Ketika Orang ITS Menilai ITB

Ada tulisan yang bagus dari seorang mahasiswa ITS Surabaya tentang ITB. Menarik juga untuk mengetahui bagaimana pandangan orang luar tentang ITB dan bagaimana ia membandingkan ITB dengan institusi pendidikannya sendiri. Menurut saya sebagian besar apa yang dikatakannya tentang ITB ada benarnya, meskipun sebagian lagi ada yang kurang tepat (ayo, tunjukkan yang mana?). ITS sebenarnya tidak perlu “minder” begitu terhadap ITB. Lagipula ITB, ITS, UI, UGM, dan semua perguruan tinggi lain yang ada di Indonesia diciptakan bukan untuk bersaing memperebutkan yang terbaik, tetapi bagaimana semuanya bersama-sama memajukan bangsa Indonesia yang besar ini.

Tulisan diambil dari sini.

Melawan Hegemoni ITB
Oleh: Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan
12 April 2010 16:49:01

Malam itu, saya pergi berselancar bersama Eyang Google. Mata saya terbelalak melihat kata-kata berbunyi ”Melawan Hegemoni ITB” tercecer di milist alumni ITB. Padahal niat awal hanya mencari kabar tentang Dies Emas ITB setahun lalu (nama ITB resmi dipakai 2 Maret 1959). Karena penasaran, saya malah menelusuri perdebatan ini, tanpa suatu tendensi apapun. Sampai pertanyaan, siapa kampus teknik terbaik di Indonesia? Kakaknya atau adiknya?

Kampus ITS, ITS Online – Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?

Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.

Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.

Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…

***
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.

Percaya Diri
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.

Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.

Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.

Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.

Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”

Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.

Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.

Apresiasi
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.

Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.

Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.

Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.

Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.

Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.

Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.

Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.

Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.

Pola pikir terbuka
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.

Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.

Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.

Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.

Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.

Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.

Alumni
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.

Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.

Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.

Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.

Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.

Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.

”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu…” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB, Uncategorized. Tandai permalink.

183 Balasan ke Ketika Orang ITS Menilai ITB

  1. Zakka berkata:

    Pagi2… saya disuguhkan dengan dua hegemoni…

    Hegemoni ITB dalam dunia pendidikan, dan Hegemoni China dalam dunia perbulutangkisan :D

  2. dwi berkata:

    nasib saya belum membaca antara UGM dengan UI… :D

  3. Uno berkata:

    Hehehe.. tersentil baca tulisannya..
    Saya sendiri bukan lulusan ITB ato ITS, tp team member saya terdiri dari (dari yg terbanyak) ITS, UGM, ITB, Brawijaya, UI, dan disusul beberapa univ. swasta. (kurang lebih 50 lulusan Teknik Elektro & Informatika)
    Dari pengamatannya saya.. yak anda benar, Mayoritas lulusan ITB memang lebih arogan ketimbang lulusan ITS, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan yg relatif hampir sama…
    ^__^

    Dan oleh sebab itu jg, biasanya kl ke human resource saya prefer pilih yg lulusan ITS. . karena faktor lebih gampang diajak kerja sama dan biasanya lebih setia ^__^

    • Erick berkata:

      Iya..betul sekali bung Uno..bagi kalangan pengelola seperti anda memiliki pekerja yang setia, pekerja keras..serta mau berkorban untuk perusahaan adalah yang terpenting…dan memang diakui..bahwa alumni ITB sangat sulit untuk memenuhi kriteria2 tersebut diatas terutama dua kriteria terakhir…krn cara berfikir mereka sangat realistis..ketika mereka bisa memberikan 100 kpd perusahaan lalu knp mereka hrs dihargai 20..paling tidak 50lah….dan mmg pada akhirnya banyak alumni ITB yg menjadi kutu loncat walaupun pd akhirnya mrk akn berakhir pada titik ketika menemukan perusahaan yang bisa menghargai kerja usaha, dan pikiran mereka kpd perusahaan, paling tidak sebanding….
      Inilah yg membedakan alumni ITB pada umumnya dg yg lain..
      Maaf bung Uno, bukan sebuah pembelaan diri…tapi hanya menjelaskan..knp alumni ITB seperti yang anda sebutkan diatas…
      Salam Indonesia.

      • ferdy berkata:

        berarti msih nanggung dong,..
        kenapa g jadi pengusaha saja, kok lebih milih jadi bawahan,..

      • Bebek Panggang berkata:

        @UNO @Erick mungkin jawaban paling pragmatis ya jawaban Erick. Kalo sy pribadi ada kepuasan kerja di lingkungan alumni ITB. Pernah kerja di tempat yang atasan (bukan bos, cuma mid-management) yang alumni swasta dan tukang jilat atas sikut bawah. Gaji so-so cenderung “agak” bagus untuk non oil and gas. Ga tahan cuma < 2 taun mending resign ke BUMN dengan gaji lebih kecil tapi batin lebih tenang.
        Untuk kemampuan juga sy bilang debatable. Di indonesia kerja engineering itu rata2 ya ilmunya basic engineering bahkan untuk kerja litbang sekalipun. Mungkin beda kalo anda di konsultan / dosen. Ibarat anak SMP sama anak SMA ditantang adu penjumlahan. Ya relatif sama hasilnya. ^__^
        Bukan sombong, tapi ya itu realitanya begitu. Kalo mau kasar-kasaran, tempat kerja yang cuma jadi batu loncatan alumni ITB (dan ga suka) itu antara terima nasib ato, seperti Uno, mending ga usah terima sama sekali. ^__^

        @ferdy banyak kali alumni ITB jadi pengusaha

  4. Ardiansyah berkata:

    Saya pikir setiap kampus punya nilai jual, kompetensi atau positioning masing-masing. Jadi tidak perlu lah minder. Sebagai contoh UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dulu sempat ditasbihkan sebagai kampusnya Linux. Dan ini diakui oleh seluruh masyarakat kampus baik yg dari negeri maupun swasta.

  5. adit38 berkata:

    Nah itb ama its musti bertanggung jawab kalo ga bs menciptakan raket agar thomas cup balik ke tanah air. :)

  6. Hhhmm.. .Menarik membaca artikel ini,,,, poastingan mahasiswa yang direpost lagi,,,,

    Saya jadi ingin menuliskan mengenai STKS dengan Universitas Indonesia :)

  7. rosa berkata:

    Saya merasakan memang dari segi kemampuan kepintaran sejak lahir, saya memang tidak merasa lebih dibanding anak ITS dan UPI (tempat saya mengajar). Tapi satu yang memang saya merasa beda, yaitu motivasi. Mungkin karena di ITB sering tugas dan semuanya tidak “manusiawi” bagi orang selevel saya :D (saya menderita maag akut karena sering lupa makan kalo lagi ngurusi tugas). Sehingga saya merasa motivasi itu yang memang beda, tapi yang beda lagi, masalah sosial, saya payah he he he he :D.

  8. Rizal berkata:

    saya sebagai anak desa merasa terkejut berkuliah di ITB. bukannya sombong, memang kampus ini penuh dengan orang2 yang mempunyai ideologi tinggi dan sikap yang madani. tapi di lain hal, mahasiswanya mudah dengan rayuan gombal kerja di perusahaan asing yang terus menguras SDA kita. bolehlah kerja di perusahaan asing, tapi niatnya cari (curi) ilmu dari tempat kerja untuk selanjutnya buka usaha sendiri, he2(konsep China).

  9. Tati berkata:

    Walau tak punya kemampuan lebih alias sedang-sedang saja, saya mendapat kesempatan bersekolah dan menyelesaikan pendidikan (Strata 3 masih dijalani) di tiga PTN ternama. Dan saya berkesimpulan masing-masingnya memang memberikan aura yang berbeda. Walau memang bisa ikut berbangga dengan “in Harmonia Progressio”nya, homogenitas keilmuan cendrung menurunkan peringkat insan cendekianya.

  10. mylongjourney berkata:

    He he…

    Salut buat si penulis…sebagai seorang mahasiswa, tingkat kematangan dalam berpikirnya jauh melebihi saya sewaktu kuliah di tempat yang sama.

    vivat lah..

  11. upjakarta berkata:

    menarik juga tulisannya

  12. Thomas berkata:

    Saya alumni ITB, sejujurnya saya tidak tau bagaimana kuliah di kampus lain, tapi di ITB, saya benar2 mendapatkan aura untuk maju dan berkarya, berpikir dalam tataran kebangsaan dan negara.

    Masing-masing individu di sini memiliki idealisme nya sendiri dan tekad kuat untuk menjadi dan memberikan yang terbaik untuk bangsa.

  13. rahadian berkata:

    ITB oh ITB..saya dari sebuah desa kecil nun jauh dari Jawa, pernah mengecap pendidikan di sana. Betapa mengharukan, karena untuk masuk ke sana, perjuangannya betapa beratnya.. Belajar, belajar, belajar, waktu di SMA, dan ketika ada niat untuk bermain-main, bisa dengan sendirinya memotivasi diri untuk masuk ke kampus itu. Saya tidak ambil pusing, apa yang akan aku dapatkan kelak di kampus ini, kala itu saya berpikir, tapi apapun itu predikat terbaik dari yang terbaik, sangat pantas untuk memberikan yang terbaik juga kepada mahasiswanya..
    Saya memang mendapatkan yang terbaik..apapun itu ketika berkuliah di ITB..

    Bila ada yang ingin juga mendapatkan itu, belajar, belajar, belajar dengan rajin dan tekun..itu kuncinya….

    Toh rejeki di tangan Tuhan, para alumni ITB banyak juga yang tidak sesukses yang lain..Tapi yang pasti dan jelas, bahwa mereka pernah mendapatkan pemberian yang terbaik dalam hidup ini..

    Maju terus ITB..sampai kapanpun!

  14. MT09 ITB berkata:

    Gimana kalo anak ITB bikin tulisan mengenai pandangan umum anak2 ITB terhadap ITS. Kayaknya bakalan rame tuh.

    Maju terus kampusku. Kampus ‘tempat bertanya dan harus ada jawabya’

  15. suryadi bagus berkata:

    aq setuju ma komen MT09 ITB:”Gimana kalo anak ITB bikin tulisan mengenai pandangan umum anak2 ITB terhadap ITS”,……
    ayo anak2 ITB mana suaramu!!!!!!:D

  16. fadlikadn berkata:

    artikelnya menarik….ijin nyimak.. :)

  17. Toni utomo berkata:

    Apapun universitas maupun institutnya..kita punya tanggung jawab dalam memajukan lingkungan sekitar kita..kalau indonesia jauh lebih kaya maka kita semua yg akan bangga..saya sendiri seorang mahasiswa jurusan teknik industri ITS merasa ITB dan ITS maupun UI,UGM,dll seharusnya bekerjasama..dalam memajukan indonesia di semua lini..semoga tulisan di atas membuka mata kita untuk tidak saling sikut namun saling bantu… HIDUP MAHASISWA!

  18. vivi berkata:

    “…Lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun…” setujuuuuuuuuuuuuuuuu. wah Unair sama sekali g disebut y,,hahahaha,,tp g masalah. dulu Q pengen bgt masuk FK Unair,,,tp Tuhan terxt ksh q kesempatan dkebidanan unair,,,awalnya q g semangat ngjalanin kuliah,,,q menilai Tuhan g adil,,,tp skarang q sadar,,,kalo keinginanq jd dokter krn image seorang dokter,,,dokter terkenal kaya,,,dibutuhkan semua orang,,,disegani,,dll. smwnya krn nafsu untuk menyombongkan diri. ternyata saat ini q sadar,,Tuhan ksh Q bidan krn Dia sayang ma Q & g mw Q terjerumus pada kesombongan kalo Q jd dokter ntar. ternyata d kebidanan q mendapat pelajaran banyak,,,terutama berkontribusi untuk kesehatan Ibu dan Anak,,,menyelamatkan setiap Ibu dan janinnya adalah keinginanq kelak saat Q resmi menjadi bidan,,bukan lg materi,,atau apapun yg kuharapkan,,,naluri itu muncul seiring berjalannya masa kuliahq. apalagi semester ini q mempelajari kehamilan,,,rasanya ingin mempraktikkan langsung ilmu itu,,menyelamatkan nyawa Ibu dan janinnya. 3 tahun lagi,,,smg Tuhan ksh kesempatan buatq untuk mengabdikan diri di masyarakat dan menyelamatkan nyawa Ibu dan janinnya.

  19. surya16 berkata:

    jgn pake bahasa sms mbak slit dimengerti

  20. Muh. Ridho berkata:

    kok anak ITS sering bikin tulisan membanding2kan dengan ITB ya? hmm, kebalikannya anak itb tidak pernah membanding2kan kampus nya dengan ITS, tapi malah ke NTU, todai, MIT malah… :)

    • ferdy berkata:

      .”..tapi malah ke NTU, todai, MIT malah…”
      heheheh…menyambung pernyataan yg terkhir, biar sadar dl ne,..
      Apresiasi
      Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.

      • nasi berkata:

        ya kali lo cuma liat dari robotnya. kalo robotnya ITB juga bagus, lha terus apa yang dibanggain dari ITS? :O

      • ioanes berkata:

        PENS itu bukan ITS Mas, tapi Politeknik Elektronika Negri Surabaya, walau asalnya dari ITS seperti juga Polban/poltek ITB bukanlah ITB, alias berdiri sendiri. Biasanya politeknik yg ngikut nama besar Univ. , namun ini kebalik ITS yg ndompleng nama PENS :D
        Walau tadinya PENS yg ndompleng nama ITS, namun seiring waktu ketika Robotnya juara terus dan terkenal, giliran ITS yg ndompleng PENS :D

  21. Wise Man berkata:

    Cak Ridho, sebenarnya Arek ITS itu gak sering bikin tulisan membandingkan dengan ITB. Sepengetahuan saya, tulisan semacam di atas ya paling banyak dua atau tiga doank, cuma anak-anak ITB aja yang sering banget copy paste tulisan itu ke blog dan milis mereka, jadinya kesannya buanyak banget. Hahaha…Artinya yang membesar-besarkan persaingan ini justru anak-anak ITB yang kok bisa-bisanya kepancing sama tulisan anak ITS.

    Tapi meskipun saat ini saya bukan mahasiswa ITS dan ITB saya salut sama keduanya. Mudah-mudahan kelak yang jadi presiden dan wakil presiden RI semuanya ITB dan ITS ganti-gantian, dwitunggal Barat dan Timur! Auuuuuuuuuuuuuuuuuu….!

  22. Agent of Change berkata:

    ITB sejak dahulu memang sudah gaung namanya. krn merupakan salah satu intitut pertama di Indonesia.
    ITS dengan umur yg lebih muda dari pendahulunya, yg dari awal belum terkenal sama sekali, skrg sudah saling membangun, baik kontribusi maupun namanya.
    Alumni keduanya pun skrg sudah mengibarkan benderanya di jajaran petinggi penting di Indonesia, maupun di luar.
    Mungkin salah satu pihak ada yg pernah merasa arogansi,
    tpi mari kita lihat dan bantu utk kontribusi skrg ini, byk universitas lain yg juga ingin berkembang utk menjadi “5 besar universitas terbaik”
    dan seharusnya keduanya bisa menjadi pondasi yg mendorong lainnya utk maju, dan di luar keduanya bisa seperti Monash, Cambridge ataupun MIT nya Indonesia.

    Maju pendidikan Indonesia !

  23. maruaafaya berkata:

    ehm,,,Seru baca artikel ini,,,
    meskipun sy ank ITS bagi sya ITB dan ITS sma ja.Kalopun da yg blg ITB lebih maju,,ato lebih yg laen,,hehee tu krn ITB lbh tua,lbh pgalaman jg jd y gbs dibandingkan bgt ja…
    apapun kampus nya,,,,INDONESIA ttp tujuannya!!!
    Qt mjukan Negara ini brsma2,,,
    Hidup Mahasiswa,,,:)
    Selamat Berjuang dan Sucess,,,,

  24. Aga berkata:

    ijin share ya pak :)

  25. Ventje berkata:

    Wah, salut banget lah ama tulisan ini. Pasti seru ya kuliah di ITS.
    Sebagai mahasiswa tingkat akhir di ITB, saya melihat ITB memang kampus yg sangat baik.
    Di ITB fasilitas bener2 nomor satu, sejak kuliah TPB (tingkat pertama) kita sudah belajar praktikum fisika dan kimia dgn peralatan dan bahan yg cukup mahal dan lengkap. Belum lagi fasilitas internet. Namun, keliatannya bener nieh mahasiswa ITB udah byk keluar jalur, semua temen saya aja pengen nya kerja di luar negeri. Dan nyebutnya perusahaan2 yg buju gile gede banget, Apple lah, Fesbuk lah. Walah2.

    Dan makin ke sini saya malah seringkali mempertanyakan kemampuan hard skill saya, karena bisa dikatakan cukup biasa dan terlalu sering mengejar soft skill. Jadi kebalik dari yg lain. Hehe…

    Semoga kedua kampus bisa bekerja sama dgn lebih baik ke depannya.

  26. Fadhel berkata:

    Saya mhs ITB. Ya, saya sedikit merasa berubah setelah saya melihat tulisan “Selamat” karena telah berhasil memasuki bangku kuliah ITB. Perasaan yang lebih ke arah bangga namun terlihat seperti sombong dan arogan.
    Ayah saya seorang Alumni ITS, bahkan keluarga besar saya mayoritas adalah alumni ITS. Jadi, yaa kurang lebih saya mengerti bagaimana sifat dan sikap para alumni ITS. Saya sangat bangga dengan ayah saya, beliau adalah seorang yang amat sangat baik hati, seorang ayah yang saya katakan berhasil membimbing anak2nya. Seorang ayah yang sangat bangga pada anak2nya yang telah masuk ITB. Beliau berkata “Le, kamu habis masuk ITB tetep inget asal kamu darimana, jangan sombong, masuk ITB itu hanya step awal saja” kata2 yg sangat menusuk jika saya mengingat2 kembali sembari melihat IP saya….
    (Maaf, Jadi curhat panjang)
    Intinya, saya cukup mengerti, ayah saya, saudara2nya, adalah orang2 yang tidak memandang diri mereka lebih tinggi dibanding yang lainnya. Bahkan mungkin di beberapa saat, mereka menempatkan diri mereka lebih rendah dibanding yg lainnya. Ini mungkin salah satu sifat kita yang kurang menonjol kawan, Jangan terlalu berbangga diri, terus lihat keatas untuk bisa mengejar orang2 yg telah diatas, namun lihat ke bawah saat kita dibalut dengan kesombongan.

    Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan Indonesia! Hidup Kampusku!

    • ilham affandy berkata:

      Berbeda dengan mayoritas penduduk kami di Kota Rantau prapat Medan kak.. tiap kali saya menyebut bahwa saya ingin kuliah di ITS. Tapi mereka mencemoh “ITS itu di mana ya? Swasta ya?” Dengan fasih saya mnjawab ya mungkin gitu deh.. dalam hati (ini ngejek atau ngledek sih :() tpi itu ga mencegah dan menghambat saya untuk kuliah di institut tersebut. Muda2an saya bisa masuk ke dalam nya.. dan mengikuti jalur sukses yg membawa nama bangsa ke arah yg lebih baik… amin…..

  27. lambdamatra berkata:

    Poin-poin yang jadi subjudul itu (mungkin) mewakili kelebihan ITB dibandingkan ITS :
    Percaya diri, Apresiasi, Pola Pikir Terbuka, dan Alumni
    Berarti itu dong yang harus dibenahi oleh ITS.

    Menurut saya, ITS tidak terbayang-bayangi oleh ITB.
    ITB dan ITS adalah dua kekuatan besar yang dipunyai Indonesia.
    ITB adalah kekuatan besar di barat, dan ITS adalah kekuatan besar yang ada di timur.

    Kalau ITB dan ITS dibandingin sama UI dan UGM, it’s not apple to apple to compare!
    Kecuali, kalau mau fair, ya membandingkan hanya fakultas tekniknya saja.

    Salam,

    Mahasiswa Minyak ITB
    ^_^

  28. ilma berkata:

    ayoo mahasiswa,, kita sama2 berjuang untuk tuhan dan bangsa. jujur saya terpukau dengan semangat temen2 its di pimnas. waw banget!! :)

  29. Dipta berkata:

    Sebenernya secara skill dan tingkat kepintaran, kemampuan anak2 ITB dan ITS ga beda..
    ITS memang jaya di robotika (apalagi PENS nya di KRI) tapi belakangan ini ITB juga selalu meraih prestasi di robotika, bahkan internasional (Trinity college Fire Fighting Robot). ITS sering menang PIMNAS, melakukan inovasi brilliant di lomba Shell Eco Marathon, ITB juga berprestasi di lomba itu..

    Kedua orangtua saya alumni ITS, mereka sendiri mengakui, seringkali teman-teman mereka tidak mau melampaui tembok ciptaan mereka sendiri, tembok itu bernama ketidakpercayaan diri,, kurang mau menembus batas zona nyamannya.. Banyak teman-teman mereka diterima di perusahaan yang bagus, top, tapi ketika akan ditempatkan di ibukota, banyak yang mengeluh dan takut untuk melangkah.. Lebih suka tetap berdiam di daerah nyamannya…

    Saya semakin yakin dengan perkataan orangtua saya dengan adanya suatu kejadian di perusahaan tempat saya bekerja di Jakarta, ada alumni ITS sebenarnya sudah diterima,, namun dia bertanya, “tapi nanti ditempatkannya di Jember kan, Pak?” seketika orang HRD nya terdiam dan bingung harus menjawab apa..
    Memang tidak bisa digeneralisir, namun banyak yang seperti itu..

  30. anang berkata:

    gmana kalo di adu ama skill anak politeknik pasti lebih seru

  31. zigit berkata:

    jangan bngga jdi almni manapun sklipun itu prguruan tnggi s jagad klo anda masih bkrja untuk org lain..

  32. IMAM berkata:

    kini hadir saudara muda kita INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA dan INSTITUT TEKNOLOGI BORNEO, , :D

  33. ali berkata:

    keren2 comennya….

    sukseslah buat kita semua, tapi banyak yang bilang lo, kalo pusat teknologi Indonesia bergeser ke kampus its, liat saja skr di sana telah di bangun pusat teknologi dan rekayasa.

  34. Keifan berkata:

    Apalah bangganya jadi alumni sebuah Universitas Ternama jiikalau kita tidak bisa memberikan kontribusi positif dalam masyarakat.

  35. Youth Generation berkata:

    keren.. sukses untuk kita semua !! :)

    ~ Mahasiswa Teknologi Bioproses UI

  36. elisa berkata:

    Waaaah jadi ada pandangan baru nih :D
    Eeehm ehm kakak kakak,
    Saya kelas 12 SMA skrg tinggal di daerah jatim. Secara bakat sih, emang lebih cocok ke teknik. Secara nilai di rapor juga. Tapi orangtua pengen ke FK. Dari hati sendiri sih teknik. Kalau bicara bagus, orang2 sekitar bilang ITB. Tapi berhubung cewek, jadi mikir duakali dulu. Dilihat lagi kualitasnya, ternyata sebelas duabelas lah. Hampir sama. Ada beberapa jurusan ITB lebih bagus. Ada beberapa jurusan juga ITS yg lebih bagus. Tapi masih objektif kata orang sih gaktau pastinyaaa :) ehmm sampai saat ini masih bingung. kalau ada saran monggo yaa kakak kakak:)

  37. Otniel berkata:

    @elisa biar gak nyesal nantinya, pilih dulu jurusan yg kamu mau, kalau mau milih teknik selain perkapalan pilih ITB aja dipilihan pertama, ITS pilihan ke-2 itu aja saran dari gw
    Otniel – ITS TC’12

  38. Fie Banaty berkata:

    ITB = Institut Top Banget
    ITS = Institut Top Sekali
    Jadi, menurutku keduanya sama-sama bagus. Jujur, rasanya lebih mantab kuliah dengan ranah yg sudah jelas ‘teknologi’, itu kenapa saat SMA saya memilih ikut USMD ITB dan seleksi masuk ITS, saya sengaja tdk melihat kampus lain dg catatan utk memantabkan diri (bukan krn kampus lain tdk bagus). Pada akhirnya, saya menjadi mahasiswa ITS, dan sejak saat itu saya mulai bagaimana memandang kampus lain (bukan dari kurang-lebihnya), tapi lebih bagaimana pada proses membangun bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (dari TriDharma Perguruan Tinggi). Hingga saat ini ITB punya anak ITS (Institut Teknologi Sumatra) dan ITS punya anak ITB (Institut Teknologi Borneo). Jadi, belum bisa dikatakan kampus yang baik jika efek keberadaan belum dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar kampus, juga penelitian & pendidikannya belum mengambil bagian utk membangun bangsa.
    -hanya opini saya-

    Mahasiswa ITS Semester 7

    • ilham affandy berkata:

      Kak kasih tips donk supaya saya bisa nyusul kakak di its.. please :) saya ilham affandy sekolah di kota rantau prapat medan.. d reply ya kak :*

      • nabila berkata:

        mmm ga ada tips khusus sih.. cukup fokus sama apa yang pengen dicapai maju terus dan jangan lupakan berdoa sama yang maha kuasa + doa orang tua itu mustajab banget kok

  39. kuli amerika berkata:

    Pengalaman di luar kampus jauh lebih berharga dari di dalam kampus, itu sebabnya pengalaman kerja mendapat porsi lebih ketimbang sekedar kuliah di kampus. Di kampus cuman buat mendapatkan modal kemana mesti mencari tahu apabila mendapatkan masalah saat masuk di dunia kerja. Contoh : apapun lulusan anda tidak menjadi ukuran bagi perusahaan asing, mereka juga kadang gak kenal kalau you lulusan PTN, PTS atau antah berantah, mereka lebih melihat apa yang anda kerjakan di masa lalu, apa yang sedang anda perbuat sekarang dan apa impact-nya terhadap perusahaan ?.
    jadi yang terpenting, dapet basic dulu di perkuliahan, karena pasti ditanya mana ijasahnya ?, kedua cari sertifikasi keahlian, karena pasti ditanya apa yang bisa anda lakukan buat perusahaan ?, ketiga bergabung dengan organisasi yang in-line dengan profesi yang nanti anda berniat tekuni atau in-line dengan study you sebelumnya, karena pasti ditanya apakah keilmuan atau keahlian anda up-to date apa gak ? dari sini jelas alumni MIT- pun kalau lulusan jadul gak pernah update keilmuan-nya ya pasti lewat dengan alumni antah berantah yang terus menerus berkecimpungan dan update keilmuan/keahlian-nya.
    So no worries at all from which university you were graduated, be focus and keen to sharpen your skill & expertise. Wish u luck…

  40. Fariz Aulia N berkata:

    Wah, aku baru ikut TPB (Tahap Persiapan Bersama). Wawasanku tentang ITB maupun ITS kurang begitu luas. Yang baru aku tahu tentang ITB, ITB adalah ‘Institut Akselerasi’. SMA 3 tahun dijadikan 1 tahun (TPB), kuliah 4 tahun dipercepat jadi 3 tahun sisa (jika ingin ‘lulus tepat waktu’, bukan ‘tepat pada waktunya’). :D. Jadi yang baru ada di pikiranku adalah betapa sibuknya aku 3-4 tahun ke depan, bisakah aku mengembangkan softskill dengan semua kesibukan tersebut?! :D. Mungkin ada satu hal lain yang baru aku sadari setelah merasakan TPB 1 semester. ITB terlalu sibuk dengan kuliahnya, makanya dari SMA aku jarang benget lihat ITB masuk TV gara-gara demo. :D.
    Sekian

    Mahasiswa FTMD 2012
    Kuat-ERAt-Satu (KERAS!) :)

  41. Mesin ITS berkata:

    Hahaha…. lucu baca artikelnya….
    wah.. wah… emang ITB keren… tp ITS lebih menarik…

  42. 13704039 berkata:

    ITB punya ciri khas sendiri, ITS, UI , UGM dll juga punya ciri khas yang satu sama lain yang berbeda-beda. Ciri khas ini sudah turun temurun membentuk suatu karakter mahasiswa dan alumninya. Jangan berdebat, tunjukkan prestasimu untuk bangsa dan Negara ini.

  43. taufanyanuar berkata:

    Tulisan yang sudah menjadi rahasia umum tapi cukup meng-inspirasi

  44. Firman berkata:

    Sy sbg alumni ITS yg bekerja di BUMN Energi Nasional merasa tdk ada bedanya dgn alumni ITB, kami sama2 berpikir keras bgmn Indonesia yg saat ini dijajah oleh investor2 asing, tetap jaya di Negara Indonesia,
    Saatnya akademisi baik dari ITS dan ITB sadar dan terbangun dari tidur panjangnya, model penjajahan saat ini sama dgn 60 – 80 thn lalu, dtg ke Indonesia dgn berdagang lalu menjajah, mengambil SDA Potensial.
    Marik kita sama2 bahu membahu membngun Negara yg sedang terkapar ini.

  45. deteksi berkata:

    merinding baca artikel yang begitu bagus ini. mengalir. penulisnya cerdas!

  46. kingslave berkata:

    Daripada bersaing mendingan ITS, ITB, UGM saling mendukung memajukan negara. Bersatu membuat suatu “forum bersama” demi kemajuan bangsa.

    • Heri berkata:

      asal bersaingnya sehat sih gak papa mas, kan yang ceria rakyat indonesia juga lihat anak tekniknya saling berinovasi. salam dari Mesin ITB :D

  47. Togar Silaban berkata:

    Tulisan yang bagus.
    Saya alumni ITB, pernah 17 tahun bekerja di Surabaya, banyak rekan kerja saya alumni ITS. Saya mengenal sejumlah dosen ITS, ada beberapa kali berdiskusi dengan civitas akademi ITS. Saya pernah memberi kuliah praktis di ITS.

    Saya kira beberapa poin dari penulis bagus. Saya sekarang bisa memahami lebih banyak mengapa Fadjrul Rahman, Rizal Ramli, Purwacaraka, Sudjiwo Tedjo, Laksaman Sukardi dan lain-lain beralih dari ilmu teknik. Mungkin hal itu karena ITB memberi suasana untuk mengembangkan diri.

    Pergaulan saya dengan beberapa dosen ITS memberikan pemahaman sedikit banyak tentang ITS (walau mungkin keliru). Suasana pembelajaran di kedua kampus memang tidak sama.
    Saya bangga sebagai alumni ITB.

  48. puspita berkata:

    saya seorang alumni ITS yang lahir di keluarga alumni ITB. Sejak kecil, saya sudah ditempa supaya punya mental ITB. apa daya, waktu spmb, saya ga keterima di ITB dan malah masuk ITS.

    menurut saya, memang ITS kurang percaya diri. mereka benar-benar rendah hati (atau mungkin rendah diri), sedangkan ITB benar-benar percaya diri (atau mungkin tinggi hati). menurut saya, ini dipengaruhi oleh budaya masing-masing kampus yang nantinya melahirkan karakter kepada lulusan.

    masing2 budaya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. namun ada baiknya kalau kita sama-sama belajar. ITS belajar untuk percaya diri, sedangkan ITB belajar untuk rendah hati. soal insititusi lebih baik belakangan saja, yang terpenting itu masalah individu dulu saja

  49. xathrya berkata:

    Berbagi pengalaman, saat ini saya, alumni ITB, bekerja di sebuah perusahaan dimana teman-teman dekat saya di company ini adalah lulusan ITS. Saya seorang fresh graduate, kemampuan saya dalam hal pekerjaan tidak lebih dari kawan-kawan saya tersebut, bahkan saya cenderung paling amatir (karena saya masuk paling terakhir), tapi saya menyadari bahwa kawan-kawan saya tersebut justru sering bertanya mengenai pekerjaan kepada saya, menjadikan saya referensi. Padahal saya tidak lebih ahli dari mereka (biasanya jawaban2 saya dapatkan dengan quick peek di google atau menghubungi senior saya).

    Entah mengapa di antara mereka malah timbul stigma “Tuh tanya Satria (saya) coba, dia kan anak ITB.”. Jujur saya merasa agak besar kepala, mungkin karena sudah tabiat gebleknya ITB, tapi disisi lain saya juga agak jengah, karena disini saya menganggap bahwa kita sama-sama belajar.

    Saya jadi ingat pernah berpikir apa yang membuat alumni/mahasiswa ITB cenderung agak sombong dibandingkan sejawatnya, mungkin karena spanduk yang dipasang di gerbang ganesha setiap penerimaan mahasiswa baru, yang berbunyi “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”.. Jujur, saat saya baru diterima di ITB dan baca spanduk itu bangganya minta ampun..

    Mungkin spanduk tersebut perlu diturunkan dan diganti dengan kata-kata yang lebih rendah hati, Usul saya bisa ditambahkan kata-kata : “Anda belum jadi putra-putri terbaik bangsa kalau belum berkarya untuk negara anda”

  50. Putro berkata:

    Sebelumnya saya perwakilan dari alumni ITS turut senang dengan membaca blog ini, saya waktu KP (PKL) dulu saat kuliah juga merasakan hal yang sama, terlebih lagi waktu seminar internasional di UI waktu saya kuliah semester 6, para peserta dari UI, UGM, singapore, taiwan dan ITB mereka semua memliliki karakter-karakter yang uniq. dan saya sendiri memang pada saat itu waktu pemaparan di depan ya dengan bermodal bahasa inggris yang setengah-setengah dan kurang PD makanya pemaparan saya pun ikut ter-engah engah sehingga saya malu dengan saya sendiri sebagai perwakilan dari ITS (masak saya spt ini malu dengan relasi/teman-teman yang lain) sehabis dari seminar tersebut saya bertekad “Kalau mereka bisa kenapa saya tidak bisa?” padahal sama-sama manusia,makan nasi juga hehe, sejak dari itulah saya mempunyai prinsip jika mereka semua bisa mengapa saya tidak? dan sampai sekarang dengan tekad tersebut saya harus bisa seperti mereka.. saya berterima kasih kpd tmn-tmn yang telah menginspirasi saya sehingga menjadi spt yg sekarang. tetap maju para pemuda indonesia, anggaplah perbedaan ini merupakan suatu tolak ukur bangsa ini meraih kemajuan dan jangan lupakan teman-tmn yang kurang beruntung seperti anda-anda semua dan jayalah terus pemuda indonesia banyak-banyaklah ‘merangkul’ teman2 yang berasal dari papua,sulawesi ambon dll mereka juga saudara kita jika mereka tidak ada apalah arti “Bhinekka tunggal Ika” tanpa meraka kita tidak akan menjadi indonesia yang utuh, terus belajar dan raihlah impian mu..
    assalam R.wiroluyo

  51. simsalabim berkata:

    gw di itb mt06, sempet kerja d astra n skrg nyangkutnya di bank mandiri….thx itb

  52. timmy berkata:

    Realitas getir. ternyata di indo masih terlalu besar ego univnya ya…mestinya kan dinilai sesuai kemampuan individu bukan dilihat alumninya #prihatin

  53. timmy berkata:

    Satu lagi….mgkn banyak siswa yg memiliki taraf kecerdasan cukup sbg mahasiswa itb tp mereka memilih universitas lain yg notabene lebih murah dr segi biaya kuliah atau kehidupan sehari2. Bandung kota mahal kawan~ tapi surabaya sangat terjangkau

    • Heri berkata:

      beasiswa melimpah kok mas di sini, dan yang saya yakini juga rasakan, ITB tak pernah menggagalkan kuliah seseorang dari segi ekonomi. beasiswa buat hidup banyak banget, coba deh (y)

  54. dayuwiyati berkata:

    Assalamu’alaikum. Saya mahasiswa ITB tingkat akhir.. Masih kadang sedikit heran dengan orang-orang di luar sana yang sering membicarakan tentang anak-anak ITB. Bagus si kalau memang itu bisa dijadikan bahan evaluasi, bukan ahanya untuk anak ITB, tapi yang membicarakannya juga.

    Saya di ITB dididik untuk menjadi orang yang sebisa mungkin bermanfaat bagi bangsa sebanyak banyaknya. berkarya untuk Indonesia dengan segala kemampuan yang di miliki. Bukan hanya kemampuan akademik, tapi kemampuan lainnya.

    Saya rasa bukan saatnya lagi salaing membicarakan satu sama lain.. tapi bergerak maju dan berkarya sebaik mungkin untuk negara tercinta

  55. Mau Lulus SMP berkata:

    Saya pikir, kita lulus dari PT manapun yang paling penting adalah sampai sejauh mana kejujuran kita mengakui hasil belajar kita selama di PT adalah murni keringat kita sendiri tanpa ada kecurangan. Seperti kita ketahui, saat ini para mahasiswa (baik PTN maupun PTS) akan mengejar IPK yang tinggi dengan mengesampingkan proses belajar dan segala cara bakal dilakukan untuk memperoleh nilai yang tinggi. Memang, tidak bisa dipungkiri, IPK merupakan “gerbang” awal kita bekerja. Tapi, apalah artinya IPK tinggi jika kemampuan, keahlian, dan keterampilannya di bawah rata-rata.

    • Heri berkata:

      sangat sulit mas orang dengan kemampuan(yang dipelajari) di bawah rata2 akan dapat ipk tinggi. Wong soal ujiannya kan mengevaluai kemampuan engineering itu, kecuali maksudnya kalo kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan yang butuh skill seperti mbubut atau ngelas.

  56. insan Tuhan berkata:

    Satu hal yg mungkin bisa jadi catatan. setahu saya, menjadi insan yg bermanfaat adalah hal yg paling penting. dimulai dari bermanfaat utk diri sendiri, jika kita merasa tidak bisa mengendalikan ego kita, berati tidak ada guna kita lulusan ITS atau ITB.. mawas diri dan jangan kecil hati, dunia ini luas, kembangkan diri dan buka wawasan. dengan potensi dan kemampuan, kembangkan usaha, buka kesempatan untuk orang lain, itu jauh lebih penting dari pada galau memikirkan background, kurang lebih demikian. salam kompak

  57. Enggik DP PENS berkata:

    Mahasiswa mmg sgt erat skali dg bgmana dia berpandangan kedepannya entah itu masa depan terkerucut atau smakin melatar. Memang kbykan hanya mengandalkan faktor X ketika mrka ingin terjun k ibukota, namun jg bisa kita mlihat sisi lainnya yakni amanah yg diemban..
    Ketika kamu mnjdi engineer pasti lah amanah untuk dpertgungjawabkn di akhirat kelak akan lbh ringan, namun ktika anda terjun di Ibukota sudahkan anda mengemban amanah yg baik dan membawa perubahan pada negri ini? yg ada, pmrinthan skg smkin terpuruk. Jadi sgt wajar saja ketika kita mndpt ilmu ttg teknik bekerja yg srumpun.. Namun besar hrpan saya untuk mnjadi agen perubahan untuk negri ini mnjdi kluar dr ktrpurukan dan mnyerukan Resolusi Totalitas perubahan sistem bkn demokrasi.

    Smoga sllu berendah hati, arogansi hanya untuk bangsa yg berbeda dan termasuk musuh seberang.

    Edp. PENS

  58. joetomo berkata:

    Hehehe klasik nih, sementara di negeri seberang universitasnya bahu membahu dalam riset dan membentuk banyak grup riset, di Indonesia masi jotos2an rebutan ranking universitas.

  59. sphinx berkata:

    lebih baik, kita mahasiswa berpikir dan bertindak untuk membangun Indonesia dan berperan dalam pembangunan dunia.. Belajar saja yang tekun dan serius.. Lakukan sebisa yang kita bisa.. Berikan segenap usaha yang kita punya.. Kuliah di mana pun, universitas manapun, outputnya balik lagi tergantung pelakunya dan mahasiswanya.. daripada sibuk memikirkan level kampus masing-masing, ga ada habisnya..

  60. x-boy berkata:

    1 kata buat ITS … **** !!! (maaf kata-kata ini saya edit. Penulis blog)

  61. AF Lazuardi berkata:

    Aku arek ITS CUK….
    yang penting kampus di seluruh Indonesia harus menjadi kampus RAKYAT yang meRAKYAT,..
    bukan jadi lembaga yang menguras uang RAKYAT…
    dan ITS semoga selalu senantiasa ke depan menjadi kampus RAKYAT yang tidak menguras uang RAKYAT…
    menjadi kampus yang selalu dekat dengan RAKYAT dan membangun RAKYAT…
    semoga ke depan selalu tercipta robot2 dan teknologi yang sesuai kebutuhan RAKYAT..
    dan ITB pun sebagai saudara tua, semoga juga bisa menundukan diri menjadi kampus RAKYAT yang sesuai dengan kantong RAKYAT…
    SALAM ITS CUK…

  62. Pramboeidi berkata:

    Saya kuliah di ITB. Dan saya suka, karena saya boleh bersikap individualistis, dan menunjukkan eksistensi diri. Saya tidak bisa membayangkan kalau sekolah saya bukan ITB, bisa jadi saya jadi musuh dalam selimut untuk sesama alumni. Tp, kalau ITB, all is fair in love and war, and job, hehe.

    Kadang disangka cuma mengejar uang, jd kuli perusahaan asing. Tp, sebenarnya cm mau jd yg terbaik saja dari segala penjuru. Satria Lelananging Jagad. Soalnya, banyak juga yang masih mau digaji di bawah tarif tukang insinyur yang utama menjadi yang terbaik.

    Negara butuh dua-duanya, butuh ITB, butuh UGM, UI, ITS, UPN, USU, dll. Butuh semuanya. Kalau sudah bekerja, apa gunanya memperdebatkan. Cuma beda kertas sertifikat, belajar juga dari buku yang sama.

    Yang penting kejar terus semua cita-cita. Jangan menyerah, Kawan.

    Yang merasa ITS, ayo kalahkan ITB. Yang merasa ITB, ayo kalahkan ITS. Toh, yang banyak omong dari ITB atau ITS dari yang lain akan tersingkir dengan sendirinya,

    Salam, Cuy and CUk, dodol and dodil.

  63. Djaya berkata:

    ya itulah yang terjadi (hanya) di indonesia. karena semua tercipta karena sistem pemerintahan yang lebih condong ke pusat. sehingga daerah kurang (jauh) dari perhatian. Inilah sebenarnya tugas alumni masing-2 perguruan yang bisa mengangkat nama almamaternya. Saya tidak membela salah satu pihak, karena masing-2 punya kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bagaimana membangun sebuah bangsa yang maju dalam peradaban, teknologi disamping akhlaqul yang baik. jangan ingin mengalahkan dan mengalah,..itulah yang dinamakan persaingan dengan sehat. karena apabila kita saling mengunggulkan diri kita sendiri malah-2 bisa yang lain akan maju. Kita ambil positif dari teman-2 yang sudah memberikan ide, apresiasi dan pendapat yang sepatutnya kita acungi jempool.

  64. david siahaan berkata:

    Saya David Siahaan, Teknik Kimia ITS. Hemat saya membandingkan/benchmark itu sangat baik selama berada dalam konsep saling menguatkan, saling berbagi informasi, dan mengevaluasi. Atau sekedar joke, oke oke aja. Karna biar bgmnpun, we need outsider’s view to evaluate ourselves. Nahh, kalo sifatnya malah utk saling menjatuhkan, itu yg pecundang. Bukannya pada akhirnya kita akan bertanya pada diri kita “apa sudah kita perbuat utk masyarakat dan bangsa ini”. Teori Maslow saja menyatakan bahwa hierarki kebutuhan terbesar manusia adalah AKTUALISASI DIRI. Ingat, berada dlm lingkaran kesombongan atau rendah diri, malah jadi penghambat utk maju. Jadi intinya, buktikan kapasitas dan kontribusimu. :)

  65. uluz berkata:

    olo lae david,,,
    jangan lah emosi.
    skak dulu lah kita kalau gitu..
    HIDUP MAHASISWA pokoknya lah…

  66. ferdinan s berkata:

    anak ITS dan ITB harus sama-sama mengembangkan keteknikan…buktikan masing2 lulusan ITB & ITS bisa membawa kemajuan negeri yg masih terbelakang ini….

  67. hvm70 berkata:

    saya tidak kuliah kk. jadi mohon maaf tidak bisa mengomentari dengan baik.

    http://perencanaan.itb.ac.id:8080/.index.htm

  68. sanny berkata:

    Transformasi!
    Sbg alumni ITB, ITB itu yg sy pahami, selama 5 thn kuliah, bukan hanya ingin meluluskan sbg seorang yg ahli ataau berhasil di satu bidang, tapi lulusannya itu bisa menemukan solusi (atau sekedar ide) atas permasalahan di msyarakat. ITU!

    2 jenis lulusan yg saya pahami, dr guru sy (ITB), org yg ahli di 1 biidang dan menjadi besar dengan gelar dari bidang itu, dan yang kedua (masih jarang) adalah orang yg bs menemukan solusi dengan ide-ide dan pemikirannya atas beragam persoalan sosial atau lainnya. Karena pola pikir unntuk memecahkan masalah itu tidak bisa diraih hanya karena dia lulus dari Univ. ternama, tp karena dia teruji dalam berbagai persoalan (hidupnya dan masyarakat umumnya).

    So, mau pilih yg mana: ahli dan bergelut di satu bidang saja atau mampu menunjukkan diri handal sebagai org yg solutif bagi setiap masalah.

    *pernah kerja dg dosen 2 tahun untuk pryek yg ditangani ITB (LAPI-ITB), 3 tahun sbg Professional IT (sampai sekarang), dan mengembangkan Bimbingan Belajar serta Usaha Konveksi (Penjahit di Bandung). Least but not the Least, tiap minggu, saya jualan jasa kesenangan memancing untuk anak-anak sambil ikut pengajian Ahad pagi. So, tiap hari, 9.00 – 18.00: professional IT, 19.30-21.30 ngajar bimbel Senin-kamis; Sabtu: Full Acara keluarga dan bermain dengan anak plus pengajian sorenya, tambah minggu jual jasa memancing sbg hobi dan penyaluran bakat jualan secara face-to-face.
    Gaji: 2 digit bisa diserahkan seluruhnya untuk istri.
    Sedang saya sangat puas setelah bisa ikut berjuang untuk keluarga, orangtua, dan orang yg mencintai. Allah tentunya selalu dihati. Salam Transformasi dari Bandung

  69. Artha Tiara berkata:

    Bacaannya menarik banget ^_^
    saya masih kuliah di ITB, dan membenarkan hal-hal yang penulis tulis disini. .
    Jujur, saya bangga kuliah di ITB, tapi secara bersamaan saya (kami) menanggung beban yang cukup besar, menjaga nama harum ITB yang dibangun oleh para Alumni ITB di mata bangsa dan berkontribusi sebanyak-banyaknya untuk negara ini. .
    jujur, saya juga tidak pernah meremehkan Universitas lain, karena saya tahu, stiap universitas memiliki keunikannya masing2, dan semua universitas sama-sama berusaha memberikan sarana untuk kita (mahasiswa) belajr dan mengembangkan softskill kita,
    suatu individu itu akan sukses dilihat dari motivasinya, kerja keras, doa orang tua dan yg terpenting selalu mndekatkan diri kepada Allah (gak takabur, riya’ dll), jadi gk masalah mau kuliah dimana, asal ada kemauan untuk berkembang dan maju (mana yang bner), pasti hidup ini gk bkal sulit untuk dijalani. .

    Maaf kalo bahasa saya kurang kreatif, maklum saya masih “freshmen” dalam berpendapat. .

  70. umek berkata:

    Terima Kasih ITS….. benar-benar kampus perjuangan..
    meskipun dirimu belum meluluskan diriku di semester 12 ini…..

  71. Jon Koplo berkata:

    udah gak jaman membangga2kan almamater

  72. rijal berkata:

    Sekarang seharusnya bukan jamannya membanggakan almamater, tetapi harusnya kita belajar bagaimana universitas di Indonesia ini bekerjasama agar terwujudnya Indonesia yang maju dan selaras di semua wilayah, kalau pemikiran mengenai perbandingan antara almamater itu takkan ada habisnya, mengapa kita tak salurkan untuk perkembangan negeri ini, toh seharusnya mahasiswa itu mempunyai skill yang bisa dibawa ke masyarakat dan digunakan untuk memajukan masyarakat itu sendiri, apalagi kalau kita bekerjasama, mungkin pada suatu saat, masalah perbandingan seperti ini lebih sedikit terlihat, yang terlihat hanyalah kerjasama yang kental antar instansi pendidikan(dalam hal ini universitas) dalam memajukan pendidikan dan berbagai aspek di Indonesia, baik itu mahasiswa ITB,UI,ITS,UGM,UNDIP,UPI,USU,UNJ, semuanya punya andil yang sama dalam memajukan negeri ini..

    Ilmu Komputer UI

  73. fidya :) berkata:

    Reblogged this on fidyafpd.

  74. Risti berkata:

    waah ini artikel yang luar biasa :D

    saya mahasiswa ITS semester 2, kuliah di kampus saya ini benar-benar luar biasa, saya belajar banyak hal disini, intinya, kuliah yang saya jalani sekarang tidak hanya melulu untuk belajar, dan mengejar IP yang baik saja, tapi juga untuk membentuk jaringan persaudaraan dengan semua angkatan, utamanya untuk angkatan saya, saya belajar apa itu sense of belonging eksternal dan internal, dan juga apa itu arit solid dan peduli yang sebenarny

    cinta ITS deehh pokoknya :)

  75. Mahasiswa tingkat akhir ITB berkata:

    salam sejahtera buat kita semua,
    bukan saatny lg kita membandingkan antar PTN, saya sendiri jujur bosan membca hal2 yg seperti ini. samakan posisi kita, jgn terlalu membesarkan ego msing2.
    tiap PTN mempunyai ciri khas ny masing2, baik dari alumninya, civitasnya, maupun sistemny.
    yuk tingkatkan kapasitas diri kalian dan bngun bangsa ini bersama.

    Mahasiswa tingkat akhir ITB

  76. anak gajah buncit berkata:

    mantap! akhirnya ada kawan yang menulis hal yang ‘nyentrik’ macem ini dari perguruan tinggi lain. salute buat si penulis :)

    ITS, merasa rendah diri padahal kemampuan mahasiswanya di bidang teknik terbilang baik. ITB, diakui sebagai institut teknologi terbaik dan pada akhirnya banyak mahasiswanya yang merasa ‘besar’ karena logo gajah duduknya. namanya juga perbedaan, asal jangan merendahkan satu sama lain ya tak ada masalah. kalau semuanya berjalan baik2 aja ya rasanya ga bakal ada tulisan ini dan ga ada orang yang mikir untuk mengolah kata supaya memberi komentar disini kan.

    gimana ya, mindsetnya daritadi cenderung bagaimana pribadi kita bisa berada dibawah naungan entitas yang sudah punya nama besar. kalau gitu ceritanya saya yakin universitas di seluruh Indonesia akan mengalami penurunan kualitas secara merata. dulu ITB hanya sekolah dengan 2 gedung tua jaman belanda dan akhirnya maju karena siapa? puluhan tahun lalu ITS baru muncul dan sekarang sudah bisa maju sedemikian rupa karena siapa? MAHASISWAnya. masyarakat sipil terpelajar, solutif, dan produktif yang bisa mengharumkan nama entitasnya. perlahan tapi pasti, akan mengharumkan nama Indonesia dengan karyanya. terkesan normatif? ya, tapi memang itu yang dibutuhkan. contoh sederhananya, modal berani ikut lomba, aktif di kemahasiswaan.

    ini nasehat luar biasa dari ayah saya, berlaku untuk semua yang menikmati dunia pendidikan: “inget nak, nasib orang ga ada yang tau. dimanapun temen kamu sekolah jangan sampai kamu minder liat mereka atau kebalikannya malah meremehkan. kalau garis hidupnya ditaktidrkan untuk sukses, dimanapun dia kuliah atau sekolah asalkan dia niat kuliahnya pasti jadi(maksudnya beliau jadi = sukses).” quote ini yang menjadikan saya tetap respect sama kawan-kawan saya yang berkuliah di universitas manapun. cukup efektif untuk meleburkan rasa arogansi berkuliah di suatu lembaga pendidikan.

    biarlah perbedaan terjadi asalkan tujuannya satu, memakmurkan tanah air Indonesia.

    Salam hangat, Sistem Teknologi Informasi ITB :)

    • nindyaheca berkata:

      Terimakasih utk artikelnya :)
      Saya mahasiswa ITS yg mengagumi ITB. Saya yakin bahwa mahasiswa ITB adalah anak-anak yang cerdas. Saya kagum dengan nama besar ITB, kata ‘institut teknik’ didalamnya. Tapi saya tidak merasa minder / malu krn saya mahasiswa ITS. Saya juga mengidolakan UGM, kampus tua yang berjaya, UI, almamater kuning yg ada di ibukota, UNAIR, FK terbaik dimata saya, dll. Bagi saya semua PTN memiliki kelebihan masing”. Tapi kenapa muncul banyak perbandingan dan perdebatan? Saya bukan mahasiswa ITB, tapi saya juga punya mimpi yg ingn saya wujudkan, saya punya harapan utk masa depan, saya memiliki tekad dlm kehidupan saya dan saya yakin saya mampu berkontribusi utk Indonesia, suatu hari nanti. Tidak perlu malu ada dimana kita skrg, PTS / PTN, krn kita ada disini berarti kita punya mimpi dan kita punya kemampuan, kemauan utk mewujudkannya. Vivat!

  77. ab berkata:

    Namanya juga “sodara”, kalau kadang berantem ato saling ejek itu hal yg wajar :P
    ”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”
    Sama seperti kita di masa kanak”, Kakak & Adik. Adik akan cenderung menjadikan sang kakak sebagai “role model” (meski tdk semua adik demikian :D ), dan kakak akan cenderung mencari referensi ke temen2nya untuk membentuk karakternya, ato sekedar biar tampak lebih hebat didepan adiknya :D (dalam hati, sapa juga yg mau kalah ama adik :D).
    Dan bukan suatu hal yang mudah bagi adik untuk keluar dari bayang” kakak yg uda terlanjur populer :D
    Dan mungkin sebagai kakak punya beban tersendiri membawa nama baik keluarga (negara) ke dunia lain, uda tua coi masak di rumah mlulu :D
    Sebuah keluarga akan lebih baik & harmonis bila setiap anggotanya bisa bekerjasama dengan baik :)
    Akhirkata mengutip dari iklan minuman “Apapun kampusnya, yang penting BISA BERGUNA!”

    Maaf klo ada kata” yang kurang berkenan
    Salam Engineer

    *alumnus warkop sukolilo*

  78. Yudha berkata:

    ITB -> khasnya Penerbangan
    ITS -> khasnya Perkapalan

    Indonesia negara maritim yang besar, otomotasi wilayah laut dan udaranya besar.
    Jadi kalau sampai harga diri dan kedaulatan bangsa Indonesia diinjak2 itu tanggung jawab ITB dan ITS!
    huahahahaa

    Yudha. IF’09 ITB

  79. semar berkata:

    Selamat, postingan anda menarik saya untuk memberi komentar.
    Kebetulan saya bukan dari ITB, bukan juga dari ITS.
    Saya dari kampus yang masih muda, ga sebanding lah kalau dibanding ITB, ITS, UI, dan UGM.

    Sudah saatnya kita berkoordinasi. Bukankah yg kita perlukan sekarang adalah kemajuan kolektif?
    Saya rasa, hal semacam ini terkadang membuat “enclave” pendidikan di Indonesia.

  80. Bop berkata:

    bung! tulisan yang sangat menarik!
    diluar konten, menurut saya nih tulisan bagus banget apalagi dibuat anak teknik. sabi lah sabi.
    perihal konten, menurut saya sangan bagus nih. netral, menyeluruh, sangan terlihat sikap open minded nya. ntah kenapa selama baca daritadi, yang kepikiran nih agan bisa jadi [penulis yang menarik banget. kalo misal nya mulai nulis di koran2 atau majalah ada potensial jadi penulis top negara nih…
    pendapat aja sih..
    sori kalo melenceng topik.. :D

  81. zara-veer berkata:

    Saya izin repost ya pak, tulisan ini sangat menarik!
    walaupun saya di ITB cuma setahun karena ekstensi dari politeknik, tapi lumayan juga bisa merasakan apa yang tertulis di sana, dan fenomenanya sepertinya hampir benar seperti itu

  82. zenthobarony berkata:

    Terima kasih sharingnya pak! Mau izin repost :)

    Semoga permasalahan universitas negeri di Indonesia saling membentuk momentum, bukan saling menghanyutkan. Saling bersama untuk memajukan Indonesia.

    Semoga

  83. arinda gita berkata:

    Sebagai mahasiswa tahun pertama di ITS, saya rasa di ITS harus membuang citra “harus mengalahkan ITB”. Membenahi diri sendiri dengan membuang rasa rendah diri/tidak percaya diri itu jauh lebih penting.

  84. Qori Putri Dewanti berkata:

    saya adalah alumni yang buka dari 2 univ terkenal itu,,
    menurut saya, kampus itu seperti wadah,, jika wadahnya bagus, maka orang akan lebih senang melihatnya,, dibandingkan yang berwadah biasa-biasa saya,,
    namun “sekali lagi menurut saya” , akan jauh lebih penting adalah isinya. Percuma jika wadah bagus, tapi isinya busuk ato tidak berfungsi,,
    jadi, dari manapun kita, ntah itu UGM, ITB, ITS, UI, ato univ saya UNS sekalipun,, tidak perlu takut untuk bersaing,,

    KITA SEMUA PUNYA KESEMPATAN YANG SAMA,,

    terus gali potensi diri, jangan cepat merasa puas, buka wawasan seluas-luasnya, minta ridho orang tua dan jangan lupa berdoa,,
    insyaAlloh sukses

  85. fakhroziahmad berkata:

    salam, saya mahasiswa ITS, kenapa tidak coba bekerjasama membangun bangsa, toh kita punya kelebihan di bidang masing-masing. karena pada hakikatnya seseorang atau badan tidak bisa menguasai segala bidang

  86. Arek TBK Kelas B berkata:

    Artikelnya keren. Btw, penulisnya senior saya di jurusan.
    Saya pikir persaingan itu penting untuk memotivasi mahasiswanya berkarya lebih baik. Tapi bersatu juga penting untuk membangun negeri ini supaya lebih baik lagi kedepannya. Jangan mementingkan ego pribadi. Perkuliahan untuk memperluas pikiran, jangan dipersempit.
    Bagian kanan dan kiri harus seimbang, begitu pun 2 Institusi ini yang harus sama-sama bergerak untuk memajukan bangsa dari sisi barat dan timurnya. Semangat terus untuk anak bangsa!
    Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! VIVAT!

    Kapal ITS 2012

  87. gilang berkata:

    Kompetisi akan membuat kedua belah pihak semakin maju dan terpacu. Persaingan yang sehat akan selalu berujung pada peningkatan-peningkatan kualitas. Kedua Institusi adalah salah ‘dua’ institusi yang terbaik yang dimiliki Indonesia. Semoga kompetisi, persaingan, gengsi, apapun namanya, akan berujung pada kolaborasi apik di sektor teknologi demi memajukan bangsa Indonesia.

  88. Semua kampus yang ibaratnya buka cabang alias dipecah pasti ada bayang2nya,kayak IPB itu dulunya pecahan dari UI ataupun dari kampus yg lain. dan bisa juga kita anggep kalo di jurusan “perteknikan” ada kelas unggulan sama biasa. mungkin unggulan itu hanya 50%nya aja kali yaah? ga bisa dibilang mayoritas/ minoritas. Mungkin yg sombong merasa karna dirinya udah susah payah belajar ternyata jebol ke ITB dan itu suatu hal yg amat sangat membanggakan. sedangkan yang masuk ITS mungkin ada beberapa orang yg pengen dia punya ilmu yng harusnya memang setara sama ITB. Tapi itu kan dari milis yg diliat? berarti bisa jadi orang yang debat orang yang sama tapi beda nama? we don’t know right? intinya kita sekolah untuk dapat ilmu yang bermanfaat, pengalam yang hebat, relasi2 yang kuat, membanggakan dirisendiri, orangtua, dan negara kita ini juga toh :) SALAM MAHASISWA !!!.

  89. sadman berkata:

    mau anak itb mau anak its.. yg jelas indonesia masih mengeksport babu ke HK. Malaysia dll…. dan asal tau 70% ekonomi indo dikuasai oleh saudara kita org tionghoa (yg jelas2 bukan tamatan itb atau its)… ga ada yg perlu dibanggakan…

    • Fandy berkata:

      setuju dengan sadman…
      buat apa memperdebatkan ITB, ITS, UI, UGM dan univ2 lainnya (terlalu banyak saja juga nggak hafal), toh sampe sekarang SDA indonesia nggak ada tuh yang nguasaian lulusan dr ptn indonesia… 80% pasti dikuasai asing, contoh saja freeport, atau semacam ny,

      kalau cuman memperdebatkan masalah mau jadi ‘pekerja’ di perusahaan yg di kuasai asing mah itu semua org juga bisa, nggak perlu lulus s1 s2 ato s3 lulusan sma mah juga bisa…

      Tapi yang musti paling penting diperdebatkan itu “bagaimana kita bisa kembali mengambil SDA kita yg udah di kuasai asing itu”…

  90. Raydhitya Yoseph berkata:

    Saat komentar ini ditulis saya mahasiswa tingkat akhir ITB.

    Dulu saya tidak berniat masuk ITB. Setelah diterima di swasta saya disuruh orang tua untuk ikut SNMPTN. Alasannya coba saja siapa tahu diterima. Pilihan pertama saya isi ITB kedua dan ketiganya lupa. Ketika ujian saya baru saja sembuh dari sakit, tentu kondisi badan tidak maksimal. Ternyata saya diterima. Kaget juga. Saya, yang menurut aturan ketika itu hampir tidak lulus Ujian Nasional, bisa diterima di ITB.

    Menurut saya hal terpenting yang saya dapatkan dari ITB bukanlah ilmu melainkan karakter. Lingkungan ITB mendidik mahasiswanya bekerja membanting tulang dari pagi sampai pagi lagi. Tidur 5 jam kurang per hari itu hal biasa bagi mahasiswa ITB. Udah tugas banyak masih ikut kegiatan non akademis pula. Karakter seperti itulah yang penting. Soal ilmu saya yakin ITB dan ITS tidak jauh berbeda.

    Semakin lama saya ada di ITB semakin saya merasa betapa sedikitnya ilmu yang saya miliki. Ilmu di luar negeri sangat jauh lebih banyak. Lingkungan ITB juga mendidik mahasiswanya menempuh pendidikan lanjutan ke luar negeri. Jadi, semoga saya bisa membaca ini lagi ketika sedang kuliah di luar negeri. Setelah itu semoga saya diterima di perusahaan Indonesia yang saya inginkan.

    Saya bangga akan Indonesia. Semoga Indonesia mengizinkan saya membuatnya bangga akan saya.

  91. whoknowmyname berkata:

    Saya baru ngerasain kuliah di ITS, dan disini saya belajar bahwa Kepedulian itu “Jantung” nya mahasiswa, meskipun kenyataannya mahasiswa sekarang udah ngga keliatan lagi di bagian mana pedulinya, engineer lulusan sekarang taunya cuman mau kerja di Perusahaan bergengsi yang ngeruk di negara kita -___-..

    Menurut saya ini PR dari setiap institusi buat ngebenerin pola berfikir mahasiwanya, jangan cuma jadi budak nafsu pribadi, tanpa rasa “peduli” mau kemana negara kita kalo sda kita abis dikeruk.

    Kalo ngebanding-bandingin sih ngga bakal ada habisnya, manusia kan subjektifnya suka kelewatan batas. Yang jelas saya beberin kekurangan arek ITS dari sudut pandang saya :
    1. Ngga pede
    2. Tembok impiannya terlalu pendek, ngga berani bikin target yang tinggi
    3. Suka di zona nyaman
    4. Ngga berani ngomong (Pola Pengaderannya harus diubah)
    5. Pengetahuan umum kurang (Padahal internet kenceng)

    Kalo kampus lain kurang tau deh kayak apa

  92. AriS FTTM'12 berkata:

    assalamu’alaikum.
    melihat komentar diatas sungguh banyak kata-kata yang bijak.
    prinsip yang masih saya pegang dari SMA mengenai alammater adalah
    ALMAMATER BESAR KARENA ALUMNINYA, BUKAN ALUMNI BESAR KARENA ALMAMATERNYA.
    just it

  93. Dimas berkata:

    ketika bicara teknologi,betapa kerdil nya kita semua, semua perangkat keras komputer dan elektronika impor semua, ITB melahirkan ribuan insinyur tapi mengapa di level industri ini kita terpuruk? barangkali fasilitas rancang bangun board dan chip sgt minim di indo.

    ironis lagi bicara ttg informatika, untuk yg 1 ini, kan fasilitas nya sama, tp kok berbeda jauh ya outputnya dgn software2 buatan luar? bisnis di dunia ini kan bener2 perang kreativitas, logika, dan inovasi, jelas perlu daya tahan utk riset.

    soal mesin, wah ternyata mesin itu bisa sangat sederhana, bahkan hny dengan nimbrung hoby offroad saja sudah bisa modif2 mobil mjd “heavy duty”, tp kok industri nya masih pada impor semua ya? padahal fisiknya ada dan bisa ditiru. barangkali kisah IPTN menjawab ini.

    susah nya menambang di negeri sendiri, sungguh ironi.

    mengutip akhir tulisan di atas :
    “…ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.”
    SETUJU!!!

    Setiap manusia bagaikan unsur hidrogen.
    Orang ITB atau pun ITS itu seperti unsur hidrogen yang terkondisikan.
    Namun belum ada reaksi fusi jika belum berkarya, berkreasi dan bermanfaat.
    Semua hanya lah energi potensial nuklir, maka ledakkan lah!

  94. Ehsan berkata:

    apapun kampusnya, buat bangsa ini besar

  95. yocerino berkata:

    semoga jadi motivasi kita semua,mau lulus dari kampus mana pun tetep kewajiban kita membangun+memajukan+membanggakan Indonesia.. kekecewaan ada jg ketika banyak lulusan ITB terlalu realistis soal materi dan gengsi. banyak perusahaan asing di Indonesia,dan isinya didominasi dari lulusan ITB. makin betah aja tu perusahaan ngeruk kekayaan dan tenaga kita. wow ngeri ya! . aneh kalo sampe bangga :P . plis! peka dong :( negara Indonesia punya harapan besar untuk dikelola oleh orang-orang pinter.

  96. desainits berkata:

    pada akhirnya kehidupan nggak butuh kalian atau aku kuliah dimana belajar teknik apa. yang penting masing-masing punya karya nyata buat lingkungan sekitar, orang tua agama atau negara

  97. fabianmn berkata:

    Reblogged this on Carpe diem. Seize the day. Live your life to the fullest. and commented:
    Bacaan yang menarik mengenai persepsi mahasiswa ITS terhadap ITB. Semoga perbedaan tidak menjadi batasan, tetapi justru menjadi alat untuk meraih kesinergisan.

  98. robi berkata:

    Institusi pendidikan di Indonesia bertujuan agar Indonesia semakin maju. Kompetisi antar institusi merupakan fenomena yang menarik. Tetapi jangan kompetisi itu dipahami sebatas generalisasi yang dangkal — saling klaim lulusan mana yang terbaik.

    Coba kita lihat di luar. Harvard punya segudang lulusan yang isinya penemu dan inovator dunia. Stanford kerja sama dengan Google untuk bikin Google Car. Cari di wiki dan kita bisa lihat betapa kecilnya kita.

    Jadi, apapun kampusnya, minumnya teh ***** #eh. Tetap konstruktif aja sama give your best.

    Teman-teman yang punya mimpi tinggi bisa lihat http://www.indonesiamengglobal.com/

  99. j4bung berkata:

    jadi inget temen yg lulusan ITB curhat, duh pusing ngadepin anak baru (junior ITB) masuk kerja belum nunjukin performa apa2 tapi selalu nanya Pak kapan saya di dinas ke luar negeri, kenapa gajih saya belum naik. Seniornya aja pusing, ixixixiixi….

  100. ARIF FADLI berkata:

    Setuju dengan penulis…. Tak peduli kita mempermasalahkan ITB, ITS atau yang lainnya….
    Tetapi point nya adalah seberapa besar kita bisa mengubah kehidupan bangsa ini yang semakin terpuruk…. Gabungkanlah kelebihan masing-masing institusi untuk menutupi kekurangan masing-masingnya…. GO INDONESIA

  101. venessa berkata:

    Hai semua :).
    Saya alumni ITB. Waktu kuliah dulu malah sering denger jokes;
    ITB: Institut Teknologi Boongan
    ITS: Institut Teknologi Sebenarnya.

    Saya mengakui kalau proses selama di ITB memang menjadikan mahasiswanya menjadi lebih congkak. Kadang-kadang kita mau biasa aja juga orang lain yg lebay ngeliat kita seakan-akan kita hebaat banget. Tapi toh pada akhirnya saya menyadari bahwa apa artinya nama besar kalau kebermanfaatannya nihil.

    Jadi apapun kampusnya ITB, ITS, UI atau apapun juga, yang penting kan manfaat yg diberikan sebagai insan akademis. Terlebih lagi, yang penting itu kolaborasi. Setiap institusi punya kekuatan masing-masing yang kalau digabungkan baru bisa bikin kekuatan mega dahsyat untuk kemajuan Indonesia.

    Salam,
    Venessa

  102. kechap berkata:

    gak penting bgd deh kaya gni, , , kalo sesat pikir malah bisa konflik. mau itb kek ui kek its kek ugm kek smua py +/- masing2. dan itu harusnya bkn jd alasn perseteruan kan?

    • tami berkata:

      Mungkin mau lebih diresapi membacanya.. Saya rasa ini lebih cenderung ke arah diskusi terbuka dan bukan tuduh menuduh atau saling menjatuhkan.

  103. Rizky Syaiful berkata:

    Entah tulisan saya akan banyak yang baca atau tidak. ( di bawah banget soalnya T_T )
    Saya cuma bisa berharap poin-poin dari saya cukup bermanfaat.
    Sekedar info, saya baru lulus Fakultas Ilmu Komputer UI. Sekarang sedang bangun bisnis sendiri.

    /* Buat kamu anak SMA yang sedang pilih-pilih tempat dan bidang kuliah */

    Kuliah S1 cuma 4 tahun. Karir hidupmu bisa >50. Dan, relatif, juga pada kebanyakan kasus, tidak terlalu signifikan >50 tahun itu dipengaruhi oleh DI MANA 4 tahun itu. Posisi di 4 tahun itu memang agak-sedikit-berpengaruh pada kondisi kamu di tahun ke-5. Tapi nasib kamu di tahun ke-6, sampai ke tahun >50, semua ada di tangan kamu. Kampus manapun, kamu punya peluang yang mendekati-sama untuk sukses. Berikut ini penjelasan dari saya. Terangkum dalam alur langkah yang saya sarankan untuk kamu2 di SMA.

    1) Pertama & utama, bayangkan karirmu dulu. Jalan karir sebenarnya banyak sekali, mudahnya kamu bisa pilih
    > Akademisi/Periset/Dosen,
    hidup kamu kemungkinan besar bakal di kampus menggeluti bidang yang kamu suka. Gak suka mengajar? Dengar-dengar di negara ini, periset penuh waktu sedang digaungkan. Masih belum mengerti? Atau malah terpikir “gue banget nih”? Baca ini -> http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/ ;
    > Teknisi Ahli,
    hidup kamu kemungkinan besar berkarya di sebuah organisasi, entah itu swasta, BUMN, atau perusahaan rintisan temanmu. Kamu berkarya penuh cinta di sana, karena kamu mempraktikkan keahlian nyata di bidang yang kamu suka. Obsesi kamu adalah menjadi ‘orang penting’, karena kemampuan nyata ‘hard skill’ kamu.
    > Pengusaha,
    hidup kamu kemungkinan besar akan… melelahkan. Tapi bagi mu menyenangkan, karena kamu bisa mewujudkan melahirkan sesuatu dari nol. Hasil dari eksekusi berdarah-darah kamu sendiri, atas peluang emas terlintas di pikiranmu. (harap maklumi kelebayannya, saya berada di pot ini. ;p )
    > Manajer/Pemimpin/Politikus,
    simpelnya, kamu senang mengarahkan orang-orang di sekitar mu. Jalan karir ini sebenarnya ada juga di jalan-jalan karir di atas. Selalu ada tempat bagi mereka yang berkarakter seperti ini.

    2) Sudah pilih jalan karir mu? Sekarang pilih bidangnya (jangan bayangkan kampus dulu). Ini tidak perlu dijelaskan ya. Intinya riset, riset & riset, baik ke kondisi di luar, juga apa yang di dalam hati mu. Jangan lupa buat realistis. Bidang & jalan karir pilihan kamu, harus bisa biayai standar hidup yang kamu cita-citakan.

    3) Jalan karir & bidang sudah. Sekarang baru tentang kampus. Pertimbangkan semua variabel yang penting buat kamu. Masing-masing orang pasti beda. Nama besar kampus, tentu jadi salah satu variabel utama. Tapi kalau jalan karir kamu itu pengusaha, porsinya mungkin bisa dikurangi. Kalau teknisi ahli, silahkan sedikit naikan. Kalau akademisi, silahkan naikan cukup tinggi.

    Mungkin ini agak bias di bidang lain. Tapi di bidang saya, IT, sepertinya teknisi ahli benar-benar dinilai dari kemampuan tekniknya. Bahkan mungkin sampai sarjana atau tidak, juga tidak terlalu dipedulikan. Yang patut digarisbawahi, sudah kodrat alam kalau orang pintar ingin bergaul dengan orang pintar (pinjam dari tulisan Paul Graham di bawah). Pilih kampus yang paling diminati orang pintar, tapi berada dalam jangkauan mu. Saat kamu tidak dapat kampus tersebut, kamu cuma kehilangan kesempatan untuk 4 tahun bergaul dengan orang selevel kepintaran yang kamu incar itu. Masa depan >50 tahun hidup mu tidak terancam karena itu. Saya tau banyak contoh mereka yang dari kampus swasta suksesnya melebihi mereka yang di PTN. Jangan sedih.
    ( lalu masa depan >50 tahun mu terancam oleh apa? Sepertinya suatu saat akan saya tulis di rizkysyaiful.com ;p #promosi )

    /* Buat kamu yang sedang kuliah di kampus bukan idaman #1 sebelumnya, dan sering memikirkan perbandingan kampus */

    Kawan, yuk kita alihkan energi kita. Kemungkinan besar kamu sudah tidak bisa lagi pindah ke kampus ‘idaman’. Meski itu adalah pilihan paling rasional di otak mu. Keluar dari khalayan dan hadapi kenyataan. “Saya sudah berada di kampus X & saya akan melakukan {A, B, C, D, …} supaya hidup >50 tahun saya jadi lebih baik”.

    (Saya punya satu teman seperti kamu di kampus dulu. Haduh, capek deh kalau dia sudah nostalgia ke kampus idamannya dulu.)

    /* Buat yang menggantungkan nasib Indonesia ke satu pihak */

    Ekosistem. Indonesia itu ekosistem. Tidak ada satu pihak yang bisa sepenuhnya disalahkan kalau kita gagal.

    Tentu, ada yang pemerintah sebaiknya lakukan. Ada juga yang sebaiknya kita lakukan. (Iya dong, kita pemuda kan bagian dari ekosistem).

    Ada tulisan bagus yang menjelaskan tentang ini: http://www.paulgraham.com/siliconvalley.html

    (saya juga sempat menulis, pemicu tentang hal ini, dari sisi mahasiswanya. -> http://www.anakui.com/2012/05/27/mungkin-lebih-baik-indonesia-tidak-merdeka-surat-untuk-pemuda-indonesia/ #promosi #lagi )

    /* Buat yang berfikir kampus-kampus di Indonesia harus berkolaborasi. */

    Setuju. Tapi….. (ada tapinya)
    Kolaborasi lintas kampus itu indah dan besar. Besar karena ada banyak lapisan birokrasi dan politik di belakangnya. Besar karena yang bisa mengatur itu memang hanya orang-orang besar, bukan kita. Saat kuliah dulu saya pernah kerja di salah satu lembaga riset baru di FE UI. Saya merasakan langsung betapa indah dan mulianya cita-cita, jadi terhalang oleh birokrasi, politik, dan gerak lambat. Mungkin memang kodrat pada semua organisasi yang sudah terlampau tua & gemuk.

    Yuk, kita mulai dari jangkauan kita. Banyak lho potensi kolaborasi lintas fakultas. Kalau bidang ilmu yang kamu incar gak ada di kampus kamu, cari kampus tetangga yang ada. Kedekatan geografis adalah modal besar yang sering kita lupa. (baca tulisan Paul Graham di atas untuk lebih jelasnya.)

    Kami di sini sedang menggembangkan produk bersama kawan-kawan dari FT UI jurusan teknik lingkungan -> http://reverse-note.com #promosi #terus

    ( Ada rencana juga membuat produk lain. Kalau kamu tinggal di Depok, punya waktu luang, dan tertarik sekali dengan bidang psikologi & ‘self-help’, bikin bisnis yuk, hubungi saya ya… )

    /* Buat yang punya blog ini, @rinaldimunir */
    Sebenernya ingin menyarakankan pasang DISQUS untuk sistem komentar, tapi baru sadar kalau wordpress.com tidak bisa pasang plug-in. (atau kalau berbayar bisa ya? CMIIW)

    salam,

    http://twitter.com/rizkysyaiful

    http://hustler-id.com

    #promosi
    #namanya-juga-pengusaha :)

    ( Entah mengapa jarang mendengar bahasan seperti ini di UI. Pun, dengan tema membanding-bandingkan UI dengan Harvard atau NUS. Entah saya yang kurang gaul atau UI memang agak kurang ke-UI-an-nya. Saya sendiri memang tidak terlalu senang bahas yang ‘besar2′ sih. :) )

  104. pesisir berkata:

    mw ITB, ITS, UGM atau UI. kalau tidak berkontribusi ke masyarakat sama aja… tuh…

  105. anonymous berkata:

    Bagi saya, mau kuliah di ITB, ITS, UI, UGM, Unpad, USU, atau PTN lainnya, semua punya tanggung jawab yang sama, yaitu membangun negeri ini ke arah yang lebih baik. Kita yang udah dapet kesempatan mengenyam pendidikan di PTN seharusnya lebih paham bahwa sukses atau nggaknya negeri ini sedikit banyak jadi tanggung jawab kita semua. Samakan persepsi, samakan tujuan, sama sama membangun negeri..kita semua anak bangsa terbaik kok :’)

    Psikologi UI 2010

  106. alpha dental berkata:

    Semua universitas sich sama, bedanya jumlah peralatan atau alat labornya saja yang beda. Trus kalau masalah arogan atau sombong apalah namanya, itu sifatnya oknum atau pribadi mahasiswa saja. Trus ikatan alumni ITB lebih kuat, jadi kalau ada fresh graduate mereka lebih komukatif., ITB, UI, UGM, antara universitas lainnya..saya ibaratkan dengan malaysia antara Indonesia, perlengkapan peralatan yang kaya antara peralatan yang miskin..untuk memajukan negeri ini sangat jauh dari mata mahasiswa universitas manapun…yang kurang dari negeri ini adalah rasa nasionalisme..visi. misi dan tujuan negara ini nggak jelas…Mahasiswa yang mengukir prestasi di Internasional pun tak tampak gerakan dari pemerintah, apalagi mahasiswa yang pas2an prestasinya..makanya banyak mahasiswa berprestasi bekerja di negara lain seperti kuwait, dubai, jerman, dll..yang mengakibatkan negara lain maju…kalau di indonesia sih, misalnya Cevron, freeport, dllnya, disitu memang banyak mahasiswa ITB,UI,UGM yang bekerja disana..tapi tetap saja perusahaan asing yang bercokol di Indonesia..padahal dalam UUD 45 pasal 33, menyebutkan segala kekayaan hasil bumi yang menyangkut hayat orang banyak , dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat itu sendiri…siapa yang buat UUD 45 ? MAHASISWA.

  107. pap berkata:

    Izinkan saya memberi beberapa kesan2 saya mengenai atmosfir yang terbangun di kampus ITB,
    Saya adalah alumni salah satu perguruan tinggi negeri yang berada diluar pulau Jawa, meski almamater saya ini sebenarnya termasuk yang terbesar untuk ukuran universitas diluar pulau Jawa, tetapi saya bisa melihat adanya perbedaan suasana perkuliahan yang pernah saya alami semasa saya kuliah dulu dibandingkan dengan yang dialami oleh putri saya yang saya anggap sangat beruntung mendapatkan kesempatan kuliah di ITB.saat ini.
    Saya bisa merasakan bagaimana putri saya sangat termotivasi dan melakoni proses perkuliahan dengan sangat bersemangat, sepertinya atmosfir perkuliahan di ITB memang meng ‘encourage’ tiap mahasiswa untuk mengaktualisasikan kemampuannya masing-masing secara maksimal.
    Salah satu hal yang sangat membahagiakan saya ialah tidak adanya terasa ‘diskriminasi rasial’ seperti yang pernah saya alami dahulu selama saya kuliah dialmamater saya dulu. Sebagai mahasiswa dari kalangan ‘WNI keturunan’,dulu saya sering-sering mendapatkan perlakuan yang sangat diskriminatif,apa-apa serba dipersulit ,termasul sangat sulit mendapatkan support terutama dari senior-senior saya,tetapi sebaliknya saya melihat putri saya sangat diterima dengan akrab baik oleh rekan-rekannya seangkatan,para seniornya dan dosen-dosennya,selain sangat akrab juga para seniornya selalu berusaha mensupport dan secara ikhlas mau membimbing para yuniornya,tanpa membeda-bedakan warna kulit sehingga saya berkesimpulan orang-orang ITB relatif jauh lebih ‘open minded’ dibanding almamater saya dulu dan mungkin juga dibanding dengan beberapa universitas negeri lain? (mudah-mudahan tidak semua ).
    Jujur pada saat puteri saya keterima di ITB, kami sekeluarga terus terang sempat ragu apakah kami tatap mengambil kesempatan ini, atau kami batalkan saja (pada saat itu puteri saya sudah keterima di salah satu universitas swasta di Surabaya.)ini antara alin karena pengalaman traumatik yang saya perna alami sebagai mahasiswa WNI etnis keturunan di universitas negeri almamater saya dulu agar tidak terjadi pada putri saya,namun akhirnya kami sekeluarga tetap sepakat untuk memilih ITB ,dan kami bersyukur karena memang kenyataannya apa-apa yang menjadi concern kami sebelumnya sama sekali tidak terjadi ,malah sebaliknya putri saya kelihatan sangat bangga dan bahagia berkuliah di ITB,jauh dari kekawatiran saya semulah ,dan sesuai benar dengan motto ITB yang tersohor ,’HARMONIA IN PROGRESSIO’ !
    Saya dulu sebenarnya termasuk mahasiswa yang berprestasi baik (saya juga lulusan SMAK yang paling bergengsi dikota saya),jaman saya dulu kuliah ada beasiswa SUPERSEMAR, nama saya salah satu yang tercantum sebagai yang berhak menerima beasiswa,tetapi berhubung saya WNI keturunan,jadi beasiswa untuk saya dihapus dengan alasan beasiswa hanya untuk yang miskin (dengan asumsi semua kalangan WNI keturunan pasti orang mampu, padahal kenyataan saya hanya anak pegawai kecil yang hidup serba kekurangan dan sangat membutuhkan beasiswa tsb.),sebaliknya saya sangat bahagia karena putri saya di ITB sudah beberapa semester berturut-turut selalu berhasil mendapatkan beasiswa PPA tanpa dipersulit,terima kasih ITB.
    Sekarang saya dalam tahap mempersiapkan anak kedua saya(laki), untuk masuk ITB melalui jalur undangan,mudah-mudahan Tuhan membukakan kesempatan anak saya ini menyusul kakaknya ke kampus yang mambanggakan ini .

    VIVAT ACADEMIA .. ..VIVANT PROFESSORES ………VIVAT ITB. …! VIVAT ET RESPUBLICA….!

    • rinaldimunir berkata:

      Mas Pap, apa yang anda katakan benar adanya. Di ITB semua mahasiswa diperlakukan sama, termasuk terhadap mahasiswa etnis Tionghoa. Saya banyak sekali membimbing Tugas Akhir mahasiswa dari etnis Tionghoa. Mahasiswa etnis Tionghoa yang dulunya eksklusif (karena hanya bergaul dengan sesama etnis ketika SD/SMP/SMA), maka ketika kuliah di ITB mata mereka lebih terbuka, mereka tidak canggung bergaul dengan mahasiswa pribumi maupun dengan mahasiswi yang pakai jilbab sekalipun.

      Semau karyawan dan dosen ITB tidak membeda-bedakan mahasiswa apapun suku, agama, maupun etnisnya. Yang dinilai adalah intelektualitas dan integritas moral setiap orang.

  108. nabila berkata:

    Menurut saya, dimanapun kita berada semua tergantung orangnya, dan yg berjiwa juang itulah yang akan meraskan manisnya perjuangan. Intinya kalo saya baca keseluruhan buat saya yang merupakan maba dari salah satu institut yang dibicarakan, saya jd menuliskan di salah satu goal pribadi saya yaitu lbh baik daripada pusing membanding2kan lebih baik masukan yang positif dari keduanya untuk pribadi khususnya. Jika membandingkan terus menerus kapan majunya? semua ada positif dan negatif, yang perfect itu ya TUHAN.. sekian.

    Thanks..

    • Ihsan Tria Pramanda berkata:

      Sis Nabila.. tentu yang perfect hanyalah Tuhan. Tapi manusia juga harus berusaha menjadi sebaik mungkin. menurut saya kalo membanding2kan itu dalam tujuan mencari kelebihan dan kekurangan, untuk meningkatkan kelebihan yang sudah dimiliki dan memperbaiki kekurangan yang masih ada, justru itu malah mendorong kemajuan. Selama tujuannya positif, bukan saling menjelek2an, mencaci, apalagi menghujat, why not? Justru kalau diam saja, seperti katak di bawah tempurung, ga tau perkembangan orang lain, ga tau dunia luar, itu malah suatu kemunduran.

      Kemajuan ga akan datang tanpa inovasi, dan inovasi ga akan berkembang tanpa jiwa berkompetisi. Gimana mau ngasih masukan kalau kekurangannya ga tau? Gimana kekurangannya bisa tau, kalo ga ada pembanding/benchmark?

      Just my opinion

  109. ari berkata:

    komen-komen menunjukkan mahasiswa banyak omong, mumpung idealisme masih tinggi ngomongnya serasa paling bener, awas aja elo semua udah tua bangka korupsi !!!!

  110. bay berkata:

    Tulisan yang bagus.

    Waktu lulus SMA dlu saya daftar PMDK ITS, eh ternyata tidak lolos, dan kebanyakan yang lolos adalah dr Jatim dan Intim…. Alhamdulillah malah diterima di ITB.

    Keduanya bagus, dan saling melengkapi untuk dua domain yang berbeda, ITB di barat, ITs di Timur.

    Sebagai alumni saya tidak akan mengatakan bagaimana atmosfer persaingandi ITB, karena saya tidak pernah merasakan kuliah di tempat lain. Barangkali yang saya rasakan pun akan sama klo kuliah d tempat lain.

    Salam.

  111. Dita S. Maswan berkata:

    saya mahasiswa ITS. Saya masih ingat saat saya dinyatakan lulus di ITS, saya sangat bahagia. saya berasal dari kota yang sangat kecil. Tdk lbh dr 10 org dr tman2 saya yg dpt mlnjutkn jenjang pndidikn tnggi d PTN2 yg katany terbaik d negeri ini. bahkan sebagian besar tidak dapat melanjutkn pendidikan. alasannya sederhana, biaya. kemiskinan dan ketidakadilan adalah hal yg biasa dilihat. kita sering kali terlena dengan sebuah nama dan kata. “saya adalah mahasiswa, saya kuliah d itb, its, ugm,ui, saya masuk d universitas trbaik d negeri ini.” padahal tidak peduli apapun almamaternya, mahasiswa tetaplah mahasiswa yang “katanya” agen perubahan bangsa. Sadarkah kita bahwa kata mahasiswa yang kita sandang adalah sebuah amanah???? persaingan dan motivasi itu wajib selama persaingan itu adalah untuk kontribusi. Saya bangga jadi mahasiswa ITS mskipun saya baru kuliah d sni, tapi saya akan lebih bangga jika saya bisa bersama2 mahasiswa dr ITB, UGM, UI, UNISI, kampus2 lain menjadi kader negeri yang mampu menyajikan perubahan untuk bangsa. semoga kita semua bisa………. mahasiswa untuk Indonesia

  112. ilham affandy berkata:

    Its bukan bawahan melainkan institut yg sedang menuju jalan keemasan memperbaiki negri yg penuh dengan sandiwara ini…

  113. reza2 berkata:

    Salam arek ITS CUK…
    Saya alumni ITS, yg saya rasakan memang alumni ITS kurang bisa “sombong”. Entah saya juga tidak tau kenapa bisa begitu, secara kemampuan pada dasarnya kita tidak kalah. Semangat dan majulah almamaterku.
    Tolong dibedakan antara rendah hati dan rendah diri saran saya kepada sahabat2 alumni ITS.. Tetap Semangat, jayalah Negeriku.

  114. dian ym berkata:

    Saya dari ITB, suami saya dari ITS.
    Alhamdulillah, sekarang saya digaji oleh suami, yg berarti ITB digaji oleh ITS. hehee..
    Di dalam rumah tangga, ITB dan ITS bisa saling mendukung meskipun sindir menyindir masih saja tetap ada.
    “Katanya anak ITB, koq gitu aja ga bisa!” Itu sindiran suami yg kerap dilontarkan kepada saya.
    “Kalo anak ITS bisa ngerjainnya, kerjain donk. Ga usah nunggu anak ITB.” Timpal saya..
    Peace..^^

  115. Sefty Wandira berkata:

    Apapun Universitas/Institutnya, tujuannya tetap..
    Untuk memajukan Ibu Pertiwi… Tanah Air Tercinta :)

  116. P-53, L-31 berkata:

    Sudah tidak jamannya lagikita ber arogansi memperdebatkan mana yang lebih baik antara ITB dan ITS, sekarang waktunya kita berkolaborasi menghidupkan bangsa kita yang mati suri ini. Hiduplah Indonesia Raya !!!

  117. zender berkata:

    sy sdh pernah merasa kuliah di UGM dan itu merubah pandangan total sy kesemua perguruan tinggi yg penuh gengsi……

    bkn berdasarkan dr mn qt lulus, tp lebih ke pribadi qt sendiri…..
    dmnapun qt sekolah dan menuntut pendidikan yg terpenting adalah sikap qt dalm menuntut ilmu bkn cm berdasarkan nama bergengsi dan menang atas kompetensi.. menang atas kompetensi bukan berarti hebat dan pemenang yg bs sombong……….. hal yg seperti ini yg benar2 menampar dan merupakan kebiasaan ..

    klo hny ingin gengsi/idealis ya masuk PTN(pemikiran pd umumnya), menurut sy tujuan qt sekolah mencari esensi ilmu itu sendiri bukan cm nilai atau gengsi, sah2 sj memilih univ terbaik atas latar belakang ingin mendapatkan qualitas pendidikan yg baik……. tp jgn lupa “diri qt sendiri lah yg memiliki andil yg besar”…….. mau menuntut ilmu dmn sj jk mmg qualitas diri seseorang juara dan hebat ya dmnpun dy berkarya akn hebat, klo qualitas diri melempem(cm menang pintar ilmu doang) mau masuk harvard sekalipun ya pd akhrnya ya cm begitu2 sj yg hny memikirkan kesuksesan diri sendiri tanpa memilik perasaan ingin membangun/menginsprasi orglain. CORRECT ME IF IM WRONG :)

  118. andik berkata:

    udah lah itu semua ngga penting, mari bergabung membangun Indonesia!

  119. adven berkata:

    tinggalkan masalah ITS,UI,ITB,UGM dll. yang penting sekarang semua secara serempak membangun Indonesia menghadapi globalisasi. ingat AEC 2015. semuan di tangan mahasiswa.
    keep on spirit, Indonesiaku…

  120. Alumni Sipil ITS berkata:

    ITS CUK!!!
    jadi teringat masa2 indah dikampus..
    dikader senior,sampai dosen..
    betul2 membentuk mental..
    hahahah…
    Ingat kata2 dosen pembimbing ane waktu TA dulu..
    “Kon iku wes bodo, malas, g percoyo Tuhan pisan..
    mau lulus cara apa kamu?”..
    hahahahaha….

  121. Alumni ITB 2007 berkata:

    Menurut saya, Alumni ITB kebanyakan setelah lulus S1 dari ITB, l
    angsung kerja atau melanjutkan studinya keluar negeri (termasuk saya),
    dan mereka merasa nyaman sehingga kebanyakan ingin tinggal disana..
    Melanjutkan studi sih tidak apa-apa tapi, kalo bisa gunakan ilmu yang sudah didapat diluar negeri, untuk kemajuan bangsa….
    Salam
    IF ITB 2007

  122. asadurrohman berkata:

    Saya alumni ITB angkatan 2007. Pernah kuliah setahun di ITS sebelumnya (selama TPB/semester 1 dan 2). TPB di ITS dan di ITB memang beda…. tapi TPB di ITS juga bagus. Tapi yang saya salut dengan ITS adalah rasa kekeluargaannya. Meskipun saya sudah tidak kuliah disitu lagi, saya masih dianggap sebagai bagian angkatannya. Terbukti sewaktu saya sudah menjadi mahasiswa ITB dan sedang sakit dan dirawat di RS di Surabaya, banyak sekali teman2 seangkatan saya dari ITS yang menjenguk saya

  123. rayi sista berkata:

    ahaaha.. tulisan yang bagus..
    tapi kenapa yg komen kebanyakan anak itb.?? -____-‘
    ya bagaimana pun..saya memang merasa bangga dan memiliki banyak kesempatan terbuka ketika kuliah di itb.. salah satunya bisa mengenyam kuliah lanjut di jepang..
    namun yg paling penting itu bukan masalah kuliah di mana.. tp apa yg bisa diberikan..
    kalimat ini memang klasik, tp memang benar adanya..
    dan yg lebih penting, sampai kapanpun kita akan tetap membawa nama almamater, ketika kita sukses ataupun terpuruk, itu yg harus lebih dijaga.. :D :D

  124. Achmad Freddya berkata:

    Ahh yang posting, “udah gak jaman membanggakan almamater” hanya orang yang gak bisa masuk/diterima kuliah PTN FAVORIT, kalau aja diposisi jadi mahasiswa di ptn favorit pasti juga akan membanggakan dirinya…karena gak gampang juga masuknya, pasti ngiri tuh!!! ada jg yang bilang “kuliah dmn aja sama yng pnting skill” (emang kita kuli butuh skill, kita tu sekolah tinggi dibekali ilmu, kerja pake otak)
    Lagian itu kan termasuk peristiwa sekali seumur hidup dan gak bakal terulang, mana ada cita2 kok gak tinggi, gw tetep brsyukur dngn apa yg udh gw raih skrang, orang deso tapi bertekad n brcita2 tinggi….piss not rasis…maaf bngt sblmnya..

  125. Kisah Foto berkata:

    Menarik sekali tulisannya… memang ITB dan ITS ini ada untuk bersama-sama agar Indonesia maju… cuma kadang orang suka membanding-bandingkan antara keduanya atau dengan kampus lain :D

  126. saya masih semester 5 berkata:

    saya saat ini masih semester 5 di ITS. Dulu waktu masih Mahasiswa baru, saat ikut acara orientasi kampus, beberapa orang yg menjadi pembicara pada kelompok saya selalu mengobarkan kalimat “kita harus bisa mengalahkan ITB!”, kata kata itu masih teringat sampai sekarang. namun berjalannya waktu lama-lama kata kata itu terdengar konyol karena selama pengamatan saya tipikal pengajaran dan birokrasi di ITS sama sekali tidak ada aksi menuju “kata-kata” tadi, ITS masih sering menyepelekan hal-hal kecil yang padahal dari situlah kekuatan kita dapat muncul, termasuk beberapa tipikal mahasiswa ITS yang lebih banyak mencomot gaya anak ITB bahkan hingga tngkat BEM. Pada akhirnya saya membuang jauh-jauh doktrin tersebut, saat ini saya justru lebih mengarahkan diri saya lebih ke “bagaimana saya dapat bersaing dengan mereka yg dari luar negeri saat 2015 nanti?”. saya malah lebih banyak belajar dari Univ. Ciputra bagaimana mereka mengarahkan mahasiswanya menjadi entrepreneur dan simulasi bersaing secara nyata dunia kerja dalam perkuliahan. sehingga mahasiswa lebih kompetitif. bagi saya sederhana tidak perlu berpikiran bagaimana kita dapat menata negara dan bla bla bla, itu omong kosong, lebih baik bagaimana kita dapat berguna bagi negara melalui bidang yang kita tekuni, lebih baik lagi kita dapat memberdayakan masyarakat sekitar kita untuk menuju taraf hidup yang lebih baik.

    pesan saya kepada anak-anak ITS, sebaiknya singkirkan pikiran yg namanya mengalahkan ITB, selama kita berpikir melampaui ITB merupakan tolak ukur keberhasilan ITS, ya kita tidak akan lebih baik dari mereka. lebih baik kita belajar lebih luas (tidak hanya dari ITB) lebih berpikiran ke depan, bandingkan kompetensi kita di bidang kita tekuni secara internasional sudah standar apa belum kalo kurang ya kita pacu dan yang paling penting adalah sikap kita, kalo mau kompetitif ya kita harus openmind dan kreatif.

  127. Agung Imamudin berkata:

    jadi tertarik ikut ngomen,,

    “ketika anak Politeknik Elektronika Negeri Surabaya(PENS) menilai ITB dan ITS”
    judul diatas tidak kalah menarik kelihatannya,,

  128. Hidayat berkata:

    nice artikel….vivat

  129. Fajar Nugraha berkata:

    Bermanfaat banget, nice :)

  130. Oh Nana berkata:

    Wah, sedap sekali saya membaca tulisan Anda. :D

    Saya seorang anak SMA kelas 3. Dari kelas 2, saya ingin masuk ITB. Semua keluarga saya menyarankan untuk masuk ITS. Berhubung ayah, ibu, mas, budhe, om (hampir semua keluarga) lulusan ITS, saya sudah bertekad bulat untuk masuk ITB. Ya, masa semua dari ITS, setidaknya maju sedikit lah. Pernah tersirat untuk ngambil kuliah di luar, NUS. Tapi teman bunda (yang juga lulusan ITS) menyarankan untuk S1 di Indonesia dulu, sebab anak yang kuliah di luar negeri biasanya kalah relasi sama anak ITB. Baiklah, saya mengambil ITB dulu.

    Untuk memajukan seluruh penduduk Indonesia, mungkin sistem pengajaran di PTN Indonesia harus mengikuti universitas luar negeri. Di Indo, kebanyakan dosen di suatu PTN biasanya adalah alumni PTN itu sendiri. Berbeda dengan di luar, dosen lulus dari suatu PTN disebar di seluruh PTN yang ada. Ya sistemnya mirip PNS yang jadi guru. Jadi, jika kelak saya menjadi dosen, mungkin saya tak hanya berkecimpung di univ saya sendiri. Agar ilmu yang saya dapat tidak hanya untuk anak satu wilayah saja.

    Sekian dari saya. Haha :D

  131. Ihsan Tria Pramanda berkata:

    Saya melihat ada fenomena unik dalam persaingan kampus teknik di berbagai negara dunia. Hampir selalu ada dua universitas teknik yang paling top di sejumlah negara yang selalu bersaing dalam hal reputasi, ranking, dan tentu juga prestasi. Tendensinya juga cenderung sama, kampus yang lebih tua, umumnya dianggap lebih “oke”.
    Selain ITB dan ITS di Indonesia, kita juga bisa melihat misalnya:
    1. USA: MIT dan Caltech
    2. Belanda: TU Delft dan TU Eindhoven
    3. Swiss: ETH Zurich dan EPFL (Lausanne)
    4. Korea: KAIST dan POSTECH
    5. Swedia: KTH Royal Institute of Technology dan Chalmers University of Technology
    6. Ada yang mau menambahkan?

  132. AL berkata:

    Selain itu yang perlu diperbaikin dari negeri ini tidak hanya dari kualitas intelektual seoraang individunya, tapi bagaimana kita bisa menyeimbangkan intelektual itu dengan kualitas moral bangsa yang saat sekarang ini. Berarti tidak hanya alumni ITB atau ITS yang pnya tugas berat untuk memperbaiki negara tapi semua lulusan Universitas diseluruh Indonesia. Dan tidak hanya dari kemenangan prestasi akademiknya saja, tapi bagaimana menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta mengajarkan moral yang baik.Anak Tehnik bisa memperbaiki semua yang dibutuhkan negara secara cover agar dikenal mata internasional akan kemajuan pesat negaranya, dan ini tugas paraa guru dan akademisi mereka harus memperbaiki diri mereka sendiri dan juga membantu mencerdaskan anak bangsanya dari hal kecil dan yang paling penting, agar kelak mereka sadar bahwa mereka patut bangga dengan dirinya sendiri dan Negaranya Sendiri.

    SALAM

    Anak FKIP.

  133. ardian yudha berkata:

    bagus,,,, saya suka dengan artikel di atas… menginspirasi bukan karena saya juga mahasiswa ITS, tapi sebagai generasi muda Indonesia :)
    tidak ada yg aneh dengan artikel di atas meski ada beberapa yang beranggapan hal itu merupakan sebuah media membanding2kan atau arogansi atau apalah, pas jika dibaca dengan pas hahaha
    justru komentar2 di bawahnya ada beberapa yg membuat saya tertawa, baik ketika temen2 ITS maupun ITB ada yg membela diri hehehe (peace :D)

    semoga kita semua, apapun kampusnya, tetep bisa amanah kepada Indonesia
    sampai sekarang saya masih suka dengan kalimat ini:
    “jangan bangga telah menjadi mahasiswa kampus X, tapi buatlah kampus X bangga memiliki mahasiswa sepertimu” – Anonim

    thanks for sharing
    Vivat!
    (Mahasiswa Siskal ITS 2011)

  134. Rijalul Fikri berkata:

    Dasar isu lama…
    beberapa tahun lalu. sudah beda dg tahun skrg.

    ada beberapa hal yg ITS tdk menganggap ITB adalah pesaing. seperti lomba robot dan Pimnas.
    tapi ITU TIDAK PENTING.
    HAPUSKAN DINASTI KAMPUS dari kita, alumni yg mempunyai jabatan strategis di perusahaan akan lebih memilih karyawan dari almamater yg sama meski kualitas dibawah, pelamar kerja lain. kalau gitu terus, sampai kapan Indonesia siap AEC.

  135. ivan berkata:

    Artikel yang sangat bagus, saya menghayati banget baca nya, nice share :) intinya ITS dan ITB HARUS membawa DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA SEMAKIN MAJU ! Cinta Indonesia !

  136. Hmm.. ITS kampus yang cukup baik juga, minimal masuk 5 besar Indonesia. hanya harus diakui, kualitas Fakultas Teknik ITS masih tertinggal dari Teknik ITB, Teknik UGM, dan Teknik UI.. Tidak berarti kalau ia berbentuk Institut berarti mutunya baik. Di Taiwan, kampus teknik terbaik di semua lembaga survey tetaplah NTU (National Taiwan Univers. NTU adalah kampus seperti UGM dan UI, multi jurusan dan fakultas, mengalahkan berpuluh puluh kampus yang berbentuk Institut seperti ITS.

    5 Kampus dengan Jurusan Teknik Kimia Terbaik di Indonesia

    Sekarang waktunya melihat daftar lima kampus di Indonesia dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. QS World University Rankings by Subject 2013 juga memasukkan jurusan ini sebagai salah satu dari 30 jurusan di dalam surveinya.

    Seluruh kampus di daftar lima besar ini adalah perguruan tinggi negeri. Institut Teknologi Bandung (ITB) ditempatkan di peringkat pertama sebagai kampus dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. Di tempat kedua duduk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan di tempat ketiga adalah Universitas Indonesia (UI).

    Berikut daftar lengkapnya:
    1. Institut Teknologi Bandung (ITB)
    2. Universitas Gadjah Mada (UGM)
    3. Universitas Indonesia (UI)
    4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
    5. Universitas Diponegoro (Undip)

    Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/20/11484398/twitter.com
    QS World University Rankings 2013

  137. Hmm.. ITS kampus yang cukup baik juga, minimal masuk 5 besar Indonesia. hanya harus diakui, kualitas Fakultas Teknik ITS masih tertinggal dari Teknik ITB, Teknik UGM, dan Teknik UI.. Tidak berarti kalau ia berbentuk Institut berarti mutunya baik. Di Taiwan, kampus teknik terbaik di semua lembaga survey tetaplah NTU (National Taiwan Univers. NTU adalah kampus seperti UGM dan UI, multi jurusan dan fakultas, mengalahkan berpuluh puluh kampus yang berbentuk Institut seperti ITS.

    5 Kampus dengan Jurusan Teknik Kimia Terbaik di Indonesia

    Sekarang waktunya melihat daftar lima kampus di Indonesia dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. QS World University Rankings by Subject 2013 juga memasukkan jurusan ini sebagai salah satu dari 30 jurusan di dalam surveinya.

    Seluruh kampus di daftar lima besar ini adalah perguruan tinggi negeri. Institut Teknologi Bandung (ITB) ditempatkan di peringkat pertama sebagai kampus dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. Di tempat kedua duduk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan di tempat ketiga adalah Universitas Indonesia (UI).

    Berikut daftar lengkapnya:
    1. Institut Teknologi Bandung (ITB)
    2. Universitas Gadjah Mada (UGM)
    3. Universitas Indonesia (UI)
    4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
    5. Universitas Diponegoro (Undip)

    Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/20/11484398/twitter.com
    QS World University Rankings 2013

  138. Hmm.. ITS kampus yang cukup baik juga, minimal masuk 5 besar Indonesia. hanya harus diakui, kualitas Fakultas Teknik ITS masih tertinggal dari Teknik ITB, Teknik UGM, dan Teknik UI.. Tidak berarti kalau ia berbentuk Institut berarti mutunya baik. Di Taiwan, kampus teknik terbaik di semua lembaga survey tetaplah NTU (National Taiwan University). NTU adalah kampus seperti UGM dan UI, multi jurusan dan fakultas, mengalahkan berpuluh puluh kampus yang berbentuk Institut seperti ITS.

    5 Kampus dengan Jurusan Teknik Kimia Terbaik di Indonesia

    Sekarang waktunya melihat daftar lima kampus di Indonesia dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. QS World University Rankings by Subject 2013 juga memasukkan jurusan ini sebagai salah satu dari 30 jurusan di dalam surveinya.

    Seluruh kampus di daftar lima besar ini adalah perguruan tinggi negeri. Institut Teknologi Bandung (ITB) ditempatkan di peringkat pertama sebagai kampus dengan jurusan Teknik Kimia terbaik. Di tempat kedua duduk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan di tempat ketiga adalah Universitas Indonesia (UI).

    Berikut daftar lengkapnya:
    1. Institut Teknologi Bandung (ITB)
    2. Universitas Gadjah Mada (UGM)
    3. Universitas Indonesia (UI)
    4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
    5. Universitas Diponegoro (Undip)

    Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/05/20/11484398/twitter.com
    QS World University Rankings 2013

  139. aga berkata:

    saya mahasiswa its sistem.infor mnrt sya sebenarny kita itu fifty fifty tp memang ada bnarny tulisan d atas kita klah penglaman krna msih muda bagai man.city dan ma.utd ya jlas ma.utd lbh kenyang tropy karna lebih tua sma sperti its dan itb, jadi jngan lihat masa lalu itb yg cemerlang tp kita lihat saja kedepanny siapa yg mampu mengharumkan nama bangsa. its mulai membuat mobil listrik dengan menggandeng dahlan iskan dan digadang2 akan menjadi mobil masa depan.
    #hmm….patut di tunggu

  140. hmm..kalau analogi MU – Manchester City sepertinya tidak bisa dianalogikan untuk kasus ITB-ITS. karena dari segi pendanaan per tahun Man City lebih kaya dari MU, sementara ITB tidak kalah dari ITS. Tapi menurut saya ITS kampus yang cukup baik juga, minimal masuk 5 besar Indonesia. hanya harus diakui, kualitas Fakultas Teknik ITS masih tertinggal dari Teknik ITB, Teknik UGM, dan Teknik UI.. Tidak berarti kalau ia berbentuk Institut berarti mutunya baik. Seperti di Taiwan, kampus teknik terbaik di semua lembaga survey tetaplah NTU (National Taiwan University). NTU adalah kampus seperti UGM dan UI, multi jurusan dan fakultas, mengalahkan berpuluh puluh kampus yang berbentuk Institut teknologi. Lebih baik ITS fokus masuk 5 besar Indonesia. 3 besar nasional selalu ditempati UGM, UI dan ITB dari tahun ke tahun dan oleh lembaga survei manapun
    (baik ranking overall maupun ranking Teknik), sementara peringkat 4 ke atas selalu bergantian. Saya doakan ITS bisa di nomor 4 bersaing dengan Undip, Unair,Univ Brawijaya dan Unpad. Salam Indonesia Jaya

  141. Lonting berkata:

    Opo sih…
    Intine Arek ITS gendeng dan Jancuk’i,
    Guendeng malese tapi kreatif,
    Jancuk’i tingkah lakune tapi brotherhood…

    Salam.. Lontong….

  142. Bigsi berkata:

    ITS dan ITB sama-sama bagus… Mahasiswanya pinter-pinter….
    Semoga bisa berkolaborasi (dengan UGM, UI, Unair, dan perguruan tinggi lain) memajukan Indonesia, bukan cuma membuktikan perguruan tinggi yang lebih bagus atau lebih tinggi peringkatnya (entah versi siapa).
    Bangkit dan majulah, Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s