Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan “Perjuangannya” Kuliah di ITB

Ketika saya mengajar kelas kuliah Struktur Diskrit (mata kuliah tingkat II di Informatika ITB) pada tahun 2007, ada seorang mahasiswa yang menarik perhatian saya. Dia tidak duduk di kursi kuliah seperti teman-temannya, tetapi duduk di atas kursi roda. Berhubung kursi-kursi sudah disusun sedemikian rupa sehingga sulit digeser lagi, mahasiswa tersebut mengambil tempat setelah kursi paling ujung di barisan depan. Dia duduk dengan tekun mendengarkan kuliah saya di atas kursi rodanya itu, sekali-kali tampak mencatat dan membaca diktat kuliah yang saya tulis.

Setelah beberapa kali kuliah, saya baru tahu namanya Ginan. Di dalam daftar hadir tertulis hanya “Ginan” saja, tetapi sesungguhnya nama selengkapnya adalah Ginanjar Pramadita, sebuah nama khas Sunda. Sehari-harinya Ginan memang menggunakan kursi roda karena Allah SWT menakdirkannya mempunyai kaki yang (maaf) cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berdiri dan berjalan. Praktis kemana-mana Ginan selalu mengandalkan kursi roda untuk berpindah dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah yang lain, atau dari satu lab ke lab lain yang berbeda lantai.

Rasa penasaran membuat saya ingin mengenal Ginan lebih jauh. Beberapa kali saya bertemu dia di lorong gedung atau ketika menunggu naik anggung (lift). Saat itu saya sempatkan bertanya banyak hal tentang dirinya sembari meminta izin untuk menulis profil dirinya di blog ini. Bagi saya profil Ginan adalah luar biasa, karena dia mampu menembus kuliah di Informatika (IF) ITB yang terkenal paling susah masuknya. Masuk ITB saja sangat susah, apalagi masuk IF. Dan yang luar biasa adalah dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu dia mampu eksis dan menunjukkan kemampuan yang tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Terakhir dia menorehkan prestasi karena dia dan teman-temannya (Team Leader: Garibaldi Mukti) mewakili Indonesia di final ASEAN XML Superstar Programming Contest (semacam Imagine Cup-nya Microsoft lah, tetapi yang ini penyelenggaranya dari IBM). Lihat pengumaman finalisnya dengan mengklik pranala ini. Mudah-mudahan saja kelompok Ginan menang yang hadiahnya — katanya — adalah jalan-jalan ke Cina.

Di bawah ini potret Ginan ketika berada di ruangan saya. Kemaren dia minta izin tidak bisa ikut ujian karena mengikuti lomba programming contest itu. Dengan seizin Ginan saya memotret dia lagi tersenyum.

DSC00501

Saya berbincang-bincang dengan Ginan. Mendengar perjuangan Ginan kuliah di ITB membuat saya kagum pada anak ini. Semangatnya yang tinggi untuk menuntut ilmu patut diacungi jempol. Ginan adalah orang Bandung asli. Setiap hari dia diantar oleh ayahnya ke kampus ITB dengan naik motor. Ginan tidak perlu repot-repot membawa kursi roda setiap hari dari rumah ke kampus, sebab kursi rodanya disimpan di sebuah ruangan di lantai dasar LabTek VI (gedung tetangga IF). Kunci ruangan itu dipegang oleh Ginan sendiri (terima kasih buat pengelola ITB yang memberikan kemudahan buat Ginan). Dengan kursi roda itu Ginan menjalani kuliah seharian di ITB. Sore hari ayahnya datang untuk menjemput pulang dan kursi roda itu disimpan kembali di ruangan yang sama. Begitu setiap hari yang dilakukannya dari Senin sampai Jumat.

Sebenarnya desain baru lanskap dan gedung ITB sudah menyediakan jalur khusus bagi kaum penyandang cacat (pemakai kursi roda), misalnya Gedung CC yang baru serta jalur khusus mendaki menuju area kawasan gedung oktagon. Gedung-gedung yang baru juga dilengkapi anggung (lift) sehingga Ginan tidak perlu naik turun menggunakan tangga lagi. Tetapi, gedung-gedung kuliah yang lama belum dilengkapi anggung, misalnya gedung GKU, Oktagon, dan TVST. Ketika tahap TPB (tingkat I), hampir semua perkuliahan dilakukan di gedung-gedung itu. Ruang-ruang kuliah bertebaran di lantai 1, 2, 3, dan 4. Ginan bercerita, setiap kuliah di gedung GKU, ayahnyalah yang menggendong dia dari bawah ke atas menuju ruang kuliah d lantai atas (waah, saya ingin sekali bertemu ayahnya yang hebat dan penyabar itu). Kadang-kadang temannya yang baik hati yang menolongnya turun naik ke ruang kuliah. Sungguh merepotkan jika membayangkan bagaimana perjuangan Ginan kuliah di gedung-gedung yang tidak punya fasilitas anggung itu.

Tetapi itu cerita masa lalu. Di tahun kedua, hampir semua kuliah dan praktikum dilakukan di Informatika sendiri, yaitu di Gedung LabTek V (yang sekarang berubah nama menjadi Gedung Benny Subianto). Sebagian besar hari-hari mahasiswa Informatika ITB dihabiskan di gedung ini, sebab ruang kuliah, ruang dosen, lab, ruang TU, ruang himpunan, dan lain-lain berada di lantai 1, 2, 3, dan 4, dan setiap lantai dapat dicapai dengan menggunakan tangga atau anggung. Praktis sejak tingkat II Ginan tidak mengalami kesulitan lagi menuju setiap lantai. Jadi, Ginan sungguh terbantu dengan kondisi gedung kami ini. Salah satu pertimbangan Ginan memilih Prodi Informatika adalah karena di gedung Prodi kami tersedia fasilitas anggung. Kata Ginan pula, dulu dia sempat mau memilih Prodi Matematika, tetapi karena di gedung Prodi Matematika tidak ada anggung, dia urung memilih Prodi ini. Akhirnya dia memilih IF, ternyata dia hepi kuliah di sini :-) . Pun untuk memilih tempat Kerja Praktek (KP) pada bulan Juni mendatang, pertimbangan anggung juga menjadi prioritas Ginan. Ginan memilih KP di Risti PT Telkom yang gedungnya ada anggungnya.

Bagaimana kalau listrik mati di ITB sehingga anggung tidak berfungsi?, tanya saya. Kalau sudah begini maka seringkali Ginan tidak bisa kuliah (tidak datang ke kampus).

Ketika SMA, Ginan sekolah di SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Waah, ini salah satu SMA top di Bandung selain SMAN 3. Setahu saya gedung SMA 5 itu dua lantai, jadi bagaimana ceritanya ketika sekolah di sana? Ginan selalu meminta kepada pihak Sekolah agar selalu ditempatkan di kelas yang berada di lantai dasar. Kepala sekolah yang baik memaklumi hal ini, sehingga kelas 1, 2, dan 3 SMA kelas Ginan selalu ditempatkan di lantai dasar. Ketika sekolah di SD dan SMP 9 Bandung juga tidak masalah sebab gedung sekolahnya tidak bertingkat sehingga Ginan bisa menggunakan terus kursi rodanya.

Kata Ginan, sebenarnya dia tidak selalu duduk di kursi roda. Kursi roda hanya digunakan ketika kuliah atau keluar rumah. Kalau sudah di rumah dia cukup ngampar saja di lantai dan berpindah tempat dengan cara mengesot. Untuk menggunakan toilet Ginan juga tidak kesulitan sebab dia mampu melakukannya sendiri tanpa dibantu.

Kalau saya perhatikan, teman-teman kuliah Ginan juga tidak memperlakukan Ginan secara istimewa. Biasa-biasa saja. Begitu juga sikap para dosen. Saya yakin Ginan juga tidak menginginkan dia diperlakukan khusus atau dikasihani. Ginan mempunyai kemampuan akademik setara dengan yang lain, secara prestasi dia juga tidak kalah dengan teman-temannya itu. Itu kelebihan dia. Di ITB mahasiswa dinilai dari intelektualitas dan integritas moralnya, penampilan fisik seperti cantik, jelek, tinggi, gendut, pendek, cacat fisik, dan sebagainya tidak menjadi ukuran penilaian. Kehadiran Ginan di ITB menambah keragaman mahasiswa ITB, khususnya di Angkatan 2006, dan hal ini juga membuktikan tidak ada diskriminasi kepada siapapun untuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah hak setiap warga negara. Saya yakin ITB bangga mempunyai mahasiswa seperti Ginan.

Semangat hidup dan semangat belajar Ginan sangat tinggi. Terus terang saya kagum dengan tekad bajanya yang pantang menyerah itu. Satu hal yang dia pikirkan adalah mengenai masa depan, apakah ada perusahaan yang mau menerima dia bekerja nanti dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu?, demikian yang disampaikan Ginan kepada saya.Tetapi saya yakin, pasti ada, Ginan. Indonesia ini negara maju, dan saya yakin orang-orang yang berpikiran modern pasti menilai seseorang dari kemampuan otaknya, bukan dari penampilan fisik semata. Tidak ada undang-undang yang melarang kaum penyandang cacat untuk bekerja menjadi PNS, pegawai BUMN, perusahaan swasta, dan sebagainya. Kalaupun tidak bisa bekerja di perusahaan orang lain, saya yakin menjadi enterpreuner adalah pilihan yang juga dipikirkan oleh Ginan. Menjadi enterpreuner di bidang teknologi informasi tidak sulit sebab pekerjaanya lebih banyak di depan komputer dan tidak memerlukan mobilitas di lapangan.

Sosok Ginan mengingatkan saya pada mahasiswa saya yang lama yang juga mempunyai disabbilities dengan kondisi yang mirip seperti Ginan. Dulu tahun 1993 ada mahasiswa IF namanya Taufik Hidayat. Kakinya juga (maaf) invalid dan untuk itu dia harus menggunakan sepasang tongkat untuk menyangga tubuhnya. Dengan bantuan kedua tongkat itu Taufik bisa berjalan pelan. Sekali lagi, untunglah di gedung jurusan kami ada anggung sehingga Taufik terbantu. Meski demikian, jika anggung tidak berfungsi, Taufik mampu berjalan naik turun tangga. Lulus S1 Taufik menjadi dosen di jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta hingga sekarang. Dia mengambil S2 di Jerman dan sudah mempunyai istri dan seorang anak. Waktu saya ke Yogyakarta saya ketemu Taufik. Setiap hari dia ke kampus dengan mengendari sepeda motor roda empat yang didesain khsusus untuk dia. Istri dan anaknya bangga dengan ayahnya itu. Salam buat Taufik Hidayat jika dia membaca tulisan ini.

Kembali ke Ginan. Satu hal yang menjadi impian Ginan adalah bisa hidup mandiri, artinya tidak selalu bergantung pada orang lain. Misalnya bisa berpindah secara mobile tanpa dibantu, bisa naik bis atau kendaraan umum yang menyediakan fasilitas bagi pemakai kursi roda, ada jalur khusus bagi pemakai kursi roda, dan sebagainya. Sayangnya negeri kita masih belum sepenuhnya menyediakan fasilitas buat kaum difabel. Kayaknya perlu waktu cukup lama baru ada fasilitas itu dijumpai di mana-mana.

Namun Ginan pantang menyerah. Sosok Ginan sekali lagi membuktikan bahwa Allah SWT sungguh Maha Adil. Dia tidak memberikan kekurangan pada makhluk-Nya tanpa ada kelebihan yang menyertainya. Di balik kekurangan yang ada pada Ginan, Allah SWT memberikan dia kelebihan yaitu otak yang cerdas sebagai modal bagi dia menapaki hidup kelak. Allahu akbar. Semangat hidup dan perjuangan Ginan patut ditiru dan semoga sosok Ginan memberi inspirasi bagi siapapun untuk meraih cita-cita. Kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus maju.

Cara Cepat DO: Menyontek! (Sebuah Karangan Bunga)

Tadi pagi waktu saya lewat gerbang kampus ada sebuah karangan bunga di depan patung Ganesha . Tempat ini memang sering dipakai untuk metetakkan karangan bunga, baik karangan bunga berisi ungkapan duka cita maupun suka cita. Saya sering berhenti sebentar di depan karangan bunga untuk membaca siapa yang meninggal dunia atau dalam rangka kegiatan apa sehingga ada karangan bunga di sana. Tapi karangan bunga yang ini lain dan cukup unik, isinya seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

DSC00495

Nah, berjalan sedikit ke arah lapangan basket ada lagi sebuah spanduk di depan Gedung Teknik Sipil:

DSC00498

Bisa dibaca dengan jelas ‘kan tulisan di spanduk paling atas: “Cara cepat DO: menyontek. Trust me, it works!

Ops, saya baru mengerti, minggu ini dan minggu depan ITB memasuki pekan Ujian Akhir Semester (UAS). Jadi, karangan bunga ini dimaksudkan untuk mengingatkan mahasiwa agar berperilaku bersih dalam ujian dengan tidak menyontek. Saya tidak tahu siapa yang memasang karangan bunga ini, apakah pihak ITB atau Keluarga Mahasiswa ITB. Siapapun yang memasangnya, gerakan anti menyontek atau gerakan kampanye UAS bersih patut didukung.

Bagi sebagian besar dosen ITB, menyontek dalam ujian adalah tindakan yang bisa berakibat fatal. Jika ketahuan, maka pelaku dapat terancam tidak lulus mata kuliah. Tapi ada juga yang agak ringan hukumannya, yaitu nilai 0 untuk ujian tersebut (ah, dipikir-pikir tidak ada bedanya ya, mendapat 0 dalam UAS bisa menjatuhkan akumulasi nilai akhir yang ujung-ujungnya E juga alias tidak lulus).

Menyontek kata dasarnya adalah “sontek” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah (1) melanggar, atau (2) mengutip (tulisan dsb) sebagaimana aslinya; menjiplak. Menyontek dalam ujian adalah tindakan yang tidak terpuji sebab merupakan sebuah tindakan kecurangan. Mahasiswa ingin mendapat nilai bagus tapi menghalalkan segala cara dengan melihat kertas ulangan teman, melihat buku catatan, dan lain-lain. Maka, wajar jika hukuman terhadap pelaku menyontek adalah tidak lulus (bahkan yang mengerikan seperti tulisan di spanduk itu: DO).

Apakah mahasiswa ITB yang katanya cerdas-cerdas itu masih ada yang berani menyontek? Jawabannya cukup mencengangkan: ada! Menyontek adalah masalah moral, dan moral tidak ada kaitannya dengan cerdas atau bukan. Korupsi saja contohnya, banyak dilakukan oleh orang-orang pintar keluaran perguaran tinggi.

Hmmm… sebenarnya menyontek tidak hanya waktu ujian saja, bukan? Pengerjaan tugas-tugas kuliah juga rawan terhadap penyontekan. Istilah populernya adalah copy-paste. Salin dan tempel. Mahasiswa menyalin makalah orang lain yang diunduh dari internet tanpa menyebutkan sumbernya termasuk tindakan menyontek. Mahasiswa menyalin laporan tugas temannya itu juga menyontek. Menyalin kode program teman dan mengubahnya sedikit supaya tidak kentara (ketahuan), itu juga menyontek. Pada kasus seperti ini, maka tiada ampun lagi, nilai tugas yang menyontek dan nilai tugas yang memberi sontekan sama-sama 0.

Dalam pandangan saya, tindakan menyontek adalah awal dari perbuatan korupsi dan bentuk manipulatif lainnya. Orang yang terbiasa menyontek maka lama-lama di dalam dirinya terbangun paham bahwa menyontek itu hal yang biasa saja. Karena dianggap biasa, maka jika nanti menduduki jabatan ia pun menganggap bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya juga perbuatan biasa. Saya kira pejabat-pejabat yang melakukan korupsi itu dulu semasa sekolah mungkin terbiasa melakukan menyontek ‘kali. Segala cara dihalakan untuk mencapai tujuan.

Jadi,menyontek itu memang parah banget, karena konsekuensi ke depannya bisa berakibat fatal. Jika semua mahasiswa menyadari menyontek itu sama bahayanya dengan korupsi, maka ujian-ujian tidak perlu diawasi lagi. Warung kejujuran tidak hanya menjual makanan tanpa pengawas, tapi warung kejujuran juga di dalam ruang ujian, di rumah, dan di mana saja kita berada. Trust me, let it works!.

Pilih Mana: Mega-Pro, SBY-No (diganti “SBY-Berbudi”) atau JK-Win?

Akhirnya setelah penuh lika-liku selama berminggu-minggu, calon presiden dan wakil presiden yang akan maju dalam Pilpres 2009 berjumlah tiga pasang. Pasangan pertama adalah incumbent SBY dan Budiono (SBY-No), lalu Megawati dan Prabowo (Mega-Pro), dan Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win).

Pasangan mana yang akan menang nanti? Seperti yang pernah saya tulis sebelum ini, siapapun lawannya diperkirakan SBY akan menang lagi, tidak peduli siapapun calon wakil presiden yang mendampingi SBY. Jika SBY akhirnya memilih Boediono – yang ditolak oleh parpol PKS, PAN, dan PPP karena ybs diangggap mengusung paham ekonomi neoliberal — pada akhirnya ketiga parpol tersebut akan merapat kembali ke SBY. Kekhawatiran tidak akan mendapat pembagian jatah kekuasaan adalah alasan mengapa ketiga partai penolak ini akhirnya memilih bergabung dengan SBY. Pragmatis banget para politisi itu ya.

Sebagian besar rakyat kita tidak mempedulikan siapa yang akan menjadi wapres SBY. Mau paham ekonomi liberal atau neoliberal atau apa, mayoritas rakyat kita awam dengan istilah-istilah itu. Istilah-istilah rumit itu cukup makanan kaum elitis saja seperti politisi dan orang berpendidikan tinggi yang jumlahnya hanya sekian persen dari jumlah penduduk Indonesia. Ingat sebagian besar rakyat kita pendidikannya masih rendah dan orientasi sebagian besar rakyat ini adalah urusan domestik. Coba tanya orang-orang kecil seperti tukang jamu, mang-mang beca, mbok-mbok bakul, buruh, kuli, nelayan, petani, dan lain-lain, presiden macam apa apa yang mereka inginkan? Jawabannya sederhana, yaitu presiden yang dapat membuat bagaimana harga barang murah, bagaimana pendidikan murah, obat murah, ongkos transpor murah, minyak murah, negara aman, dan lain-lain. Mereka tidak paham konsep-konsep yang diributkan kaum elitis itu. Mungkin keawaman itulah yang dimanfaatkan para politisi untuk meraih banyak suara dalam setiap pemilu. Pepatah yang mengatakan bahwa orang bodoh adalah makanan empuk orang pintar ada benarnya juga.

Bagi sebagian besar rakyat di negeri ini, yang dilihat adalah RI-1 nya siapa, bukan RI-2 nya. Realitas selama ini menunjukkan bahwa kesan yang ditinggalkan oleh calon pemimpin adalah memori penting yang digunakan sebagai referensi rakyat dalam memilih pemimpin berikutnya. Nah, SBY memiliki semua itu. Dimata sebagian besar rakyat miskin yang jumlahnya puluhan juta, SBY dimemorikan dengan program BLT yang membagi-bagikan uang sebesar Rp 300 ribu secara gratis kepada kaum dhuafa, program beras buat orang miskin (raskin), dan lain-lain (padahal program BLT dan lain-lain itu adalah program berdua SBY dan JK, tidak hanya SBY saja, tapi ya itulah lagi-lagi SBY yang diingat oleh penerima, SBY dapat nangka sedangkan JK hanya dapat getahnya :-) ). Nah, apakah ada jaminan kalau pemimpinnya bukan SBY program BLT masih dilanjutkan? Secara sederhana rakyat kita yang pendidikannya masih rendah itu tentu akan memilih SBY lagi karena berharap BLT tetap diteruskan. Tentu BLT atau program raskin bukan satu-satunya faktor, ada sejumlah faktor lain mengapa pada Pilpres nanti diperkirakan SBY akan menang lagi, antara lain SBY memberi rasa aman, kenaikan gaji PNS dan para guru, SBY berwibawa, SBY ganteng, dan lain-lain.

Pasangan capres dan cawapres lain seperti Mega-Pro dan JK-Win akan sulit menang. Mega sudah pernah kalah dalam Pilpres 2004, maka Pilpres 2009 ini tampaknya akan mengulangi kekalahan yang sama. Mungkin akan lain ceritanya jika yang maju sebagai capres adalah Prabowo dan wapresnya Mega (apa mau?), sebab Prabowo adalah lawan berat SBY. Sebenarnya Mega harus tahu diri, tetapi sikap bajanya maju sebagai capres mungkin ada alasannya juga, yaitu untuk menyelamatkan masa depan PDIP minimal 5 tahun ke depan. Lima tahun lagi diperkirakan Mega sudah tidak mungkin menjabat Ketua Umum lagi karena faktor usia, sementara PDIP tidak punya tokoh kharismatis lain sebagai pengganti Mega. Ada perkiraan PDIP akan terus merosot karena kehilangan tokoh kharismatis. Begitulah nasib partai-partai yang mengandalkan figur. PKB adalah contoh nyata, setelah Gus Dur hengkang dari PKB karena berkonflik dengan Muhaimin, akhirnya PKB menjadi partai liliput.

Akan halnya JK-Win, pencalonan ini tidak lepas dari persoalan harga diri. JK yang merasa dilecehan oleh Demokrat tidak mau harga dirinya diremehkan begitu saja , maka mencalonkan diri sebagai capres adalah jalan terhormat meskipun dalam hati merasa akan sulit mengalahkan SBY. Agar dapat maju dalam Pilpres, maka diajaklah Wiranto dari partai kecil (Hanura) sebagai cawapres. Bak kata pepatah, tidak ada kayu rotan pun jadi, kira-kira begitulah perumpamaan JK memilih Wiranto.

Begitulah analisis politik ecek-ecek menjelang Pilpres 2009 pada bulan Juli nanti. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati, analisis iseng-iseng ini bisa benar bisa salah.

Saya belum bisa menentukan mau memilih yang mana, tetapi yang pasti salah satu dari dua calon, yaitu SBY-No atau JK-Win. Kalau kamu pilih yang mana?

Suami Istri Pilih Bercerai Daripada Kehilangan Kursi Legislatif

Seperti judul tulisan ini, itulah akhirnya pilihan yang diambil oleh pasangan suami istri Dina Rahman (27) dan Nurani Fuzianti (28). Dari hasil perhitungan suara yang mndekati final, mereka dipastikan meraih tiket kursi legislatif di DPRD Kabupaten Sumedang. Dina menjadi caleg terpilih dari PAN untuk daerah pemilihan Sumedang 1, Cimanggung-Jatinangor. Adapun istrinya, Nurani, yang juga anggota DPRD, terpilih lagi di daerah pemilihan Sumedang 6. dari Partai Demokrat

Namun sekarang mereka dihadapkan pada masalah pelik, ibarat makan buah simalakama: jika dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah yang mati. Ternyata Partai Demokrat, partai tempat Nuraini mencalonkan diri, memiliki aturan yang tak membolehkan pasangan suami-istri berbeda partai menjadi anggota dewan. Mungkin khawatir kali rahasia parpol atau kebijakan fraksi di dewan bocor dari suami ke istri atau istri ke suami. Entahlah.

Ini berarti salah satu dari mereka harus mengundurkan diri jika rumah tangga mereka ingin tetap dipertahankan, atau memilih bercerai jika kedua-duanya ingin tetap maju sebagai anggota dewan. Dina sendiri mengaku akan terus maju. Menurutnya, menjadi caleg terpilih itu bukan pekerjaan mudah, sementara Nurani meminta waktu satu bulan untuk mengambil keputusan. Berita selengkapnya dapat dibaca di koran Tribun Jabar. Berita tersebut ditulis pada tanggal 24 April 2009.

Kemaren, Kamis 7 Mei 2009, saya iseng-iseng baca koran di sebuah kios koran. Berhubung saya tidak berlangganan koran Tribun Jabar, saya comot koran ini. Dan berita utama koran Tribun Jabar hari itu mengagetkan saya: akhirnya Dina dan Nurani memilih bercerai daripada kehilangan kursi di DPRD. Setelah hampir satu bulan berpikir, Nurani akhirnya mengambil keputusan yaitu memilih bercerai dengan suaminya, Dina. Sayang sekali berita online-nya tidak saya temukan di koran edisi elektroniknya. Kalau pembaca menemukan beritanya, tolong ditambahkan pranalanya di komentar ya…

Saya yang membaca berita itu terkaget-kaget hampir tidak percaya. Padahal Dina dan Nurani sudah mempunyai seorang anak berusia empat tahun lho. Bercerai adalah pilihan yang mereka ambil berdua. Alasan yang mereka katakan di koran: ini masalah rumah tangga kami.

Dalam hati saya berkata: kok tega ya ada suami istri yang rela bercerai demi karir politik. Saya sih tidak mau menghakimi pilihan Dina dan Nurani, itu urusan mereka. Tapi yang saya iba adalah nasib anaknya. Kasihan anaknya itu, dia menjadi korban ambisi politik kedua orangtuanya. Bagi saya, membina rumah tangga adalah urusan akhirat, sedangkan politik adalah masalah duniawi, urusan muamalah . Apa sih yang dikejar dari menjadi anggota dewan? Menjadi anggota dewan paling lama 5 tahun, sementara melakoni rumah tangga kan seumur hidup.

Saya teringat beberapa teman saya, pasangan suami istri, yang sama-sama bekerja di instansi yang sama. Aturan perusahaan melarang suami istri bekerja dalam satu kantor atau satu perusahaan. Tujuannya sih baik, yaitu untuk menghindari conflict of interest. Mereka, suami atau istri harus memilih, salah satu dari mereka harus mengundurkan diri. Akhirnya, pada kasus ini memang yang perempuan yang mengundurkan diri. Alasannnya mungkin sederhana: laki-laki sudah diamanahi sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Istri, kalaupun bekerja, berperan sebagai pelengkap saja. Istri tidak wajib hukumnya mencari nafkah, namun jika bekerja juga tidak dilarang asalkan diizinkan suami. Nah, pihak perempuan yang mengundurkan diri dari perusahaan bisa saja mencari pekerjaan di perusahaan yang berbeda, atau memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Ups.. keputusan bahwa perempuan yang mengalah dalam soal ini pasti akan mendapat kecaman pedas dari aktifis perempuan yang selalu menyuarakan isu gender, mereka mungkin mereka tersinggung kali ya….

Di ITB cukup banyak pasangan suami istri menjadi dosen, tidak ada aturan yang melarang mereka tetap menjadi dosen ITB. Di perguruan tinggi lain juga banyak suami istri menjadi dosen di universitas yang sama. Saya tidak melihat ada masalah, malah saya meilihat ada sisi positifnya yakni keduanya saling mendukung dan saling mengisi. Yah, mungkin iklim bekerja di lembaga pendidikan tidak sama dengan di perusahaan komersil kali ya, apalagi di institusi politik.

Kembali ke kasus Dina dan Nurani, saya tidak tahu siapa yang salah dan benar dalam hal ini, apakah parpol yang salah karena membuat aturan yang mempersulit suami istri politikus, atau suami istri ini yang egois karna lebih mementingkan ambisi politik daripada keluarga sakinah.

Mumpung belum resmi bercerai, mudah-mudahan Dina dan Nurani dapat berpikir lebih jernih lagi dan membatalkan niat bercerainya. Kasihan anak mereka yang tidak tahu apa-apa soal politik.

Selamat Jalan Prof. Benny Chatib

benny-chatibKemaren siang saya mendapat SMS dari Ketua UKM (Unit Kesenian Minang) ITB), Ismul, yang mengabarkan bahwa Prof. Benny Chatib telah meninggal dunia. Dari berita yang saya baca di milis dosen ITB, ternyata Pak Benny Khatib meninggal dunia dalam perjalanan dengan mobil travel Cipaganti dari Bandung ke Jakarta. Di atas mobil Pak Benny terlihat seperti orang yang tertidur, tetapi setelah mobil sampai di pool, Pak Benny tidak turun-turun juga meski telah dibangunkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Obituari Prof. Benny Chatib dapat dibaca di sini.

Beliau adalah urang Bukittinggi dan alumni SMA 1 Bukittinggi. Pak Benny adalah mahasiswa angkatan pertama jurusan yang dulu bernama Teknik Penyehatan ITB. Jurusan Teknik Penyehatan adalah jurusan yang berhubungan dengan penyediaan air minum. Dulu, ingat Teknik Penyehatan jadi ingat PAM (Perusahaaan Air Minum). Pak Benny pula yang mengusulkan pergantian nama Teknik Penyehatan menjadi Teknik Lingkungan sekarang dan bidang garapan jurusan ini tidak hanya tentang air bersih tetapi juga isu-isu lingkungan lain seoperti pencemaran udara, limbah, dan sebagainya. Riwayat hidup Pak Benny dapat dibaca pada pranala ini.

Saya tidak terlalu mengenal Pak Benny, tetapi ada faktor ‘sejarah’ mengapa saya pernah mengenal Pak Benny barang sebentar. Waktu itu beberapa mahasiswa dari unit UKM mendatangi saya dan meminta kesediaan saya menjadi dosen pembina unit tersebut berhubung Pak Benny sudah memasuki masa pensiun dari ITB. Pak Benny meminta kepada pengurus UKM agar dicarikan pengganti dirinya sebagai dosen pembina UKM. Entah kenapa pilihan mahasiswa itu jatuh kepada saya — padahal saya dulu semasa mahasiswa tidak aktif di unit ini. Saya mempertimbangkan permohonan mahasiswa tersebut, apalagi saya juga mendapat tugas sebagai dosen pembina kemahasiswaan di Prodi Informatika. Setelah beberapa hari berpikir barulah saya bersedia menjadi dosen pembina unit tersebut menggantikan Prof. Benny Chatib.

Nah, sebelum resmi menjadi dosen pembina UKM menggantikan Pak Benny, saya bertemu dengan Pak Benny beberapa kali. Dia ‘menitipkan’ UKM kepada saya dan memberi beberapa masukan. Nah, berhubung saya awam dalam menjadi dosen pembina, maka saya meminta waktu untuk bertemu dengan beliau guna berbicara lebih banyak tentang unit ini. Namun hingga hari ini pertemuan tersebut tidak pernah terlaksana, dan sekarang beliau sudah dipanggil oleh Allah SWT, kembali ke sisi-Nya yang damai.

Kemaren sore jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Salman, kemudian dibawa ke Aula Barat untuk dilepas secara resmi oleh ITB (FYI, hanya dosen yang menyandang gelar profesor yang boleh dilepas jenazahnya di Aula Barat). Berikut beberapa foto pelepasan jenazah dari Aula Barat ITB pada Hari Rabu sore 6 Mei 2009 pukul 16.00:

dsc00487

dsc00486

Selamat jalan Pak Benny Chatib, semoga arwahmu diterima oleh Allah SWT dan diberikan tempat yang layak di sisinya. Amiin.

Dulu Menangkap Koruptor, Sekarang Giliran Ditangkap

Negara Indonesia memang penuh dengan aneka kejutan yang membuat kita terkejut-kejut. Siapa yang tidak terkejut mendengar Ketua KPK, Antasari Azhar (AA), ditangkap polisi semalam karena diduga menjadi otak pembunuhan seorang pengusaha bernama Nasrudin. Dan yang mengejutkan, masalah pembunuhan itu tidak ada sangkut pautnya dengan perkara korupsi yang merupakan core bussiness KPK, tetapi soal… wanita! Duh, wanita memang bisa membuat dua lelaki berperkara yang akhirnya berujung pada pembunuhan. Pepatah lama yang mengatakan bahwa harta, tahta, dan wanita adalah jerat bagi kaum lelaki ternyata masih berlaku. Menurut berita yang saya baca di sebuah harian, AA disangka punya affair dengan istri ketiga Nasrudin (hah? punya 3 istri?). Nasrudin yang tidak terima istrinya diganggu lalu mengancam akan membeberkan aib AA. Nasrudin memeras AA agar aibnya tidak disebarluaskan. Ujungnya sudah bisa diduga, AA marah lalu merancang menghabisi Nasrudin. Begitulah kisah yang bertebara di media cetak hari ini. Benar tidaknya biar nanti pengadilan yang akan mengungkapkannya.

KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, siapa orang Indonesia yang tidak tahu lembaga ini. KPK yang pada mulanya nobody , di tangan AA menjelma menjadi superbody. KPK seolah-olah mempunyai kewenangan yang tidak terbatas untuk mengusut perkara korupsi. Para pejabat dan poitisi takut dibuatnya, mendengar namanya saja mereka sudah keder. Mereka gemetaran ketika kantornya ‘diobrak-abrik’ oleh petugas KPK dalam rangka mencari bukti-bukti korupsi, seakan-akan petugas KPK itu sedang menguber ‘tikus-tikus’. Petugas KPK terkadang lebih galak dari polisi. Sudah banyak politikus dan pejabat yang ditangkap oleh KPK karena terlibat perkara suap, manipulasi, dan korupsi yang merugikan uang negara. Kisah perburuan para tersangka koruptor seperti film-film detektif dan menjadi berita utama di media massa. Masih ingat dengan drama penangkapan Al Amin? Jaksa Urip? Arthalyta? Lalu mantan dirut BI yang merupakan besan SBY, Aulia Pohan? Masih banyak lagi koruptor di negeri ini berhasil diburu dan ditangkap oleh KPK. KPK mendapat pujian dan sanjungan yang luar biasa karena berhasil membongkar korupsi kelas kakap. Rakyat Indonesia angkat topi kepada KPK. Rakyat sepertinya menaruh harapan yang besar kepada KPK dalam memberantas korupsi yang sudah mendarah daging di negeri ini.

Semenjak banyak koruptor ditangkap oleh KPK, nama AA langsung melejit. Popularitasnya melebihi Pak Presiden. Dia seolah-olah menjadi pesohor (selebiriti) baru. AA pernah digadang-gadang menjadi calon wapres oleh sebuah parpol. Melihat wajah AA di TV publik langsung ingat KPK. Ya, AA dan KPK bagai dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tapi, ya begitulah. Ketika seseorang berada di atas angin, ketika sanjungan yang datang kepadanya tiada henti-hentinya, maka ujian pun datang. Sebagian orang yang ‘mabuk kepayang’ oleh sejuta sanjungan dan pujian terkadang lupa diri. Terlena. Dia lupa kakinya sedang berdiri dimana, entah masih di bumi atau di awan. Dia tekadang lupa mengontrol perilakunya, tindak tanduknya. Dia seakan tidak bisa membedakan lagi apakah tindakannya itu berakibat baik atau buruk bagi diri dan lingkungannya. Ketika rasa angkuh itu memuncak, ketika dia masih dibuai lena, saat itulah Tuhan mencabut kejayaannya dan tiba-tiba dia menjadi orang yang hina, 180 derajat berubah total dari sebelumnya orang yang mulia. Itulah ‘teguran’ Tuhan kepadanya.

Barangkali itu pula yang menimpa Soekarno, Soeharto dan keluarganya, serta orang-orang terkenal lainnya di negeri ini, sebutlah para artis (Johny Indo, Roy Marten, dll), politisi, bahkan ulama (Kiai Nur Iskandar SQ, AA Gym, dll), dan sekarang giliran AA. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran (saya lupa surat dan ayatnya, ada yang tahu?), bahwa Allah SWT mempergilirkan kejayaan seseorang atau sekelompok kaum (atau bangsa). Ada saatnya kaum itu sedang berada di atas, lalu Allah membalikkannya sehingga berada di bawah. Sejarah mencatat entah beberapa banyak bangsa yang dulu pernah berjaya di bumi ini, tetapi sekarang menjadi bangsa yang berada di halaman belakang sejarah itu. Menjadi mulia atau menjadi hina semua adalah akibat perbuatan sendiri. Dalam bahasa yang sederhana, pergiliran kejayaan itu diibaratkan seperti roda pedati yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.

Kembali ke masalah yang menimpa AA, apabila benar terbukti dia berada di balik pembunuhan Nasrudin, maka nasibnya benar-benar terpuruk. Karirnya akan tamat, kejayaannya bakal siran, dan namanya akan dilupakan orang.

Sudah banyak peristiwa-peristiwa terpuruknya orang-orang terkenal di bumi ini karena terlena oleh sanjungan dan pujian yang berlebihan saat ia mencapai kejayaan. Tetapi, tidak banyak orang yang belajar dari sejarah bahwa sesungguhnya semua itu fatamorgana saja. Semu. Fana. Tidak banyak orang yang belajar bahwa sesungguhnya segala puja puji dan sanjungan hanyalah milik Allah SWT semata, kita tidak layak berbangga hati menerimanya. Sebagaimana yang setiap hari kita baca di dalam shalat, alhamdulillaahirabi ‘allamiin, segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Mudah-mudahan kita selalu diberikan kerendahan hati, karena yang mulia di sisi manusia dan Allah SWT adalah orang yang selalu rendah hati.