Soal Peringkat ITB yang “Turun”

Suatu hari mahasiswa saya datang dengan pertanyaan yang gundah gulana. Ia menyoal tentang peringkat ITB yang berada di bawah peringkat UI dan UGM. Sepertinya dia tidak terima jika ITB berada di bawah UI dan UGM. Narsis juga dia, he..he.

Memang, baru-baru ini lembaga pemeringkat perguruan tinggi prestisius, Times Higher Education – QS World University Ranking (THE-QS World), mengumumkan secara resmi ranking 500 universitas terbaik dari 5.000 perguruan tinggi dunia yang disurvei. Publikasi dari Survei THE-QS World memang selalu menyita perhatian banyak orang, terutama dari kalangan akademisi Indonesia. Hasilnya, ITB berada pada peringkat ke-351 dunia pada 2009 ini. Tahun lalu, peringkat ITB sedikit lebih baik, yaitu ke-315. Sebagai pembanding, UI di peringkat ke-201 dunia, naik 86 peringkat dari tahun sebelumnya, ke-287. Sementara itu, UGM, yang tahun lalu berada di posisi ke-316, kini naik di peringkat ke-250 dunia.

Cuplikan peringkat universitas dunia menurut THE-QS (sumber dari sini):

1 HARVARD University (United States)
2 University of CAMBRIDGE (United Kingdom)
3 YALE University (United States)
4 UCL (University College London) (United Kingdom)
5 University of OXFORD (United Kingdom)

22 University of TOKYO (Japan)
23 KING’S College London (United Kingdom)
24 University of HONG KONG (Hong Kong)

30 National University of Singapore (NUS) (Singapore)

179 TEXAS A&m University (United States)
180 University of MALAYA (UM) (Malaysia)
181 Indian Institute of Technology Delhi (IIT) (India)
182 RWTH AACHEN University (Germany)

201 University of INDONESIA (Indonesia)

249 University of SURREY (United Kingdom)
250 GADJAH MADA University (Indonesia)
251 University of WOLLONGONG (Australia)

351 BANDUNG Institute of Technology (ITB) (Indonesia)
351 NATIONAL TAIWAN University of Science An… (Taiwan)
354 University of MARBURG Germany

(Catatan: Hanya tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk 500 besar dunia)

Saya tersenyum-senyum saja mendengar kegundahan mahasiswa saya itu. Tentu saja pemeringkatan itu bagi ITB dianggap kurang fair, karena ITB disejajarkan dengan universitas umum yang mempunyai lingkup jurusan yang beraneka ragam seperti di UI dan UGM. Pemeringkatan THE-QS memang menggunakan spektrum yang luas dan tidak membedakan antara universitas umum dan perguruan tinggi teknologi. Karakteristik pemeringkatannya didominasi oleh size (ukuran student body), scope (cakupan keilmuan), dan research intensity. Ini agak kurang menguntungkan untuk institut seperti ITB.

Contoh untuk scope, yang dinilai itu fully comprehensive untuk lima bidang keilmuan, yaitu life science, technology, biomodedicine, social science, dan arts and humanities. UI dan UGM mempunyai jurusan yang beraneka ragam, mulai dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, ekonomi, kedokteran, hingga sains dan teknologi, sedangkan ITB adalah perguruan tinggi spesifik di bidang sains dan teknologi saja. Karena di ITB tidak ada bidang ilmu sosial dan humanities, maka skor untuk social sciences dan humanities tentu saja kecil, nah hal ini tentu membuat skor peringkat keseluruhan menjadi turun. Inilah yang membuat UI dan UGM unggul karena mereka memiliki semua kategori yang bisa dinilai. Apa ITB perlu membuat fakultas sastra ya supaya peringkatnya naik? Seperti joke teman saya, kuliah di ITB jurusan Sastra Mesin, katanya, he..he… Pernah ada angket yang diberikan kepada mahasiswa baru yang berisi pertanyaan fakultas baru apa yang perlu dibuka di ITB, banyak yang menjawab fakultas kedokteran. Nggak lah ya, kalau ITB buka kedokteran atau sastra, bukan institut lagi namanya, tetapi universitas.

Kembali ke soal peringkat, seharusnya pemeringkatan itu dibaca secara hati-hati, yaitu per kategori. Pada kategori teknologi (IT dan engeneering), ITB menempati 80 dunia, lebih tinggi daripada UI dan UGM. Jelas, ini meningkat dibandingkan tahun 2008 yang berada di urutan 90 dunia, dan tahun 2007 yang berada pada urutan 114, meskipun peringkat untuk bidang life science dan biomedicine, apalagi social science, masih belum baik dibandingkan dengan peringkat bidang teknologi.

Di Asia THE-QS juga melakukan pemeringkatan perguruan tinggi (lihat sumbernya di sini). Hasilnya, UI berada pada peringkat 50 besar Asia, kemudian UGM berada di peringkat 63, sedangkan ITB di peringkat 80. Walau ITB kalah di peringkat secara umum, namun ITB mendapatkan peringkat 21 di bidang Engineering & IT sementara UI dan UGM berada diperingkat 44 dan 51. Untuk bidang Natural Science, ITB mendapatkan peringkat 27. Kategori lainnya adalah adalah Arts & Humanities, Life Science & Biomedicine, dan Social Science. Selengkapnya (data diambil dari sini):

Bidang Studi: IT & Engineering:
1. ITB ranking 21
2. UI ranking 44
3. UGM ranking 51
4. Undip ranking 86
5. IPB ranking 87

Bidang Studi: Natural Sciences
1. ITB ranking 27
2. UGM ranking 37
3. UI ranking 58
4. IPB ranking 70

Bidang Studi: Life Sciences & Medicine
1. UGM ranking 16
2. UI ranking 29
3. ITB ranking 50
4. Unair ranking 59
5. Undip ranking 90
6. IPB ranking 92

Bidang Studi: Arts & Humanities
1. UGM ranking 14
2. UI ranking 15
3. ITB ranking 50
4. IPB ranking 86
5. Unair ranking 92
6. Undip ranking 96

Bidang Studi: Social Sciences
1. UI ranking 18
2. UGM ranking 25
3. ITB ranking 50
4. Unair ranking 64
5. Undip ranking 71
6. IPB ranking 88

Meskipun peringkat ITB secara umum di bawah UI dan UGM, masyarakat yang tidak kritis mungkin mempunyai penilaian lain. Mereka melihat prestasi ITB turun dan hal ini tentu saja bisa merugikan citra ITB sendiri. Dari segi marketing jelas ini kurang baik. Ini berbeda dengan UI dan UGM, kenaikan peringkat bagi mereka digunakan secara baik untuk memperbaiki citra dan tentu saja marketing. Memang tidak ada data apakah gara-gara peringkat itu terjadi penurunan minat masuk ke ITB. Setahu saya memang tidak ada hubungannya antara perringkat dan minat calon mahasiswa. Berdasarkan pengamatan saya terhadap siswa-siswa di daerah, ITB tetap menjadi tujuan utama para siswa daerah yang ingin menekuni bidang teknologi.

Meskipun para petinggi ITB tidak menganggap penting soal peringkat (baca berita ini), namun bagi saya sebaliknya. Kita tidak boleh menganggap remeh soal peringkat ini. Peringkat tetap penting, karena hal ini menunjukkan pengakuan dunia internasional terhadap perguruan tinggi di Indonesia.

Foto-Foto SMA 1 Padang Setelah Gempa Besar

Masih dalam rangkaian kunjungan pulang kampung ke Padang, saya sempatkan menjenguk bekas sekolah SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Padang. SMAN 1 Padang termasuk salah satu dari ratusan sekolah yang hancur atau rusak berat karena diayun-ayun oleh gempa tanggal 30 September yang lalu. Awal tahun lalu saya juga mengunjungi sekolah ini, cerita dan foto-fotonya dapat dibaca di sini. Sekarang, bandingkan kondisi sekolah ini dengan 9 bulan yang lalu, jauh sekali bedanya.

Memasuki halaman sekolah, saya tidak mengenal siapapun lagi di sana, baik guru-guru maupun karyawannya. Maklum sudah 24 tahun saya tinggalkan, para gurunya sudah pensiun atau sudah dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya berkeliling sekolah dan memotret bangunan-bangunan yang rusak. Dari luar sekilas sekolah ini aman-aman saja saja, seolah-olah tidak terkena gempa, tetapi jika melongok ke dalam barulah terlihat kerusakan parah akibat gempa. Secara umum gedung yang rusak adalah gedung peninggalan Belanda yang terrletak di sebelah kanan sehingga ruang-ruang kelasnya tidak bisa dipakai lagi, sementara gedung sebelah kiri yang terletak tidak mengalami kerusakan dan aman dipakai. Waktu itu saya lihat siswa-siswa sibuk mengerjakan soal UTS. Gedung lain yang rusak adalah gedung baru berlantai tiga yang bertetangga dengan SMA PGRI.

Berikut foto-fotonya:

1. Ruang kelas yang rusak parah

DSC00761

2. Lorong sekolah di gedung lama. Kesan dari luar tidak terlihat ada kerusakan, tapi jika kita menengok ke dalam ruangan kelas, alamaakk… pemandangan yang menyedihkan seperti gambar 1 di atas.

DSC00768

3. Bangunan baru berlantai tiga yang juga rusak parah

DSC00766

DSC00762

4. Karena banyak ruang kelas yang berbahaya jika digunakan kembali, maka siswa terpaksa belajar di dalam tenda-tenda bantuan UNICEF. Tenda-tenda itu didirikan di halaman sekolah dan di lapangan upacara. Gerah memang belajar di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi. Perlu waktu lama untuk memperbaiki kembali sekolah yang rusak tanpa harus menghancurkan seluruhnya, karena bangunan sekolah ini cagar budaya yang dilindungi.

DSC00765

DSC00764

Sedih memang melihat sekolah kebanggaan saya dulu rusak parah oleh gempa, lebih sedih lagi menyakisikan kondisi siswanya yang belajar di bawah tenda. Mudah-mudahan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia tergerak membantu setelah membaca tulisan ini.

Pulang ke Padang Melihat Kedahsyatan Gempa

Minggu lalu, saat UTS di ITB, saya menyempatkan diri pulang ke Padang. Setelah gempa besar melanda Padang dan Pariaman 30 September yang lalu, saya ingin sekali pulang ke Padang, ingin melihat langsung dahsyatnya gempa bumi itu.

Keluar dari Bandara Minangkabau Padang, saya belum melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Hingga melewati Lubuk Buaya dan Tabing, rumah-rumah dan toko-toko di sepanjang jalan masih berdiri utuh. Hanya satu dua yang rusak. Tetapi ketika memasuki Jalan Khatib Sulaiman hingga Jalan Sudirman, barulah saya menyaksikan sendiri bangunan-bangunan yang ambruk, remuk redam, dan “patah pinggang” dihoyak gempa. Benar-benar mengerikan. Sebagian bangunan itu sudah ditutup dengan pagar seng, dan sebagian lagi sudah dibersihkan puing-puingnya.

Hari Sabtu saya menyusuri jalan-jalan yang bangunannya hondoh pondoh dilamun gempa bumi. Benar-benar mengerikan membayangkan gempa berskala 7,9 SR itu. Saya berjalan dari Jalan Sawahan hingga Simpang Haru. Lalu saya teruskan menuju area Pasar Raya, SMA 1 Padang, daerah Pondok (pecinan), Jalan Bundo Kandung, hingga Hotel Ambacang yang terkenal itu. Banyak bangunan yang rubuh atau rusak parah sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Berikut foto-foto bangunan yang berhasil saya jepret dengan kamera ponsel:

1. Ruko-ruko di Jalan Sawahan (dekat rumah saya) yang ambruk dan “patah pinggang:

DSC00753

DSC00754

2. Masjid Muhammadiyah Simpang Haru yang sudah rata dengan tanah. Bangunan STM di belakangnya rusak sedang, sedangkan STIE di bagian kanannya “patah pinggang”.

DSC00757

3. Toko di Pasar Raya Padang yang ambruk

DSC00774

Aktivitas di Pasar Raya Padang yang menjadi kacau pasca gempa, mereka terpaksa berdagang di luar karena bangunan pasar sudah roboh.

DSC00775

4. Sentral Pasar Raya yang hancur dan tidak bisa digunakan lagi.

DSC00783

5. Sebagian bangunan hotel Ina Muara yang sudah doyong

DSC00794

6. Sebagian bangunan gereja yang hancur di Jalan Bundo Kanduang

DSC00795

Sekolah Yayasan Prayoga yang luluh lantak:

DSC00797

7. Hotel Bumi Minang yang rusak parah

DSC00801

DSC00799

8. Hotel Mariani yang porak poranda

DSC00798

9. Reruntuhan hotel Ambacang

DSC00803

DSC00805

10. Matahari Dept. Store yang tidak bisa dipakai lagi

DSC00781

11. Jembatan Siti Nurbaya di kampung Nias selamat dari gempa.

DSC00789

Ajaib, Kaki Bayi Bertuliskan Ayat Al-Quran

bayi-Alquran1Wallahu alam, hanya Dia yang tahu pesan apa yang hendak Dia sampaikan kepada ummat manusia di dunia ini. Dunia sudah tua ataukah kiamat sudah dekat? Seorang bayi yang berusia 9 bulan di negara bagian Dagestan, Rusia, menunjukkan fenomena aneh. Di kaki bayi yang bernama Ali Yakubova itu terdapat tulisan ayat Al-Quran. Seperti yang ditulis di situs TempoInteraktif.com, harian Inggris The Sun menyebutkan bahwa sebelum muncul di kaki kalimat itu muncul pada pergelangan tangan, kaki, dan perut Ali. Kedua orang tua Ali pertama kali dibuat kaget ketika lafal Allah muncul pada dagu anaknya tak lama setelah lahir. Setelah itu beragam kalimat bertuliskan arab memenuhi seluruh anggota tubuh anak tersebut. (Berita tentang hal ini di media lainnya juga bisa dibaca di situs Hidayatullah, di situs Okezone.com, atau di situs Detik.com)

Video di YouTube tentang berita heboh ini bisa diklik di bawah ini:

Ali juga membuat kalangan dokter di Rusia pusing tujuh keliling. Seperti dilansir dari The Sun, tim medis mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan kondisi misterius Ali Yakubov, tapi mereka membantah, tanda ini ditulis oleh seseorang pada kulit bayi ini. Madina Yakubova, ibu sang bayi mengatakan ia dan suaminya tidak begitu taat dalam melaksanakan agama Islam sebelum kalimat tersebut muncul pada kulit anaknya.

bayi-Alquran2 Tulisan arab di kaki bayi itu begitu jelas dibaca. Coba lihat foto di kanan ini, di situ tertulis falanaqusshanna ‘alaihim dan seterusnya. Ada yang tahu artinya? Pada surat apa dan ayat berapa? Anehnya, tulisan di kaki itu selalu berganti. Menurut Madina kalimat berlafalkan Al-Qur’an itu muncul setiap dua pekan sekali. “Biasanya muncul pada malam antara hari Kamis dan Jumat,” akunya.

Sang ibu, mengatakan bahwa anak laki-lakinya dilahirkan dengan hematoma di dagunya, dan ketika memar pulih, kata ‘Allah’ tulisan Arab muncul. Dalam dunia medis, Hematoma adalah penampakan biru (keunguan) pada kulit, yang dapat terjadi karena benturan atau sebab lain.

Di balik kulit yang membiru itu, terdapat pembuluh darah yang pecah dan darahnya keluar, serta kemudian membeku (menjendal) di luar pembuluh darah itu. Jika letaknya cukup dekat dengan permukaan kulit, maka akan terlihat seperti warna biru/ungu. Umumnya terasa nyeri, terutama jika ditekan, dan kadang juga disertai pembengkakan.

bayi-Alquran4Masalahnya, semenjak muncul tulisan yang dipercaya “ayat-ayat Allah” pertama kali, sejak itu pula, munculnya tulisan-tulisan bernuansa Arab lain bertebaran di punggung, lengan, kaki, dan perutnya. Menariknya, keluarganya mengklaim, selalu ada tanda-tanda sebelum ayat-ayat baru muncul, dua kali dalam sepekan.

Paramedis tentu saja tidak percaya bahwa itu adalah mukjizat agama. Ludmila Luss, seorang dokter setempat, percaya bahwa cerita dengan tanda-tanda seperti itu, hanya didalangi oleh orangtua sang anak.

Menurut Ludmila Luss, kemungkinan besar tulisan itu adalah akibat efek iritasi, seperti lada dan garam, atau obat-obatan, yang memicu peradangan kulit dan meninggalkan jejak merah berbentuk huruf Arab,” katanya.

“Beberapa orang yang menderita patologi lambung memiliki kulit yang sangat sensitif. Jika Anda menggambar sesuatu pada kulit mereka dengan tongkat kecil, misalnya, gambar akan kemudian muncul,” kata Ludmila Luss.

bayi-Alquran3 Bayi bermata biru yang lucu, wajahnya benar-benar menggemaskan (lihat foto). “Anak ini adalah murni tanda dari Tuhan. Allah mengirimkannya ke Dagestan dalam rangka menghentikan perang dan ketegangan di republik ini,” kata Akhmedpasha Amiralaev, salah seorang pemuka agama di Dagestan, Rabu (21/10). Bila betul ini kebesaran Allah SWT, jangan sampai fenomena ini dijadikan klenik atau tahayul seperti yang sering terjadi di Indonesia.

Ketika “Putri Aceh” Minta Izin Tidak Berjilbab

qory_puteri_ina_285_fahmiBarangkali isu ini sudah agak basi dan sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Seperti yang anda ketahui, pemilihan Putri Indonesia, yang katanya merupakan ajang menuju pemilihan Miss Universe, meninggalkan sejumlah kontroversi. Masalahnya terletak pada pernyataan Qory Sandioriva, putri yang mengaku mewakili daerah Aceh dan terpilih sebagai pemenang, pada malam final. Dia menjawab pertanyaan MC kenapa dirinya tidak mengenalkan jilbab seperti wakil-wakil Aceh tahun sebelumnya. Qory menjawab bahwa dia sudah meminta izin kepada tokoh ulama dan Gubernur Aceh untuk tidak memakai jilbab, juga sudah minta izin kepada Meutia Hatta, Menteri urusan peranan wanita, untuk tidak berjilbab pada acara itu, seolah-olah orang-orang itu mempunyai hak untuk mengambil alih peran Tuhan dalam hukum agama.

Sehari-harinya Qory memang tidak berjilbab, dan orang-orang memang tidak mempersoalkan hal itu. Memakai jilbab atau tidak adalah urusan hati nurani dan keimanan seseorang, jadi tidak bisa dipaksa. Hak Qory ikut pemilihan kontes putri-putrian itu dan orang lain tidak berhak pula untuk melarangnya. Masalahnya karena dia mengatasnamakan rakyat Aceh dalam kontes ratu-ratuan ini, namun dia tidak berpenampilan yang menunjukkan identitas sebagai orang Aceh yang sesuai dengan syariat Islam (menutup aurat). Kita semua tahu Aceh mempunyai kultur sendiri yang berbeda dengan daerah lainnya, yaitu kultur islami. Sebagai daerah yang mempunyai otonomi khusus dengan penerapan syariat Islam, “ulah” Qory memancing reaksi keras orang-orang di Aceh, apalagi Qory pada malam itu memakai busana yang menampakkan sebagian auratnya yaitu bagian dada yang seharusnya tidak boleh dilihat.

Sekarang kontoversi soal Qory itu sudah mulai mereda seiring dengan berjalannya waktu dan orang-orang pun sudah mulai melupakan masalah ini. Namun, tetap ada yang tersisa dan tetap menarik untuk diulas. Qory meminta izin kepada orang-orang penting untuk tidak berbusana muslimah (baca: jilbab). Qory merasa orang-orang itu memiliki otoritas memberi izin mengenai hukum agama, bukan Allah SWT Sang Pemilik Hukum. Orang-orang penting itu menjadi “wakil” Tuhan untuk mengeluarkan izin bagi Qory.

Dipastikan Qory akan ikut kontes ratu sejagad tahun depan. Pemilihan ratu-ratuan ini diperkirakan akan menimbulkan kontroversi baru lagi nanti karena ada keharusan para peserta kontes untuk memakai bikini pada salah satu sesi penilaian. Kita semua tahu bahwa yang selalu menimbulkan pro kontra dalam kontes ratu sejagad itu adalah soal penampilan gadis Indonesia berbikini itu. Tahun depan pro kontra akan lebih heboh karena yang tampil dari Indonesia adalah gadis yang mengaku dari Aceh yang menjunjung syarit Islam. Apakah Qory nanti juga akan meminta izin kepada ulama Aceh atau orang-orang penting itu untuk memakai bikini? Jika kemaren meminta izin untuk tidak berjilbab, nanti akan minta izin untuk lepas baju alias (maaf) semi telanjang di hadapan publik. Astaghfirullah, jika begitu yang terjadi nanti betapa besar dosa Qory dan orang-orang penting yang memberi izin itu nanti jika dia nekat maju dengan bikini untuk memperlihatkan auratnya kepada jutaan orang di seluruh dunia. Ini akan menjadi tamparan keras bagi orang Aceh, nih ada wanita yang mengaku dari Aceh negeri Serambi Mekah berani berbusana minim di hadapan banyak orang. Gelar ratu dunia tidak akan didapat (tidak akan mungkin gadis Indonesia bisa menang di ajang itu, ada semacam permainan untuk selalu memenangkan gadis latino), dosa bertambah pula.

Akan lebih baik bagi Qory untuk membatalkan keikutsertaannya di ajang kontes ratu sejagat tahun depan, sebelum timbul masalah baru lagi nanti. Kalau dia peka maka seharusnya dia tidak meneruskan langkahnya. Kita sudah lelah dengan berbagai kontroversi di negara ini, janganlah ditambah dengan kontroversi baru yang menghabiskan energi bangsa. Mudah-mudahan apa yang dilakukan Qory saat ini adalah karena keawaman dia dalam pengetahuan agama. Kepada orangtuanya yang memberi izin kepada putrinya untuk pamer aurat, cepatlah bertobat kepada Allah SWT karena dukungan yang kalian berikan kepada Qory itu hanya menambah dosa saja.

Menunggu Telpon dari Cikeas

Hari-hari ini hingga seminggu ke depan adalah hari yang menegangkan bagi para pejabat dan politisi. Mereka H2C alias harap-harap cemas menanti panggilan telepon dari Puri Cikeas, kediaman SBY itu, siapa tahu diminta oleh SBY menjadi pembantunya (baca:menteri). Siapa saja pengidap H2C itu? Mereka adalah para rektor perguruan tinggi, politisi parlemen, politisi partai, pejabat departemen, gubernur, bupati, ilmuwan, pengusaha, bahkan para menteri yang masih menjabat hingga saat-saat terakhir di bulan Oktober ini. Di ITB ada rumor bahwa Pak Joko, rektor ITB sekarang, tidak mencalonkan diri lagi menjadi rektor yang baru, jangan-jangan karena ada sinyal menjadi menteri. Entahlah, namanya juga gosip.

Ada ratusan nama yang beredar di media massa yang disebut-sebut menjadi calon menteri, sementara pos menteri hanya ada 24 hingga 30 orang saja. Tentu ada “persaingan sengit” di antara mereka untuk dipilih SBY menjadi menteri. Dari ratusan nama itu, sebagian dari mereka ada yang merasa tersanjung namanya digadang-gadang menjadi menteri. Mereka inilah yang sport jantung alias stres menunggu kabar dari Cikeas. Kalau tidak terpilih padahal digembar-gemborkan bakal terpilih, tentu malu juga awak jadinya.

Memangnya jadi menteri itu enak sehingga menjadi “buruan” banyak kalangan? Kalau saya diminta SBY (mimpi kali, dikenal juga tidak) saya juga tidak akan dan tidak pernah mau. Tidak mau karena tidak mampu. Enakan begini saja, jadi dosen, bisa datang ke kampus kapan saja saya mau, mau siang boleh, mau sore boleh. Awalnya jadi menteri itu memang enak, badan terasa melambung karena begitu tersanjung, ucapan selamat datang dari sana-sini, bayangan gaji tinggi dan segudang fasilitas siap menanti. Tetapi, lihatlah ke depan, segunung beban dan tanggung jawab siap diletakkan ke punggung menteri itu. Kalau tidak cakap, maka hujatan, kritikan, dan cacian dari media massa dan para kritisi harus siap dihadapi. Belum lagi rongrongan dari partainya untuk menyetor dana buat kelangsungan hidup partai. Beberapa kementrian yang “basah” dan menaungi banyak BUMN adalah lahan rebutan karena dari situ duit mengalir ke kocek partai. Jadi, kalau tidak cakap dan tidak kuat iman, jangan bermimpi deh jadi menteri.

Okelah, bagi yang masih berharap dan kebelet jadi menteri, jangan matikan HP, blackberry, blueberry (eh salah, ini mah nama buah), telepon rumah, email, Yahoo Messenger, bahkan Facebook, Plurk, dan Twitter. Siagakan terus HP, larang pembantu atau anak menggunakan telelpon rumah sebab khawatir ada panggilan yang gagal masuk kalau telepon rumah digunakan, cek secara periodik inbox email anda, aktifkan YM terus menerus 24 jam, selalu cek status di Plurk dan Twitter, jangan lupa simak setiap pesan di Fesbuk. Siapa tahu SBY atau stafnya akan menghubungi anda pada tengah malam melalui salah satu perangkat itu.

Merahnya Cabe Mengalahkan Rasa Takut pada Gempa

Gempa telah menghancurkan banyak sarana infrastruktur di kota Padang, salah satunya Pasar Raya yang merupakan pasar terbesar di kawasan Sumatera Bagian Tengah. Tetapi, life must go on, hidup harus dimulai lagi, dapur harus terus berasap, periuk nasi harus tetap diisi. Berlama-lama bersedih hati tidaklah patut. Beberapa hari sesudah gempa, pedagang cabe giling di Pasar Raya mulai berani menggelar dagangannya di antara puing-puing pasar yang telah hancur. Merahnya cabe mengalahkan rasa takut pada gempa. Mau apalagi, karena itulah satu-satunya sumber nafkah pedagang ini.

s39_20630339

(Sumber foto: www.boston.com)

Gempa di Sumbar: Pariaman Menangis

Pariaman, siapakah urang awak yang tidak kenal dengan daerah ini. Piaman laweh, itulah julukan negeri ini, yang artinya Pariaman yang luas. Bahkan, sebagian orang Indonesia juga mengenal Pariaman meskipun dengan konotasi yang agak negatif, yaitu daerah di mana laki-laki “dibeli” oleh keluarga pengantin perempuan sebagai syarat tercapainya “deal” pada proses melamar. Sebuah konotasi yang tidak seluruhnya benar, namun citra itu masih melekat sampai sekarang.

Bagi urang Minang, Pariaman adalah daerah yang terkenal dengan tradisi tabuik (tabot) untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein di Padang Karbala. Pariaman juga terkenal sebagai penghasil kelapa dengan beruknya (kera) yang lihai memelintir buah kelapa dan menjatuhkannya ke bawah. Pariaman juga dikenal dengan masakan satenya, sehingga pedagang sate di Padang maupun di tanah rantau kebanyakan adalah dari daerah ini. Kalau anda menemukan pedagang sate dengan gerobak, maka dipastikan pedagang itu dari daerah Pariaman.

tabut2
(Sumber foto: lagulamaku.blogspot.com)

Waktu kecil saya cukup sering main ke Pariaman dengan teman-teman. Naik kereta api dari Padang sampai ke Kurai Taji. Pantai-pantai di Pariaman elok dikunjungi. Pantainya landai dan berpasir putih. Ke Pariaman belum lengkap jika tidak mencoba makanan khas yang bernama sala lauak .

Tapi, keeksotisan daerah Pariaman hanya tinggal kenangan. Gempa besar yang melanda Padang, Pariaman, dan beberapa daerah lainnya di Sumbar telah meluluh-lantakkan daerah ini. Kota Padang dan dan Kabupaten Pariaman adalah daerah terparah yang dilanda gempa. Di Pariaman sendiri hampir 80% rumah dan bangunan rubuh, dan yang lebih memilukan lagi terjadi longsor dimana-mana. Anda tahu kan Sumatera Barat itu dilalui oleh Pegunungan Bukit Barisan. Sebagian jalur pegunungan itu melewati daerah ini, dan banyak kampung-kampung (di sana disebut korong) yang berada di kaki bukit. Gempa telah menggoyang bukit-bukit tadi, membelahnya, kemudian meluruhkan juataan kubik tanah ke bawah. Kampung-kampung yang berada di bawahnya tertimbun beserta penghuninya hidup-hidup.

s07_20615569

s37_20605085
(Sumber foto: www.boston.com)

Tidak hanya satu kampung, tetapi banyak! Lebih dari 600 orang tertimbun karena tidak sempat melarikan diri. Yang lebih tragis, ada 400 orang yang sedang menghadiri pesta pernikahan, merekapun juga tertimbun. Lazim di ranah Minang mengadakan pesta pernikahan pada bulan Syawal, sebab pada bulan itu orang rantau pulang kampung. Sanak famili kumpul semua pada hari-hari pasca Lebaran, dan masa itulah digunakan untuk ma-alekkan anak dan kemenakan. Tapi apa mau dita, para perantau itu tidak bisa kembali lagi ke kota asalnya karena mereka terkubur hidup-hidup pada saat gempa.

Hari-hari ini Pariaman menangis. Nagarinya telah luluh lantak dihancurkan oleh gempa dahsyat. Nasib anak nagari benar-benar menyedihkan. Rumah tempat berteduh sudah hancur, kemana lagi tempat untuk bernaung. Bahan makanan sudah habis, kelaparan mulai mengancam, penyakit mulai datang. Para perantau Pariaman hanya bisa menangis menyaksikan kampung halaman mereka sudah porak poranda, bahkan hilang dari peta. Tidak hanya itu, para sanak keluarga mereka pun banyak yang mati atau hilang. Rumah-rumah atau gedung mungkin bisa dibangun kembali, namun trauma akibat gempa perlu waktu lama agar bisa hilang. Entah sampai kapan eksotisme Pariaman terlukis kembali seperti semula. Perlu waktu setidaknya lima tahun untuk mengembalikan Pariaman seperti semula.

s27_20602535
(Sumber foto: www.boston.com)

Semua ini sudah takdir dari Ilahi, mau apalagi. Mungkin sudah digariskan oleh Allah SWT nasib suatu negeri, seperti itu pula skenario nagari Pariaman yang sudah ditakdirkan oleh ilahi. Kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya dan menerima semua kejadian ini dengan ikhlas.

Orang Pariaman, baik di kampung maupun di rantau, tidak perlu terus menangis. Sudah sering ranah Minang dilanda berbagai bencana dan dengan cepat bisa pulih kembali karena besarnya sumbangsih urang rantau untuk membangun kembali negeri. Yang meninggal karena terhimpit bangunan dan tertimbun bukit-bukit diikhlaskan saja, kepentingan orang yang masih hidup harus diprioritaskan. Negeri harus dibangun kembali.

Gempa di Sumbar: Suami Istri Itu Tewas Berpelukan Saat Hendak Selamatkan Anak

Rasa sayang kepada anak mengalahkan rasa takut apapun, meskipun nyawa pertaruhannya. Dikutip dari kompas.com:

Jumat, 2 Oktober 2009 | 21:10 WIB

PADANG, KOMPAS.com – Musibah gempa di Kota Padang meninggalkan kisah memilukan bagi keluarga korban ketika Aini (55) warga Ginung Pangilun kehilangan anak, menantu dan cucunya dalam sekejap.

Menurut cerita Aini, Jumat, yang sehari-hari berjualan di Pasar Alai Padang, ketika gempa terjadi dia dalam perjalanan pulang. Jarak rumah dan pasar tempat dia berjualan sekitar dua kilometer. Di tengah jalan angkot yang dia tumpangi seperti mau terbalik karena gempa.

“Sopirnya loncat dan penumpang juga semua turun menyelamatkan diri, termasuk saya. Lalu saya jalan kaki pulang karena sudah lumayan dekat,” kata Aini.

Ketika sampai di rumah yang dia melihat reruntuhan sebagian rumahnya, terutama bagian depan. Bukan hanya itu, tetangga menyatakan keluarganya, yakni anak perempuan, menantu dan cucunya yang barusia berusia tujuh bulan terkurung di dalam.

Menurut cerita tetangganya, saat gempa anaknya yang bernama Nur sudah lari duluan ke luar rumah sedangkan menantunya memang sedang berada di halaman rumah. Sampai di halaman terdengar lengkingan tangis anak bayinya yang ternyata tertinggal dalam ayunan di depan pintu kamar Nur.

Segera saja suami istri ini secara refleks berbarengan lari kembali ke dalam rumah dan sejenak kemudian tetangga hanya menyaksikan rumah itu ambruk.

“Saat reruntuhan rumah dibersihkan untuk mengeluarkan anak saya, ternyata ketiganya sudah tak bernyawa dengan posisi Nur dan suami saling berpelukan dan anak mereka ada di antara tubuh ibu dan ayahnya,” kata tetangga Aini di Gunung Pangilun.

Jasad Nur, anak dan suaminya baru akan dikuburkan esok, Sabtu, karena harus menunggu ayahnya Nur yang masih dalam perjalanan dari Bengkulu. Kebetulan ayah Nur baru tiga hari meninggalkan rumah untuk menjenguk adiknya yang sedang sakit di Bengkulu.

“Meski sudah mulai bau tetapi Ani bersikeras baru akan memakamkan jasad anak, menantu dan cucunya esok, karena harus menunggu suaminya dulu,” ujar tetangga Aini. Nur adalah tunggal Aini dan musibah gempa ini membuat keluarganya punah.

Gempa di Sumbar: Ya Ilahi, Padang “Jatuah Tapai”

Meskipun saya lelaki namun perasaan saya sering tersentuh hingga menitik air mata bila melihat penderitaan orang lain yang mendapat musibah berat. Dan kali ini musibah dahsyat itu menimpa kampung halaman saya sendiri, khususnya di kota Padang tercinta. Melihat tayangan breaking news di TV tentang kedahsyatan gempa besar itu, perasaan saya menjadi tidak tenang. Galau. Tenggorokan tercekat, mata basah. Begitu dahsyat dampak gempa, kerusakan yang ditimbulkan sangat masif, dan korbannya sangat banyak. Pikiran saya langsung teringat pada ibunda yang sudah tua yang sudah susah berjalan dan para kakak berada di Padang. Bagaimanakah keadaannya?

Dari malam sampai pagi saya mencoba menghubungi kakak di Padang, tetapi tidak berhasil. Ternyata menurut laporan di TV semua saluran telekomunikasi di Padang putus..tus..tus. Listrik mati pula di sana karna jaringan PLN hancur. Keadaan benar-benar gelap gulita dan entah sampai kapan listrik bisa menyala lagi. Jadilah saya dari malam sampai siang hanya bisa menyaksikan tayangan langsung di TV tentang kedahsyatan gempa itu. Ratusan korban tewas telah ditemukan dan ribuan lainnya masih tertimbun di balik reruntuhan gedung, entah masih hidup entah sudah mati. Itu baru di Padang, sementara di Pariaman lebih dahsyat lagi dan belum tersentuh bantuan. Ribuan rumah di sana hancur, dan yang lebih mengenaskan satu kampung di kaki bukit tertimbun longsor bukit barisan dan menguburkan ratusan orang di kampung itu yang sedang menghadiri pesta pernikahan warga. Mirip seperti longsor akibat gempa di Cianjur baru-baru ini.

Di TV saya melihat kota kelahiran saya luluh lantak, hampir semua gedung rubuh dan banyak rumah yang hancur. Kebakaran di mana-mana dan semua orang sibuk menyelamatkan diri. Perasaan saya menjadi tidak karu-karuan selama beberapa hari. Bagaimana tidak, kota Padang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun sehingga saya tahu betul semua sudut kota ini, luluh lantak dihoyak gempa besar berskala 7,6 SR pada hari Rabu sore kamaren. Hanya dalam waktu 2 menit saja kemegahan dan keindahan kota ini sirna sekejap mata. Kota Padang seperti jatuah tapai. Jatuah tapai adalah perumpamaan yang diberikan kepada kejatuhan yang menimpa orang atau barang. Tapai adalah tape singkong yang lembek, bila ia jatuh dari ketinggian maka tiba di lantai tape itu sudah tidak berbentuk lagi. Begitulah kondisi kota dan daerah lainnya di Sumbar yang porak poranda setelah diayun-ayun oleh gempa.

bangunan-bertingkat01
(Sumber foto: Detik.com)

s09_20603539
(Sumber foto: www.boston.com)

s35_20591587
(Sumber foto: www.boston.com)

Penderitaan warga makin bertambah karena sarana telekomunikasi terputus. Saya yakin jutaan perantau Minang di seperti saya baik di Indonesia maupun di luar negeri mencoba menelpon sanak sudaranya di Sumbar, tetapi tidak bisa. Semua orang menjadi putus komunikasi dengan Sumatera Barat. Seperti yang saya lihat di TV, perantau hanya bisa menangis, menangis, dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus bertanya kemana.

Tadi malam barulah saya berhasil menelpon ke Padang. Alhamdulillah keluarga selamat meskipun rumah retak-retak dan pagar rubuh. Kata kakak di sana listrik masih padam, air tidak mengalir, makanan susah didapat. Pertokoan di jalan Sawahan hancur, banyak orang terperangkap di dalam reruntuhan. Meskipun keluarga selamat, namun tetap tidak mengurangi kepiluan saya yang mendalam tentang penderitaan warga Sumbar. Mereka saudara-saudara saya juga, derita mereka saya rasakan di rantau. Dua hari ini saya tidak bersemangat melakukan apa-apa, kepikikran terus, banyak pekerjaan terbengkalai. Badan memang di Bandung, tapi pikiran menerawang jauh ke kampung halaman.

Saya yakin ratusan ribu perantau Minang ingin pulang kampung melihat kondisi keluarga mereka di sana. Saya pun ingin pulang. Tapi apa daya, sarana transportasi sangat terbatas. Sangat sulit mendapat tiket pesawat dalam kondisi seperti ini. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Naik mobil juga tidak mungkin karena sarana jalan terputus ke Padang akibat longsor. Jadilah di sini saya hanya bisa termangu-mangu menyaksikan tayangan langsung dari reporter TV di Padang, sambil sesekali menyeka air mata. Pilu.

*********

Bunyi saluang di Metro TV terdengar bagai ratapan di tengah malam. Suaranya menghiba-hiba mengiringi tayangan tentang nagari yang telah hancur oleh gempa, lalu anak-anak dan kaum ibu yang menangis ketakutan. Pilu.

Allah SWT menurunkan cobaan yang berat ini sebagai ujian untuk menguji seberapa kuat iman seseorang, apakah ia makin menjauh atau malah makin dekat kepada-Nya. Tentu ada hikmah dari bencana alam ini agar manusia lebih mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya kepada Allah SWT tempat untuk kembali.