Soal Pepes-memepes, Orang Sunda Ahlinya (Kisah Sebungkus Nasi Pepes)

Teman saya di Surabaya minta ditulis lagi wisata kuliner yang lain di Bandung. Kangen Bandung, katanya. Maklumlah dulu dia cukup lama tinggal di Bandung (sejak kuliah di ITB hingga bekerja), sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. “Di Surabaya nggak banyak variasi makanannya”, kata teman saya itu. “Kalau nggak lontong kupang, lontong balap, rujak cingur, soto, atau nasi pecel. Kalau di Bandung kan bayak sekali variasi makanannya”, lanjut teman saya itu.

Lha iyalah, Bandung kan kota kuliner, kata saya tersenyum. Bandung dikenal dengan warganya yang kreatif, mulai dari seni hingga masakan. Bangga dong sebagai orang Bandung jika kotanya dipuji begitu.

Baiklah, memenuhi permintaan teman saya itu, saya tampilkan pengalaman saya membeli nasi pepes (atau pepes nasi, sama saja ). Nasi pepes? Iya, nasi pepes. Kalau soal pepes memepes, orang Sundalah ahlinya. Segala rupa makanan dipepes, mulai dari ikan pepes, ayam pepes, tahu pepes, tempe pepes, telur pepes, ikan asin pepes, jamur pepes, dan terakhir nasi pepes. Pepes adalah teknik memasak makanan yang dibungkus dengan dun pisang (setelah dibumbui tentunya), kemudian dikukus di dalam dandang hingga bumbu menyerap ke dalam bahan makanan.

Nasi pepes adalah nasi yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu dan dicampur dengan lauk pauk berupa potongan ayam, telur burung puyuh, ati-ampela, ikan asin jambal roti, dan jamur. Kadang-kadang ada biji pete juga :-) . Bumbunya adalah santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, batang sereh, daun salam, dan beberapa bahan lagi (saya kurang tahu persis). Santan berfungsi untuk membuat gurih nasi (seperti nasi uduk). Untuk menambah cita rasa harum maka ke dalam nasi pepes dimasukkan daun kemangi. Cara memasaknya tidak sulit (ini dari pengamatan saya yang senang memasak). Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam nasi yang sudah setengah matang, kemudian nasi dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya kukus di dalam dandang selama setengah jam hingga bumbu meresap. Setelah dikukus, nasi pepes dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum. Kebayang kan enaknya?

Beberapa tahun terakhir ini cukup banyak yang menjual nasi pepes di Bandung. Mula-mula saya temukan nasi pepes pepipela yang dijual di kedai pinggir Jalan Imam Bonjol (dekat factory outlet). Dulunya nasi pepes ini lumayan enak, tapi akhir-akhir ini kok enaknya sudah berkurang. Di belakang Gedung Sate (Jalan Cimandiri) juga ada nasi pepes Sawargi, tapi rasanya average lah. Yang uueenak dan mak nyus adalah nasi pepes Anugerah di Jalan Terusan Jakarta 10 E. Nasi pepes yang terakhir inilahyang saya certakan di sini.

Tadi siang dalam perjalanan ke kampus saya singgah ke ruko yang menjual nasi pepes Anugrah. Saya beli satu untuk bekal makan siang nanti usai mengajar. Satu porsi harganya Rp12.500. Saya cukup sering membeli nasi pepes di sini. Jika lagi patah selera dan bosan dengan masakan Padang melulu, maka saya beli nasi pepes ini.

Usai mengajar jam 13.00, perut sudah terasa lapar. Bau harum dari nasi pepes tercium ke seluruh ruangan. Yuk, kita buka dus nasi pepesnya. Mau tahu kan seperti apa bentuknya? Ini dia:

Kita buka dulu bungkus daun pisangnya ya. Sabar, sabar, nanti kebagian kok.

Sudah tidak sabaran lagi? Yuk kita urai nasinya supaya terlihat aneka lauk dan daun-daun yang membuat harum nasi pepes ini.

Yang merah itu adalah sambalnya. Tanpa sambal makan nasi pepes kurang afdhol, apa lagi siang-siang panas begini.

Wah, jadi tambah lapar. Yuk, saya makan dulu ya. Mau? Rasanya jangan ditanya, gurih mantap!

Setelah beberapa menit, tinggal segini:

Yaaahhh…. nggak kebagian dong. Kalau mau, datang saja ke alamat itu, beli nasi pepesnya.

Beberapa jam sesudah makan, teman satu ruangan dengan saya nanya, makanan apa itu di meja kok harum sekali?, tanyanya kepada saya. Lho, padahal nasi pepesnya sudah habis sejak tadi, tapi sisa bau harumnya masih belum hilang juga. Baik, kapan-kapan saya beli dua ya, satu untuk dia.

Lanjut membaca

Do’a Khatam Quran (Terkenang Masa Belajar Mengaji)

Lamat-lamat dari pengeras suara di masjid terdengar suara anak-anak melantunkan doa khatam Quran (doa sesudah selesai membaca Al-Quran). Doa itu terdengar begitu syahdu, membuat kalbu bergetar. Inilah doa khatam Quran itu:

Allahummar hamna bil Quran
waj’alhu lana imaamau wa nuurau wa hudaw wa rahmah
Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina
wa ’allimna minhumaa jahiilna
warzuqna tilaawatahu
aana al laili wa athrofannahar
waj’alhu lana hujjatan
Yaaa rabbal ‘alamiin

Artinya kira-kira begini:

Ya Allah kasih sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku
Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan kurniakanlah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

**********

Bagi anda yang pernah dididik di pesantren atau di Taman Pendidikan Alquran semasa kecil, tentu anda pernah melafalkan doa ini bersama-sama. Pengalaman masa kecil belajar agama menjadi terkenang-kenang.

Kemarin sore — ketika di kantor — saya mendengarkan siaran MQ FM dari radio kecil di atas meja saya. Sesudah pembacaan sebuah surat dalam Al-Quran, penyiarnya memutar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi dan Shila. Judul lagunya Rahmat Quran. Setelah saya simak ternyata bait-bait lagunya berisi doa khatam Quran itu dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia). Penasaran, saya cari-cari di Youtube video lagu ini, eh…ketemu. Klik video di Youtube di bawah ini yang menayangkan video lagu Rahmat Quran yang tidak lain berisi doa khatam Quran.

Berikut bait-bait lagu Rahmat Quran itu:

Rahmat Qur’an
( Haddad Alwi dan Shila )

Allah turunkan rahmat qur’an
jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran
Allah ingatkan kami
semua yang kami lalai, berikan ilmu yang bermanfaat
jadikan qur’an bacaan yang kami cinta
di malam dan siang
jadikan Qur’an penerang
Ya Robbal ‘alamin

Versi B. Inggris

Oh Allah bless us with al Qur’an
Make it our leader our light our guide and blessing
Allah remind us of what we forget and teach us what we don’t know
Oh my beloved Allah
Do al Qur’an as our reading all night and all day,
All night and all day
Make al Qur’an our foundation
Ya Robbal Alamin

Versi B. Arab

Allahummarhamna bil Qur’an
Waj’alhulana imamaw wa nurrow wahudaw wa rohmah
Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa a’limna minhuma jahilna
Warzuqna tilawatahu aana
Allaili wa athrofannahar
Waj’alhu lana hujjatan
Ya Robbal ‘Alamin

Bapak Penjual Rambutan

Musim hujan tidak hanya banjir durian di Bandung, tetapi juga banjir duku dari Palembang dan rambutan asal Subang, Jawa Barat. Berton-ton rambutan menyerbu kota Bandung. Selain dijual di jongko-jongko kaki lima, rambutan itu dijual di mobil bak terbuka. Tidak hanya di daerah pasar atau pertokoan, pedagang dengan mobil bak terbuka itu juga masuk ke kantong-kantong pemukiman.

Sore sepulang dari kantor saya selalu melewati daerah Cicadas (Jalan Ahmad Yani). Sepanjang jalan itu banyak sekali mobil bak terbuka penjual rambutan. Berhubung anak saya yang bungsu penggemar rambutan, saya berhenti di depan seorang pedagang untuk membeli beberapa ikat rambutan. Tiga ikat rambutan harganya Rp10.000. Masih segar-segar rambutannya, tampaknya baru dipetik dari pohon. Merah-merah menggiurkan. Siapa yang melihat pasti tergiur untuk membelinya.

Saat ini harga rambutan jatuh karena melimpahnya pasokan dari Subang. Ada yang berani menjual 4 ikat dengan harga Rp10.000, ada pula yang banting harga tiga ikat Rp5.000. Benar-benar pedagang rambutan tidak menikmati untung besar karena panen yang melimpah ruah itu. Malangnya lagi, rambutan yang sudah dipetik itu tidak tahan lama, setelah dua hari di ruang terbuka kulitnya sudah mulai layu, tidak menarik lagi untuk dipajang. Karena itu, rambutan yang dijual harus terjual habis selama satu dua hari itu sebelum datang lagi pasokan segar dari sentra produksi.

Pasokan rambutan dari Subang seperti tidak habis-habisnya mengalir. Satu kelemahan dari rambutan Subang ini adalah tidak malokak (Bahasa Minang :-) ). Apa ya bahasa Indonesianya? Arti malokak kira-kira begini: jika anda menggigit daging buah rambutan namun kulit bijinya ikut terangkat ketika digigit berati tidak malokak. Kurang nyaman makan rambutan jika kulit bijinya ikut terkelupas. Nah, kalau soal malokak-lokak ini, rambutan rapiah asal Acehlah juaranya. Rambutan rapiah ukurannya kecil-kecil, biarpun kulitnya masih berwarna kuning namun rasanya sudah manis, dan yang paling penting malokak itu. Sayang sekali di Bandung tidak ada rambutan rapiah dari Aceh, mungkin terkendala jarak yang jauh. Adakah yang membudidayakan rambutan rapiah di Jawa Barat ini?

Itulah rambutan, buah tropis yang selalu dikangeni jika kita berada di luar negeri, khususnya di negeri 4 musim, soalnya tidak ada rambutan di sana. Apa bahasa Inggrisnya “rambutan”? Hairy fruit? Kurang tepat. Tidak ada padanan katanya dalam Bahasa Inggris, tapi kepada orang asing cukup dikatakan begini: A red fruit covered with long hair-like filaments. Masih belum mengerti?

Ketika “Bonek” Bikin Repot Orang Bandung

Hari ini (nanti malam) kesebelasan Persebaya Surabaya akan berhadapan dengan Persib Bandung di stadion Jalak Harupat, Soreang Bandung. Kalau Persebaya yang main, maka dipastikan ratusan hingga ribuan pendukungnya yang disebut bonek (bondo nekat) akan mbrojol menyerbu kota tempat pertandingan, di manapun itu, asalkan masih di Pulau Jawa.

Seperti tadi pagi, saya baca di koran PR, jajaran aparat di Bandung sudah sibuk mengantisipasi kedatangan para bonek itu. Mereka datang ke Bandung dengan kereta api ekonomi dari Surabaya. Ada yang turun di stasiun Kiaracondong, ada yang turun di stasiun Cicalengka, lalu naik tumpangan gratis truk atau mobil bak terbuka menuju Bandung (baca beritanya di sini).

(foto diambil dari koran PR)

Sepanjang jalan kereta api dari Surabaya menuju kota pertandingan saja para bonek ini sudah bikin resah penduduk sepanjang rel kereta api. Hal ini karena berdasarkan pengalaman warga yang rumahnya dilempari bonek dengan batu dari atas kereta. Sebagai balasannya, kereta api yang mengangkut para bonek yang pulang ke Surabaya dilempari batu oleh penduduk sepanjang rel. Malangnya ada bonek yang tewas karena dilempar batu tadi. Entah berapa kerugian PT KAI setiapkali mengangkut para bonek. Bonek naik kereta saja banyak yang tidak mau bayar, ditambah lagi dengan kerusakan kereta karena lemparan batu. Bahkan, bonek ketinggalan kereta saja sudah membuat warga di stasiun kereta ketakutan.

Sampai di Bandung para bonek mulai bikin ketar ketir sebagian warga kota. Publik Bandung saja sudah terbiasa khawatir dengan bobotoh Persib yang sering melakukan perusakan usai pertandingan jika Persib kalah, apalagi dengan kedatangan para bonek. Hari ini jalan-jalan di Bandung tampak sepi, tidak seramai seperti biasanya akhir pekan. Warga lebih banyak berdiam di rumah, menghindar bertemu dengan bonek. Namanya juga bonek alias modal nekat, mereka kalau sudah berada dalam komunalnya cenderung berbuat nekat apa saja. Bagaimana tidak nekat, dari Surabaya hanya membawa uang pas-pasan cuma Rp 10.000, mana cukup buat makan untuk beberapa hari Bandung, apalagi untuk beli karcis pertandingan. Tidak cukup uang, para bonek pun tidak kehilangan akal. Mereka mengamen di jalanan Bandung untuk mendapatkan tambahan uang.

Ulah para bonek memang membuat orang geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir, kok nekat banget. Sebagian bonek tidak segan-segan meminta uang kepada pengguna jalan. Seperti dikutip di Detik.com, bonek menghentikan kendaraan bermotor yang lewat dan meminta uang. Tak hanya minta uang, mereka juga tak segan untuk meminta rokok pada pengguna jalan yang lewat. Para pengguna jalan pun tak kuasa menolak permintaan para bonek ini. Mereka akhirnya memberi uang sekenanya, atau langsung memberi rokok. Berita lainnya baca di sini.

(Sumber foto: Detik.com)

Kedatangan bonek di Bandung memberi efek ketakutan bagi para pedagang makanan. Bagaimana tidak, mereka sering menjarah makanan yang dijual pedagang tanpa mau membayar (lha iyalah, menjarah berarti sama dengan mencuri). Saking takutnya, maka pada hari ini sepanjang jalan Kopo hingga Soreang mendadak para pedagang makanan tiba-tiba lenyap begitu saja (beritanya di sini), padahal biasanya mereka berjualan sepanjang trotoar. Hari ini sampai besok mereka memilih tidak berdagang, khawatir dagangan makanan mereka diserbu para bonek yang kelaparan dan tidak mau bayar.

Kedatangan bonek menambah kerepotan aparat di kota dan Kabupaten Bandung. Supaya tidak bertambah nekat, para bonek itu disediakan penampungan (istilahnya di karantina) di Lanud Sulaemen, Margahayu. Sudah itu, mereka disediakan makanan dan dapur umum untuk melayani mereka makan. Prasmanan lagi makannya. Baik banget ya, tapi nggak apalah supaya para bonek itu nggak macam-macam, diberi makan guna meredam emosi para bonek itu, karena orang lapar biasanya sering emosi dan brutal.

Musuh bebuyutan para bonek sebenarnya bukanlah bobotoh Persib, tetapi Aremania, yaitu arek-arek pendukung Arema Malang, sama-sama satu propinsi sebenarnya (sepertinya ada rivalitas antara kota Surabaya dan Malang sejak dulu, begitu yang saya dengar). Kalau sudah bermain melawan Arema, maka dipastikan ada kerusuhan sebelum dan sesudah pertandingan.

Nah, di Bandung para bonek tahu diri juga, mereka tidak mau mencari keributan dengan bobotoh Persib. Meskipun ada trauma perang Bubat antara orang Sunda (kerajaan Galuh) dan orang Jawa (kerajaan Majapahit) pada masa lalu, tapi dalam urusan sepakbola trauma itu sepertinya tidak berlaku. Tidak ada catatan kerusuhan antara bobotoh dan bonek, dan rasanya belum pernah terjadi para bonek membuat kerusuhan di Bandung gara-gara Persebaya kalah. Entahlah kalau nanti malam. Mungkin tipikal orang Sunda yang lemah lembut membuat bonek segan untuk membuat keributan. Lagi pula, mana mau para bonek itu berhadapan dengan bobotoh yang jumlahnya ratusan ribu, apalagi ini di kampung orang lagi. Pasti takut juga mereka. Para bonek itu hanya ingin menunjukkan eksistensi mereka saja kepada orang-orang di sini bahwa mereka benar-benar nekat datang ke Bandung, meneruskan atau melestarikan tradisi dari pendahulunya dengan berbuat apa saja agar bisa makan dan nonton bola. Namanya saja bonek, modal nekat.

Harga Beras Melambung, Kasihan Rakyat Miskin

Dikala para politisi di parlemen sibuk berpolemik dan bertengkar membahas kasus Bank Century, yang ujung-ujungnya ingin menjatuhkan menteri, wapres, dan presiden, ada berita yang luput dari perhatian para elit politik padahal masalah ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tahukah anda bahwa harga beras akhir-akhir ini naik cukup tajam. Satu kg beras kualitas sedang harganya sudah mencapai Rp6500 hingga Rp7000, diperkirakan harganya akan terus meroket. Minggu lalu saya beli beras jenis pandan wangi harganya sudah 170 ribu per 25 kg (biasanya hanya Rp 160 ribu), sementara di kios lain sudah mencapai Rp 180 ribu. Alhamdulillah, saya sendiri masih sanggup membeli beras semahal apapun kenaikannya, tapi bagaimana dengan rakyat miskin yang penghasilannya pas-pasan, yang sehari-harinya hanya punya penghasilan Rp10.000? Dapat apa dengan uang segitu untuk memberi makan keluarganya? Baca berita menyedihkan ini.

Beras, bagaimanapun sangat penting bagi orang-orang miskin, terutama di desa-desa. Jika orang-orang kaya di kota bisa membeli roti jika mereka bosan makan nasi, tidak demikian halnya dengan orang desa. Satu buah roti yang harganya Rp5000 mungkin hanya untuk dimakan seorang, tapi bagi orang desa uang lima ribu itu bisa membeli satu kg beras untuk makan berempat. Pameo “belum makan sebelum makan nasi” memang benar adanya. Bagi orang-orang desa yang bekerja keras membanting tulang untuk membeli satu cangkir beras, nasi adalah sumber tenaga dahsyat yang tidak tergantikan.

Apa jadinya jika beras mahal dan tidak mampu dibeli? Makan nasi menjadi barang mewah, namun “kreatifitas” (dalam tanda petik) selalu muncul untuk menyiasati hal ini. Apapun dilakukan mereka asal tetap makan nasi. Bagi orang miskin di Jawa, mereka sudah biasa makan nasi aking. Nasi aking adalah sisa nasi yang sudah basi, kemudian dijemur hingga kering, selanjutnya direndam beberapa malam agar lunak, baru kemudian dimasak. Perhatikan gambar seorang nenek yang makan nasi aking dengan cucu-cucunya di bawah ini (gambar diambil dari sini):

Selain nasi aking, orang desa di Jawa sudah biasa makan nasi tiwul dan nasi jagung. Nasi tiwul adalah nasi yang dicampur dengan gaplek (singkong kering), sedangkan nasi jagung adalah nasi yang dicampur dengan tepung jagung. Biasanya, kalau beras sudah menipis, maka persediaan jagung kering yang ada di loteng rumah terpaksa diturunkan, kemudian biji jagungnya dipipil. Jagung ditumbuk, lalu beras dicampur dengan tepung jagung sebelum kemudian dimasak.

Jika harga beras tidak bisa dikendalikan, maka jangan heran akan muncul masalah sosial yang tidak kalah hebat dengan kasus Bank Century itu. Uang trilyunan rupiah “yang dirampok” Bank Century itu bisa membeli beras berjuta-juta ton untuk membantu orang-orang miskin yang tidak mampu membeli beras.

Pedagang Program Bajakan di Depan Kampus

Berjalanlah di sepanjang Jalan Ganesha, maka anda akan menemukan beberapa pedagang program (software) bajakan yang menggunakan tenda sebagai gerainya. Seperti foto di bawah ini:

Harga program bajakan yang dijual pedagang ini (dalam bentuk keping CD atau DVD) berkisar antara Rp10.000 hingga Rp25.000. Mau pesan program lain yang tidak ada di sana juga bisa. Pelanggannya cukup banyak, mulai dari mahasiswa, dosen, pelajar, orang kantoran, dan masyarakat umum. Tidak hanya menjual program bajakan, mereka juga menjual aneka CD game. Mereka menjual produk bajakan itu terang-terangan tanpa takut dirazia atau ditangkap oleh aparat. Seperti halnya para pedagang VCD bajakan di emper-emper toko dan kaki lima, mereka tetap aman berdagang meskipun tidak jauh dari situ ada polisi hilir mudik. Polisi pun membiarkan saja pedagang itu, mungkin mereka pikir itu orang-orang kecil yang mencari nafkah.

Kebanyakan program ketika diinstalasi (setup) ke komputer akan menanyakan kunci atau nomor registrasi sebagai prasyarat sebelum bisa dipakai oleh pengguna. Pada program yang dibeli secara legal, kunci atau nomor registrasi itu tertera di balik bungkus CD/DVD atau pengguna harus melakukan registrasi dulu secara online ke server pengembang untuk mendapatkan kunci yang valid. Bagi pembajak, mereka tidak kehilangan akal untuk mendapatkan kunci pada setiap keping CD/DVD bajakannya. Mereka cukup membeli satu program yang legal (yang berarti mendapatkan kuncinya), lalu membuat program cracker untuk membangkitkan kunci tersebut (program keygen). Program keygen hanya membangkitkan kunci-kunci yang legal (yang berarti akan dikenali oleh program setup). Program keygen disisipkan di dalam setiap CD/DVD bajakan. Pembeli program bajakan hanya perlu menjalankan program keygen ini ketika program setup menanyakan kunci, lalu meng-copy-paste kunci yang dihasilkan ke pertanyaan program setup. Sederhana, bukan?

Di lingkungan kampus, program bajakan itu banyak disimpan di komputer server lab. Bagi mahasiswa yang mencari program yang dibutuhkannya, ia hanya perlu melakukan telnet atau ftp ke server tersebut untuk mengunduh program tersebut lengkap dengan keygen nya.

Jika dipikir-pikir pedagang itu untung besar menjual program bajakan. Modalnya hanya CD/DVD kosong yang harganya tidak sampai 2000 rupiah per keping. Mereka meng-copy program ke setiap keping, lalu menjualnya dengan harga lima hingga sepuluh kali harga CD/DVD kosong. CD bajakan jumlahnya bisa ribuan buah yang didistribusikan ke seluruh Indonesia. Harga program yang legal mungkin berkisar ratusan ribu hingga jutaan, tapi di tangan pedagang itu hanya dihargai 20 ribu prak. Benar-benar menggemaskan dan menjengkelkan bagi si pembuat program. Padahal membuat program itu butuh waktu berbulan-bulan dengan menguras pikiran, tenaga, biaya, bahkan perasaan, namun di tangan pembajak karya mereka dihargai sama dengan sepiring bakso. Pantaslah pembajakan itu adalah perbuatan kriminal karena merugikan pembuatnya. Indonesia adalah surga bagi para pembajak. Pembajakan apa saja, mulai dari film, musik, buku, hingga piranti lunak. Yang belum ada hanya pembajak pesawat :-) .

Pedagang program itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sistemlah yang membuat pembajakan itu ada. Harga program yang legal tidak terjangkau oleh masyarakat umum. Selain itu, yang masalah utama adalah akses untuk mendapatkan program legal tidak mudah, mencarinya pun susah-susah gampang. Program yang legal tidak selalu ada gerai resminya. Coba sebagai contoh kecil, dimana kita bisa membeli program WinZip atau WinRar yang legal yang sering dipakai untuk kompresi/dekompresi? Ketika kebutuhan akan sebuah piranti lunak itu sangat mendesak (kepepet) dan mencari yang legalnya sulit, akhirnya orang mencarinya di gerai-gerai bajakan itu. Hayo, siapa yang tidak pernah menggunakan program bajakan? VCD bajakan? DVD bajakan? Saya pernah (hi..hi, ngaku). Saya rasa hampir semua orang pernah memakai program bajakan. Coba periksa apakah semua program di laptop atau komputer anda semuanya program legal? I think no.

Menyedihkan memang, tapi itulah faktanya. Kampanye penggunaan freeware ataupun open source hanya berhasil mengatasi sebagian masalah (karena tidak semua program ada opensource atau freeware nya), sebagian lagi tidak dan ini adalah peluang subur untuk tumbuhnya industri pembajakan. Keberadaan pedagang program bajakan itu dibenci (karena melakukan kriminal pembajakan) tapi pada sisi lain ia dibutuhkan (kalau lagi butuh-butuhnya program yang diinginkan). Benci tapi rindu.

Serial Animasi “Upin dan Ipin” Mencuri Perhatian

Di tengah hubungan yang kurang harmonis antara Indonesia dan Malaysia, ternyata sebuah serial animasi asal ngeri jiran itu mencuri perhatian anak-anak dan keluarga Indonesia. Judul serial animasi itu adalah Upin dan Ipin.

Serial animasi ini diputar di stasiun televisi TPI setiap hari. Ceritanya berkisar tentang keseharian anak-anak Malaysia yang bernama Upin dan Ipin, teman-temannya bernama Mei-Mei, Rajoo, Fizi, dan lain-lain. Upin dan Ipin adalah anak-anak yang cerdik, sekaligus polos dan kadang-kadang nakal. Ada kakak mereka yang galak –kak Ros, lalu Opah dan cikgu Jasmin yang ramah. Dialognya menggunakan bahasa melayu-Malaysia namun diberi teks terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

Cerita di dalam film animasi ini sungguh kocak. Mereka masih anak-anak tetapi mengajarkan banyak hal kepada orang, utamanya tentang kejujuran, kebersamaan, rasa simpati, dan lain-lain. Meskipun berlatar belakang kehidupan anak-anak di kampung-kampung Malaysia, namun nuansanya tidak jauh beda dengan di Indonesia, misalnya main petak umpet, main ketapel, menangkap ayam, dan sebagainya, makanya dengan cepat serial ini merebut hati anak-anak. Anak saya suka banget menonton Upin dan Ipin ini, saya juga kalau sempat ikut pula menonton. Lucu sih melihat ulah anak-anak itu, kadang saya tertawa dan kadang terharu. . Saking populernya serial animasi ini, maka produk-produk bergambar Upin dan Ipin pun bermunculan di pasar, mulai dari kartu, kaos, boneka, dan lain-lain. Saya jadi ingat ketika dulu serial Dora The Explorer muncul dan digemari anak-anak, maka aneka merchandise Dora pun banyak dijual orang.

Sedihnya, tidak ada produser Indonesia yang mencoba memuat serial animasi anak-anak. Saya yakin animator Indonesia cukup banyak jumlahnya dan tidak kalah kreatif dengan animator Malaysia itu. Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta adalah gudangnya desainer animasi, tapi saya heran kok nggak ada ya yang membuat film animasi yang bercerita tentang anak-anak Indonesia? Masa anak-anak kita dibanjiri tokoh impor semua seperti Sponge Bob, Naruto, Avatar, Power Ranger, dan lain-lain. Ada sih yang membuat film kartun dalam bentuk VCD dan DVD, tetapi kebanyakan ceritanya tentang dongeng klasik yang tidak bisa dikembangkan lagi karena sudah pakem, seperti cerita si kancil, Timun Mas, Malin Kundang, Ande-ande Lumut, dan sebagainya. Dalam bentuk serial tidak ada (dulu pernah ada sih, tapi hanya sebentar yaitu Si Huma), kalau Si Unyil itu bukan serial animasi, tapi boneka.

Bila Musim Durian Tiba

Musim hujan identik dengan musim durian. Durian yang datang dari mana-mana — baik dari Sumatera maupun dari lokal Jawa Barat dan Banten — menyerbu kota Bandung saat ini. Ranum-ranum dan membangkitkan selera. Harganya juga bervariasi, dari yang Rp10.000 hingga Rp30.000 per buah, tergantung jenis dan ukurannya. Harga segitu masih mahal, kata teman saya yang baru datang dari Palembang. Di Palembang sekarang ini durian dijual sepuluh ribu empat, artinya satu biji cuma Rp 2.500! Benar-benar jatuh bebas harga durian kalau lagi melimpah gini.

Di Bandung, tempat-tempat yang khas menjual durian adalah di Jalan Riau, Jalan Sudirman, Jalan Gardujati, dan jalan Ahmad Yani (depan stadion Persib). Kamarin saya melewati Jalan Ahmad Yani. Di depan Gereja Salib Suci di jalan itu berkumpul beberapa pedagang durian yang menjual aneka durian yang ranum-ranum, mulai dari jenis montong, petruk, dan lain-lain.

Pedagang yang mobile juga banyak, mereka membawa duriannya dengan mobil bak terbuka, sehingga mereka bisa berpindah tempat mencari keramaian. Dimana ada keramaian di situ ada pembeli.

Terlihat beberapa orang pembeli makan durian di tempat. Hmmm… lahapnya dia menikmati buah dewa ini. Oh ya, ada aturan makan durian yang diterapkan pedagang di Sumatera, saya nggak tahu kalau di Bandung ini juga begitu. Di Sumatera, anda boleh mengganti durian jika durian yang sudah dibelah di tempat itu ternyata masih muda dan rasanya asam. Sampai iterasi (IF banget ya :-) ) ke berapa silakan buka durian sampai pembeli puas menemukan durian yang matang. Yang dihitung cuma durian yang dimakan itu, durian yang batal tidak perlu dibayar.

Selamat makan durian, lebih enak kalau makan ramai-ramai di waktu malam. Tapi, jangan berlebihan ya, ingat kolestrolnya tinggi.

Sayembara Desain Gedung Baru di ITB (Hiks…GSG akan Tinggal Kenangan)

Sudah lama tidak ada pembangunan fisik di ITB. Kampus ITB yang luasnya hanya segitu-gitunya (cuma 5 Ha), memang susah mau dikembangkan. Lahan Bonbin (kebun binatang) yang terdapat di sebelah barat kampus tidak berhasil juga diakuisisi, padahal katanya itu lahan milik ITB. Kebun Binatang Bandung tidak mau pindah ke Dago Pakar atau ke Jatingangor karena — katanya lagi — kejauhan. Lahan yang terbatas di dalam kampus memang harus membuat pengelola ITB harus kreatif dalam membangun gedung baru, salah satunya dengan membongkar gedung-gedung lama.

Peta kampus ITB:

Nah, tiba-tiba saya membaca berita pembangunan 4 gedung baru di ITB. Setiap gedung tingginya 10 lantai (pada peta di atas denahnya diberi warna biru). Keempat gedung baru itu adalah:

1. Gedung Center for Advanced Studies (CAS).
Gedung ini menempati lahan pool kendaraan ITB yang terletak di sebelah timur gedung Perpustakaan Pusat. Gedung baru ini tingginya 10 lantai. Di dalam gedung ini terdapat beberapa laboratorium sains tingkat lanjut, yang akan menjadi sarana penelitian sains terdepan yang akan digunakan oleh peneliti dari berbagai program studi dari dalam maupun dari luar ITB. Gedung ini juga akan digunakan oleh Program Studi Matematika dan Program Studi Astronomi ITB. Di bawah ini gambar lokasinya:

2. Gedung Center for Research and Community Services (CRCS).
Gedung ini akan berlokasi di lahan yang sekarang ditempati kantor LAPI ITB dan Puslog ITB. Di dalam gedung ini akan terdapat beberapa ruang kantor dan ruang pertemuan dari berbagai organisasi yang terdapat di ITB yang berkaitan dengan riset dan pelayanan masyarakat. Gedung ini dirancang untuk memiliki luas lantai total 6.960 meter persegi dan tingginya 10 lantai.

Di bawah ini gambar lokasinya:

3. Gedung Center for Arts, Design and Language (CADL).
Bagi alumni yang mempunyai banyak kenangan dengan GSG (Gedung Serba Guna), terutama mahasiswa angkatan 80-an dan sebelumnya yang dulu diwisuda di GSG, siap-siaplah kehilangan gedung ini. Di lahan gedung yang ditempati GSG akan dibangun Gedung CADL. Gedung ini akan diisi dengan fasilitas-fasilitas baru untuk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan untuk Pusat Bahasa ITB. Fasilitas untuk Pusat Bahasa ITB harus diletakkan di bagian utara gedung pada lantai bagian bawah dengan pintu masuk tersendiri yang menghadap ke sisi utara. Fasilitas pusat bahasa ini akan digunakan oleh mahasiswa dan dosen ITB serta pengunjung dari luar ITB.

Di bawah ini gambar lokasinya:

4. Gedung Center for Infrastructure and Built Environment (CIBE).
Gedung ini akan dibangun di sebelah barat Gedung Program Studi Fisika dan Program Studi Teknik Sipil, dan sebelah utara dari Gedung Basic Science. Gedung CIBE ini akan diisi dengan fasilitas laboratorium dan kantor untuk Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB. Gedung ini akan memiliki 10 lantai dengan 1 lantai basement dan luas lantai total 11.000 meter persegi.

Di bawah ini gambar lokasinya:

Nah, menariknya lagi, desain arsitektur gedung-gedung baru ini disayembarakan kepada umum. Bagi anda yang punya keahlian arsitek atau punya teman atau kenalan arsitek lulusan perguruan tinggi manapun, silakan ikut sayembara desain arsitektur gedung-gedung baru ini. Siapa tahu anda menang, hadiahnya lumayan besar lho (hadiah juara 1 saja Rp 100 juta bo). Informasinya dapat dilihat dan dibaca di situs web ini. Bahan tulisan ini, termasuk foto-foto, dikutip dari situs tersebut.

Bandung Kota Agamis?

Minggu lalu ada berita yang cukup heboh di Bandung. Sebuah kafe di Pascal Paskal Hypersquare, namanya kafe Bellair, diciduk polisi karena menampilkan tarian striptis alias tarian (maaf) telanjang (baca beritanya di sini). Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemudian Pak Walikota Dada Rosada langsung mendatangi kafe itu. Di sana Pak Dada sempat marah-marah kepada pengelola kafe yang nakal itu. Dia mengancam akan menutup kafe tersebut karena sudah mencemarkan wacana kota Bandung sebagai kota agamis.

Sejak dulu memang selalu berkembang wacana untuk menjadikan Bandung kota agamis. Kota agamis secara sederhana dapat diartikan sebagai kota yang bebas maksiat, dan maksiat dalam pengertian masyarakat adalah perbuatan yang diasosiasikan dengan bisnis esek-esek. Usaha ke arah itu sudah ada, misalnya ditutupnya lokalisai Sar*t*m, lalu eks lokasi pelacuran itu dijadikan Pesantren Attaubah. Namun, kesan yang ada di benak publik selama ini adalah aksi yang sering dilakukan untuk menjadikan Bandung sebagai kota agamis itu baru sebatas masalah prostitusi saja, padahal sebenarnya banyak aspek kemaksiatan lain yang belum tersentuh.

Bandung adalah kota hiburan dan kota pelesir warga Jakarta. Di sini banyak tempat hiburan malam mulai dari pub, klab malam, panti pijat, diskotik, kafe, dan sebagainya. Keberadaan tempat hiburan malam itu tidak bisa dilarang karena memang ada sekelompok orang yang kesenangannya adalah dugem dan menghabiskan waktu malamnya untuk senang-senang. Ini negara demokrasi dimana setiap orang bebas untuk melakukan apa saja yang dia mau. Namun, kebebasan yang diberikan itu ternyata disalahgunakan oleh sebagian pemilik hiburan. Di tengah persaingan hiburan malam yang sengit, mereka mencari upaya untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, antara lain dengan menu tarian erotis semacam itu. Kesan bahwa tempat hiburan malam adalah tempat transaksi seks bebas, narkoba, dan mabuk-mabukan susah dihilangkan dari benak masyarakat. Jadi, bagaimana mau menjadikan Bandung sebagai kota agamis jika praktek kemaksiatan masih bebas berlangsung di tempat-tempat hiburan malam itu.

Sebagai kota yang dekat dengan Jakarta, maka perkembangan gaya hidup kota metropolitan mau tidak mau cepat pula merembet ke kota Bandung. Hal yang dulu tabu sekarang sudah menjadi pemandangan biasa. Masyarakat sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang yang berpakaian seronok yang serba terbuka atau bersikap cuek dengan pasangan anak muda sedang berangkulan erat dan berpelukan di tempat-tempat umum. Laki-laki dan perempuan tampak bergaul begitu bebas. Tidak ada yang berani menegur atau mempersoalkan karena hampir semua orang berpikir itu adalah urusan privasi yang bersangkutan.

Itulah Bandung, kota gemerlap yang ingin menunjukkan dirinya sebagai kota agamis. Perlu waktu panjang dan usaha yang keras dari pengelola kota untuk menjadikan Bandung kota yang “bersih” dari kemaksiatan. Sulit memang, tapi tetap tidak boleh putus asa.