Pariaman, siapakah urang awak yang tidak kenal dengan daerah ini. Piaman laweh, itulah julukan negeri ini, yang artinya Pariaman yang luas. Bahkan, sebagian orang Indonesia juga mengenal Pariaman meskipun dengan konotasi yang agak negatif, yaitu daerah di mana laki-laki “dibeli” oleh keluarga pengantin perempuan sebagai syarat tercapainya “deal” pada proses melamar. Sebuah konotasi yang tidak seluruhnya benar, namun citra itu masih melekat sampai sekarang.
Bagi urang Minang, Pariaman adalah daerah yang terkenal dengan tradisi tabuik (tabot) untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein di Padang Karbala. Pariaman juga terkenal sebagai penghasil kelapa dengan beruknya (kera) yang lihai memelintir buah kelapa dan menjatuhkannya ke bawah. Pariaman juga dikenal dengan masakan satenya, sehingga pedagang sate di Padang maupun di tanah rantau kebanyakan adalah dari daerah ini. Kalau anda menemukan pedagang sate dengan gerobak, maka dipastikan pedagang itu dari daerah Pariaman.

(Sumber foto: lagulamaku.blogspot.com)
Waktu kecil saya cukup sering main ke Pariaman dengan teman-teman. Naik kereta api dari Padang sampai ke Kurai Taji. Pantai-pantai di Pariaman elok dikunjungi. Pantainya landai dan berpasir putih. Ke Pariaman belum lengkap jika tidak mencoba makanan khas yang bernama sala lauak .
Tapi, keeksotisan daerah Pariaman hanya tinggal kenangan. Gempa besar yang melanda Padang, Pariaman, dan beberapa daerah lainnya di Sumbar telah meluluh-lantakkan daerah ini. Kota Padang dan dan Kabupaten Pariaman adalah daerah terparah yang dilanda gempa. Di Pariaman sendiri hampir 80% rumah dan bangunan rubuh, dan yang lebih memilukan lagi terjadi longsor dimana-mana. Anda tahu kan Sumatera Barat itu dilalui oleh Pegunungan Bukit Barisan. Sebagian jalur pegunungan itu melewati daerah ini, dan banyak kampung-kampung (di sana disebut korong) yang berada di kaki bukit. Gempa telah menggoyang bukit-bukit tadi, membelahnya, kemudian meluruhkan juataan kubik tanah ke bawah. Kampung-kampung yang berada di bawahnya tertimbun beserta penghuninya hidup-hidup.


(Sumber foto: www.boston.com)
Tidak hanya satu kampung, tetapi banyak! Lebih dari 600 orang tertimbun karena tidak sempat melarikan diri. Yang lebih tragis, ada 400 orang yang sedang menghadiri pesta pernikahan, merekapun juga tertimbun. Lazim di ranah Minang mengadakan pesta pernikahan pada bulan Syawal, sebab pada bulan itu orang rantau pulang kampung. Sanak famili kumpul semua pada hari-hari pasca Lebaran, dan masa itulah digunakan untuk ma-alekkan anak dan kemenakan. Tapi apa mau dita, para perantau itu tidak bisa kembali lagi ke kota asalnya karena mereka terkubur hidup-hidup pada saat gempa.
Hari-hari ini Pariaman menangis. Nagarinya telah luluh lantak dihancurkan oleh gempa dahsyat. Nasib anak nagari benar-benar menyedihkan. Rumah tempat berteduh sudah hancur, kemana lagi tempat untuk bernaung. Bahan makanan sudah habis, kelaparan mulai mengancam, penyakit mulai datang. Para perantau Pariaman hanya bisa menangis menyaksikan kampung halaman mereka sudah porak poranda, bahkan hilang dari peta. Tidak hanya itu, para sanak keluarga mereka pun banyak yang mati atau hilang. Rumah-rumah atau gedung mungkin bisa dibangun kembali, namun trauma akibat gempa perlu waktu lama agar bisa hilang. Entah sampai kapan eksotisme Pariaman terlukis kembali seperti semula. Perlu waktu setidaknya lima tahun untuk mengembalikan Pariaman seperti semula.

(Sumber foto: www.boston.com)
Semua ini sudah takdir dari Ilahi, mau apalagi. Mungkin sudah digariskan oleh Allah SWT nasib suatu negeri, seperti itu pula skenario nagari Pariaman yang sudah ditakdirkan oleh ilahi. Kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya dan menerima semua kejadian ini dengan ikhlas.
Orang Pariaman, baik di kampung maupun di rantau, tidak perlu terus menangis. Sudah sering ranah Minang dilanda berbagai bencana dan dengan cepat bisa pulih kembali karena besarnya sumbangsih urang rantau untuk membangun kembali negeri. Yang meninggal karena terhimpit bangunan dan tertimbun bukit-bukit diikhlaskan saja, kepentingan orang yang masih hidup harus diprioritaskan. Negeri harus dibangun kembali.
2 tanggapan so far ↓
jepri // 10 Oktober 2009 pada 16:12 |
saya orang padang di daerah kampung ladang, tolong beri tahu keadaan saudara saya, dan poto rumah saudara saya di kampug ladang, dan berilah dia bantuan.
pembaca // 15 Oktober 2009 pada 11:56 |
Sebagai informasi, tabot selain di Pariaman juga ada di Bengkulu, tiap ada acaranya rame banget..