Pilpres 2009 sudah usai kemarin, dan hasilnya sudah dapat diketahui oleh publik pukul 2 siang hari itu juga. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) pasangan SBY-Boediono unggul mutlak dengan persentase suara sekitar 60%, sementara JK-Win hanya sekitar 12% dan Mega-Pro 26%. Menurut pengalaman yang sudah-sudah, hasil hitung cepat tidak jauh berbeda dengan hasil sebenarnya. Hasil Pilpres ini sebetulnya tidak mengejutkan karena jauh-jauh hari SBY sudah diperkirakan akan menang (Baca tulisan saya terdahulu, Pilpres 2009 tidak menarik lagi).
Beberapa hari sebelum Pilpres, beberapa lembaga survey memperkirakan Pilpres akan berlangsung 2 putaran mengingat elektabiliats SBY yang terus merosot dan JK yang terus naik, dan yang akan maju ke putaran kedua adalah SBY-Boediono dan JK-Win. Namun keyataannya, Pilpres 2009 cukup 1 putaran saja karena raihan suara SBY sudah di atas 50% dan jumlah provinsi dengan kemenangan di atas 50% itu sudah melebihi 20 provinsi. Jadi, tanpa mendahului takdir, di atas kertas sudah dapat dipastikan SBY akan menjadi presiden lagi.
Pada Pilpres 2009 kemaren, saya memilih JK-Win. Sederhana saja alasan saya mengapa memilih JK-Win, karena pasangan ini terlihat agamis, dan saya termasuk orang yang sejak dulu mudah berempati pada orang yang memperlihatkan perilaku shaleh yang tidak dibuat-buat. Bukan berarti pasangan lain tidak shaleh atau agamis, tetapi yang terlihat nyata ya JK-Win itu. Selain itu ada beberapa alasan pelengkap penderita, yakni karena JK-Win adalah pasangan yang merepresentasikan luar Jawa dan Jawa, kinerja JK selama menjadi Wapres yang lebih banyak memiliki peran dibandingkan SBY, dan kepribadian JK dan Wiranto yang menurut saya patut menjadi teladan (setelah membaca banyak tulisan tentang kedua orang ini. Oh iya, ini ada film dokumenter karya Hanung Brahmantyo yang bercerita tentang teladan JK. Klik film nya di sini). Acara debat capres di televisi memperlihatkan sosok JK yang begitu inspiratif bagi orang-orang yang bosan dengan carut marut dunia perpolitikan Indonesia.
Sayang, JK-Win kalah dan harapan mereka untuk ke putaran kedua tampaknya mustahil, bahkan raihan suaranya sangat kecil, padahal hasil survey memperlihatkan setidaknya JK-Win dapatlah sekitar 30%, eh tidak tahunya hanya sekitar 12%. Padahal, JK-Win didukung oleh banyak ormas Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, dan Persis, tetapi dukungan itu hanya sebatas elit ormas itu saja, sementara massa akar rumput mereka mempunyai pilihan berbeda dengan elitnya. Mungkin karena dukungan ormas-ormas itulah maka JK-Win percaya diri bisa melenggang ke putaran kedua.
Menurut analisis saya, ada tiga alasan mengapa JK-Win kalah dan SBY-Boediono menang (Mega-Parabowo tidak saya bahas karena diluar kriteria saya):
1. Popularitas SBY memang jauh melebihi JK. Pemilihan terbuka seperti Pilpres dan Pilkada membuat pemilih bebas menetapkan kriteria memilih berdasarkan apa saja yang mereka sukai, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa yang lebih populer dan diingat dalam benak orang maka itulah yang akan dipilih. Bagi rakyat di desa-desa yang jauh dari pusat informasi, media massa, terutama televisi, punya peranan penting mendongkrak popularitas. Karena SBY presiden, maka wajahnya yang paling sering masuk TV dan terekam dalam memori rakyat kecil, ketimbang capres-cawapres lain. Iklan-iklannya yang banyak berseliweran di TV, termasuk ‘pembajakan’ jingle Indomie, terekam dalam memori banyak orang. JK sebenarnya juga populer, tetapi karena dia wapres, maka rakyat melihat bahwa posisi dia adalah orang nomor dua, yang mengambil keputusan adalah presiden, bukan wapres.
2. Popularitas saja belum cukup, harus ditunjang dengan rekam jejak (track record) yang baik. Nah, SBY banyak meninggalkan rekam jejak yang baik dan hal ini diingat dalam memori pemilih. Selama dia memimpin cukup banyak kebijakan dia (bersama JK tentu) yang dianggap kondusif bagi rakyat, seperti program BLT, sekolah gratis, pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS, program ekonomi mandiri, pengalaman dalam birokrasi, memberikan rasa aman, dan lain-lain. Sebenarnya JK juga punya andil di situ, tetapi namanya tenggelam oleh SBY.
3. Popularitas dan rekam jejak dibantu oleh faktor pendukung, yaitu figur (kepribadian). SBY dikesankan sebagai orang yang beriwibawa, tenang, dan gagah, sementara JK dikesankan sebagai sosok agresif dan suka menyerang. Sebenarnya JK bagus dalam hal berdebat, tetapi rakyat Indonesia tampaknya lebih menginginkan pemimpin yang tenang dan beriwibawa, bukan yang jago berdebat. JK kalah penampilan dibandingkan SBY.
Yah, itulah tiga alasan mengapa JK-Win bisa kalah. Kampanye, debat capres, iklan, asal usul daerah, istri berjilbab, dan lain-lain ternnyata tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam merebut simpati. JK-Win hanya menang di Sulsel dan Sultra, dua provinsi yang secara kultural mempunyai kedekatan emosional dengan JK. Kemenangan mutlak JK-Win di dua provinsi ini membuktikan bahwa ucapan Andi Mallarangeng yang rasialis kepada etnis Bugis dan Makassar memang mempunyai pengaruh signifikan menurunkan suara SBY di Sulawesi, tetapi hal itu ternyata tidak terjadi di provinsi lainnya.
Oh ya, baca juga tulisan di koran ini sebagai pembanding kenapa banyak pemilih mencontreng nomor 2 (SBY-Boediono).
Sesudah JK gagal terpilih, dia merencanakan untuk pulang kampung mengurus pendidikan dan masjid, seperti yang dia ucapkan waktu debat terakhir. Saya terkesan dengan ucapan JK itu, sebab dua keinginannya itu (pendidikan dan masjid) sungguh mulia.
Selamat buat SBY-Boediono, selamat juga buat JK-Win.
22 tanggapan so far ↓
Djarot // 9 Juli 2009 pada 18:59 |
JK dikhianati brur…. coba hitung-hitung, brapa besar kekuatan golkar yang seharusnya ada di belakang JK…. Mana dia…?! Itu artinya pendukung JK (baca : Golkar) tidak pernah 100% bulad mendukung JK (baca : di k h i a n a t i). Trus larinya suara golkar ke mana ..? ya ke SBY.
Markegin // 9 Juli 2009 pada 23:11 |
Kabar gembira
Kabar gembira bagi pemilik blog dan homepage (web owner, blogger & webmaster). Kini anda bisa bergabung dengan Persbiro SiteMasters Club dan dapatkan program-program gratis:
SuperScriptor
Kumpulan kode program (script) untuk 35 jenis aplikasi yang berbasis Java. Simple. Tinggal copy paste, simpan di laman web. Kami juga pakai karena terbukti fast, simple but powerful!
ImageEditor
Editor grafik untuk kutak-katik gambar, bisa disimpan dalam file GIF, JPG atau BMP, support separasi warna RGB dan CMYK. Bisa dikembangkan untuk membuat entitas usaha. Cool & simple!
PhotoStyler
Membuat koleksi foto anda menjadi lebih bervariasi. Bisa brush, cutout dan stencil (menambah teks). Bisa dikembangkan untuk membuat kartu ucapan selamat (kartu lebaran?) atau galeri foto. Fast & steady!
ChattingMonitor
Sambil browsing internet, anda bisa mengawasi page dan visitor sekaligus mengontak mereka untuk open chat. Atau sekadar memata-matai tindak-tanduk mereka tanpa disadari. Live & audio support. Great!
And more at http://www.persbiro.com
Email: webmaster@persbiro.com
(10% of Persbiro’s sales commissioned to SurauNet)
Brahmasta // 9 Juli 2009 pada 23:38 |
Saya lebih melihat ke point ketiga sih Pak. Di sini memang yang dilihat itu figur. Nggak cuma untuk presiden aja. Untuk pemilihan apapun, bangsa kita sepertinya lebih banyak mengandalkan figur untuk menentukan pilihan.
kompilator.malam // 10 Juli 2009 pada 00:00 |
Ya, sepertinya untuk berikutnya ga usah diadakan sajalah itu debat capres, pemilih2nya malah lebih suka kalo calonnya ga berdebat.
nh18 // 10 Juli 2009 pada 14:16 |
Bapak …
Saya senang sekali membaca ulasan seperti ini …
Terlepas dari pilihan kita masing-masing …
namun tulisan ini terasa sangat logis … terstruktur … tidak emosional … dan santun …
Semoga saja semuanya bisa berfikir dan berperilaku seperti ini …
Salam saya Pak …
arifrahmat // 10 Juli 2009 pada 17:19 |
Numpang berpendapat ya, Pak.
Mari kita imajinasikan grafik statistik intelektualitas para pemilih dalam pilpres 2009 kemarin, bayangkan sebuah distribusi normal.
Orang-orang yang kemampuan berpikirnya seperti Pak Rin, atau dapat disebut kelompok intelektual, jumlahnya mungkin hanya 10-15% dari pemilih, dan inilah yang menjadi sasaran kampanye JK-Wiranto.
Orang-orang yang kemampuan berpikirnya agak di bawah rata-rata, orang-orang yang lebih mengedepankan sisi emosi daripada rasio, bisa kita perkirakan 25-30%, dan ini yang menjadi sasaran kampanye Mega-Prabowo.
Nah, kelompok yang dominan, orang-orang biasa alias orang dengan kemampuan rata-rata, jumlahnya adalah yang paling banyak, 55-65%, dan inilah yang menjadi sasaran kampanye ala Indomie dari SBY-Boediono.
Pelajaran kita: bila menjadi pemenang sebuah pemilihan umum adalah tujuan, maka ikutilah kebiasaan/kemampuan/cara berpikir mayoritas para pemilih.
'de // 10 Juli 2009 pada 21:42 |
Te2p semangat buat JK,
Sejak adanya debat capres, ak mulai mengagumi JK,, so2k yg agamis,inspiratif,kreatif,humoris,,
Adhie // 11 Juli 2009 pada 04:01 |
apapun yg terjadi Jk ttp yg terbaik….
JK man of the match’nya….
b8189uv // 11 Juli 2009 pada 06:45 |
Banyak yg bilang justru JK digembosin oleh kendaraan-nya sendiri yaitu Golkar. Tapi itu hanya rumor yg beredar lho
salam kenal
Johan // 11 Juli 2009 pada 09:06 |
berarti emang benar jk jadi capres tidak didukung penuh oleh kader golkar dan Dpd se indonesia, ya itu lah hasilnya, maaf pak jk
mkomira // 11 Juli 2009 pada 09:11 |
Tulisan ini santun sehingga kita bisa mencerna apa yg ditulis oleh penulis.
zamM // 11 Juli 2009 pada 12:22 |
saya sependapat dengan penulis, itulah kenyataan yang harus kita terima, namun tentunya kita harus mendukung siapanpun capres yang terpilih, kita doakan mudah-mudahan mereka menjdi pemimpin yang amanah, dan membawa indonesia menjadi lebih baik…
ekojuli // 11 Juli 2009 pada 15:40 |
pantesan minta pemilu diundur ya bro???
:p
sekarang, saatnya rakyat menagih janji kampanye:
http://ekojuli.wordpress.com/2009/07/09/saatnya-rakyat-menagih-15-janji-presiden-terpilih/
Naufal.Com // 12 Juli 2009 pada 14:35 |
Buat mas-mas atau mbak-mbak yang sudah saya komen, mohon kunjungan baliknya untuk mengetahui kisah seorang tunanetra yang berkiprah dalam dunia game, bisa diulik di http://adf.ly/Hvc dan sekalian komentarnya! Kalau mau ikutan kontes juga jangan lupa ya mas/mbak! (Linknya? http://adf.ly/HhS dan jangan lupa untuk mendukung saya dengan komentar ya! Lebih lanjut? Buka http://adf.ly/HhI bila ingin ikutan!)
fauzi1 // 13 Juli 2009 pada 13:23 |
itukan cuma alasan yang kalah saja….
rosa // 13 Juli 2009 pada 14:59 |
Bagi siapapun yang pilihan presidennya kalah, berarti harus mencoba membuka mata dan wawasan bahwa Anda adalah jenis pribadi yang tidak umum di negara ini, jadi kalau ingin lebih memahami negeri ini maka Anda harus lebih mampu membaur dengan masyarakat negeri ini. Orang-orang ITB kan kecenderungannya kurang memahami masyarakat negeri sendiri sehingga susah bergaul di masyarakat umum yang tidak sepola pikir he he he he…….. (sedang belajar memahami)
rahim lukman // 13 Juli 2009 pada 15:17 |
saya angat bangga dengan pak jk.beliau sangat berani mengambil sebuah keputusan salah satunya tidak bergandeng dgn sby. dari sini bisa kita lihat.bukan harta dan pangkat yang dicari oleh jk namun yang dicari adalah bagaimana ia dapat mengabdi kepada negara,terbkti jika ia kalah (debat capres)ia akan membantu pemerintah dalam menyelesaikan masaalah dalam/luar negri jika ia diminta.sungguh mulia .
mama adi // 15 Juli 2009 pada 10:56 |
tadinya bingung mau milih SBY apa JK. akhirnya golput dech… gara2 KTP dan KK ditolak di TPS.
wan abud // 17 Juli 2009 pada 09:33 |
Info dr tetanggaku (pendukung SBY), jam 2 malam sebelum nyontreng, beliau didatangi petinggi meliter untuk diminta bantuan menyuplai kaos ke plosok2 (dg memakai spd motor rombong ayam) dan propaganda pemenangan Sby 1 putaran. Ini juga terjadi di seluruh indonesia dg memakai meliter. Cara inilah yang berhasil memenagkan Sby. Tanpa ini aku kira Mega or Jk bisa menang.
Pemilih.com // 20 Juli 2009 pada 12:02 |
Rinaldu Munir: Tiga Alasan Mengapa JK-Win Kalah pada Pilpres 2009…
Yah, itulah tiga alasan mengapa JK-Win bisa kalah. Kampanye, debat capres, iklan, asal usul daerah, istri berjilbab, dan lain-lain ternnyata tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam merebut simpati.
JK-Win hanya menang di Sulsel dan Sultra, dua prov…
introzip // 23 Juli 2009 pada 00:18 |
Saya pemilih JK. Kebanyakan orang cerdas dan mengetahui track-record 3 pasang calon kemungkinan besar memilih JK.
SBY hanya tebar pesona dan selalu lambat dalam bertindak.
Mau apalagi? Karena masyarakat Indonesia banyak yang bodoh!
Sangat disayangkan, Doktor dan Professor yang spesialisasinya adalah Teoritis dan terbukti lamban dalam bertindak, dengan hanya tebar pesona AMPUH memikat rakyat yang ‘kurang melek’.
Jojo // 31 Juli 2009 pada 10:17 |
Sebenarnya JK menarik spontan dan dinamis tapi karena startnya sudah bermasalah didalam tubuh golkar terutama dalam memilih figur capres dan cawapres tidak pinter karena salah satu figur yang ada pernah ditawarkan tapi dak laku sekarang kok ditawarkan lagi