Catatanku

Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya UKM 2009

27 April 2009 · & Komentar

Hari Minggu siang saya ketemu Catra, mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2006, di Sabuga (baru kali ini saya ketemu muka sama kamu, Cat, biasanya cuma di blog). “Pak, mana ulasannya di blog tentang malam pagelaran UKM?”, tanya si Catra ini. He..he, sepertinya ‘wajib’ bagi saya untuk menulis setiap kali pertunjukan UKM ya, Cat. Memenuhi permintaan Catra, saya tuliskan hasil pandangan mata tentang malam pagelaran seni budaya Unit Kesenian Minang ITB tanggal 25 April 2009.

Malam itu saya datang dengan anak saya, untunglah acara belum dimulai (semoga bukan karena menunggu kedatangan saya ya). Secara tidak sengaja di sebelah saya duduk Dirut Excelcomindo (XL), Pak Hasnul. Pak Hasnul yang urang Bukittinggi dan pernah menjadi Dirut PT Indosat itu ternyata orangnya mungil :-) . Biar mungil tapi cerdas, karena itulah alumni Elektro ITB ini dipercaya menjadi dirut Indosat, salah satu BUMN besar.

Secara umum, malam pagelaran budaya UKM tahun ini tidak berbeda dengan format acara tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas berupa drama Minang yang dibaluti dengan aneka tarian dan musik tradisional talempong, saluang, dan pupuik sarunai. Penonton membludak memenuhi Sabuga. Padat, malah luber ke lantai dasar panggung. Diperkirakan jumlah penonton mencapai 2000 lebih. Penonton tidak hanya anak-anak muda (mahasiswa rantau), tetapi juga orang-orang tua yang ingin melepaskan rasa lapeh taragaknyo dengan kampuang halaman. Sepertinya pertunjukan UKM ITB selalu mempunyai daya pikat, terbukti yang datang tidak hanya urang awak, tetapi juga mahasiswa non-Minang lainnya. Dari ukuran jumlah penonton, boleh dibilang penonton pertunjukan UKM ITB adalah nomor 2 terbanyak setelah unit Ludruk ITB.

Di bawah ini satu foto hasil jepretan kamera ponsel, sayang tidak terlalu jelas karena lupa memakai modus malam.

dsc00448

Secara umum pertunjukan kali ini berhasil memuaskan penonton. Dukungan peralatan multimedia membuat aura pertunjukan terasa megah. Layar di sisi panggung membantu penonton yang tidak mengerti Bahasa Minang untuk mamahami jalan cerita, dengan menayangkan teks dalam Bahasa Indonesia untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski demikian pertunjukan kali ini tetap tidak bebas kritik. Ada beberapa kekurangan yang saya perhatikan. Pertama, pertunjukan terlalu panjang sehingga baru selesai pukul 23.15 WIB (anak saya sampai ketiduran di kursi, tak kuasa menahan kantuk, he..he). Penyebab panjang adalah karena ada adegan yang memakan waktu berlebihan, yaitu adegan bagarah-garah (banyolan) 1 dan adegan bagarah-garah 2 (saya mencatat 2 jam untuk kedua scene ini). Mungkin pemain bagarah-garah ini terlalu tersanjung karena banyolannya berhasil mengocok perut penonton sehingga mereka semakin semangat untuk terus maota lamak.

Kedua, nah ini dia, soal tari. Hampir semua tarian adalah kreasi baru, termasuk tari piriang nan legendaris itu. Sayangnya, karena terlalu banyak dimasuki unsur kreativitas, akhirnya keluar dari pakem. Padahal, penonton yang datang tidak hanya anak muda, tetapi juga para orangtua yang rindu melihat tarian yang masih klasik (asli). Oh ya, tarian yang dikeluarkan gerakannya nyaris seragam, jadi terasa agak menjemukan.

Yah, mudah-mudahan pertunjukan tahun yang akan datang lebih bagus dan lebih menarik lagi untuk semua kalangan.

Kategori: Seputar ITB

12 tanggapan so far ↓

  • Dedhy Kasamuddin // 27 April 2009 pada 12:16 | Balas

    Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin :D

  • rinaldimunir // 27 April 2009 pada 12:20 | Balas

    @Dedhy: silakan mas ditautkan.

  • Catra // 27 April 2009 pada 22:59 | Balas

    *wah pak, ada nama saya di atas duh, jadi tidak enak nih, ada link saya di blog terkenal ini hehehe*

    Biasalah pak saya “nagih” reviewnya yang sejak bapak jadi pembina selalu di publish pagelaran-pagelaran tahun sebelumnya :mrgreen: , apalagi malam itu kebetulan saya jadi koordinator hari H nya pak, malam itu saya yang mengkoordinir berjalannya acara, wah saya udah intip-intip ke kursi VIP pak Rin belum datang juga, akhirnya jam 7.10 pak Rin datang juga dengan membawa si kecil. :mrgreen:

    Setelah tamu VIP cukup banyak jam 7.15 langsung saya kode ke stage manager belakang panggung agar memulai acara dan menutup pintu depan agar proses sakral opening act dan tari pasambahannya lancar tanpa ada orang lalu lalang. hehehe

    masalah durasi sebenarnya kita udah mengira bakalan menurunkan flow drama. seminggu sebelum pagelaran hal ini jadi perdebatan yang panjang antara tim materi. bagian mana yang bakal dikurangi. Akhirnya disepakati adegan bagarahnya sedikit dikurangi, tapi akhirnya pas hari H, pedrama keasikan bagarah ternyata, benar kata bapak.

    Untuk tari, wah saya tak paham pak, mungkin karena baju nya yg warna-warni, dan hilang unsur klasiknya.
    saya pribadi juga kurang setuju dengan penggunaan keyboard di tim musik, karena bakalan mengurangi originalitas musik tradisional itu sendiri pak.
    Oya pak, saya 2007, masih muda pak. dan belum jadi pengurus. tanggal 9 Mei besok RUA, baru pergantian pengurus pak…

    jangan bosan-bosan jadi pembina kami ya pak…

    :)

  • adefadlee // 27 April 2009 pada 23:58 | Balas

    dari dulu memang drama (terutama adegan garing) rawan memolorkan waktu..
    btw, sudah berapa tahun ini format pagelaran secara umum mirip2 yah?? endingnya pun mirip..hehe2..
    salutlah buat kawan2 yg berhasil mempromosikan budaya minang di rantau, di tempat yang elit lagi….moga ke depan lebih kreatif, banyak belajar dan menggali berbagai ilmu yang bermanfaat.
    (Ade UKM’04)

  • hilda widyastuti // 28 April 2009 pada 06:26 | Balas

    pada saat kuliah dulu, saya juga pernah menonton pagelaran UKM. Seru banget, saya senang sekali mendengarkan musik talempong

  • reiSHA // 28 April 2009 pada 09:25 | Balas

    Si Catra juga nagih review ke saya Pak, hehe…

  • UKM!! UKM!! UKM!! « …and my name is SHA, not rei… // 28 April 2009 pada 09:47 | Balas

    [...] halnya tulisan Pak Rin, sesukses apapun suatu acara, kritik dan saran pasti ada. Pertama, sependapat dengan Pak Rin, [...]

  • tomy fitrianto // 29 April 2009 pada 12:49 | Balas

    assalamualaikum ww
    catra eksis nih….hehehe.
    ngomong2, bagaimana mengakali pagelaran kita yang dari tahun ketahun formatnya cendrung sama, punya saran pak rinaldi? :D

  • rinaldimunir // 29 April 2009 pada 15:49 | Balas

    @Catra: yach Cat, biar blog kamu juga ikutan beken, he..he.

    @tomy: nah, perlu format baru, tidak harus berupa drama. Bisa saja live concert yang berisi campur sari tarian, lagu, musik, randai, dan ciloteh khas Minang di lapau-lapau. Ibaratnya sebuah pertunjukan adalah gado-gado yang mengakomodasi keinginan banyak orang. Topik-topik seperti “Baralek Gadang” bisa dibuat lagi. “UKM in live concert”, kenapa tidak?

  • harrywardana // 30 April 2009 pada 20:12 | Balas

    assalamualaikum ww

    saya dari luar ukm nih pak, luar itb malah, hehe

    pagelaran kemarin cukup luar biasa pak
    walaupun ada sih beberapa hal yang membuat kurang pas.. tapi overall UKM ITB the best lah..!

    tari favorit :
    “Tari Tapuak Tingkah”
    (uni yg paling kanan podiah bona)

    scene drama favorit :
    “baliak’an…….”
    “bakaco lah da, BAKACO!”

    baca review lengkap saya y pak, hee

  • Sabuga, 25 April 2009 « Catatan Rangmudo // 30 April 2009 pada 20:54 | Balas

    [...] http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/04/27/nonton-malam-pagelaran-seni-budaya-ukm-2009/ [...]

  • vizon // 3 Mei 2009 pada 16:53 | Balas

    wah, senang baca reviewnya…
    salut buat mahasiswa minang itb yg berkomitmen tinggi terhadap budaya leluhur…

    salam kenal pak…
    terima kasih buat catra yg telah menautkan saya dg blog hebat ini… :)

Tinggalkan sebuah Komentar