Setiap hari dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah saya selalu melewati Jalan Ahmad Yani di daerah Cicadas, Bandung. Di pinggir jalan ada penjaja awug beras yang ramai pembelinya. Awug Beras Cibeunying namanya.

Awug adalah jajanan khas Bandung yang terbuat dari tepung beras, kelapa, aroma daun pandan, dan gula merah. Mirip dengan kue putu, bedanya kalau putu dikukus di dalam potongan bambu kecil sedangkan awug dikukus di dalam wadah yang berbentuk gunungan lancip, mirip gunungan nasi tumpeng. Potongan gula merah dicampur sedemikian rupa sehingga berbentuk mozaik. Awug rasanya manis dan legit, lebih enak dimakan pada sore dan malam hari dalam keadaan masih panas.

Setiap sore pedagang awug ini mulai berjualan. Awug yang baru matang setelah dikukus langsung dipotong-potong dalam potongan kecil-kecil. Satu kotak yang berisi sepuluh potongan harganya Rp 5000. Satu buah awug yang berbentuk lancip itu habis dalam seketika karena pembeli umumnya membeli beberapa kotak.


Proses pembuatan awug: Seorang pekerja menyiapkan adonan awug. Ada tepung beras, ada gula merah yang sudah dihancurkan.

Pekerja lain mengukus awug di dalam cetakan yang berbentuk gunungan lancip:


Pedagang awug ini makin “ge-er” setelah kedai awugnya dikunjungi Pak Bondan Winarno dan masuk tipi dalam acara Wisata Kuliner. Sebagai bentuk kebangaaannya masuk tipi, maka di gerobak awugnya dipasang foto pedagang dengan Pak Bondan, begitu pula di bagian depan gerobaknya. Sepertinya kalau pedagang makanan dikunjungi Pak Bondan maka dagangannya menjadi laris.

Jajanan tradisionil akan selalu bertahan karena penggemarnya masih banyak. Saya salah satunya.
1 response so far ↓
Iwan S // 30 November 2009 pada 16:36 |
saya bener 2 terharu deh baca kisah anda di romantika kehidupan (kisah pedagang Ubie CiLembu) , jadi membuat hati saya lebih bersyukur dan insya Allah akan lebih memperhatikan orang 2 kurang mampu. Saya ucapkan terima kasih untuk anda.