Hari ini, 22 Desember 2009, adalah Hari Ibu. Setiap tanggal 22 Desember, kita selalu mengenang setiap perempuan yang telah melahirkan anak-anak, itulah ibu kita dan istri kita. Apa jadinya dunia ini tanpa anak-anak, karena anak-anaklah yang menghiasi dunia dengan derai gelak tawa mereka.
Anak saya yang paling bungsu, Fajar, 3 tahun, setiap hendak mau tidur selalu minta dinyanyikan lagu Timang-Timang. Sejak anak-anak masih bayi, saya memang selalu mendendangkan lagu itu sebagai pengantar tidur. Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu Timang-Timang itu, atau setiap kali menyanyikannya mata saya selalu basah. Tak kuasa menahan air mata. Lagu Melayu lama karya Said Effendi itu lirik dan iramanya betul-betul sangat menyentuh. Mata saya jadi basah karena dua hal. Pertama, terkenang dengan pengasuhan ayah-bunda ketika saya masih kecil. Kata ibu saya, ayah saya suka berdendang ketika menidurkan anaknya. Kedua, sekarang setelah mempunyai anak sendiri, gantian saya yang menidurkan anak dengan menyanikan lagu itu hingga sang anak tertidur lelap.
Kemaren saya cari-cari lagu ini di Internet, ketemu videonya di YouTube. Jika pembaca belum pernah mendengar lagu ini, klik video di bawah ini atau langsung klik pranala di YouTube ini. Lagu Timang-Timang ini dinyanyikan oleh Koes Hendratmo. Lagu Timang-timang memang lebih pas dinyanyikan oleh suara pria dengan jenis suara agak berat diiringi dengan gesekan biola. Sebenarnya Koes Hendratmo belum begitu bagus menyanyikannya, tapi yaa.. lumayanlah
.
Berikut lirik lagu Timang-Timang itu:
Timang-timang anakku sayang
Buah hati ayahnda seorang
Jangan marah dan jangan merajuk sayang
Tenanglah tenang dalam buaian
Betapakah hati tak kan riang
Bila kau bergurau dan tertawa
S’mogalah jauh dari marabahaya
Riang gembira sampai akhir masa
Ref:
Setiap waktu ku berdoa
K’pada Tuhan yang Maha Kuasa
Jika kau sudah dewasa
Hidupmu bahagia sentosa
Timang-timang anakku sayang
Kasih hati permata ibunda
Tidurlah tidur pejamkan mata sayang
Esok hari bermain kembali
Seorang mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi ayah berbagi pengalaman. Pernah pada suatu acara renungan di dalam sebuah pelatihan motivasi yang diikutinya, diputar lagu Timang-Timang ini. Biasanya dia susah menangis, tapi ketika diputar lagu ini, baru beberapa detik saja langsung nangis, dan tidak berhenti sampai lagu selesai. Cengeng ya, katanya. Ah tidak, kata saya, memang lagunya sangat menyentuh kalbu, jadi wajar saja jika begitu terharu.
Bagi para ayah bunda yang mempunyai anak yang masih kecil-kecil atau bagi calon ayah dan ibu, selamat menikmati lagu yang menyentuh ini. Selamat Hari Ibu.
Saya jadi ingat sama anak saya, pak. Terima kasih atas sharing pengalamannya. Memang di hari ibu ini, kita jadi lebih inget bagaimana dulu kita kecil dan bagaimana kita sekarang sudah punya si kecil.
Selamat hari ibu untuk semua ibu-ibu dan salam kenal, pak.
sepertinya lebih bagus yang dinyanyikan amigos di http://www.youtube.com/watch?v=ldPecroXujU (videonya abaikan saja)
iya pak
selamat hari ibu meski telat satu hari
gimana dengan lirik ini pak:
kasih ibu
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
Sudahkah semua berterima kasih kepada Ibu, atau Anda semua terlalu angkuh untuk hanya mengucapkan “terima kasih” pada Ibu, pasti Ibu Anda akan senang. Sebelum kesempatan berterima kasih sudah tidak ada lagi. Segeralah berterima kasih, karena mampu berterima kasih kepada Ibu dengan mengucapkannya saja itu sudah merupakan anugrah. Sehingga Anda tidak akan menyesal karena terlambat mengucapkan “terima kasih” pada Ibu.
Kalo saya ga Bang… lagunya :
Yun ayun ambing……
diayun ayun ku samping……
jadi inget ibu saya yg udah wafat,sedih euy
ribuan kilo …jalan yang kau tempuh
lewati rintang…demi aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
seperti udara …kasih yang kau berikan
tak mampu kumembalas…
ibu….ibu…..
(by Iwan Falls)
Semoga lagu timang2 ini bsa lebih mendewasakn para org tua tuk selalu menyayangi para putera puterinya…AMIIN
Saya sangat berterima kasih bisa menemukan lagu ini. Saya juga teringat saat itu tepatnya tahun 1998, saat anak saya pertama (laki-laki) masih berusia kurang dari satu tahun. Sering ditengah malam buta, harus tidur dalam gendongan krn sedang sakit panas. Lagu Timang – Timang selalu saya dendangkan sambil sesekali menatap wajah anak yang tidur pulas dalam gendongan. Saat itu saya berbicara dlm hati : “Betapa berat hidup ini, Nak. Bapak akan selalu membimbing dan melindungimu sampai kapanpun (hingga Bapak kembali kepangkuan Ilahi)”. Mata saya selalu basah, bahkan terkadang mengalir begitu derasnya. Sejak saat itu, saya berjanji untuk mengabdi kepada Allah swt dengan merawat, membimbing, dan melindungi anak – anakku betapapun sulitnya hidup ini. Mereka merupakan titipan Allah swt yang harus dipertanggungjawabkan. Kini anak saya tsb sudah lulus S-1 dan sedang menjalani S-2. Beberapa bulan lagi bermaksud akan menikah. Sedang adiknya juga laki-laki sedang skripsi S-1 di UGM. Anak ketiga (perempuan) kini masih duduk di kelas 2 SD. Walau sudah 24 tahun yang lalu kisah itu terjadi (tahun depan saya purna tugas / pensiun), namun hati ini masih merasakan hal tsb ; bahkan matapun masih terasa basah bila mendengar lagu ini. Terima kasih.
Sama-sama pak, berarti anda dan saya memiliki kenangan yang mendalam dengan lagu ini, sama-sama mendendangkannya sebagai pengantar tidur. Ketika anak sakit dan kita menyanyikan lagu ini, air mata pun tumpah, terbayang betapa beratnya hidup yang akan dilalui sang anak kelak.
Ping-balik: Terkenang Lagu Anak “Belaian Sayang” | Catatanku
air mata saya selalu jatuh ketika saya mendengar dan menyanyikan lagu ini seorang diri,teringat anak saya yang berada dengan istri pertama saya,rasa bersalah dan sedih tak terasa air mata ini jatuh
Oh Bapak, sedih sekali mendengarnya. Berarti anak itu tidak sama Bapak lagi? Pergilah menemuinya untuk mengobati rasa bersalah dan kesedihan itu Pak.