Catatanku

Terkenang dengan Buah Langka

27 Juni 2009 · & Komentar

Kemaren, waktu melewati Pasar Baru, saya menemukan penjaja buah-buahan yang menjual buah lokal yang sudah langka. Di Bandung buah itu bernama buah kesemek. Di kalangan anak-anak di tatar Sunda ada teka-teki yang bebunyi begini: buah apa yang suka bersolek? Jawabannya adalah buah kesemek karena kulit buahnya bertabur serbuk putih seperti bedak.

DSC00557

Ini gambar daging buahnya setelah dipotong:

DSC00558

Saya perhatikan pedagang buah itu sudah lama menanti pembeli namun buah kesemeknya tidak kunjung laku. Sudah nanar matanya menatap seliweran orang-orang di Jalan Otista (jalan di Pasar Baru), berharap ada pembeli yang tertarik dengan dagangan langkanya itu. Saya mendekatinya dan membeli satu kilo buah kesemek, pedagangnya menawarkan Rp 4000/kg. Barangkali hanya saya yang membeli buah ini, karena bagi orang lain mungkin bentuk buahnya tidak menarik atau kurang elit, ntahpapa. Namanya saja ‘kesemek’ yang bunyinya bagi sebagian orang terkesan kampungan, gitu. Buah kesemek pedagang itu kalah dengan buah mangga yang saat ini juga lagi musim di Bandung.

Buah kesemek kalau anda pernah mencobanya, rasanya manis-manis sepat. Saya jadi terkenang masa-masa kecil di Padang dulu bila mengingat buah ini. Waktu kecil saya beberapa kali pernah makan buah kesemek. Di Padang buah itu bernama apel pahit, karena bentuknya seperti buah apel dan rasanya memang agak pahit bercampur manis sepat. Buah itu baru bisa dimakan jika direndam dulu di dalam larutan air garam selama satu malam untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi buah kesemek yang di Bandung ini tidak perlu direndam dulu dan dapat langsung dimakan, mungkin jenisnya agak beda dengan yang di Sumatera.

Selain buah kesemek, saya juga kangen buah-buahan masa kecil yang sudah jarang ditemukan di pasaran, misalnya jambu kaliang (apa ya namanya di sini? buah jamblang?), kamuntiang (karamunting), dan jambak (jambu bol). Jambu kaliang bentuknya kecil ldan mirip buah anggur, warnanya hitam dan rasanya manis sedikit pahit. Biasanya dijual per liter (menggunakan takaran beras). Buah kamuntiang biasanya ditemukan pada tanaman di semak-semak, warnanya coklat, bentuknya kecil sebesar ujung jari kelingking, dan berbiji banyak seperti biji buah strawberi. Rasanya manis. Kami sering menemukan buah ini di semak-semak di dekat sawah. Jambak atau jambu bol bentuknya bulat seperti kedondong, warnanya merah keputihan, daging buahnya agak tebal tetapi bijinya besar.

Buah-buahan yang saya sebutkan di atas saat ini sudah tergolong buah langka, jarang ada yang menjual buah ini. Batang pohonnya pun mungkin sudah langka pula dan mungkin banyak ditebang karena buahnya tidak bernilai ekomomis tinggi, kalah bersaing dengan buah impor yang banyak membanjiri pasar. Buah-buah lokal saat ini makin terjepit oleh kehadiran buah impor yang datangnya begitu deras dari luar. Buah lokal yang bertahan hingga saat ini paling-paling hanya mangga, nanas, sawo, kedondong, bangkuang, jeruk, salak, dan belimbing. Selebihnya anak-anak kita lebih mengenal buah apel, pir, anggur, lengkeng, kiwi, strawberi, blueberry, dan aneka buah impor lainnya.

Buah-buahan lokal bagaimanapun, apalagi yang sudah langka, seharusnya mendapat perhatian dari Pemerintah untuk terus dilestarikan. Bagi saya, buah-buahan itu tidak hanya sekadar untuk dimakan, tetapi ada kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan memakan buah lokal itu, kita mengingat jerih payah petani yang merawat tanaman itu dari kecil hingga berbuah. Ada filosofi yang begitu dalam bila kita melihat jauh ke belakang puluhan tahun silam. Pohon-pohon buah itu mungkin sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, ditanam oleh kakek moyang mereka dan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pohon-pohon itu dirawat dan dicintai karena dari tanaman itulah petani mendapat penghasilan. Ketika waktu kalah berpacu dengan uang, pohon-pohon itu mungkin harus mengalah: ditebang karena tawaran yang lebih menggiurkan dari bisnis tanah yang terus mencari mangsa hingga ke kampung-kampung. Buah-buah langka itu mungkin suatu hari tidak akan terhidang lagi di meja makan kita, tinggal menjadi sejarah saja.

Kategori: Gado-gado

7 tanggapan so far ↓

  • Ady Wicaksono // 27 Juni 2009 pada 17:31 | Balas

    Khusus buah ini, kapok makan lagi, bikin sakit perut :D

  • Nanda Firdausi // 28 Juni 2009 pada 00:12 | Balas

    how I miss srikaya….

  • ekoph // 29 Juni 2009 pada 00:34 | Balas

    beberapa hari ini, kesemek menjadi salah satu bagian yang hadir di meja makan… hmmmm…. manis, sepat, kering, pokoknya rasanya khas banget….
    kenal cempedak ?

  • rinaldimunir // 29 Juni 2009 pada 13:52 | Balas

    @Ady: mosok sakit perut, rasanya manis kok dan sedikit sepet, nggak asem.

    @Nanda: srikaya, wah saya belum pernah makan buah ini. Termasuk langka juga saya kira.

  • ady wicaksono // 30 Juni 2009 pada 17:39 | Balas

    tergantung orangnya pak, saya tergolong yg bisa dibikin mules kalau makan kesemek :D

  • Yanti // 6 Agustus 2009 pada 15:02 | Balas

    Jambu kaliang (kaliang= hitam ) masih ada sampai sekarang di pasar Padang, masih di jual dengan tekong (kaleng bekas susu kental manis) nama di Jawa Jamblang, saya baca begitu. Pertama beli Jambu kaliang waktu itu anak saya masih SD, saya mainin anak dengan bilang ” nih mama beli anggur” dengan gaya cuek naroh di meja. Anak saya juga heran, tumben beli anggur sebanyak itu, kan mahal ? gaya mama juga cuek kaya dah biasa beli anggur tiap hari.

    Pas dia makan, aku ngakak, karena mukanya kecut banget ” mamaaa, asam nih, anggur apaan”

    Karamuntiang, sekerabat dengan sikaduduk itu buah yang sampai sekarang masih banyak di semak-semak kampus Limau Manih, Unand ( dulu areal kampus itu memang namanya bukik Karamuntiang), saya tidak lihat lagi orang jual karamuntiang di Pasar Padang.

    Di Kinali (tempat saya tinggal sekarang) masih di jual kapunduang (Menteng ?), walau tidak banyak yang beli, dan juga kerabatnya rambai (rambe ?)

    Saya tertarik dengan buah langka. Kalau saya menerangkan keanekaragaman hayati di kelas, saya selalu menyinggung tentang buah langka ini. Dan sering mengatakan pada siswa”Coba, buah apa biasanya tersaji di meja makan sinetron Indonesia?” Siswa menjawab:apel, anggur, jeruk.

    Nah, siswa saja tahu, kenapa ya para sutradara tidak menyajikan jambu air, sawo, belimbing, jambu biji, jamblang dan buah asli Indonesia lain di meja makan sinetron Indonesia ? Gengsikah ?

  • sunflo // 22 Oktober 2009 pada 19:28 | Balas

    aku juga suka ma kesemek, n ketemu ma adiknya kesemek indo, kali ini yg ga pake bedak…persimmon namanya…

Tinggalkan sebuah Komentar