Seorang rekan kolega di ITB mengalami kejadian pahit nan menyedihkan. Tas kerjanya yang berisi komputer laptop, external hard disk, dan benda-benda penting di dalamnya raib dibawa lari pencuri. Tas kerja itru ditaruh di atas jok mobil yang dikendarainya. Modus operandi yang dilakukan pencuri mungkin sudah basi. Dua orang pencuri dengan sepeda motor memberitahukan kepada supir bahwa ban mobilnya kempes atau bocor. Kalau sudah begitu, supir secara reflek berhenti, memeriksa ban mobil dan mencari penyebab kempes. Saat lengah itulah pencuri lain (dalam satu jaringan tampaknya) membuka pintu mobil lalu membawa kabur tas yang berada di atas jok.
Malang nian nasib kolega kami itu. Nelangsa sekali dia. Dia berkata begini di dalam email yang dia tulis kepada kami: “Setengah jiwa saya hilang terbawa laptop & external harddisk itu: bahan-bahan pengajaran, draft buku, soft copy novel terbaru, rancangan paper, rancangan cerita film animasi, …semuanya…..
Setengah jiwa hilang, ya bisa dimengerti, apalagi bila di dalam laptop atau hard disk itu tersimpan hasil pekerjaan yang sudah dilakukan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, yang telah menguras waktu, pikiran, dan tenaga. Tiba-tiba semua hasil pekerjaan itu terbang begitu saja karena ulah maling. Bayangkan, hasil kerja setahun hilang hanya dalam waktu lima detik saja. Malangnya lagi, tidak ada backup-nya sama sekali. Kalau pun ada backup-nya, itu pun versi yang sudah lama, mungkin 6 bulan yang lalu. Lemaslah seluruh sendi-sendi badan. Mau menjerit hingga ke langit ke tujuhpun tidak ada gunanya, laptop itu tidak akan kembali. Kalau uang yang hilang atau dicuri masih bisa dicari lagi penggantinya, tetapi kalau hasil kerja otak selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang hilang kemana mau dicari? Memulai lagi dari nol? Oh, nightmare…, sebuah mimpi buruk.
Hasil kerja otak bisa berupa gagasan, hasil analisis, hasil desain, kode program, laporan TA, laporan tesis, dan sebagainya. Semua itu tidak bisa diulang persis sama dengan yang hilang. Perlu waktu lama dan usaha keras untuk mengembalikan hasil kerja otak yang raib. Namun, untuk memulainya lagi terasa sangat berat, karena setengah jiwa sudah ikut terbang bersama tas yang berisi laptop itu. Pencuri mungkin tidak butuh data penting di dalam komputer laptop, mereka hanya butuh laptopnya saja. Tapi bagi si pemilik laptop? Data di dalamnya jauh lebih penting daripada laptopnya.
Belajar dari kasus-kasus kehilangan komputer, flash disk, dan memori lainnya, mengingatkan saya pada pesan orangtua zaman dulu: jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Maksudnya, jangan meletakkan semua data penting di dalam satu tempat (satu komputer) saja. Kuncinya adalah: backup sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Simpan semua data penting di dalam sejumlah disk (sekarang yang populer adalah flash disk atau external hard disk), lalu simpan setiap disk pada tempat yang berbeda-beda. Setiap kali memutakhirkan data, setiap kali pula simpan perubahannya di sejumlah disk tadi. Repot memang, tetapi itu lebih baik daripada setengah jiwa hilang karena kehilangan data penting di dalam komputer.













