Barangkali isu ini sudah agak basi dan sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Seperti yang anda ketahui, pemilihan Putri Indonesia, yang katanya merupakan ajang menuju pemilihan Miss Universe, meninggalkan sejumlah kontroversi. Masalahnya terletak pada pernyataan Qory Sandioriva, putri yang mengaku mewakili daerah Aceh dan terpilih sebagai pemenang, pada malam final. Dia menjawab pertanyaan MC kenapa dirinya tidak mengenalkan jilbab seperti wakil-wakil Aceh tahun sebelumnya. Qory menjawab bahwa dia sudah meminta izin kepada tokoh ulama dan Gubernur Aceh untuk tidak memakai jilbab, juga sudah minta izin kepada Meutia Hatta, Menteri urusan peranan wanita, untuk tidak berjilbab pada acara itu, seolah-olah orang-orang itu mempunyai hak untuk mengambil alih peran Tuhan dalam hukum agama.
Sehari-harinya Qory memang tidak berjilbab, dan orang-orang memang tidak mempersoalkan hal itu. Memakai jilbab atau tidak adalah urusan hati nurani dan keimanan seseorang, jadi tidak bisa dipaksa. Hak Qory ikut pemilihan kontes putri-putrian itu dan orang lain tidak berhak pula untuk melarangnya. Masalahnya karena dia mengatasnamakan rakyat Aceh dalam kontes ratu-ratuan ini, namun dia tidak berpenampilan yang menunjukkan identitas sebagai orang Aceh yang sesuai dengan syariat Islam (menutup aurat). Kita semua tahu Aceh mempunyai kultur sendiri yang berbeda dengan daerah lainnya, yaitu kultur islami. Sebagai daerah yang mempunyai otonomi khusus dengan penerapan syariat Islam, “ulah” Qory memancing reaksi keras orang-orang di Aceh, apalagi Qory pada malam itu memakai busana yang menampakkan sebagian auratnya yaitu bagian dada yang seharusnya tidak boleh dilihat.
Sekarang kontoversi soal Qory itu sudah mulai mereda seiring dengan berjalannya waktu dan orang-orang pun sudah mulai melupakan masalah ini. Namun, tetap ada yang tersisa dan tetap menarik untuk diulas. Qory meminta izin kepada orang-orang penting untuk tidak berbusana muslimah (baca: jilbab). Qory merasa orang-orang itu memiliki otoritas memberi izin mengenai hukum agama, bukan Allah SWT Sang Pemilik Hukum. Orang-orang penting itu menjadi “wakil” Tuhan untuk mengeluarkan izin bagi Qory.
Dipastikan Qory akan ikut kontes ratu sejagad tahun depan. Pemilihan ratu-ratuan ini diperkirakan akan menimbulkan kontroversi baru lagi nanti karena ada keharusan para peserta kontes untuk memakai bikini pada salah satu sesi penilaian. Kita semua tahu bahwa yang selalu menimbulkan pro kontra dalam kontes ratu sejagad itu adalah soal penampilan gadis Indonesia berbikini itu. Tahun depan pro kontra akan lebih heboh karena yang tampil dari Indonesia adalah gadis yang mengaku dari Aceh yang menjunjung syarit Islam. Apakah Qory nanti juga akan meminta izin kepada ulama Aceh atau orang-orang penting itu untuk memakai bikini? Jika kemaren meminta izin untuk tidak berjilbab, nanti akan minta izin untuk lepas baju alias (maaf) semi telanjang di hadapan publik. Astaghfirullah, jika begitu yang terjadi nanti betapa besar dosa Qory dan orang-orang penting yang memberi izin itu nanti jika dia nekat maju dengan bikini untuk memperlihatkan auratnya kepada jutaan orang di seluruh dunia. Ini akan menjadi tamparan keras bagi orang Aceh, nih ada wanita yang mengaku dari Aceh negeri Serambi Mekah berani berbusana minim di hadapan banyak orang. Gelar ratu dunia tidak akan didapat (tidak akan mungkin gadis Indonesia bisa menang di ajang itu, ada semacam permainan untuk selalu memenangkan gadis latino), dosa bertambah pula.
Akan lebih baik bagi Qory untuk membatalkan keikutsertaannya di ajang kontes ratu sejagat tahun depan, sebelum timbul masalah baru lagi nanti. Kalau dia peka maka seharusnya dia tidak meneruskan langkahnya. Kita sudah lelah dengan berbagai kontroversi di negara ini, janganlah ditambah dengan kontroversi baru yang menghabiskan energi bangsa. Mudah-mudahan apa yang dilakukan Qory saat ini adalah karena keawaman dia dalam pengetahuan agama. Kepada orangtuanya yang memberi izin kepada putrinya untuk pamer aurat, cepatlah bertobat kepada Allah SWT karena dukungan yang kalian berikan kepada Qory itu hanya menambah dosa saja.
7 tanggapan so far ↓
ady w // 21 Oktober 2009 pada 10:19 |
konon kesehariannya emang gak pake jilbab, jadi gak terlalu mengherankan. sama tidak mengherankannya dengan artis dari aceh seperti cut tari, cut keke, walau dari aceh kan gak selalu beragama islam dan atau menggunakan jilbab
saya // 21 Oktober 2009 pada 17:34 |
@adi w:
yg jd masalah bkn gak pake jilbabnya..penulis jg udah ngebahas hal itu,krn pke jilbab/ngga dan ikut kontes/ngga itu hak (atau kwajiban ya?) masing2 prempuan..
yg dipermasalahkan adl permintaan izinnya kpd org2 ‘penting’… dan klo sy gak salah denger Qory jg blg bhwa rambut itu adalah keindahan utk ditunjukkan blablabla..
ksian prempuan2 aceh,ko wakilnya ky bgitu..
kmrn udah minta ijin lepas jilbab..
trus akan minta ijin lepas baju..
nanti apalagi yg dilepas?? agama? (-.-!)
ady w // 21 Oktober 2009 pada 23:26 |
hehehehe, wah itu mah saya gak percaya, biasa lah gt2 bahasa2 menghadapi pers
Hidayat // 22 Oktober 2009 pada 16:40 |
Terima kasih, Pak Rinaldi, atas infonya. Jadi memunculkan beberapa komentar dari saya.
Pertama:
Semoga saja puteri “Aceh” ini tidak melakukan yang seperti Pak Rin sebutkan. Saya yakin kalau dia tetap maju dan bilang juga “sudah mendapat ijin” dari ulama Acah, kemungkinan besar dia akan mendapat salah satu penghargaan. Seperti saat puteri Palestina juga mengikuti ajang serupa.
Kedua:
Benar apa yang disampaikan oleh Pak Rinaldi, ulama tidak bisa menggantikan posisi Allah SWT dalam memberi ijin untuk menghalalkan yang haram. Kalau seperti itu, kita bisa dikategorikan menyembah ulama kita.
Ketiga:
Kita juga dilarang mencari kesalahan ulama. Ulama juga seorang manusia yang bisa khilaf. Ulama-ulama yang paham dengan agama pasti sepakat mengatakan ‘celakalah orang-orang yang mencari hukum dengan memanfaatkan kesalahan ulama’. Maksudnya, kalau ada ulama yang tidak menyetujui pendapat dia, dia akan mencari ulama lain sampai mendapatkan ulama yang menyetujui pendapat dia.
Keempat:
Tindakan seperti inilah yang disebut kesombongan. Kesombongan tidak berarti ‘bangga dengan kelebihan yang dimiliki’. Tetapi kesombongan adalah ‘karena memiliki kelebihan, kita menolak kebenaran’.
Semoga Allah SWT menjaga kita.
edicahyadi // 23 Oktober 2009 pada 13:00 |
Astaghfirulloh…selayaknya sebagai sesama saudara…mari kita sama-sama do’akan..semoga putri2an indonesia wakil aceh ini tidak ikut kontes miss universe…
Ita // 24 Oktober 2009 pada 14:30 |
@Ady, pertanyaan itu ditanyakan di panggung putri Indonesia, pas pembawa acaranya menanyakan “Selama ini kontestan dari Aceh selalu memakai jilbab, kenapa anda tidak”, terus si Qory bilang sudah meminta ijin ulama dan Pemda Aceh. Terus pas si Qory menang, dia bilang kur leb “Saya melepas jilbab, karena Rambut Indah saya kenapa harus ditutup2i” seperti itulah.. itulah yang membuat banyak muslimah bereaksi. Setelah ada kontroversi, dia bilang dia memang tidak memakai jilbab.. Ehmmm sebegitukah kualitasnya, baru mulai udah bikin kebohongan publik..
Lho kok disamakan sama Cut Tari-Cut Keke, beda dong.. Masalahnya disini Qory membawa bendera “Kontestan dari Aceh” yang merepresentasikan wakil Aceh dan ini ajang resmi. Kalau dia wakil dari daerah bukan Aceh, who care..
Dunia sudah mengenal Aceh sebagai salah satu daerah yang memberlakukan Syariah Law dan issue kontroversi ini sudah sampai ke luar, yang tentu saja akan menjadi pertanyaan besar bagi mereka. Tidak kah bencana Tsunami membuat mereka bertobat, ini kok malah mempermainkan hukum Allah.
Itu sisi kontroversialnya…
didi // 24 November 2009 pada 19:31 |
dunia banyak kecewa karena aceh menerapkan syariat islam setelah banyak sumbangan yang mengalir karena tsunami… ini akan berakibat buruk buat pariwisata aceh… sayang sekali banyak potensi wisata di aceh yang bagus padahal… harusnya seperti thailand dong.. ada salah satu provinsi yang muslimnya juga…tapi provinisi itu tetap ramai dikunjungi turis dari berbagai negara karena mereka open minded sperti masyarakat Bali.. agama jalan terus.. pariwisata tetep sukses… bukannya sedikit2 udah ditakut-takutin ama syariat… contoh lainnya adalah Malaysia..