Ada hajatan yang tengah berlangsung di ITB saat ini, yaitu pemilihan rektor baru. Rektor lama, Pak Djoko, akan habis masa jabatannya. Info pemilihan rektor ITB sila lihat di sini.
Sesuai dengan UU BHMN, pemilihan rektor bersifat terbuka, iklannya dipasang di media massa. Siapapun orang Indonesia yang merasa pantas menjadi rektor, silakan memasukkan lamaran. Namun, sejak masa pendaftaran dibuka pada tanggal 6 Juli dan akan berakhir tanggal 6 Agustus yang akan datang, hingga tulisan ini dibuat jumlah pelamar resmi baru 1 orang, yaitu orang luar bernama Dr.Ir. Irawan Muripto, M.Sc dari Sekolah Tinggi Perikanan – Jakarta. Walah… mana nih calon dari dalam sendiri?
Sewaktu masih menjadi dosen muda, ada seorang senior yang waktu itu disuruh-suruh oleh rekan-rekannya untuk maju menjadi calon rektor ITB. Apa katanya? Nggak ah…, nggak mau. Kenapa tidak mau? Menjadi rektor ITB itu bisa bikin stres. Cari-cari “penyakit” saja, katanya. Oh, begitukah?
Hmmm… pekerjaan apapun bisa membuat stres atau bikin sakit (termasuk sakit hati), tidak hanya rektor ITB saja. Memang menjadi rektor ITB tingkat stresnya akan lebih tinggi. Banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh rektor baru, mulai dari target ITB menjadi WCU (World Class University), biaya pendidikan yang semakin mahal, kampus yang terasa semakin sempit saja, masalah kemahasiswaan yang tidak habis-habisnya, dan tentu masih banyak lagi masalah lain yang harus diselesaikan. Yang paling berat memang memimpin lebih dari 1000 dosen yang hebat-hebat itu. Biasanya orang pintar itu susah diatur, maunya mengatur terus, he..he
. Bercanda.
Hanya sayangnya, pemilihan rektor berlangsung di tingkat elit saja. Sesuai dengan UU BHMN, hanya anggota Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat (MWA) yang dapat memilih (lihat prosedur pemilihan). Dosen biasa seperti saya tidak bisa ikut memilih rektor baru, hanya bisa mengusulkan calon saja. Aneh saja menurut saya, padahal kepala desa hingga presiden saja dipilih melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat di bawahnya, tetapi untuk rektor tidak (atau belum) berlaku.
Hayo, siapa yang berminat menjadi rektor ITB yang baru?
8 tanggapan so far ↓
rodrymikhael // 23 Juli 2009 pada 15:25 |
Sekarang semakin banyak rektor yang dari kalangan muda, seperti Pak Gumilar dari UI atau Pak Anies dari Paramadina.. Bagaimana dengan ITB?
salam kenal
http://sectiocadaveris.wordpress.com
rinaldimunir // 23 Juli 2009 pada 15:39 |
@rodry: iya, sekarang memang zamannya orang muda yang banyak memimpin. Obama-isme. Kayaknya nih rektor ITB y.a.d masih akan berasal dari generasi yang lebih tua dari Pak Gumilar dan Pak Anies Baswedan. Yang muda-muda belum berani maju. Salam kenal kembali.
Dhimas L N ---- (^-^)v // 23 Juli 2009 pada 15:58 |
saya boleh ga ya jadi calon rektor?
suryaden // 23 Juli 2009 pada 21:53 |
harus ikhlas juga pak untuk menjadi pemimpin, apalagi mimpin orang pinter-pinter
Khairulu // 24 Juli 2009 pada 06:24 |
maunya sih : pengusulan oleh masyarakat. Diseleksi awal oleh senat dan Mwa. Trus diadakan pemilu langsung thd calon2 yg lolos seleksi Mwa tsb. Jd senat+mwa bertindak spt KPU gitu…
Billy Koesoemadinata // 24 Juli 2009 pada 14:59 |
walah, ternyata udah pemilihan rektor lagi ya?
cepet juga
yang pasti sih pak, kriterianya harus bisa mengayomi mahasiswa-nya supaya ga jadi pelaku kecurangan SNMPTN (lagi)..
kapan ya, saya bisa kuliah di ITB?
limaapril // 27 Juli 2009 pada 09:06 |
apakah dari STEI tidak ada yang berminat pak ?
saya mendambakan rektor yang ‘pengertian’ terutama pada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Yang membimbing dan menemanti tidak semerta-merta melarang tanpa mau berdiskusi.
anggriawan // 28 Juli 2009 pada 11:29 |
fyi, sekarang sudah ada 6 bakal calon.. dari stei ada pak kuspriyanto.. tapi mungkin kita lebih mengenal bakal calon lainnya, pak adang surahman..
http://rektorkita.itb.ac.id/calonnomine