Akhirnya kesampaian juga niat saya untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih. Bersama istri, saya menonton di bioskop yang bukan di mal, ini supaya mudah mendapat tiket. Belajar dari pengalaman menonton Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Laskar Pelangi di bioskop yang ada di mal dimana kita harus antri panjaaaang, bahkan bisa-bisa kehabisan dan harus datang lagi besok harinya.
Setelah menonton film itu, ada sedikit kekecewaan. Sebenarnya novel KCB sangat bagus dan meyentuh kalbu, tetapi ketika difilmkan, ternyata film nya biasa-biasa saja tuh. Isinya memang persis sama dengan novel aslinya, tidak ada yang ditambah atau yang dikurangi. Tetapi disini masalahnya. Film KCB 1 (waaah… ada lanjutannya di film KCB 2 yang entah kapan diputarnya) tidak menyajikan konflik, jalan ceritanya datar-datar saja seperti sinetron seri. Padahal sebuah film akan menarik jika menyuguhkan konflik dalam bentuk drama sehingga dapat membuat emosi penonton ikut terbawa. Nggak tahu deh apakah di film KCB 2 menyajikan konflik di antara tokoh-tokohnya atau kembali datar saja seperti KCB 1?
Film AAC, meskipun banyak dikritik kiri kanan, namun sukses meraup jumlah penonton. Kekuatan AAC terletak pada unsur dramanya. Mereka mengakali kegagalan shooting di Mesir dengan fokus pada drama. Jalan cerita di film dibuat tidak persis sama dengan yang ada di novel, ada yang ditambah-tambah dan didramatisir. Tetapi disitulah kelebihan sutradara Hanung. Dia pandai membuat film AAC yang membuat emosi penonton ikut hanyut dan bahkan diaduk-aduk (kayak adonan kue saja). Nah unsur drama ini yang tidak ada pada KCB 1 sehingga cerita di film terasa datar. Padahal ‘tidak haram’ toh membuat film yang tidak harus persis sama dengan isi novel aslinya asalkan tidak jauh menyimpang? Yang penting pesan moral film itu tersampaikan seperti novelnya.
Satu-satunya kelebihan film KCB adalah karena menyuguhkan panorama Mesir yang asli, yang tidak kita temukan pada film AAC padahal sama-sama bercerita mengenai kisah mahasiswa Al-azhar. Banyak sudut-sudut negeri Mesir yang terekam di dalam film ini sehingga kita yang tidak pernah ke Mesir pun bisa merasakan suasana kehidupan di Kairo, Alexandria, dan lain-lain. Namun sayangnya — sekali lagi ini juga kelemahan sutradara Chaerul Umam — dia tidak berhasil mengeksploitasi panorama Mesir menjadi gambar-gambar yang indah dan menawan.
Dari segi jumlah penonton, tampaknya film KCB 1 akan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak dalam sejarah. Baru dua minggu diputar di bioskop sudah menyedot penonton 2 juta orang, begitu yang saya baca di koran. Film AAC mencapai jumlah penonton 3 juta orang, film Laskar Pelangi 5 juta orang, nah film KCB 1 mungkin bisa melebihi jumlah penonton Laskar Pelangi karena masa edarnya masih panjang, apalagi sekarang saat liburan panjang yang baru berakhir Agustus mendatang, saat yang memancing orang untuk berkunjung ke mal sekalian nonton film bersama keluarga.
Terlepas dari semua itu, kehadiran film AAC, LP, dan KCB menghadirkan genre film baru di Indonesia, yang selama ini jagad film di Indonesia selalu disuguhi film hantu dan komedi seks yang tidak tidak bermutu dan bisa dikategorikan film sampah.
11 tanggapan so far ↓
ekoph // 29 Juni 2009 pada 00:30 |
wah…. bener nih pak,
jadi penasaran pengen nonton…
limaapril // 29 Juni 2009 pada 12:23 |
wah…saya karena belum baca novelnya merasa
film nya baik-baik saja pak,,,
tapi memang, rasanya AAC lebih membekas
rinaldimunir // 29 Juni 2009 pada 13:59 |
@limaapril: kalau ceritanya sendiri memang bagus (seperti novelnya), namun kalau difilm-kan terlihat kurang hidup tuh. Kurang unsur dramaturginya. Ini penilaian saya saja, boleh setuju boleh tidak.
diggerbesi // 30 Juni 2009 pada 07:50 |
Saya juga sudah nonton filmnya mas….menurut saya sutradara dan crew termasuk pemainnya patut dapet 2 jempol….saya membaca 2 bukunya (KCB 1 dan 2) lebih dari 1 kali……terus terang imaji sayang ttg keindahan mesir terlampaui difilm ini…jalinan ceritanya juga tidak keluar jalur…bener2 memanjakan pecinta bukunya…ttg ending yang belum selesai di KCB 1 …lah wong kita saja menunggu buku KCB 2 nya hampir satu tahun…. jika diringkes justru akan menghilangkan banyak bagian….dan sudah pasti akan menimbulkan kekecewaan yang besar (seperti saat AAC)….bahkan penulis novelnya pun kurang puas terhadap film AAC…moga2 kekecewaan kang abik bisa terobati lewat film KCB ini….memang di KCB 1 merupakan pengantar menuju kepada puncak konflik di KCB 2…menurut kabar kcb-milis@groups.yahoo.com film KCB 2 juga telah selesai dan akan dirilis dibulan agustus 2009…dan sesuai dengan kondisi di buku 2 KCB (sumpah saya yang laki saja menangis baca buku ini)….yang suka konflik dan drama religi akan dijamin mewek dan diaduk2 emosinya…..jadi ikuti terus perkembangan KCB ini….semoga film indonesia semakin maju…..
salaam…
Eriek // 30 Juni 2009 pada 08:45 |
wah..kalo bapak sudah nonton dan akhirnya kecewa dengan film KCB ini, saya ngga jadi nonton ah. apalagi kayak sinetron. ini kayak memindahkan sinetron ke layar lebar ya pak.
Basayev // 11 Juli 2009 pada 06:52 |
KCB super bagus! Banyak ‘cara pandang’ baru yg aku dapat. Kang Abik hebat!
Aku malah lbh senang kalo pemerannya pendatang baru semua, wajah baru nggak bikin jenuh.
zuhri // 11 Juli 2009 pada 15:35 |
KCB menurut saya penuh dengan nilai yang membangun pak…
jauh sekali jika dibanding dengan film hantu2 dan seks komedi yang sering muncul di film ini…
banyak nilai 2 islami yang diangkat dalam film ini…
saya dapat info film KCB 2 akan mulai putar pertengahan september pak ….
Kalo KCB 1 itu slogannya 100% Mesir, kalo KCB 2 100% terharu… (ini sich kata sohib saya ..)
Betul ato tidak mari kita sama2 tunggu dan buktikan…
Semoga film KCB ini dapat menjadi pioneer tontonan film yang mendidik dan penuh dengan kebaikan…
pande mahendra // 12 Juli 2009 pada 21:58 |
KCB bukanlah sebuah film, hanya sebuah sinetron yang harus kita tonton dengan membayar karcis. Filmnya bukanlah adaptasi novel, tapi pemindahan isi novel ke pita seluloid (suatu hal yang pastinya bakal membuat pembaca novel fanatik bersorak kegirangan namun membuat penikmat film merasa kecewa, ingat kasus HP1 yang terlalu persis novelnya ? seperti itulah KCB, meskipun terlalu tinggi jika saya menyamakan KCB yang sekelas sinetron dengan HP1).
Jujur, saya harus angkat jempol buat Riri Riza serta Hanung Bramantyo dengan film adaptasi novel LP dan Jomblo. Keduanya adalah contoh adaptasi novel yang baik, mereka (dalam hal ini Salman Aristo, yang menulis skenario) berani membuat variasi ataupun pengubahan alur cerita dan tak sekedar memindahkan mentah-mentah isi novel menjadi film(maaf untuk Chaerul Umam dan Imam Tantowi, anda bukanlah mengadaptasi novel KCB menjadi film, namun anda menelan mentah-mentah novel itu dan dipaksakan menjadi sebuah film demi memenuhi keegoisan pembaca fanatiknya yang mengkritik AAC habis-habisan, meskipun sebenarnya penggarapan AAC jauh lebih berkelas dibanding “mega film” KCB dan lebih manusiawi dibanding novelnya).
Jika anda (para pembaca novel yang fanatik) masih berkilah, cobalah anda beli DVD HP3, dalam fiturnya anda akan menemukan sebuah wawancara antara Alfonso Cuaron dan Rowling membahas adaptasi tentang HP3, dimana Rowling menyatakan kekagumannya pada Cuaron karena ia berhasil membuang hal2 yang tidak perlu dalam novelnya untuk lebih mengeksplorasi hal-hal yang berhubungan dengan jalur utama cerita (itu sebabnya Cho Chang tak muncul di film HP 3, inilah suatu variasi seni adaptasi).
Jadi … yang harus diingat, mengadaptasi novel menjadi film bukanlah SEKEDAR memindahkan rangkaian tulisan menjadi gambar bergerak yang sama persis layaknya yang tertulis di novel, namun adaptasi adalah, mencari hal-hal terbaik yang ada pada novel untuk dieksploitasi dan kalau bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita versi baru, yaitu cerita versi sang sutradara dan penulis skenario.
Khairulu // 24 Juli 2009 pada 06:38 |
Nggak nonton Aac, Kcb. Jg nggak baca novelnya. Mngkin krn tema cinta.
LP nonton. HP nonton. Berminat krn temanya ‘bukan cinta’. Memang story HP sangat kuat karakter2nya dan rumit ceritanya.
Sdg nunggu2 film Star Trek diputar di bandung. Heran, kok cuma diputar di jakarta ya?
zizima // 24 Juli 2009 pada 08:47 |
Film KCB ceritanya bagus,,, cuma penayangannya yang kurang ‘greget’ meski tidak ada perbedaan dari novelnya.
Salam kenal.
Pasang Iklan Gratis // 27 September 2009 pada 05:16 |
Kalau menurut pandangan saya pak, KCB adalah film yang sangat sarat nilai di tengah gempuran film-film bergenre horor dan lainnya. Film seperti ini, menurut hemat saya, sangat bermanfaat dan bernilai bagi bangsa ini yang haus akan figur teladan khususnya dalam dunia perfilman.
memang sudah selayaknya, sebuah film dapat membawa pesan moral yang dapat membawa penontonnya ke arah kehidupan yang lebih baik. Semoga trend positif seperti ini dapat terus berlanjut demi memajukan dunia perfilman di tanah air.
Pasang Iklan Gratis