Catatanku

Bom Lagi, Bom Lagi… (Memotret Perilaku Radikal dan Liberal)

20 Juli 2009 · & Komentar

Bagai negeri yang tidak putus dirundung malang. Baru saja kita menikmati rasa tenang, di depan mata kita bom berskala besar meledak lagi. Dua hotel bertaraf Amerika di Jakarta, JW Marriot dan Ritz Carlton di Jalan Kuningan dibom oleh pelaku bom bunuh diri Hari Jumat pagi minggu lalu. Sembilan orang tewas, kebanyakan warga asing, dan puluhan orang lain luka-luka. Pelaku bom nampaknya memanfaatkan kelengahan polisi yang terfokus pada Pileg dan Pilpres.

Siapa yang punya ulah ini? Penjahat besar pasti. Apa motifnya, kita sama-sama tidak tahu. Apa salah tamu-tamu di kedua hotel itu sehingga menjadi korban? Apakah nyawa mereka begitu kurang berharga sehingga mereka harus mati karena tindakan yang biadab? Tidak punya rasa perikemanusiaan dan perikebinatangan, mungkin ungkapan kesal itu yang tepat. Dari rekaman CCTV yang ditangkan di TV terlihat jelas pelaku bom bonuh diri itu memang berani mati, tetapi takut hidup. Mereka mengira cara bom bunuh diri itu adalah jalan pintas ke surga. Karena itu, mereka memilih mati ketimbang menggunakan hidupnya untuk kemanusiaan.

Jelas, bom seperti itu berdampak sangat luas, bukan hanya sekadar kesebelasan Manchester United membatalkan pertandingannya di Jakarta. Itu terlalu kecil. Yang sudah tergambar dengan pasti, citra Indonesia di mata dunia jelas rusak. Indonesia dianggap negara yang tidak aman. Ekonomi akan terpuruk meskipun tidak terlalu parah. Negara asing kalau mau berinvestasi di sini akan pikir-pikir dulu, apalagi bagi negara yang didentikkan dengan Barat. Industri pariwisata pun berdampak. Travel warning, pasti dimunculkan negara yang phobi terhadap Indonesia, misalnya Australia.

Namun, ada rasa jengah yang lebih dalam lagi akan muncul yaitu stigma negatif terhadap Islam. Seperti biasa, setiap kali ada bom, maka telunjuk selalu diarahkan kepada orang atau kelompok orang yang kebetulan membawa atribut Islam. Tiga bom besar terdahulu, bom Kuningan I, bom Bali I, dan bom Bali II, pelakunya adalah kelompok yang membawa atribut Islam itu (Amrozi cs). Sekarang, dari bom Kuningan II, polisi sudah mengidentifikasi jenis bomnya mirip dengan bahan peledak yang disita polisi dari orang-orang yang dianggap bagian dari jaringan terorisme. Polisi juga mengungkap salah seorang pelaku bom Kuningan II bernama Nur, nama yang khas Islam juga.

Kalau benar pelakunya orang yang beragama Islam atau dari kelompok yang menggunakan atribut Islam, jelas kita tidak paham dan tidak habis pikir doktrin apa yang dicekokkan ke otak pelaku bom bunuh diri itu sehingga mereka rela membunuh orang lain yang tidak bersalah. Tidak ada ayat Alquran atau hadis Nabi yang menyuruh untuk membunuh orang lain, kecuali bagi pasukan yang terlibat dalam peperangan (dalam perang hanya dua pilihan bagi tentara: hidup atau mati). Begitu berharga nyawa itu sehingga Rasulullah mengatakan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh seribu orang (artinya menghabiskan generasi yang mungkin akan dilahirkannya). Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh mati syahid dengan jalan demikian, dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Sebagian besar orang Islam di Indonesia ini berperilaku moderat, hanya sekelompok kecil yang radikal dan sekelompok kecil lagi liberal (yang sering diasosiasikan dengan nama “Islam Liberal” yang dimotori oleh Ulil cs). Kelompok radikal dan kelompok liberal adalah dua kutub yang berlawanan dan keduanya hadir sebagai counter satu sama lain, sementara kelompok moderat berada di tengah-tengahnya. Kelompok yang mayoritas itu, yakni yang berpaham moderat, tidak menyukai kekerasan dalam beragama, karena agama memang tidak mengajarkan kekerasan itu. Sedangkan kelompok radikal maupun kelompok liberal, keduanya sama-sama ekstrim dan keras. Perbedaannya, kelompok radikal memainkan kekerasan secara fisik, sedangkan kelompok liberal melakukan kekerasan verbal, yaitu melalui kata-kata/tulisan. Yang satu teroris fisik, yang satu lagi teroris verbal. Keduanya sama-sama menyakitkan. Teroris fisik membuat luka badan, sedangkan teroris verbal melalui tulisan-tulisannya membuat luka jiwa dan luka iman.

Persamaan kedua kelompok ekstrim itu sama-sama memanipulasi ayat-ayat suci untuk melegitimasi pendapat atau perbuatan mereka. Ayat-ayat suci ditafsirkan sekehendak mau mereka dan diputarbalikkan maknanya untuk mendukung paham mereka. Kelompok radikal memanipulasi ayat suci untuk menghalalkan tindakan mereka membunuh orang yang mereka anggap kafir, sedangkan kelompok liberal berusaha mendekontruksi ayat-ayat suci, merelatifkan apa yang sudah dianggap qath’i (baku), merendahkan Nabi, dan mencaci para ulama terdahulu. Kelompok liberal memanfaatkan jaringan media massa untuk mensosialisasikan pikiran-pikiran mereka. Sementara kelompok radikal tidak memiliki jaringan media, namun mereka memiliki jaringan kader yang militan yang direkrut diam-diam secara personal, semuanya berjalan underground alias tidak diketahui publik. Yang terlihat di permukaan adalah kedua kelompok ekstrim ini seakan-akan memonopoli kebenaran, sementara kelompok moderat yang mayoritas itu lebih banyak diam sehingga dinamakan silent majority. Apakah kelompok yang diam itu diam-diam menyetujui tindakan kedua kelompok ekstrim tersebut? Mungkin saja sebagian kecil ada, tetapi saya percaya sebagian besar menolak, karena — sekali lagi– agama tidak pernah mengajarkan kita berlaku kasar, apalagi melakukan kekerasan baik secara fisik maupun secara verbal.

Bom sudah meledak, dan selalu targetnya orang asing. Orang asing itu adalah tamu di negara kita. Kepada tamu saja kita disuruh harus berbuat baik, sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya“.

Kategori: Indonesiaku

9 tanggapan so far ↓

  • Bernardia Vitri // 20 Juli 2009 pada 16:02 | Balas

    Teroris…. kau membawa teror.. padahal indonesia masih banyak masalah… kenapa???

  • someone // 22 Juli 2009 pada 09:15 | Balas

    istilah moderat lebih baik diganti dengan kata muslim saja, karena muslim yang bener itu tidak berlebih-lebihan

    tentang orang asing yang datang ke Indonesia dan dilindungi oleh pemerintah, walaupun itu musuh (seandainya), tetap harus dilindungi, tidak boleh dilukai, karena sudah ada jaminan

  • Anna // 22 Juli 2009 pada 12:02 | Balas

    mas penulis, katanya agama tidak mengajarkan kekerasan, trus menanyakan doktrinnya gimana ? apa dasar ayat alqurannnya ? coba deh mas tengok di AL Muhajirin , situs majalah jihad islam. disitu akan terkuak semuanya, bahwa semua ini memang masalah indoktrinasi agama.

  • rinaldimunir // 22 Juli 2009 pada 13:58 | Balas

    @someone: benar one, istilah-istilah “moderat”, “fundamentalis”, dll sebenarnye menyesatkan, seolah-olah Islam itu ada macam-macam. Itu istilah yang disodorkan pihak Barat, dan “terpaksa” kita memakainya untuk tinjauan akademis.

  • Tophid // 22 Juli 2009 pada 19:47 | Balas

    @anna: saya setuju dengan pendapat penulis.

    Kaum radikal ini telah memanipulasi ayat-ayat suci Al-Qur’an. Mereka menafsirkan sesuai dengan keinginan mereka untuk mendukung pendapat mereka. Agama hanya digunakan sebagai alat saja.

    Dan cara beragama seperti itu adalah salah. Seharusnya, “biarkan teks (Al-Qur’an dan hadits) bicara dengan sendirinya”. Seharusnya, baca Al-Qur’an dan hadits, baru buat kesimpulan apa sebenarnya yg mau diajarkan.

    Sedangkan kelompok radikal ini (juga kelompok liberal) adalah buat ajaran dulu, baru cari dalilnya. Dan itu bisa saja terjadi. Kita bisa melihatnya kalau dalil-dalil yang mereka pakai tidak komprehensif. Mereka mencomot sebagian dan membuang dalil yang lain. Padahal bisa jadi, dalil yang dibuang ini jauh lebih banyak jumlahnya.

    Contoh sederhana adalah bom bunuh diri. Salah satu kaidah yang shahih, yang dipakai oleh para ulama ahli sunnah, adalah “tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang benar”. Taruh kata tujuan golongan radikal ini adalah baik, tetapi ternyata dilakukan dengan cara yang tidak benar, yaitu bunuh diri. Tidak ada satu alasanpun yang dibenarkan untuk bunuh diri. Lihatlah tulisan ini:
    http://muslim.or.id/manhaj/akal-dan-agama-mana-yang-mengatakan-ngebom-itu-jihad.html

  • omiyan // 24 Juli 2009 pada 14:58 | Balas

    Istilah itu diciptakan oleh pihak barat, lihat aja film film barat semuanya mengatakan kalau teroris itu Islam (Miskin, bodoh) dan pihak yang benar adalah Asing

    dan propaganda mereka berhasil

  • rsauqi // 29 Juli 2009 pada 14:21 | Balas

    Yup. Semua salah barat. Kita miskin, yg salah barat. Kita bodoh, yg salah barat. Kita g berani berfikir, yg salah barat. Kita dibom, yg salah barat. Nggak lulus2 kuliah (misal), juga salah barat. Nggak dapet kerjaan, salah barat. Pokoknya semuaaa salah barat. G ada yg berani mengatakan: ya ini semua salah saya, saya akan introspeksi diri. Apa ya namanya itu: inferiority complex??

  • ganda // 4 Agustus 2009 pada 10:27 | Balas

    Bukan hanya barat aja yg salah, tapi semua itu konspirasi Yahudi. Negara-negara Barat melakukan itu karena dikuasai kalangan Yahudi. Ikan yg mati di aquarium di rumah saya juga akibat konspirasi Yahudi.

  • Aswin // 9 Agustus 2009 pada 14:01 | Balas

    Sungguh aneh kalau kita hidup selalu menyalahkan orang lain…. Seharusnya kita belajar dari mereka bagaimana mereka bisa berbuat begini dan begitu.

    Cobalah untuk tidak mengutuk kegelapan, tetapi nyalakanlah lilin agar tidak gelap….

Tinggalkan sebuah Komentar