Minggu lalu saya dan beberapa dosen STEI mendapat kesempatan mengikuti International Conference on Electrical Engineering and Informatics (ICEEI 2009) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Kuala Lumpur. Konferensi ICEEI 2009 ini merupakan kerjasama STEI-ITB dan Fakulti Sains dan Teknologi Maklumat (FTSM) UKM. Jika di-Inggriskan maka nama fakultas di UKM itu adalah Faculty of Information Science and Technology. Dalam Bahasa Malaysia, informasi = maklumat.
Biaya akomodasi, biaya seminar, dan biaya transportasi ke Kuala Lumpur ditanggung olh ITB. Waaah… gratis, siapa yang tidak mau, ya kan?. Syaratnya kita harus mempresentasikan makalah kita di sana. Saya memang ikut submit makalah di ICEEI 2009 ini.
Saya belum pernah ke Kuala Lumpur, jadi ini pengalaman pertama saya ke sana. Kebetulan ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kuala Lumpur dengan Air Asia, sehingga kami tidak usah jauh-jauh ke Jakarta untuk naik pesawat.
Sebenarnya saya deg-degan ketika mau berangkat. Semalam sebelum berangkat, badan saya meriang karena demam. Flu. Saya tertular flu dari anak-anak, karena kondisi fisik saya ikut turun karena mengurus anak yang sakit. Saya khawatir jika badan tetap panas juga sampai besok, jangan-jangan saya dikarantina di bandara KLIA Kuala Lumpur. Saat ini memang lagi musim flu babi. Setiap bandara di dunia menempatkan peralatan pemindai panas (termostat) pada pintu keluar. Penumpang yang terdeteksi panas dengan suhu > 38 derajat Celcius, akan dibawa ke pusat karantina dan dicurigai sebagai suspect flu babi. Hiii… membayangkan hal itu saya benar-benar khawatir. Bisa-bisa ke Kuala Lumpur hanya masuk rumah sakit saja. Buyar deh rencana jalan-jalan ke Malaysia.
Alhamdulillah, setelah minum Decolgen, paginya badan saya mulai terasa enak, tidak terasa panas lagi, mungkin sekitar 37 derajat Celcius-lah, tidak sampai 38 derajat. Penerbangan ke Kuala Lumpur dari Bandung memakan waktu 2 jam. Kami mendarat di sub-bandara KLIA khusus untuk pesawat berbiaya murah seperti Air Asia, namanya LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Bandara LCCT ini sangat ramai. Meski untuk pesawat murah namun pelayanannya bagus.
Penumpang pesawat harus mengisi formulir H1N1 (flu babi) yang menyatakan kondisi kesehatannya dalam waktu 1 minggu belakang, apakah pernah batuk, panas, pilek, bersin, dll. Benar-benar ketat pengawasan Malaysia terhadap penumpang jalur internasional. Wajar saja, sudah 18 orang penduduknya meninggal karena flu babi, jadi mereka harus lebih waspada terhadap pendatang. Melewati pemindai panas di pintu keluar, hati saya mulai tidak tenang, jangan-jangan mereka berhasil mendeteksi panas tinggi pada pada tubuh saya. Untunglah semuanya lancar, saya bisa lolos pemindai panas itu. Dokter-dokter yang berjaga di sekitar itu sudah siap membawa penumpang yang terdeteksi panas di atas 38 derajat. Alhamdulillah.
Sambutan pertama petugas flu babi cukup menjengkelkan. Ada rekan kami lupa menyerahkan kartu H1N1, dia lewat begitu saja. Eh, petugas itu meneriakinya dengan sebutan Indon: “Indon.. Indon.. serahkan kartunya di sini”, katanya. Duh, sebutan Indon sungguh tidak enak bukan, itu sebutan yang melecehkan orang Indonesia, khususnya TKI, di Malaysia. Memangnya kami ini TKI?
Baik, kita teruskan ya. Karena perjalanan kami ini menggunakan paspor biru (paspor dinas), maka kami harus melapor dulu ke KBRI Kuala Lumpur.

Kota Kuala Lumpur terkesan lebih modern, lebih bersih, dan lebih teratur daripada Jakarta. Jalan-jalannya lebar, kiri kanan dipenuhi bangunan pencakar langit. Sarana transportasi banyak di sini. Mulai dari kereta api, monorail, dan busway. Tidak ada angkot di Kuala Lumpur. Jalan-jalan menuju luar kota hampir seluruhnya berupa jalan tol. Yang menarik di sini, sepeda motor (di sini disebut motosikal) boleh masuk ke jalan tol dan tidak dikenai bayaran. Kalau di Indonesia sepeda motor dibolehkan masuk jalan tol, wah…bisa terbayang semrawutnya jalan tol, akhirnya menjadi jalan biasa lagi.
Di bawah ini beberapa sudut kota Kuala Lumpur:



Kawasan jajanan Mandarin:

Kawasan Little Indian (pedagang India):

Istana raja:

Tentara pengawal istana dengan seragam militer khas Melayu:

Tentara pengawal istana berkuda:

Flat untuk kaum menengah ke bawah:


Pengalaman berkesan adalah ketika naik kereta monorail. Monorail adalah Rapid Mass Transport, kehadirannya sangat membantu mengatasi kemacetan kota Kuala Lumpur. Jika di kota Jakarta masih bersilang pendapat mengenai rencana pembangunan monorail, Kualu Lumpur sudah lebih dulu menerapkannya.

Kami naik monorail dari stasiun Bukit Bintang. Karena tidak tahu mau kemana, kami memilih tujuan akhir Pasar Sentral. Harga karcisnya hanya RM 2.10, cukup murah (RM 1 = Rp 3000).
Ini stasiun Bukit Bintang:

Ini kereta monorailnya:

Naik kereta monorail serasa naik KRL Jabotabek, bedanya kereta monorail pakai AC, dingin. Saat itu jam pulang kantor, kereta penuh dengan penumpang. Penumpang yang tidak mendapat tempat duduk memilih berdiri bergelantungan. Seperti di KRL Jabotabek, di kereta monorail ini juga ada copet, jadi kita harus hati-hati dengan dompet, HP, dan tas kita.
Malaysia memang Truly Asia, Asia yang sebenarnya, sesuai dengan semboyan pariwisatanya. Di sini mudah kita jumpai orang India, Cina, dan Melayu. Melayu merupakan etnik mayoritas, komposisinya sekitar 50% dari populasi penduduk Malaysia. Sesudah itu etnik Cina (25%) dan India (20%), sisanya Bangladesh, Arab, Thaliland, dan lain-lain. Berjalan-jalan di Kuala Lumpur tidak aneh kita menemui orang India yang berkulit hitam yang di dahinya ada bintik putih. Baik orang Cina, India, dan Melayu, mereka berbicara dengan bahas mereka masing-masing, meskipun Bahasa Melayu merupakan bahasa resmi di sini. Selain Bahasa Melayu, rata-rata orang Malaysia bisa berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya ya gitulah, dialek Melayu banget dengan pronounciation yang kurang jelas.
Segitu dulu tulisan bagian pertama ini, nanti akan dilanjutkan dengan bagian lainnya dengan foto-foto yang menarik.
7 tanggapan so far ↓
velly // 12 Agustus 2009 pada 16:21 |
saya juga pernah mengalami pengalaman agak mirip ama bapak. saya transit di singapore, dan kebetulan ada dua rombongan besar yg juga mau naik pesawat yang sama yaitu rombongan umrah yg didominasi orang2 tua, dan rombongan TKI. ciri2 saya tyt mirip dgn rombongan kedua, pak, yaitu jilbaban dan berwajah melayu, tujuan jakarta. jadilah saya jg dianggap TKI. saya dibentak2 dan dianggap gak tau apa itu boarding pass. duh… miris rasanya ngeliat orang indonesia digituin pak… tapi yah gimana lg… memang kenyataannya banyak rombongan umrah itu yg memang tidak tau apa itu boarding pass dan TKI yg ngeyel klo disuruh antri.
akhirnya saya cuma berusaha sabar aja dibentak2 ama petugas bandara
Iman // 13 Agustus 2009 pada 09:49 |
Betul negeri Msia pun punya orang2 yg tak bertata krama baik dan suka bentak2 Indon… Modal sabar dan senyum adalah hal utama, mengapa malu disebut TKI … Tenaga Kerja Intelek
Memang terkesan orang Indonesia seperti itu … grasa grusu, tak baca peraturan, senangnya bergerombol ha..hi..hi… tanpa peduli bumi yg dipijak sudah beda protokolnya. Jadi tamu di negeri orang perlu tertib juga kan..
Gmn tak geram yg melihat aksi macam ini
karim // 14 Agustus 2009 pada 09:13 |
Assalamu Alaikum, Apa kabar Pak Rinaldi ?…
Baca kata ‘Indon’ saya jadi ingat pengalaman yg sama waktu di sana beberapa tahun lalu….Saya juga dipanggil Indon di bandara, tapi krn saya langsung respon dalam bhs Inggris kalau nama saya bukan Indon, mereka langsung minta maaf…..beda dengan orang sebelumnya diantrian yg malah nyegir waktu dipanggil Indon…dia diperlakukan dengan tidak terlalu sopan..
Yoyoktea // 20 Agustus 2009 pada 11:02 |
Aduh Bapak, apa hebatnya Kuala Lumpur… makanya sekali-kali main ke Jakarta, semua ada di Jakarta. Lebih bersih ? gak juga … di Jakarta yang bersih ya bersih … yang kotor ya kotor di KL juga sama… mungkin Bapak mainnya di tempat khusus wisatawan … ya pasti semua rapi lah. Coba main ke tempat yg kumuh… sama aja pak.
Monorelnya pake AC, KRL kita juga pake AC pak… sama ademnya.
Pemukimannya juga sama spt di sini, melihat photo-photo diatas saya rasa gak ada yang istimewa pak. Saya punya temen kuliah waktu di IPB orang Malaysia, tinggalnya di kampung. Dia malah lebih senang tinggal di Indonesia. Memang beberapa hal mereka lebih maju, tapi gak berarti mereka lebih maju didepan kita. Maaf kalo komentarnya tdk berkenan
rinaldimunir // 20 Agustus 2009 pada 16:49 |
@Yoyoktea: iya, iya, baik Jakarta dan Kualalumpur, punya plus minus. KL peduduknya sedikit (hanya 1,5 juta), sedangkan Jakarta padat merayap (9 juta). Dari perbandingan jumlah penduduk dapat kita bayangkan mana yang lebih semrawut. Kalau disuruh memilih lebih suka mana KL atau Jakarta, saya tetap lebih cinta Jakarta, karena…. ya negeri sendiri. Selain itu makanannya enak-enak, tidak seperti di KL yang makanannya tidak cocok dengan selera saya. Bisa-bisa kurus saya di KL tuh.
adjicaem // 28 Oktober 2009 pada 13:40 |
Tapi informasinya bagus juga Pak… Terima kasih ya, Pak, sudah share…
Widagdo // 27 Desember 2009 pada 17:07 |
Wah,makasih pak Rinaldi atas infonya.tahun 2010 rencana ke KL trus ke SINGAPORE.Pingin pencerahan/suasana lain.Masak 30 th di Indonesia terus.wah dari ITB ya, keren.