Minggu lalu, saat UTS di ITB, saya menyempatkan diri pulang ke Padang. Setelah gempa besar melanda Padang dan Pariaman 30 September yang lalu, saya ingin sekali pulang ke Padang, ingin melihat langsung dahsyatnya gempa bumi itu.
Keluar dari Bandara Minangkabau Padang, saya belum melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Hingga melewati Lubuk Buaya dan Tabing, rumah-rumah dan toko-toko di sepanjang jalan masih berdiri utuh. Hanya satu dua yang rusak. Tetapi ketika memasuki Jalan Khatib Sulaiman hingga Jalan Sudirman, barulah saya menyaksikan sendiri bangunan-bangunan yang ambruk, remuk redam, dan “patah pinggang” dihoyak gempa. Benar-benar mengerikan. Sebagian bangunan itu sudah ditutup dengan pagar seng, dan sebagian lagi sudah dibersihkan puing-puingnya.
Hari Sabtu saya menyusuri jalan-jalan yang bangunannya hondoh pondoh dilamun gempa bumi. Benar-benar mengerikan membayangkan gempa berskala 7,9 SR itu. Saya berjalan dari Jalan Sawahan hingga Simpang Haru. Lalu saya teruskan menuju area Pasar Raya, SMA 1 Padang, daerah Pondok (pecinan), Jalan Bundo Kandung, hingga Hotel Ambacang yang terkenal itu. Banyak bangunan yang rubuh atau rusak parah sehingga tidak bisa digunakan lagi.
Berikut foto-foto bangunan yang berhasil saya jepret dengan kamera ponsel:
1. Ruko-ruko di Jalan Sawahan (dekat rumah saya) yang ambruk dan “patah pinggang:


2. Masjid Muhammadiyah Simpang Haru yang sudah rata dengan tanah. Bangunan STM di belakangnya rusak sedang, sedangkan STIE di bagian kanannya “patah pinggang”.

3. Toko di Pasar Raya Padang yang ambruk

Aktivitas di Pasar Raya Padang yang menjadi kacau pasca gempa, mereka terpaksa berdagang di luar karena bangunan pasar sudah roboh.

4. Sentral Pasar Raya yang hancur dan tidak bisa digunakan lagi.

5. Sebagian bangunan hotel Ina Muara yang sudah doyong

6. Sebagian bangunan gereja yang hancur di Jalan Bundo Kanduang

Sekolah Yayasan Prayoga yang luluh lantak:

7. Hotel Bumi Minang yang rusak parah


8. Hotel Mariani yang porak poranda

9. Reruntuhan hotel Ambacang


10. Matahari Dept. Store yang tidak bisa dipakai lagi

11. Jembatan Siti Nurbaya di kampung Nias selamat dari gempa.

2 tanggapan so far ↓
Nirwan M Djanir // 27 Oktober 2009 pada 10:57 |
Sebab Gempa bumi akan berakibat kehancuran infrastruktur dimana-mana.
Kenapa terjadi gempa? karena terjadi pergesekan lempengan bumi.
Kenapa terjadi pergesekan lempengan bumi ? karena putaran bumi tidak lagi balance sehingga terjadi goncangan, akibat goncangan akan menimbulkan getaran dan getaran menimbulkan frekuensi dan frekuensi berinterferensi sehingga menggerakkan lempengan dalam perut bumi maka terjadilah gempa. Besar kecilnya gempa akan tergantung pada besarnya getaran akibat goncangan bumi.
(ingat bumi kita ini berputar pada porosnya yaitu kutub utara-selatan)
Kenapa terjadi goncangan bumi ? karena material penyeimbang putaran bumi yaitu gunung-gunung sudah banyak yang dirusak oleh tangan-tangan manusia yang serakah.
Apa dasarnya ?
Qur’an Surat An Nahl ayat 15 :
” Dan Dia menancapkan gunung dibumi supaya bumi ini tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”
Mungkin itu saja catatanku sanak, semoga kita semua sadar akan apa yang telah kita lakukan terhadap bumi ini.
Cuma yang perlu kami ingatkan kepada sanak saudara yang di Padang umumnya, waspadalah kerena begitu banyaknya lempeng bumi yang terdapat disekitar perairan lepas pantainya sehingga kemungkinan gempa akan sering terjadi.
Iman // 27 Oktober 2009 pada 12:42 |
Boleh dilihat kalau kontraktor nya sembrono atau dibangun asal-asalan. Mesjid pun luluh lantak dan gereja hanya “sebagian” saja yg hancur.