Teman saya di Surabaya minta ditulis lagi wisata kuliner yang lain di Bandung. Kangen Bandung, katanya. Maklumlah dulu dia cukup lama tinggal di Bandung (sejak kuliah di ITB hingga bekerja), sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. “Di Surabaya nggak banyak variasi makanannya”, kata teman saya itu. “Kalau nggak lontong kupang, lontong balap, rujak cingur, soto, atau nasi pecel. Kalau di Bandung kan bayak sekali variasi makanannya”, lanjut teman saya itu.
Lha iyalah, Bandung kan kota kuliner, kata saya tersenyum. Bandung dikenal dengan warganya yang kreatif, mulai dari seni hingga masakan. Bangga dong sebagai orang Bandung jika kotanya dipuji begitu.
Baiklah, memenuhi permintaan teman saya itu, saya tampilkan pengalaman saya membeli nasi pepes (atau pepes nasi, sama saja ). Nasi pepes? Iya, nasi pepes. Kalau soal pepes memepes, orang Sundalah ahlinya. Segala rupa makanan dipepes, mulai dari ikan pepes, ayam pepes, tahu pepes, tempe pepes, telur pepes, ikan asin pepes, jamur pepes, dan terakhir nasi pepes. Pepes adalah teknik memasak makanan yang dibungkus dengan dun pisang (setelah dibumbui tentunya), kemudian dikukus di dalam dandang hingga bumbu menyerap ke dalam bahan makanan.
Nasi pepes adalah nasi yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu dan dicampur dengan lauk pauk berupa potongan ayam, telur burung puyuh, ati-ampela, ikan asin jambal roti, dan jamur. Kadang-kadang ada biji pete juga
. Bumbunya adalah santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, batang sereh, daun salam, dan beberapa bahan lagi (saya kurang tahu persis). Santan berfungsi untuk membuat gurih nasi (seperti nasi uduk). Untuk menambah cita rasa harum maka ke dalam nasi pepes dimasukkan daun kemangi. Cara memasaknya tidak sulit (ini dari pengamatan saya yang senang memasak). Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam nasi yang sudah setengah matang, kemudian nasi dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya kukus di dalam dandang selama setengah jam hingga bumbu meresap. Setelah dikukus, nasi pepes dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum. Kebayang kan enaknya?
Beberapa tahun terakhir ini cukup banyak yang menjual nasi pepes di Bandung. Mula-mula saya temukan nasi pepes pepipela yang dijual di kedai pinggir Jalan Imam Bonjol (dekat factory outlet). Dulunya nasi pepes ini lumayan enak, tapi akhir-akhir ini kok enaknya sudah berkurang. Di belakang Gedung Sate (Jalan Cimandiri) juga ada nasi pepes Sawargi, tapi rasanya average lah. Yang uueenak dan mak nyus adalah nasi pepes Anugerah di Jalan Terusan Jakarta 10 E. Nasi pepes yang terakhir inilahyang saya certakan di sini.
Tadi siang dalam perjalanan ke kampus saya singgah ke ruko yang menjual nasi pepes Anugrah. Saya beli satu untuk bekal makan siang nanti usai mengajar. Satu porsi harganya Rp12.500. Saya cukup sering membeli nasi pepes di sini. Jika lagi patah selera dan bosan dengan masakan Padang melulu, maka saya beli nasi pepes ini.
Usai mengajar jam 13.00, perut sudah terasa lapar. Bau harum dari nasi pepes tercium ke seluruh ruangan. Yuk, kita buka dus nasi pepesnya. Mau tahu kan seperti apa bentuknya? Ini dia:
Kita buka dulu bungkus daun pisangnya ya. Sabar, sabar, nanti kebagian kok.
Sudah tidak sabaran lagi? Yuk kita urai nasinya supaya terlihat aneka lauk dan daun-daun yang membuat harum nasi pepes ini.
Yang merah itu adalah sambalnya. Tanpa sambal makan nasi pepes kurang afdhol, apa lagi siang-siang panas begini.
Wah, jadi tambah lapar. Yuk, saya makan dulu ya. Mau? Rasanya jangan ditanya, gurih mantap!
Setelah beberapa menit, tinggal segini:
Yaaahhh…. nggak kebagian dong. Kalau mau, datang saja ke alamat itu, beli nasi pepesnya.
Beberapa jam sesudah makan, teman satu ruangan dengan saya nanya, makanan apa itu di meja kok harum sekali?, tanyanya kepada saya. Lho, padahal nasi pepesnya sudah habis sejak tadi, tapi sisa bau harumnya masih belum hilang juga. Baik, kapan-kapan saya beli dua ya, satu untuk dia.




















