Pencuri Helm di dalam Kampus

Kalau anda datang ke kampus ITB, jangan heran kalau melihat ada mahasiswa yang membawa-bawa helm masuk ke dalam ruangan kelas, atau masuk ke dalam lab. Mereka membawa helm bukan karena khawatir helmnya “dibom” oleh burung-burung koak yang berada di atas pohon-pohon yang menaungi lapangan parkir, tetapi karena khawatir helm tersebut dicuri di tempat parkir motor. Sudah sangat sering kejadian helm hilang di tempat parkir motor di dalam kampus. Helm ditaruh di atas sadel atau di atas kaca spion, ketika mau pulang eh.. helm sudah tidak ada lagi. Meskipun helm dikaitkan di bawah sadel, pencuri tetap lebih pintar, mereka memotong talinya!

Saya sendiri sudah 3 kali kehilangan helm, benar-benar mengesalkan. Harga helm itu 100 ribu ke atas. Pencuri tahu benar mana helm yang bagus, buktinya helm butut atau yang sudah jelek ogah disentuhnya. Akhirnya saya kapok pakai helm bagus, beli helm yang murah saja. Saya tidak habis pikir, dijual kemana ya helm itu? Apakah ada tempat penjualan helm bekas?

ITB adalah kampus yang terbuka, siapa saja bebas masuk ke dalam kampus. Satpam di pintu gerbang tidak bisa membedakan apakah orang yang masuk itu mahasiswa atau pencuri. Pencuri bisa berlagak seperti mahasiswa. Dengan menyamar seperti mahasiswa, yaitu memakai tas ransel dan berjaket, maka mereka tidak bisa dibedakan dengan mahasiswa yang “asli”. Mereka berbaur dengan mahaisiswa lainnya, sembari matanya melarak-lirik barang apa yang bisa diambil. Tas ransel di punggung adalah modal utama untuk menyembunyikan barang curian.

Selain helm, barang yang sering dicuri di dalam kampus adalah komputer laptop. Laptop sekarang ukurannya makin mini dan ini kesempatan emas bagi pencuri untuk menyikatnya. Pemilik laptop mana tahu orang disekelilingnya pencuri atau bukan, sebab gayanya sama seperti mahasiswa lainnya. Lengah saja sedikit, laptop bisa raib. Rekan senior saya pernah mengalami kehilangan barang, ketika dia keluar ruangan sebentar karena mau ke toilet, ketika kembali ternyata tas laptop dan isinya sudah disikat maling. Malingnya pintar membaca situasi. LabTek V tempat Prodi kami berada termasuk gedung yang ramai dengan hilir mudik mahasiswa dan orang lain entah siapa (tamu, karyawan, termasuk pencuri yang menyamar). Jadi, kalau ada orang yang masuk ke dalam lab, kami tidak tahu itu mahasiswa kami atau bukan, apalagi sekarang mahasiswa IF makin crowded, ditambah lagi mahasiswa Prodi STI, jadi tambah susah untuk mengenali orang-orang yang lalu lalang di sini.

Pencuri bisa juga kena batunya. Suatu kali di Lab Mesin seorang dosen memergoki orang berpenampilan mahasiswa memasukkan LCD proyektor (Infocus) ke dalam tas ranselnya. Ketika ditanya barang siapa itu, dia gelagapan dan ini menambah kecurigaan. Setelah diinterogasi, benar ternyata dia pencuri dan LCD proyektor itu adalah barang milik Lab. Tanpa ampun — seperti di banyak tempat di Indonesia — “pengadilan jalanan” pun berlaku juga di ITB. Pencuri itu dihakimi massa sampai babak belur dan berdarah. Tragisnya lagi, dalam keadaan berdarah-darah dia difoto dan fotonya disebar lewat milis (saya tidak berhasil mendapatkan fotonya).

Bagaimana dengan sepeda motor, apakah sering hilang di ITB? Oo, kalau barang yang satu ini tampaknya setiap minggu ada saja motor yang raib. Meskipun motor sudah dikunci ganda tetap saja bisa hilang. Hmm… apakah pencuri menggunakan mobil boks untuk mengangkut motor yang terkunci itu? Jangan terlalu berharap pada Satpam di pintu gerbang kampus, mereka tidak selalu memeriksa STNK kendaraan yang mau keluar. Kalau saja prosedur pemeriksaan STNK itu selalu dilakukan secara konsisten, saya yakin pencuri yang melarikan motor atau mobil orang pasti ketahuan karena tidak memiliki STNK.

Siapakah pencuri itu, apakah “orang dalam” atau orang luar? Segala kemungkinan bisa saja terjadi, pelakunya bisa siapa saja. Yang penting selalu waspada dengan properti kita masing-masing. Harap diingat ITB kampus yang kurang aman. Musang bisa saja berbulu domba atau berbulu ayam. Kehilangan barang sangat menjengkellan, apalagi kalau barang itu sangat penting seperti komputer laptop yang berisi data penting dan hasil-hasil pekerjaan.

Cara Memeriksa Ujian yang Baik

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelum ini. Memeriksa ujian itu susah-susah gampang. Yang paling menyenangkan adalah memeriksa ujian pilihan berganda, sebab sangat cepat memeriksanya, namun perlu waktu yang lama untuk membuat soalnya. Tapi, mana ada sih di ITB soal ujian dalam bentuk pilihan ganda? Sama sekali tidak mengasah kemampuan analisis mahasiswa. Kebanyakan soal ujian dibuat dalam bentuk esai dan jawaban untuk soal itu bersifat terbuka. Jawaban akhir mungkin salah, tapi kalau prosesnya (jalannya) benar maka tetap ada nilai, tidak nol sama sekali. Namun, memeriksa ujian tipe ini cukup melelahkan, karena dosen harus memeriksa dengan runtut jalan pikiran mahasiswa. Membuat soalnya juga cukup sulit sebab harus mengkombinasikan soal yang mudah dan soal yang sukar serta perkiraan waktu mengerjakannya.

Nah, pertanyaannya, apakah berkas ujian diperiksa per mahasiswa atau per soal? Jika per mahasiswa maka seluruh jawaban soal mulai dari nomor 1 sampai nomor terakhir diperiksa tuntas sebelum memeriksa lembar jawaban mahasiswa berikutnya. Kalau per soal, maka jawaban soal nomor yang sama diperiksa untuk setiap berkas ujian mahasiswa. Dengan cara yang terakhir ini, maka periksa jawaban nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kesatu, lalu ulangi (looping) memeriksa soal nomor 1 pada berkas ujian mahasiswa kedua, ketiga, keempat, begitu seterusnya. Setelah soal nomor 1 untuk seluruh berkas jawaban diperiksa, maka mulai memeriksa jawaban nomor 2 dari berkas ujian kesatu, kedua, dan seterusnya.

Cara memerika mana yang baik? Dosen senior yang banyak saya teladani dalam hal cara pengajaran maupun kesederhanaannya, yaitu Pak Harsono yang merupakan founder IF ITB — sekarang sudah pensiun — mengatakan cara yang baik adalah cara yang kedua itu, yaitu memeriksa per soal untuk seluruh berkas jawaban. Cara ini menjamin konsistensi dalam penilaian sehingga nilai jawaban dapat diberikan seragam dan fair.

Jika cara kesatu digunakan, yaitu memeriksa tuntas setiap berkas jawaban, maka ada kemungkinan nilai yang diberikan untuk jawaban yang mirip-mirip pada dua orang mahasiswa atau lebih bisa berbeda. Katakanlah ketika memeriksa jawaban nomor 1 untuk berkas seorang mahasiswa ternyata ada kesalahan lalu diberi nilai 8, terus karena keasikan menilai dan ketika menginjak pada berkas ke berapa ternyata ada jawaban mahasiswa lain yang jalannya agak mirip tetapi juga salah lalu diberi nilai 5 (dosen lupa tadi pada mahasiswa sebelumnya diberi nilai berapa ya?). Meskipun perbedaan nilai itu kecil, tetapi pengaruhnya sangat berarti khususnya pada kasus nilai-nilai di “perbatasan”. Hal-hal kecil membentuk kesempurnaan, tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang kecil, kata filusuf Michaelangelo. Biasanya mahasiswa melakukan komplain perbedaan nilai ini ketika berkas ujian dibagikan (yang namanya mahasiswa kan suka membanding-bandingkan nilainya dengan nilai temannya).

Saya sendiri masih campur aduk menggunakan cara memeriksa ujian, kadang-kadang pakai cara pertama, kadang-kadang pakai cara kedua, tergantung yang lebih merasa nyaman yang mana. Maka, kalau kalian dulu pernah melakukan komplain perbedaan nilai yang kecil itu padahal jalannya sama dengan punya temannya, berarti saya memeriksa ujian pakai cara pertama yang lupa-lupa ingat itu (kayak judul lagu saja).

Tidak Bisa Memeriksa Berkas Ujian di Rumah

Setiap akhir semester, pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran adalah memeriksa berkas ujian mahasiswa dan menghitung nilai akhir. Semester ini saya mengajar 2 mata kuliah dengan rata-rata setiap kuliah diikuti lebih dari 100 orang, total mahasiswa untuk kedua kuliah itu kira-kira 225 orang. Jadi, pada UAS ini saya mendapat pekerjaan memeriksa 225 lembar jawaban ujian mahasiswa. Kebayang nggak sih betapa repotnya memeriksa berkas ujian sebanyak itu, apalagi ujiannya dalam bentuk esai alias menjawab secara terbuka (bukan pilihan ganda). Setiap ujian rata-rata jumlah soalnya 6 hingga 8 buah. Wuih….

Ini rutinitas setiap tengah semester dan akhir semester. Memeriksa berkas jawaban sebanyak itu harus dilakoni dengan senang hati karena mahasiswa menunggu-nunggu nilainya sementara ITB menuntut setoran nilai “segera”. Memeriksa berkas jawaban itu sebenarnya menjemukan, sebab kita harus mengulang-ulang pekerjaan yang sama secara terus menerus. Untuk setiap berkas jawaban kita harus memeriksa jawaban setiap soal, memberi komentar kalau ada kesalahan, lalu memberi nilai. Hal yang sama diulang lagi pada berkas jawaban berikutnya. Begitu seterusnya hingga semua berkas telah selesai diperiksa.

Melelahkan? Ya, jelas. Karena itu memeriksa berkas ujian sangat sulit saya selesaikan dalam waktu satu hari. Baru beberapa berkas yang saya periksa, eh sudah terasa jenuh, ya sudah saya refreshing dulu, baca-baca berita dulu di Internet, ngobrol dulu dengan rekan kolega, atau keluar mencari “angin segar”. Balik lagi ke meja kerja, kerjakan lagi beberapa berkas. Kadang-kadang ketika memeriksa lembar jawaban itu ada interupsi, misalnya ada mahasiswa yang datang untuk konsultasi macam-macam, menerima kunjungan, tamu, dan lain-lain. Kira-kira butuh beberapa hari baru selesai tuh memeriksa semua lembar jawaban mahasiswa itu.

Kalau sudah begitu, maka di dalam pikiran ini terlintas rencana memeriksa berkas ujian di rumah. Di rumah ‘kan bisa lebih tenang. Saya bawa pulang tuh tumpukan berkas ujian yang tingginya mungkin 20 cm. Selesai? Ternyata tidak. Di rumah berkas ujian itu tidak bisa diapa-apakan. Anak-anak juga menuntut perhatian pulang ketika ayahnya pulang dari kantor. Okelah, malam saja dikerjakan setelah anak-anak tidur. Bisa? Tidak juga, saya udah ngantuk berat. Berhari-hari berkas ujian itu tergelatak di rumah tanpa diapa-apakan. Akhirnya berkas ujian itu saya bawa lagi ke kampus. Dikerjakan di kantor saja, tidak apalah perlu beberapa hari. Benar juga kata teman saya, kalau sudah tiba di rumah maka waktu di rumah itu adalah hak untuk anak dan istri, sementara hak kita sendiri adalah waktu di kantor. Jangan ambil hak anak itu, meskipun hanya beberapa jam saja.

Makanya, saya heran ada orang yang sepulang dari kantor bukannya istirahat bersama keluarga, tetapi malah meneruskan pekerjaan kantornya yang terbengkalai. Memang dia bisa menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah, tetapi kasihan deh keluarganya, hak mereka telah terampas oleh keegoisan (salah satu) orangtuanya.

Kembali ke masalah memeriksa lembar ujian tadi. Ada yang bilang kepada saya, kenapa nggak diserahkan ke asisten saja untuk memeriksa berkas ujian itu? No, kata saya. UTS dan UAS adalah previledge dosen. Asisten di Prodi kami adalah mahasiswa tingkat atas atau mahasiswa pasca sarjana. Mereka kan juga punya kesibukan kuliah dan kesibukan pribadi, kasihan mereka jika diserahi beban berlebih. Mereka cukup membantu dalam asistensi tugas kuliah dan kuis saja, tetapi untuk UTS dan UAS itu adalah urusan kami, dosen penanggung jawab mata kuliah. Lagipula, ada perbedaan cara menilai oleh asisten maupun oleh dosen. Asisten belum berpengalaman dalam memberikan nilai, tidak seperti dosen yang punya pengalaman panjang dalam memberikan ujian, maka waktu yang panjang itu telah memberikan nilai-nilai kearifan dalam memeriksa jawaban dan memberi nilai. Sebenarnya ada beberapa alasan lagi kenapa ujian tidak diserahkan kepada asisten. Namun, alasan yang paling atas dari semua itu adalah soal tanggung jawab moral.

Memang ada segelintir dosen yang super sibuk — entah karena banyak proyek atau banyak jabatan di luar — sehingga tidak punya waktu untuk membuat soal ujian apalagi memeriksa lembar jawaban. Dia mendelegasikan tugasnya itu kepada asistennya. Asisten yang membuat soal dan asisten pula yang memeriksa dan memberikan nilai. Malah sang asisten seringkali terlihat menggantikan dosen mengajar karena kesibukan tadi. Sang dosen sibuk itu tinggal menerima hasil bersih saja (termasuk menerima honor mengajar, he..he). Menurut saya ini sikap yang sangat tidak benar, dosen semacam itu sebaiknya dibebastugaskan saja sementara waktu untuk mengampu kuliah sampai dia punya waktu dan dedikasi untuk melaksanakan kewajiban kuliah yang diampunya itu.

Hari Bapak

Kalau tanggal 22 Desember kemarin Hari Ibu, maka apakah ada Hari Bapak atau Hari Ayah? Setiap hari sepertinya Hari Bapak atau Hari Ayah, karena bagi keluarga-keluarga di Dunia Timur peran bapak dalam keluarga begitu dihormati. Dialah tulang punggung keluarga, yang setiap hari membanting badan untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Karena perannya yang vital itu, wajarlah jika si bapak mendapat pelayanan istimewa di rumah, baik dari istri mapun dari anaknya. Pulang dari kerja sudah disiapkan air hangat untuk mandi, kalau makan didahulukan, kalau pergi atau pulang diciumi tangannya. Tradisi seperti itu masih ada hingga sekarang. Itulah bakti istri kepada suaminya, bakti anak kepada orangtua.

Meskipun di zaman modern ini istri juga bekerja, namun hukumnya tidak wajib. Istri bekerja mungkin untuk meringankan beban suami atau bekerja untuk mengisi waktu karena tidak biasa diam di rumah. Meskipun istri juga bekerja, namun kepala keluarga tetaplah si bapak. Bagi penggiat kesetaraan gender, mereka mungkin tidak suka dengan perlakuan pengistimewaan laki-laki semacam itu. Entahlah.

Meskipun tugas utama bapak adalah “berjuang” di luar rumah, namun jangan dikira pengasuhan anak hanya tugas domestik ibu semata. Banyak bapak di zaman modern sekarang mempunyai kepedulian yang tinggi untuk ikut turun tangan pengasuhan anak. Di jalan-jalan atau di tempat umum kita sering melihat bapak yang menyuapi anaknya makan atau menggendong anak dengan kain gendongan di dada. Tidak perlu merasa malu atau sungkan, sebab itu anak mereka sendiri. Tidak pula merasa takut menjadi “feminin” karena mengerjakan pekerjaaan yang dulu dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Kasih bapak kepada anaknya tidak kalah besar dengan kasih ibu.

Masa-masa ketika anak masih bayi hingga berumur 3 tahun adalah masa yang indah. Menimang-nimang, mengajak bermain, menidurkan sambil berdendang, menyuapi makan, memandikan, dan masih banyak lagi. Itulah kenangan masa kecil anak yang tidak pernah hilang dalam memori ayah dan bunda.

Tadi, ketika mencari video di YouTube, saya menemukan cuplikan film lama dari Malaysia. Ada adegan aktor P. Ramlee yang menidurkan anak dengan lagu yang berjudul Anakku Sazali. Sungguh menyentuh sekali adegan itu. Klik videonya di YouTube ini. Entah kenapa hari-hari ini saya begitu suka dengan lagu-lagu pengantar tidur :-) .

Berikut syair lengkapnya:

Anakku Sazali dengarlah
lagu yang ayahnda karangi
sifatkan laguku hai anak
sebagai sahabatmu nanti

Anakku Sazali juwita
laguku jadikan pelita
penerang di gelap gulita
pemandu ke puncak bahagia

Andaikan kami t’lah kembali
menyambut panggilan ilahi
laguku biarlah ganti
di jiwamu hidup abadi
penerang imanmu sejati
pemandumu wahai Sazali.

Selamat Hari Bapak, selamat mengasuh anak bagi bapak-bapak dan calon bapak.

Terkenang Lagu “Timang-Timang” Said Effendi

Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.

Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak mau tidur selalu minta dinyanyikan lagu Timang-Timang. Sejak anak-anak masih bayi, saya memang selalu mendendangkan lagu itu sebagai pengantar tidur. Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu Timang-Timang itu, atau setiap kali menyanyikannya mata saya selalu basah. Tak kuasa menahan air mata. Lagu Melayu lama karya Said Effendi itu lirik dan iramanya betul-betul sangat menyentuh. Mata saya jadi basah karena dua hal. Pertama, terkenang dengan pengasuhan ayah-bunda ketika saya masih kecil. Kata ibu saya, ayah saya suka berdendang ketika menidurkan anaknya. Kedua, sekarang setelah mempunyai anak sendiri, gantian saya yang menidurkan anak dengan menyanikan lagu itu hingga sang anak tertidur lelap.

Kemaren saya cari-cari lagu ini di Internet, ketemu videonya di YouTube. Jika pembaca belum pernah mendengar lagu ini, klik video di bawah ini atau langsung klik pranala di YouTube ini. Lagu Timang-Timang ini dinyanyikan oleh Koes Hendratmo. Lagu Timang-timang memang lebih pas dinyanyikan oleh suara pria dengan jenis suara agak berat diiringi dengan gesekan biola. Sebenarnya Koes Hendratmo belum begitu bagus menyanyikannya, tapi yaa.. lumayanlah :-) .

Berikut lirik lagu Timang-Timang itu:

Timang-timang anakku sayang
Buah hati ayahnda seorang
Jangan nangis dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian

Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sepanjang masa

Ref:
Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia selamanya

Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali

Seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi ayah berbagi pengalaman. Pernah pada suatu acara renungan pelatihan yang diikutinya, diputar lagu Timang-Timang ini. Biasanya dia susah menangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik saja langsung nangis, dan tidak berhenti sampai lagu selesai. Cengeng ya, katanya. Ah tidak, kata saya, memang lagunya sangat menyentuh kalbu, jadi wajar saja jika begitu terharu.

Bagi para ayah bunda yang mempunyai anak yang masih kecil-kecil atau bagi calon ayah dan ibu, selamat menikmati lagu yang menyentuh ini. Selamat Hari Ibu.

Tidak Pernah Puas Menipu via Ponsel

Rekan saya, dosen “tetangga sebelah”, bercerita lewat email, dia baru saja mendapat telpon dari orang yang mengaku dari Kopertis IV. Kata orang itu, rekan saya diminta menelpon Ketua Kopertis IV. Dia memberi nomor HP Ketua Kopertis. Setelah nomor tersebut dihubungi, Ketua Kopertis mengatakan vahwa rekan saya itu mendapat undangan khusus dari Dirjen DIKTI untuk menghadiri seminar di Bali. Ketua Kopertis bermaksud mentransfer uang 10 juta sebagai biaya akomodasi, dan Ketua Kopertis meminta nomor ATM (nomor rekening) rekan saya itu. Katanya uang akan segera ditransfer via ATM.

Dari sini rekan saya itu mulai curiga, kok “Ketua Kopertis” mengurusi transfer uang via ATM? Kalau memang betul Ketua Kopertis, kan urusan itu biasannya diserahkan kepada stafnya saja? Dari suara saja sudah mencurigakan (kebetulan rekan saya itu kenal dengan Ketua Kopertis IV). Akhirnya rekan saya tadi langsung bilang begini: bapak penipu ya? dan telpon ditutup oleh si penipu. Tipu-tipunya ketahuan.

Mudah ditebak, setelah nomor rekening diperoleh, maka korban diminta pergi ke ATM untuk memastikan bahwa uang sudah masuk ke dalam rekeningnya. Nah, di dalam ATM korban akan dipandu via ponsel untuk memijit nomor-nomor tertentu. Seperti dihipnotis korban menurut saja perintah si penipu. Akhirnya, bukan saldonya yang bertambah, tetapi uangnya malah dikuras habis masuk ke rekening si penipu.

Sebenarnya rekan saya tadi ingin mengikuti sejauh mana proses penipuan itu berlangsung, tetapi karena dia ada janji dengan seseorang maka dia menghentikan proses itu dengan mengatakan bapak ketua Kopertis itu penipu.

Model tipu-tipu semacam ini sudah banyak. Jika calon korbannya dosen atau guru, maka motif biasanya adalah undangan menghadiri seminar di Bali. Penipu mengaku dari Dirjen DIKTI atau Ketua Kopertis. Ada yang meminta uang muka untuk biaya seminar dengan dalih nanti uangnya akan diganti dan ditambah dengan lumpsum di tempat seminar, ada pula yang menjanjikan akan mentransfer uang akomodasi via ATM seperti cerita di atas.

Tipu-tipu via ponsel ini sudah banyak memakan korban. Korbannya bukan orang awam saja, tetapi orang berpendidikan tinggi pun tidak terhitung menjadi korban. Dua bulan lalu rekan saya satu lab juga habis dikuras uangnya oleh penipu. Rekan saya itu ditelpon oleh seseorang bahwa dia memenangkan hadiah dari operator kartu prabayar. Untuk itu dia diminta pergi ke ATM sebab uang akan ditransfer via ATM. Seperti cerita di atas, dia dipandu via ponsel di ATM. Bukannya untung yang didapat, tetapi buntung. Uangnya habis, bis, bis, … masuk ke rekening penipu.

Saya mengamati bahwa pelaku penipuan ini biasanya suatu sindikat yang terdiri dari banyak orang. Ada orang yang bertugas menghubungi calon korban dengan mengaku dari perusahaan ini, perusahaan itu, pejabat ini, pejabat itu. Lalu, orang kedua (biasanya wanita) yang bertugas memandu calon korban via ponsel di bilik ATM. Terakhir orang ketiga yang bertugas melayani komplain dari calon korban yang merasa sudah ditipu.

Menariknya, biasanya korban yang tidak sadar telah mentransfer uang ke rekening penipu merasa dirinya seolah-olah dihipnotis oleh suara orang di seberang telepon. Korban menurut saja apa yang diperintahkan si penipu. Tekan nomor ini, tekan nomor itu, lalu enter untuk melihat bahwa uang sudah masuk, padahal sebenarnya yang terjadi si korban sedang memijit nomor-nomor untuk mentransfer uang. Hmmm… mungkinkah hipnotis bisa melalui perangkat elektronik? Melalui suara di seberang sana? Sulit dipercaya namun nyata.

Kalau saya perhatikan, korban yang merasa dihipnotis oleh penipu itu biasanya sedang tidak stabil pikirannya dalam satu dua hari sebelum ditipu. Seperti rekan saya yang berhasil dibobol rekeningnya itu, sehari sebelumnya dia baru saja melunasi pembayaran biaya pendidikan anaknya yang mencapai ratusan juta (biaya pendidikan dokter spesialis). Dia melakukan pembayaran melalui bank. Saya rasa setiap orang yang baru saja melakukan pembayaran dalam jumlah yang besar pasti akan kepikiran terus mengenai uang tadi, begitu besar jumlahnya, yang beberapa jam lalu masih menjadi miliknya, sekarang harus dilepas demi kebutuhan lain yang mendesak. Nah, orang yang linglung seperti ini biasanya sasaran empuk sindikat penipu.

Masalahnya, darimana penipu mengetahui nomor ponsel calon korban? Darimana dia tahu calon korban lagi tidak stabil kejiwaannya? Apakah sindikat penipu itu mengamati orang-orang (nasabah) di bank? Jangan-jangan oknum karyawan bank atau oknum operator selular ada yang menjadi anggota sindikat penipuan? Jangan-jangan…. (ah, terlalu banyak sekali rasa curiga, tapi mau bagaimana lagi ya, korban selalu berjatuhan, dan pelaku sulit ditangkap).

Foto-foto Bandung Tempo Doeloe

Bulan Oktober dan November yang lalu di Bandung diadakan festival komunitas kreatif yang bernama Helarfest (baca kegiatan ini di sini). Nah, panitia Helarfest memajang foto-foto Bandung tempo doeloe seukuran papan billboard. Foto-foto itu dipajang pada tiang penyangga jalan layang Pasupati di sepanjang jalan Cikapayang. Pengendara yang melewati jalan di bawah jembatan layang ini tentu dapat menikmati forto-foto besar yang menampilkan kota Bandung pada awal abad 20. Hingga sekarang foto-foto besar itu masih dipajang.

Kemarin saya menyempatkan diri turun dari kendaraan dan memfoto foto-foto yang menarik itu sepanjang jalan Cikapayang. Sebagai penggemar foto, saya sangat suka mengabadikan hal-hal menarik yang saya lihat sepanjang perjalanan. Berikut hasil jepretan saya (dengan kamera ponsel). Klik foto untuk melihat lebih besar.

1. Foto perempatan jalan A.Yani dan Jalan Riau (Martadinata) pada tahun 1920.

2. Jalan Riau pada tahun 1917.

3. Alun-alun Bandung pada tahun 1938.

4. Jalan Asia Afrika pada tahun 1920

5. Jalan Braga pada tahun 1911

6. Kampus ITB pada tahun 1920

7. Kologdom (markas militer) pada tahun 1923

8. Jalan antara Kopo dan Ciwidey pada tahun 1880

9. Masjid Agung dan alun-alun Bandung pada tahun 1890

10. Seputar GOR Saparua pada tahun 1930

11. Taman Balaikota pada tahun 1920

Koin untuk Prita

Jika ada orang yang begitu sedih sekaligus bahagia pada hari-hari ini, salah satu orang itu adalah Prita. Prita — seorang ibu yang sedang berpolemik dengan Rumah Sakit Omni Internasional Jakarta gara-gara dia mem-posting email tentang pelayanan buruk rumah sakit itu — diancam denda Rp 204 juta dalam putusan perdata kasus pencemaran nama baik.

Uang 204 juta bagi seorang karyawan biasa seperti Prita tentu sangat besar jumlahnya, belum tentu dia punya uang sebanyak itu, dan tentu saja dia tidak sanggup untuk membayarnya. Namun, masyarakat pun terusik dengan kasus ini, yang dianggap sebagai sebuah bentuk rasa ketidakadilan. Maka, entah siapa yang memulainya, tiba-tiba ada saja yang mempunyai ide untuk mengumpulkan koin uang receh untuk Prita. Gerakan yang dinamakan “koin untuk Prita” itu mengalir seperti air bah. Masyarakat — mulai dari anak-anak, remaja, orangtua, hingga pemulung — rela menyisihkan uangnya untuk mencukupi denda 204 juta itu (baca berita ini dan yang ini). Gerakan mengumpulkan koin itu akan ditutup tanggal 14 Desember nanti, namun dipercaya jumlah yang terkumpul akan jauh lebih besar dari 204 juta, sebab para pengusaha, anggota dewan, dan anggota DPD, dan masih banyak lagi, ikut turun tangan memberi bantuan dalam jumlah puluhan juta. Pengusaha Fahmi Idris saja menyumbang 70 juta.

Nah, sekarang kasus ini sedang dibawa ke Mahkamah Agung karena Prita melakukan kasasi. Jika sangsi denda ini disetujui oleh MA, maka Prita tidak perlu resah sebab uang 204 juta bakal tersedia, bahkan lebih. Jika sangsi denda dibatalkan MA, maka uang yang terkumpul itu tetap akan diberikan kepada Prita.

Sebagian besar warga masyarakat yang menyumbang koin serta yang memberikan dukungan moral kepada Prita tidak kenal siapa itu Prita. Mereka hanya tahu dari media saja. Apa yang menyebabkan mereka mau memberikan uangnya untuk membantu Prita? Rasa ketidakadilanlah yang menyebabkan dukungan itu mengalir seperti air bah. Masyarakat melihat seorang ibu rumah tangga tidak berdaya melawan sebuah rumah sakit mewah yang membawa kasus ini ke pengadilan. Prita memang tidak sepenuhnya benar, dia juga ada kesalahan karena dia tidak menyadari bahwa sebuah email jika masuk ke milis, tidak ada jaminan email itu akan beredar di milis itu saja. Anggota milis bisa saja mem-forward email itu ke milis lain karena isi email tersebut dianggap sebagai sebuah fakta menarik yang perlu diketahui orang lain. Seperti kita sendiri, yang kadang-kadang menerima email dari sebuah milis, lalu karena email ini dianggap menarik, tanpa pikir panjang email tersbeut kita teruskan ke milis lain. Karena itu, memang penting dibuat aturan etika dalam sebuah milis bahwa setiap email di dalam milis bersifat tertutup dan tidak dibenarkan untuk diteruskan ke orang yang bukan anggota milis.

Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, yaitu derasnya dukungan moral (dan materil) dari masyarakat kepada orang-orang yang mengalami ketidakadilan masalah hukum. Masyarakat tidak kenal siapa orang-orang yang “tertuduh” itu, namun masyarakat berpihak dan mendukung mereka. Masih ingat kasus Bibit-Chandra kan? Jutaan fesbuker melakukan gerakan moral dengan memberikan dukungan kepada kedua orang ini (dan KPK) melalui media fesbuk. Ini belum termasuk ratusan ribu orang yang melakukan aksi demo untuk mendukung mereka. Padahal, sebagian besar pendukung tidak kenal siapa itu Chandra, siapa itu Bibit. Orang mendukung Chandra dan Bibit karena kedua orang ini dianggap “korban” kesewang-wenangan kepolisian, dan masyarakat sudah terlanjur mempunyai stigma negatif kepada polisi disebabkan pengalaman buruk yang mereka alami setiap berurusan dengan polisi.

Dalam waktu yang bersamaan muncul pula kasus nenek Minah yang dituduh mencuri tiga buah kakao. Kasus ini dibawa ke pengadilan oleh perusahaan penanam kakao, dan nenek Minah dijatuhi hukuman kurungan (namun hukuman kurungan tidak perlu dijalani karena nenek Minah sudah tua dan dianggap tidak akan melarikan diri). Warga masyarakat yang simpati dengan kasus nenek Minah kembali merasa terusik dengan ketidakadilan ini. Mereka mendukung nenek Minah dan mengumpulkan uang receh untuk membantu nenek itu. Kecaman mengalir kepada perusahaan penanam kakao, sebab mengapa kasus yang sepele itu perlu dibawa ke pengadilan? Tidakkah diselesaikan secara kekeluargaan saja? Dimana rasa keadilan kepada orang-orang kecil itu? Masyarakat menilai polisi begitu cepat bereaksi jika kasus-kasus hukum menimpa orang kecil, namun terkesan lamban jika kasus hukum itu melibatkan orang penting dan cukong-cukong.

Itulah orang Indonesia, mudah berempati, namun mudah pula melupakan kembali peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak peristiwa drama yang akan terus terjadi di negeri ini, dan seharusnya setiap peristiwa dijadikan pelajaran untuk tidak terulang dan terulang lagi. Bangsa ini perlu belajar dari kisah-kisah yang terjadi di masa lalu

Ada Apa Tanggal 9 Desember 2009?

Besok, 9 Desember 2009, saya berncana ke Jakarta untuk suatu urusan. Namun, setelah membaca berita bahwa tanggal 9 Desember 2009 akan ada demo besar-besaran dalam rangka Hari Anti Korupsi internasional, maka saya mengurungkan niat itu. Saya sih tidak takut ada kerusuhan di Jakarta, seperti isu yang dilansir di media ini. Yang yang saya khawatirkan adalah macet, cet, cet, …. yang ditimbulkan oleh ratusan ribu orang yang akan mengadakan aksi demo di jalan-jalan ibukota. Jadi, daripada terkurung kemacetan parah, ya udah tidak usah ke Jakarta saja.

Sebelumnya SBY sudah me-warning akan ada aksi sosial besar-besaran pada tanggal 9 Desember. Posisi SBY memang tidak nyaman saat ini, sebab kasus Bibit-Chandra dan terakhir kasus Bank Century seperti diarahkan kepada dirinya, partainya, dan keluarganya untuk menggoyang Pemerintahannya. Maka, wajar saja jika SBY “panas dingin” menunggu apa yang akan terjadi pada tanggal 9 besok.

Betulkah ada kerusuhan besok? Saya rasa tidak. Orang Jakarta sudah belajar dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang telah menyusahkan banyak orang. Hanya orang-orang yang tidak senang Jakarta aman saja maka dilemparlah isu bakal ada kerusuhan, jangan keluar rumah pada tanggal 9 Desember, toko-toko tutup, kantor-kantor diliburkan. Para penentang SBY memang menggunakan tanggal 9 Desember 2009 sebagai momentum untuk menyiapkan “amunisi” melawan SBY. Dan perusuh juga memanfaatkan momen ini untuk menciptakan kerusuhan besar, yang pada ujungnya adalah melakukan penjarahan (motif ekonomi), menebar kebencian kepada etnis Tionghoa (motif rasial), dan entah apa lagi maksudnya. Para perusuh sepertinya tidak ingin Indonesia ini aman tentram sehingga sekali-kali melakukan shock therapy yang ongkos sosialnya sangat mahal.

Semoga saja Jakarta dan Indonesia aman-aman saja besok. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Hanya di Indonesia yang Ada Begini

Mengisi akhir pekan, nikmati sejenak foto-foto unik yang lucu ini. Saya peroleh dari sebuah milis. Foto-foto tersebut bersumber di situs ini. Komentar saya: hanya di Indonesia yang ada beginian. Bisaaa… aja orang yang memotretnya ya.

Klik gambar untuk melihat lebih besar dan selamat tertawa.

1. Hanya di Indonesia yang jual ES PANAS

2. Hanya di Indonesia anak majikan dianggap sebagai herder

3. Hanya di Indonesia binatang malu difoto ama manusia

4. Hanya di Indonesia orang bisa jadi polisi dan tukang becak dalam waktu yg bersamaan

5. Hanya di Indonesia ada anjing yang berani gigit ketua RT

5. Hanya di Indonesia Nokia mendistribusikan produk sendalnya

6. Hanya di Indonesia kasih sayang seorang ibu bisa kalah dengan kasih sayang seorang pembantu

7. Hanya di Indonesia ada orang yg curhat saat banjir

8. Hanya di Indonesia yang mempuyai kembaran Presiden US

9. Hanya di Indonesia ada yang bisa menyaingi KFC (Kentucky Fried Chicken)

10. Hanya di Indonesia yg memadukan IT dengan cara Tradisional

11. Hanya di Indonesia kita bisa nabung sembari makan bakso

12. Hanya di Indonesia ada Bis Kota yg bisa dimakan

13. Hanya di Indonesia supirnya ada yg bekas penulis puisi

14. Hanya di Indonesia ada minuman berdosa

15. Hanya di Indonesia orang dilarang untuk tidur di bawah mobil

16. Hanya di Indonesia ada yg jual switter

17. Hanya di Indonesia motornya bisa dinaiki lebih dari 5 orang

18. Hanya di Indonesia yang punya nama tempat seperti ini

19. Hanya di Indonesia kotak suratnya sebesar gini

20. Hanya di Indonesia ada larangan merokok seperti ini

21. Hanya di Indonesia ada cabang Starbucks Coffee buat kalangan bawah

22. Hanya di Indonesia yang pakai peringatan meyakinkan pembelinya seperti ini

23. Hanya di Indonesia ada asbak terbesar sejagat raya

24. Hanya di Indonesia bisa parkir seenaknya

25. Hanya di Indonesia ada saingan Mak Erot