Hari Raya Idul Adha sudah lewat satu hari. Tidak ada salahnya kita mengenang kembali peristiwa ribuan tahun yang lampau, ketika Nabi Ibrahim a.s melalui mimpinya diminta oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya yang sangat dia sayangi. Nabi Ibrahim memiliki 2 orang anak dari dua istri yang berbeda, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Pertanyaannya, siapa yang disembelih oleh Ibrahim? Apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq?
Seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim adalah bapak dari 3 agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dari keturunannya melahirkan para nabi. Dari keturunan Ishaq lahir Nabi Musa dan Nabi Isa, dan dari keturunan Ismail lahir Nabi Muhammad. Karena itu, tidak heran jika kisah penyembelihan oleh Ibrahim (Abraham) juga terdapat di dalam kitab Perjanjian Lama yang diyakini sebagai (salah satu) kitab suci agama Yahudi dan Nasrani. Hanya saja, di dalam Kitab Perjanjian Lama dengan tegas disebutkan bahwa putera Ibrahim yang disembelih itu adalah Ishak(q).
Dikutip dari tulisan ini, berbeda dengan Kitab Perjanjian Lama, Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Sebagian besar para ahli tafsir meyakini — sebagaimana yang diyakini oleh hampir semua umat Islam — bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Namun, pendapat yang menyatakan bahwa Ishaq yang disembelih juga tidak bisa dikesampingkan. Siapapun yang disembelih, peritiwa ini menunjukkan betapa Allah SWT menguji Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra yang sangat dia kasihi. Pada akhirnya memang tidak terjadi penyembelihan anak manusia, karena Allah SWT menggantinya dengan qibas (semacam domba) sebagai bukti pengorbanan Nabi Ibrahim a.s dan sebagai bukti Nabi Ibrahim beriman kepada-Nya.
Di bawah ini saya kutip semua tulisan yang saya baca sebagai referensi tulisan ini. Sumbernya adalah pranala yang tadi saya sebutkan.
Drama Qurban: Ismail atau Ishaq?
Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar
Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq? Sementara dalam hadis dan pendapat sahabat dan tabiin ada yang menyebutkan Ismail ada pula menyebut Ishaq.
Dalam kitab-kitab tafsir juga ada yang menyebut Ismail dan lainnya menyebut Ishaq. Dalam dunia Islam yang masyhur disembelih ialah Ismail sedangkan di dunia Yahudi dan dalam Kitab Perjanjian Lama tegas-tegas disebutkan yang disembelih ialah Ishaq.
Ayat yang berbicara khusus tentang kasus penyembelihan putra nabi Ibrahim ialah QS Al-Shaffat [37]:102-105. Ayat ini mengisahkan bahwa ketika putranya telah mencapai umur baligh, Ibrahim AS bermimpi mendapat perintah untuk menyembelihnya. Ketika itu, anaknya belumlah menjadi seorang nabi. An-Nasafi dan Ibnu Katsir mencatat bahwa putranya kala itu berumur 13 tahun.
Setidaknya, ada beberapa nama sahabat yang meriwayatkan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Sahabat-sahabat tersebut adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Abu at-Thufail ‘Amir bin Watsilah.
Adapun pendapat kedua yang menyebut Ishaq yang disembelih juga diriwayatkan oleh beberapa sahabat, yaitu: ‘Umar bin Khathab, Jabir, al-’Abbas, dan Ka’ab al-Akhbar. Dalam hal ini, sederet mufassir seperti Wahbah az-Zuhaili, ar-Razi, at-Thabrisi, Thabathabai, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Thabathabai, an-Nasafi, Sa’id Hawa’, Thahir ibnu ‘Asyur dan selainnya menguatkan pendapat pertama.
Ada beberapa argumentasi yang dipaparkan untuk mendukung pendapat pertama itu, yaitu:
Pertama, anak yang menggembirakan Ibrahim untuk pertama kali atas kelahirannya adalah Ismail. Adapun Ishaq lahir setelah Ismail. Dengan demikian, Ismail adalah anak tertua dan yang disembelih. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Ismail dilahirkan, Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan sewaktu Ishaq lahir, Ibrahim berumur 99 tahun.
Kedua, riwayat dari al-Hakim dalam al-Manaqib yang menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: saya adalah keturunan orang yang disembelih yaitu Ismail yang kemudian lahir Nabi Muhammad melalui jalur Abdullah.
Ketiga, riwayat dari al-Ashma’i bahwa Ismail yang berada di Makkah dan Ishaq tidak pernah di sana. Ismail membangun Ka’bah bersama ayahnya, Ibrahim.
Keempat, Allah menyifati Ismail dengan as-shabr (sabar), sedangkan Ishaq tidak demikian, sebagaimana tertera dalam QS Al-Anbiya’ [21]:85, ”Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli, semua mereka termasuk orang-orang sabar.”
Adapun pendukung pendapat kedua bahwa Ishaq yang disembelih mengajukan beberapa alasan, yaitu:
Pertama, pada ayat QS As-Shaffat [37]:99 disebutkan, ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Maksudnya ialah Ibrahim berhijrah dari negeri kaum yang telah menyakitinya lantaran fanatik terhadap sesembahan-sesembahan yang berupa patung dan atas kekufuran kepada Allah dan kedustaan pada rasul-rasul-Nya.
Ibrahim hijrah ke Syam. Di sana ia berdoa agar dianugerahi seorang anak saleh yang dapat memotivasinya untuk senantiasa taat kepada Allah. Untuk itu, Allah menggembirakannya dengan seorang anak yang sangat sabar. Anak tersebut, menurut mereka, adalah Ishaq.
Kedua, tulisan Ya’qub ke Yusuf, ”Dari Ya’qub Israil Nabi Allah putra Ishaq yang disembelih Allah putra Ibrahim Khalilullah.”
Ketiga, sebuah riwayat shahih yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seseorang berkata kepadanya: ”Wahai anak orang tua yang mulia.” Abdullah bin Mas’ud berkata: Orang itu adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq sembelihan Allah bin Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam. (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, Juz XXIII, h. 126).
Perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah perintah ujian, bukan tasyri’ yang dimaksudkan untuk dilihat kesungguhan orang yang diuji dan meneguhkan ketinggian martabatnya dalam menaati Allah. Perintah tersebut diperoleh melalui mimpi.
Lazim diketahui bahwa mimpi para nabi merupakan wahyu. Adapun hikmah adanya semacam ‘musyawarah’ yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya seputar mimpinya itu adalah untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketabahan putranya tersebut dalam menaati perintah Allah.
Dan hikmah terjadinya perintah ini dalam mimpi dan tidak dalam keadaan tersadar atau terbangun bisa dijelaskan dari beberapa sudut pandang, yaitu:
Pertama, perintah ini sangatlah sulit di sisi si penyembelih dan yang disembelih, sehingga dihadirkan dalam mimpi selama tiga malam sebelum dikuatkan dalam kondisi sadar. Dengan demikian, perintah itu tidak langsung diyakini sekaligus tetapi sedikit demi sedikit.
Kedua, Allah menjadikan mimpi para nabi sebagai sebuah kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Alquran seperti mimpi Yusuf, Ibrahim, dan Muhammad. Maksud dari mimpi tersebut adalah untuk menegaskan akan kebenaran mereka.
Pasalnya, kondisi yang dialami oleh setiap insan–pada umumnya–adalah tertidur atau tidak tertidur. Jika kedua kondisi tersebut menunjukkan kebenaran, maka itu menjadi bukti nyata bahwa mereka adalah benar dan jujur di setiap keadaannya.
Dari satu sudut pandang, referensi syariah terhadap penyembelihan adalah mimpi. Hanya saja mimpi para nabi pada umumnya benar, apalagi sudah dilegitimasi dalam bentuk wahyu Alquran. Yang dipegang adalah ayatnya, bukan asal-usulnya dari mimpi.
Ketika Nabi Ibrahim berusaha untuk menyembelih anak kesayangannya (Ismail atau Ishaq) akhirnya juga tidak bisa dilaksanakan karena ketajaman pisau tidak sanggup melukai kulit leher anaknya. Akhirnya, malaikat diutus untuk mengganti sembelihan Ibrahim dari putranya ke dalam bentuk seekor kambing.
Dengan demikian, peristiwa hari raya Idul Adha atau Idul Kurban merupakan simbol penghargaan jiwa manusia yang ditebus dengan seekor binatang. Makna simbolik lain yang bisa kita pahami dari peristiwa ini ialah kesediaan seseorang untuk mengurbankan sesuatu yang paling berharga baginya.
Bagi Nabi Ibrahim, putra gantengnya yang sudah lama didoakan keberadaannya diminta untuk dikorbankan pada jalan Allah dan dia pun bersedia dan sudah melaksanakan perintah itu. Bagi kita, boleh jadi sesuatu yang paling kita cintai adalah harta kekayaan, semisal deposito, rumah mewah, dan kekayaan lainnya. Sudahkah kita bersedia melepaskan itu semua ke jalan Allah?
yang akhirnya disembelih domba bukan yah
akhirnya ismail atau ishaq tergantikan oleh domba pak
ass..
ngak masalah mengenai siapa yang disembelih, yang penting kita harus mengagumi sikap nabi Ibrahim yang dengan keta’tan penuh menjalankan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, skrang yang menjadi masalah adalah bagaimana dengan kita
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214)
Tapi orang kristen ngeselin bro, mereka masih memperdebatkan itu sama saya
biarin aja tuh orang kristen yg ngeyel…
mendingan koprol sama bilang wooowww gitu…
@petra dan catra (sama-sama “tra”): benar sekali, akhirnya yang disembelih adalah seekor kambing.
adakah hikmahnya al quran tidak mencantumkan secara detail siapa yang disembelih, sementara injil menyebutkan dengan jelas: ishak. oleh orang yang ingin mengambil hikmah, siapa yang disembelih tidak penting.
tetapi para misionaris menggunakan ini sebagai bukti bahwa quran membingungkan, tidak detail, sementara injil detail. padahal detail di injil juga saling kontradiktif satu sama lain. orang yahudi menggunakan ini sebagai bukti bahwa keturunan ishak adalah bangsa pilihan, peraih nobel, dokter terhebat, dll; sementara keturunan ismail hanya budak arab yang kebetulan punya minyak. di lain pihak para atheis mengambil jalan pintas : ngapain berantem urusan kambing, tanpa tuhan saya pun bisa berbuat baik.
Jelas Injil lebih dahulu dari Quran.Ibu Ismai,Hagar adalah pembantu/budak.Sementara ibu Ishak adalah istri yg sah.Karena kedegilan hati Abraham yg tidak sabar menunggu anak yang dijanjikan Allah,dikawininya lah si budak Hagar..
kalo udah di kasih contoh sama abraham kenapa tidak mau mengikutinya…
dasar bego…itulah ajaran dari injil yg tidak sempurna…
mendingan koprol sama bilang wooowww gitu…
he emang loe siapa berani2 nya bilang nabi Ibrahim degil hati… hati loe tu yg benar-benar degil gil gil…
Terkait artikel yang ditulis oleh Prof. Nazarudin Umar itu, berikut ini ada tanggapan dan bantahan pembaca di koran Republika.
Sabtu, 05 Desember 2009 pukul 08:50:00
Ismail atau Ishak Sudah Jelas
Masalah siapa putra kurban Nabi Ibrahim, Prof Nazaruddin Umar mengutarakan bahwa Alquran tidak tegas menjelaskan apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishak, sehingga ada dua pendapat yang berbeda. (Republika, 26 November 2009, ”Drama Qurban”).
Kalau kita membaca hanya sepotong ayat Alquran (surat Ashshoffat ayat 99-110), memang bisa tidak jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih, tetapi kalau kita membaca Alquran lebih lanjut akan jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih Nabi Ibrahim. Ayat-ayat tersebut adalah ayat 111 dan 113 surat Ashshoffat sebagai berikut:
”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku yang termasuk orang-orang yang saleh (100). Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (101). Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (103). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105).
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian (108), “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (109).Kalau kita berhenti hanya sampai ayat tersebut, memang tidak jelas siapa yang diperintahkan untuk disembelih. Ayat ini perlu diteruskan dengan tiga atau dua ayat berikut, yaitu:
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman (111). Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (112). Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (113).
Dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa Nabi Ishak lahir setelah peristiwa ‘penyembelihan’, jadi jelas bahwa yang diperintahkan untuk disembelih bukan Nabi Ishak.
Gagoes Soerachmat
Jl Perhubungan 7/45
Rawamangun-Jakarta
http://www.republika.co.id/koran/29/93680/Ismail_atau_Ishak_Sudah_Jelas
Siip saya setuju dengan bapak…
Al Quran adalah Petunjuk bagi orang Yang beriman…
Benar pak.. saya sangat setuju..
Saya tidak mau berkomentar terlalu banyak tentang al-kitab.. yang ayatnya berbunyi korbankanlah anakmu satu-satunya itu ishaq.. padahal di ayat lain al-kitab jelas, ismail lahir pada saat ibrahim berumur 86th dan ishaq saat ismail 100th..
apakah mungkin anakmu ishaq pernah menjadi anak tunggal.. atau ??
di dlm ayat 112 itu di katakan”Kami beri dia kabar gembira dgn Ishag seorang nabi yg termasuk orang orang saleh”
Jadi kalau Ishak lahir setelah penyembelehan,knp Allah/malaikatnya sdh lebih dulu memberi nama anak yg telah dijanjikan? Apa karena tidak ada yg MUSTAHIL bagi ALLAH ?
di ayat 113 “Kami limpahkan keberkatan atasnya(ini tidak jelas,ibrahim atau ismail) dan ishak……..
jd klu menurut kutipan di atas maka timbul pertanyaan… knp IBRAHIM dan ISHAK sangat jelas disebutkan untuk di berkati sedangkan menurut kutipan di atas IBRAHIM sayang dengan ISMAIL,tetapi tidak ada kutipan utk diberkati juga?
Menurut TAURAT,IBRAHIM memiliki 2 anak,Ismail dari Hagar,hamba Sarah istri dr Ibrahim. Ishak dari Sarah yg merupakan istri dr Ibrahim.jd klau kita pikirkan lebih besar mana kasih sayang dan cinta dr Ibrahim kepada Ismail atau Ishak?
Jd klu secara logika manusia maka akan di jawab lebih sayang anak dari istri yg sah dari pada anak dari seorang hamba.
Maka kita dapat menyimpulkan kebenaran dan kenyataanya,dengan ilmu hikmat akalbudi dan logika,mana yg cuman menurut cerita dan mana yg bisa di buktikan dengan segala ilmu atau logikayg ada di bumiini.
Trims… SALAM DAMAI.
pendapat ini tidak sesuai dengan topik pembicaraan, tentang siapa yang disembelih… masalah kasih sayang mah masalah lain… selama ada keturunan darah daging ya harus sama-sama di sayang … tul khan…
sebagian ahli agama sekarang bikin artikelnya rumit2, susah dipahami, tak menyentuh hati. isinya cuman mencerminkan bahwa ia tahu pendapat si a, pendapat si b, si c dll.
mas klo ahli agama anda katakan rumit dan tidak dapat diterima, gunakan alasan logis dan analitis untuk menyanggahnya…..krn jika memang dia bukan ahli agama,,,,pastinya dia tdk sembarangan berkomentar tanpa dasar dan analisa yg kongkret. jd sebagai manusia yg berpendidikan dan mempunyai ilmu, tidak bisa orang berargument tanpa didasari oleh analisa logis dan bukti empiris….klo org berargument sembarangan yg penting memakai “Pokoknya” itu jelas memberangus pola pikir kita sebagai manusia untuk mengungkapkan penalaran dan pemikiran
seharusnya seorang prof ahli agama bs menelusuri siapa yg disembelih dgn melakukan penelitian ilmiah. kesimpulan yg menyatakan bahwa AL QUR’AN tidak tegas adalah kesimpulan yg tak dapat diterima
Betul saya kecewa bila Bapak menyebut Al Quran tidak tegas..
Maaf mungkin bapak setengah-setengah untuk mencermatinya…
Profesor Filsafat suruh bedah Al-Quran ya repot..
waduh bingung lagi kan???? td kontradiktif antara ismail dan ishak……nah skrg kontradiktif juga korban sembelihnya Kambing atau domba…..krn jelas kambing atau domba itu berbeda……hikssss tp yg penting intinya adalah ketaatan pada Tuhan.
Mau Kambing kek..sapi kek..Yang Penting Dapet Daging Gratisss
mendingan koprol sama bilang wooowww gitu…
Prof. Nasaruddin terbius al-Maqdisi sehingga melupakan sikap kritisnya. Atau karena ia hanya berkutat masalah gender. Ia seharusnya mengaitkan bahwa pelemparan jumrah itu terkait dengan proses penyembelihan Ismail, karena secara fakta memang ada di wilayah sekitar Makkah sedangkan Ishak berada di luar Jazirah Arab, di Ka’an tepatnya. Oleh sebab itu, mengingat masalah tersebut terkait dengan haji (lempar jumrah) dan itu di wilayah Makkah, tidak dapat diragukan lagi bahwa yang akan dikurbankan tadinya adalah Ismail.
Saya sudah membandingkan tulisan Prof. Nasar dengan tulisan al-Maqdisi dengan judul, “Man al-Dzabih: Ismail am Ishaq”. Saya memastikan bahwa prof itu hanya memindahbahasakan saja tulisan orang yang selalu mencela Islam tersebut.
Al-Maqdisi memang mengutip sejumlah tafsir dan ucapan ulama salaf bahkan sahabat. Hadis pun tidak lupa untuk dikutip. Namun, karena nafsu untuk ‘memenangkan’ Ishak sudah begitu kuat ketika mngutip hadis lupa esensinya selain yang penting di situ disebut Ishaq. Salah satunya ketika hadias menyebutkan Ibrahim bersama Malaikat Jibril dalam perjalanan untuk menyembelih salah satu anaknya yang kemudian diformalkan dengan pelemparan jumrah. Melempar jumrah itu sangat terkait dengan ibadah haji di mana itu sudah berarti ada di tanah Mekkah. Dan yang ada di wilayah itu adalah Ismail. Bisakah orang yang tidak ada di wilayah itu disembelih di Mekkah, Mustahil professor. Oleh sebab itu, hadis itu sejatinya dikritisi dan kritik itu dimuat di artikelnya agar kebingungan tidak merasuki umat. Janganlah karna ada sahabat ulama salaf dan Ibn Khaldun kemudian larut oleh al-Maqdisi. Fungsi profesor kan berfikir bukan jadi pengikut buta.
Setuju pak, saya juga kecewa dengan profesor…..
1000 tahun sebelum adanya agama islam ishaklah yang di korbankan
saya orang islam cukup bersyukur kepada Allah swt
kisah Ibrahim didalam BIble banyak bohongnya, Untuk itu baca buku berikut ini;
http://www.scribd.com/doc/57426862/Kisah-Abraham-Yang-Tidak-Logis-Dalam-Bible
http://www.scribd.com/doc/27636052/Kupas-Tuntas-Kisah-Abraham-Dan-Ibrahim
SOK TAU ANDA SEMUA, YG DIKURBANKAN (disembelih) ABARAHAM BUKAN ISMAIL BUKAN JUGA ISHAK. TETAPI DOMBA JANTAN, BUKAN KAMBING BUKAN JUGA SAPI. JANGANLAH MAU DIMAININ IBLIS UNTUK SALING BERDEBAT, BUANG WAKTU DAN ENERGI
setuju, berbuat lah baik untuk semua orang.
Beginilah jadinya jika seseorang melihat sesuatu dari perspektif sempit, hanya melihat peristiwanya, tanpa melihat latar belakangnya. Ibrahim AS tidaklah berkurban jika bukan karena diperintah oleh Allah, dan Allah tidak pernah memerintahkan Ibrahim AS untuk mengurbankan/ menyembelih domba jantan, tapi menyembelih anaknya Ismail AS, dan Ibrahim AS serta Ismail AS menaati perintah tersebut. Adapun domba jantan dimaksud hanyalah kompensasi dari Allah atas ketaatan mereka berdua. Maka adalah SALAH jika menyatakan bahwa Ibrahim AS mengurbankan domba jantan. Pertanyaannya sekarang, siapa sih yang SOK TAU itu ?
mendingan koprol sama bilang wooowww gitu…
Yang benar allah swt menguji keimanan mreka dngn mmerintahkn dalam mimpi menyembelih ismail a.s,dan itu dibenarkan oleh baginda nabi ibrahim a.s,,dan ternyata keimanan mreka sngatlah kuat smpe2 ismailpun rela dismbelih demi tugas mulia sang bapak,,,stelah mengetahui keimanan mreka dan melihat kepasrahan mreka maka allah s.w.t mengganti ismail yg di pangkuanx dengan domba,,maka smakin bersyukur dan teballah iman mreka brdua,
Kalau yg dibeleh itu bener Ishaq pasti Yahudi pada memperingati tiap tahun,loh kok tidak soale pendahulu2 mereka lihat bahwa yg dibeleh itu Ismail.Kristen yg memakai Kitabnya Yahudi Perjanjian Lama yo akirnya tiru2 Yahudi.
Mas kalo bikin statement jangan tanpa bukti.. baca2 bible dulu lah.. ntar pasti tau siapa yang bohong (paulus in this case)
Mas Widjoyo, di katholik ada peringatan kurban Abraham juga tapi bukan dg sembelih binatang tapi kurban barang atau uang. Mas Widjoyo tolong di pahami urutan lahirnya kitab suci agama Samawi : Taurat, Injil dan Quran. Coba teliti banyak isi Quran beberapa mirip dengan isi Taurat. Seperti cerita ttg kurban Abraham ini ada juga di Taurat. Coba pikir mungkin tidak Quran mereferensi juga salah satunya ke kitab Taurat. Kenapa bisa lain Taurat bilang Ishak dan Quran bilang Ismail ? Apapun jawabnya saya tetap yakin Quran penulisannya ada mereferensi ke Tauratnya punya Israel Yahudi
Adalah keliru jika mengatakan bahwa “Quran penulisannya ada mereferensi ke Tauratnya punya Israel Yahudi”, karena Qur’an tidak merujuk kepada kitab apapun; Qur’an adalah firman Allah dalam bentuk tulisan. Adalah Allah yang berfirman dan atau bercerita kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, lalu firman Allah tersebut disebut ulang oleh Muhammad SAW, lalu didengar dan dihafal oleh banyak orang, yang pada suatu ketika diarsipkan dalam bentuk kitab, yakni Al Quran. Dalam mengisahkan sesuatu, Allah tidak perlu mereferensi kepada sesuatu, karena Ia Maha Tahu, Maha Benar dan mustahil keliru.
@ Sijabat, Kisah pengurbanan Ibrahim (Abraham) ini ada di perjanjian lama (Taurat) ditulis jaman Musa (Moses), Malaikat Jibril (Gabriel) itu juga ada di perjanjian lama juga perjanjian baru ditulis jaman Yesus (Isa). Apakah malaikat Jibril yang sama yang menceritakan / berfirman hal yang sama kepada nabi Muhammad ? Kisah Ibrahim ini adalah kisah bangsa Yahudi.
Kisah Ibrahim adalah kisah bangsa Yahudi, adalah statement yang kurang pas. Yang benar adalah : Bangsa Yahudi adalah keturunan Ibrahim melalui garis Ishaq, sedangkan bangsa Arab adalah keturunan Ibrahim melalui garis Ismail.
@ Sijabat. Anda benar Ishaq garisnya sampai Isa, Dan Ismael garisnya sampai Muhammad. Tapi kisah Ibrahim ini, terus lewat jalur Ishaq dan nabi nabi seterusnya hingga Isa itu tertulis benar ada di kitab Tauratnya orang Yahudi. Dan yang lewat jalurnya Ismael sampai nabi terakhir Muhammad dan diturunkannya Quran ke Muhammad, Isi Quran itu apakah tidak tertulis kisah nabi nabi orang Yahudi dari garisnya Ishaq ke Isa, sepertinya ada deh nabi nabi dari garis Ishaq ( Yahudi ) ditulis di Quran, jadi benar tidak kalau beberapa nabi yang sama orang Yahudi ditulis di Taurat juga di Quran ?
Saya yakin dan percaya bahwa yang di korbankan namun tidak jadi adalah Ishak.
Silahkan pertahankan keyakinanmu nak..
jangan banyak baca bible mending kayak sekarang aja g pernah baca.. penuh kontradiksi soalnya, ntar jadi atheis kayak orang barat
jangan lah jadi bangsa yahudi, sedikit sedikit ragu sedikit sedikit ragu. sebenernya simple. tidak peduli domba, kambing putih kambung hitam. yang penting adalah pelajaran yang dikemas dari cerita tersebut. yaitu berkorban harta di dunia ini yang kamu paling suka/cintai untuk Allah swt. karena dengan begitu kamu berarti sudah yakin bahwa hidup di dunia ini hanya mengharapkan ridho dari ALLAH swt.
kalau menurut ayat diatas kriteria ada 2 yaitu sabar dan saleh, nah yg rencana awal siapa?
kan yg sabar. dan yg memenuhi kriteria saleh kan sdh jelas jadi yg sabar sdh jelas juga.
maklum bahasa prof sering buat bingung,,,,,,
begini saja…
nek sing jejenge abraham ya nyembelehe ishaq sebabe perintah sekang setan, mulane kaume pada ora gelem nyonto kelakuane abraham…(perentah setan gitu loh…), kaum wis pada pethuk kabeh…
tapi…
kalo nabi Ibrahim as yg mendapat perintah Allah SWT pastilah yg akan dikurbankan adalah Ismail…makanya umat islam merayakannya sebagai hari raya Idul Adha…karena sebagai umat yg beriman kpd Allah SWT mencontoh suri tauladan dari nabi Ibrahim as dan putranya nabi Ismail as
………. Selamat Idul Adha 1433H ……….
Dalam Alkitab, Abraham berkurban setelah Hagar dan Ismael diusir, Tuhan memberkati Ismael dan kemudian mengadakan perjanjian dengan Abimelekh.
Kejadian 22 : 1 “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
ALKITAB > Kumpulan tulisan manusia (entah siapa) tentang kisah nabi-nabi terdahulu, diantara isinya ada SEBAGIAN KECIL firman Allah.
AL QUR’AN > Firman Allah, yang dicatat/ ditulis oleh manusia.
Sekarang terserah pilih yang mana yang dijadikan sebagai pedoman hidup, orang Kristen pasti akan pilih Al Kitab, sedangkan orang Islam pasti akan pilih Al Qur’an, sesuai keyakinan mereka masing-masing. Kalau saya tidak memilih Al Kitab, walaupun sering ada ajakan untuk mempercayainya, pasti saya punya alasan. Alasan saya adalah karena Al Kitab itu bukan (murni) firman Allah.
Bos jangan fanatik tanpa bukti.. coz memberikan bukti itu mengasyikkan…
iya di Bible banyak bohongnya yang bab ini,, sejak kapan ishaq jadi anak tunggal?
kebohongan satu di tutup kebohongan yang lain, jadilah kitab penuh kontradiksi.. Bible bible..
Salah Ton. Urutan lahirnya kitab : Taurat (Moses/Musa), Injil (Isa), Quran (Muhhamad). Isi Quran banyak mirip Taurat, Cerita Abraham ada di Taurat (perjanjian lama), Kalau Taurat ngawur isinya kenapa Quran banyak ayat mirip di Taurat. cerita Adam, Ibrahim dst ada di kedua kitab. Quran mereferensi Taurat juga isinya. Jangan bilang Muhhamad langsung dapat wahyu isi Quran dari Allah swt, bisa membuat ayat mirip tanpa melihat Taurat. Tolong jangan bilang bohong kitab lain, Itu semua kitab tulisan manusia bisa salah Ton
gak usah pada berdebat, urus aja ahlak kalian masing”
masih banyak saudara”kita yg kesusahan dan membutuhkan pertolongan
dan ingat agama” yg diturunkan Allah utk keselarasan hidup dan pembentukkan ahlaq.
dan segala perdebatan ttg agama tidak akan ada habisnya walau sampai hari penghabisan.
lakum dinukum wa liyadin
Urus akhlak lu tu bro..
“yg diturunkan Allah” , kita berbeda tentang ini.. jadi statement lu salah..
sumber dari dari taurat, injil, adalah Allah SWT. Skrg sumber dari 2 kitab tsb, menyampaikan wahyu ke nabi muhammad SAW. Wajarlah kalo ada yg sama. Itu artinya kejadian tsb benar adanya. Jgn bilang ‘referensi’…lagipula rasullulah itu bukan seorang kahin (orang pintar). Kemampuan baca tulis hanya dikuasai oleh segelintir orang di mekkah. biar ga bisa baca tulis, bkn masalah utk jd rasul kan? what do you expect? a prophet with doctoral degree?
ya sudahlah kalau memang sudah keyakinanmu begitu tidak bisa diubah. kalau saya terbuka, yang tidak masuk akal saya tidak percaya. nabi nabi dulu saya kira tidak ada sekolahlah
di injil pernah baca (lupa surah nya dan editorialnya)..tapi kontennya gini “..maka ibrahim menyembelih putra satu satunya ishak”…jawab nya “diantara ismail dan ishak siapa yg pernah enjadi anak satu satunya ibrahim ??? tentu ismail!!, ismail lahir dulu baru ishak…, maka katanya, saya lupa lagi dalam suatu tafsir, bila orang nasrani bersandar pada konten di atas tnt penyebelihan ishak..tentu telah terbantahkan, dengan kata satu satunya di ayat itu dn di kenyataan sejarah pula, di tengarai penambahan nama ishak di ayat itu…(maaf banyak lupanya, tapi kayaknya memang itu konten ayat injilnya).
Perjanjian Lama jmenyebutkan bahwa bahwa Ishak lah yang akan dikurbankan, bukan Ismail. Bunyi pernyataannya yaitu, “Tuhan berfirman kepada Ibrahim, ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu’” (Kejadian, 22: 2).
Stop Perdebatan mengatasnamakan apapun
Tidak ada gunanya sama sekali.
Kalau anda beriman pada agama yang dianut,ya jalanilah sesuai kepercayaan anda masing-masing.
Agama kalau di perdebatkan tidak ada habisnya.
Lahir,hidup dan kematian adalah sebuah misteri.
Demikian juga halnya Agama: agama adalah misteri pribadi masing-masing.
Orang tidak dipandang apa agamamu,tetapi perbuatanmu di dunia ini bagaimana?
Punya agama tapi tidak ßîsã menjalankan agama yang dianut sama saja dengan kebohongan.
Agama adalah hati kita
Dengan perantara kitab suci masing-masing agama
Punya kitab suci tetapi tidak ßîsã memahami apalagi membacanya,apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada kita.
Semoga Indonesia Damai.
Solo the spirit of java