Tadi pagi waktu saya lewat gerbang kampus ada sebuah karangan bunga di depan patung Ganesha . Tempat ini memang sering dipakai untuk metetakkan karangan bunga, baik karangan bunga berisi ungkapan duka cita maupun suka cita. Saya sering berhenti sebentar di depan karangan bunga untuk membaca siapa yang meninggal dunia atau dalam rangka kegiatan apa sehingga ada karangan bunga di sana. Tapi karangan bunga yang ini lain dan cukup unik, isinya seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

Nah, berjalan sedikit ke arah lapangan basket ada lagi sebuah spanduk di depan Gedung Teknik Sipil:

Bisa dibaca dengan jelas ‘kan tulisan di spanduk paling atas: “Cara cepat DO: menyontek. Trust me, it works!“
Ops, saya baru mengerti, minggu ini dan minggu depan ITB memasuki pekan Ujian Akhir Semester (UAS). Jadi, karangan bunga ini dimaksudkan untuk mengingatkan mahasiwa agar berperilaku bersih dalam ujian dengan tidak menyontek. Saya tidak tahu siapa yang memasang karangan bunga ini, apakah pihak ITB atau Keluarga Mahasiswa ITB. Siapapun yang memasangnya, gerakan anti menyontek atau gerakan kampanye UAS bersih patut didukung.
Bagi sebagian besar dosen ITB, menyontek dalam ujian adalah tindakan yang bisa berakibat fatal. Jika ketahuan, maka pelaku dapat terancam tidak lulus mata kuliah. Tapi ada juga yang agak ringan hukumannya, yaitu nilai 0 untuk ujian tersebut (ah, dipikir-pikir tidak ada bedanya ya, mendapat 0 dalam UAS bisa menjatuhkan akumulasi nilai akhir yang ujung-ujungnya E juga alias tidak lulus).
Menyontek kata dasarnya adalah “sontek” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah (1) melanggar, atau (2) mengutip (tulisan dsb) sebagaimana aslinya; menjiplak. Menyontek dalam ujian adalah tindakan yang tidak terpuji sebab merupakan sebuah tindakan kecurangan. Mahasiswa ingin mendapat nilai bagus tapi menghalalkan segala cara dengan melihat kertas ulangan teman, melihat buku catatan, dan lain-lain. Maka, wajar jika hukuman terhadap pelaku menyontek adalah tidak lulus (bahkan yang mengerikan seperti tulisan di spanduk itu: DO).
Apakah mahasiswa ITB yang katanya cerdas-cerdas itu masih ada yang berani menyontek? Jawabannya cukup mencengangkan: ada! Menyontek adalah masalah moral, dan moral tidak ada kaitannya dengan cerdas atau bukan. Korupsi saja contohnya, banyak dilakukan oleh orang-orang pintar keluaran perguaran tinggi.
Hmmm… sebenarnya menyontek tidak hanya waktu ujian saja, bukan? Pengerjaan tugas-tugas kuliah juga rawan terhadap penyontekan. Istilah populernya adalah copy-paste. Salin dan tempel. Mahasiswa menyalin makalah orang lain yang diunduh dari internet tanpa menyebutkan sumbernya termasuk tindakan menyontek. Mahasiswa menyalin laporan tugas temannya itu juga menyontek. Menyalin kode program teman dan mengubahnya sedikit supaya tidak kentara (ketahuan), itu juga menyontek. Pada kasus seperti ini, maka tiada ampun lagi, nilai tugas yang menyontek dan nilai tugas yang memberi sontekan sama-sama 0.
Dalam pandangan saya, tindakan menyontek adalah awal dari perbuatan korupsi dan bentuk manipulatif lainnya. Orang yang terbiasa menyontek maka lama-lama di dalam dirinya terbangun paham bahwa menyontek itu hal yang biasa saja. Karena dianggap biasa, maka jika nanti menduduki jabatan ia pun menganggap bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya juga perbuatan biasa. Saya kira pejabat-pejabat yang melakukan korupsi itu dulu semasa sekolah mungkin terbiasa melakukan menyontek ‘kali. Segala cara dihalakan untuk mencapai tujuan.
Jadi,menyontek itu memang parah banget, karena konsekuensi ke depannya bisa berakibat fatal. Jika semua mahasiswa menyadari menyontek itu sama bahayanya dengan korupsi, maka ujian-ujian tidak perlu diawasi lagi. Warung kejujuran tidak hanya menjual makanan tanpa pengawas, tapi warung kejujuran juga di dalam ruang ujian, di rumah, dan di mana saja kita berada. Trust me, let it works!.
19 tanggapan so far ↓
yaniwid // 19 Mei 2009 pada 14:30 |
Saya pikir kata dasarnya ‘contek’…
reiSHA // 19 Mei 2009 pada 14:41 |
idem Bu Yani. tapi pas buka KBBI daring, katanya:
con·tek /conték/ ? sontek
arifromdhoni // 19 Mei 2009 pada 14:53 |
Saya juga berpikir kata dasarnya “contek”. Dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Tapi kalau dilihat dari turunannya, semisal “contekan”, kok rasa-rasanya menjadi aneh jika dikatakan “sontek” sebagai kata dasarnya.
dwinanto // 19 Mei 2009 pada 17:29 |
Masalahnya budaya ini belum ditanamkan sejak kecil, sehingga agak sulit mengubahnya spontan ketika seseorang sudah menjadi mahasiswa,.
Bayu // 20 Mei 2009 pada 00:48 |
Bagus sih ada gerakan seperti ini. Di Swedia sendiri kalau ada yg ketahuan menyontek atau istilahnya plagiarisme bukan cuma tidak lulus kuliah tapi bisa dilaporkan ke polisi dan dipenjara karena dianggap melanggar hak cipta meskipun itu hak cipta mahasiswa lain yg belum dipublikasikan. Apalagi kalau itu menyontek karya seorang pakar yg udah dipublikasikan bisa lebih berat lagi.
Mas // 21 Mei 2009 pada 00:04 |
Wah, ada-ada aja kampanye anti nyonteknya…
Perasaan dulu gak ada gini-ginian, apa budaya mencontek sudah demikian parah di ITB???
Mudah-mudahan hanya antisipasi saja
Salam.
ikhwanalim // 21 Mei 2009 pada 00:40 |
kampanye ini memang dari segenap keluarga besar ITB, sebenarnya. yang terutama diprakarsai oleh rektorat dan KM ITB.
mudah2an menjadi langkah awal yang baik utk memacu orisinalitas karya intelektual di kampus ITB…
hilda widyastuti // 21 Mei 2009 pada 12:58 |
saya setuju dengan gerakan anti mencontek
Eriek // 21 Mei 2009 pada 18:51 |
spanduk yang menarik. belum pernah saya temui seperti ini di kampus saya. yang ada spanduk himbauan untuk tidak merokok. ini biasa ya. tapi kalau spanduk seperti di atas tadi rasanya menyentil setiap mahasiswa yang pernah menyontek.
Catra // 22 Mei 2009 pada 01:18 |
Pak, sepertinya dengan adanya kampanye semacam ini mengindikasikan mahasiswa ITB udah kelewatan banget ya pak, curangnya?
Duh, malu saya pak.
vizon // 22 Mei 2009 pada 09:03 |
segitunya ya ITB mengkampanyekan anti nyontek? wah… gawat nih…
setuju sekali… menyontek adalah masalah moral, tidak ada hubungannya dg kepintaran. malah, justru penyontek itu adalah orang2 pintar dan kreatif… coba lihat cara yg mereka lakukan, banyak sekali variasinya… tapi, tentu saja itu bukanlah kreatifitas yg perlu didukung… hehe…
so, perlu sekali menanamkan moral kepada mahasiswa kita.
“ilmu tanpa moral adalah kebutaan, moral tanpa ilmu adalah kepincangan”
Meizano // 22 Mei 2009 pada 09:48 |
Setuju sekali, Pak. Mencontek membuat kita selalu tergantung terhadap orang lain, akhirnya jadi benalu di tempat kerja.
@vizon : Bagusnya kalau yang mencontek DO, berarti mahasiswa ITB yang lulus terjamin bukan tukang contek
ade // 22 Mei 2009 pada 09:58 |
kalau dasar mahasiswanya degil, kalau kepepet ya nyontek deui….kalaw udah di ruang ujian, kyk nya ga bakal diinget lagi spanduk kayak gitu..,yg penting lulus….hehe
rinaldimunir // 22 Mei 2009 pada 13:07 |
@ade: yah mudah-mudahan spanduk itu semacam “shock therapy” agar mahasiswa selalu mengutamakan kejujuran.
@Vizon: sip, setuju zon
@Eriek: coba dipasang di Unila sana, riek
@Catra: mungkin juga Cat, itu spanduk ternyata Direktorat Pendidikan (Dirdik) yang bikin. Mungkin mereka sudah mengamati banyak kejadian sehingga mengkampanyekan ujian bersih.
ghifar // 24 Mei 2009 pada 17:31 |
gmn yah caranya biar kita semua para pelajar & mahasiswa ga berorientasi mencari nilai dalam mencari ilmu ? huhu..
iche :) // 25 Mei 2009 pada 12:24 |
dulu waktu saya nanya teman : knapa nyontek ?
jawabannya meski becanda tapi bisa saya terima dengan nalar jg ;
‘Mbantu orang tua. biar nilainya bagus !’
Upps.. betul banget… kebanyakan kita waktu kul emang mau cari nilai bagus…
gimana g mau cari nilai bagus… orang kalo mau lamar kerja aja biasanya dicantumkan IPK minimal….
lagi2 nilai…
mending2 juga kalo ujiannya g cuma menguji kemampuan kognitif doang….
kasihan jg dengan orang2 yg kesulitan mengingat… mereka akan berjuang mati2an agar bisa mendapat nilai baik…
ya daripada berjuang mati2an hanya untuk mendapat nilai bagus, mending mereka mati beneran dengan cara nyontek…
kan kalo ketahuan, mereka bakal “mati” beneran karena DO…
Arie // 26 Mei 2009 pada 18:37 |
Hmm, jadi inget dulu bikin stiker GAM:
Gerakan Anti Menyontek
Duh, sekarang para aktivisnya udah pada ke mana ya? Mudah-mudahan di tempat masing-masing tetap ga nyontek
juzzmoe // 1 Juni 2009 pada 19:15 |
tapi pak, alhamdulillahnya..
masih banyak sekali anak IF yang nggak ngeh waktu ngeliat karangan bunga dan berbagai atribut kampanye untuk tidak menyontek ini.. bahkan malah ada yang nanya, emang masih ada ya yang nyontek..
yang artinya, masih banyak kok mahasiswa jujur..
rosa // 3 Juni 2009 pada 23:48 |
Menurut saya tidak semua menyontek salah. Misal kita tanya ke mbah Google mengenai kode program yang kita tidak tahu (sontek = menyalin) lalu kita pakai untuk kepentingan tugas kuliah. Apa ini bisa dianggap salah? Setahu saya Cina maju juga karena menyontek dan mereka berusaha membuatnya sendiri. Yang salah adalah jika kita copy paste tanpa menelaah apapun (tinggal tulis tanpa ada ilmu yang didapat). Saya juga tidak mendukung ujian hapalan, karena saat kerja, tidak ada itu kita tidak boleh melihat buku. Komputer pasti penuh dengan ebooks yang dieksplor setiap hari. Saya lebih mendukung ujian open book dengan soal bermutu dimana mahasiswa tetap bisa memperoleh ilmu walau dengan open book. Saya selalu bilang ke mahasiswa saya “kalau menyontek, menyonteklah yang elit” maksudnya harus ditelaah tidak makan langsung karena kalau makan langsung selalu saya beri sanksi nilai dipotong atau jadi 0.