10 meter menghantam apapun yang dilaluinya. Rumah-rumah hancur diterjang air bah termasuk penghuni di dalamnya ikut terseret dibawa arus. Air bah yang mendadak itu mengingatkan kita pada tsunami dahsyat di Aceh akhir tahun 2004. Bedanya, di Aceh tsunami berupa air laut sedangkan di Tangerang berupa air danau. Hingga tulisan ini dibuat, sudah hampir 100 mayat ditemukan dan masih ratusan lagi warga yang dinyatakan hilang atau mayatnya belum ditemukan.

Foto Situ Gintung yang indah sebelum musibah terjadi (foto diambil dari www.panoramio.com):
situ-gintung

Foto Situ Gintung yang jebol (sumber: Detik.com):

situ-gintung2

Foto kawasan Situ Gintung, saat pemantauan udara menggunakan helikopter. Rekahan tanggul yang jebol dan situ yang telah mengering membuat warga dari berbagai kalangan datang berduyun-duyun untuk melihat (Sumber: Kompas Online):

gintung2

Foto-foto lainnya (diambil dari Kompas Online, yang merupakan kiriman dari seorang pembaca):

Sebelum tragedi:
gitung-before

Sesudah situ jebol:
gintung-after

Perbandingan lainnya:
gintung

Seperti biasa, bangsa kita mempunyai rasa solidaritas yang tinggi setiap kali ada musibah atau bencana alam yang datang. Bantuan segera mengalir, ratusan atau ribuan orang bahu membahu memberikan pertolongan, mengevakuasi mayat, dan sebagainya. Posko-posko bantuan segera bermunculan di sekiat daerah bencana, tidak ketinggalan para caleg dan parpol yang tengah sibuk kampanye juga ikut turun tangan ke sana. Tidak tertutup kemungkinan keterlibatan caleg dan parpol yang memasang bendera mereka di sana untuk meraih simpati publik. Tetapi, kita berbaik sangka sajalah, mudah-mudahan saja niat mereka tulus membantu, tidak ada niat tersembunyi lain.

Diantara banyak orang yang peduli dengan musibah Situ Gintung, ada saja sebagian pihak yang kurang terasah kepekaannya. Sehari setelah kejadian, sebuah televisi swasta tetap menyiarkan acara hura-hura dari sebuah Kemayoran secara live, seakan-akan peristiwa yang berjarak kurang lebih 10 km dari Jakarta itu tidak pernah ada. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa pasca tsunami Aceh yang terjadi menjelang tahun baru 2005 dan menewaskan ratusan ribu warga Aceh (termasuk yang dinyatakan hilang). Perayaan tahun baru di berbagai tempat maupun di televisi tetap berlangsung semarak dan meriah, puluhan ribu orang tetap berjoget di panggung-panggung hiburan seakan-akan musibah tsunami itu tidak pernah terjadi.

Kalau pihak-pihak itu sedikit peka, mereka bisa mengundurkan acara hura-hura itu sampai situasinya memungkinkan, atau dilangsungkan saja secara sederhana, sementara uang hasil pertunjukan digunakan untuk membantu korban Situ Gintung yang rumahnya sudah lenyap disapu air bah.

Baiklah, lupakan sejenak perilaku hodonisme sebagian orang di ibukota itu. Marilah lihat sebuah fenomena langka. Pada setiap bencana, selalu saja ada keajaiban atau ‘mukjizat’ yang terjadi. Masjid Jabalur Rahman yang berada sekitar 50 meter dari tanggul Situ Gintung yang jebol, tetap berdiri kokoh meski sebagian besar bangunan di sekitarnya lenyap atau rusak berat diterjang air bah dari danau itu (lihat foto di bawah ini, foto diambil dari sini).

masjid-jabalurrahman

Foto Masjid Jabalur Rahman lebih dekat (Sumber: Detik.com):

masjid-jabalurrahman2

Dikutip dari situs tersebut: Wartawan ANTARA yang mengujungi masjid itu Minggu melaporkan, nyaris tidak ada kerusakan pada masjid bercat putih yang tingginya sekira 10 meter tersebut.

Sementara berbagai bangunan di sekitarnya rusak berat, bahkan ada yang luluh lantak dan tengah dibersihkan oleh tim SAR gabungan. “Saya tak tahu, mungkin ini mukjizat,” kata seorang warga, Ade (26 th). Tanggul jebol pada Jumat (27/3) dini hari hampir bersamaan dengan dilantunkannya azan Subuh di masjid itu.

Kejadian langka seperti ini juga mengingatkan kita pada tsunami di Aceh. Beberapa masjid di Aceh tetap kokoh berdiri meski tsunami yang setinggi lebih dari pohon kelapa menerjang kawasan hingga jauh ke daratan. Lihat foto-foto di bawah ini (Sumber: Detik.com):

clip_1

clip_3

clip_4

clip_2
Apakah semua masjid ’selamat’ dari amukan air bah/tsunami seperti masjid Jabalur Rahman di Situ Gintung atau masjid-masjid yang di Aceh itu? Tidak juga. Banyak juga masjid dan mushala yang hilang diterjang air bah, hancur, rusak parah, dan sebagainya. Sunnatullah berupa hukum alam tetap berlaku. Bangunan-bangunan kokoh seperti gedung maupun Rumah Allah (masjid) sekalipun tetap tunduk pada sunnatullah itu, bahwa kekuatan alam yang dahsyat tetap tidak bisa ‘dilawan’ oleh mereka. Energi yang sangat besar dari dorongan air bah terlalu kuat bagi bangunan-bangunan tersebut. Mereka hancur juga ditelan air bah, termasuk masjid sekalipun. Allah SWT tidak mungkin mengingkari sunnah-Nya.

Lalu, mengapa ada satu dua masjid yang tetap kokoh berdiri seperti Masjid Jabilur Rahman di Situ Gintung atau yang masjid di Aceh itu? Apakah kekuatan alam memilih-milih sasaran? Bagaimana mungkin kekuatan alam yang maha dahsyat itu tidak berhasil menggoyahkan masjid di sana? Bagaimana menjelaskan semua ini? Insinyur Sipil sekalipun pasti heran sebab secara teori dorongan air bah dengan kecepatan alir yang tinggi seharusnya sudah menghancurkan masjid Sabilur Rahman itu, tetapi yang terjadi sebaliknya. Jika rasio kita tidak berhasil menjelaskannya, maka keimananlah tempat berpulang jawabannya. Sebagai orang beriman, kita hanya bisa berkata: Allahu akbar. Wallahu alam bissawab, hanya Allah SWT yang tahu jawabannya. Allah SWT menghancurkan banyak rumah termasuk sebagian masjid/mushala pada musibah Situ Gintung, tetapi meninggalkan sebuah satu masjid kokoh berdiri tentu ada maksud atau hikmahnya. Hikmah dari fenomena ini adalah untuk menunjukkan kebesaran-Nya agar manusia bertambah-tambah imannya kepada Allah SWT, dan tidak menjadikan bencana itu untuk menjauh dari Allah SWT, tetapi malah menjadi lebih dekat dan lebih bertawakal kepada-Nya dengan melihat keajaiban ini.

Mudah-mudahan kita diberi hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian.

Kategori: Indonesiaku

30 tanggapan so far ↓

  • dwinanto // 30 Maret 2009 pada 22:07 | Balas

    Info dari rekan yang membantu langsung ke TKP dari KM ITB, ternyata banyak parpol yang membuka posko namun tidak banyak membantu atau bahkan sekedar tampang wajah dan ingin membentuk image, padahal sebenarnya mereka hanya menyulitkan proses evakuasi dan pemberian bantuan semata,.

  • hastu // 31 Maret 2009 pada 06:59 | Balas

    subhanalloh
    mari kita sama2 mulai latihan belajar agar tragedi yg demikian tak kan pernah terulang lagi kelak

  • arifromdhoni // 31 Maret 2009 pada 08:34 | Balas

    Allaahu akbar. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Perlu muhasabah. Semoga Allah tidak menimpakan adzab bagi penduduk negeri ini.

  • Aden Kejawen // 31 Maret 2009 pada 09:21 | Balas

    Allah itu lebih tau dan seharusnya dari sini kita bisa mengambil Ibroh!

    salam kenal dan tukeran link yukkkk

  • ekoph // 31 Maret 2009 pada 09:53 | Balas

    Barangkali masjid yang tetap berdiri kokoh adalah masjid yang selalu disejahterakan oleh ummatnya

  • ika // 31 Maret 2009 pada 10:48 | Balas

    inalillahi wainailaihi roojiun, saudara2koe aku pun turut merasakan kepedihanmu, saudaramu adalah saudaraku juga, anakmu adalah anakku juga,keluargamu adalah keluargaku juga, lukamu adalah luka ku juga, pedihmu adalah pedihku juga. sabar dan tabahlah wahai saudaraku ambil hikmah dari ini semua dan jangan pernah lupakan Allah SWT, ini rencana Allah. Allah sayang pada kalian semua saudaraku. Lope U all…..

  • airyz // 31 Maret 2009 pada 12:42 | Balas

    turut berduka cita yang sedalam-dalamnya

  • omiyan // 31 Maret 2009 pada 13:31 | Balas

    Allah telah memperingatkan kita semua

  • Amaranth // 31 Maret 2009 pada 14:58 | Balas

    Mungkin kalau bikin rumah, harus belajar dari konstruksi masjid.

  • majelis fathul hidayah // 31 Maret 2009 pada 16:10 | Balas

    HAI KAUM YAHUDI WANASHORO…

    INI JELAS-JELAS ALLOH MAHA KUASA DAN ISLAM AGAMA YANG HAQ…

    KUNJUNGI MAJELIS FATHUL HIDAYAH..

  • Patriot muslim // 31 Maret 2009 pada 18:59 | Balas

    Segala bencana atau kerusakan bumi akibat ulah manusia begitu kata allah dalam alqur’an jadi sudah jelas allah maha mengetahui dan wahai orang orang yang inkar kita boleh belajar kenapa tanggul bisa jebol secara tehnik dan allah tidak melarang bila ingin tahu tapi anda jangan lupa allah sudah jelas jelas berkata akibat ulah manusia’ silahkan anda berpikir’ maha benar allah dengan segala firmanya

  • ninta // 1 April 2009 pada 07:24 | Balas

    Masyaalah yang namanya musibah bisa terjadi kapan saja, dimana saja tanpa diduga…..sudah siapkah kita jika sewaktu-waktu menimpa kita?Mari kita jadikan pebelajaran ….

  • kanjenkratoe // 1 April 2009 pada 08:27 | Balas

    itu bisa di ambil hikmahnya.kalo bikin rumah,konstruksi plus isi-isinya kudu kek masdjid

  • Mas Gaptek // 1 April 2009 pada 08:36 | Balas

    Ada satu contoh lagi yaitu masjid di banda aceh, tapi sayang saya tidak punya fotonya.

  • Fauzan // 1 April 2009 pada 08:41 | Balas

    kita bisa mengambil hikmahnya dalam kejadiaan seperti ini, karena kl kita liat itu bisa terjadi oleh siapa pun.

  • Admin // 1 April 2009 pada 09:24 | Balas

    ya begitu lah

  • beraniisteri // 1 April 2009 pada 13:00 | Balas

    saya juga turut belasungkawa atas tragedi situ gintung, moga kita yg selamat dr bencana ini dapat menerima dan introfeksidiri lagi,itulah yg dikatakan pada pituah “jika ada yg berjinah, yg menerima azabnya sebanyak 40 rumah” or menanggung dosanya. ingat kata2 tsb? ini pun setelh meliwti batas/keliwat batas. terimalah apa yg terjadi itulah kehendakKU, maka bersyukurlah pd setiap kejadian itulh AKU ALLoh, yg berkuasa di DUNIA ini. kita tdk punya apa, tdk bisa apa, kecuali AKU beri kuasaKU. amin moga sadar dan menyadarinya….

  • Rindu // 1 April 2009 pada 19:03 | Balas

    Innalillahi wa inna illahi rajiun …

    Tulisan saya untuk situ gintung: http://rinduku.wordpress.com/2009/04/01/gerimis-menyisakan-embun/

  • deni // 2 April 2009 pada 10:51 | Balas

    ketika Alloh berkehendak maka tidak ada satupun ciptaanNya yang bisa menghalangi….
    dengan banyaknya masjid yg masih tegak ketika sekitarnya hancur, mungkin Alloh hanya ingin mengingatkan: kembalilah ke ‘rumahKu’, kembalilah hanya ke Aku, kembalikan segala urusanmu hanya kepadaKu.

  • Catra // 4 April 2009 pada 10:24 | Balas

    Sedih, kenapa negara kita tak henti2 nya dirundung bencana…
    Apa yang salah bagi kita ya pak?

  • anikeren // 6 April 2009 pada 09:56 | Balas

    Turut berduka cita atas korban-2 yang terkena musibah. Tetangga saya termasuk salah satu korban. Mungkin sudah jalan berpulangnya, saat kejadian berlangsung almarhum menginap di rumah mertuanya dekat situ itu, bersama istrinya yang sedang mengandung putra pertama 3 bulanan. Saya merasakan kesedihan yang mendalam padanya saat ta’ziah maupun tahlilalan setelahnya.

    Mengenai masjid-masjid itu, saya percaya adalah mu’jizat Allah. Namun konstruksi masjid bisa jadi “mampu” menghindarkan terjangan air bah. Biasanya masjid/musholla banyak pintu / jendela yang terbuka sehingga air leluasa melewati jendela/pintu tersebut, sehingga meminimalkan tekanan terhadap tembok-2nya. Wallahu alam bissawab.

    BTW, saat ini kami sedang berusaha merampungkan bangunan masjid/musholla sebelah rumah. Mudah-2an pembaca diberikan kelebihan rejeki untuk membantu kami. Selengkapnya di sini
    http://mushollaannur.wordpress.com/about/

    Wassalam
    Terimakasih (juga buat P Rin, numpang lewat link itu)

  • Peace // 11 April 2009 pada 16:53 | Balas

    @majelis fathul hidayah
    Sudah kena musibah masih maki,,
    kapan tobatnya? and kapan selesai bencana di negri ini, kalau orang2 spt anda masih hidup?

  • Fandy // 13 April 2009 pada 05:15 | Balas

    Subhanallah

  • kartining // 16 April 2009 pada 13:50 | Balas

    innalillahi wainallilahi rojiun!
    warga nganjuk turut berduka cita atas tragedi situ gintung.semoga warga diberi ketabahan yang melinpah,amin

  • hamba Alloh // 17 April 2009 pada 13:36 | Balas

    subhanalloh……..semakin yakin dengan islam

  • abith // 28 April 2009 pada 17:10 | Balas

    bangunan akan berdiri kokoh jika dibangun di atas pondasi yang kuat….
    demikian juga pohon akan kuat dan tidak mudah tumbang jika akarnya kuat….
    orang bodoh mendirikan rumah diatas pondasi pasir, tetapi orang bijaksana membangunnya di atas batu karang….
    yang jadi pertanyaan adalah :

    ” AKAR APA YANG KITA TANAM DALAM HATI KITA???

    (g nyambung ya?? ? :) )

  • Ghema // 26 Mei 2009 pada 19:16 | Balas

    Bner-Bner Mukjijat bgt….
    Mksh bwd Situs nie
    tgs quh kbntu bgt…

  • Jojo // 31 Juli 2009 pada 10:06 | Balas

    Itulah kebesaran Tuhan dan sekaligus peringatan bagi manusia bahwa kalau Tuhan menghendaki maka terjadilah

  • bagas // 24 Agustus 2009 pada 23:56 | Balas

    saya sgt sdh…bah kan menetes kan air mata..atas ke jadian sunami d aceh…kita smua yg d seluruh indonesia dapat plajaran atas kjadian sunami di aceh… itu satu pertanda buat kita2yg masih sehat waalpiat…ya mungkin kita semua tau kalau aceh itu sangat d siplin tentang agama islam…jd bagi yg d luar aceh mungkin masih banyak yg blum mengerti tentang agama….marilah kita sadarin atas dosa2 kita… kita berdoa untuk saudara2 kita yg sudah berpulang d rahmad tulalh….wsslm…

  • azrialmaualana // 12 Oktober 2009 pada 22:32 | Balas

    Jangankan bangunannya, bahkan cat nya pun tak berubah. Tetap putih suci kehadirat Ilahi

Tinggalkan sebuah Komentar