Kemarin saya sempat lihat di TVOne trailer thriler film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) (kalau anda mau lihat trailernya thriler klik yang di YouTube ini (versi pendek) atau yang versi panjangnya ini. Kalau mau baca resensinya, klik pranala ini. Rencananya film yang disutradarai Chairul Umam ini akan diputar di bioskop mulai pada tanggal 11 Juni mendatang. Inilah film yang ditunggu-tunggu pembaca setia novel karya Habiburrahman El Shirazy atau lebih dikenal dengan nama Kang Abik. Novel yang judulnya sama dengan film itu sudah terjual 1 juta eksemplar. Luar biasa. Sebelum ini novel Kang Abik yaitu Ayat-ayat Cinta (AAC) juga telah difilmkan dan berhasil menjadi box office dengan jumlah penonton lebih dari 3 juta orang. Tapi banyak orang yang agak kecewa dengan film AAC. Pertama setting film nya bukan di Mesir sebagaimana cerita aslinya, tetapi di India. Kedua, jalan ceritanya tidak sama dengan yang ada di novel.
(Sumber foto: http://seveners.com)
Setidaknya di film KCB kerinduan pembaca dengan suasana Mesir, khususnya Kairo, akan terobati, dan jalan ceritanya persis sama dengan yang ada pada novelnya (begitu yang saya baca di media online, salah satunya di sini).
Saya sudah baca novel KCB jilid 1 beberapa bulan yang lalu (telat ya…hi..hi), sementara yang jilid 2 sudah dibeli tetapi belum sempat dibaca karena menunda-nunda. Membaca novel Kang Abik yaitu AAC dan KCB mengingatkan saya pada novel-novel karya Buya Hamka. Sejak zaman masih sekolah di Padang saya adalah penggemar roman yang ditulis Hamka, antara lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, dan lain-lain. Sebagian besar roman karya Hamka bercerita tentang cinta kasih yang terhalang oleh perbedaan budaya (Minang – Makassar pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck), atau perbedaan strata sosial (Di Bawah Lindungan Ka’bah).
Meskipun novel karya Hamka bercerita tentang cinta antara dua anak manusia, namun jalan cerita dibawakan dengan santun. Pergaulan antara tokoh pria dan wanita di novel itu masih tetap berada dalam bingkai syariat agama. Tokoh pria dan wanitanya tidak pernah berdua-duaan di tempat sepi, tahu benar Hamka bahwa berdua-duaan antara lawan jenis itu bisa menimbulkan hal yang tidak baik (zina). Bahkan, untuk mengutarakan isi hati tokoh pria kepada wanita (atau sebaliknya) Hamka tidak selalu menceritakannya secara langsung, tetapi melalui media surat, seakan-akan berterus terang tentang rasa mencintai itu masih tabu untuk dibicarakan. Misalnya pada penggalan kisah Zainuddin dan Hayati di bawah ini di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck:
Tiba-tiba, pada suatu hari, di waktu matahari hendak terbenam ke barat, di waktu perempuan-perempuan telah pulang dari pancuran mengisi parian betungnya, Hayati bertemu dengan Zainuddin di liku jalan.
” Ai… Tuan Zainuddin di sini.”
” Ya, disini menunggumu!”
“Menunggu saya?” Tanya Hayati, sedang dadanya mulai berdebar. ” Apakah maksudnya, lekaslah terangkan, supaya saya segera pulang.”
” Saya pun takut pula akan mengganggu perjalananmu. Engkau saya tunggu hanya sekadar hendak memberikan ini”. Lalu dikeluarnya sepucuk surat dari sakunya, diberikannya ketangan Hayati. Ketika memberikan itu jari-jemarinya kelihatan gementar.
Tengah Hayati masih bingung sendiri, memegang buli-buli yang ada dalam tangannya, Zainuddin berangkat dari tempat itu secepat-cepatnya. Hayati segera pulang. Sehabis sembahyang dan makan malam, segera dia naik ke atas anjung ketidurannya, membaca di dekat sebuah lampu dinding!
Kang Abik yang alumni Al Azhar Kairo pun begitu dalam setiap novelnya. Ia tahu batasan muhrim antara lelaki dan perempuan. Tokoh-tokoh pria dan wanita di dalam novelnya tidak pernah digambarkan berdua-duaan di tempat sepi, tidak pernah saling berpegangan dan bergandengan tangan. Tahu betul Kang Abik tentang syariat agama yang melarang pria dan wanita bukan muhrim berkhalwat di tempat yang sepi, tidak seperti pergaulan wanita dan pria zaman sekarang yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai agama.
Gaya bahasa antara Kang Abik dan Hamka memiliki kemiripan, yaitu sama-sama melankolik. Cerita mengalir begitu saja dengan alamiah. Perbedaannya, gaya bahasa Hamka kental dengan warna Melayu yang sarat dengan perlambang, sedangkan Kang Abik yang dibesarkan di Jawa tentu mempunyai ciri berbeda untuk menggambarkan simbolisme.
Begini penggalan karya Hamka untuk menggambarkan gaya bahasanya:
Surat itu rupanya diperbuat dengan jiwa, bukan dengan tangan. Apa yang bergelora didalam sanubari, ditumpahkan di kertas. Dan bagi yang membaca, tentu jiwanya pula yang kena. Gemetar kedua belah tangan Hayati membaca surat yang demikian. Dibacanya, tiba-tiba dengan tidak disadarinya, air mata telah mengalir di atas pipinya membasahi bantal kalanghulunya. Terbayanglah di hadapannya wajah Zainuddin yang muram, keluh yang sentiasa mengandung rahasia dalam. Yakinlah dia bahawa gerak dan bisik jantungnya bilamana melihat Zainuddin selama ini rupanya bukanlah gerak sembarang, tetapi adalah gerak ilham, gerak jiwa yang bertali dengan jiwa, gerak batin yang bertali dengan batin.
Demikianlah, hampir seluruh malam Hayati karam di dalam permohonannya kepada Tuhan, supaya Tuhan memberi perlindungan dan tujuan di dalam hidupnya, sebab sangat sekali surat Zainuddin mempengaruhi jiwanya. la merasa dirinya dalam gelap, dia meminta cahaya. Bermacam-¬macam perasaan yang bergelora hebat semalam itu dalam jiwanya, ganjil, beraneka warna; bercampur di antara cinta dan takut, kesenangan fikiran dan kesedihan, bertempur. Di antara pengharapan yang besar dan cita-cita yang rasakan patah. Dalam dia menangis, tiba-tiba berganti dengan tersenyum. Dalam senyum dia kembali mengeluh panjang. Mengapa dia menangis? Entahlah, dia sendiri pun masih ragu. Apa sebab dia tersenyum? Padahal biasanya senyuman dengan air mata itu adalah dua yang bermusuh yang tak mahu berdamai. Mengapa sekali ini dia damai? Jam di ruang tengah telah berbunyi dua kali, hanya detikan dan bunyi cengkerik di sudut rumah yang memecahkan kesunyian malam. Dalam keadaan yang demikian, Hayati tertidur.
Adapun yang berkirim surat, Zainuddin, lain pula halnya. Meskipun anak-anak muda di surau tempatnya tidur telah berlayar dalam lautan mimpi yang enak, bahkan kadang-kadang kesepian itu dipecahkan oleh dengkur dua atau tiga orang anak-anak, dia masih bermenung melihatkan bulan terang benderang, bulan di antara tanggal 15 dengan 16, muram dan damai. Bermenung di beranda surau seorang dirinya,tidak merasai takut dan gentar. Diperhatikannya langit yang jernih itu, seakan-akan dia mengajak bulan bercakap. Mengajak bintang berceng-kerama.Dia ajak alam besar itu bertutur, percakapan jiwanya sendiri, seakan-akan mengadukan nasibnya yang malang, yang patut alam itu ikut meratapinya, atau seakan-akan memberitakan bahawa hatinya tidak sesedih dahulu lagi, sebab Tuhan telah memberinya nikmat yang paling besar, iaitu nikmat cinta. Bertahun-tahun dia laksana seorang yang kehilangan sekarang barang yang dicari itu telah dapat kembali. Barang yang hilang itu paling mahal, dan berharga, ialah “hati” yang hilang separuh seketika bondanya mati, habis separuh lagi setelah ayahnya meninggal. Sekarang “hati” itu telah kembali, sebab … mencintai Hayati! Tiba-tiba, timbul pulalah seruan dari jiwanya kepada Tuhan yang melindungi seluruh alam, diserukannya pada waktu tengah malam demikian, pada waktu segala doa makbul. “Pujianku tetaplah pada-Mu, ya Ilahi! Saya telah beroleh hidup, hidup yang saya kenang-kenangkan.
~~~~~~~~~~
Nah, bandingkan dengan gaya bahasa Kang Abik di dalam penggalan cerita KCB:
Tiara menghela nafas. Ia memejamkan kedua mata. Haruskah ia menjelaskan lebih dalam tentang perasaannya yang selama ini ia simpan di dalam dada kepada Cut Mala? Tidak terasa matanya basah. Air matanya tanpa bisa ia bendung keluar perlahan membasahi pipinya. Cut Mala menangkap dengan jelas apa yang terjadi pada kakak kelasnya itu.
……..
Cut Mala diam. Dari kalimat yang disampaikan Tiara, ia bisa menangkap bahwa kakak kelasnya itu memendam sesuatu. Ia hanya bisa meraba bahwa Tiara susah mengambil keputusan karena kelihatannya Tiara mengharapkan kakaknya, Fadhil. Namun Cut Mala tidak mau terlalu jauh menduga dan berprasangka. Bukankah sebagian dari prasangka adalah dosa?
~~~~~~~~~~~~
Bagi anda yang sudah pernah membaca karya Hamka dan Kang Abik, anda tentu sepakat kalau saya katakan Kang Abik adalah “Hamka muda”, yaitu orang yang mempunyai gaya penuturan lemah lembut seperti Hamka dan meletakkan jalan cerita di dalam karya sastranya dalam jalur yang dibingkai syariat agama. Hamka dan Kang Abik sama-sama ingin memberikan pesan moral agar kita sebagai manusia selalu menempatkan cinta kepada Allah SWT di atas segala-galanya dibandingkan cinta kepada makhluk-Nya.
3 tanggapan so far ↓
Mantoel Toeink // 5 Juni 2009 pada 20:29 |
Agak2 oot, Pak Rin, kayaknya bukan thriler, tapi trailer, Pak. Biasanya saya bacanya “trailer film” soalnya.
rinaldimunir // 6 Juni 2009 pada 13:35 |
@Mantoel: Terima kasih ntoel, sudah saya ganti menjadi trailer.
Jodhi Kurniawan // 24 Juni 2009 pada 17:59 |
“Dibawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” sudah diterbitkan lagi pak, tapi distribusinya terbatas sepertinya