Ramai Pemilihan Ketua IA-ITB Jurusan “Tetangga Sebelah”

Beberapa hari ini kampus Ganesha diramaikan dengan puluhan spanduk yang bertebaran di berbagai sudut strategis. Ada apa gerangan? Ooo.. ada pesta pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB Jurusan Teknik Elektro (EL) rupanya, tetangga sebelah Informatika. Walah..walah… pemilihan ketua ikatan alumni sebuah jurusan (program studi) saja begitu hebohnya di kampus, menyita perhatian bagi yang melewati jalan-jalan dalam kampus.

DSC00597

DSC00595

DSC00596

Saya tidak kenal siapa yang mencalonkan diri sebagai ketua ikatan alumni EL itu, maklum saya bukan alumni elektro. Namun swer..sungguh saya salut dengan ikatan alumni elektro, mereka begitu kompak, kuat, dan organisisasinya jalan. Teknik Elektro merupakan jurusan yang mahasiswanya paling banyak di antara jurusan lain di ITB, usia jurusan ini sudah 60 tahun lebih, maka wajar para alumninya paling besar dan sudah banyak yang menduduki jabatan penting di negeri ini (BUMN, swasta nasional, swasta asing, dsb). Maka, “pertarungan” memperebutkan ketua ikatan alumni jurusan ini terlihat begitu seru dan jor-joran. Prestise-lah. Pastilah calon ketua yang bertarung (2 orang rupanya) begitu habis-habisan berkampanye agar terpilih dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, bahkan kampanyenya dilakukan hingga di kampus asalnya. Kemaren puluhan gadis-gadis cantik beraksi di depan LabTek V membagikan brosur dan merchandise salah satu calon (Pak Syakieb) kepada orang-orang yang lewat. Saya kebetulan kebagian. Maaf, mbak, saya bukan alumni Elektro, he..he..

Halo ikatan alumni Informatika, apa kabar? Jadi iri nih dengan ikatan alumni prodi tetangga sebelah itu. Jauh sekali bedanya antara ikatan alumni Informatika dengan ikatan alumni Elektro. Ikatan alumni Informatika nyaris tidak terdengar suaranya, seperti bunyi iklan Isuzu Panther :-) . Siapa ketua ikatan alumni Informatika sekarang? Dimana sekretariatnya? Apa saja kegiatannya? Banyak yang tidak tahu. Padahal alumni Informatika sudah di atas seribu orang, usia prodi ini sudah seperempat abad, tetapi ikatan alumninya antara ada dan tiada.

Brrr…Bandung Dingin Sekali

Kalau anda ke Bandung bulan-bulan ini, jangan lupa bawa jaket atau baju hangat. Suhu udara… brrr… dingin sekali pada pagi, siang, dan sore hari. Padahal, sekarang bukan musim hujan, tetapi musim kemarau. Awal musim kemarau suhunya memang selalu begini padahal matahari bersinar terik. Begitu dingin sehingga besi saja kalau dipegang terasa seperti es.

Suhu dingin ditambah lagi dengan angin yang membawa udara dingin. Anginnya sih kering, tetapi ketika terkena kulit terasa begitu menggigit hingga menusuk tulang. Kalau malam anginnya terasa lebih dingin lagi. Awal musim kemarau adalah musimnya banyak orang Bandung sakit, perhatikan tuh dokter umum dan dokter spesialis anak penuh dengan pasien.

Tapi, suhu dingin ini tidak akan lama. Menjelang akhir Agustus nanti suhu udara akan mulai panas dan gerah. Itulah awal puncak kemarau. Gerahnya sedemikian rupa sehingga kalau malam terasa panas, tidur sampai perlu kipas angin. Bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim kemarau panjang.

Liburan panjang akan berakhir, sekarang siap-siap melayani mahasiswa yang akan perwalian semester baru, siap-siap pula menerima mahasiswa 2008 yang telah memilih Prodi IF. Ritme perkuliahan akan dimulai di awal bulan Ramadhan ini.

dr. Nurrokhim

Di kompleks pemukiman Antapani tempat saya tinggal, ada seorang dokter spesialis anak yang sangat “laris” dikunjungi pasien. Namanya dr. Nurrokhim. Pak dokter membuka dua kali praktek, yaitu pagi mulai jam 06.00 hingga siang dan sore mulai pukul 17.00 hingga malam. Wah, untuk mendapat giliran diperiksa, pasien memang harus menunggu cukup lama karena yang mendaftar sampai ratusan orang setiap hari. Pada musim-musim dimana anak mudah sakit seperti musim hujan, musim pancaraoba, dan musim kemarau (waah.. semua musim nih), pak dokter bisa berpraktek hingga larut malam karena pasien yang mendaftar banyak sekali.

Seperti malam kemaren, saya membawa anak yang nomor tiga ke dr. Nurrokhim karena sakit panas dan pilek. Waktu mendaftar via telepon, saya kebagian nomor 138, namun karena saya datang lebih cepat, saya bisa mendapat nomor 68. Petugas mengatakan agar saya datang membawa anak pada pukul 9 malam. Pukul 9 malam ternyata pasien yang dilayani baru nomor 50-an, jadi saya harus sabar menunggu lagi. Akhirnya pada pukul 10 malam barulah anak saya mendapat giliran. Hingga ketika saya pulang pasien yang menunggu masih sangat banyak dan yang sudah mendaftar sudah 160 orang (itu baru praktek malam saja, belum termasuk praktek pagi). Kata petugas di bagian pendaftaran, malam sebelumnya pak dokter melayani pasien hingga pukul 01.00 dinihari.

Hah? Pukul 1 malam? Baru kali ini saya mendengar ada dokter yang masih praktek hingga dinihari itu. Heran, padahal di Antapani ada beberapa orang dokter spesialis anak, namun hanya dr. Nurrokhim yang pasiennya bejibun begitu, sementara dokter spesialis anak lainnya pasiennya hanya 1 atau 2 orang, malah ada yang kosong melompong.

Mengapa dr. Nurrokhim begitu laris? Salah satu sebabnya karena dia sudah berpengalaman mengobati penyakit anak selama puluhan tahun, usianya mungkin sudah 60-an. Dia perintis dokter spesialis anak di Antapani. Saya sudah langganan dengan dokter ini sejak anak yang pertama. Karena pengalamannya, maka orangtua merasa nyaman membawa anaknya berobat kesitu. Begitu beken dokter ini, hingga pasiennya datang tidak hanya dari daerah Antapani dan sekitarnya, tetapi juga dari tempat yang jauh di Bandung Timur sepeti Ujungberung, Kiaracondong, bahkan Rancaekek yang sangat jauh itu.

Selain faktor pengalaman, faktor larisnya dokter ini juga karena racikan obatnya yang manjur. Tempat praktek dokter adalah rumahnya sendiri yang juga menyediakan apotek. Jadi, pasien tidak perlu membeli obat di tempat lain, cukup di situ saja. Untuk penyakit standard seperti anak saya itu (panas, pilek, batuk), tarif dokter sudah termasuk obat racikan, yaitu Rp 70.000. Kalau tidak pakai obat ya Rp 50.000. Nah, resep obat yang ditulis dokter Nurrokhim saya akui memang tokcer. Saya sudah pernah mencoba ke dokter spesialis anak yang lain, sebab waktu itu antrian di tempat dr. Nurrokhim sudah sangat panjang. Saya membawa anak ke dokter lain yang sepi pasien itu. Namun, setelah beberapa hari anak saya tidak sembuh juga, akhirnya saya bawa ke dr. Nurrokhim meski lama menunggu, dia kasih obat dan alhamdulillah lekas sembuhnya. Mungkin selain obat, faktor sugesti yaitu rasa percaya pada “tangan dingin” dokter juga mempercepat kesembuhan, padahal saya kira resep obat setiap dokter kurang lebih sama saja ya.

Jadi, saya menyimpulkan karena faktor pengalaman dan resep obatnya yang tokcer, ditunjang oleh faktor sugesti, maka orangtua rela menunggu lama untuk mendapat giliran anaknya diperiksa dr. Nurrokhim. Anak-anak yang masih bayi dan balita sampai keleleran menunggu hingga larut malam. Susah benar para orangtua itu pindah ke lain hati, maunya dengan dr. Nurrokhim saja. Sudah kadung cocok, barangkali. Meskipun sudah pindah rumah ke tempat jauh, kalau anak sakit tetap dibawa ke dr. Nurrokhim. Sekali ke sana ya ke sana terus.

Saya berhitung-hitung, berapa ya pemasukan dokter itu setiap hari. Jika pasiennya sehari ada minimal 150 orang (pagi dan sore), dan tarif dokter (diluar obat) katakanlah Rp 50.000, maka sehari saja Pak dokter mengantongi Rp 7,5 juta. Pak dokter praktek setiap hari, termasuk pada hari libur dan tanggal merah, karena tempat praktek merangkap rumahnya sendiri sehingga dia bebas praktek kapanpun dia mau. Dikali 30 hari, maka sebulan dia memperoleh 22 juta 225 juta lebih, atau paling sedikit Rp 200 juta per bulan. Luar biasa. Membayangkan penghasilan yang besar itu — tentu tidak semua dokter bernasib mujur seperti dr. Nurrokhim itu –, pantas saja banyak siswa SMA berlomba masuk Fakultas Kedokteran meskipun biayanya sangat mahal. Untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran saja misalnya, lewat jalur mandiri (SMUP) perlu uang pangkal minimal Rp 130 juta, masih lebih mahal daripada jalur USM ITB yang minimal 55 juta.

Dengan biaya kuliah kedokteran yang mahal itu, maka seolah-olah menjadi wajar para dokter memasang tarif mahal dalam prakteknya. Bagi sebagian orang yang mampu tentu tidak menjadi masalah tarif dokter berapapun mahalnya, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang bernasib susah? Biaya kesehatan semakin lama makin tidak terjangkau bagi rakyat miskin. Akhirnya dukun cilik seperti Ponari menjadi tumpuan harapan (eh, apa kabar Ponari ya, masihkah ribuan orang datang minta celupan “batu ajaib” kepadanya?).

Yang jelas sakit sehat itu memang mahal harganya, maka bersyukurlah kepada Allah SWT jika kita masih dikarunia kesehatan. Bukan dokter yang menyembuhkan penyakit, Allah lah yang menyembuhkan melalui perantara tangan dokter seperti dr. Nurrokhim itu.

Sejenak di Bandara Hasanuddin Makassar

Dalam perjalanan pulang usai sebuah tugas di Indonesia Timur, pesawat Garuda yang saya tumpangi transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Sudah dua kali saya mengunjungi bandara Hasanuddin, tetapi baru kali ini kesempatan menapaki bandara yang baru. Ya, bandara Hasanuddin yang baru terkesan mewah dan modern. Bandara ini menghadirkan kesan transaparan, karena hampir semua unsur bangunannya berwarna putih dan terbuat dari kaca. Fasilitasnya menyerupai bandara Soekarno-Hatta, yaitu ada lantai berjalannya. Ruang tunggu (gate) penumpangnya saja banyak (ada enam).

Wajar saja bandara Hasanuddin dibuat besar dan modern, sebab bandara ini merupakan bandara nomor 3 tersibuk di Indonesia sesudah bandara Soekarno-Hatta dan Juanda Surabaya. Bandara Hasnuddin merupakan batu loncatan dari dan ke Indonesia Timur. Penerbangan dari dan ke Indonesia Timur banyak yang transit atau berakhir di sini. Wajar juga bandara Hasanuddin terkesan mewah dan prestisius, ini mungkin berkah dari putra daerahnya yang menjadi RI-2, yaitu Jusuf Kalla. Saya amati, siapapun yang menjadi orang penting di negeri ini, maka ia akan membuat daerah asalnya terlihat beda. Masih ingat dengan “legenda” kota Solo? Bandara Adi Sumarno yang besar dan kampus UNS yang luas dan megah, ini tak lain karena peran Ibu Tien Soeharto ketika menjadi fisrt lady.

Ada waktu 30 menit buat transit. Saya sempat menjelajahi lantai 2 bandara. Di bawah ini beberapa foto-fotonya:

1. Pemandangan bandara dari dalam pesawat

DSC00592

2. Lantai 2 bandara yang mewah dan besar

DSC00593

Ini pemandangan lantai dua lainnya:

DSC00594

Sayangnya saya tidak sempat turun ke bawah untuk melihat bandara dari tampak depan karena sudah keburu dipanggil masuk ke dalam pesawat. Saya gunakan foto bandara tampak depan yang saya ambil dari sini:

bandara_hasanuddin

Hmmm… bandara Hasunuddin mirip dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu.

Satu hal kelemahan bandara ini adalah keamanan di ruang tunggu penumpang yang akan masuk ke pesawat. Penumpang masuk ke ruangan ini dengan pemeriksaan seperti biasa, tetapi kalau hendak ke toilet, harus ke luar ruang tunggu yang melewati pintu lain yang tidak dijaga. Jadi, orang yang tidak punya boarding pass bisa masuk melalui pintu yang satu ini tanpa melalui pemeriksaan petugas. Teledor amat manajemen bandara ini ya.

Dicari Rektor Baru ITB

Ada hajatan yang tengah berlangsung di ITB saat ini, yaitu pemilihan rektor baru. Rektor lama, Pak Djoko, akan habis masa jabatannya. Info pemilihan rektor ITB sila lihat di sini.

Sesuai dengan UU BHMN, pemilihan rektor bersifat terbuka, iklannya dipasang di media massa. Siapapun orang Indonesia yang merasa pantas menjadi rektor, silakan memasukkan lamaran. Namun, sejak masa pendaftaran dibuka pada tanggal 6 Juli dan akan berakhir tanggal 6 Agustus yang akan datang, hingga tulisan ini dibuat jumlah pelamar resmi baru 1 orang, yaitu orang luar bernama Dr.Ir. Irawan Muripto, M.Sc dari Sekolah Tinggi Perikanan – Jakarta. Walah… mana nih calon dari dalam sendiri?

Sewaktu masih menjadi dosen muda, ada seorang senior yang waktu itu disuruh-suruh oleh rekan-rekannya untuk maju menjadi calon rektor ITB. Apa katanya? Nggak ah…, nggak mau. Kenapa tidak mau? Menjadi rektor ITB itu bisa bikin stres. Cari-cari “penyakit” saja, katanya. Oh, begitukah?

Hmmm… pekerjaan apapun bisa membuat stres atau bikin sakit (termasuk sakit hati), tidak hanya rektor ITB saja. Memang menjadi rektor ITB tingkat stresnya akan lebih tinggi. Banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh rektor baru, mulai dari target ITB menjadi WCU (World Class University), biaya pendidikan yang semakin mahal, kampus yang terasa semakin sempit saja, masalah kemahasiswaan yang tidak habis-habisnya, dan tentu masih banyak lagi masalah lain yang harus diselesaikan. Yang paling berat memang memimpin lebih dari 1000 dosen yang hebat-hebat itu. Biasanya orang pintar itu susah diatur, maunya mengatur terus, he..he :-) . Bercanda.

Hanya sayangnya, pemilihan rektor berlangsung di tingkat elit saja. Sesuai dengan UU BHMN, hanya anggota Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat (MWA) yang dapat memilih (lihat prosedur pemilihan). Dosen biasa seperti saya tidak bisa ikut memilih rektor baru, hanya bisa mengusulkan calon saja. Aneh saja menurut saya, padahal kepala desa hingga presiden saja dipilih melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat di bawahnya, tetapi untuk rektor tidak (atau belum) berlaku.

Hayo, siapa yang berminat menjadi rektor ITB yang baru?

Memasak Rendang

Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.

Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang urang awak di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.

Kedai bumbu favorit saya adalah Kedai Buyung, terletak di lantai basement Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. :-)

Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir.

Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja. Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (sarai) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.

Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi.

Di kampuang asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang ndul). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.

Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he..

Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu….

**************

Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya :-) , ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang.

Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: Setelah dibuka, langsung dipanaskan. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja.

Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu. Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.

*************

Upss… jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan kalio randang. Ini dia fotonya:

DSC00587

Hi..hi.. kalio randang buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini randang dagiang kacang.

Beberapa rumah makan padang yang “tidak sabaran” memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu mak nyus, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.

Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan kalio randang ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging.

Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. Kalio randang sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm… tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang ndul, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:

DSC00590

Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya… tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.

*************

Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran.

Di Jakarta, ada perantau urang awak yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: Bisnis Rendang Orang Kantoran. Menarik sekali.

Hmmm… pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-) ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu ‘kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi….

Bom Lagi, Bom Lagi… (Memotret Perilaku Radikal dan Liberal)

Bagai negeri yang tidak putus dirundung malang. Baru saja kita menikmati rasa tenang, di depan mata kita bom berskala besar meledak lagi. Dua hotel bertaraf Amerika di Jakarta, JW Marriot dan Ritz Carlton di Jalan Kuningan dibom oleh pelaku bom bunuh diri Hari Jumat pagi minggu lalu. Sembilan orang tewas, kebanyakan warga asing, dan puluhan orang lain luka-luka. Pelaku bom nampaknya memanfaatkan kelengahan polisi yang terfokus pada Pileg dan Pilpres.

Siapa yang punya ulah ini? Penjahat besar pasti. Apa motifnya, kita sama-sama tidak tahu. Apa salah tamu-tamu di kedua hotel itu sehingga menjadi korban? Apakah nyawa mereka begitu kurang berharga sehingga mereka harus mati karena tindakan yang biadab? Tidak punya rasa perikemanusiaan dan perikebinatangan, mungkin ungkapan kesal itu yang tepat. Dari rekaman CCTV yang ditangkan di TV terlihat jelas pelaku bom bonuh diri itu memang berani mati, tetapi takut hidup. Mereka mengira cara bom bunuh diri itu adalah jalan pintas ke surga. Karena itu, mereka memilih mati ketimbang menggunakan hidupnya untuk kemanusiaan.

Jelas, bom seperti itu berdampak sangat luas, bukan hanya sekadar kesebelasan Manchester United membatalkan pertandingannya di Jakarta. Itu terlalu kecil. Yang sudah tergambar dengan pasti, citra Indonesia di mata dunia jelas rusak. Indonesia dianggap negara yang tidak aman. Ekonomi akan terpuruk meskipun tidak terlalu parah. Negara asing kalau mau berinvestasi di sini akan pikir-pikir dulu, apalagi bagi negara yang didentikkan dengan Barat. Industri pariwisata pun berdampak. Travel warning, pasti dimunculkan negara yang phobi terhadap Indonesia, misalnya Australia.

Namun, ada rasa jengah yang lebih dalam lagi akan muncul yaitu stigma negatif terhadap Islam. Seperti biasa, setiap kali ada bom, maka telunjuk selalu diarahkan kepada orang atau kelompok orang yang kebetulan membawa atribut Islam. Tiga bom besar terdahulu, bom Kuningan I, bom Bali I, dan bom Bali II, pelakunya adalah kelompok yang membawa atribut Islam itu (Amrozi cs). Sekarang, dari bom Kuningan II, polisi sudah mengidentifikasi jenis bomnya mirip dengan bahan peledak yang disita polisi dari orang-orang yang dianggap bagian dari jaringan terorisme. Polisi juga mengungkap salah seorang pelaku bom Kuningan II bernama Nur, nama yang khas Islam juga.

Kalau benar pelakunya orang yang beragama Islam atau dari kelompok yang menggunakan atribut Islam, jelas kita tidak paham dan tidak habis pikir doktrin apa yang dicekokkan ke otak pelaku bom bunuh diri itu sehingga mereka rela membunuh orang lain yang tidak bersalah. Tidak ada ayat Alquran atau hadis Nabi yang menyuruh untuk membunuh orang lain, kecuali bagi pasukan yang terlibat dalam peperangan (dalam perang hanya dua pilihan bagi tentara: hidup atau mati). Begitu berharga nyawa itu sehingga Rasulullah mengatakan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh seribu orang (artinya menghabiskan generasi yang mungkin akan dilahirkannya). Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh mati syahid dengan jalan demikian, dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Sebagian besar orang Islam di Indonesia ini berperilaku moderat, hanya sekelompok kecil yang radikal dan sekelompok kecil lagi liberal (yang sering diasosiasikan dengan nama “Islam Liberal” yang dimotori oleh Ulil cs). Kelompok radikal dan kelompok liberal adalah dua kutub yang berlawanan dan keduanya hadir sebagai counter satu sama lain, sementara kelompok moderat berada di tengah-tengahnya. Kelompok yang mayoritas itu, yakni yang berpaham moderat, tidak menyukai kekerasan dalam beragama, karena agama memang tidak mengajarkan kekerasan itu. Sedangkan kelompok radikal maupun kelompok liberal, keduanya sama-sama ekstrim dan keras. Perbedaannya, kelompok radikal memainkan kekerasan secara fisik, sedangkan kelompok liberal melakukan kekerasan verbal, yaitu melalui kata-kata/tulisan. Yang satu teroris fisik, yang satu lagi teroris verbal. Keduanya sama-sama menyakitkan. Teroris fisik membuat luka badan, sedangkan teroris verbal melalui tulisan-tulisannya membuat luka jiwa dan luka iman.

Persamaan kedua kelompok ekstrim itu sama-sama memanipulasi ayat-ayat suci untuk melegitimasi pendapat atau perbuatan mereka. Ayat-ayat suci ditafsirkan sekehendak mau mereka dan diputarbalikkan maknanya untuk mendukung paham mereka. Kelompok radikal memanipulasi ayat suci untuk menghalalkan tindakan mereka membunuh orang yang mereka anggap kafir, sedangkan kelompok liberal berusaha mendekontruksi ayat-ayat suci, merelatifkan apa yang sudah dianggap qath’i (baku), merendahkan Nabi, dan mencaci para ulama terdahulu. Kelompok liberal memanfaatkan jaringan media massa untuk mensosialisasikan pikiran-pikiran mereka. Sementara kelompok radikal tidak memiliki jaringan media, namun mereka memiliki jaringan kader yang militan yang direkrut diam-diam secara personal, semuanya berjalan underground alias tidak diketahui publik. Yang terlihat di permukaan adalah kedua kelompok ekstrim ini seakan-akan memonopoli kebenaran, sementara kelompok moderat yang mayoritas itu lebih banyak diam sehingga dinamakan silent majority. Apakah kelompok yang diam itu diam-diam menyetujui tindakan kedua kelompok ekstrim tersebut? Mungkin saja sebagian kecil ada, tetapi saya percaya sebagian besar menolak, karena — sekali lagi– agama tidak pernah mengajarkan kita berlaku kasar, apalagi melakukan kekerasan baik secara fisik maupun secara verbal.

Bom sudah meledak, dan selalu targetnya orang asing. Orang asing itu adalah tamu di negara kita. Kepada tamu saja kita disuruh harus berbuat baik, sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya“.

Hiburan di Tengah “Kesedihan”

Okelah, lupakan saja “kesedihan” kampus almamater karena ulah belasan mahasiswanya yang menjadi joki SNMPTN di Makassar. Mereka sudah mendapat hukuman sosial dari masyarakat, sementara hukuman dari ITB tinggal menunggu waktu saja (komunitas ITB menginginkan mahasiswa yang terlibat joki itu dikeluarkan saja).

Di tengah “kesedihan” itu, lumayan ada sedikit hiburan. Empat mahasiswa dari Prodi Informatika ITB yang tergabung dalam Tim Big Bang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memenangkan Mobile Device Award, pada kompetisi desain software internasional, Imagine Cup 2009 di Kairo, Mesir. Empat mahasiswa kami itu adalah David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon. Tentu kalian sudah membaca berita-beritanya di koran maupun situs online. Kalau belum, baca pranala ini. Berita lainnya dapat dibaca di portal berita ini dan cerita lebih jauhnya baca di sini.

bigbang285

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan otaknya untuk prestasi yang sangat positif itu, banggalah kita. Tetapi, untuk mahasiswa yang menggadaikan otaknya untuk prestasi kecurangan dalam ujian dan tugas-tugas kuliah, itu adalah musibah bagi kita. Mengapa hal ini bisa terjadi berulang kali?

Yang memprihatinkan, perilaku kecurangan dalam ujian itu sudah berakar sejak pendidikan dasar dan menengah. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kecurangan itu dilakukan oleh oknum guru, orang yang sepantasnya memberi teladan baik. Guru saja sudah berbuat curang dalam ujian, bagaimana muridnya? Masih ingat oleh kita berita beberapa tahun lalu, seorang guru di Medan dipecat dari sekolahnya karena melaporkan kecurangan yang dilakukan pihak sekolah dalam Ujian Akhir Nasional. Demi meluluskan murid-muridnya dalam UAN yang “menakutkan” itu — yang juga akan mengangkat gengsi sekolah — para guru diinstruksikan membagikan jawaban ujian kepada murid di ruang ujian. Tapi ada satu guru yang masih punya hati nurani, dia tahu perbuatan teman-temannya itu salah besar, lalu melaporkannya ke Disdik. Bukan dukungan yang dia dapat, malah dia dipecat karena telah menjelekkan nama sekolah.

Seorang rekan dosen yang pernah menjadi rektor sebuah universitas bercerita tentang perilaku mahasiswa di universitasnya itu. Sebagian besar mahasiswa universitas X itu adalah guru SD lulusan SPG yang mengambil D2 Pendidikan Guru SD. Menjelang ujian semester banyak beredar kunci jawaban yang ditawarkan. Yang sangat memprihatinkan, ada GURU mahasiswa universitas X tersebut yang mengeluh/protes karena membeli kunci jawaban palsu! Membeli kunci jawaban saja sudah memalukan, apalagi protes itu.

Kemanakah nilai-nilai kejujuran hendak dilabuhkan? Di zaman serba matre seperti ini masih banyak orang yang mengukur kerberhasilan pendidikan dari capaian nilai-nilai akademis semata, sementara nilai-nilai karakter individu seperti kejujuran diabaikan. Seolah-olah tujuan sekolah adalah untuk mendapat nilai tinggi, lalu mendapat sekolah/PT favorit, biar nanti mudah mendapat pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Proses tidak penting, kalau perlu menyontek, menyogok, memanipulasi, dan sebagainya, yang penting adalah hasil akhir. Kemana negara ini mau dibawa ya?

Tiga Alasan Mengapa JK-Win Kalah pada Pilpres 2009

Pilpres 2009 sudah usai kemarin, dan hasilnya sudah dapat diketahui oleh publik pukul 2 siang hari itu juga. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) pasangan SBY-Boediono unggul mutlak dengan persentase suara sekitar 60%, sementara JK-Win hanya sekitar 12% dan Mega-Pro 26%. Menurut pengalaman yang sudah-sudah, hasil hitung cepat tidak jauh berbeda dengan hasil sebenarnya. Hasil Pilpres ini sebetulnya tidak mengejutkan karena jauh-jauh hari SBY sudah diperkirakan akan menang (Baca tulisan saya terdahulu, Pilpres 2009 tidak menarik lagi).

Beberapa hari sebelum Pilpres, beberapa lembaga survey memperkirakan Pilpres akan berlangsung 2 putaran mengingat elektabiliats SBY yang terus merosot dan JK yang terus naik, dan yang akan maju ke putaran kedua adalah SBY-Boediono dan JK-Win. Namun keyataannya, Pilpres 2009 cukup 1 putaran saja karena raihan suara SBY sudah di atas 50% dan jumlah provinsi dengan kemenangan di atas 50% itu sudah melebihi 20 provinsi. Jadi, tanpa mendahului takdir, di atas kertas sudah dapat dipastikan SBY akan menjadi presiden lagi.

Pada Pilpres 2009 kemaren, saya memilih JK-Win. Sederhana saja alasan saya mengapa memilih JK-Win, karena pasangan ini terlihat agamis, dan saya termasuk orang yang sejak dulu mudah berempati pada orang yang memperlihatkan perilaku shaleh yang tidak dibuat-buat. Bukan berarti pasangan lain tidak shaleh atau agamis, tetapi yang terlihat nyata ya JK-Win itu. Selain itu ada beberapa alasan pelengkap penderita, yakni karena JK-Win adalah pasangan yang merepresentasikan luar Jawa dan Jawa, kinerja JK selama menjadi Wapres yang lebih banyak memiliki peran dibandingkan SBY, dan kepribadian JK dan Wiranto yang menurut saya patut menjadi teladan (setelah membaca banyak tulisan tentang kedua orang ini. Oh iya, ini ada film dokumenter karya Hanung Brahmantyo yang bercerita tentang teladan JK. Klik film nya di sini). Acara debat capres di televisi memperlihatkan sosok JK yang begitu inspiratif bagi orang-orang yang bosan dengan carut marut dunia perpolitikan Indonesia.

Sayang, JK-Win kalah dan harapan mereka untuk ke putaran kedua tampaknya mustahil, bahkan raihan suaranya sangat kecil, padahal hasil survey memperlihatkan setidaknya JK-Win dapatlah sekitar 30%, eh tidak tahunya hanya sekitar 12%. Padahal, JK-Win didukung oleh banyak ormas Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, dan Persis, tetapi dukungan itu hanya sebatas elit ormas itu saja, sementara massa akar rumput mereka mempunyai pilihan berbeda dengan elitnya. Mungkin karena dukungan ormas-ormas itulah maka JK-Win percaya diri bisa melenggang ke putaran kedua.

Menurut analisis saya, ada tiga alasan mengapa JK-Win kalah dan SBY-Boediono menang (Mega-Parabowo tidak saya bahas karena diluar kriteria saya):
1. Popularitas SBY memang jauh melebihi JK. Pemilihan terbuka seperti Pilpres dan Pilkada membuat pemilih bebas menetapkan kriteria memilih berdasarkan apa saja yang mereka sukai, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa yang lebih populer dan diingat dalam benak orang maka itulah yang akan dipilih. Bagi rakyat di desa-desa yang jauh dari pusat informasi, media massa, terutama televisi, punya peranan penting mendongkrak popularitas. Karena SBY presiden, maka wajahnya yang paling sering masuk TV dan terekam dalam memori rakyat kecil, ketimbang capres-cawapres lain. Iklan-iklannya yang banyak berseliweran di TV, termasuk ‘pembajakan’ jingle Indomie, terekam dalam memori banyak orang. JK sebenarnya juga populer, tetapi karena dia wapres, maka rakyat melihat bahwa posisi dia adalah orang nomor dua, yang mengambil keputusan adalah presiden, bukan wapres.

2. Popularitas saja belum cukup, harus ditunjang dengan rekam jejak (track record) yang baik. Nah, SBY banyak meninggalkan rekam jejak yang baik dan hal ini diingat dalam memori pemilih. Selama dia memimpin cukup banyak kebijakan dia (bersama JK tentu) yang dianggap kondusif bagi rakyat, seperti program BLT, sekolah gratis, pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS, program ekonomi mandiri, pengalaman dalam birokrasi, memberikan rasa aman, dan lain-lain. Sebenarnya JK juga punya andil di situ, tetapi namanya tenggelam oleh SBY.

3. Popularitas dan rekam jejak dibantu oleh faktor pendukung, yaitu figur (kepribadian). SBY dikesankan sebagai orang yang beriwibawa, tenang, dan gagah, sementara JK dikesankan sebagai sosok agresif dan suka menyerang. Sebenarnya JK bagus dalam hal berdebat, tetapi rakyat Indonesia tampaknya lebih menginginkan pemimpin yang tenang dan beriwibawa, bukan yang jago berdebat. JK kalah penampilan dibandingkan SBY.

Yah, itulah tiga alasan mengapa JK-Win bisa kalah. Kampanye, debat capres, iklan, asal usul daerah, istri berjilbab, dan lain-lain ternnyata tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam merebut simpati. JK-Win hanya menang di Sulsel dan Sultra, dua provinsi yang secara kultural mempunyai kedekatan emosional dengan JK. Kemenangan mutlak JK-Win di dua provinsi ini membuktikan bahwa ucapan Andi Mallarangeng yang rasialis kepada etnis Bugis dan Makassar memang mempunyai pengaruh signifikan menurunkan suara SBY di Sulawesi, tetapi hal itu ternyata tidak terjadi di provinsi lainnya.

Oh ya, baca juga tulisan di koran ini sebagai pembanding kenapa banyak pemilih mencontreng nomor 2 (SBY-Boediono).

Sesudah JK gagal terpilih, dia merencanakan untuk pulang kampung mengurus pendidikan dan masjid, seperti yang dia ucapkan waktu debat terakhir. Saya terkesan dengan ucapan JK itu, sebab dua keinginannya itu (pendidikan dan masjid) sungguh mulia.

Selamat buat SBY-Boediono, selamat juga buat JK-Win.