Menghadiri Acara Pengukuhan Profesor

Hari Sabtu kemarin saya datang ke gedung BPI (Balai Pertemuan Ilmiah) ITB di pertigaan Jalan Dipati Ukur dan Jalan Ir. H.Djuanda (Dago, depan jembatan layang Pasupati) guna menghadiri acara pengukuhan Profesor Bambang Riyanto Trilaksono. Wah..wah, profesor (guru besar) di Fakultas STEI makin bertambah nih. Bersamaan dengan Pak Bambang juga turun SK Profesor untuk Pak Kuspriyanto dan Pak Andriyan Bayu Suksmono. Mantaaap. Btw, IF sendiri baru punya 2 profesor yaitu Pak Iping dan Pak Benhard.

Kebetulan Pak Bambang adalah dosen pembimbing disertasi saya, jadi kalau saya tidak datang malu juga awak, nanti ditanya-tanya kenapa tidak datang, bisa gelagapan saya, hi..hi..hi, padahal Pak Bambang mengundang via SMS lho. Oh ya, Pak Bambang Riyanto Trilaksono dikukuhkan sebagai profesor di bidang Teknik Elektro.

Selain Pak Bambang, ada satu orang lagi yang dikukuhkan pada hari itu, satunya lagi Profesor Biranul Anas Zaman dari Program Studi Kriya Seni FSRD.

Pak Bambang lahir pada tahun 1962, sedangkan Pak Biranul tahun 1947. Kontras sekali ya, yang satu mencapai gelar profesor pada usia muda, sedangkan yang satu lagi sudah menjelang senja. Tak apa-apa, mendapat gelar profesor saja sudah bersyukur banget, susah lho itu. Asal tahu saja, ada 4 tingkat jabatan fungsional setiap dosen di Perguruan Tinggi:
1. Asisten Ahli
2. Lektor
3. Lektor Kepala
4. Profesor

Bagi yang baru menjadi dosen, jabatannya pertama kali adalah Asisten Ahli. Kalau sudah bergelar Doktor (S3), bisa langsung ke Lektor. Dari setiap jabatan fungsional ke jabatan fungsional lebih tinggi ada syarat kenaikan yang diukur dari credit cum yang dicapai. Nilai cum itu diperoleh dari 3 aspek Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan/Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Cum dari Penelitian menempati porsi paling tinggi. Jadi, kalau seorang dosen malas meneliti dan menulis paper, ya susah naik ke jabatan lebih tinggi. Seorang dosen mendapat profesor berarti dia sudah banyak menulis paper dari hasil penelitiannya. SK Profesor ditandatangani oleh Presiden R.I.

Nah, kembali ke acara pengukuhan profesor tadi. Baru kali ini saya menghadiri acara pengukuhan profesor. Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Guru Besar (MGB) ITB. Undangan yang hadir adalah dari kalangan keluarga profesor yang dikukuhkan, para guru besar, dosen, dan mahasiswa. Acara pengukuhan hanya punya satu agenda tunggal, yaitu orasi ilmiah dari profesor yang bersangkutan. Pak Bambang menyampaikan orasi tentang kendali dan sistem cerdas, sedangkan orasi Pak Anas tentang serat kain dalam seni kriya kebanggaan Indonesia.

Orasi Pak Bambang:

Orasi Pak Biranul:

Tidak penting benarlah apa isi orasi kedua profesor ini. Cuma, yang menarik kali ini adalah peragaan busana pada akhir sesi orasi Pak Biranul. Berhubung beliau mempresentasikan tentang tekstil, maka sejumlah mahasiswi senirupa berlenggang-lenggok di depan hadirin memperagakan busana yang didesain oleh mahasiswa dan alumni FSRD. Waaah…, acara orasi yang tadinya kaku dan formal, tiba-tiba menjadi meriah dengan peragaan busana tadi. He..he, bukan FSRD namanya kalau tidak membuat acara menjadi meriah dengan pertunjukan yang unik dan aneh-aneh :-) .

Baiklah. Selamat ya Pak Bambang, selamat ya Pak Biranul. Semoga gelar profesornya ketularan kepada saya (kapan ya?).

Apa yang Dikatakan Mario Teguh itu Tidak Salah

Dunia maya kembali membuat berita kontroversi. Mario Teguh, seorang motivator ulung, menulis di akun Twitter-nya: Wanita yg pas u/ teman pesta, clubbing, brgadang smp pagi, chitchat yg snob, mrokok,n kdang mabuk – tdk mungkin direncanakn jadi istri’.

Tulisan Mario Teguh itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan netter, tak terkecuali para aktivis gender. Yang kontra mengatakan Mario Teguh telah menghakimi (judge) wanita-wanita yang disebut di dalam tulisan itu. Namun yang mendukung Mario juga tidak kalah banyak. Tidak ada yang salah dengan yang dituliskan Mario itu, memang begitulah seharusnya, kata pihak yang mendukung.

Kalau saya punya pendapat tambahan supaya adil, bahwa tidak hanya wanita yang suka dugem, mabuk, dan merokok yang tidak pas menjadi istri, tetapi laki-laki yang hobinya dugem, mabuk, dan merokok juga tidak layak menjadi suami yang baik. Dasarnya ada di dalam Al-Quran pada Surat n-Nuur ayat 26 yang terjemahannya sebagai berikut:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Jadi, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.

Naturalnya, di dunia Timur — khususnya di Indonesia yang masih menjunjung tinggi norma susila — setiap orang ketika mencari pasangan hidup tentu melihat latar belakang calonnnya. Wanita yang binal, suka keluyuran malam, dugem, mabuk-mabukan, mudah diapa-apakan, tentu membuat laki-laki yang punya minat akan mundur teratur. Wanita seperti itu lebih tepat untuk laki-laki yang punya perilaku yang sama pula. Hal yang sama juga pada pria. Pria yang hidupnya suka dengan dunia malam, minuman keras, mabuk-mabukan, tentu tidak disukai wanita baik-baik. Laki-laki seperti itu cocok untuk wanita yang punya perilaku sama (tapi anehnya, wanita masih mentoleransi laki-laki yang suka merokok :-) ).

Jadi, Pak Mario Teguh sebenarnya tidak perlu menutup akun Twitter-nya gara-gara tulisan itu. Kalau minta maaf, iya, karena kesalahan Pak Mario agak fatal juga, sebab tulisan itu bukan dia yang menulis langsung, tetapi moderatornya yang menulis. Ya gitulah risiko mempunyai media maya yang diwakili oleh orang lain, bukan dirinya langsung yang menulis atau berkomentar. Mungkin seperti itu pula kali blog, twitter, atau fesbuk milik para pesohor (artis, tokoh, dsb), yang menulis bukan pesohor ybs, tetapi asistennya.

Dunia Politik di Indonesia Saat Ini: Saling Memakan

Aha, akhirnya Presiden SBY punya kartu truf juga untuk menekan anggota partai koalisinya yang dianggap ‘bandel’, yaitu PKS. Pak SBY menegur Menkominfo, Tifatul Sembiring, karena telah mengeluarkan RPM (Rancangan Peraturan Menteri) Konten Multimedia yang ditolak berbagai kalangan itu. Padahal RPM Konten Multimedia itu adalah warisan zaman Menkominfo kala dipimpin oleh M. Nuh, tapi karena diteruskan oleh Pak Tifatul maka publik menilai itu adalah kerjaan Menkomnfo yang baru. Tifatul Sembiring yang kena getahnya, dan sekarang kena ‘batu’ dari Persiden.

Presiden SBY dan Partai Demokrat sekarang sedang dalam posisi terjepit di DPR. Pansus Bank Century hampir menyelesaikan tugasnya, dan pandangan fraksi-fraksi hampir seragam yaitu telah terjadi pelanggaran dalam pengucuran dana penyelamatan Bank Century. Apalagi ada desas-desus kalau sebagian aliran dana itu masuk ke tim kampanye SBY.

Partai Golkar, PDIP, PKS, dan PPP terkesan ‘galak’ di Pansus itu. PAN sebenarnya juga galak, tetapi sudah berhasil dilunakkan karena Menko Ekuin, Hatta Rajasa, yang juga Ketum PAN, adalah orang kepercayaan SBY. PDIP susah dilunakkan karena PDPIP bukan anggota koalisi. Sedangkan PPP sudah berhasil ‘ditembak’ dengan menyeret mantan Menko Kesra terdahulu, Bakhtiar Chamsyah, yang notabene orang PPP, terkait tindak pidana korupsi. Golkar juga telah ditohok dengan isu mengemplang pajak yang dilakukan perusahaan kelompok Bakrie, yang notabene milik Aburizal Bakrie, Ketum Golkar.

Nah, untuk PKS Pak SBY belum punya amunisi untuk menekannya. Tapi kemarin SBY sudah mendapat mesiu untuk menekan PKS, yaitu dengan menggunakan isu RPM Konten Multimedia itu. Mau menterinya dicopot atau melunak di Pansus? Pilih mana? Begitu kira-kira yang dimaksudkan oleh SBY kepada partai-partai itu guna mengamankan posisinya.

SBY berharap dengan isu-isu yang menerpa orang-orang PPP, Golkar, dan PKS, maka Pansus Bank Century diharapkan berakhir antiklimaks. Yang akan terjadi adalah tawar menawar untuk menyelamatkan kepentingan masing-masing.

Begitulah dunia politik di Indonesia, makin seru saja. Siapa saling memakan siapa, saling menjatuhkan untuk kepentingan kelompoknya. Kita sebagai rakyat biasa cukup hanya menonton pertarungan ini, siapa nanti yang bakal menjadi pemenang ya? Sementara para politisi bertarung, sebagian rakyat kita sedang ditimpa kesusahan karena kebanjiran dan kelaparan, tidak ada politisi itu yang mendengar dan peduli.

Fesbuk, Disuka dan Dicerca

Mahasiswa saya bertanya kenapa saya tidak punya akun di fesbuk (Facebook)? Saya menjawab karena saya cukup sibuk beberapa tahun belakangan ini guna menyelesaikan sekolah saya. Kalau punya fesbuk maka konsekuensinya “harus” rajin memutakhirkan status di sana, padahal saya tidak punya waktu untuk sering memutakhirkan informasi di fesbuk. Apalagi ada jargon yang mengatakan bahwa berfesbuk itu kemungkinan hasilnya ada dua macam: kalau tidak social networking ya social not working (maksudnya, gara-gara keasikan berfesbuk ria pekerjaan jadi terbengkalai). Nah, untuk saya saat ini ya social not working, ha..ha…ha. Cukuplah saya memutakhirkan blog ini saja sebab blog berisi hasil pikiran, renungan, dan laporan pandangan mata yang suatu saat berguna untuk dibaca lagi. Ketika ide atau ilham menulis tiba-tiba datang, maka tangan ini ingin langsung menumpahkannya ke dalam tulisan. Sayang jika ilham itu itu hilang begitu saja karena tidak sempat dituliskan.

Nah, dulu saya tidak habis pikir kenapa forum ulama di Jawa Timur mengharamkan fesbuk. Alasan mereka fesbuk lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, salah satunya digunakan untuk ajang maksiat. Banyak pihak yang mencibir fatwa itu, termasuk para seleb dan tokoh-tokoh lainnya. Hmmm…dipikir-pikir memang fatwa haram terlalu berlebihan, menurut saya, jadi saya termasuk orang yang kurang sepakat dengan fatwa haram fesbuk itu. Tapi itu dulu, sekarang saya bisa memahami mengapa para ulama sudah lama mewanti-wanti dampak buruk fesbuk sehingga mengharamkan. Itu hasil kajian yang tidak main-main dan harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Meskipun saya masih belum sepakat soal pengharaman itu, namun setidaknya para ulama itu ada benarnya. Mereka sudah melihat “jauh ke depan” mudharat fesbuk.

Kasus penculikan Nova oleh “pacarnya” bermula di fesbuk. Perkenalan di fesbuk berlanjut dengan kopi darat, lalu bertemu di mal, lalu diajak ke rumah yang sedang kosong, lalu …. (anda bisa lanjutkan sendiri apa yang selanjutnya terjadi). Masih banyak lagi kasus yang mirip seperti ini dimana ujung-ujungnya adalah (maaf) seks. Itu belum terhitung kasus penipuan dan segala kejahatan lainnya melalui fesbuk.

Dan berita teranyar, 4 orang siswa SMA di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena menghina gurunya melalui fesbuk (baca beritanya di sini). Kesal dengan guru sekolah maka beberapa siswa iseng-iseng menumpahkan kejengkelan kepada guru itu di fesbuk dengan kata-kata seperti “dibuang ke laut saja” atau “dimutilasi saja” guru itu. Kata-kata itu bisa dimaafkan oleh guru perempuan tersebut, mungkin dianggap gurauan saja, tetapi dia tidak bisa memaafkan untuk kata-kata yang menyangkut pribadinya yaitu sebutan “pertu” alias perawan tua (kebetulan guru yang dihina memang belum menikah karena sudah lewat umur). Baca deh berita ini.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju tentang pemecatan siswa itu, setidaknya peristiwa ini memberi pelajaran berharga. Bahwa fesbuk bisa digunakan untuk perbuatan negatif. Apalagi ada hukum tidak tertulis bagi para fesbuker bahwa kalau menulis status atau pernyataan di fesbuk itu “harus” berupa kalimat yang lucu-lucu, unik, atau aneh-aneh. Jika tidak begitu, maka tidak menarik orang lain untuk membaca dan berkomentar.

Rasanya tidak adil juga jika kita melihat hanya sisi negatif (mudharat) fesbuk. Karena fesbuk maka dua kawan lama yang puluhan tahun tidak bersua akhirnya bisa berhubungan lagi, karena fesbuk pula dua saudara yang terpisah bisa bertaut lagi. Itulah social networking-nya fesbuk. Fesbuk juga bisa digunakan untuk menggalang dukungan. Ingat cerita “koin untuk Prita”, semula berawal dari fesbuk. Melalui fesbuk para fesbuker menggalang simpati dan akhirnya terjadilah bah pengumpulan koin untuk Prita. Lalu ingat pula kasus nenek Minah, para fesbuker lah yang paling cepat memberi respon dukungan. Masih banyak lagi reputasi fesbuk untuk hal-hal kebaikan.

Pada akhirnya, teknologi adalah seperti mata pisau, bisa digunakan untuk yang baik dan buruk. Kuncinya adalah pengendalian diri dalam menggunakannya. Jika diri tidak terkontrol karena mengikuti hawa nafsu atau unsur kebencian, maka apapun itu baik fesbuk, twitter, plurk, email, blog, dan media di ruang maya lainnya, akhirnya akan memakan si pengguna. Dari situ barulah penyesalan datang, namun sayang sudah terlambat, tidak berguna lagi, seperti kisah Nova atau anak-anak SMA Tanjungpinang itu.

Imlek dan Pembauran Tionghoa

Besok, 14 Februari 2010, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia siap-siap merayakan tahun baru Cina yang disebut Tahun Baru Imlek. Di zaman Orba perayaan ini sempat dilarang oleh Pemerintah, karena masih ada trauma dengan pemberontakan G30S PKI yang dituding didalangi oleh jalur Moskow-Peking (Ibukota RRC waktu itu). Tetapi, di zaman Presiden Gus Dur perayaan Imlek diperbolehkan kembali, sehingga kita orang awam menjadi terbiasa melihat hiasan lampion berwarna merah di pusat-pusat perbelanjaan menjelang Imlek ini. Juga, kita terbiasa membaca dan mendengar ucapan Gong Xi Fa Cai yang mungkin berarti selamat tahun baru.

Semasa kecil di Padang saya pernah merasakan perayaan Imlek. Di Padang ada daerah pecinan yang bernama daerah Pondok, letaknya di wilayah kota tua dekat pelabuhan Muara. Sekarang daerah ini sudah luluh lantak diayun gempa besar pada September 2009 yang silam. Di daerah Pondok terdapat puluhan ribu warga Tionghoa. Merekalah yang menggerakkan bisnis di kota Padang. Karena jumlah mereka cukup banyak, maka kontribusi mereka — termasuk budaya — pada kehidupan kota tidak bisa dipandang remeh. Saya masih ingat dulu perayaan Cap Go Meh (dua minggu setelah Imlek) sangat meriah di kota Padang. Perkumpulan Tionghoa membuat “lipan” terpanjang (liong?) diikuti dengan tandu panjang yang diusung oleh puluhan orang Tionghoa dewasa. Di atas tandu itu ada rumah-rumahan dan di dalam rumah-rumahan itu duduk manis anak-anak yang mengenakan pakaian tradisionil mandarin, lengkap dengan kipas dan asesoris mandarin lainnya. Dari daerah Pondok rangkaian panjang itu diarak melewati daerah Muara, lalu bergerak menuju Pasar Raya dan kembali lagi melewati jalan-jalan di daerah Pondok. Ribuan orang menonton pawai yang unik dan kolosal ini sebagai hiburan di tengah kehidupan yang sulit pada masa itu.

Di bawah ini foto rumah-rumahan yang diangkut dengan tandu panjang oleh pria dewasa pada perayaan Cap Go Meh di daerah Pondok, Padang. Setiap rumah-rumahan diisi dengan anak-anak yang duduk manis. Foto diambil dari situs ini (bercerita tentang sejarah Tionghoa di Padang).

Secara umum akulturasi budaya Mandarin di Indonesia sudah berurat berakar seperti halnya budaya Islam dan budaya Hindu. Ada jutaan orang keturunan Tionghoa di Indonesia, mereka sudah beranak pinak dan menganggap Indonesia adalah tanah air mereka. Namun, tetap saja ada satu yang terasa belum pas: pembauran orang Tionghoa di Indonesia masih belum tuntas. Masih terasa ada jarak antara orang Tionghoa dan orang yang disebut pribumi. Masih banyak orang Tionghoa yang menutup diri dan kurang mau berbaur. Mereka hidup mengelompok dan terkesan tertutup. Tetangga sebelah rumah saya adalah orang Tionghoa, sejak mereka pindah ke komplek kami tidak pernah sekalipun mereka bertegur sapa dengan tetangga, tidak pernah berbaur, tidak pernah ikut rapar RT, bahkan melapor ke RT saja tidak. Seakan-akan mereka memang ingin mengasingkan diri dari lingkungan. Namun, di kampus saya menemukan hal sebaliknya. Kolega saya Bu Harl*l* sangaaaaat baik dan ramah kepada siapapun, baik kepada mahasiswa maupun kepada karyawan dan dosen. Orangnya halus, lembut, dan sepintas terkesan bukan orang Tionghoa, tapi seperti wanita Jawa yang lembut. Jadi, memang kita tidak bisa menggeneralisasi perilaku suatu komunitas, pasti ada saja yang berbeda.

Zaman telah berubah, Indonesia sudah merdeka. Seharusnya sebagai bangsa yang besar dan plural tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan warga Indonesia yang majemuk ini. Karena orang Tionghoa sudah ada di Indonesia sejak berabad-abad yang lampau, maka secara sosiologis mereka adalah bagian dari bangsa ini seperti halnya suku-suku bangsa yang sudah mendiami Indonesia sejak lama. Oleh karena itu, satu cara untuk menerima warga Tionghoa adalah dengan tidak menganggap mereka sebagai sebuah etnis lagi, tetapi menganggap mereka sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia seperti suku-suku lain yang ada (Jawa, Sunda, Minang, Batak, Ambon, Dayak, dll). Suku Tionghoa, begitu istilahnya. Saya sendiri lebih suka menulis kata “tionghoa” daripada “cina” karena sebutan “cina” bagi orang Tionghoa terkesan melecehkan.

Ada juga yang menggunakan pendekatan sosio-religius untuk melakukan pembauran, karena agama dipandang sebagai salah satu alat pemersatu. Pendekatan sosio-religius itu mengatakan bahwa agar bisa berbaur dan lebih diterima maka orang-orang Tionghoa sebaiknya mengikuti agama yang mayoritas di tempat dia tinggal. Di Thailand orang Tionghoa sudah menyatu dengan bangsa Thai karena orang Tionghoa juga beragama Budha seperti agama orang Thai. Di Filipina juga begitu karena orang Tionghoa beragama Katholik seperti agama mayoritas orang Filipina. Saya menemukan contoh menarik ketika jalan-jalan ke kota Manado. Di sana orang Tionghoa sudah menyatu dengan orang Manado asli karena warga Tionghoa juga beragama Kristen seperti orang Manado. Jadi, jika pendekatan ini diterima, maka di Bali orang Tionghoa sebaiknya mengikuti agama Hindu, di Ambon mengikuti agama Kristen dan Katolik, di Padang mengikuti agama Islam, dan sebagainya. Tentu saja ada yang pro dan kontra dengan pendekatan ini.

Allah menciptakan manusia dari berbagai suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal, bukan untuk saling bermusuhan, seperti tertulis di dalam Al-Quran Surat surat Al Hujuraat ayat 13 ini :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Indah sekali bunyi ayat Al-Quran di atas. Kata Allah di dalam ayat tersebut, orang yang paling mulia bukanlah orang Arab, atau orang Yahudi, atau orang Tionghoa, atau orang Jawa, atau orang Eropa, atau orang Jepang, dan sebagainya. Orang yang paling mulia di antara suku-suku dan bangsa-bangsa itu adalah orang yang bertaqwa. Bertaqwa artinya mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bahkan, Allah SWT melarang kita mengejek atau mengolok-olok suatu suku (kaum), karena boleh jadi suku (kaum) yang diejek itu ternyata lebih baik dari kita. Ini tertulis di dalam SuratAl-Hujurat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Memanggil orang dengan sebutan atau gelar yang buruk saja dilarang, apalagi memperolok dan mengejek sekelompok orang.

Begitulah Allah SWT memberi tuntunan bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda suku bangsa dan agama dengan kita.

Susah Mencari Mahasiswa Kurang Mampu di ITB???

Beberapa hari yang lalu beberapa orang mahasiswa di bawah perwalian saya datang menghadap meminta tanda tangan guna pengajuan permohonan beasiswa peningkatan prestasi akademik (PPA). Semester lalu dia dapat beasiswa, dan semester ini dia mau memperpanjang lagi. Dia mengatakan semester lalu banyak jatah beasiswa tidak terpakai. Itu informasi yang dia terima dari loket beasiswa.

Banyak jatah beasiswa tidak terpakai? Wah, sayang dong alokasi dana yang diperuntukkan untuk beasiswa menjadi menganggur. Saya menduga-duga apa kira-kira penyebabnya. Kemungkinan pertama mungkin informasinya tidak sampai kepada yang membutuhkan. Istilahnya sosialisasinya belum maksimal. Kemungkinan kedua, jumlah mahasiswa kurang mampu (secara ekonomi) di ITB makin berkurang. Saya tidak punya data tentang ini, jadi hanya bisa menebak-nebak saja.

Sukurlah jika banyak mahasiswa ITB saat ini tidak mengalami kesulitan lagi soal biaya kuliah, biaya hidup, dan segala jenis biaya lain selama hidup dan kuliah di Bandung. Tidak seperti zaman saya kuliah, begitu banyak mahasiswa yang kurang mampu namun mempunyai semangat tinggi untuk kuliah. Mereka terpaksa menghemat kiriman uang dari kampung, mencari tambahan biaya sebagai pengajar les privat, atau bekerja apa saja supaya ada pemasukan. Maka tidak heran jika peminat beasiswa membludak, namun banyak peminat terpaksa ditolak, hanya yang benar-benar sangat membutuhkan saja yang diprioritaskan. Harap dicatat jumlah beasiswa terbatas sementara permintaan sangat tinggi.

Sekarang para alumni yang dulu merasakaan pahit getirnya kuliah dengan kondisi pas-pasan itu tentu sudah menjadi orang sukses dan mapan. Hidup telah menempa mereka menjadi orang yang gigih, kesusahan telah melecut mereka untuk meraih mimpi. Semoga saja mereka masih ingat dengan “penderitaannya” dulu dan sekali-kali melongok kos-kosan mereka yang berada di gang sempit dekat masjid, atau warung makan tempat mereka sering berutang, apakah semuanya masih ada?

Zaman telah berganti. Warna kehidupan di kampus ITB juga sudah berubah. Sekarang ini kalau memperhatikan lautan mobil mahasiswa (ada yang menyebutnya “showroom mobil”) di seputaran Jalan Ganesha dan di tempat parkir, kita jadi maklumlah adanya. Puncaknya hari Rabu dan Kamis dimana perkuliahan sangat padat-padatnya dan mahasiswa sedang banyak-banyaknya di kampus. Pada saat itulah seputaran Jalan Ganesa sulit dilalui karena banyaknya mobil yang parkir.

Saya dan teman-teman yang pernah merasakan kehidupan pada tahun 80-an dan memilih tetap berada di almamater sebagai dosen tentu dapat merasakan perbedaan itu. Kondisi mahasiswa ITB saat ini sungguh jauh berbeda dengan sepuluh tahun atau dua puluh tahun lalu. Sejak ITB menerima mahasiswa lewat jalur “mahal” (USM), maka ITB dipenuhi mahasiswa dari kalangan atas. Apalagi setiap tahun persentase penerimaan jalur USM semakin tinggi dibandingkan dengan jalur tradisionial — SPMB atau apalah namanya sekarang, SNMPTN. ITB masih mending, UGM hanya menyisakan 10% buat jalur SNMPTN, sedangkan UI sedikit lebih tinggi. SNMPTN sebenarnya adalah harapan terakhir bagi calon mahasiswa yang kurang mampu di daerah untuk mencoba peruntungan masuk ITB. Sukurlah ada program ITB untuk semua yang ditujukan menjaring mahasiswa kurang mampu untuk kuliah di ITB. Semua siswa SMA dari berbagai kalangan mempunyai hak yang sama untuk kuliah di ITB.

Mau tidak mau kondisi sosial mahasiswa ITB saat ini juga membuat irama kehidupan di kalangan mahasiswa juga berubah. Sebagai mahasiswa yang biasa hidup dalam lingkungan yang nyaman, maka kenyamaman itu juga dibawa ke kampus, salah satunya membawa mobil pribadi dari kosan yang sebenarnya tidak jauh ke kampus, nonton film terbaru di Blitz Megaplex, pentas musik, kumpul-kumpul di kafe, dan sebagainya.

Sebagai konsekuensi dari kondisi ini maka kemahasiwaan di ITB juga melempem. Sangat jarang mahasiswa ITB melakukan aksi demo terkait masalah-masalah bangsa ini, atau demo tentang ketidakadilan yang menimpa rakyat kecil. Kalaupun ada, maka yang ikut hanya sedikit, itupun yang benar-benar aktivis dan idealis. Susah sekali bagi KM ITB untuk mengumpulkan massa buat orasi atau demo-demo. Sebagian besar mahasiswa lebih memilih menikmati kenyamanan di kampus ketimbang berpanas-panas ikut aksi demo yang dinilai tidak jelas dan tidak menarik.

Mau tidak mau fakta ini harus diterima bahwa memang beginilah kondisi sosial mahasiswa ITB saat ini. Jadi kalau peminat beasiswa berkurang, mungkin memang sudah agak sulit mencari mahasiwa kurang mampu di ITB.

Nikah pada Usia Muda

Minggu lalu, seorang mahasiswa saya saya dari Angkatan 2005 yang sudah lulus pada Wisuda Oktober 2009 yang lalu dan sekarang sudah bekerja di Jakarta, datang khusus ke rumah mengantarkan undangan pernikahan. Wah, suprise nih, usia masih muda belia tapi sudah siap menempuh hidup baru membentuk keluarga baru. Calon istrinya sesama ITB juga, Farmasi lagi. Selamat ya H*k*m (wuss… namanya terpaksa disebut nih).

Bukan itu yang saya mau ceritakan. Tapi saya salut pada orang-orang seperti ini. Sudah lulus, sudah bekerja, sudah punya calon (istri atau suami) pula. Apalagi yang ditunggu-tunggu? Ya sudah, kalau restu orangtua sudah diperoleh, menikah saja. Pacaran — atau ta’aruf atau apalah namanya — terlalu lama tidak baik. Lama-lama bosan sendiri, akhirnya “bubar jalan”. Itu masih mendingan, bagaimana jika mereka terjerumus lebih dalam, melakukan apa yang seharusnya belum boleh dilakukan. Itu lebih bahaya lagi, dosa malah yang didapat.

Nikah pada usia relatif muda banyak keuntungannya. Jika langsung diberi Allah keturunan maka ketika anak-anak sudah beranjak remaja orangtuanya masih muda. Kadang saya “iri” sama teman-teman saya, anak-anak mereka sudah besar-besar, sudah mahasiswa pula, padahal orangtuanya sudah umur 40-an seperti saya ini, hi..hi, hi. Tak apalah, mungkin begitu pula jalan hidup masing-masing orang.

Saya juga mencatat beberapa orang mahasiswa saya (biasanya laki-laki) menikah ketika masih kuliah di tingkat 2 atau tingkat 3. Bukan, bukan karena faktor “accident“, tetapi memang dia yang ingin segera karena alasan agama. Saya tidak terlalu menganjurkan yang seperti ini. Menikah pada masa kuliah bisa memecah-mecah konsentrasi, akhirnya kuliah menjadi keteteran karena disibukkan dengan urusan mencari nafkah. Sabar dululah sedikit, tunggu sampai lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap. Menikah itu tidak hanya karena demi panggilan agama semata (menjaga syahwat, menghindari fitnah, dsb), tetapi faktor lain juga harus dipikirkan. Mau dikasih makan apa anak orang, dikasih makan rumput?, begitu kata orang-orang tua zaman dahulu kalau anaknya kebelet kawin tetapi pekerjaan tidak ada.

Pada sisi lain, saya juga kadang-kadang sedih kalau mengetahui masih banyak mantan mahasiswi saya yang sekarang pendidikannya sudah tinggi, karirnya sudah bagus, tapi masih juga “sulit jodoh”. Itu saya ketahui ketika bertemu muka, atau ketika ngobrol di ruang maya. Orangtuanya pasti sudah mendesak supaya cepat menikah, tapi mau menikah dengan siapa? Kalau dia laki-laki tentu tidak masalah, sebab umur kepala tiga pun masih laku, masih banyak yang mau. Tapi kalau dia wanita, ia dibatasi oleh kodratnya, oleh hukum alam. Bertambah usia tentu semakin sukar ia menemukan jodoh. Apalagi pria umumnya mencari calon istri yang usianya lebih muda. Masalahnya semakin “berat” kalau wanita itu sudah punya karir mapan atau sudah berpendidikan S2 atau S3, tentu kriteria calon suaminya minimal yang setara, dan mencari yang setara itu semakin susah saja. Saya sendiri banyak menerima “titipan” dari beberapa orang untuk mencarikan calon suami buat anaknya, adiknya, atau kakaknya. Itu bukti bahwa makin kesini makin banyak wanita yang sulit mendapatkan jodohnya.

Bahwa pria mencari calon istri yang lebih muda itu sudah jamak, namun ada saja anomalinya. Mantan mahasiswa saya dari Angkatan 199x menikahi wanita yang usianya 2 tahun lebih tua dari dia, sesama ITB juga. Alasannya mungkin sulit dipahami banyak orang, yaitu niat karena Allah SWT ingin “membantu” wanita tadi yang sudah sulit mendapatkan jodoh. Saya rasa tentu tidak cukup niat “membantu” saja, rasa suka dan cinta pasti harus ada dong. Itu pula yang terjadi pada teman saya sesama dosen tetapi beda jurusan, ia menikahi wanita yang usianya 3 tahun lebih tua karena niat ibadah tadi. Sukar dipahami memang, tapi begitulah, masih ada orang yang seperti ini.

Berkaca dari pengalaman di atas, maka ketika seseorang masih kuliah tidak ada salahnya ia mulai memikirkan masa depan, mulai memikirkan siapa pendamping hidupnya, mulai mencari-cari siapa yang tepat. Tidak perlu merasa tabu membicarakan soal yang satu itu. Bobotnya 20 SKS lho! Menutup diri dari orang lain tidaklah tepat, apalagi memasang roman “jual mahal”. Membuka diri itu penting. Jodoh tidak datang sendiri, tapi harus dicari. Makin luas pergaulan makin baik, makin banyak mengenal orang, makin tahu karakter orang, dan makin tahu mana calon yang menjadi type kita. Mumpung masih mahasiswa, mumpung masih di kampus dengan seabreg kegiatan dan bertemu banyak orang, nanti kalau sudah bekerja pergaulan makin terbatas saja. Ketemu orang hanya yang itu-itu saja, ketemu teman-teman sekantor saja. Ritme hidup yang membosankan: rumah (kosan) — perjalanan — kantor. Betul juga kata orang kalau masa-masa belajar atau masa sekolah (termasuk kuliah) adalah masa yang paling indah dalam hidup ini. Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah, demikian bait sebuah lagu :-)

Menikah itu berarti sudah menjalankan sebagian dari agama, begitu kata Nabi. Sebagian lagi dijalankan sesudah menikah itu. Mudah-mudahan alumni saya yang tengah dilanda keresahan soal urusan yang satu ini, cepat diberikan pasangan hidup oleh Allah SWT. Amiin.

SBY dan Kerbau

Kemarin Presiden SBY menunjukkan kekesalannya atas aksi demonstrasi 100 hari pemerintahannya. Pasalnya para demonstan membawa seekor kerbau dan di tubuh kerbau itu ada tulisan SBY dan foto dirinya. Para demonstran mungkin ingin mengatakan bahwa SBY seperti kerbau yang badannya besar tetapi bodoh (SBY badannya kan besar).


(Foto dan berita diambil dari sini)

Tentu saja SBY geram, dan saya pikir itu adalah hal yang wajar. Coba, kalau anda atau orangtua anda disamakan dengan kerbau, tentu anda marah. Kalau anda tidak marah, berarti tidak normal tuh. Secara pribadi saya tidak setuju dengan aksi demonstran yang melecehkan etika itu. Bukannya saya mau membela SBY lho, namun saya ingin proporsional sajalah. Presiden itu kan simbol negara, seperti halnya bendera merah putih dan lambang negara burung garuda. Ada UU yang melarang kita merendahkan simbol-simnbol negara. Bendera saja misalnya, tidak boleh diinjak-injak, apalagi mengenai tanah ketika dikibarkan.

Hal yang sama juga berlaku pada Presiden sebagai simbol negara. Sebagai simbol negara, maka dia adalah representasi negara. Kalau Presiden pergi ke luar negeri maka, dia mewakili negara yang besar ini. Apa yang diucapkan oleh Presiden adakah pernyataan resmi yang mewakili negara. Jadi, pelecehan terhadap SBY dengan menyamakannya sebagai kerbau tentu adalah pelecehan terhadap negara itu sendiri.

Saya melihat para demonstran itu tidak mengerti etika berdemonstrasi. Mereka lebih banyak mengandalkan emosi kebencian ketimbang berdemonstasi secara cerdas dan santun. Aneh juga, padahal yang membawa kerbau itu anak muda yang saya yakin itu mahasiswa. Sebagai orang berpendidikan tinggi tentu mereka seharusnya lebih mengedapankan intelektualitasnya dalam berdemo. Atau saya yang salah lihat, mungkin saja yang membawa kerbau itu preman mabuk yang putus sekolah? Entahlah.

Pada sisi lain, SBY juga agak lebay (berlebihan) sih menurut saya dalam menanggapi aksi demo akhir-akhir ini. SBY menjadi tertekan dan akibatnya dia sering curhat kepada publik (melalui media massa) karena kasus itu telah mengganggu ketenangan tidurnya. Seharusnya SBY bersikap tenang, tidak reaktif, dan tidak merasa panik karena adanya wacana pemakzulan dirinya akhir-akhir ini karena kasus skandal Bank Century. Biasa sajalah, tenang man, senyum dong, toh rakyat bisa menilai sendiri siapa ingin memakan siapa. Apa yang terjadi di gedung parlemen dan di istana negara adalah panggung drama yang disaksikan oleh jutaan rakyat. Pada akhirnya rakyat sendiri yang menyimpulkan dan menilai setiap aksi pelaku peran di panggung itu.

Ampuuun….Membuat Makalah Ilmiah Saja Pakai Joki

Mahasiswa saya sudah biasa menulis makalah sebagai salah satu penilaian kuliah. Semua kuliah yang saya ampu ada tugas membuat makalah. Makalah dibuat dengan format 2 kolom mengikuti format makalah pada jurnal atau proceeding internasional. Makalah tidak boleh berupa tulisan populer atau feature seperti yang kita temukan di media massa, tetapi harus berupa technical report yang merupakan aplikasi suatu metode yang mereka pelajari di dalam kuliah. Technical report artinya tulisan itu berisi istilah-istilah teknis yang hanya bisa dipahami oleh orang dalam bidang yang sama.

Dengan menulis makalah mereka diharapkan dapat mengartikulasikan keilmuannya dalam bentuk tulisan. Agar tulisan itu bisa di-share dan dibaca oleh banyak orang, maka saya mengunggahnya ke dalam situs web saya. Klik daftar makalah mahasiswa pada kuliah yang saya berikan semester lalu. Siapapun yang mengunjungi situs web tersebut dapat mengunduh dan membacanya untuk dipelajari. Ini adalah cara kami menginformasikan dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Tadi ketika mengakses Detik.com, saya kaget membaca berita bahwa ribuan guru di Riau menggunakan joki untuk membuat makalah ilmiah. Makalah ilmiah digunakan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan IVa ke IVb. Kenaikan pangkat berarti kenaikan gaji :-) . Beritanya di bawah ini dan diambil dari sini:

Karya Ilmiah Pakai Joki, 1.820 Guru di Riau Terancam Turun Pangkat
Chaidir Anwar Tanjung – detikNews

Pekanbaru – Tindakan tak terpuji dilakukan 1.820 guru di Riau. Mereka menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah sebagai salah satu syarat kenaikkan pangkat. Akibatnya, para pendidik ini pangkatnya terancam diturunkan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Pemprov Riau, Irwan Effendi, dalam perbincangan dengan detikcom, di Pekanbaru, Selasa (2/2/2010).

Irwan menjelaskan, pembuatan karya ilmiah itu dilakukan sebagai syarat kenaikan pangkat dari golongan 4A menjadi 4B. Tapi dalam prakteknya, para guru itu malah menggunakan joki untuk membuat karya ilmiah tersebut.

“Sanksi yang diberikan kepada mereka tentulah menurunkan pangkat mereka kembali. Jumlah mereka mencapai 1.820 orang. Sebagian dari mereka memiliki jabatan sebagai kepala sekolah,” kata Irwan.

Para guru nakal ini adalah guru PNS, mulai dari guru SD, SMP dan SMA. Guru-guru itu menyebar luas di seluruh kabupaten dan kota se-Riau.

“Tindakan penurunan pangkat dan jabatan itu akan dilakukan masing-masing kepala daerah. Karena para guru itu menjadi tanggung jawab masing-masing kabupaten dan kota. Namun demikian kita tetap memproses kasus karya ilmiah yang bukan hasil karya sendiri para guru tersebut,” kata Irwan.

Berita lanjutan yang terkait bisa dibaca di sini. Tentu saja berita ini memalukan dunia pendidikan kita yang memang sudah seperti benang kusut. Guru yang seharusnya memberikan contoh budi pekerti kepada muridnya ternyata malah melakukan kecurangan karena alasan materi.

Biasanya kita hanya bisa menghibur diri bahwa tidak semua guru seperti itu, masih banyak guru yang baik dan bermoral tinggi yang tidak menghalalkan berbagai cara guna mendapatkan kenaikan pangkat. Mudah-mudahan memang demikian adanya. Yang baik itu masih lebih banyak daripada yang buruk.