Ada banyak perempuan perkasa di dunia ini. Perempuan yang setiap hari berkerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya setelah ditinggal mati (atau pergi) oleh suaminya. Panas dan hujan bukanlah penghalang rintang bagi mereka untuk mencari sesuap nasi. Demi perut dan masa depan anak-anaknya, mereka rela mengarungi kerasnya kehidupan untuk mencari rezeki yang halal.
~~~~~~~~~~
Siang itu ketika akan berangkat ke kampus, tiba-tiba pembantu di rumah memanggil saya. “Pak, aya bibi penjual uwi cilembu. Minta dibeli ubinya, ceunah, buat meser nasi”, teriak pembantu saya dari bawah. (meser, bahasa Sunda, artinya beli; aya = ada, uwi = ubi, ceunah = katanya)).
Ubi Cilembu, siapapun sudah tahu rasanya enak dan legit. Ubi ini sudah terkenal di seluruh Iindonesia bahkan sudah diekspor ke beberapa negara antara lain ke Jepang. Ubi Cilembu berasal dari daerah Cilembu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Saya sudah sering lihat ibu ini. Dia sering lewat di depan rumah menjajakan ubi Cilembu dalam kantong-kantong keresek. Satu kantong isinya 2 kilo dan harganya Rp 10.000. Kantong-kantong ubi itu dibawa dalam gendongan di punggungnya, sebagian lagi dijinjing. Berat juga beban yang harus dipikulnya. Seorang anak laki-lakinya mendampinginya berjalan dengan menenteng beberapa keresek ubi. Dari Sumedang mereka naik mobil elf (baca: elep) pagi-pagi. Di stasiun Cicaheum Bandung bibi dan anaknya turun. Mereka mulai berjalan kaki dari satu satu perumahan ke perumahan lain menjajakan ubinya. Sore hari mereka kembali ke Sumedang. Setiap hari diperlukan ongkos sepuluh ribu pulang pergi Sumedang – Bandung. Begitulah setiap hari yang dilakukannya.
Setiap lewat rumah bibi ini menawarkan ubinya kepada saya. Kadang-kadang saya beli, tetapi seringnya tidak. Maklum di rumah saya tidak mempunyai oven, padahal ubi cilembu lebih enak jika dipanggang di dalam oven. Saya beli ubi si bibi karena rasa iba saja, iba melihat beban yang disandangnya.
Tetapi kali ini lain. Dia menawarkan ubi karena butuh uang untuk beli nasi siang itu. Tampaknya jualan ibu ini belum laku sementara hari sudah siang, tentu anak-anaknya sudah lapar. Dua orang anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan seusia anak SD mengikutinya. Entah kenapa dia berhenti dan masuk ke halaman rumah saya, mungkin karena dulu saya pernah beli ubi dia. Saya temui ibu penjual ubi tadi. Tampak keletihan di wajahnya karena lelah berjalan kaki. Wajahnya terlihat menghiba. “Buat beli nasi, den”, katanya. Sebelum menawarkan ubi tadi dia minta minum ke pembantu saya.
Rasa kasihan membuat hati saya trenyuh. Buat meser nasi? Oh, alangkah pilunya ucapan bibi ini. Jadi, si bibi belum punya uang untuk beli nasi anak-anaknya siang itu. “Ya, Bi, ubinya saya beli”, kata saya. Saya pergi ke kamar sebentar untuk mengambil uang. Ketika saya temui lagi mereka, rasa keingintahuan saya muncul. Saya tanyakan ke mana suaminya, mengapa anak-anaknya tidak sekolah, berapa penghasilannya, dan sebagaibnya. Dengan suara lirih, bibi bercerita. Suaminya tahun lalu meninggal dunia karena sakit. Kini dia harus menghidupi sendiri 3 orang anaknya. Anaknya yang ketiga masih bayi, baru dua bulan usianya. Supaya ada yang mengasuh bayi, sementara dia berjualan ubi, anaknya yang perempuan dia minta berhenti sekolah. Hanya anak lelaki saja yang tetap sekolah (diskriminasi anak laki dan perempuan soal sekolah masih ada hingga saat ini). Di rumah di Sumedang mereka tinggal bersama nenek (ibu si bibi). Bibi inilah tulang punggung keluarga itu.
Sehari-hari penghasilan berjualan ubi dengan cara berkeliling itu hanyalah 30 ribu hingga 35 ribu rupiah sebelum dikurangi ongkos transpor dan beli makanan. Tidak banyak. Kalau dia tidak berjualan ubi dalam satu hari, tidak ada uang untuk membeli beras. Uang yang didapat dari berjualan ubi adalah untuk hari ini. Besok entah dapat entah tidak. Untuk berjualan secara menetap (di pondok-pondok pinggir jalan raya Sumedang), dia tidak punya modal. Hanya berkeliling inilah yang bisa dilakukannya setiap hari dari Sumedang ke Bandung. Begitu perjuangannya menyambung hidup.
Lintuah hati saya mendengar kisah hidup si bibi ini. Biar perempuan itu dianggap makhluk lemah, tetapi si bibi penjual ubi ini adalah perempuan perkasa. Periuk nasi anak-anaknya yang masih kecil dan nenek yang sudah tua sangat tergantung pada dirinya. Apa jadinya seandainya dia sakit atau tiada (moga-moga saja si bibi panjang umur), entah bagimana nasib anak-anaknya yang kecil itu. Kehidupan ini memang keras buat si bibi dan keluarganya. Dunia ini sepertinya tidak adil buat mereka.
Saya membeli 2 keresek ubi dan menyerahkan uang Rp 50 ribu. Saya minta si bibi mengambil sisa kembaliannya. Sebelum bibi itu pergi, saya minta pembantu mengambil daun pisang di depan rumah, lalu membungkuskan nasi dan lauk buat si bibi dan anak-anaknya. “Bibi tidak perlu lagi beli nasi”, kata saya. Beberapa buah mie instan, kopi, beras, dan makanan yang ada di rumah saya suruh kasihkan ke si bibi. Biarlah, buat mereka di rumah nanti. Dua orang anaknya itu saya beri uang jajan sekadarnya. Kasihan anak-anak itu.
Si Bibi begitu malu menerima pemberian saya. Dia menangis terharu dan tidak tahu mau ngomong apa. Tangis yang tulus dan tidak dibuat-buat. “Tidak apa, Bi, anggap saja ini rizki bibi melalui tangan saya”.
~~~~~~~~~~~
Ada rasa senang di hati setelah bisa menolong orang lain meskipun hanya sedikit. Bagi saya apalah artinya pemberian saya buat si bibi itu, tapi bagi dia dan keluarganya semua itu sangat berarti, minimal untuk beberapa hari. Meskipun pemberian yang tidak seberapa itu tidak bisa membuat si bibi lepas dari kemiskinan, setidaknya dia merasa bahwa dia tidak sendiri di dunia ini.
12 tanggapan so far ↓
Galih // 19 April 2009 pada 00:47 |
Ubi cilembu kukus juga enak, Pak. Tidak perlu pakai oven.
Brahmasta // 19 April 2009 pada 02:33 |
Kalau kita mendengarkan cerita-cerita orang kecil gitu pasti terenyuh ya Pak. Sebaliknya, miris juga melihat kenyataan banyak sekali orang di Indonesia yang hidup berlebihan.
Byaryoga // 19 April 2009 pada 18:03 |
Tanpa bermaksud apatis, selama di Bandung Saya sering menemui “pengemis” berpura-pura kesusahan dengan segala kisah sedihnya seraya mengiba menjual barang dagangannya pada kita (kadang malah hanya “menjual cerita”.) Saya jadi serba salah.
Mungkin ada baiknya juga kita mencermati situasi sebelum membantu. Kalau orangnya cukup dikenal, seperti pada cerita Pak Rin, tidak perlu terlalu curiga. Dan sebisa mungkin jangan mudah memberikan bantuan dalam bentuk uang/harta. Wah, repot.
eki // 20 April 2009 pada 10:57 |
memang trenyuh ya pak melihat kondisi dan perjuangan ibu tersebut yang mungkin mewakili kondisi banyak saudara-saudara kita yang lain juga.
untuk menyambung hidup saja perlu perjuangan yang luar biasa seperti itu, belum lagi memikirkan pendidikan anak dan kalau sakit tidak ada biaya untuk berobat.
di satu sisi kita yang secara ekonomi lebih baik memang harus bersyukur kepada Allah dan di sisi lain juga harus memikirkan bagaimana kita bisa membantu saudara2 kita tersebut memenuhi kebutuhan2 dasar-nya, paling kurang untuk saudara2 di sekitar lingkungan kita.
dan juga mudah2an pemerintah bisa meng-akomodasi mereka terutama di bidang pendidikan dan kesehatan, alhamdulillah kemaren saya liat ada program jamkesda dan pendidikan dasar gratis, mudah2an ke depan-nya lebih baik lagi perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang kurang mampu.
abah adi // 20 April 2009 pada 11:49 |
mungkin ada sedikit beda, dari pengemis sama orang yg benar2 sedang membutuhkan.
Biasa kl pengemis crita sana sini tanpa diminta, dan tidak ada rasa malu dan panik .
Tp kalo orang yg benar2 membutuhkan, biasanya malu/susah untuk cerita, dan terlihat ada kepanikan.
mama ian // 20 April 2009 pada 12:23 |
wah… mulia sekali apa yg dilakukan pak guru…saluut nih.
cuma ada sedikit yg aneh: kalau suaminya meninggal 2 tahun yg lalu, kenapa ya anak terkecilnya baru berusia 2 bulan?? Apakah dia sudah menikah lagi tapi tidak cerita ke pak guru ya… (selalu berprasangka baik…)
rinaldimunir // 20 April 2009 pada 12:59 |
@byaryoga: insting kita bisa membedakan apakah sesorang bersandiwara atau memang benar. Setelah kejadian ini, si bibi tetap melewati rumah kami namun dia malu untuk menawarkan ubi lagi.
@mama ian: ups, sayanya yang salah, meninggal ketika si bibi lagi hamil. Jadi, kira-kira hampir setahunlah. Angka 2 nya sudah saya hapus.
Abdul Karim // 21 April 2009 pada 05:41 |
ketika kita hendak berbuat baik kepada orang lain, kita tidak perlu menyelidiki apakah orang yang akan kita bantu itu pura-pura atau tidak … insya Allah itu adalah amal kebaikan, sikap yang spontan disertai dengan ketulusan tidak akan sia2 … tp ngomong2 bang ternyata di semarang juga udah banyak yang jualan ubi cilembu lho … jd kangen pengen ke bandung
Ambu si Kaka // 21 April 2009 pada 13:27 |
Bahasa sunda untuk ubi itu bukan uwi tapi hui (dibaca : huwi)
irfin // 22 April 2009 pada 16:03 |
Bener2x mulia yg bapak lakukan.
(angkat topi buat pak Rinald)
rinaldimunir // 22 April 2009 pada 16:23 |
@Abdul Karim: setuju ayim, kalau orang itu berdusta, itu urusan dia dengan Allah SWT, bukan dengan kita.
@Ambu si kaka: hatur nuhun, ambu, kedengarannya bagi saya “uwi” (maklum saya bukan orang Sunda
)
@irfin: daeng irfin, mulia atau tidaknya biar Allah saja yang menilai. Saya hanya ingin berbagai cerita saja, mudah-mudahan yang membaca ini tergerak hatinya menolong saudara-saudara kita para dhuafa yang berjuang dari kemiskinan.
wp // 22 April 2009 pada 20:46 |
Sepertinya di terminal Cicaheum, bukan setasiun Cicaheum ?