Antara Abon Babi dan Flu Babi

Ada dua peristiwa yang menghebohkan di Indonesia dalam waktu berturutan sebulan ini. Pertama, di pasaran ditemukan abon dan dendeng sapi yang sudah dicampur dengan daging celeng (babi hutan). Masalahnya, dendeng dan abon itu pada kemasannya hanya tertulis sebagai dendeng sapi saja atau abon berbahan daging sapi, malah mencantumkan label HALAL lagi. Ini jelas-jelas bentuk penipuan dan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebab pengusaha abon/dendeng melakukan pengelabuan. Pengusaha tersebut tampaknya ingin mencari untung besar dengan cara murah (harga daging celeng jauh lebih murah daripada daging sapi). Masalah ini menjadi krusial sebab menyangkut aspek keagamaan yang sensitif, karena daging babi diharamkan dalam Agama Islam. Ayat yang jelas menyebutkan larangan memakan daging babi terdapat di dalam Surat Al-Ma’idah ayat 3: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,…” (Qs. Al-Ma`idah: 3), selain itu juga disebutkan di dalam An-Nahl :115, Al-Baqarah: 173 dan Al-An’am 145.

Jikalau hanya memproduksi dendeng babi atau abon berbahan daging babi lalu pada label kemasannya dicantumkan dengan jelas terbuat dari daging babi tentu bukan sebuah persoalan. Kita juga menyadari bahwa konsumen daging babi ada dan jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Mereka mempunyai hak untuk mengkonsumsinya. Konsumen daging babi antara lain komunitas Tionghoa, umat kristiani, orang Bali, orang Papua, orang Dayak, Nias, Batak, Toraja, dan lain-lain. Sebagai sebuah negara yang majemuk, negara melindungi hak warganegara untuk mengkonsumsi makanan yang mereka sukai, namun di sisi lain negara juga wajib melindungi hak wargannya dari konsumsi yang dilarang ajaran agama. Waktu saya ke Manado saya pernah melihat di pasar swalayan ada konter yang menjual daging kelelawar (paniki dalam bahasa Manado) dan daging tikus hutan. Ternyata orang Manado menggemari paniki dan tikus hutan. Kita juga tahu orang etnis Batak menggemari daging anjing.

Nah, tidak ada yang salah soal makanan yang digemari setiap orang, namun perlu ada aturan yang mengatur peredarannya sebab ada komunitas lain yang tidak boleh memakannya. Daging babi haram dalam agama Islam, sebaliknya daging sapi haram bagi penganut Hindu. Karena Indonesia ini negara plural, maka kejelasan bahan baku sebuah makanan sangat mutlak ada dan konsumen perlu dilindungi hak-haknya. Oleh karena itu aturan produksi dan peredaran makanan perlu ditaati agar hidup berlangsung harmoni. Konter penjualan daging babi misalnya jelas tidak bisa disatukan dengan konter daging sapi atau daging ayam. Rumah potongnya juga tersendiri (rumah saya di Padang dekat dengan tempat pemotongan babi, yaitu di daerah Terandam, Padang). Lalu, ada tulisan yang tertera dengan jelas menyatakan bahwa daging yang dijual di situ adalah daging babi agar konsumen Muslim tidak salah memilih. Hal yang sama juga berlaku pada makanan kemasan seperti abon, dendeng, sosis, baso, dan lain-lain yang mencantumkan label PORK atau mengandung bahan dari babi.

Entah kebetulan atau tidak, sesudah isu dendeng dan abon babi ini mulai mereda, bangsa kita dihebohkan dengan kemunculan isu flu yang ganas, yaitu flu babi. Bermula dari negara Meksiko, ratusan orang telah meninggal dunia karena terserang flu babi. Flu babi disebabkan oleh virus yang bermutasi di dalam tubuh babi, kemudian menular kepada manusia (biasanya di daerah peternakan babi). Setelah tertular pada manusia, virus ini dapat menular dari manusia ke manusia lain. Jadi, perantara virus tidak hanya babi, tetapi juga orang.

Flu ini sudah menjadi epidemi di Meksiko, lalu berkembang ke negara tetangganya, Kanada dan AS. Saat ini, setiap penumpang yang berasal negara-negara itu dipindai di bandara dengan peralatan termostat untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. Jika ditemukan penumpang yang terkena flu, maka penumpang tersebut dikarantina agar virus flu tidak berkembang di negara tujuan.

Akibat flu babi ini, dunia menjadi heboh. Perekonomian dunia menjadi terganggu, efeknya terasa pada perdagangan saham di lantai bursa. Dunia dilanda kepanikan dan kewaspadaan luar biasa. Benar-benar paranoid. Isu flu babi ini mengingatlan kita pada isu flu burung yang menghebohkan tahun lalu dan sampai saat ini dunia masih belum berhasil dibebaskan dari virus flu burung.

Yang menjadi perhatian saya, kata “babi” pada flu tersebut juga cukup sensitif mengingat babi diharamkan dalam dua komunitas agama, yaitu Islam dan Yahudi. Di Israel, istilah flu babi diganti dengan flu Meksiko karena Yahudi merupakan agama mayoritas di Israel. Di dalam Taurat — kitab suci umat Yahudi (disebut juga kitab Perjanjian Lama) — tegas disebutkan larangan memakan daging babi. Saya cari di Google ayatnya, ketemu begini: di dalam kitab Imamat 11 : 7-8 disebutkan “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.” Larangan serupa juga tercantum di dalam kitab Ulangan 14:8, Yesaya 65:2-4 dan Yesaya 66:17.

Di Indonesia, mengganti istilah flu babi dengan nama flu Meksiko tidak mudah sebab istilah flu babi sudah lebih dulu dipopulerkan oleh media massa. Apapun namanya, jangan sampai flu babi berkembang di Indonesia. Flu burung saja belum tuntas.

Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya UKM 2009

Hari Minggu siang saya ketemu Catra, mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2006, di Sabuga (baru kali ini saya ketemu muka sama kamu, Cat, biasanya cuma di blog). “Pak, mana ulasannya di blog tentang malam pagelaran UKM?”, tanya si Catra ini. He..he, sepertinya ‘wajib’ bagi saya untuk menulis setiap kali pertunjukan UKM ya, Cat. Memenuhi permintaan Catra, saya tuliskan hasil pandangan mata tentang malam pagelaran seni budaya Unit Kesenian Minang ITB tanggal 25 April 2009.

Malam itu saya datang dengan anak saya, untunglah acara belum dimulai (semoga bukan karena menunggu kedatangan saya ya). Secara tidak sengaja di sebelah saya duduk Dirut Excelcomindo (XL), Pak Hasnul. Pak Hasnul yang urang Bukittinggi dan pernah menjadi Dirut PT Indosat itu ternyata orangnya mungil :-) . Biar mungil tapi cerdas, karena itulah alumni Elektro ITB ini dipercaya menjadi dirut Indosat, salah satu BUMN besar.

Secara umum, malam pagelaran budaya UKM tahun ini tidak berbeda dengan format acara tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas berupa drama Minang yang dibaluti dengan aneka tarian dan musik tradisional talempong, saluang, dan pupuik sarunai. Penonton membludak memenuhi Sabuga. Padat, malah luber ke lantai dasar panggung. Diperkirakan jumlah penonton mencapai 2000 lebih. Penonton tidak hanya anak-anak muda (mahasiswa rantau), tetapi juga orang-orang tua yang ingin melepaskan rasa lapeh taragaknyo dengan kampuang halaman. Sepertinya pertunjukan UKM ITB selalu mempunyai daya pikat, terbukti yang datang tidak hanya urang awak, tetapi juga mahasiswa non-Minang lainnya. Dari ukuran jumlah penonton, boleh dibilang penonton pertunjukan UKM ITB adalah nomor 2 terbanyak setelah unit Ludruk ITB.

Di bawah ini satu foto hasil jepretan kamera ponsel, sayang tidak terlalu jelas karena lupa memakai modus malam.

dsc00448

Secara umum pertunjukan kali ini berhasil memuaskan penonton. Dukungan peralatan multimedia membuat aura pertunjukan terasa megah. Layar di sisi panggung membantu penonton yang tidak mengerti Bahasa Minang untuk mamahami jalan cerita, dengan menayangkan teks dalam Bahasa Indonesia untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski demikian pertunjukan kali ini tetap tidak bebas kritik. Ada beberapa kekurangan yang saya perhatikan. Pertama, pertunjukan terlalu panjang sehingga baru selesai pukul 23.15 WIB (anak saya sampai ketiduran di kursi, tak kuasa menahan kantuk, he..he). Penyebab panjang adalah karena ada adegan yang memakan waktu berlebihan, yaitu adegan bagarah-garah (banyolan) 1 dan adegan bagarah-garah 2 (saya mencatat 2 jam untuk kedua scene ini). Mungkin pemain bagarah-garah ini terlalu tersanjung karena banyolannya berhasil mengocok perut penonton sehingga mereka semakin semangat untuk terus maota lamak.

Kedua, nah ini dia, soal tari. Hampir semua tarian adalah kreasi baru, termasuk tari piriang nan legendaris itu. Sayangnya, karena terlalu banyak dimasuki unsur kreativitas, akhirnya keluar dari pakem. Padahal, penonton yang datang tidak hanya anak muda, tetapi juga para orangtua yang rindu melihat tarian yang masih klasik (asli). Oh ya, tarian yang dikeluarkan gerakannya nyaris seragam, jadi terasa agak menjemukan.

Yah, mudah-mudahan pertunjukan tahun yang akan datang lebih bagus dan lebih menarik lagi untuk semua kalangan.

Makan Spagheti Enak Tapi Murah, Diantar Lagi

Mau makan siang tapi malas keluar ruangan, maunya makanan diantar hingga ke pintu rumah atau ruang kerja. Mau makan spagheti yang enak tapi murah. Dimana ya? (di Jalan Ganesha ada restoran Warung Pasta, tapi harganya cukup mahal dan menurut saya rasanya biasa-biasa saja).

Oh, ternyata ada. Saya ketemu situs web yang menawarkan spagheti yang — kata mahasiswa saya — rasanya enak banget tapi harganya murah, dan hebatnya lagi diantar dalam keadaan hangat ke tempat kita tanpa tambahan ongkos antar. Yang terpenting dari semua itu ada jaminan halal. Ini dia situsnya: http://www.farfallepasta.com.

Farfalle Pasta sepertinya usaha rumahan — beralamat di Jalan Sariwangi (Perumahan Sarijadi) — menyajikan pasta (spagheti dan fusili) dengan cita rasa Italia dan Oriental yang lezat, sehat, dan bergizi (wah, saya ikutan berpromosi punya mereka nih).

Ini daftar menunya:

spagheti

Ada spicy tuna dengan saus tomat yang pedas dan pakai keju, ada bolognese berupa saus dengan daging cincang dan sayuran segar, ada hot sweet addict berupa saus udang dengan paprika dan jus lemon, dan lain-lain. Harganya hanya Rp 7000 hingga Rp 8500 ukuran regular. Cukup kirim SMS atau email atau telpon langsung maka pesanan spagheti yang enak itu datang ke tempat kita dalam waktu 30 hingga 45 menit (tergantung jauh dekatnya) tanpa ongkos antar.

Berbekal info di situs web tadi, saya dan Bu Harlili memesan dua macam spagheti yang pedas-pedas, yaitu spicy tuna dan hot sweet addict. Dalam waktu setengah jam (berhubung jarak ITB dengan Sarijadi dekat) pesanan sampai ke lab kami.

Wow, spaghetinya dibungkus di dalam alumunium foil sehingga kehangatan spagheti tetap terjaga sampai ke tempat kita (sebuah strategi marketing yang jitu). Saus/bumbunya sengaja kami minta dipisah supaya nanti dicampur pas mau makan saja.

dsc00426

Setelah dipindahkan ke piring, ini dia spaghetinya (spicy tuna):

dsc00428

Bismillahirrahmaanirrahim, yuk kita makan spaghetinya. Rasanya? Benar-benar mantap euy , edan…bumbu sausnya terasa banget. Kalah deh spagheti di restoran mahal. Benar juga seperti yang ditulis di dalam about us mereka, pasta yang ini dibuat dengan science, art, dan standard yang tingi.

Saya rekomendasikan pada anda yang ada di Bandung untuk mencoba spagheti yang enak dan murah ini. Cukup sms saja ke 081321195125 atau telpon ke 2016126 atau kalau lagi di depan komputer e-mail ke: info@farfallepasta.com.

Pilpres 2009 Tidak Menarik Lagi

Usai Pileg 2009 segera menyusul Pilpres 2009 pada bulan Juni nanti. Di atas kertas Pilpres akan diikuti paling banyak 3 pasang calon presiden – wakil presiden. SBY sudah dipastikan maju sebagai capres dari Partai Demokrat, partai pemenang Pemilu 2009. SBY saat ini lagi kasak kusuk mencari calon pendampingnya. Nama-nama yang beredar sebagai calon wapres masih yang itu-itu juga, antara lain JK, Hidayat NW, Akbar Tanjung, Sri Mulyani dan Din Syamsudin.

Selain SBY, calon presiden yang akan maju kemungkinan besar Megawati. Mega juga sedang dalam tahap meminang kesana-sini calon pendampingnya sebagai wapres. Nama-nama yang beredar sebagai pendamping Mega antara lain Sri Sultan, Prabowo, Wiranto, dan Sutiyoso.

Siapa lagi pasangan capres dan cawapres yang ketiga? Belum diketahui siapa, kemungkinan gabungan partai papan tengah menggodok koalisi untuk memajukan calon baru. Nama Prabowo santer terdengar.

Tapi, siapapun pasangan capres dan cawapres yang akan maju, diperkirakan pemenangnya sudah bisa ditebak, yaitu SBY. Hasil pemilu yang memenangkan Partai Demokrat menunjukkan bahwa rakyat menginginkan SBY lagi. Sebagian besar pemilih Partai Demokrat pada Pemilu yang lalu memilih Partai Demokrat karena figur SBY, bukan karena program partai atau ideologi partai tersebut.

Megawati? Oh, saya yakin dia sulit untuk menang siapapun calon wakil presidennya. Rakyat sudah tahu rekam jejak (track record) selama dia menjadi presiden. Pamor Mega sudah pudar. Hasil pemilu 2009 yang menghasilkan perolehan suara PDIP merosot tajam adalah pertanda berakhirnya era Mega. Jadi, sebaiknya Mega pikir-pikir lagi kalau mau maju dalam Pilpres 2009 sebelum dipermalukan oleh SBY untuk kedua kalinya.

Prabowo? Masih jauh untuk merebut kemenangan. Reputasi dan prestasinya belum teruji. Sebaiknya Prabowo bersiap diri untuk Pilpres 2014 saja sebab pada tahun 2014 SBY sudah tidak bisa mencalonkan diri lagi (sudah 2 kali menjadi presiden). Calon lain seperti Megawati, Wiranto, Amien Rais, dll juga tidak bisa maju lagi karena sudah tua. Hanya Prabowo yang masih relatif muda dari calon yang ada saat ini.

Jadi, buat apa lagi ya Pilpres 2009 kalau pemenangnya sudah bisa diprediksi sebelum Pilpres dilaksanakan, yaitu SBY. Pilpres 2009 nanti tidak seru dan menarik lagi. Saya masih mempertimbangkan akan memilih atau tidak pada Pilpres 2009 nanti.

Kisah Bibi Penjual Ubi Cilembu

Ada banyak perempuan perkasa di dunia ini. Perempuan yang setiap hari berkerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya setelah ditinggal mati (atau pergi) oleh suaminya. Panas dan hujan bukanlah penghalang rintang bagi mereka untuk mencari sesuap nasi. Demi perut dan masa depan anak-anaknya, mereka rela mengarungi kerasnya kehidupan untuk mencari rezeki yang halal.

~~~~~~~~~~

Siang itu ketika akan berangkat ke kampus, tiba-tiba pembantu di rumah memanggil saya. “Pak, aya bibi penjual uwi cilembu. Minta dibeli ubinya, ceunah, buat meser nasi”, teriak pembantu saya dari bawah. (meser, bahasa Sunda, artinya beli; aya = ada, uwi = ubi, ceunah = katanya)).

Ubi Cilembu, siapapun sudah tahu rasanya enak dan legit. Ubi ini sudah terkenal di seluruh Iindonesia bahkan sudah diekspor ke beberapa negara antara lain ke Jepang. Ubi Cilembu berasal dari daerah Cilembu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Saya sudah sering lihat ibu ini. Dia sering lewat di depan rumah menjajakan ubi Cilembu dalam kantong-kantong keresek. Satu kantong isinya 2 kilo dan harganya Rp 10.000. Kantong-kantong ubi itu dibawa dalam gendongan di punggungnya, sebagian lagi dijinjing. Berat juga beban yang harus dipikulnya. Seorang anak laki-lakinya mendampinginya berjalan dengan menenteng beberapa keresek ubi. Dari Sumedang mereka naik mobil elf (baca: elep) pagi-pagi. Di stasiun Cicaheum Bandung bibi dan anaknya turun. Mereka mulai berjalan kaki dari satu satu perumahan ke perumahan lain menjajakan ubinya. Sore hari mereka kembali ke Sumedang. Setiap hari diperlukan ongkos sepuluh ribu pulang pergi Sumedang – Bandung. Begitulah setiap hari yang dilakukannya.

Setiap lewat rumah bibi ini menawarkan ubinya kepada saya. Kadang-kadang saya beli, tetapi seringnya tidak. Maklum di rumah saya tidak mempunyai oven, padahal ubi cilembu lebih enak jika dipanggang di dalam oven. Saya beli ubi si bibi karena rasa iba saja, iba melihat beban yang disandangnya.

Tetapi kali ini lain. Dia menawarkan ubi karena butuh uang untuk beli nasi siang itu. Tampaknya jualan ibu ini belum laku sementara hari sudah siang, tentu anak-anaknya sudah lapar. Dua orang anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan seusia anak SD mengikutinya. Entah kenapa dia berhenti dan masuk ke halaman rumah saya, mungkin karena dulu saya pernah beli ubi dia. Saya temui ibu penjual ubi tadi. Tampak keletihan di wajahnya karena lelah berjalan kaki. Wajahnya terlihat menghiba. “Buat beli nasi, den”, katanya. Sebelum menawarkan ubi tadi dia minta minum ke pembantu saya.

Rasa kasihan membuat hati saya trenyuh. Buat meser nasi? Oh, alangkah pilunya ucapan bibi ini. Jadi, si bibi belum punya uang untuk beli nasi anak-anaknya siang itu. “Ya, Bi, ubinya saya beli”, kata saya. Saya pergi ke kamar sebentar untuk mengambil uang. Ketika saya temui lagi mereka, rasa keingintahuan saya muncul. Saya tanyakan ke mana suaminya, mengapa anak-anaknya tidak sekolah, berapa penghasilannya, dan sebagaibnya. Dengan suara lirih, bibi bercerita. Suaminya tahun lalu meninggal dunia karena sakit. Kini dia harus menghidupi sendiri 3 orang anaknya. Anaknya yang ketiga masih bayi, baru dua bulan usianya. Supaya ada yang mengasuh bayi, sementara dia berjualan ubi, anaknya yang perempuan dia minta berhenti sekolah. Hanya anak lelaki saja yang tetap sekolah (diskriminasi anak laki dan perempuan soal sekolah masih ada hingga saat ini). Di rumah di Sumedang mereka tinggal bersama nenek (ibu si bibi). Bibi inilah tulang punggung keluarga itu.

Sehari-hari penghasilan berjualan ubi dengan cara berkeliling itu hanyalah 30 ribu hingga 35 ribu rupiah sebelum dikurangi ongkos transpor dan beli makanan. Tidak banyak. Kalau dia tidak berjualan ubi dalam satu hari, tidak ada uang untuk membeli beras. Uang yang didapat dari berjualan ubi adalah untuk hari ini. Besok entah dapat entah tidak. Untuk berjualan secara menetap (di pondok-pondok pinggir jalan raya Sumedang), dia tidak punya modal. Hanya berkeliling inilah yang bisa dilakukannya setiap hari dari Sumedang ke Bandung. Begitu perjuangannya menyambung hidup.

Lintuah hati saya mendengar kisah hidup si bibi ini. Biar perempuan itu dianggap makhluk lemah, tetapi si bibi penjual ubi ini adalah perempuan perkasa. Periuk nasi anak-anaknya yang masih kecil dan nenek yang sudah tua sangat tergantung pada dirinya. Apa jadinya seandainya dia sakit atau tiada (moga-moga saja si bibi panjang umur), entah bagimana nasib anak-anaknya yang kecil itu. Kehidupan ini memang keras buat si bibi dan keluarganya. Dunia ini sepertinya tidak adil buat mereka.

Saya membeli 2 keresek ubi dan menyerahkan uang Rp 50 ribu. Saya minta si bibi mengambil sisa kembaliannya. Sebelum bibi itu pergi, saya minta pembantu mengambil daun pisang di depan rumah, lalu membungkuskan nasi dan lauk buat si bibi dan anak-anaknya. “Bibi tidak perlu lagi beli nasi”, kata saya. Beberapa buah mie instan, kopi, beras, dan makanan yang ada di rumah saya suruh kasihkan ke si bibi. Biarlah, buat mereka di rumah nanti. Dua orang anaknya itu saya beri uang jajan sekadarnya. Kasihan anak-anak itu.

Si Bibi begitu malu menerima pemberian saya. Dia menangis terharu dan tidak tahu mau ngomong apa. Tangis yang tulus dan tidak dibuat-buat. “Tidak apa, Bi, anggap saja ini rizki bibi melalui tangan saya”.

~~~~~~~~~~~

Ada rasa senang di hati setelah bisa menolong orang lain meskipun hanya sedikit. Bagi saya apalah artinya pemberian saya buat si bibi itu, tapi bagi dia dan keluarganya semua itu sangat berarti, minimal untuk beberapa hari. Meskipun pemberian yang tidak seberapa itu tidak bisa membuat si bibi lepas dari kemiskinan, setidaknya dia merasa bahwa dia tidak sendiri di dunia ini.

Tidak Menyangka

Tulisan saya sebelum ini, Prediksi Hasil Pemilu 2009, ternyata mendapat hit yang luar biasa. Hingga detik tulisan ini ditulis, tulisan pediksi hasil Pemilu tersebut sudah dikunjungi hampir 8000 kali dan tampaknya akan terus bertambah. Jumlah komentar yang masuk sudah mencapai 120-an lebih. Benar-benar diluar dugaan saya sama sekali. Nggak nyangka, soalnya tulisan-tulisan sederhana yang saya buat paling-paling dibaca sekitar ratusan hit. Penyebab tingginya akses ke tulisan tersebut karena hasil prediksi yang saya buat 99% sama dengan hasil hitung cepat yang dilansir beberapa lembaga survei, mulai dari urutan Parpol yang meraih suara terbanyak hingga persentase suara yang diraihnya. Apalagi tulisan tersebut pernah beberapa hari menjadi tulisan teratas di WordPress.com sehingga memancing para blogwalker membacanya.

Kenapa bisa tepat sama? Apa algoritmanya, tanya beberapa orang pembaca. Saya kira ini faktor kebetulan saja. Tidak ada hal yang baru kok, semua prediksi itu didasarkan pada hasil lembaga survei pada hari-hari terakhir menjelang hari “H”. Hampir semua lembaga survei menempatkan PD, PDIP, Golkar sebagai 3 besar. Lalu, mereka melansir partai “papan tengah” seperti PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan Hanura. Bedanya, mereka tidak membuat urutan peringkat. Nah, dengan membanding-bandingkan hasil beberapa lembaga survei, saya mencoba membuat urutan peringkat dan prediksi raihan suara setiap partai berikut analisisnya. Jika kebetulan hasil prediksi tersebut sama dengan hasil hitung cepat, anggap saja sebuah kebetulan belaka.

Beberapa penulis komentar malah menyarankan saya membuka lembaga survei saja atau menjadi analis politik. Ada juga yang menyarankan saya menjadi peramal menggantikan Mama Laurent cs. Wah, wah, wah, terima kasih saudara-saudara, saya sudah cukup menjadi pak guru saja, tidak mau menjadi yang lain-lain. .

Prediksi Hasil Pemilu 2009

Sebelum, selama, dan setelah masa kampanye Pemilu 2009, saya cukup banyak membaca tulisan, berita, hasil survei, dan segala sesuatu yang terkait dengan Pemilu 2009. Sedikit banyak saya punya ketertarikan dengan politik namun saya sama sekali tidak berminat ikut politik praktis (misalnya menjadi kader parpol, anggota parpol, apalagi jadi caleg). Saya sudah senang menjadi seorang guru saja. Soal politik, saya cukup menjadi seorang pemerhati sajalah.

Pada Pemilu 2009 ini, untuk pertama kalinya kita memilih caleg pada kertas suara dengan cara mencentang (V) atau mencontereng, meskipun masih dibenarkan kita hanya mencentang nama atau gambar parpol bila kita bingung memilih caleg yang mana (yang sebagian besar tidak kita kenal). Meskipun mencentang nama caleg sudah disosialisasikan jauh-jauh hari (yang saya rasa sosialisasinya kurang maksimal), namun saya yakin sebagian besar orang tetap berpikir menentukan parpol dulu, baru kemudian memilih calegnya (kalau mau). Jadi, harapan para politisi agar rakyat memilih caleg tanpa melihat parpol sepertinya mustahil. Peralihan dari sistem lama ke sistem baru sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin 5 atau 10 tahun lagi.

Masa kampanye telah berakhir. Kampanye terbuka yang berlangsung 3 minggu kemaren terasa biasa-biasa, tidak gegap gempita seperti 5 tahun lalu, bahkan terkesan lengang. Hanya beberapa parpol besar yang berhasil mengumpulkan massa cukup banyak (yang mungkin sebagian dari massa itu datang karena ‘dibayar’ oleh para calegnya), sementara sebagian besar kampanye parpol sepi peminat. Rupanya rakyat kita sudah cerdas, mereka tidak tertarik lagi mengikuti model kampanye yang diisi dengan obral janji dan pagelaran musik dangdut. Siapa yang mau berpanas-panas dan berhujan ria mendengar orasi politik yang penuh dengan janji-janji. Mendingan di rumah atau bekerja saja ketimbang menghadiri rapat massa.

Menurut saya, kampanye parpol tidak banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Sebagian besar pemilih kita sudah mempunyai pilihan parpol mana yang akan dia pilih tanggal 9 April nanti. Persepsi pemilih tentang parpol sudah dibentuk jauh-jauh hari sebelum masa kampanye. Berbagai berita yang berseliweran di media massa ikut andil membentuk opini pemilih terhadap parpol.

Nah, saya punya prediksi sendiri mengenai hasil Pemilu 2009. Ini hanya prediksi pribadi yan didasarkan dari hasil pengamatan dan membaca berbagai berita serta hasil survei yang setiap hari muncul di bebragai portal kita. Sedikit banyaknya hasil survei itu mengandung kebenaran meskipun tidak sampai 90%.

Menurut saya nih, prediksi peringkat perolehan suara parpol pada 9 April nanti adalah sebagai berikut:
1. Partai Demokrat
2. PDIP
3. Golkar
4. PKS
5. PAN
6. PPP
7. Gerindra
8. PKB
9. Hanura

Sebagai catatan, untuk nomor 5 sampai 8 urutannya masih cair, jadi masih bisa berubah lagi. Tetapi untuk nomor 1 hingga 4 kayaknya tidak akan berubah.

Analisisnya sebagai berikut:
1. Partai Demokrat
Partai ini diprediksi sebagai pemenang. Sosok SBY yang bersih dan beriwibawa serta keberhasilannya selama menjadi Presiden sangat menentukan citra Partai Demokrat. Sebagai partai Pemerintah, jelas Partai Demokrat mempunyai akses politik yang kuat untuk membangun jaringan. Iklannya berseliweran setiap hari di layar televisi maupun di media cetak. Selama masa kampanye, partai ini paling banyak menghadirkan massa di berbagai wilayah Indonesia. Waktu kampanye di Bandung, saya sampai susah payah mencari jalan alternatif untuk sampai ke Jalan Ganesha, sebab area kawasan Gasibu macet total dipenuhi lautan massa kampanye. Kira-kira peroleh suara partai ini di atas 20%.

2. PDIP
PDIP pernah menjadi partai pemenang Pemilu pada tahun 1999 dan 2004. Tetapi, saat ini citra PDIP mulai pudar. Megawati sebagai tokoh sentral di partai ini sudah tidak sehebat dulu lagi. Hasil survei capres menempatkan popularitas Mega jauh di bawah SBY. Di Indonesia sosok figur sangat menentukan masa depan partai. Jika figurnya mulai pudar, maka citra partainya pun ikut pudar. Otoriterisme Megawati di PDIP membuat kawan-kawan politiknya menjauh dan bergabung dnegan partai lain, sebut saja Permadi, Laksamana Sukardi, Eros Djarot, dll. Menurut prediksi saya, PDIP akan memperoleh suara antara 15% hingga 18%.

3. Golkar
Partai ini masih mempunyai taji yang kuat, namun sebagaimana PDIP, citranya sebagai partai “tua” sudah mulai digerogoti pendatang baru seperti Gerindra dan Hanura. Golkar juga tidak punya figur yang kuat seperti Demokrat dan PDIP. Jusuf Kalla hanya populer di kawasan Timur, namun kurang populer di kawasan barat Indonesia. Namun, gebrakan Jusuf Kalla baru-baru ini dengan mengiklankan sepatu Cibaduyut dapat membuat golongan bawah — terutama pelaku UKM — untuk kembali memilih Golkar, minimal pengrajin sepatu Cibaduyut yang tiba-tiba beken karena iklan sepatu JK. Saya perkirakan suara Golkar tidak jauh beda dengan PDIP sekitar 15% hingga 18%.

4. PKS
Dulu diprediksi PKS bisa menjadi 3 besar Pemilu seteleh PDIP dan Golkar. Tetapi, hasil pengamatan saya beberapa bulan terakhir menunjukkan suara PKS cenderung mengalami penurunan dan terlempar ke nomor 4. Sebagai partai yang anggotanya “bersih” dari korupsi dan skandal, ternyata hal ini menjadi bumerang. Banyak pihak yang tidak senang dengan citra PKS yang mengusung jargon bersih ini. Fitnah, selentingan miring, dan berbagai cobaan datang ke partai ini. Berbagai pencitraan negatif dibentuk melalui serangkaian opini dan berita gelap untuk memojokkan PKS. Semua itu ikut andil untuk membuat persepsi pemilih menjauh dari PKS. Namun jika dikelola dengan baik, cobaan tersebut dapat berubah menjadi bentuk simpati masyarakat bagi PKS sebagai partai yang “dianaiya”. Tapi hal itu berat mengingat waktu tinggal 3 hari lagi? Menurut saya, faktor penurunan suara PKS juga disebabkan oleh kesalahan strategi PKS itu sendiri. Kasus yang tidak bisa dilupakan adalah membuat iklan yang mensejajarkan Soeharto sebagai pahlawan, setara dengan pahlawan lain seperti Imam Bonjol, Diponegoro, Jenderal Sudriman, dll. Karena Pak Harto masih mempunyai citra kurang baik di mata masyarakat, maka iklan PKS itu membuat citra PKS ikut merosot. Prediksi saya, PKS akan mendapat suara kurang dari 10%, kira-kira antara 5 hingga 8%, kecuali jika ada keajaiban dalam waktu 3 hari ini.

5. PAN
PAN tampaknya masih bertahan, tetapi suaranya akan merosot tajam. Amien Rais tidak lagi menjadi magnet partai ini sebab dia sudah lengser dan sudah tidak populer. Selain itu, pangsa suara PAN juga akan diperebutkan oleh PKS dan Partai Matahari Bangsa. Warga Muhammadiyah tidak bisa diharapkan lagi loyal kepada PAN, sebab warga Muhammadiyah mempunyai banyak pilihan sperti PKS, PMB, PPP, dan Gerindra. PAN sepertinya berharap caleg artis yang dipasangnya akan mendulang suara, tetapi tampaknya harapan itu agak mustahil sebab rakyat kita sekarang ini sudah cerdas dalam memilih. Meski artis, belum tentu dipilih. Artis cukup di TV saja, tetapi untuk dipilih menjadi caleg tunggu dulu. Prediksi saya PAN akan mendapat suara kurang dari 5%.

6. PPP
PPP partai lama seperti Golkar, namun nasibnya tidak seberuntung Golkar yang bisa bertahan mejadi 2 atau 3 besar. PPP dinilai tidak seatraktif partai Islam lain seperti PKS dan PAN. Lagipula isu-isu yang diusung PPP tidak populis dan kurang cepat tanggap. Beda dengan PKS, mereka langsung bergerak ketika hal-hal besar terjadi, misalnya bencana alam. Berbagai survei politik beberapa tahun terakhir seperti sengaja ditujukan untuk melemahkan partai-partai Islam, seolah-olah partai Islam akan ditinggalkan oleh pemilih meskipun hampir 90% rakyat Indonesia beragama Islam. Pencitraan hasil survei itu ikut melemahkan citra partai-partai Islam, termasuk PPP dan PBB. Prediksi saya PPP akan mendapat suara kurang dari 5%.

7. Gerindra
Gerindra tiba-tiba begitu melejit dalam beberapa bulan terakhir. Tentu saja faktonya karena Prabowo. Iklan-iklannya di TV terkesan berpihak pada petani, nelayan, buruh, pedagang kecil. Jargon “mencintai produk dalam negeri” di dalam iklan Gerindra begitu mengena bagi kalangan kecil. Tidak percuma Parbowo menyewa pesawat pribadi selama masa kampanye untuk berkeliling Indonesia, sebab kampanyenya di seluruh Indonesia selalu dipenuhi massa. Menurut saya, suara Gerindra banyak diperoleh dari “pelarian” suara PDIP, Golkar, PKS dan dan PKB. Untuk yang terakhir ini, simpatisan Gus Dur dari NU akan banyak mengalihkan dukungannya kepada Gerindra, apalagi putri Gus Dur ikut berkampanye untuk Gerindra di Jawa Timur. Prediksi saya Gerindra akan memperleh suara sekitar 4 hingga 5%.

8. PKB
Partai ini terus dirundung malang sebab selalu dilanda pertikaian yang tidak habis-habisnya. Dulu PKB identik dengan Gus Dur, tetapi sejak Gus Dur “kalah” oleh Muhaimin menyebabkan loyalis Gus Dur meninggalkan partai ini. Suara NU, khususnya di Jatim dan Jateng akan berlaih ke partai lain, khususnya ke Gerindra. Perolehan suara PKB menurut saya tidak lebih dari 3%.

9. Hanura
Seperti halnya Gerindra, partai Hanura di bawah pimpinan Wiranto ini akan mendapat limpahan suara dari pendukung nasionalis. Jaringannya cukup kuat hingga ke kecamatan, namun Hanura kalah populer dibandingkan dengan Gerindra. Prediksi saya Hanura akan memperoleh suara sekita 2%.

Nah, itulah hasil prediksi saya Bisa benar bisa salah, namanya juga perkiraan. Anda boleh setuju boleh tidak. Hasil sebenarnya baru kita peroleh setelah tanggal 9 April nanti. Lalu partai-partai lain bagaimana nasibnya? Mereka hanya pelengkap penderita saja, tidak banyak dilirik oleh rakyat dan tidak akan lulus parliament threshold. Sebagian besar parpol baru tidak mempunyai akar massa, jadi mereka agak sulit meraih dukungan. Partai-partai baru dibentuk karena ambisi segelintir elit parpol mereka saja, mereka tidak melihat realitas yang ada bahwa parpol di Indonesia sangat ditentukan oleh ketokohan (kecuali PKS) dan kalangan akar rumput yang mendukungnya, Jika tidak punya massa, jangan sekali-sekali bikin partai. Percuma.