Hari-hari ini hingga seminggu ke depan adalah hari yang menegangkan bagi para pejabat dan politisi. Mereka H2C alias harap-harap cemas menanti panggilan telepon dari Puri Cikeas, kediaman SBY itu, siapa tahu diminta oleh SBY menjadi pembantunya (baca:menteri). Siapa saja pengidap H2C itu? Mereka adalah para rektor perguruan tinggi, politisi parlemen, politisi partai, pejabat departemen, gubernur, bupati, ilmuwan, pengusaha, bahkan para menteri yang masih menjabat hingga saat-saat terakhir di bulan Oktober ini. Di ITB ada rumor bahwa Pak Joko, rektor ITB sekarang, tidak mencalonkan diri lagi menjadi rektor yang baru, jangan-jangan karena ada sinyal menjadi menteri. Entahlah, namanya juga gosip.
Ada ratusan nama yang beredar di media massa yang disebut-sebut menjadi calon menteri, sementara pos menteri hanya ada 24 hingga 30 orang saja. Tentu ada “persaingan sengit” di antara mereka untuk dipilih SBY menjadi menteri. Dari ratusan nama itu, sebagian dari mereka ada yang merasa tersanjung namanya digadang-gadang menjadi menteri. Mereka inilah yang sport jantung alias stres menunggu kabar dari Cikeas. Kalau tidak terpilih padahal digembar-gemborkan bakal terpilih, tentu malu juga awak jadinya.
Memangnya jadi menteri itu enak sehingga menjadi “buruan” banyak kalangan? Kalau saya diminta SBY (mimpi kali, dikenal juga tidak) saya juga tidak akan dan tidak pernah mau. Tidak mau karena tidak mampu. Enakan begini saja, jadi dosen, bisa datang ke kampus kapan saja saya mau, mau siang boleh, mau sore boleh. Awalnya jadi menteri itu memang enak, badan terasa melambung karena begitu tersanjung, ucapan selamat datang dari sana-sini, bayangan gaji tinggi dan segudang fasilitas siap menanti. Tetapi, lihatlah ke depan, segunung beban dan tanggung jawab siap diletakkan ke punggung menteri itu. Kalau tidak cakap, maka hujatan, kritikan, dan cacian dari media massa dan para kritisi harus siap dihadapi. Belum lagi rongrongan dari partainya untuk menyetor dana buat kelangsungan hidup partai. Beberapa kementrian yang “basah” dan menaungi banyak BUMN adalah lahan rebutan karena dari situ duit mengalir ke kocek partai. Jadi, kalau tidak cakap dan tidak kuat iman, jangan bermimpi deh jadi menteri.
Okelah, bagi yang masih berharap dan kebelet jadi menteri, jangan matikan HP, blackberry, blueberry (eh salah, ini mah nama buah), telepon rumah, email, Yahoo Messenger, bahkan Facebook, Plurk, dan Twitter. Siagakan terus HP, larang pembantu atau anak menggunakan telelpon rumah sebab khawatir ada panggilan yang gagal masuk kalau telepon rumah digunakan, cek secara periodik inbox email anda, aktifkan YM terus menerus 24 jam, selalu cek status di Plurk dan Twitter, jangan lupa simak setiap pesan di Fesbuk. Siapa tahu SBY atau stafnya akan menghubungi anda pada tengah malam melalui salah satu perangkat itu.
7 tanggapan so far ↓
Firda Fauzan // 13 Oktober 2009 pada 13:32 |
Kalo bapak, apakah sudah menitipkan CV ke Cikeas ? Saya dengar dari berita kemarin sore banyak tumpukan CV yang dititipkan
rinaldimunir // 13 Oktober 2009 pada 13:40 |
@Firda Fauzan: kata Pak Pos, jalur kiriman ke Cikeas ditutup karena sudah overload, jadi nggak bisa kirim CV ke SBY deh, he..he..
yaniwid // 13 Oktober 2009 pada 13:57 |
Pak SBY periksa CV-nya gimana ya ??
anikeren // 13 Oktober 2009 pada 17:48 |
@yaniwid, pakek algoritma buble sort kali ya. Yang paling gemuk di atas
anikeren // 13 Oktober 2009 pada 17:51 |
Pak Rin, saya rasa bagi kebanyakan mereka yang dilihat bukanlah tumpukuan beban dan tugas yang menggunung. Tetapi popularitas dan kekuasaan “mengendalikan” anggaran departemen. Ada juga sih beberapa yang idealis. Salah satunya yang saya lihat (menteri sekarang), p AD Menpora.
Bodrox // 13 Oktober 2009 pada 20:06 |
Pembokat presiden lebih enak mungkin daripada jadi pembokat di tanah malaysia.
Rindu // 14 Oktober 2009 pada 17:51 |
Saya dari sejak kemarin duduk manis, menunggu telp dari cikeas karena dosen pembimbing saya tinggal disana
nunggu jadwal bimbingan maksudnya.