Catatanku

Dulu Menangkap Koruptor, Sekarang Giliran Ditangkap

2 Mei 2009 · & Komentar

Negara Indonesia memang penuh dengan aneka kejutan yang membuat kita terkejut-kejut. Siapa yang tidak terkejut mendengar Ketua KPK, Antasari Azhar (AA), ditangkap polisi semalam karena diduga menjadi otak pembunuhan seorang pengusaha bernama Nasrudin. Dan yang mengejutkan, masalah pembunuhan itu tidak ada sangkut pautnya dengan perkara korupsi yang merupakan core bussiness KPK, tetapi soal… wanita! Duh, wanita memang bisa membuat dua lelaki berperkara yang akhirnya berujung pada pembunuhan. Pepatah lama yang mengatakan bahwa harta, tahta, dan wanita adalah jerat bagi kaum lelaki ternyata masih berlaku. Menurut berita yang saya baca di sebuah harian, AA disangka punya affair dengan istri ketiga Nasrudin (hah? punya 3 istri?). Nasrudin yang tidak terima istrinya diganggu lalu mengancam akan membeberkan aib AA. Nasrudin memeras AA agar aibnya tidak disebarluaskan. Ujungnya sudah bisa diduga, AA marah lalu merancang menghabisi Nasrudin. Begitulah kisah yang bertebara di media cetak hari ini. Benar tidaknya biar nanti pengadilan yang akan mengungkapkannya.

KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, siapa orang Indonesia yang tidak tahu lembaga ini. KPK yang pada mulanya nobody , di tangan AA menjelma menjadi superbody. KPK seolah-olah mempunyai kewenangan yang tidak terbatas untuk mengusut perkara korupsi. Para pejabat dan poitisi takut dibuatnya, mendengar namanya saja mereka sudah keder. Mereka gemetaran ketika kantornya ‘diobrak-abrik’ oleh petugas KPK dalam rangka mencari bukti-bukti korupsi, seakan-akan petugas KPK itu sedang menguber ‘tikus-tikus’. Petugas KPK terkadang lebih galak dari polisi. Sudah banyak politikus dan pejabat yang ditangkap oleh KPK karena terlibat perkara suap, manipulasi, dan korupsi yang merugikan uang negara. Kisah perburuan para tersangka koruptor seperti film-film detektif dan menjadi berita utama di media massa. Masih ingat dengan drama penangkapan Al Amin? Jaksa Urip? Arthalyta? Lalu mantan dirut BI yang merupakan besan SBY, Aulia Pohan? Masih banyak lagi koruptor di negeri ini berhasil diburu dan ditangkap oleh KPK. KPK mendapat pujian dan sanjungan yang luar biasa karena berhasil membongkar korupsi kelas kakap. Rakyat Indonesia angkat topi kepada KPK. Rakyat sepertinya menaruh harapan yang besar kepada KPK dalam memberantas korupsi yang sudah mendarah daging di negeri ini.

Semenjak banyak koruptor ditangkap oleh KPK, nama AA langsung melejit. Popularitasnya melebihi Pak Presiden. Dia seolah-olah menjadi pesohor (selebiriti) baru. AA pernah digadang-gadang menjadi calon wapres oleh sebuah parpol. Melihat wajah AA di TV publik langsung ingat KPK. Ya, AA dan KPK bagai dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tapi, ya begitulah. Ketika seseorang berada di atas angin, ketika sanjungan yang datang kepadanya tiada henti-hentinya, maka ujian pun datang. Sebagian orang yang ‘mabuk kepayang’ oleh sejuta sanjungan dan pujian terkadang lupa diri. Terlena. Dia lupa kakinya sedang berdiri dimana, entah masih di bumi atau di awan. Dia tekadang lupa mengontrol perilakunya, tindak tanduknya. Dia seakan tidak bisa membedakan lagi apakah tindakannya itu berakibat baik atau buruk bagi diri dan lingkungannya. Ketika rasa angkuh itu memuncak, ketika dia masih dibuai lena, saat itulah Tuhan mencabut kejayaannya dan tiba-tiba dia menjadi orang yang hina, 180 derajat berubah total dari sebelumnya orang yang mulia. Itulah ‘teguran’ Tuhan kepadanya.

Barangkali itu pula yang menimpa Soekarno, Soeharto dan keluarganya, serta orang-orang terkenal lainnya di negeri ini, sebutlah para artis (Johny Indo, Roy Marten, dll), politisi, bahkan ulama (Kiai Nur Iskandar SQ, AA Gym, dll), dan sekarang giliran AA. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran (saya lupa surat dan ayatnya, ada yang tahu?), bahwa Allah SWT mempergilirkan kejayaan seseorang atau sekelompok kaum (atau bangsa). Ada saatnya kaum itu sedang berada di atas, lalu Allah membalikkannya sehingga berada di bawah. Sejarah mencatat entah beberapa banyak bangsa yang dulu pernah berjaya di bumi ini, tetapi sekarang menjadi bangsa yang berada di halaman belakang sejarah itu. Menjadi mulia atau menjadi hina semua adalah akibat perbuatan sendiri. Dalam bahasa yang sederhana, pergiliran kejayaan itu diibaratkan seperti roda pedati yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.

Kembali ke masalah yang menimpa AA, apabila benar terbukti dia berada di balik pembunuhan Nasrudin, maka nasibnya benar-benar terpuruk. Karirnya akan tamat, kejayaannya bakal siran, dan namanya akan dilupakan orang.

Sudah banyak peristiwa-peristiwa terpuruknya orang-orang terkenal di bumi ini karena terlena oleh sanjungan dan pujian yang berlebihan saat ia mencapai kejayaan. Tetapi, tidak banyak orang yang belajar dari sejarah bahwa sesungguhnya semua itu fatamorgana saja. Semu. Fana. Tidak banyak orang yang belajar bahwa sesungguhnya segala puja puji dan sanjungan hanyalah milik Allah SWT semata, kita tidak layak berbangga hati menerimanya. Sebagaimana yang setiap hari kita baca di dalam shalat, alhamdulillaahirabi ‘allamiin, segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Mudah-mudahan kita selalu diberikan kerendahan hati, karena yang mulia di sisi manusia dan Allah SWT adalah orang yang selalu rendah hati.

Kategori: Indonesiaku · Renunganku

11 tanggapan so far ↓

  • Catra // 2 Mei 2009 pada 15:27 | Balas

    Semoga saja semua tuduhan-tudah itu hanya fitnah pak. Semoga saja. Sya khawatir Citra KPK akan rusak dan imbasnya orang akan seenaknya lagi korupsi.
    Kejagung yang paling semangat nih pak, mengusut kasus ini. maklum KPK vs kejagung musuh bebuyutan

  • dwinanto // 2 Mei 2009 pada 23:19 | Balas

    Pagi tadi menyaksikan kutipan berita mengenai hal ini, bersamaan dengan deklarasi pasangan JK-Wiranto,.
    Tampaknya memang sulit menjadi seorang teladan dalam pandangan masyarakat Indonesia,.

  • anenk // 3 Mei 2009 pada 12:26 | Balas

    sudah tradisi pejabat sekarang saling menjatuhkan

  • Si tukang ronda // 3 Mei 2009 pada 17:49 | Balas

    Hanya satu manusia paling sempurna dimuka bumi ini kalau mau selamat sebaiknya kita contoh Baginda Rasulullah.

    Negara ini menyedihkan seluruh partai ingin duduk di DPR lalu siapa yang mau duduk dilantai bro? he…he….

    @dwinanto

    betul bro dua manusia ini sudah sepakat jadi capres & cawapres he…he….lo milih ya….

  • anonym // 4 Mei 2009 pada 09:11 | Balas

    Ada yg disebut asas praduga tak bersalah pak.
    Belum tentu dia benar seperti yg dituduhkan.
    Siapa tahu dia dijebak oleh mereka yg ketakutan akan ketahuan korupsi nya.
    Dan polisi indonesia juga nggak bersih2 amat kan?

  • ekoph // 4 Mei 2009 pada 14:03 | Balas

    kasusnya sedikit aneh, belum apa2 sudah ditangkap dan dijadikan tersangkan, padahal hari senin ini baru dipanggil untuk jadi saksi.

  • pebbie // 5 Mei 2009 pada 08:07 | Balas

    agak aneh, sebelum ada KPK dan kasus-kasusnya di Indonesia. sulit sekali untuk menemukan ‘mastermind’ dari suatu kasus pembunuhan, sebut saja kasus munir. sampai sekarang pun orang sudah lupa. lalu kasus semanggi.

    Wiranto pun yang masih bermasalah secara internasional sekarang malah dianggap baik-baik saja oleh Indonesa.

    sedangkan untuk kasus AA, pada hari yang sama diumumkan ke publik tentang kasus pembunuhan. Kejakgung sudah langsung tembak AA sebagai pelakunya.

    kepolisian sempat tidak konsisten. SHW pun mencurigakan, SHW merupakan tokoh kunci terjadinya perpecahan di PKB.

    di visualisasi penembakan di televisi juga tidak konsisten. pada waktu awal2 pemberitaan digambarkan motor menembak dari sisi kanan mobil (sama-sama di jalan) sedangkan kemarin digambarkan motor datang dari kiri jalan (trotoar).

    sepertinya ada yang aneh, tapi semoga kebenarannya betul-betul terungkap.

  • Ncadvertise // 6 Mei 2009 pada 00:04 | Balas

    Kasihan Antasari, tapi kasus ini kayaknya juga menutupi kekisruhan pemilu ya
    kujungi juga Newbie dari Komunitas Blogger Banyuwangi 57net.co.cc

  • wildan // 9 Mei 2009 pada 09:11 | Balas

    Pak AA dulunya jg jaksa. Saya agak skeptis juga dengan jaksa di Indonesia. Apakah memang benar-benar bersih? Siapa tahu sebelas-duabelas juga dengan polisi yang tidak bersih-bersih amat.
    Who knows?

  • Zakka Fauzan Muhammad // 9 Mei 2009 pada 20:07 | Balas

    Saya sih curiga ini konspirasi pak :D

  • Lola // 30 Mei 2009 pada 20:37 | Balas

    no comment deh….dalamnya hati siapa yg tahu…
    profesionalitas kerja P’AA bagus, tp diluar itu tdk semua org tahu kan………..lihat perkembangan kasusnya sj & smoga diberikan yg terbaik utk P’AA……

Tinggalkan sebuah Komentar