Memasak Rendang

Hari Senin kemaren tanggal merah, kami di rumah memasak randang (di sini dikenal dengan nama rendang padang). Kebetulan ada persediaan daging beku di freezer, dan kebetulan pula kami sudah lama tidak memasak rendang di rumah. Memasak rendang sendiri dilatari ketidapuasan dengan rendang yang dijual di beberapa rumah makan padang di Bandung ini, sebab rasanya berbeda dengan yang di kampung aslinya. Nah, memasak sendiri rendang kenapa tidak? Kebetulan hari libur pula.

Untuk memasak rendang, saya tidak perlu repot-repot membuat bumbunya. Di Bandung ada beberapa pedagang urang awak di pasar tradisionil yang menjual aneka bumbu masakan olahan. Mereka umumnya berjualan di deretan pedagang yang menjual kebutuhan dapur seperti sayur mayur, daging, dan kelapa. Ciri khas pedagang ini adalah baskom-baskom yang penuh dengan bumbu yang sudah dihaluskan seperti cabe, laos, kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sebagainya. Kita tinggal pesan mau masakan apa, maka pedagang bumbu ini siap meracik bumbu masakan dengan mencampurkan aneka bumbu tadi. Mau buat gulai ayam, rendang, opor, semua ada. Mau untuk daging sekilo, dua kilo, mau pedas, super pedas, tergantung selera. Harganya murah, sekitar lima ribu rupiah saja untuk masakan dengan daging satu kilo.

Kedai bumbu favorit saya adalah Kedai Buyung, terletak di lantai basement Pasar Kosambi Bandung. Kita dilayani oleh Uni yang berbadan gemuk. Uni penjual bumbu adalah istri Pak Buyung pemilik kedai itu. Saya membeli bumbu rendang di sana untuk satu kilo daging sapi. Pedas, pasti itu. :-)

Bumbu rendang tergolong lengkap dan rumit, ada bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, jahe, laos, lengkuas, ketumbar, garam, daun kunyit, daun limau (jeruk), dan daun sereh (serai), dan masih ada lagi yang kecil-kecil. Enak tidaknya masakan rendang bergantung pada kelengkapan bumbu tadi dan komposisinya. Uni yang menjual bumbu di kedai Buyung sudah terampil dengan komposisi bumbu rendang yang enak. Jadi, anda tidak usah khawatir.

Daging sapi sudah ada di rumah, kami cukup membeli kelapa parut saja. Daun-daun penyedap rasa seperti sereh (sarai) dan daun limau (jeruk) ada di pekarangan rumah, jadi saya tidak perlu repot mencari lagi. Kalau tidak ada, di tukang sayur yang lewat depan rumah pasti menjual daun bumbu ini.

Yup, kami mulai memasak rendang. Kelapa parut diperas santannya. Lalu, campurkan bumbu yang dibeli di kedai tadi ke dalam santan sampai tercampur sempurna, jangan lupa daun-daun penyedap tadi dimasukkan ya. Panaskan campuran santan tadi hingga mendidih, jangan lupa terus diaduk agar santannya tidak pecah, baru kemudian masukkan potongan daging sapi.

Di kampuang asalnya, rendang ada yang polos dan ada yang dicampur dengan kacang atau kentang kecil-kecil seukuran kelereng. Anak saya lebih suka kacangnya daripada dagingnya, sehingga saya tambahkan satu kilo kacang putih (di Bandung disebut kacang ndul). Jadi, jangan heran kalau nanti hasil akhirnya kelihatan lebih banyak kacang daripada dagingnya.

Bergantian dengan istri, kami sesekali mengaduk-aduk masakan rendang yang belum jadi ini. Memasak rendang tidak sulit, yang penting ada kesabaran dan waktu yang cukup. Memasak rendang memerlukan waktu lama, kira-kira empat hingga lima jam. Jadi, kita harus siap berdiri dekat kompor selama waktu itu. Filosofinya ya kita harus sabar menjalani hidup ini, hidup itu seperti memasak rendang, he..he..

Sambil mengaduk-aduk masakan rendang, ingatan saya pun melayang ketika masa-masa masih kuliah dulu….

**************

Ketika menjadi mahasiswa, masih muda dan masih lucu-lucunya :-), ibu saya sering mengirim rendang dari Padang ke Bandung melalui jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Hampit semua teman kuliah saya yang satu daerah pasti pernah dikirimi rendang dari ibunya. Rendang seakan lauk-pauk wajib yang harus dibawa kalau seseorang pergi merantau jauh, entah untuk sekolah, kuliah, berdagang, naik haji, dan sebagainya. Tidak lengkap bepergian jauh tanpa membawa rendang.

Bagi kami mahasiswa kosan di Bandung, seakan para ibunda tahu para anaknya di rantau mungkin sulit makan, kurang gizi, dan sebagainya, maka kiriman rendang dari kampuang adalah obat pelepas rindu pada masakan di rumah sendiri sekaligus perbaikan gizi. Rendang yang dikirim tentu adalah rendang yang warnanya hitam, yaitu jenis rendang kering yang bisa awet hingga waktu satu bulan. Biasanya ibu saya mengirim rendang dalam kaleng, di atas tutup kaleng ada tulisan begini: Setelah dibuka, langsung dipanaskan. Maksudnya supaya tidak jamuran dan bisa lebih awet lagi. Untunglah di tempat kos ada kompor, jadi tinggal dipanaskan sebentar. Kiriman rendang dari kampung lumayan mengirit pengeluaran makan sebab saya cukup membeli nasi putih saja.

Tentu bosan setiap hari makan dengan rendang terus, yaah tidak setiap harilah rendangnya dimakan, sekali-kali saja sampai akhirnya habis dalam waktu dua minggu. Masakan ibu adalah pengikat tali batin antara anak dengan keluarganya. Jadi, kiriman rendang itu adalah barokah, tidak boleh disia-siakan.

*************

Upss… jangan terlalu lama melamun. Akhirnya, masakan rendang kami sudah hampir matang. Sudah empat jam nih, minyak kelapanya sudah banyak keluar, warna masakan sudah menjadi coklat. Sampai di sini, masakan setengah rendang ini dinamakan kalio randang. Ini dia fotonya:

DSC00587

Hi..hi.. kalio randang buatan kami lebih banyak kelihatan kacang daripada dagingya. Maka, kami sebut saja ini randang dagiang kacang.

Beberapa rumah makan padang yang “tidak sabaran” memasak rendang, menghidangkan rendang dalam bentuk kalio saja. Hmm.. sebenarnya rendang dalam bentuk kalio belum terlalu mak nyus, dagingya belum terlalu empuk, kalau mereka mau bersabar teruskan beberapa jam lagi hingga menjadi rendang yang sempurna. Tapi ini juga terkait masalah selera tampaknya.

Ketika rendang sudah mencapai tahap kalio, maka api kompor dimatikan, Biarkan kalio randang ini dingin agak beberapa jam supaya uap airnya mengering dan bumbu meresap ke daging.

Setelah didiamkan beberapa jam, api kompor dihidupkan lagi. Kalio randang sekarang dikeringkan hingga minyaknya tidak ada lagi. Sesekali aja diaduk bolak-balik agar rendang menjadi kering. Sampai di sini, dihasilkan rendang yang warnanya coklat tua. Hmmm… tadinya satu kuali penuh santan dan bumbu, sekarang tinggal sepertiga saja. Satu kilo daging, satu kilo kelapa, satu kilo kacang ndul, dihasilkan rendang yang bobotnya kira-kira satu kilo. Dua kilo lagi menguap menjadi uap air. Ini dia fotonya:

DSC00590

Kalau ingin menjadi rendang hitam, panaskan terus kira-kira satu hingga dua jam lagi sehingga menjadi rendang kering yang tahan lama. Capek juga ya… tetapi rendang buatan sendiri tentu lebih enak daripada rendang yang dibeli di rumah makan padang.

*************

Tidak percuma sejak mahasiswa saya suka memasak hingga sekarang. Laki-laki tidak perlu malu memasak, memasak bukan masalah feminimitas atau maskulinitas, tetapi hal ini terkait hobi dan kegemaran.

Di Jakarta, ada perantau urang awak yang mempunyai bisnis rendang kantoran. Mereka menerima pesanan rendang untuk teman-teman sekantor. Karena enak, maka rendang buatan mereka tersebar dari mulut ke mulut menjadi promosi gratis sehingga pesanan pun membanjir. Baca kisah lengkapnya dengan mengklik tulisan ini: Bisnis Rendang Orang Kantoran. Menarik sekali.

Hmmm… pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-)), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu. Tapi itu ‘kan nanti, apa nanti masih punya tenaga atau tidak. Yang jelas, nikmati dulu rendang yang dibuat tadi. Ayo ambil nasi….

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Makanan enak. Tandai permalink.

30 Balasan ke Memasak Rendang

  1. yunita berkata:

    hmm..kalo dijual,sekilonya jadi brp pak? :D
    tester dulu dong…hehehehe

  2. Agust Andy berkata:

    Ada ‘untung’-nya punya teman kost orang Padang. Selalu kebagian rendang hasil kiriman :)

  3. yaniwid berkata:

    Walah, lama ya…
    Masih ada Pak Rin? Minta dong…

  4. limaapril berkata:

    wah, kalo pak rin pensiun jadi author buku saja pak,

    btw, lagi kape di bali gak ada rumah makan padang yang jualan rendang rancak bana pak…dan harus hati-ahti kadang2 ada yang jual rendang “sapi kecil” yg bunyinya ngok3x …

  5. rosa berkata:

    Rendang emang enak Pak, tapi yang paling males, masaknya luaaaaaaaaamaaaaaaaaaaaaaaa. Pernah coba bikin gak sabar he he he he (kalau masakan jawa timur kan tidak ada yang lama masaknya).

  6. anggriawan berkata:

    pernah terlintas dalam pikiran saya, andai nanti saya sudah tidak terpakai lagi menjadi guru mahasiswa (pensiun maksudnya :-) ), ingin juga saya membuka usaha rendang kantoran semacam itu

    tampaknya hampir semua orang Padang yang merantau pasti punya keinginan seperti itu ya, Pak.. kalau pensiun (atau sebelumnya), ingin berbisnis masakan Padang.. ^^ hehe..

  7. rinaldimunir berkata:

    @yunita: belum dihitung berapa sekilonya ya, tergantung yang memesannya siapa… he..he

    @august andy: oo pasti itu, sewaktu mahasiswa dulu saya juga begitu, tiap kali ada teman kos yang dapat kriiman randang dari kampung, pasti habis diserbu…

    @yaniwid: lama, total waktunya 6 jam, eee sayang baru ditanyakan sekarang, sudah habis tadi pagi tuh

    @limaapril: Puja, di Bali kan banyak juga tuh rumah makan padang, coba tuh di belokan dekat Kuta Beach, ada rumah makan Simpang Raya. Rendang sekarang tidak hanya dari daging sapi, tetapi bisa juga daging ayam, dan kalau di Bali mungkin saja daging Bab I (bab satu).

    @rosa: iya Rosa, cuma saya susah cocok dengan masakan Jawa karena manisnya itu lho, tapi kalau pecel bisa nambah makan saya.

    @anggriawan: tidak seluruhnya begitu, memang betul bisnis yang paling gampang membuka rumah makan. Kenapa? Karena masakan padang sudah punya nama, jadi pelanggannya sudah tersedia.

  8. Bayu berkata:

    Saya masak rendang pake bumbu instan gagal terus sih pak. Baru tau ternyata emang harus sampe 5 jam.
    Yg bikin kaget ada teman dari malaysia yg bilang rendang itu juga makanan khas malaysia. Atau memang rendang itu bukan cuma makanan orang padang tapi juga orang melayu? Atau ada makanan yg beda tapi namanya sama kurang tahu jg bentuk rendang malaysia? Who knows

  9. Agung berkata:

    Dulu pernah nyoba juga pak, karena dapat “warisan” panci presto dari ortu, akhirnya dibuatlah rendang presto. Hasilnya, ya sekelas rendang di rumah makan padang, hehe (tapi ya, masih dibawah rendang aslinya..) Cuma 1 jam lho pak.. lumayan irit gas :D

  10. Robby Permata berkata:

    ondeh, tabik salero ambo mancaliak fotonyo Pak.. hehe.. :D

  11. mama adi&ian berkata:

    wah…. kirain ada resepnya Da…
    aku pengiin banget bikin.. tapi ndak mau pake bumbu jadi.. maunya bikin bumbu sendiri.. tau ndak Da.. apa resepnya untuk 1 kilo daging???

  12. djonson djuli berkata:

    di beberapa daerah di sumbar ada juga yang menambahkan kulit manis, biji pala dan cengkeh untuk menambah aroma rendang.
    Assalumailaikum
    untuk pengganti kacang, potongan singkong sebesar dadu digoreng kering terlebih dahulu, masukkan setelah rendang akan kering, atau kentang kecil-kecil sebesar kelereng yang dimasukkan pada saat sudah jadi kalio.
    memasak rendang disarankan memakai bumbu yang diolah sendiri (bukan bumbu racikan yang sudah jadi)
    sekedar tambahan informasi pak Rin,
    Wassalamuailaikum.

  13. Yanti berkata:

    Di rumah ndak pernah kami dinginkan lalu diulang lagi masaknya, jadi model masak seperti Anda baru bagi saya. Lagian kaya’nya tiap daerah di Sumbar ada beda rendangnya.Ada yang itaaam sekali, ada yang lebih kuning , ada yang agak basah, ada yang kering sekali.

    Di rumah Ibu di Padang (tentu saya ikut model Ibu) bumbunya minimalis , laos,jahe, bawang putih, bawang merah dan cabe semuanya di giling halus. Ngga pake kunyit karena kunyit membuat rendang gak bisa itam.Trus daun -daunnya adalah daun kunyit, daun jeruk purut dan batang serai.

    Mertua saya di Batu Sangkar bumbunya lebih rame, karena pake ketumbar, kapulaga dll, seperti bumbu kare.

    Apapun, bagaimanpun, saya rasa tidak ada orang yang menolak bila disungguhi rendang (asal dagingnya halal)

  14. rinaldimunir berkata:

    @mama_ian: resep rendang? wah tinggal tanya saja ke mbah Google, pasti ditemukan ratusan resepnya.

    @Yanti: Mirdayanti, apo kaba di Pesisir Selatan tu? Memang randang itu banyak sekali variasi memasaknya. Di rumah saya di Padang ibu selalu mendinginkan rendang sebelum siap untuk “dihitamkan”. Randaang yang raso gulai kambiang ado pulo, yaitu nan memakai bumbu kare. Kalau randang urang Pasisia baa yo?

  15. Yanti berkata:

    Maaf saya bukan urang Pasisia, kalimat saya yang mana ya yang mengidentifikasikan saya urang Pesisir Selatan ?. Saya lahir sampai tamat kuliah di Padang (SMA kita kan sama), dan sejak jadi PNS tahun 1990 tinggal di Pasaman Barat (Kinali).

    Blog anda adalah favorit saya. Setiap buka i-net selalu sempatin buka blog Anda. Blog saya garing.Padahal banyak sekali mestinya yang bisa
    saya ceritakan.

    O ya, kenapa ga buka Face Book ? Kita alumni SMA 1 Padang kan ketemuannya lebih sering di FB

  16. rinaldimunir berkata:

    @Yanti: ups… Yanti di Kinali Pasaman tho, saya kira di Pasisia. Kenapa gak Facebook? Nanti dululah, Facebook akan sering menyita waktu, dibandingkan blog yang lebih nyaman untuk menyalurkan ide menulis dan saling berbagai pengalaman.

  17. rifki berkata:

    Pak Rin..

    Assalaamu ‘alykum wr. wb.

    Mo coba nih rendang ala Pak Rin..
    Sepakat Pak, yang di warung makan itu Rendangnya udah mengikuti selera pasar setempat.. untuk alasan yang menjual dalam bentuk kalio, bisa jadi sih karena ga sabaran, tapi setahu saya itu lah yg mereka pahami sebagai rendang.. (sampai teman ada yang nanya, kok kalau rendang padang yang asli hitam sih? pakai apaan sih supaya hitam?)
    Dan tekniknya umumnya agar tidak alot atau tidak hancur (karena terlalu lama atau kurang lama dimasak),
    dagingnya mereka rebus terpisah dulu (di panci presto misalnya), nanti kalau sudah mau jadi kalio baru disatukan.

    Eh, selain kacang merah, ada yang pakai kentang kecil loh Pak..

    Salam buat keluarga Pak.

  18. Soni Satiawan berkata:

    Pak, kebetulan sekali, saya juga baru memasak rendang ketika lebaran kemaren.. Tapi untuk mempersiapkan bumbu dan daging, saya harus bersusah payah dan harus mencari ke kota lain, soalnya disini selain susah mencari daging yang halal, bumbu2 yang seperti bapak tuliskan seperti laos, daun kunyit, sereh (saya baru tau kalo bahasa indonesianya sarai itu sereh, hehehe), trus cabe merah, dan daun limau. tidak dijual disini, kalopun ada itu sangat jarang sekali..

    Oh ya pak, hasil dari randang yang saya buat juga saya post di tulisan terakhir saya…

  19. rinaldimunir berkata:

    @Soni: iya Soni, saya sudah baca. Sampai kapan di Filipina?

  20. Jujun Subadriah berkata:

    Mau ikutan nyoba bikin ah…beli bumbunya di pasbar ya pak……

  21. Ambu si Kaka berkata:

    Baru tahu, kalo santan dan bumbunya dididihkan dulu baru kemudian dagingnya dimasukkan. Nanti saya coba deh.
    Kawan saya yang orang padang, kok gak ngajarin seperti itu ya?

  22. Indria berkata:

    Assalaamu’alaykum Pak Rinaldi..
    Seingat saya, saya pernah dengar kalau Rivan suka rendang..ternyata karena ayah dan ibunya suka membuatkan ya… Salam ya Pak buat Ibu dan Rivan..sejak akan melahirkan anak pertama hingga sekarang sudah hamil anak kedua,tidak pernah ketemu Rivan lg…

    • rinaldimunir berkata:

      Halo Bu Indria, apa kabar. Memang dulu saya suka memasak rendang, tapi akhir-akhir ini sudah lama tidak membuatnya. Rivan memang suka rendang, tapi hanya rendang hitam (yang kami sebut “rendang nenek”).

  23. educrazy berkata:

    walah jadi termotivasi untuk belajar masak-memasak.. kunjungi balik oke..

  24. Rachmad berkata:

    wahh..jgn bikin laper donk…wkwkwkwk :)
    kunjungi http://punzjrs24.wordpress.com

  25. tri berkata:

    Menarik sekali artikel diatas, dan tambahkan pengempuk daging merk Prozyme dalam bentuk serbuk, mudah caranya 1 sdm tambahkan 3/4 air untuk 1 kg daging dan dicari agen di seluruh indonesia.

    Semoga bisa membantu dan lihat http://www.facebook.com/tri.hendrawan

  26. Ping balik: Rendang Padang Kemasan “made in” Bandung | Catatanku

  27. Aning berkata:

    bagus dan menarik sekali ini bagus untuk belajar masak-memasak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s