Ismail atau Ishaq yang “Disembelih” oleh Nabi Ibrahim?

Hari Raya Idul Adha sudah lewat satu hari. Tidak ada salahnya kita mengenang kembali peristiwa ribuan tahun yang lampau, ketika Nabi Ibrahim a.s melalui mimpinya diminta oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya yang sangat dia sayangi. Nabi Ibrahim memiliki 2 orang anak dari dua istri yang berbeda, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Pertanyaannya, siapa yang disembelih oleh Ibrahim? Apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq?

Seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim adalah bapak dari 3 agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dari keturunannya melahirkan para nabi. Dari keturunan Ishaq lahir Nabi Musa dan Nabi Isa, dan dari keturunan Ismail lahir Nabi Muhammad. Karena itu, tidak heran jika kisah penyembelihan oleh Ibrahim (Abraham) juga terdapat di dalam kitab Perjanjian Lama yang diyakini sebagai (salah satu) kitab suci agama Yahudi dan Nasrani. Hanya saja, di dalam Kitab Perjanjian Lama dengan tegas disebutkan bahwa putera Ibrahim yang disembelih itu adalah Ishak(q).

Dikutip dari tulisan ini, berbeda dengan Kitab Perjanjian Lama, Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Sebagian besar para ahli tafsir meyakini — sebagaimana yang diyakini oleh hampir semua umat Islam — bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Namun, pendapat yang menyatakan bahwa Ishaq yang disembelih juga tidak bisa dikesampingkan. Siapapun yang disembelih, peritiwa ini menunjukkan betapa Allah SWT menguji Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra yang sangat dia kasihi. Pada akhirnya memang tidak terjadi penyembelihan anak manusia, karena Allah SWT menggantinya dengan qibas (semacam domba) sebagai bukti pengorbanan Nabi Ibrahim a.s dan sebagai bukti Nabi Ibrahim beriman kepada-Nya.

Di bawah ini saya kutip semua tulisan yang saya baca sebagai referensi tulisan ini. Sumbernya adalah pranala yang tadi saya sebutkan.

Drama Qurban: Ismail atau Ishaq?

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq? Sementara dalam hadis dan pendapat sahabat dan tabiin ada yang menyebutkan Ismail ada pula menyebut Ishaq.

Dalam kitab-kitab tafsir juga ada yang menyebut Ismail dan lainnya menyebut Ishaq. Dalam dunia Islam yang masyhur disembelih ialah Ismail sedangkan di dunia Yahudi dan dalam Kitab Perjanjian Lama tegas-tegas disebutkan yang disembelih ialah Ishaq.

Ayat yang berbicara khusus tentang kasus penyembelihan putra nabi Ibrahim ialah QS Al-Shaffat [37]:102-105. Ayat ini mengisahkan bahwa ketika putranya telah mencapai umur baligh, Ibrahim AS bermimpi mendapat perintah untuk menyembelihnya. Ketika itu, anaknya belumlah menjadi seorang nabi. An-Nasafi dan Ibnu Katsir mencatat bahwa putranya kala itu berumur 13 tahun.

Setidaknya, ada beberapa nama sahabat yang meriwayatkan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Sahabat-sahabat tersebut adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Abu at-Thufail ‘Amir bin Watsilah.

Adapun pendapat kedua yang menyebut Ishaq yang disembelih juga diriwayatkan oleh beberapa sahabat, yaitu: ‘Umar bin Khathab, Jabir, al-’Abbas, dan Ka’ab al-Akhbar. Dalam hal ini, sederet mufassir seperti Wahbah az-Zuhaili, ar-Razi, at-Thabrisi, Thabathabai, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Thabathabai, an-Nasafi, Sa’id Hawa’, Thahir ibnu ‘Asyur dan selainnya menguatkan pendapat pertama.

Ada beberapa argumentasi yang dipaparkan untuk mendukung pendapat pertama itu, yaitu:

Pertama, anak yang menggembirakan Ibrahim untuk pertama kali atas kelahirannya adalah Ismail. Adapun Ishaq lahir setelah Ismail. Dengan demikian, Ismail adalah anak tertua dan yang disembelih. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Ismail dilahirkan, Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan sewaktu Ishaq lahir, Ibrahim berumur 99 tahun.

Kedua, riwayat dari al-Hakim dalam al-Manaqib yang menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: saya adalah keturunan orang yang disembelih yaitu Ismail yang kemudian lahir Nabi Muhammad melalui jalur Abdullah.

Ketiga, riwayat dari al-Ashma’i bahwa Ismail yang berada di Makkah dan Ishaq tidak pernah di sana. Ismail membangun Ka’bah bersama ayahnya, Ibrahim.

Keempat, Allah menyifati Ismail dengan as-shabr (sabar), sedangkan Ishaq tidak demikian, sebagaimana tertera dalam QS Al-Anbiya’ [21]:85, ”Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli, semua mereka termasuk orang-orang sabar.”

Adapun pendukung pendapat kedua bahwa Ishaq yang disembelih mengajukan beberapa alasan, yaitu:

Pertama, pada ayat QS As-Shaffat [37]:99 disebutkan, ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Maksudnya ialah Ibrahim berhijrah dari negeri kaum yang telah menyakitinya lantaran fanatik terhadap sesembahan-sesembahan yang berupa patung dan atas kekufuran kepada Allah dan kedustaan pada rasul-rasul-Nya.

Ibrahim hijrah ke Syam. Di sana ia berdoa agar dianugerahi seorang anak saleh yang dapat memotivasinya untuk senantiasa taat kepada Allah. Untuk itu, Allah menggembirakannya dengan seorang anak yang sangat sabar. Anak tersebut, menurut mereka, adalah Ishaq.

Kedua, tulisan Ya’qub ke Yusuf, ”Dari Ya’qub Israil Nabi Allah putra Ishaq yang disembelih Allah putra Ibrahim Khalilullah.”

Ketiga, sebuah riwayat shahih yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seseorang berkata kepadanya: ”Wahai anak orang tua yang mulia.” Abdullah bin Mas’ud berkata: Orang itu adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq sembelihan Allah bin Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam. (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, Juz XXIII, h. 126).

Perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah perintah ujian, bukan tasyri’ yang dimaksudkan untuk dilihat kesungguhan orang yang diuji dan meneguhkan ketinggian martabatnya dalam menaati Allah. Perintah tersebut diperoleh melalui mimpi.

Lazim diketahui bahwa mimpi para nabi merupakan wahyu. Adapun hikmah adanya semacam ‘musyawarah’ yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya seputar mimpinya itu adalah untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketabahan putranya tersebut dalam menaati perintah Allah.

Dan hikmah terjadinya perintah ini dalam mimpi dan tidak dalam keadaan tersadar atau terbangun bisa dijelaskan dari beberapa sudut pandang, yaitu:

Pertama, perintah ini sangatlah sulit di sisi si penyembelih dan yang disembelih, sehingga dihadirkan dalam mimpi selama tiga malam sebelum dikuatkan dalam kondisi sadar. Dengan demikian, perintah itu tidak langsung diyakini sekaligus tetapi sedikit demi sedikit.

Kedua, Allah menjadikan mimpi para nabi sebagai sebuah kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Alquran seperti mimpi Yusuf, Ibrahim, dan Muhammad. Maksud dari mimpi tersebut adalah untuk menegaskan akan kebenaran mereka.

Pasalnya, kondisi yang dialami oleh setiap insan–pada umumnya–adalah tertidur atau tidak tertidur. Jika kedua kondisi tersebut menunjukkan kebenaran, maka itu menjadi bukti nyata bahwa mereka adalah benar dan jujur di setiap keadaannya.

Dari satu sudut pandang, referensi syariah terhadap penyembelihan adalah mimpi. Hanya saja mimpi para nabi pada umumnya benar, apalagi sudah dilegitimasi dalam bentuk wahyu Alquran. Yang dipegang adalah ayatnya, bukan asal-usulnya dari mimpi.

Ketika Nabi Ibrahim berusaha untuk menyembelih anak kesayangannya (Ismail atau Ishaq) akhirnya juga tidak bisa dilaksanakan karena ketajaman pisau tidak sanggup melukai kulit leher anaknya. Akhirnya, malaikat diutus untuk mengganti sembelihan Ibrahim dari putranya ke dalam bentuk seekor kambing.

Dengan demikian, peristiwa hari raya Idul Adha atau Idul Kurban merupakan simbol penghargaan jiwa manusia yang ditebus dengan seekor binatang. Makna simbolik lain yang bisa kita pahami dari peristiwa ini ialah kesediaan seseorang untuk mengurbankan sesuatu yang paling berharga baginya.

Bagi Nabi Ibrahim, putra gantengnya yang sudah lama didoakan keberadaannya diminta untuk dikorbankan pada jalan Allah dan dia pun bersedia dan sudah melaksanakan perintah itu. Bagi kita, boleh jadi sesuatu yang paling kita cintai adalah harta kekayaan, semisal deposito, rumah mewah, dan kekayaan lainnya. Sudahkah kita bersedia melepaskan itu semua ke jalan Allah?

& Komentar

  1. petra berkata,

    28 November 2009 pada 19:27

    yang akhirnya disembelih domba bukan yah :D

  2. Catra berkata,

    28 November 2009 pada 22:47

    akhirnya ismail atau ishaq tergantikan oleh domba pak :mrgreen:

  3. generasimuda berkata,

    29 November 2009 pada 11:01

    ass..
    ngak masalah mengenai siapa yang disembelih, yang penting kita harus mengagumi sikap nabi Ibrahim yang dengan keta’tan penuh menjalankan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, skrang yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan kita

    “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214)

  4. rinaldimunir berkata,

    30 November 2009 pada 12:54

    @petra dan catra (sama-sama “tra”): benar sekali, akhirnya yang disembelih adalah seekor kambing.

  5. riantyw berkata,

    3 Desember 2009 pada 03:21

    adakah hikmahnya al quran tidak mencantumkan secara detail siapa yang disembelih, sementara injil menyebutkan dengan jelas: ishak. oleh orang yang ingin mengambil hikmah, siapa yang disembelih tidak penting.
    tetapi para misionaris menggunakan ini sebagai bukti bahwa quran membingungkan, tidak detail, sementara injil detail. padahal detail di injil juga saling kontradiktif satu sama lain. orang yahudi menggunakan ini sebagai bukti bahwa keturunan ishak adalah bangsa pilihan, peraih nobel, dokter terhebat, dll; sementara keturunan ismail hanya budak arab yang kebetulan punya minyak. di lain pihak para atheis mengambil jalan pintas : ngapain berantem urusan kambing, tanpa tuhan saya pun bisa berbuat baik.

  6. rinaldimunir berkata,

    8 Desember 2009 pada 15:20

    Terkait artikel yang ditulis oleh Prof. Nazarudin Umar itu, berikut ini ada tanggapan dan bantahan pembaca di koran Republika.

    Sabtu, 05 Desember 2009 pukul 08:50:00
    Ismail atau Ishak Sudah Jelas

    Masalah siapa putra kurban Nabi Ibrahim, Prof Nazaruddin Umar mengutarakan bahwa Alquran tidak tegas menjelaskan apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishak, sehingga ada dua pendapat yang berbeda. (Republika, 26 November 2009, ”Drama Qurban”).

    Kalau kita membaca hanya sepotong ayat Alquran (surat Ashshoffat ayat 99-110), memang bisa tidak jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih, tetapi kalau kita membaca Alquran lebih lanjut akan jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih Nabi Ibrahim. Ayat-ayat tersebut adalah ayat 111 dan 113 surat Ashshoffat sebagai berikut:

    ”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku yang termasuk orang-orang yang saleh (100). Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (101). Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.

    Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (103). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105).

    Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian (108), “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (109).Kalau kita berhenti hanya sampai ayat tersebut, memang tidak jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih. Ayat ini perlu diteruskan dengan tiga atau dua ayat berikut, yaitu:

    Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman (111). Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (112). Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (113).
    Dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa Nabi Ishak lahir setelah peristiwa ‘penyembelihan’, jadi jelas bahwa yang diperintahkan untuk disembelih bukan Nabi Ishak.

    Gagoes Soerachmat
    Jl Perhubungan 7/45
    Rawamangun-Jakarta

    http://www.republika.co.id/koran/29/93680/Ismail_atau_Ishak_Sudah_Jelas

  7. eddyson berkata,

    19 Desember 2009 pada 02:15

    di dlm ayat 112 itu di katakan”Kami beri dia kabar gembira dgn Ishag seorang nabi yg termasuk orang orang saleh”
    Jadi kalau Ishak lahir setelah penyembelehan,knp Allah/malaikatnya sdh lebih dulu memberi nama anak yg telah dijanjikan? Apa karena tidak ada yg MUSTAHIL bagi ALLAH ?

    di ayat 113 “Kami limpahkan keberkatan atasnya(ini tidak jelas,ibrahim atau ismail) dan ishak……..
    jd klu menurut kutipan di atas maka timbul pertanyaan… knp IBRAHIM dan ISHAK sangat jelas disebutkan untuk di berkati sedangkan menurut kutipan di atas IBRAHIM sayang dengan ISMAIL,tetapi tidak ada kutipan utk diberkati juga?
    Menurut TAURAT,IBRAHIM memiliki 2 anak,Ismail dari Hagar,hamba Sarah istri dr Ibrahim. Ishak dari Sarah yg merupakan istri dr Ibrahim.jd klau kita pikirkan lebih besar mana kasih sayang dan cinta dr Ibrahim kepada Ismail atau Ishak?
    Jd klu secara logika manusia maka akan di jawab lebih sayang anak dari istri yg sah dari pada anak dari seorang hamba.
    Maka kita dapat menyimpulkan kebenaran dan kenyataanya,dengan ilmu hikmat akalbudi dan logika,mana yg cuman menurut cerita dan mana yg bisa di buktikan dengan segala ilmu atau logikayg ada di bumiini.
    Trims… SALAM DAMAI.

  8. dafit berkata,

    22 Februari 2010 pada 11:43

    sebagian ahli agama sekarang bikin artikelnya rumit2, susah dipahami, tak menyentuh hati. isinya cuman mencerminkan bahwa ia tahu pendapat si a, pendapat si b, si c dll.

  9. dafit berkata,

    22 Februari 2010 pada 12:03

    seharusnya seorang prof ahli agama bs menelusuri siapa yg disembelih dgn melakukan penelitian ilmiah. kesimpulan yg menyatakan bahwa AL QUR’AN tidak tegas adalah kesimpulan yg tak dapat diterima


Tulis sebuah Komentar