Kehilangan Laptop, Kehilangan Setengah Jiwa

Seorang rekan kolega di ITB mengalami kejadian pahit nan menyedihkan. Tas kerjanya yang berisi komputer laptop, external hard disk, dan benda-benda penting di dalamnya raib dibawa lari pencuri. Tas kerja itru ditaruh di atas jok mobil yang dikendarainya. Modus operandi yang dilakukan pencuri mungkin sudah basi. Dua orang pencuri dengan sepeda motor memberitahukan kepada supir bahwa ban mobilnya kempes atau bocor. Kalau sudah begitu, supir secara reflek berhenti, memeriksa ban mobil dan mencari penyebab kempes. Saat lengah itulah pencuri lain (dalam satu jaringan tampaknya) membuka pintu mobil lalu membawa kabur tas yang berada di atas jok.

Malang nian nasib kolega kami itu. Nelangsa sekali dia. Dia berkata begini di dalam email yang dia tulis kepada kami: “Setengah jiwa saya hilang terbawa laptop & external harddisk itu: bahan-bahan pengajaran, draft buku, soft copy novel terbaru, rancangan paper, rancangan cerita film animasi, …semuanya…..

Setengah jiwa hilang, ya bisa dimengerti, apalagi bila di dalam laptop atau hard disk itu tersimpan hasil pekerjaan yang sudah dilakukan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, yang telah menguras waktu, pikiran, dan tenaga. Tiba-tiba semua hasil pekerjaan itu terbang begitu saja karena ulah maling. Bayangkan, hasil kerja setahun hilang hanya dalam waktu lima detik saja. Malangnya lagi, tidak ada backup-nya sama sekali. Kalau pun ada backup-nya, itu pun versi yang sudah lama, mungkin 6 bulan yang lalu. Lemaslah seluruh sendi-sendi badan. Mau menjerit hingga ke langit ke tujuhpun tidak ada gunanya, laptop itu tidak akan kembali. Kalau uang yang hilang atau dicuri masih bisa dicari lagi penggantinya, tetapi kalau hasil kerja otak selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang hilang kemana mau dicari? Memulai lagi dari nol? Oh, nightmare…, sebuah mimpi buruk.

Hasil kerja otak bisa berupa gagasan, hasil analisis, hasil desain, kode program, laporan TA, laporan tesis, dan sebagainya. Semua itu tidak bisa diulang persis sama dengan yang hilang. Perlu waktu lama dan usaha keras untuk mengembalikan hasil kerja otak yang raib. Namun, untuk memulainya lagi terasa sangat berat, karena setengah jiwa sudah ikut terbang bersama tas yang berisi laptop itu. Pencuri mungkin tidak butuh data penting di dalam komputer laptop, mereka hanya butuh laptopnya saja. Tapi bagi si pemilik laptop? Data di dalamnya jauh lebih penting daripada laptopnya.

Belajar dari kasus-kasus kehilangan komputer, flash disk, dan memori lainnya, mengingatkan saya pada pesan orangtua zaman dulu: jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Maksudnya, jangan meletakkan semua data penting di dalam satu tempat (satu komputer) saja. Kuncinya adalah: backup sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Simpan semua data penting di dalam sejumlah disk (sekarang yang populer adalah flash disk atau external hard disk), lalu simpan setiap disk pada tempat yang berbeda-beda. Setiap kali memutakhirkan data, setiap kali pula simpan perubahannya di sejumlah disk tadi. Repot memang, tetapi itu lebih baik daripada setengah jiwa hilang karena kehilangan data penting di dalam komputer.

Nama-nama yang Indah dan Nama Terpendek

Ketika iseng-iseng membaca daftar nama murid baru yang diterima di SD tempat anak saya sekolah, saya menemukan fenomena yang menarik. Orangtua zaman sekarang memberi nama anaknya dengan nama-nama yang bagus, minimal 3 kata. Coba perhatikan nama-nama berikut:
1. Fathia Zakhlativa Ayunnisa
2. Muhammad Daffa Habiburrahman
3. Rayhan Fathurrohman Kautsar
4. Nabila Khairunnisa Nur Hasanah

Wah.. wah, sungguh kreatif para orangtua memberi nama anaknya. Bagi orangtua muslim ada kesadaran untuk memberi nama anak dengan nama yang islami. Nama pada hakekatnya adalah doa atau harapan yang didambakan orangtua terhadap anaknya. Memberi anak dengan nama yang baik diharapkan anak tersebut menjadi anak yang shaleh. Apakah harta yang paling berharga di dalam hidup ini selain memiliki anak yang shaleh? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan bahwa bila seseorang sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: (1) Ilmu yang bermanfaat, (2) sedekah jariyah, dan (3) anak shaleh yang mendoakan ibu bapaknya.

Memberi nama pada anak memiliki masa pasang surut. Orangtua zaman dahulu sering memberi nama anak dengan nama yang pendek dan umum seperti Suparni, Hartini, Saifuddin, Sugeng, Urip, Harsono, dan sebagainya. Tetapi, dengan semakin majunya tingkat pendidikan dan adanya kesadaran bergama banyak orangtua memberi nama anak dengan nama yang lebih panjang dan dikaitkan dengan nilai-nilai agama seperti nama-nama yang saya sebutkan di atas.

Memberi nama pada anak juga dikaitkan dengan nama populer saat itu. Ketika grup nasyid Rayhan dari Malaysia sedang naik daun, banyak orangtua memberi nama anaknya dengan Rayhan dan dipadukan dengan beberapa kata seperti Muhammad dan beberapa kata yang lain. Ingat Teuku Rafli, mantan suami dari Tamara Bleszinsky? Ketampanan Rafli dan keharmonisan Rafli – Tamara (dulu) membuat banyak orangtua kepincut sehingga memberi memberi nama anaknya juga Rafli. Selain Rafli ada juga nama Farhan yang diambil dari presenter terkenal, atau nama Tasya yang diambil dari nama penyanyi cilik Tasya, atau nama Amanda yang diambil dari nama pemain di sebuah film serial. Tidak terhitung orangtua memberi anak dengan nama Daffa, Nabila, Salsabila, Annisa, Tasya, Amanda, dan sebagainya. Di sekolah anak saya menemukan banyak sekali anak yang memiliki nama Daffa, Rayhan, Farhan, atau Nabila.

Ketika anak saya lahir, saya juga hunting mencari nama. Kadang-kadang nama-nama mahasiswa saya di dalam daftar absensi juga menjadi sumber inspirasi karena nama-nama mahasiswa saya juga banyak yang bagus-bagus, he..he… (buka rahasia nih)

Nama ada yang pendek dan ada yang panjang. Nama terpanjang di dunia adalah dari Inggris yaitu Autumn Sullivan Corbett Fitzsimmons Jeffries Hart Burns Johnson Willard Dempsey Tunney Schme ling Sharkey Carnera Baer Braddock Louis Charles Walcott Marciano Patterson Johansson Liston Clay Frazier Foreman Brown.

Lalu siapa yang memiliki nama terpendek di dunia? Itulah nama dua orang anak di ranah minang di Sumatera Barat, tepatnya di Jorong Kubu Gadang, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 150 Km dari Padang. Nama orang itu hanya satu huruf saja, yaitu “O”. Adiknya yang laki-laki bernama “Z”, tetapi Z masih bisa dieja dengan tiga huruf yaitu “Zet”. Baca beritanya di koran lokal Singgalang, Padang. Unik dan langka. Saya bisa membayangkan di ijazah anak itu hanya tertulis O saja di kolom nama. Satu bulatan besar nama O dalam sebuah jazah yang berbunyi begini: Kepala Sekolah SD Negeri xxx menyatakan bahwa O telah menyelesaikan …. (bla.. bla..bla). Unik dan langka. Adakah itu masuk guiness book of record?

Selamat Tinggal Kereta Api Parahyangan

Kereta Api (KA) Parahyangan yang setia menjalani rute Bandung – Jakarta pulang pergi akan berakhir pengoperasiannya pada bulan April ini. PT KAI tidak akan mengaktifkan kereta api ini lagi karena secara operasional terus merugi akibat sepi penumpang (baca beritanya di sini). Sejak dibukanya jalan tol Cipularang memang kereta api mulai ditinggalkan orang. Mobil-mobil travel menjamur di kota Bandung karena jarak Bandung – Jakarta hanya ditempuh 2 hingga 2,5 jam saja, sedangkan jika dengan kereta api menempuh waktu 3 hingga 3,5 jam.


(Gambar diambil dari sini)

Tidak ada sarana transportasi yang memiliki ikatan emosional begitu dalam dengan penumpangnya selain kereta api. Mungkin karena kereta api berjalan secara eksklusif di jalur khusus (rel) sehingga tidak pernah macet. Selain itu perjalanan dengan kereta api terasa menyenangkan, nyaman, dan banyak kisah serta cerita yang terekam selama perjalanan. Bagi anak-anak kereta api adalah kendaraan yang mempesona karena bentuknya yang panjang. Coba pikir, adakah lagu anak-anak yang bercerita tentang mobil, kapal, atau pesawat? Tidak ada. Yang ada malah lagu “Naik Kereta Api” yang legendaris itu.

Mendengar KA Parahyangan akan dihentikan saya ikut merasa sedih. Kenapa? Saya adalah penumpang setia kereta api ini kalau mau pergi ke Jakarta atau balik ke Bandung dari Jakarta. Dulu waktu saya masih mahasiswa saya hanya mampu naik bus dari Bandung ke Jakarta karena naik kereta api masih terasa mahal kala itu (sebagai perbandingan, pada tahun 1985-1990 tiket KA Parahyangan adalah Rp 9.000 sedangkan tiket bus patas hanya Rp 4000). Naik bus di terminal Kebon Kelapa (sekarang sudah nggak ada, dipindah ke Leuwipanjang) dan turun di terminal Kramat Jati (sekarang dipindahkan ke terminal Kampung Rambutan). Setelah bekerja dan punya uang sendiri barulah saya bisa merasakan naik kereta api. Oh ya, naik kereta api dianggap mewah kala itu. Dulu pilihannya hanya KA Parahyangan, belum ada KA Argo Gede yang tarifnya lebih mahal namun lebih cepat dari KA Parahyangan.

Hingga sekarang kalau saya tidak perlu buru-buru ke Jakarta, saya lebih memilih naik kereta api ketimbang mobil travel. Lebih nyaman naik kereta api sebab tidak khawatir kecelakaan (mobil travel suka ngebut di jalan tol, saya suka ngeri). Naik kereta api tidak membuat mabuk perjalanan karena tidak menyebabkan pusing. Saya bisa berleha-leha di atas kereta sambil membaca (di atas mobil travel mana bisa membaca ya, apalagi memakai laptop). Pemandangan sepanjang perjalanan terlihat begitu bersahaja dan indah. Kita melewati terowongan, bukit, lembah, dan jembatan yang tinggi dan mendebarkan.


(Gambar diambil dari sini)


(Gambar ini diambil dari sini)

KA Parahyangan sudah masuk ke dalam memori kolektif orang Bandung. Pada masa jaya kereta api — yaitu sebelum ada tol Cipularang — KA Parahyangan adalah pilihan transportasi yang favorit. Kereta api ini telah berjasa bagi komuter yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di Bandung. Kereta selalu ramai penumpang, dan puncaknya adalah pada hari Jumat dan Sabtu. Ribuan pekerja di Jakarta — termasuk alumni ITB — memadati stasiun Gambir pada Jumat sore dan malam untuk pulang ke Bandung. Tidak dapat tempat duduk tidak apa, yang penting bisa naik kereta. Tiket berdiri sama harganya dengan tiket duduk. Jika dapat tiket berdiri, maka duduk di gerbong kompartemen atau di gerbong restorasi adalah pilihan favorit. Kalau tidak, ya berdiri atau lesehan di ruang antar gerbong tidak masalah. Tiga jam perjalanan Jakarta-Bandung tidak terasa karena banyak teman ngobrol di kereta.

Senin subuh hingga pagi terjadi arus sebaliknya, ribuan pekerja yang telah menghabiskan week end nya bersama keluarga atau teman-teman di Bandung kembali ke Jakarta. Saat itulah KA Parahyangan penuh sesak penumpang dari Bandung yang hendak kembali ke Jakarta.

Kini sudah 39 tahun KA Parahyangan setia mengantarkan penumpang dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya (kereta api Parahyangan mulai dioperasikan pada tahun 1971). Tinggal dalam hitungan hari lagi — tepatnya 27 April — kereta api ini akan tinggal kenangan. Bagi komunitas pecinta kereta api, mereka akan melakukan joy ride pada pengoperasian terakhir KA Parahyangan (tanggal 27 April).

Selamat tinggal KA Parahyangan. Banyak kenangan terukir denganmu. Mudah-mudahan kamu masih tetap berguna dengan melayani rute baru Bandung – Malang (begitu yang saya dengar) dengan nama baru KA Malabar (MALAng – BAndung Raya).

Ini Tragedi!

Apa kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan plagiasi makalah yang dilakukan oleh lulusan S3 ITB bernama Mochamad Zuliansyah (MZ)? Tragedi! Ya, ini adalah tragedi buat ITB, sebuah tragedi yang patut diratapi. Apa yang dilakukan oleh MZ telah mencoreng dan menghancurkan kerja susah payah yang dibangun oleh tradisi ITB selama puluhan tahun sebagai perguruan tinggi yang menjunjung tinggi integritas, baik integritas keilmuan maupun integritas moral.

MZ benar-benar keterlaluan. Parah, parah banget nih anak, perbuatannya benar-benar vulgar. Bayangkan, dia menyalin mentah-mentah 99,9% makalah orang lain, persis sama kata per kata hingga titik komanya. Dia hanya mengganti sedikit kalimat judul, namun ia mengganti semua referensi yang tertera di dalam daftar pustaka. Dia sama sekali tidak menyebutkan sumber makalah asli yang diconteknya. Parahnya lagi, dia mengaku ini sebagai keteledoran dalam melakukan content mixing dengan referensi. Dalam Bahasa Indonesia keteledoran artinya lalai karena faktor ketidaksengajaan, namun dapatkah tindakannya itu disebut teledor jika seluruh isi makalah sama persis dengan makalah orang lain? Artinya MZ melakukan itu semua dalam keadaan sadar. Tambah parah lagi ketika para alumni ITB melaporkan bahwa mereka telah menemukan 2 makalah lain milik MZ yang telah dimuat di sebuah jurnal di Universitas Indonesia dan Universitas Kristen Petra. Kedua makalah itu ternyata diambil dari makalah dan tesis orang lain di luar negeri. Jangan-jangan masih ada makalahnya yang lain yang juga diplagiasi. Ada indikasi disertasi S3 nya terkait dengan makalah yang ia palsukan itu. Dimana rasa malu ditaruh ya?

Perasaan geram, sedih, marah, dan gemas melanda civitas academica ITB dan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia. Hingga saat ini diskusi di milis-milis masih ramai membicarakan tragedi yang memalukan itu. Saling salah menyalahkan mewarnai isi milis. Siapa yang salah? Apakah hanya MZ yang salah? Apakah pembimbingnya harus dipersalahkan? Apakah sistem di ITB yang salah? Apa moral dari cerita ini? Hikmah apa yang dapat diperoleh dari kasus ini?

MZ sendiri di dalam email yang ia tulis ke seorang kolega dosen STEI sudah mengakui kesalahannya ini sangat fatal, dan itu harus ia tangung baik di dunia sampai akhirat. Bahkan ia mengatakan ketika kasus ini terungkap dia merasa sudah tidak ada lagi tempat buat dirinya di dunia ini. Dimanakah muka mau disurukkan?

Tidak ada guna meratapi kasus ini terlalu lama. ITB memang tidak hancur oleh perbuatan MZ, tetapi citra ITB telah dipertaruhkan di mata komunitas ilmiah internasional. Khususnya di IEEE, sebagai kelompok ilmuwan elektronik yang sangat prestisius. FYI (for your information), bila seorang akademisi berhasil menempatkan makalahnya di jurnal-jurnal IEEE, maka biasanya karir akademisnya akan cemerlang sebab dia telah masuk ke jajaran ilmuwan berskala internasional (huhuhu… saya sendiri belum berhasil menembus jurnal internasional apalagi di IEEE, sering ditolak, mungkin saya belum pantas menjadi ilmuwan berskala dunia kali :-( )

Alumni ITB bolehlah sedikit bernafas lega setelah mengetahui MZ bukan alumni S1 ITB. Dia adalah alumni sebuah sekolah tinggi teknik di daerah Bandung selatan sana. Tetapi dia S2 dan S3 di ITB, maka dia alumni ITB juga, bukan? Baiklah, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana menegakkan kejujuran bagi generasi muda di kampus ini. Bagi kami sendiri di ITB tidak pernah bosan-bosannya menyerukan pentingnya kejujuran dalam akademik. Saya pribadi sudah sering menghimbau kepada mahasiswa agar jangan melakukan kecurangan dalam akademik. Kalau mengutip sesuatu di dalam tulisan harus disebutkan sumbernya, kalau mengambil program orang lain harus disebutkan darimana. Nyontek dalam ujian atau dalam membuat tugas adalah perbuatan curang. Melakukan kecurangan dalam akademik adalah tindakan yang tercela. Kalau dalam kuliah saja tidak jujur, bagaimana dengan kehidupan di masyarakat nanti?

Si Bibi Mau Menjadi TKI di Arab

Si Bibi, pembantu di rumah saya, hidupnya memang susah. Dia punya suami yang pengangguran yang kerjanya hanya duduk-duduk saja di rumah. Hanya dia sendiri yang bekerja mencari nafkah untuk biaya hidup sehari-hari, untuk biaya kontrakan rumah, untuk bayar listrik, dan lain-lain (pembantu di rumah saya tidak menginap, dia datang pagi dan pulang pada sore hari). Kadang-kadang dia ikut pula membantu biaya anak dan menantunya yang belum bisa hidup mandiri.

Sebenarnya saya menggaji dia lebih dari cukup, yaitu di atas gaji rata-rata pembantu di lingkungan tempat tinggal. Itu belum termasuk bonus-bonus dan uang tambahan lain kala saya mendapat tambahan rezeki. Tetapi, dengan gaji yang “hanya” segitu dia harus mencukupi sendiri kebutuhan hidup keluarganya tentu saja tidak pernah ada kata cukup. Selalu saja kurang. Saya pun tidak bisa menggaji dia lebih tinggi lagi sebab hal itu dapat menimbulkan kecemburuan sosial bagi para pembantu lain di kompleks perumahan kami karena “merusak” standard gaji pembantu rumah tangga yang udah pakem. Menyedihkan lagi gaji pembantu rumah tangga di Indonesia selalu berada di bawah UMR. Belum ada regulasi tentang pembantu rumah tangga di Inodonesia.

Si Bibi dan orang-orang kecil lainnya yang hidup susah adalah contoh orang-orang Indonesia yang terjebak oleh apa yang dinamakan dengan “kemiskinan struktural”. Ini adalah jenis kemiskinan yang melilit sebagian besar penduduk negeri yang besar ini. Biarpun mereka sudah bekerja membanting badan setiap hari, mereka tetap saja miskin. Penghasilan mereka setiap hari atau setiap bulan tidak pernah bertambah, selalu segitu-gitu saja. Mereka tidak punya pilihan untuk mengubah nasib. Hal ini berbeda dengan orang-orang kaya yang selalu mempunyai peluang untuk menambah penghasilan dari berbagai pekerjaan, proyek, lobi-lobi, entah itu halal atau haram. Yang kaya bertambah kaya, yang miksin terap saja miskin.

Nah, bagi si Bibi hanya satu jalan keluar untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan, yaitu menjadi TKI di luar negeri. Pilihannya jatuh menjadi TKI di negara Arab. Menjadi TKI adalah pilihan terakhir yang banyak dilakukan oleh perempuan-perempuan desa yang dililit kemiskinan. Untuk menjadi TKI mereka tidak perlu mengeluarkan uang sebab semua biaya (pelatihan, paspor, visa, tiket pesawat, hingga penempatan di luar negeri) ditanggung oleh PJTKI. Nanti setelah mereka mendapat majikan di luar negeri, mereka harus mencicil pembayaran ke PJTKI yang diambil dari seperempat gaji selama 6 bulan hingga setahun tergantung perjanjian. Maka tidak mengherankan kalau bisnis TKI adalah bisnis yang menggiurkan karena para TKI adalah “sapi perahan” PJTKI.

Kembali ke si Bibi tadi. Mengapa dia memilih menjadi TKI di negara-negara Arab? Tidak takutkah dia dengan cerita-cerita mengenaskan tentang TKI yang diperkosa atau disiksa oleh majikan atau anak majikan? Bagi segelintir orang Indonesia citra negara Arab terkesan buruk karena kasus-kasus yang menimpa TKI yang umumnya perempuan. Apalagi jika dikaitkan dengan agama segala, karena Arab diidentikkan dengan negara muslim. Padahal sebagian orang Arab masih mempunyai sisa-sisa perilaku zaman jahiliyah yang menganggap pembantu adalah budak yang dapat diperlakukan apa saja.

Tetapi, sesungguhnya kasus perkosaan dan penyiksaan terhadap TKI tidak hanya terjadi di Arab saja, di Malaysia dan Singapura intensitas kasus ini juga cukup tinggi. Menariknya lagi, kasus penyiksaan terhadap pembantu dari Indonesia di Malysia atau Singapura justru dilakukan oleh majikan etnis Cina yang kebanyakan beragama Budha atau Khong Hu Chu. Orang Melayu di Malaysia sangat jarang menggunakan pembantu. Jadi, sangatlah tidak adil mengaitkan kasus perkosaan dan penyiksaan perempuan TKI dengan faktor agama atau etnis. Cukup banyak kisah-kisah sukses TKI yang mendapat majikan yang baik di Arab, Malaysia, atau Singapura.

Tekad si Bibi sudah bulat, dia harus pergi ke luar negeri menjadi TKI untuk mengubah nasib. Bayangan mendapat gaji tinggi (di Arab Saudi katanya gaji pembantu bisa mencapai 4 juta per bulan) membuat dia ingin segera berangkat. Tentu saya tidak bisa menahan si Bibi, itu hak dia untuk menentukan hidupnya.

Kembali ke Sawah

Kalau soal jalan-jalan, saya sering membawa anak lebih dekat dengan alam sekitar. Ketimbang ke mal dengan mainan yang menjauhkan anak dengan lingkungannya, lebih baik saya membawa mereka ke alam. Seperti hari Sabtu kemarin, saya membawa mereka menyusuri sawah.

Masih ada sawah di kota Bandung. Itu tidak mengherankan, terutama di pinggiran kota. Namun sawah dekat pusat kota terbilang langka. Rumah saya berada di daerah pemukiman Antapani, hanya 4 km dari Gedung Sate. Dulu daerah ini adalah pesawahan yang luas, tetapi sejak dibangun perumnas di sana maka lambat laun sawah-sawah itu bertukar rupa menjadi real estat. Harga tanah di sini sudah mahal, sudah di atas Rp 2 juta – Rp 4 juta/m2.

Nah, ada satu pesawahan yang lokasinya sangat strategis, yaitu di mulut masuk kawasan pemukiman, tepatnya di pertigaan jalan Terusan Jakarta dan Jalan Purwakarta Raya. Sejak saya bermukim di sini hingga sekarang pemiliknya tetap mempertahankan sawah ini. Dia belum tergiur dengan tawaran pengembang real estat yang siap membeli tanahnya untuk dijadikan kompleks rumah mewah. Padahal kalau dia mau, pasti harga tanahnya itu sudah super mahal karena lokasinya yang memang sangat bagus.

Bagi orang Antapani sawah ini adalah hiburan cuci mata ketika berangkat kerja karena setiap keluar kawasan pasti melewati sawah ini. Di sela-sela kemacetan pada pagi hari ketika keluar kompleks maka mata dihibur dengan para petani yang tekun mencangkul, bajak yang ditarik kerbau, petani yang menyemai dan menanam bibit. Dengan berjalannya waktu padi-padi itu tumbuh subur, menghijau, dan menguning. Dari jauh kelihatan laksana permadani. Ingatan melayang ke alam desa, karena melihat sawah dan padi menguning memang menumbuhkan romantisme dengan alam pedesaan.

Ketika padi sudah menguning maka buruh-buruh tani pun datang untuk memanen. Mereka datang dengan anak-anaknya dari kampung, tidur dan memasak di pondok-pondok di tengah sawah.

Petani adalah orang yang berjasa memberi makan penduduk Indonesia. Tanpa beras maka orang Indonesia akan kelaparan. Beras yang enak tetaplah beras lokal karena dia diairi dengan air bumi pertiwi. Petani merawat padi dengan cinta kasih. Bulir-bulir gabah hasi panen dikumpulkan dan kemudian dijemur untuk mengurangi kadar airnya.

Si bungsu terkagum-kagum dengan tumpukan gabah. Ia mengira gabah itu seperti mainan pasir yang bisa diaduk-aduk.

Gabah ini masih perlu ditumbuk lagi untuk mengeluarkan berasnya. Beras inilah yang dimasak menjadi nasi hingga berada di dalam piring tempat makan. Perjalanan dari bibit padi hingga menjadi nasi adalah sebuah cerita jerih payah petani yang sangat dalam nilai-nilai filosofisnya. Karena itu, marilah kita berterima kasih kepada para petani.

Padi sudah dipanen. Yang tersisa adalah bonggol batangnya yang kemudian lapuk menjadi pupuk organik. Tidak berapa lama lagi datanglah penggembala bebek dari daerah Subang guna mencari sisa-sisa padi sebagai makanan bebek. Bebek-bebek mencari makan di sawah, lalu bertelur. Setelah bebek pergi, sawah siap diolah lagi dengan menanam sayur mayur sebagai tananam sela sebelum awal msuim menamam padi dimulai beberapa bulan lagi.

Dari kejauhan terlihat benteng perumahan real estat. Entah berapa lama lagi sawah ini akan bertahan, entah berapa lama lagi pemandangan alam desa ini dapat dilihat. Apakah gemerincing uang lebih merdu daripada segenggam beras yang sarat dengan falsafah kehidupan?

Perayaan Wisuda Meriah Lagi

Setelah sempat beberapa tahun dilarang, akhirnya perayaan wisuda ITB yang dilakukan oleh Himpunan-himpunan Mahasiswa di dalam kampus diperbolehkan kembali. Sebelumnya oleh rektorat terdahulu arak-arakan wisuda dan perayaan wisuda di dalam kampus dilarang karena alasan yang saya nilai terlalu mengekang ekspresi mahasiswa. Tetapi sejak pergantian rektor baru acara pawai wisuda atau arak-arakan ternyata sudah diperbolehkan. Ungkapan bahwa “ganti menteri ganti aturan” ada juga benarnya, yang kalau di ITB berbunyi begini: “ganti rektor ganti aturan”.

Perayaan wisuda di ITB adalah tradisi yang unik, mungkin hanya ada di ITB acara wisuda begitu meriah dan memberi kenangan yang tidak terlupakan bagi wisudawan dan keluarganya. Yang dimaksud dengan perayaan wisuda adalah acara happening art yang diselenggarakan oleh adik-adik yunior untuk menyambut kakak-kakaknya setelah acara wisuda formal di Sabuga.

Di bawah ini adalah beberapa cuplikan foto perayaan wisuda oleh beberapa himpunan mahasiswa.

1. Penyambutan wisudawan Informatika oleh adik-adik angkatan mereka di lapangan parkir LabTek V. Wuih… sampai ada yang berdiri segala di atas atap untuk berorasi kepada wisudawan.

2. Mahasiswa Mesin dengan solidarity forever-nya yang khas.

Seorang wisudawan Mesin berdiri memberi orasi:

Foto dari sudut pandang lain:

Mobil balap mini siap (go car) menunggu para wisudawan:

3. Lempar-lemparan air oleh wisudawan Fisika dengan adik-adik angkatan. Jangan lupa plastik bekas air dikumpulkan lagi dan dibuang ke tempat sampah ya mas…

Susno oh Susno, Dulu Dicela, Sekarang Dibela

Selain Gayus, siapa lagi sih orang Indonesia yang namanya naik daun saat ini? Dialah Susno, nama lengkapnya Susno Duadji. Karena “nyanyian” Susno-lah maka kejahatan makelar kasus pajak bernama Gayus Tambunan berhasil diungkap dan sekarang ia mendekam di tahanan Mabes Polri. Sejak dirinya dinonaktifkan dari Polri karena masalah krimanilisasi KPK (kasus Cicak dan Buaya, baca tulisan terdahulu), Susno memang sering membuat aksi kejutan. “Nyanyian” Susno di berbagai forum dan media (termasuk buku) banyak mengungkap kebobrokan di tubuh Polri, yang terakhir kasus Gayus Tambunan itu (baca tulisan sebelum ini). Satu per satu nama-nama perwira polisi yang disebutkannya terlibat kasus makelar kasus mulai disidik dan dijadikan tersangka. Orang pun mulai melirik Susno dan mulai percaya kepada omongannya karena terbukti benar.

Sekarang Susno seolah menjad pesohor baru, meskipun nyawanya juga berada di bawah ancaman karena nyanyiannya itu.

Tidak banyak yang tahu kalau Susno Duadji pernah menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat. Sewaktu menjadi Kaploda Jabar, Susno membuat gebrakan yang membuat banyak orang di Jabar kagum. Salah satu gebrakannya adalah memberantas calo di kantor Polwiltabes Bandung. Hampir semua orang di Bandung yang mengurus SIM pernah mengalami ditawari calo ketika baru saja masuk ke halaman Polwiltabes. Itu belum termasuk oknum-oknum polisi yang menawarkan jasa kemudahan mengurus SIM asalkan diberi uang pelicin.

Publik mahfum bahwa kantor polisi adalah sarangnya pungli. Tetapi, sejak Susno menjadi Kapolda, kantor polisi bersih dari pungli. Tidak hanya itu, pengurusan SIM tidak boleh lagi melalui biro jasa. Calon pemilik SIM harus datang sendiri ke kantor polisi untuk mengurus SIM, mulai dari administrasi hingga ujian test drive. Padahal sebelumnya dengan menggunakan biro jasa orang hanya tinggal terima beres. Cukup membayar ratusan ribu maka segala urusan SIM dilakukan oleh biro jasa. Konsumen hanya perlu datang ke kantor polisi untuk diambil foto dan sidik jari saja, tidak perlu test drive segala. Dalam beberapa jam SIM sudah ditangan. Tetapi disinilah letak korupsinya. Biro jasa itu bekerjasama dengan oknum-oknum di kantor polisi sehingga konsumen tidak perlu repot-repot. Sebagian uang dari konsumen masuk ke oknum polisi itu, bukan ke kas negara. Hal ini sudah berlangsung sejak lama, dan publik seakan mahfum dan menganggap biasa saja. Ketika Susno datang, semua itu dilibas. Kantor polisi bersih dari calo. Pembayaran SIM tidak lagi melalui petugas polisi, tetapi melalui kasir di bank. Polisi telah dijauhkan dari mata rantai korupsi dan pungutan liar. Lebih lengkapnya tentang pengurusan SIM semasa Susno baca tulisan rekan saya, Armein Z Langi di sini dan yang ini.

Ketika ramai kasus Cicak lawan Buaya, Susno adalah sasaran kecaman dan kemarahan publik. Dia menjadi bulan-bulanan media dan aksi demo massa. Susno pernah menangis di depan DPR ketika dirinya dicecar soal penahanan Chandra dan Bibit. Banyak pihak menilai itu adalah air mata buaya. Publik simpati kepada Chandra dan Bibit dan media massa ikut membangun opini bahwa Susno adalah biang keladinya. Sangkaan bahwa Susno menerima uang suap dari Anggodo membuat publik mencela dan memusuhi Susno. Sebenarnya dulu saya kurang yakin apa benar Susno terlibat supaya Chandra dan Bibit ditahan dengan tuduhan menerima suap? Masa sih mantan Kapolda Jabar yang dulu membersihkan suap di Polda Kabar malah menerima suap? Tetapi, karena kita digiring oleh opini media, maka kita — termasuk saya — dipaksa untuk percaya bahwa Susno juka ikut kongkalingkong, sehingga Susno diposisikan sebagai pihak tertuduh.

Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, Susno diposisikan sebagai seorang pahlawan. Dia membuka banyak tabir rahasia yang selama ini gelap. Nyanyiannya bermakna dan mulai terbukti kebenarannya. Kita pun sebagai rakyat awam dibuat bingung dengan fenomena Susno ini. Ah, semoga saja dia benar. Tak pentinglah siapa dia, yang terpenting kebobrokan pejabat di negeri ini diungkap tuntas tas, tas, tas.

Gayus oh Gayus

Nama siapa yang paling populer saat ini? Tentu saja Gayus, atau lengkapnya Gayus Halomoan Tambunan. Dia populer bukan karena dia bagian dari kaum pesohor, tetapi karena perbuatannya yang mencengangkan. Bayangkan, seorang Gayus yang “hanya” PNS Golongan III-A tetapi mempunyai tabungan sebesar Rp 25 M. Gaji golongan IIIA (sudah termasuk segala tunjangan) di Direktorat Pajak adalah Rp 12,5 juta per bulan, bandingkan dengan gaji dosen PNS golongan IIIA di Perguruan Tinggi Negeri yang tidak sampai Rp 3 juta per bulan, itu sudah termasuk segala macam tunjangan. Jika ditambah dengan honor renumerasi lainnya maka total bisa mencapai hingga Rp 4 juta per bulan.

Baiklah, kata orang gaji boleh kecil tetapi lihat THP (take home pay) nya dong. Yang dimaksud dengan THP adalah penghasilan sampingan selain gaji PNS. Yang namanya PNS tentu tidak bisa hanya mengandalkan gaji PNS semata. Kebutuhan hidup makin lama makin tinggi, sementara gaji PNS kalah dengan kebutuhan hidup itu, oleh karena itu banyak PNS yang punya kreativitas mencari penghasilan sampingan. Ada yang buka usaha warung, toko, bengkel, jual beli pulsa, usaha warnet, rental play statsion (PS), menerima orderan skala kecil hingga besar, menjadi konsultan, menulis buku seperti saya, dan lain-lain. Bahkan, ada yang mampu mendirikan perusahaan namun bukan dia yang menjadi pejabat atau direkturnya (kalau ini dilarang) tetapi orang lain atau saudaranya. Sang PNS hanya berperan sebagai pemilik perusahaan, pemilik saham, atau orang yang bekerja di balik layar untuk mengendalikan perusahaan.

Selama usaha sampingan itu tidak mengganggu tugas utamanya sebagai PNS tentu tidak bisa dilarang. Selain itu yang paling penting adalah halal.

Lain halnya dengan Gayus. Usaha sampingannya itu euy… benar-benar ruarr biasa namun sayangnya…. haram. Karena bekerja di bagian komplain pajak, maka dia berhubungan dengan perusahaan-perusahaan yang ingin merekayasa pembayaran pajak. Perusahaan-perusahaan itu berkongkalingkong dengan Gayus supaya kewajiban pajaknya bisa seminimal mungkin (baca berita ini atau yang ini). Sebagai imbalan atas “jasa” Gayus, maka perusahaan-perusahaan itu memberi imbalan (yang tak lain “sogokan”) ke rekening Gayus. Tak tanggung-tanggung jumlahnya, ada 149 perusahaan yang memberi imbalan jasa kepada Gayus. Maka, tidak heran jika di dalam rekening Gayus ditemukan uang yang jumlahnya fantastis, 25 milyar bo!

Oh Gayus, untuk apa bagimu uang sebanyak itu? Tidak mengekalkan dan tidak membuat bahagia. Dibeli rumah banyak-banyak, tidak akan ditempati semua. Dibeli mobil banyak-banyak, tidak akan dipakai semua. Dibeli tanah berhektar-hektar, tidak banyak gunanya, hanya perlu ukuran 2 x 1 meter persegi saja untuk tempat beristirahat abadi nanti.

Hidup tidak akan bahagia dan tidak tenang karena mempunyai uang haram. Ada rasa bersalah (kalau masih punya nurani) di dalam hati. Kalau mau lari karena dikejar-kejar oleh aparat hukum, mau lari kemana lagi di planet bumi yang sempit ini. Ke ujung dunia akan terus dikejar, baik oleh aparat hukum maupun dikejar oleh rasa berdosa. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, baik itu di Singapura atau di negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi sekalipun. Jika pun lolos dari kejaran aparat di dunia, nanti tidak akan lolos dari kejaran malaikat di akhirat. Hukum Tuhan pun siap menanti.