Masih dalam rangkaian kunjungan pulang kampung ke Padang, saya sempatkan menjenguk bekas sekolah SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Padang. SMAN 1 Padang termasuk salah satu dari ratusan sekolah yang hancur atau rusak berat karena diayun-ayun oleh gempa tanggal 30 September yang lalu. Awal tahun lalu saya juga mengunjungi sekolah ini, cerita dan foto-fotonya dapat dibaca di sini. Sekarang, bandingkan kondisi sekolah ini dengan 9 bulan yang lalu, jauh sekali bedanya.
Memasuki halaman sekolah, saya tidak mengenal siapapun lagi di sana, baik guru-guru maupun karyawannya. Maklum sudah 24 tahun saya tinggalkan, para gurunya sudah pensiun atau sudah dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya berkeliling sekolah dan memotret bangunan-bangunan yang rusak. Dari luar sekilas sekolah ini aman-aman saja saja, seolah-olah tidak terkena gempa, tetapi jika melongok ke dalam barulah terlihat kerusakan parah akibat gempa. Secara umum gedung yang rusak adalah gedung peninggalan Belanda yang terrletak di sebelah kanan sehingga ruang-ruang kelasnya tidak bisa dipakai lagi, sementara gedung sebelah kiri yang terletak tidak mengalami kerusakan dan aman dipakai. Waktu itu saya lihat siswa-siswa sibuk mengerjakan soal UTS. Gedung lain yang rusak adalah gedung baru berlantai tiga yang bertetangga dengan SMA PGRI.
Berikut foto-fotonya:
1. Ruang kelas yang rusak parah

2. Lorong sekolah di gedung lama. Kesan dari luar tidak terlihat ada kerusakan, tapi jika kita menengok ke dalam ruangan kelas, alamaakk… pemandangan yang menyedihkan seperti gambar 1 di atas.

3. Bangunan baru berlantai tiga yang juga rusak parah


4. Karena banyak ruang kelas yang berbahaya jika digunakan kembali, maka siswa terpaksa belajar di dalam tenda-tenda bantuan UNICEF. Tenda-tenda itu didirikan di halaman sekolah dan di lapangan upacara. Gerah memang belajar di dalamnya, tapi mau bagaimana lagi. Perlu waktu lama untuk memperbaiki kembali sekolah yang rusak tanpa harus menghancurkan seluruhnya, karena bangunan sekolah ini cagar budaya yang dilindungi.


Sedih memang melihat sekolah kebanggaan saya dulu rusak parah oleh gempa, lebih sedih lagi menyakisikan kondisi siswanya yang belajar di bawah tenda. Mudah-mudahan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia tergerak membantu setelah membaca tulisan ini.
3 tanggapan so far ↓
Iman // 27 Oktober 2009 pada 12:41 |
Itu unicef tanggap sekali ya Pak, salut
indri // 1 November 2009 pada 18:45 |
sedih Pak, ngeliat kondisi SMANSA sekarang. Semoga cepat pulih. Banyak kenangan dibangunan peninggalan Belanda itu. ^_^
Terima kasih atas foto2 dan infonya Pak.
Irma Muliani Bakar // 1 November 2009 pada 20:43 |
Aslmkum.. Da.. Slm kenal, saya jg pernah pny pngalaman g tlupakan d gedung sekolah itu.. Gmana g, 7-8 jam mata pelajaran, slm 6hr smgu, 3th.. . O y, saya lulusan 96 Fis 1. Brarti sdh lbh 13th g msk SMANSA lg..
Skrg….( ) menyesal rasanya g s4 mampir k SMANSA wkt plg Lebaran kmrn pdhl pgn skali.