Bekerja dengan Hati

Ketika selesai berbelanja di Pasar Baru Bandung, saya dengan ibu yang datang dari Padang makan siang di arena food court di lantai paling atas pasar itu. Banyak sekali gerai makanan di arena itu, mulai dari makanan tradisional hingga makanan asing. Baru saja masuk ke arena itu kami sudah dirayu oleh para pegawai gerai untuk mampir dan makan di tempat mereka. Bingung juga ya memilihnya, dan yang bikin pusing rayuan para pegawai itu. Akhirnya kami memilih sebuah gerai tradisionil setelah melihat spanduknya yang menarik dengan foto makanan yang menggoda selera. Ibu saya memesan nasi goreng, sementara saya memesan nasi dan ikan mas goreng cobek. Setelah mencoba beberapa suap makanan itu, uff… saya kecewa sekali. Rasanya biasa-biasa saja, kurang enak gitu. Apalagi nasi goreng yang dipesan ibu saya, seperti nasi yang ditambah kecap saja. Tidak ada aroma bumbu di dalam nasi goreng itu. Sebagai orang yang bisa memasak, saya menduga tukang masak nasi gorengnya hanya menggunakan seiris dua iris bawang putih, lalu garam, dan kecap. Benar-benar sangat minimalis. Niat nggak sih berjualan makanan kalau minimalis begitu? Asal-asalan saja memasaknya. Sudah harganya mahal, nggak enak lagi. Cukup sekali makan di tempat itu, saya tidak mau lagi

Saya teringat dengan pedagang pepes nasi yang biasa saya kunjungi. Nasi pepesnya enak banget, mantap. Bumbu-bumbunya meresap, terasa gurihnya. Saya memuji jualan si bapak itu, sebab di tempat lain pepes nasi yang saya beli rasanya biasa-biasa saja. Si bapak pedagang itu menjawab kalau dia memang dengan niat sepenuh hati menghadirkan masakan yang enak bagi pembeli. Pembeli terpikat dengan rasa makanannya, lalu datang lagi, dan datang lagi. Banyak orang berjualan makanan di kota ini, tetapi tidak menimbulkan kesan setelah makan. Kalau untuk sekedar memenuhi rasa lapar sih iya, memang mengenyangkan, tetapi bagi penikmat makanan mungkin itu yang pertama dan terakhir makan di tempat itu. Orang tidak akan datang lagi, kapok.

Kata-kata si bapak pedagang pepes nasi tadi terngiang terus di telinga saya. Bekerja dengan hati, itu kuncinya. Memasak makanan itu tidak hanya sekadar menggunakan bumbu dan resep yang enak, tetapi harus melibatkan hati agar masakan terasa enak. Memasak harus sepenuh hati, memang betul-betul diniatkan dengan sungguh-sungguh agar pembeli puas. Di sebuah kedai mandarin (halal) yang saya kunjungi, saya melihat sebenarnya bumbu-bumbunya sudah mencukupi untuk menjadi hidangan mandarin yang enak. Tetapi si tukang masaknya saya terlihat asal-asalan saja memasak nasi goreng seafood pesanan saya. Dari gelagatnya memasak saya sudah menduga jika nasi goreng pesanan saya tidak akan enak. Tidak sampai 2 menit nasi goreng selesai. Nasi goreng apaan itu, dimasaknya terburu-buru dengan api besar. Nasi goreng yang gosong, baru dua sendok saya tidak melanjutkan makan. Minggu lalu saya lihat kedai hidangan mandarin ini sudah tutup karena merugi tidak ada pembeli. Pantesan saja, kata saya dalam hati, orang tidak akan datang lagi ke kedainya setelah tahu masakannya tidak enak.

~~~~~~~~~

Begitu pula kita dalam bekerja. Bekerja itu harus melibatkan hati, tidak bisa asal selesai tugas begitu saja. Bekerja dengan sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Apalagi bagi sebagian besar orang di kota yang bekerja dalam sektor pelayanan dan jasa, sangat penting mengikat pelanggan agar datang lagi dan datang lagi. Kuncinya adalah memberikan pelayanan yang terbaik pada setiap orang yang datang. Kita mungkin pernah punya pengalaman tidak mengenakkan karena pernah dilayani oleh pegawai suatu kantor atau toko dengan jutek dan tidak ramah. Apa akibatnya? Kita merasa kecewa dan kapok datang dan berurusan ke sana lagi.

Bekerja dengan hati artinya totalitas dalam bekerja. Bahasa lainnya adalah dedikasi. Doing the best, berikan yang terbaik bagi orang lain. Seorang guru atau dosen misalnya harus memiliki dedikasi agar menjadi pengajar dan pendidik yang baik sehingga nanti selalu dikenang oleh anak didiknya karena memberikan kesan mendalam. Mahasiswa bisa menilai mana dosennya yang mengajar dengan dedikasi, mana yang hanya menjadikan mengajar sebagai profesi sambilan. Waktu saya menjadi mahasiswa saya pernah diajar dosen yang sepertinya mengajar tidak diniatkan dan tanpa persiapan. Apa yang ada dalam pikirannya itulah yang dia terangkan pada hari itu. Materinya melompat-lompat dan membingungkan. Mungkin dosen ini banyak proyek kali sehingga dia mengajar asal-asalan tanpa persiapan, pikir saya. Saya sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dalam kuliahnya, saya lebih paham membaca buku teks daripada mendengarkan kuliahnya. Malah, ketika UTS dosen tersebut tidak membuat lembar soal seperti dosen lainnya, tetapi baru pas dia masuk kelas dia menuliskan dua buah soal ujian di papan tulis. Benar-benar tanpa persiapan. Ketika saya menjadi dosen, saya belajar dari kasus itu dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ketika saya mengikuti pendidikan prajabatan pegawai negeri sipil, seorang instruktur menceritakan pengalaman dosennya ketika dia mengambil kuliah di Eropa. Dosennya seorang profesor yang berdedikasi tinggi dalam memberikan kuliah. Satu jam sebelum profesor itu mengajar, dia tidak mau diganggu siapapun. Kamar kerjanya tertutup dari menerima kunjungan. Selama satu jam itu dia melakukan persiapan kuliah, termasuk memikirkan apa saja kata-kata yang hendak dia lontarkan dalam kuliah nanti, apa saja contoh dan studi kasus yang akan diberikan dalam kuliah, dan sebagainya. Bahkan, dia juga memikirkan joke-joke apa yang akan dia lemparkan kepada mahasiswanya supaya kuliahnya, pada menit keberapa dia lontarkan joke-joke itu. Wah… luar biasa profesor ini, kata saya.

Kalau semua orang seperti profesor itu, yaitu bekerja dengan penuh dedikasi, maka kita tidak akan merasakan pengalaman mengecewakan lagi ketika berhubungan dengan orang lain. Setiap orang bekerja memberikan yang terbaik bagi orang lain. Oleh karena itu, sangat penting melibatkan hati sepenuhnya dalam bekerja. Percaya atau tidak, bekerja sepenuh hati akan melahirkan rasa ikhlas. Ikhlas artinya belkerja sepenuh jiwa dan raga tanpa ada maksud pribadi seperti mengharapkan pujian dan sebagainya. Kalau sudah ikhlas dalam bekerja, apalagi pencapaian tertinggi yang dicari dalam hidup ini ya?

Musim Liburan, Musim Sunat (Pengalaman Khitan Anak di Klinik Dokter Seno)

Liburan telah tiba, anak-anak bergembira karena membayangkan pergi liburan ke tempat wisata. Tapi tidak dengan sebagian orangtua, liburan datang artinya waktunya untuk mengkhitankan anak. Saya pun begitu, dua orang anak laki-laki saya sudah waktunya untuk dikhitan. Sejak awal tahun 2010 saya sudah mengkondisikan mereka bahwa liburan panjang pertengahan tahun nanti mereka akan disunat, agar mereka sudah siap. Teman-teman sekelas mereka sudah banyak dikhitan, jadi anak saya malu juga kalau dirinya yang sudah besar belum disunat.

Di dalam Islam berkhitan adalah sunnah Rasul bagi anak laki-laki sebelum akil baliq (masa menginjak dewasa). Tanda seorang menjadi muslim adalah dia dikhitan. Ajaran khitan ternyata tidak hanya dalam agama Islam saja, penganut Yahudi juga melaksanakan khitan. Dalam sejarahnya Nabi Isa (Yesus) juga dikhitan karena dia terlahir dari seorang Yahudi, namun pengikut agama Nasrani saat ini tidak melaksanakan khitan sebagaimana Nabi Isa. Saya tidak tahu alasannya, mungkin pembaca yang beragama Kristen bisa menjelaskannya.

Khitan artinya membuang kulit kulup penutup (maaf) alat kelamin laki-laki. Ilmu kedokteran sudah mengakui kalau khitan ternyata mempunyai manfaat ditinjau dari sudut medis, yaitu untuk menghindari penularan penyakit kelamin, HIV, dan sebagainya. Kulit penutup alat kelamin laki-laki tadi adalah sarangnya kotoran yang sulit dibersihkan dan tempat subur kuman penyakit. Dengan membuang kulup tadi maka seorang laki-laki terhindar dari penyakit melalui alat kelaminnya. Karena alasan medis tadi, banyak orang yang bukan muslim sekalipun melaksanakan khitan, termasuk di klink khitan yang akan saya ceritakan nanti.

Tiap suku bangsa di Indonesia mempunyai tradisi khitan masing-masing. Orang Sunda mengkhitankan anaknya ketika masih balita, yaitu umur 3 hingga 5 tahun. Sebaliknya orang Jawa mengkhitankan anak ketika mendekati akil baliq, yaitu kira-kira masih kelas 6 SD atau umur 12 tahun. Sedangkan orang Minang seperti saya tengah-tengahnya, yaitu ketika anak berumur 9 atau 10 tahun (kelas 4 atau 5 SD). Di tanah Sunda prosesi khitan diakhiri dengan pesta syukuran dengan menghadirkan kesenian sisingaan. Anak laki-laki yang telah dikhitan dinaikkan ke atas sisingaan sebagai pengantin sunat, lalu ditandu oleh orang dewasa yang membawa sisingaan itu. Tujuannya adalah untuk memberi hiburan bagi anak dan melupakan rasa sakit akibat disunat. Saat ini kesenian sisingaan sudah banyak digantikan dengan orgen tunggal.

Sejak awal tahun 2010 saya sudah survei tempat-tempat khitan dan bertanya kepada teman-teman serta tetangga. Saya juga membaca tentang teknik khitan yang beraneka ragam, ada yang cara biasa, ada pula dengan teknik laser (yang sebenarnya adalah pisau elektrik atau cauter). Pokoknya cari tempat khitan yang tidak menimbulkan terlalu sakit bagi anak. Pilihan saya jatuh pada Klinik Khitan Dokter Seno (Seno Medika) di Jalan Ahmad Yani, Cicadas Bandung. Klinik ini memang sudah terkenal sejak tahun 1973 sebagai tempat khitan. Alasan memilih tempat ini berdasarkan pengalaman orang yang anaknya dikhitan. Katanya khitan oleh Dokter Seno tidak terasa sakit dan cepat sembuh (tiga hari sudah sembuh). Selain itu luka khitan tidak diperban. Oh ya, Dokter Seno juga sudah pengalaman mengkhitan anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, down syndrome, dan sebagainya (klik situs web Dokter Seno).

Yang disunat adalah anak, tetapi yang stres adalah orangtuanya. Orangtua stres kalau nanti anaknya meronta, ketakutan, takut banyak pendarahan, dan pelbagai pikiran buruk lainnya menghantui. Sayapun begitu, malam sebelum dikhitan saya tidak bisa tidur membayangkan apa yang terjadi esok hari. Waktu khitan yang saya pilih adalah subuh. Waktu terbaik untuk khitan adalah dinihari hingga pagi hari sebab waktu itu aktivitas anak belum banyak bergerak sehingga peredaran darahnya belum terlalu lancar (tidak banyak pendarahan kalau dikhitan).

Setelah shalat Subuh kami membawa anak ke klinik dokter Seno. Oalah, ternyata musim liburan ini banyak sekali anak yang mau disunat. Yang disunat hanya seorang, tetapi pengantarnya banyak sekali, seperti mengantar jamaah haji saja. Mulai orangtua, kakek nenek, paman, dan sudara mengantar si anak ke dokter Seno. Ruang tunggu penuh dengan pengantar.

Satu per satu anak-anak dipanggil masuk ke ruang operasi. “Sini ya, difoto dulu”, kata petugas. Ternyata ucapan mau difoto itu hanya taktik agar si anak tidak takut. Ajaib, si anak menurut saja seolah-olah terhipnotis tanpa merasa takut sama sekali. Ih, seperti mau masuk bioskop saja. Pengantar hanya boleh sampai di depan pintu saja, setelah itu urusan petugas medis dan dokter. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Eh, lima belas menit kemudian si anak sudah keluar sambil senyum-senyum. Di kepalanya ada topi hadiah dari dokter, lalu tangannya memegang sebungkus besar makanan ringan kesukaan anak-anak. Anak-anak keluar dengan memakai celana seperti dia masuk. Habis disunat sudah bisa pakai celana dan sama sekali tidak ada pendarahan. Saya tanya anak saya apa yang terjadi di dalam. Katanya dokter mengajaknya ngobrol-ngobrol, lalu disuruh melihat TV di depan. Tahu-tahu sudah selesai. Sakitnya hanya waktu disuntik kebal, seperti digigit semut. Saya dengar anak-anak yang disunat dokter Seno seolah-olah seperti terhipnotis saja, meskipun saya kira itu bukan hipnotis, mungkin semacam sugesti saja.

Banyak sekali anak-anak yang dikhitan hari itu, tidak henti-hentinya anak-anak mengalir datang dan pergi. Saya juga melihat dua orang anak dari etnis Tionghoa menunggu giliran untuk dikhitan. Saya juga mendengar nama anak yang berbau nama baptis (Laurensius) dipanggil masuk ke ruang operasi. Rupanya para orangua yang non muslim sudah banyak yang menyadarai manfaat khitan ini sehingga merekapun membawa anak-anaknya khitan di klinik dokter Seno.

Alhamdulillah, masa sulit itu akhirnya berakhir. Hari ini tadi pagi sungguh terasa berat, tetapi sekarang sudah lega rasanya. Salah satu fase dalam kehidupan anak lelaki muslim akhirnya sudah berhasil dilewati. Tinggal menunggu penyembuhan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu saya tidak ke kantor untuk merawat luka khitan di rumah. Di rumah luka jahitan setelah dikhitan harus rajin ditetes obat supaya cepat kering dan lekas sembuh. Mudah-mudahan setelah dikhitan anak-anak itu menjadi anak yang shaleh. Mereka sudah melaksanakan salah satu sunnah Rasul.

Gempa dan Gerhana Bulan

Sore kemarin, sekitar pukul 17.00, warga Bandung dikejutkan gempa yang cukup besar. Gempa yang berpusat di Tasikmalaya itu berkekuatan 6,3 SR terasa tidak hanya di Bandung, tapi juga sampai Sukabumi dan Tegal. Istri saya yang waktu itu berada di Pasar Baru (gedung bertingkat 8), terengah-engah melaporkan via ponsel bahwa ribuan pengunjung Pasar Baru panik dan berlarian turun ke bawah. Apalagi ada teriakan dari seorang bapak yang mengatakan gedung itu sudah hampir roboh. Gempa berlangsung sebentar tetapi dua kali. Anehnya saya di rumah tidak merasakan apa-apa.

Entah kebetulan entah tidak, tadi malam setelah shalat Maghrib terjadi gerhana bulan sebagian. Beberapa kali peristiwa gempa di tanah air dilaporkan ketika hari itu atau beberapa hari sebelumnya ada gerhana bulan. Apakah ada hubungan antara gerhana dan gempa? Saya tidak yakin kedua fenomena alam itu ada hubungannya.

Semalam usi shalat Maghrib DKM masjid di RW saya mengumumkan akan ada shalat gerhana bulan. Dalam ajaran Islam, kita dianjurkan untuk shalat sunnat 2 rakaat ketika terjadi gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari. Tujuan shalat itu adalah untuk mengingat kebesaran Allah SWT, sebab terjadinya gerhana dan semua fenomena alam adalah karena Kekuasaan Allah semata.

Saya sangat jarang mengikuti shalat gerhana. Sebelum shalat gerhana dimulai dikumandangkan takbir dan tahmid dari masjid untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT. Orang-orang yang tidak mengerti mungkin mengira ada apa kok ada takbiran, apa besok lebaran? :-) . Shalat gerhana agak berbeda dengan shalat sunnah lainnnya. Setelah i’tidal (berdiri setelah ruku’), kita tidak langsung sujud, tetapi berdiri lagi dan membaca surrah lainnya di dalam Al-quran. Jadi, pada setiap rakaat ada dua kali pembacaan surrah Alquran.

Shalat gerhana dilakukan pada saat gerhana. Kalau shalat gerhana matahari dilakukan pada siang hari, maka shalat gerhana dlakukan pada malam hari. Jika gerhana bulan terjadi pada pukul 02.00 dinihari, maka ummat Islam shalat gerhana sekitar pukul itu.

Begitulah, kita selalu diingatkan pada kebesaran Allah SWT. Gempa dan gerhana adalah fenomena alam yang menunjukkan keagungan Tuhan.

Masyarakat Sakit

Pasca ditangkapnya Ariel karena kasus video zinah, ada fenomena menarik yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Seperti yang telah diduga, berita yang masif tentang Ariel yang menjadi bulan-bulanan di media massa dan menjadi sasaran hujatan oleh masyarakat, ternyata melahirkan sekelompok orang yang malah memberikan dukungan kepada trio artis yang terlibat dalam video itu (seperti dalam berita ini dan yang ini). Ya, antipati pada akhirnya akan berbalik menjadi simpati, bahkan bukan tidak mungkin mereka akan menjadi pahlawan dan dielu-elukan. Sudah banyak di negeri ini orang-orang yang menjadi simbol ketidakadilan berbalik mendapat dukungan dan menjadi pahlawan.

Ini pertanda masyarakat yang sakit, bukannya dijauhi malah didukung. Dukungan kepada trio artis ini malah membuat pelakunya semakin pede bahwa yang mereka lakukan bukanlah kesalahan, bukan dosa, toh banyak orang yang memberi dukungan dan simpati, terutama dari kalangan kaum pesohor. Trio artis itu diposisikan sebagai korban dan rasa ketidakadilan.

Mereka (kalangan yang mendukung itu), tidak memikirkan akibat peredaran video zina itu, jutaan anak dan remaja menjadi korban. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa soal hubungan orang dewasa, menjadi tahu. Ini baru permulaan, selanjutnya mereka akan mencari tahu lebih banyak lagi dan akhirnya menjadi pecandu pornografi. Padahal sudah sering ditulis oleh para ahli bahwa pornografi dapat meracuni pikiran dan merusak mental. Efek jangka panjangnya sangat hebat dan menimbulkan kejahatan baru seperti kasus perkosaan dan pelecehan seksual.

Kasus Ariel ini kemungkinan akan direduksi sebagai urusan privacy, misalnya untuk koleksi pribadi. Kesalahan justru akan ditimpakan kepada pengedar video tersebut. Para pengacaranya akan mencari celah-celah hukum untuk meloloskan kliennya dari jerat hukum. Mereka akan menggunakan kelemahan yang terdapat pada pasal-pasal UU ITE, KUHP, dan UU Pornografi. Pada akhirnya para pengacara itu juga akan melindungi perbuatan kliennya dengan berbagai dalih. Mereka akan menutupi kebenaran dan melawan suara hati nurani mereka sendiri.

Jika ini terjadi, yaitu Ariel cs lolos dari jerat hukum pengadilan, maka saya khawatir pelaku video zina itu akan berhadapan dengan masyarakat yang gemas dan marah. Pengadilan oleh masyarakat jauh lebih kejam daripada pengadilan pidana.

Jangan Sia-siakan Masa Kecil Anak

Setiap kali saya mau pergi untuk urusan sebentar (ke warung, ke pasar swalayan, ke toko, dan sebagainya), anak saya selalu minta ikut. Mau ikuutt…, katanya. Jadilah saya memboncengi anak dengan sepeda motor bertiga, kadang berempat kalau semuanya minta ikut, kayak akrobat saja. Padahal tempat yang saya tuju tidak jauh jaraknya, paling jauh cuma 500 meter, tetapi ya itulah, mereka selalu minta ikut.

Kadang-kadang terasa repot harus membawa mereka kemana-mana. Kadang-kadang saya ingin pergi sendiri saja, tetapi dasar anak-anak, jika tidak dikabulkan keinginannya (tidak diajak ikut), maka keluarlah jurus saktinya: menangis keras, hingga akhirnya saya luluh saja membawanya.

Dulu, ketika anak pertama saya masih balita, saya selalu pergi diam-diam dari rumah supaya tidak ketahuan. Seperti main petak umpet saja rasanya, kucing-kucingan dengan anak. Kalau dia tahu, waahh… dia pasti menangis minta ikut. Masa harus dibawa ke tempat kerja segala, tentu tidak mungkin.

Lama-lama saya sadar untuk tidak menyia-nyiakan masa kecil anak itu. Sekarang dia masih mau dibawa ikut dan selalu minta turut. Tetapi, kalau sudah besar nanti, kalau mereka sudah remaja, maka pasti sudah sangat susah memintanya ikut pergi bersama orangtuanya. Mereka sudah punya acara sendiri, sudah punya jadwal sendiri. Mungkin mereka sudah merasa malu kalau kemana-mana masih bersama orangtuanya. Mungkin mereka tidak akan pernah minta ikut seperti waktu kecil dulu. Jadi, kalau sekarang anak saya selalu minta ikut kemana saya pergi, maka dengan senang hati saya membawanya, sebelum tiba pada suatu masa dimana mereka tidak mau lagi ikut dengan kita.

Ada lagi cerita betapa masa kecil seorang anak itu sangat penting. Suatu hari anak saya minta dijemput pulang sekolah, padahal saya lagi sibuk-sibuknya menyelesaikan laporan disertasi di rumah. Nanti dijemput ya yah…, katanya. Waduh, kan bisa pulang sendiri naik beca, kata saya. Saya selalu memberinya ongkos beca untuk pulang sekolah, jadi dia tinggal mencari si mang langganan beca yang menunggu di depan sekolah untuk mengantarkannya pulang ke rumah (jarak dari rumah ke sekolah hanya 500 meter saja). Bosan naik beca terus, jawab anak saya. Ups… saya segera tersadar. Yang diinginkan si anak sebenarnya adalah perhatian orangtua. Mungkin dia lihat anak-anak lain dijemput pulang oleh orangtuanya, sementara dia cuma naik beca. Padahal naik beca atau naik motor sama saja, tujuannya adalah pulang ke rumah. Tetapi, pasti ada bedanya kalau yang menjemputnya adalah ayahnya, bukan mang beca. Saya pun meninggalkan urusan saya dan meluangkan waktu untuk menjemputnya pulang sekolah. Kalau dia sudah remaja atau sudah mahasiswa nanti tentu dia tidak mau lagi dijemput pulang sekolah/kuliah, mungkin dia lebih suka pulang atau pergi kemana dulu dengan teman-temannya.

Tetangga saya anak-anaknya sudah remaja. Kalau sudah datang hari Sabtu dan Minggu, tinggallah mereka berdua saja di rumah. Anak-anaknya yang remaja sudah keluar rumah karena sudah mempunyai acara masing-masing dengan teman-temannya. Ketika sore atau malam barulah mereka pulang. Saya pun merasa nanti akan seperti itu juga, akan kesepian ditinggal anak-anak. Mumpung anak masih kecil, maka tidak saya sia-siakan kesempatan untuk selalu bersama mereka di rumah dan menemaninya kemana mereka minta pergi.

Orangtua harus menyadari masa kecil anak itu hanya datang sekali. Banyak orangtua tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan waktu berharga dengan anak-anaknya. Sibuk bekerja dijadikan alasan untuk melewatkan waktu dengan anak, tidak sempatlah, banyak urusanlah. Padahal, waktu berjalan begitu cepat dan tanpa kita sadari anak-anak sudah besar dan kita merasa semakin tua. Mereka mungkin tidak terlalu membutuhkan kita lagi karena mereka sudah mandiri. Tinggallah orangtua malang yang di masa muda menghabiskan waktu untuk kepentingan sendiri, tetapi ketika sudah datang hari tua dirundung sepi ditinggal anak-anaknya tanpa merasa dekat dengannya.

Masa anak masih kecil adalah masa golden age. Kedekatan orangtua dengan anak pada masa kecilnya sangat menentukan kelak hubungan diantara mereka ketika dewasa. Jika semasa kecil orangtua tidak berusaha mengikat tali batin anak, jangan harap ketika dewasa si anak dekat dengan orangtuanya. Biarpun serumah dengan anak sendiri, tetapi secara emosi terasa begitu jauh.

Masih ada Tempat di ITB Buat Mahasiswa Tidak Mampu

Kemarin siang ketika berjalan ke gedung tetangga sebelah, tiga orang bertampang mahasiswa culun menghampiri saya. Mereka meminta izin melakukan wawancara. Siapa mereka? Ternyata mereka adalah sebagian dari mahasiswa baru program Bidik Misi asal Purwokerto yang sedang mengikuti program bridging selama beberapa minggu. Salah satu tugas yang diberikan dalam program bridging itu adalah mewawancarai dosen, karyawan, dan mahasiswa senior guna mendapatkan saran-saran agar berhasil kuliah selama di ITB. Pada saat orang lain hari-hari ini mengikuti ujian masuk SNMPTN, mereka sudah berbahagia bisa masuk ITB melalui program Bidik Misi yang digulirkan Depdiknas itu.

Program Bidik Misi adalah penjaringan calon mahasiswa yang berasal dari kalangan tidak mampu melalui beasiswa pendidikan mahasiswa berprestasi. Saya cari informasinya di internet, nah ketemu di sini.

Di ITB, calon mahasiswa yang mengikuti program Bidik Misi itu mengikuti tes masuk USM-PMBP melalui Jalur Kemitraan yang diselenggarakan ITB beberapa waktu lalu. Jika peserta USM yang lulus nanti membayar dana sumbangan yang berkisar 25 juta (USM Terpusat) hingga 55 juta (USM Daerah), maka calon mahasiswa program Bidik Misi ini tidak perlu membayar sesenpun, sebab Pemerintah sudah memberi beasiswa kepada mereka.

Saya terharu dengan program ini. Selesai diwawancarai, saya pun pergi. Sambil berjalan saya tengok lagi ke belakang melihat tiga orang mahasiswa baru hasil Bidik Misi yang tadi mewawancarai saya. Mata mereka berbinar menunjukkan kecerdasannya. Mereka beruntung dapat diterima kuliah di sini.

Setiap warganegara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu juga berhak memperoleh pendidikan tinggi, antara lain di ITB yang terkenal susah masuknya. Biaya pendidikan sekarang ini makin mahal dan semakin tidak terjangkau bagi orang miskin. Biar otak mampu, tetapi biaya tidak punya, mau apa. Kuliah di PT adalah mimpi bagi kalangan ini. Padahal pendidikan dipercaya sebagai satu cara untuk memutus rantai kemiskinan.

Program Bidik Misi ini melengkapi program beasiswa ITB untuk semua yang dibiayai oleh dana alumni ITB. Dengan demikian, terdapat banyak jalur beasiswa yang ada di ITB bagi mahasiswa baru. Silakan klik informasi ini untuk mengetahui informasi beasiswa apa yang ada di ITB.

Jangan takut kuliah di ITB meskipun anda berasal dari keluarga kurang mampu. Anda bisa kuliah di sini meskipun uang tidak punya. Yang penting anda mempunyai otak yang cerdas dan memiliki kemauan. Tidak ada ceritanya mahasiswa DO dari ITB karena tidak mampu membayar SPP. Ada banyak program beasiswa yang bisa diikuti. Si miskin dan si kaya tidak ada bedanya di ITB, semua memperoleh hak yang sama dalam pendidikan.

Video Ariel dan Dampak Teknologi Informasi

Berita tentang video zina (saya sebut begitu, sebab kalau disebut video mesum masih dianggap “sopan”) Ariel-Luna-Cut Tari masih tetap mendominasi media massa di tanah air. Saingannya hanya berita Piala Dunia di Afrika. Meskipun tiga artis itu telah menyangkal bahwa orang di dalam video itu bukan mereka, cepat atau lambat pasti akan terbukti bahwa memang merekalah yang beraksi di dalam video itu. Memangnya ada kembaran mereka di dunia ini? Anak kecil saja pasti tahu itu Ariel.

Yang menjadi korban dalam kasus ini bukanlah ketiga artis tersebut, tetapi anak-anak dan remaja. Merekalah yang menjadi korban utama pornografi. Anak-anak yang sama sekali tidak mengerti soal perbuatan orang dewasa menjadi tahu sebelum waktunya. Rasa penasaran mendorong generasi muda untuk mencari video itu sehingga terjadilah histeria massa di dunia maya beberapa waktu lalu. Namun, lihatlah dampak sosial yang ditimbulkan video ini. Lihatlah betapa repotnya jutaan orangtua di Indonesia melindungi anak-anaknya dari melihat video itu. Lihatlah betapa repotnya para guru harus merazia ponsel siswa-siswanya. Seberapapun ketatnya proteksi orangtua dan guru, mereka tetap kalah dengan kecepatan penyebaran video zinah itu.

Sungguh hebat dampak sosial yang ditimbulkan oleh video Ariel-Luna-Cut tari itu. Mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek yang bau tanah sekalipun ramai-ramai menonton video zinah ini. Mereka menontonnya sambil tertawa-tawa, seakan-akan perzinahan adalah sesuatu yang lumrah saja. Konstruksi moral yang telah dibangun susah payah oleh kaum agamawan dan pendidik tiba-tiba runtuh begitu saja akibat video ini. Maka, sepantasnyalah pelaku dan penyebar video zinah ini harus dihukum seberat-beratnya karena perbuatan mereka telah meresahkan dan merusak moral bangsa. Kasus video zinah ini mengingatkan kita kembali betapa kita memang memerlukan undang-undang untuk melindungi bangsa ini dari bahaya pornografi, khususnya bagi perempuan dan anak-anak. UU Pornografi yang dulu sempat ditentang beberapa kalangan dengan alasan yang mengada-ada sekarang terbukti sangat diperlukan untuk menyeret pelaku dan penyebar video zinah ini.

Video zinah Ariel-Luna-Cut Tari juga menyadarkan banyak orang bahwa ternyata pornografi itu sangat begitu dekat dengan kehidupan kita. Pornografi hanya berada di ujung jari saja. Tinggal menekan tombol ini dan itu, maka ia dapat disaksikan. Teknologi informasi yang berintikan pada komputer dan telekomunikasi bagaikan mata pisau: ia memberi manfaat (+) sekaligus mudharat (-). Dengan dukungan teknologi multimedia (gambar, video, suara), lengkaplah dunia ini hanya dalam satu genggaman saja, begitu dekat, begitu nyata, dan begitu jelas.

Melihat kasus-kasus pornografi yang semakin intensif belakangan ini, sebagian orang berpandangan, apakah dilarang saja generasi muda kita mengakses internet dan menggunakan ponsel? Tentu saja larangan ini adalah tindakan yang gila dan akan ditertawakan orang sebab sama saja melawan peradaban. Atau, diblokir saja semua situs-situs pornografi yang ada di internet itu. Ini juga sia-sia sebab terbukti tidak akan efektif. Internet itu global dan tidak berbatas. Sekali suatu situs diblokir, tumbuh ribuan situs pornografi baru. Berbagai celah dapat digunakan untuk mengakses situs-situ itu.

Maka, cara yang paling tepat untuk mengatasi dampak teknologi informasi untuk akses pornografi itu, adalah dengan pendidikan, tetapi yang saya maksudkan bukan pendidikan seks. Melalui pendidikan ditanamkan kepada anak-anak dan remaja bahwa pornografi itu adalah sesuatu yang tidak penting, tidak ada manfaatnya. Masih banyak hal-hal penting dan berguna yang dapat dilakukan dalam hidup ini ketimbang pornografi. Karena tidak penting, maka ia tidak perlu dilakukan.

Teknologi informasi semestinya diarahkan kepada hal-hal yang positif. Teknologi informasi bukan untuk dijauhi atau dimusuhi tetapi diberdayakan untuk memberikan kemanfaatan bagi peradaban manusia.

Siapa Bakal Juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan?

Lupakan sejenak kasus video mesum para artis, lupakan sejenak kasus Bank Century, kasus Susno, kasus Bibit-Chandra, dan lain-lain. Terlalu banyak masalah di negeri ini. Untunglah ada Piala Dunia yang akan dimulai hari ini di tempat yang nun jauh di sana, di Afrika Selatan. Selama sebulan perhatian orang Indonesia akan tercurah ke sini, baik bagi yang gila bola, yang suka bola, atau yang tidak sama sekali. Para politisi yang terlilit masalah bolehlah sedikit bernapas lega karena orang akan melupakan masalahnya. Si Ariel “Peterporn” pun bolehlah tenang sedikit sebab perhatian orang akan beralih ke topik sepakbola. Indonesia ini memang negeri yang aneh, begitu cepat suatu masalah berlalu dan begitu cepat melupakannya. Waktu akan melupakan banyak peristiwa. Kita pun lupa kalau ada masalah besar yang pernah terjadi di sini, dan masalah-masalah itu lenyap begitu saja dibawa angin yang lalu. Tidak ada penyelesaiannya, tertimpa masalah baru yang datang silih berganti.

Piala Dunia memang membius banyak orang. Saya pribadi sebenarnya bukan penggemar sepakbola, namun “terpaksa” ikut-ikutan menjadi gemar karena akan banyak orang yang membicarakannya nanti. Kuper juga kalau tidak tahu. Saya bayangkan di daerah Indonesia Timur saat ini pasti sudah berkibar bendera-bendera besar negara peserta Piala Dunia di atas atap rumah penduduk. Bendera itu dipasang tinggi-tinggi mengalahkan bendera merah putih. Saya tahu hal ini karena setiap tahun selalu pergi ke daerah Indonesia Timur.

Oh ya, saya baca di surat kabar hari ini, orang-orang banyak membeli camilan di pasar swalayan. Katanya sih buat dicamil ketika nonton Piala Dunia, sebab di Indonesia siaran Piala Dunia berlangsung pada malam hari dan dini hari. Kacang garing yang paling laku. Mulut terisi kacang, mata memandang ke pesawat TV. Sambil makan kacang, penonton gregetan melihat gerakan bola yang melaju. Dan…. gooolll…, kacang di mulut pun berhamburan keluar saking kagetnya, hi..hi..hi.

Siapa yang bakal menjadi juara Piala Dunia tahun ini? Ada yang menjagokan Italia, ada pula Belanda, Inggris, dan Argentina. Prediksi saya, yang bakal juara kali ini adalah Brazil. Tetap Brazil. Di Brazil sepakbola sudah menjadi “agama”. Susah memisahkan Brazil dengan sepakbola, sudah legenda. Diukur dari sudut manapun teknik bermain bola Brazil ini memang jempolan. Saya yakin Ronaldo akan cepat mengemas barang pulang kampung, begitu juga Rooney (Inggris), dan Thierry Henry (Perancis). Barangkali Lionel Messi (Argentina) akan tetap bertahan menunggu Brazil di final.

Indonesia Diguncang Video Mesum

Selama tiga hari ini Indonesia diguncang oleh kasus penyebaran video mesum yang dilakoni oleh penyanyi Ariel Peterpan (yang diplesetkan menjadi Peterporn) dengan artis papan atas seperti Luna Maya dan Cut Tari. Menurut berita, masih ada puluhan lagi artis yang terlibat video mesum dengan Ariel ini. Naudzubillah min zalik, sudah sangat rusak moral para artis Indonesia ini, mereka mempertontonkan perzinahan dan dosa yang keji. Sangat berat murka Allah kepada orang-orang seperti ini dan sangat berat siksa Allah bagi pelaku zina. Kalaulah tidak dihukum rajam di dunia, di akhirat sudah menunggu hukum rajam itu.

Akibat berita yang masif di TV, media cetak, portal berita, jejaring sosial, dan sebagainya, membuat banyak orang penasaran. Video itu diburu dan setelah berhasil diperoleh maka dengan cepat berpindah dari satu ponsel ke ponsel, dari satu komputer ke komputer, dan dari satu flash disk ke flas disk lain. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, dan — astaghfirullah — anak-anak sekolah ramai-ramai memburu video mesum itu. Mang-mang becak yang mangkal di pertigaan pun sudah memiliki video tersebut. Teknologi informasi telah membuat peredaran video itu begitu cepat menyebar, mulai dari Aceh hingga Papua. Indonesia menjadi terkenal di Twitter dan Facebook sebab topik Ariel Peterporn menjadi trending topic selama 9 jam kamarin. Luar biasa.

Saya khawatir dengan kasus video mesum ini, sebab pengaruhnya bagi anak-anak dan remaja sangat besar. Kita sudah kewalahan dengan gempuran pornografi dari berbagai media, sekarang kita harus disibukkan lagi dengan perilaku artis yang membuat video mesum itu. Sungguh malu kita melihat kerusakan moral yang melanda anak-anak muda negeri ini.

Tidak hanya pelaku yang menyebarkan video mesum Ariel ini yang harus dijerat hukum, namun pelaku perzinahan di video itu juga pantas dipenjarakan. KUHP juga mengatur tentang hukum perzinahan yang dilakukan oleh dua orang yang tidak terikat pernikahan, dengan catatan kasus ini berupa delik aduan, yaitu ada pihak yang melaporkan. Selain KUHP, pelaku penyebaran dan artis yang melakukan perzinahan juga dapat dikenai UU ITE dan UU Pornografi. Semua hukum ini harus ditegakkan untuk menimbulkan efek jera.Memang pelaku perzinahan di video itu sudah mendapat hukuman moral dari masyarakat, namun hukum pidana juga harus ditegakkan. Sementara, di akhirat hukum Allah pun menanti selama orang itu tidak bertaubat sebenar-benar taubat.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan orangtua artis-artis yang terlibat video mesum itu. Pasti hatinya hancur melihat kelakuan anak-anaknya yang kelewat batas. Pasti mereka merasa gagal mendidik anak. Apalah guna punya anak terkenal tetapi bergelimang dosa. Apalah guna punya uang dan harta melimpah tapi jauh dari nilai-nilai agama. Hanya agama yang dapat menuntun jalan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Naudzubillah, saya hanya bisa berucap dan beristighfar. Saya tidak ingin anak-anak saya seperti orangtua yang gagal tadi.

Hukuman Buat si Zul Sudah Dijatuhkan

Tadi siang saya terima email dari rektorat — yang dikirim via milis dosen – yang menyatakan bahwa SK Rektor ITB tentang hukuman buat Dzulfikry Imadul Bilad alis si Zul sudah keluar. Seperti diketahui si Zul tersandung kasus rasisme yang dianggap menghina orang Papua (baca beberapa tulisan sebelum ini).

Isi SK Rektor tersebut menyatakan bahwa Si Zul diberi sanksi berupa pencabutan sementara status kemahasiswaanya selama 3 (tiga) semester berturut-turut terhitung mulai Semester I tahun 2010/2011. Selain itu si Zul juga mendapat hukuman tambahan berupa:
1. Tugas keprofesian yang akan diberikan dan diatur oleh Ketua Program Studi Kimia, FMIPA ITB;
2. Tugas sosial yang akan diberikan dan diatur oleh Kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB;
3. Melakukan konsultasi psikologi di unit Bimbingan & Konseling ITB selama masa penerapan sanksi.

Masa penerapan hukuman itu dapat dikurangi jika dari hasil evaluasi ternyata Zul berkelakuan baik, namun jika melanggar lagi maka si Zul terancam dicabut secara permanen status kemahasiswaannya.

Si Zul memang salah sehingga dia mendapat dihukum. Meskipun aneh saja menurut saya — dan juga menurut sebagian kolega dosen — kenapa dia harus dihukum oleh ITB, padahal dia melakukan rasisme itu di luar kampus dan tindakannya itu sama sekali tidak terkait dengan status kemahasiswaannya itu. Entahlah, apakah lingkungan RT/RW tempat si Zul tinggal juga memberi hukuman karena dia warga RT/RW tersebut? Dimanakah logika?

Kasihan si Zul, harus menjalani hukuman yang berat itu. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin inilah takdir yang harus diterimanya. Semoga tabah, Zul.