Catatanku

Siapa Lagi yang Bisa Dipercaya?

4 November 2009 · & Komentar

Honesty is the foundation of services and the prerequisite for full realization of trust, fairness, respect and responsibility. Honesty begins with oneself and extends to others… (dikutip dari buku Komisi Pembelajaran ITB)

p4a5ee6c0cc14e_saya-cicak-berani-lawan-buayaKasus drama kriminalisiasi pimpinan KPK, Bibit dan Chandra, mencapai klimaksnya kemarin lewat “pengadilan rakyat” di di Mahkamah Konstitusi setelah diperdengarkan rekaman pembicaraan antara Anggodo (adik Anggoro, tersangka kasus korupsi) dengan para pejabat di Polri dan Kejaksaan Agung. Kasus ini membuat masyarakat semakin sinis kepada aparat penegak hukum. Hukum bisa dipermainkan oleh mereka, BAP bisa direkayasa dengan imbalan uang bermilyar-milyar dan mobil mahal dari orang kaya yang terjerat masalah hukum. Orang yang tidak bersalah dikorbankan supaya akal bulusnya tidak ketahuan. Tetapi, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan rapat kebusukan, akhirnya tercium juga. Itulah drama pertarungan cicak lawan buaya yang kita saksikan kemarin. Benar-benar menggemaskan sekaligus bikin geram.

Kasus ini juga menunjukkan betapa pejabat di negeri ini bisa diatur oleh para cukong. Para cukong alias pengusaha kaya yang terjerat masalah hukum tahu benar cara jitu untuk menggoda iman para pejabat itu. Gemerincingkan saja uang, maka mereka akan silau, silau, silau…., dan berhasillah para pejabat itu masuk ke dalam perangkap si pengusaha.

Siapa lagi yang bisa kita percaya ya? Polisi, jaksa, hakim, pengacara, sama saja kelakuannya, sama-sama mempermainkan hukum untuk kepentingan duniawi, mau menerima uang suap demi memuluskan perkara hukum para terdakwa. Memang tidak semua polisi, jaksa, hakim, pengacara itu mempunyai perilaku buruk seperti itu, masih banyak kok polisi yang baik, masih banyak yang jaksa yang jujur, masih banyak hakim yang lurus dan tetap amanah. Namun perilaku sebagian oknum merekalah yang membuat instansi mereka tercoreng. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Akibatnya citra penegak hukum terlihat sangat bobrok dimata masyarakat. Prilaku para oknum itu telah merusak institusi mereka sendiri dan membuat kepercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian dan kejaksaan semakin tipis. Jadi, kalau aparat yang dipercaya menegakkan hukum saja mempermainkan hukum dengan imbalan uang, kepada siapa lagi kita harus percaya?

Saya heran dengan para pejabat yang rela menggadaikan amanah yang disandangnya untuk kepentingan sesaat. Untuk apa uang haram bermilyar-milyar itu ya? Perut kita terbatas kapasitasnya. Sebanyak-banyaknya kita makan hanya sanggup 2 piring. Dibelikan puluhan rumah, apakah semua rumah itu ditinggali? Dibelikan banyak kendaraan, apakah semuanya dinaiki? Pergi meninggalkan dunia ini, hanya selembar kain kafan yang bisa dibawa ke alam kubur, harta yang banyak itu harus ditinggalkan karena tidak bisa ikut serta. Belum lagi di pengadilan Allah semua perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan. Tidak takutkah mereka dengan kehidupan sesudah mati, tidak takutkah mereka dengan siksa api neraka yang menyala-nyala karena telah memperoleh uang secara haram?

Lagu lama selalu benar: harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang membuat silau mata manusia. Karena tiga hal itu manusia bisa jatuh binasa, karena tiga “ta” itu manusia rela menggadaikan imannya.

Kategori: Indonesiaku

4 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar