Tumpeng, Cendol, Ketupat, Air Kelapa, Dodol, dll Dipatenkan Malaysia

Bukan Malaysia namanya kalau tidak bikin berita “panas” orang Indonesia. Setelah sedikit reda soal klaim Tari Pendet, Malaysia baru-baru ini mengklaim dan mamatenkan makanan yang sudah menjadi khas turun temurun berbagai suku bangsa di Indonesia. Apa saja itu? Nih dia makanan itu: nasi tumpeng, es cendol, ketupat, air kelapa, tempoya, lemang, sate, dodol, bubur sum-sum, dan bubur kacang hijau.

Di bidang kesenian, Malaysia juga mematenkan gamelan, wayang kulit, gendang, tari Zapin, dan masih banyak lagi. Info pematenan bisa dibaca di situs warisan.gov.my dan beritanya dapat dibaca di media cetak Indonesia.

Semakin banyak saja produk budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia. Hayo, apa saja yang sudah diklaim Malaysia?
1. Lagu rakyat Maluku: Rasa Sayang-sayange (di Malaysia diubah menjadi Rasa Sayang-Sayang Hei)
2. Lagu Burung Kakatua
3. Lagu Jali-jali
4. Reog
5. Tari Pendet
6. Angklung
7. Rendang
8. Batik
9. …. (silakan isi sendiri)

Jangan-jangan nanti nasi uduk, nasi kuning, wayang golek, sarung, nasi pecel, gado – gado, gathot, thiwul, geplak, ayam goreng, nasi goreng, soto, rawon, wajik juga dipatenkan oleh Malaysia.

Apa arti semuanya itu? Itu artinya Malaysia sigap menginventarisir produk budaya yang ada di negara mereka, sementara Pemerintah negara kita terkesan lamban dan baru bereaksi setelah isu dari negara tetangga itu muncul ke permukaan. Malaysia juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena budaya mereka sudah bercampur dengan budaya nusantara sejak dulu kala. Rakyat Malaysia ada yang merupakan keturunan Minangkabau, Aceh, Riau, Jawa, Bugis, Makassar, dan sebagainya. Masing-masing suku pendatang itu membawa budaya mereka sendiri, dan setelah jangka waktu yang panjang akhirnya menjadi budaya yang diklaim Malaysia.

Di satu sisi ada dampak positif dari isu klaim budaya oleh Malaysia itu. Rakyat Indonesia yang selama ini kurang peduli dengan produk budayanya, tiba-tiba menjadi sadar budaya dan merasa geram ketika miliknya “dicuri” orang. Mungkin karena Malaysia yang mengklaim maka reaksinya begitu demikian keras, lain halnya kalau yang mengklaim itu Timor Leste atau Papua Nuigini mungkin reaksinya tidak sekeras itu.

Hanya saja, rasa peduli budaya yang tiba-tiba itu baru sebatas permukaan saja, belum menyentuh substansi yang lebih dalam. Coba tanya, berapa banyak orang Indonesia yang hafal syair lagu Rasa Sayang-sayange? Saya juga tidak hafal, hanya bait-bait awal saja yang hafal, begini:

Rasa sayange rasa sayang-sayange
Liat nona dari jauh rasa sayang-sayange

Lalu? Tidak tahu lagi bait berikutnya….

“Emping Tike”, Emping Biji Rumput dari Indramayu

Pernah coba makan emping dari biji rumput? Nah, kalau belum dan sempat mampir di Indramayu, coba beli emping ini. Kebetulan tetangga saya waktu lebaran kemaren menghantarkan pesanan saya berupa emping tike. Emping tike merupakan makanan khas dari Indramayu. Emping ini dari tike (umbi) sejenis rumput yang hanya tumbuh di daerah pesisir Indramayu. Bentuknya mirip emping melinjo, tetapi emping tike memiliki rasa yang lebih renyah dan lebih gurih.

DSC00707

Hmmm… setelah dicoba enak juga, mirip rasa emping melinjo. Warnanya putih bercampur coklat kehitaman (warna biji rumput setelah ditumbuk). Saya belum pernah melihat seperti apa bentuk umbi rumput, dan rumput macam apa yang menghasilkan umbi seperti itu. Tetapi, melihat bentuk empingnya yang mirip emping melinjo, maka saya perkirakan umbi rumput besarnya seperti biji melinjo.

Ada-ada saja kreativitas orang Indonesia menghadirkan aneka macam makanan. Apapun bisa diolah menjadi makanan yang unik, yang penting punya gagasan dan inovasi yang unik pula. Yang penting cepat-cepat dipatenkan supaya tidak diklaim pula oleh orang lain, apakagi oleh negara tetangga.

Sosiologi Mudik

Musim mudik lebaran segera berakhir. Senin minggu depan kehidupan normal seperti sediakala akan berdenyut kembali. Pembantu di rumah saya sudah mulai masuk lagi. Dia mudik ke kampungnya di Garut. Garut tidak terlalu jauh dari Bandung. Naik kereta api ekonomi pun dari Bandung ke Garut tidak sampai satu jam. Tapi di musim lebaran ini, kereta api apapun penuh sesak, berjejal-jejalan manusia memenuhi semua tempat di kereta. Semuanya bertujuan sama: pulang ke rumah orangtua.

Kata pembantu kepada anak saya, meskipun mudik itu capek, berdesak-desakan di kereta maupun di jalan, tapi reseup (bahasa Sunda, artinya senang). Saya mengartikan kata-katanya begini, pulang mudik itu memberi kebahagiaan batin tiada tara bagi pelakunya karena dapat bertemu dengan orangtua dan sanak famili. Kalaupun orangtua sudah almarhum, minimal bisa menengok kuburannya.

Kebahagiaan batin itu justru lebih dirasakan oleh orang-orang kecil yang selama ini terpinggirkan. Mereka adalah para pekerja keras yang membanting badan untuk mencari rezeki di kota. Kelompok marginal itu adalah pekerja sektor informal para buruh, pedagang keliling, pedagang kaki lima, sopir angkot, pembantu rumah tangga, office boy, mbok jamu, pegawai toko, dan sebagainya. Setahun bekerja keras di kota, semua penghasilan dibawa ke kampung untuk dibagi-bagi ke sanak famili.

Merekalah yang meramaikan stasiun kereta kelas ekonomi, terminal bus, pelabuhan laut, bahkan dengan sepeda motor. Bagi kelompok pemakai kendaraan yang disebutkan terakhir ini, ratusan ribu jumlahnya. Mereka berjuang keras naik sepeda motor menempuh perjalanan jauh dari kota ke kampung. Satu sepeda motor berisi tiga hingga empat penumpang. Anak, istri, bayi, dan barang bawaan berisi oleh-oleh berdesakan di atas sepeda motor yang sempit. Hujan panas dilawan, macet berkilometer di jalan bukan rintangan. Jarak ke kampung yang ratusan kilometer dari kota tidak terasa jauh. Wajah orangtua yang menunggu di kampung, wajah sanak famili yang menunggu oleh-oleh dan uang pemberian, mengalahkan rasa capek, pegal, dan segala rupa kapayahan fisik maupun batin.

pemudikmotor

pemudikimotor2
(Sumber foto: mediaindonesia.com)

Berbeda dengan orang-orang mapan yang pulang dengan kereta api eksekutif, mobil pribadi, atau dengan pesawat, mereka tidak merasakan suasana berdesak-desakan di dalam kendaraan. Yang ada adalah rasa nyaman karena kendaraan ber-AC. Bagi kelompok ini, bahagia batin pulang mudik masih kalah reseup dibandingkan pelaku mudik yang orang-orang kecil tadi. Beda pada perjuangan mudiknya.

Orang-orang yang heran dengan fenomena mudik setiap tahun itu, mungkin bertanya-tanya: apa yang dicari oleh orang-orang yang mudik itu sehingga mau bersusah payah menempuh perjalanan panjang, menyusuri jalanan yang full macet pulang pergi dari rumah ke kampung? Bukankah nanti-nati bisa pulang kampung pada lain hari? Kalau mau bagi-bagi uang ke orangtua atau sanak famili, kan bisa dikirim lewat bank atau pos? Jawabannya sederhana, seperti kata pembantu saya tadi: meskipun mudik itu capek, macet, berdesak-desakan, tapi reseup. Dan hal itu tidak tergantikan dengan cara apapun. Dan itu hanya ada di Indonesia, tanah air beta.

Suasana yang Hilang Setelah Ramadhan

Ada perasaan ganjil setelah Ramadhan dan Idul Fitri usai. Perasaan kehilangan. Siapapun tidak ingin suasana kondusif yang sudah dibangun dalam waktu lama, tiba-tiba harus ditinggalkan. Ketika rasa cinta mulai terbentuk, kita harus berpisah dengan yang kita cintai itu, siapa yang tidak sedih. Itulah bulan Ramadhan.

Tiba-tiba saja saya merasa ada kehilangan. Selama sebulan penuh kami melaksanakan ibadah puasa. Pagi dinihari kami sudah bangun untuk menyiapkan dan makan sahur, lalu menunggu waktu shalat subuh, kemudian tadarus Al-quran.

Sore hari, suasana jalanan macet karena semua orang beradu cepat agar sampai ke rumah untuk berbuka puasa. Sepanjang jalan menuju pulang, banyak pedagang dadakan yang menjual makanan untuk buka puasa. Mereka semua berusaha meraup rezeki berkah bulan puasa.

Malam hari, seusai shalat Isya, masjid dipenuhi orang untuk sholat tarawih. Kadang-kadang suara petasan yang memekakkan telinga terdengar dari luar masjid, seolah ikut menemani orang yang sedang shalat tarawih.

Televisi selama sebulan itu terlihat shaleh. Kata-kata penuh hikmah terlontar dari layar kaca sepanjang hari, siang dan malam. Jangan tanya soal artis dan presenter mereka, semua terlihat alim dalam balutan busana muslimah.

Ketika suara takbir menggema di malam hari, ada kesedihan yang merasuk. Oh, bulan Ramadhan segera berakhir. Mungkin sebagian orang merasa senang karena mereka tidak perlu capek lagi menahan lapar dan haus sepanjang hari. Oh, kalau begitu puasa seolah menjadi siksaan bagi sebagian orang. Seharusnya kita merasakan sebaliknya, merasa sedih ditinggalkan bulan Ramadhan dan rindu untuk bertemu lagi. Mengapa? Karena belum tentu umur kita panjang, belum tentu tahun depan kita ketemu lagi dengan bulan Ramadhan, dan belum tentu kita merasakan kembali suasana bulan Ramadhan yang syahdu. Semoga kita diberi umur panjang agar dapat bertemtu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Saya jadi teringat lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo, yang berjudul Setiap Habis Ramadhan (syair lagu: Taufik Ismail):

Setiap habis Rama­dhan
hamba rindu lagi Ramadhan
saat-saat padat beribadah
tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
hamba cemas kalau tak sampai
umur hamba di tahun depan
berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan
rindu hamba tak pernah menghilang
mohon tambah umur setahun lagi
berilah hamba kesempatan

Reff:
Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
sekeluarga, sekampung, senegara
kaum muslimin dan muslimat se dunia
seluruhnya kumpul di persatukan
dalam memohon ridho-Nya.

~~~~~~~~

Taqaballahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum

Ustad Yusuf Mansur dan Matematika Sedekah

yusuf-mansurPada bulan Ramadhan tahun ini, di layar TV hampir setiap hari muncul wajah ustad muda yang namanya sedang melejit. Dialah ustad Yusuf Mansur, ustad muda dari Betawi. Usianya memang masih sangat muda, setelah mencari data lewat Mbah Google saya baru tahu kalau dia lahir pada tanggal 19 Desember 1976, jadi usianya baru 33 pada tahun ini. Wajahnya yang baby face, bersih, dan terkesan imut-imut.

Setelah pamor Aa Gym redup, ada beberapa ustad muda yang tengah naik daun. Mereka diantaranya adalah Ustad Jefry, Ustad Arifin Ilham, dan Ustad Yusuf Mansur (Ustad = guru). Kalau ustad Jefry dikenal sebagai “ustad gaul” karena dia populer di kalangan anak-anak muda. Kalau Ustad Arifin Ilham populer dengan majelis dzikirnya yang menghadirkan ribuan ummat dengan dress code putih-putih. Oh ya, saya ada sedikit kritikan buat Arifin Ilham, menurut saya dzikir itu tidak perlu dilakukan secara massal dan terbuka seperti itu, apalagi disiarkan secara langsung oleh televisi yang menampilkan Ustad Arifin Ilham menangis tersedu-sedu diikuti oleh para jamaahnya. Kurang sreg gitu, menurut saya eksploitasi seperti itu dapat mengurangi kekhusukan dzikir sebagai ibadah personal antara makhluk dengan Khaliknya.

Namun terhadap ustad Yusuf Mansur saya memberi respon positif. Saya mengikuti ceramah, diskusi, maupun obrolan dari ustad ini di televisi. Kata-katanya sederhana namun bernas dan mengena di hati. Ustad Yusuf Mansur mengusung tema “shadaqoh” atau sedekah dalam setiap dakwahnya. Dia mengajak ummat Islam untuk rajin bersedekah. Sebagian besar ummat Islam memahami sedekah adalah sebuah pemberian secara ikhlas untuk membantu orang dhuafa, misalnya memberi sedekah kepada pengemis, anak yatim, orang miskin, dan kaum papa lainnya. Setelah memberi sedekah umumnya kita melupakan pemberian tadi dan menganggap sedekah sebagai hal yang biasa saja.

Tapi, di “tangan” ustad Yusuf Mansur, makna sedekah (giving) lebih dari sekedar memberi. Dia menulis di dalam bukunya, The Power of Giving, tentang manfaat bersedekah. Sedekah tidak hanya untuk mensucikan harta, tetapi juga dapat menghapus dosa, memperoleh ampunan Allah, mendapatkan ridha dan kasih sayang dari Allah, memperoleh bantuan dari Allah, dan memakbulkan doa-doa. Dia menjelaskan konsep yang bernama “matematika sedekah”. Konsep matematika sedekah tidak sama dengan matematika yang kita kenal. Dasarnya ada pada Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 160 dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik (bersedekah adalah salah satu perbuatan baik):

Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS. Al-An’am (6) : 160

Begini konsep matematika sedekah itu (dikutip dari sini):
Menurut pelajaran matematika yang kita kenal di sekolah dasar,
10 – 1 = 9,
tetapi, di dalam matematika sedekah,
10 – 1 = 19,
sebab setiap kali kita bersedekah dengan memberikan satu unit rizki (harta) kita, Allah akan menggantinya (membalasanya) 10 kali lipat.

Jika matematika sedekah itu dilanjutkan, maka kita memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
10 – 2 = 28
10 – 3 = 37
10 – 4 = 46
10 – 5 = 55
10 – 6 = 64
10 – 7 = 73
10 – 8 = 82
10 – 9 = 91
10 – 10 = 100

Jadi, setelah 10 unit harta kita habis disedekahkan, maka kita memperoleh balasan dari Allah SWT 10 kali lipat dari semula, yaitu 100 unit. Matematika sedekah ini juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin karena sering bersedekah, sebaliknya rizkinya makin bertambah. Subhanallah. Karena itu tidaklah perlu seseorang mempunyai sifat pelit atau kikir kepada orang lain.

Apakah balasan dari Allah SWT yang 10 kali lipat itu? Apakah berupa rezki yang jumlahnya 10 kali lipat dari harta yang kita sedekahkan? Wallahu alam, bisa begitu atau dalam bentuk yang lain, hanya Allah yang tahu. Balasan dari Allah SWT bisa berupa bantuan yang tidak terduga datangnya, bisa juga berupa dikabulkannya doa dan keinginan yang selama ini selalu dipinta. Ustad Yusuf Mansur menghadirkan kisah orang-orang yang mendapat anugerah tidak terduga karena kebiasaan bersedekah. Ada tukang bubur ayam keliling yang mendapat hadiah naik haji, ada wanita yang sudah “pertu” (perawan tua) mendapat jodoh, ada orang yang terlilit hutang yang ditolong orang lain sehingga hutangnya lunas, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa memang Allah SWT membalas pemberian ummat-Nya dengan balasan yang tidak pernah ia bayangkan.

Satu hal yang pasti, Allah SWT sangat menyayangi ummat-Nya. Bersedekah atau memberi dapat mengijabah doa dan memudahkan banyak urusan. Memberi itu memang menakjubkan, giving is amazing.

Makin Banyak Toko Buku Diskon, Makin Baik

Dulu (saya kira masih sampai saat ini), kalau orang Bandung ingin membeli buku dengan harga murah, cukup pergi ke Pasar Palasari. Pasar Palasari adalah bursa buku dengan harga miring, karena semua buku dijual dengan potongan harga 25%. Bukan buku bekas yang dijual di sana, tetapi memang buku baru dari penerbit resmi. Pedagang buku biasanya memperoleh diskon dari penerbit sebesar 30%, nah pedagang menjual buku ke pembeli dengan potongan harga 25%, jadi masih ada margin keuntungan 5% dari setiap buku. Meskipun kecil, tetapi kalau buku terjual dalam jumlah banyak tentu memberi keuntungan lumayan besar juga. Ini berbeda dengan toko besar seperti Gramedia yang menjual buku tanpa potongan harga sama sekali. Karena itu, ada guyonan dikalangan konsumen buku seperti ini: kalau lihat-lihat buku di Gramedia, tapi membelinya di Palasari :-) .

Namun saat ini pasar buku Palasari mendapat saingan berat. Di kota Bandung sejak 3 tahun lalu hadir toko buku diskon Toga Mas di Jalan Supratman. Toko buku ini memadukan konsep toko buku Gramedia dan Palasari. Kalau di Palasari toko-toko buku umumnya berupa deretan kios, sehingga kita tidak bisa memilih sendiri buku secara swalayan, tetapi di Toga Mas buku-buku ditaruh di dalam rak-rak atau di atas meja sehingga pembeli bisa memilih sendiri buku yang diinginkannya. Ini sama seperti konsep toko buku di Gramedia. Semua buku dijual dengan harga miring, dengan diskon antara 15% hingga 25%, mirip dengan konsep pasar buku Palasari. Selain itu, kita juga mendapat layanan menyampul buku dengan sampul plastik secara gratis.

DSC00697

Toko buku Toga Mas ini kabarnya milik Pak Tung Desem Waringin, seorang penulis berbagai buku dan motivator manajemen yang terkenal. Suasana di toko buku ini lumayan tenang dan adem, apalagi bangunan toko adalah rumah peninggalan Belanda yang terkesan kuno. Ada juga komputer yang membantu mencarikan buku yang kita inginkan. Saya sering membeli buku di sini, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri. Kadang-kadang setiap hari Sabtu saya mampir ke sana untuk sekadar membaca-baca aneka majalah (tentu sambil berdiri, he..he, kebiasaan zaman mahasiswa). Meskipun tidak berniat membeli, namun majalah boleh dibaca oleh pengunjung. Kalau di Gramedia mana bisa seperti itu ya, sebab setiap majalah dibungkus dengan plastik.

Tanggal 9 September 2009 (sengaja pada tanggal “ajaib”, 9-9-09), ada satu toko buku diskon lagi yang baru dibuka, namanya Rumah Buku. Lokasinya di Jalan Supratman juga, tidak jauh dari Toga Mas (hmm… mau bersaing rupanya, kok jaraknya berdekatan). Toko buku Rumah Buku ini memberi diskon lebih besar lagi, yaitu 35%.Wah, siapa yang tidak tertarik dengan diskon besar seperti itu.

DSC00699

Pulang dari kantor, saya mengunjungi toko buku baru ini. Pegawainya ramah-ramah, namun kalau saya perhatikan koleksi bukunya masih sedikit, belum selengkap di Toga Mas.

DSC00698

Ups…diskon 35% itu ternyata hanya selama promosi saja, sebab sesudah masa promosi saya tidak yakin diskonnya setinggi itu lagi, paling-paling tidak jauh beda dengan diskon di Togas Mas.

Tak apalah, bagi saya dan bagi kalangan pelajar, mahasiswa, maupun umum di Bandung, makin banyak toko buku diskon makin baik. Saat ini harga buku makin mahal saja, makin tidak terjangkau oleh kalangan bawah. Dengan banyaknya kehadiran toko buku diskon, kita dapat memperoleh buku dengan harga lebih murah daripada di toko buku besar sepeti di Gramedia atau Gunung Agung (ups.. maaf ya penyebutan langsung kedua toko buku ini). Buku sangat penting untuk mencerdaskan bangsa. Jadi, bagi para pengusaha yang kelebihan uang, buatlah toko buku diskon di berbagai kota di Indonesia agar masyarakat dapat membeli buku dengan harga terjangkau, seperti yang dilakukan oleh Pak Tung Desem Waringin itu.

Seusai Sidang Tugas Akhir

Dua pekan ini jadwal saya padat sekali dengan sidang Tugas Akhir. Ada puluhan mahasiswa yang disidangkan! Satu hari bisa satu orang, dua orang, dan puncaknya pada pekan ini — menjelang tenggat — bisa 4 atau 5 orang mahasiswa yang disidang. Beberapa orang mahasiswa terpaksa saya tolak menjadi dosen penguji TA mereka karena jadwal sidang saya sudah penuh (FYI, di Informatika ITB dosen penguji dicari sendiri oleh mahasiswa atas saran dari dosen pembimbing). Cape juga menyidang banyak mahasiswa, apalagi ini bulan puasa, bahkan sempat gonjang-ganjing dihantam gempa bumi. Saya sampai-sampai tidak sempat mengerjakan tugas yang lain karena mendahulukan sidang marathon ini.

Meskipun lelah, tapi terselip rasa bahagia di dalam hati. Bahagia karena sudah ikut mengantarkan anak didik kami ke pintu gerbang sarjana. Saya bisa memahami betapa tegang mereka menghadapi hari “H”, lalu perasaan tegang itu memuncak di ruang sidang, dan berakhir dengan perasaan lega ketika Ketua Penguji menyatakan lulus meskipun masih berstatus lulus bersyarat. Senyum sumringah tampak dari wajah-wajah mereka seusai sidang. Setelah 4 tahun atau bahkan lebih berkutat di bangku kuliah, maka lulus sidang Tugas Akhir adalah puncak dari semua perjuangan selama di ITB, sebuah episode kehidupan telah berhasil dilalui.

Karena telah berkali-kali menyidangkan Tugas Akhir mahasiswa, maka saya merasakan sidang TA itu biasa-biasa saja. Tapi, tentu tidak bagi mahasiswa saya. Karena mereka belum pernah mengalami sidang, maka tentu mereka merasa sidang TA sebagai sebuah “pembantaian”, seolah-olah pisau guillotine akan diayunkan ke leher mereka. Saya dulu pernah merasakan hal yang sama ketika menghadapi sidang TA. Jantung berdegup kencang, keringat dingin mulai mengucur. Ada rasa takut, takut tidak lulus atau takut tidak bisa menjawab pertanyaan dosen penguji.

Rasa takut atau cemas itu wajar, tetapi jika sidang dianggap sebagai sebuah sebuah pertanggungjawaban terhadap karya kita, maka rasa takut berlebihan tidak perlu terjadi. Dijalani saja, jika kita mengerjakan Tugas Akhir itu sebagai hasil kerja keras dengan keringat sendiri, jujur, tidak melakukan kecurangan, insya Allah proses sidang berjalan lancar.

Seusai sidang, senyum mengembang dari bibir mahasiswa. Proses belum selesai memang, masih ada perbaikan laporan atau program yang harus dilakukan. Namun, status lulus bersyarat minimal sudah melegakan hati. Tak apalah, itu pun sudah alhamdulillah.

Cerita Tentang Gempa Besar Kemaren

Gempa besar berskala 7,3 SR yang terjadi kemaren sore di Jawa Barat meninggalkan banyak cerita. Baru kali ini saya merasakan gempa yang begitu hebat dan berlangsung dalam waktu yang lama (40 detik).

Ketika gempa terjadi, saya masih di kampus ITB. Saya dan dua rekan saya sedang melakukan sidang Tugas Akhir seorang mahasiswa Angkatan 2005. Ketika sampai pada giliran saya untuk bertanya, tiba-tiba saya merasakan lantai bergoyang, lama kelamaan makin keras. Wah, gempa! Refleks kami yang berada di ruang sidang (penguji, pembimbing, dan mahasiswa yang disidang), langsung berlarian melalui tangga ke bawah. Kebetulan ruang sidang ada di lantai dua. Para karyawan dan mahasiswa ikut berlarian ke bawah. Semua panik dan ketakutan. Kalau sudah panik begini, maka semua tips dan prosedur keselamatan jika terjadi gempa tidak terpikir lagi. Semua orang pikirannya cari selamat sendiri-sendiri. Ketika melewati tangga, goyangan gempa masih berlangsung dan plesteran dinding di LabTek V mulai berjatuhan. Suasana makin mencekam. Sesampai di luar, ternyata sudah banyak para dosen, mahasiswa dan karyawan yang berdiri di luar gedung. Mereka berjaga-jaga di luar sambil menatap gedung LabTek. Kampus ITB benar-benar heboh saat itu. Kuliah yang sedang berlangsung saat itu langsung bubar, mahasiswa dan dosennnya berlarian ke luar menyelamatkan diri. Benar-benar panik, karena gempanya terasa sekali besarnya.

Hampir semua orang mencoba menelpon dengan HP, mencoba mencari tahu nasib teman, keluarga, atau sekadar mencari informasi. Tetapi, jaringan seluler terputus dan tidak bisa digunakan. Apakah ada tower yang roboh atau bagaimana kok sinyal ponsel menjadi blank? Oh, saya baru tahu keesokan harinya, hal ini terjadi karena pada saat yang sama puluhan ribu atau ratusan ribu orang mencoba melakukan panggilan, akibatnya jaringan seluler sangat padat, macet, dan akhirnya blank.

Nah, setelah goyangan gempa berhenti, kami masuk kembali ke ruangan sidang. Sidang dilanjutkan kembali. Hanya sebentar saya duduk, tiba-tiba gempa susulan datang lagi, meja bergoyang. Secepat kilat kami pun berlarian kembali ke bawah.

Akhirnya, setelah gempa benar-benar mereda, kami kembali lagi ke ruang sidang untuk kedua kalinya. Karena kondisi psikologis tidak memungkinkan melanjutkan sidang, akhirnya sidang ditutup saja, tanpa perlu dilanjutkan tanya jawab lagi. Lalu, bagaimana “nasib” mahasiswa sidang? Tenang, tenang …, mahasiswanya tetap lulus kok, ini “berkah” dari gempa ‘kali :-) .

Saya berkeliling gedung Labtek V. Beberapa bagian LabTek V ada yang rusak, retak, lotengnya ambrol, dan plesteran dindingnya berguguran. Untung gedung tidak roboh, alhamdulilah konstruksinya kuat, mungkin waktu dibangun dulu tidak ada yang mengkorupsi dana pembangunannya sehingga bahan bangunan dan konstruksinya sesuai dengan perencanaan :-) .

Oh ya, ketika saya menengok Lab RPL, beberapa loteng eternitnya jatuh ke bawah. Kondisi yang sama juga terjadi di LabDas, Ini foto di Lab RPL (masih sempat-sempatnyanya membuat foto di tengah susasana yang masih mencekam itu :-) , naluri “wartawan blog”):

DSC00692

Kalau yang di bawah ini adalah plesteran dinding dekat tangga di lantai 2 yang berguguran ke bawah:

DSC00694

Tidak parah memang, tidak seperti gedung-gedung dan rumah yang roboh di Tasikmalaya. Alhamdulillah, saya bersyukur kami semua selamat, termasuk anak-anak yang berada di rumah.

Merah Hitam Hubungan Indonesia dan Malaysia

Di Jalan Dago dekat kampus ITB terdapat sebuah pom bensin milik Petronas Malaysia. Setiap kali saya lewat di depan pom bensin itu, saya perhatikan pom bensin Petronas selalu sepi dari kendaraan yang mengisi bahan bakar.

DSC00691

Tidak jauh dari situ, di Jalan Dipati Ukur dekat kampus Unpad, juga ada pom bensin milik Pertamina. Bebeda dengan pom bensin Petronas, pom bensin Pertamina di Jalan Dipati Ukur itu tidak pernah sepi dari antrian mobil dan motor yang hendak mengisi bahan bakar.

Saya menduga-duga penyebab pom bensin Petronas di Jalan Dago itu selalu sepi. Pertama, mungkin karena harga BBM yang dijual di sana lebih mahal dari pom bensin Pertamina. Satu liter bensin di Petronas dijual Rp 6.500, padahal di pom bensin Pertamina dijual Rp 4.500. Besar memang bedanya, mungkin hal itu membuat orang mikir-mikir mengisi bensin di Petronas.

Penyebab kedua mungkin karena faktor nasionalisme. Petronas adalah milik negara tetangga yang sekarang sedang bermasalah dengan Indonesia, kenapa harus beli bensin dari mereka, lebih baik beli dari perusahaan negara sendiri, mungkin begitu pikiran sebagian orang Indonesia khususnya yang di Bandung. Ada rekan senior saya yang dengan semangat nasionalismenya yang tinggi mengatakan bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau membeli BBM di pom bensin Petronas itu. Jelek-jelek begini saya cinta negeri sendiri, katanya.

~~~~~~~~~~~~

Sejak dulu zaman Bung Karno hubungan Indonesia dan Malaysia memang bagai api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa membara jika ada pemicunya. Kalau dulu hubungan panas tersebut muncul karena faktor geografis, sekarang penyebabnya beraneka ragam, mulai dari persoalan TKI yang disiksa di Malaysia, Ambalat, klaim Malayasia terhadap produk budaya Indonesia, seperti lagu Rasa Sayang-sayange, lagu Jali-jali, reog Ponorogo, pematenan terhadap batik, rendang Padang, tari pendet dari Bali, dan yang terbaru adalah lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, yang dituding menjiplak lagu keroncong Terang Boelan.

Rakyat Indonesia tentu gemas dan marah dengan sikap Malaysia itu. Media di Indonesia ramai memberitakan aksi protes dan kemarahan rakyat Indonesia. Api di dalam sekam mulai membara kembali. Kemarahan rakyat Indonesia kepada Malaysia diwujudkan dalam bentuk seperti demo, protes, hacking web Malaysia, mengganti kata Malaysia dengan Malingsia, bahkan sampai pada kesiapan untuk berperang dengan Malaysia. Di level perguruan tinggi, beberapa PTN di Indonesia seperti Undip Semarang dan UNS Solo menghentikan menerima mahasiswa asing asal Malaysia sebagai wujud nasionalisme mereka.

Tetapi, bagaimana dengan sikap warga Malaysia sendiri? Seorang wartawan Indonesia pernah melaporkan bahwa sebagian besar warga Malaysia tidak tahu menahu tentang aksi demo dan protes di Indonesia itu. Dia mengatakan bahwa ketika ramai demo tentang kasus Ambalat, di Malaysia tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada persoalan. Tidak ada aksi balasan serupa di sana ketika di Indonesia ada sekelompok orang yang siap bertempur di garis depan dengan Malaysia. Bahkan rakyat Malaysia sendiri tidak tahu tentang Ambalat itu apa, apalagi perselisihan mengenai Ambalat itu.

Tentu saja begitu, karena pers di Malaysia dikontrol oleh Pemerintah. Tidak ada kebebasan pers dan kebebasan bersuara di sana. Jadi, jangan harap media massa di Malaysia memberitakan tentang aksi demo orang Indonesia terhadap Malaysia. Warga Malaysia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan harap pula mereka akan membaca media massa online Indonesia untuk mengetahui peristiwa yang diributkan, sebagaimana kita tidak pernah membaca media online mereka. Mungkin sebagian besar orang Malaysia menganggap hubungan dengan Indonesia baik-baik saja. Akhirnya, aksi kemarahan bangsa tidak bergaung di Malaysia. Kita marah dan berharap orang Malaysia tahu dengan kemarahan itu agar mereka malu atau terpancing. Tapi, harapan kita tidak terwujud.

Bagi Malaysia, “musuh” mereka sebenarnya adalah Singapura. Singapura negeri kecil yang terletak di “kaki” Malaysia, namun meskipun kecil tetapi negeri singa itu suka ngelunjak atau apalah namanya, yang membuat geram Pemerintah Malaysia. Indonesia sebenarnya juga bermasalah dengan Singapura terutama dengan sikap Singapura yang melindungi para koruptor Indonesia yang melarikan diri ke sana, sebelumnya tentang pembelian pasir dari Kepulauan Riau untuk menguruk pantai Singapura sehingga daratannya makin luas yang berarti batas teritorinya bertabrakan dengan Indonesia.

Yah, begitulah, hubungan antara Indonesia dan Malaysia itu bisa disebut 3B, benci-benci butuh. Malaysia membutuhkan TKI dan turis dari Indonesia, sedangkan Indonesia membutuhkan lapangan pekerjaan di Malaysia bagi jutaan rakyatnya. Sulit bagi Pemerintah bersikap tegas kepada Malaysia, apalagi sampai memutuskan hubungan diplomatik. Terlalu besar resikonya. Kepala dingin diperlukan untuk menyelesaikan banyak masalah antara kedua negara.