Muhammadiyah Sudah Satu Abad

Beruntung saya pernah sekolah di SD Muhammadiyah ketika kecil di Padang, jadi saya pernah merasakan pendidikan Muhammadiyah. Enam tahun saya sekolah di sana, waktu yang tidak sebentar. Meskipun saya tidak memiliki kartu anggota Muhammadiyah, namun sedikit banyaknya saya punya ikatan emosional dengan Muhammadiyah. Bolehlah saya disebut simpatisan Muhammadiyah. Hari ini hingga tanggal 8 Juli 2010 berlangsung Muktamar Muhammadiyah Satu abad di kota kelahirannya, Yogyakarta. Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 oleh K.H Ahmad Dahlan, jadi sebenarnya usia satu abad itu adalah dua tahun lagi yaitu 2012. Namun karena muktamar berlangsung setiap 4 tahun, dan kebetulan muktamar berlangsung tahun ini, maka muktamarnya mengambil tagline sebagai Muktamar Muhammadiyah Satu Abad.

Dulu orang mengira Muhammadiyah itu adalah aliran agama di dalam Islam. Misalnya, jika ditanya agamanya apa, lalu menjawab Islam. Selanjutnya ditanya lagi, Islamnya NU atau Muhammadiyah? Olala, Muhammadiyah dan NU itu adalah ormas Islam yang terbesar di tanah air. Selain NU dan Muhammadiyah, ada lagi ormas Persis, Mathlaul Anwar, DDII, dan sebagainya. Sama seperti di dalam Kristen kita kenal ormas HKBP (batak), GMIM (minahasa), GKST (Sulawesi Tengah), dan sebagainya. Dulu Muhammadiyah dan NU sering dibenturkan dan diadu domba hanya karena perbedaan ubudiyah (tata cara melaksanakan ibadah). Misalnya kalau di dalam NU shalatnya pakai doa qunut, dalam Muhammaduyah tidak ada. Orang NU sering mengadakan tahlilan, sementara dalam Muhammadiyah tidak ada tahlilan. Di Masjid-masjid NU adzan Jumat dua kali, yang pertama menandakan waktu shalat dhuhur, yang kedua untuk memulai khutbah. Di masid Muhammadiyah hanya ada satu kali adzan shalat Jumat. Masih ada lagi beberapa perbedaan NU dan Muhammadiyah, misalnya pada penanggalan 1 Ramadhan/1 Syawal, Muhammadiyah menggunakan teknik hisab, sedangkan NU menggunakan teknik ru’yat. Perbedaan itu khilafiyah saja dan bukan hal yang esensial sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Zaman telah berubah, saat ini orang Muhammadiyah dan NU tidak lagi mempersoalkan perbedaan itu. Sebagai ummat Islam, kita bisa shalat di mana saja, baik di masjid yang mempunyai label Muhammadiyah maupun di masjid yang berada di lingkungan NU. Semua masjid adalah Rumah Allah. Saya sendiri merasa tidak terikat pada kedua ormas itu, jadi kadang-kadang saya ikut acara tahlilan yang diadakan keluarga yang megalami musibah kematian, dan sering pula saya mengikuti pengajian yang diadakan oleh masjid Muhammadiyah.

Meskipun Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, tetapi Muhammadiyah justru besar dan tumbuh subur di ranah Minang. Adalah orangtua buya Hamka yang ikut andil membesarkan Muhammadiyah di Sumatera Tengah. Kalau anda pergi ke ranah Minang, banyak sekali kita lihat amal usaha Muhammadiyah di pelosok daerah seperti sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan sebagainya. Di ranah Minang nyaris kita tidak menemukan tradisi NU seperti tahlilan, shalawatan, doa qunut, istighasah, dan sebagainya. Ini menandakan penetrasi Muhammadiyah di sana memang sudah mendarah daging, meskipun orang Minang tidak mengidentikkan dirinya sebagai orang Muhammadiyah dan tidak memiliki kartu tanda anggota.

Satu persoalan dalam Muhammadiyah saat ini adalah krisis ulama. Muhammadiyah boleh bangga karena banyak melahirkan kaum intelektual. Bidang pendidikan di Muhammadiyah memang sangat maju dibandingkan NU. Perguruan Tinggi Muhammadiyah hampir ada di setiap provinsi. Universitas Muhammadiyah Malang misalnya, kampusnya megah, mahasiswanya ribuan, dan kualitasnya juga bagus. Di Yogyakarta ada kampus UMY dan UAD (Universitas Ahmad Dahlan) yang berdiri megah. Muhammadiyah begitu terlena dalam aspek pendidikan, tetapi “lalai” menyiapkan kader ulama.

Kaum intelektual Muhammadiyah memang banyak, tetapi Muhammadiyah mengalami krisis ulama. Sejak meninggalnya Buya Hamka pada tahun 80-an yang dikenal sebagai ulama Muhammadiyah yang karismatis, Muhammadiyah tidak memiliki lagi ulama yang menjadi panutan. Amien Rais bukan ulama, dia akademisi (intelektual), begitu pula Malik Fajar dan sejumlah intelektual terkenal lainnya. Jika NU memiliki ribuan pesantren yang mencetak kader ulama, Muhammadiyah tidak memilikinya. Ulama-ulama yang sering dikaitkan sebagai ulama Muhammadiyah tidak dihasilkan dari pesantren, tetapi lahir dari pendidikan tinggi seperti IAIN atau alumni Timur Tengah. Kesadaran mendirikan pesantren oleh Muhammadiyah baru terdengar beberapa tahun belakangan ini. Saya kira lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

MUKTAMAR MUHAMMADIYAH 1 ABAD
Lagu : Dwiki Darmawan
Syair: Din Syamsuddin

Seabad gerak waktu
Sang Surya bersinar selalu
dalam berkat rahmatMu
cerahi peradaban mutu

Jutaan insan bersatu
ribuan amal berpadu
dalam lingkar syahadat
bawa Islam penuh rahmat

Ke Jogja kita kembali
Abad kedua kita mulai
tekad membaja di hati
walau jalan mendaki

Ayo bergandengan tangan
hadapi sgala tantangan
gerakkan lasykar zaman
jayalah masa depan

Muhammadiyah satu abad
saat kita bergembira
atas segala nikmat
cabang ranting semua bersua

Tulisan ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Muhammadiyah Sudah Satu Abad

  1. ismailsunni berkata:

    sudah satu abad… Saya pengen ikutan juga, keluarga kebetulan ada semacam chemistry, dan memang ayah saya juga bisa dibilang eksis di sana, walau tidak memegang jabatan, sudah bukan masa beliau lagi…

  2. Saudah berkata:

    Cup cup cup uuuwah Din Saymsuddin. Dimana nilai Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ni. Mengapa oposisi dan lawan-lawan politik di Indonesia tetap banci tak mampu jatuhkan SBY. Padahal dia tak berbeza banyak dengan Suharto dan lebih buruk lagi, kerana semua untuk bahkan kepentingan peribadi, keluarga, khususnya anak-anaknya serta kroni dalam kerajaan dia. Tengoklah putarnya dipasang sebagai satu pemimpin parti Demokrat, isterinya konon nak dicalon sebagai presiden akan datang. Ini lebih dari kerajaan Orba Suharto. Kalau Suharto dulu lebih banyak berjuang untuk rakyat dan takut kepada mahasiswa, Yudhoyono tak. Yudhoyono justeru menerusi Orde Baharu saat kami Malaysia pun dah lama tinggalkan cara macam tu khususnya selepas dunia semakin dah berubah dan kami lebih banyak menggalakkan pembangunan fisikal untuk kemaslahatan dan kenyamanan publik. Tengok, negeri kami bersih dan asri. Udara segar pencemaran hawa tak ada. MRT dan rangkaian keretasemua bagus, kereta dan sepeda motor tak banyak, apa Yudhoyono mempunyai haluan dasar macam kami. Tapi perkembangan baharu menuju ambang kehancuran makin teruk. Terkini yalah rasuah atau korupsi berjemaah terang-terangan di kerajaan Yudhoyono dan DPR. Dalam pemerintahan SBY, terkini yalah jalan-jalan rombongan kerajaan Yudhoyono atas nama menghadiri G20 Kanada yang tak jelas untungnya bagi rakyat negeri jiran ni. Dengan pesawat berbadan lebar, Yudhoyono terjerat menghamburkan wang negeri. Masih belum puas lagi, Susulan jalan-jalan ke Turki. Masih belum puas lagi, tamasya ke Makkah atas nama umrah pula. Inilah rasuah terang-terangan. Sedangkan DPR sebagai membarter tak ungkit perkara skandal bank Centuri, maka bolehlah jalan-jalan ke Eropah atas nama kajian perbandingan.

    R a s u a h t e r a n g – t e r a n g a n. Rasuah berdalih tugas negara. Puas-puaskan diri dan teman-teman tanpa prihatin rakyat negeri jiran itu dicekiknya dengan harga-harga barngan dinaikkan tanpa memikirkan kemampuan beli mereka. Inilah cara dahulu Suharto memimpin Indonesia, dah ditinggalkan orang-orang Suharto kecuali Yudhoyono sendiri. Supaya tampak Yudhoyono taat berugama, supaya majoriti Muslim negeri jrian tu tertipu lagi dan lagi dengan simbol dan penampilan berugama kulit luaran bagi kuasa bertahan. Di Makkah SBY berkata di depan rombongan sesama koruptor terang-terangan berdalih “umrah”, memperdaya ummah muktamar Muhamamdiyah di Yogyakarta, memminta supaya Muhammadiyah jangan mengeras. Itu sesunguhnya bagi menyindir kemungkinan masukn Muhdi PR ke syarikat masyarakat Muslim terbesar kedua tu. Juga di bawah pemimpin Din Syamsuddin, Muhammadiyah undian tak menyokong kerajaan Yudhoyono. Tapi semua orang diamanapun paham, kami budak-budak pelajar Malaysia pun faham, itu kerana kerajaan Yudhoyono tak pro rakyat dan tak jelas arah. Membanteras rasuah tak jelas dan tebang pilih. Din Syamsuddin berkata di depan ummah besar mukmatar tu bahawa Muhammadiyah akan tetap kritis. Alamak hebatnya Syamsuddin. Cup cup cup uwah.

    Ada pula televisyen ceroboh dengan berkata bahawa “ada intel masuk” ke Muhamamdiyah dan Nahdhatul Ulema (NU). Rupanya semata tipuan kata-kata medua tolol tu. Sesungguhnya yang dipilih media tu yalah bahawa satu ataupun dua eks pegawai perisikan negeri jrian tu, nak masuk ke dua syarikat masyarakat Islam Indonesia yang terbesar tu Muhamamdiyah dan NU. Iaitu Muhdi PR yang dituduh membunuh aktivis hak asasi manusia Munir, dan tokoh lain tu yalah As’ad, juga eks pegawai perisikan. Mula ataupun dahulu semasa tengok televisyen tolol tu orang nak peroleh kesan seolah akan sengaja disusupkan perisikan ke dalam NU dan Muhamamdiyah bagi memata-matai tokoh-tokoh penting disana. Ternyata yang media tu maksud hanyalah bahawa ada dua tokoh tersebut nak bergabung di dalamnya. Itulah penyesatan kata-kata wartawan / televisyen tolol sangat, tak mampu membuat kata.

    I n d o n e s I a p a s t i berjalan mundur dengan p r e s I d en macam t u. Macam mana penilaian orang? Jelas sangat tentu tak ada masalah kalau pegawai perisikan dah pencen masuk ke dalam syarikat masyarakat macam tu. Kedua-duanya pasti sekadar berkhidmat untuk bangsa, rakyat dan ugama, kerana kedua-duanya mempunyai pengetahuan jauh lebih baik berbanding dengan Yudhoyono, hanya sahaja rakyat dah terbawa terindoktrinasi bahawa orang perisikan bagaimanapun pasti jahat. Tak lah dan bergantung. Pun kedua-dua eks pegawai perisikan tu masuk ke UN dan ataupun Muhamamdiyah, kerana itu kemungkinan dan jalan satu-satunya boleh jadi calon pemimpin negara, dalam era demokrasi ni. Kalau misalnya dibuat coup d ‘etat risiko agak berat. Maka siapapun nak boleh pilih menyertai dalam syarikat masyarakat besar yang membolehkan menjadi pemimpin nasionalis sejati bukan boneka kapitalis liar hutan belantara dalam era Yudhoyono macam ni. [Yudhoyono membuat kekeliruan besar sangat, kerana tanggung memberantasi rasuah, cuci tangan kepada sistem kehakiman, membiri rakyat di seluruh Indonesia semakin melarat; 4 anak ditinggal ibu cari suami lain, sang suami di penjara; balang-balang gas menjadoi bom di rumah tangga, anak -anak dibunuh diambil orderdil badan untuk dijual, Yudhoyono diam sahaja].

    Muhdi PR ataupun As’ad ataupun yang lain selain Yudhoyono jelas lebih cemerlang untuk Indonesia. Seorang tutua Muhammadiyah macam Amien Rais dan khususnya Ma’arif senang tokoh tokoh terbaik macam Muhdi PR dan As’ad, iaitu nasionalis nasionalis sejati macam Wiranto/Prahabowo pula berada dalam Muhammadiyah kalau menyedari betapa presiden sekarang semakin memusnahi rakyat, memiskini rakyat, pelanggar Perlembagaan 1945 . Hanya dengan orang-orang berani macam mereka bukan macan Yudhoyono yang tak jelas, kerana mereka pasti dah insaf takkan lagi mahu membunuh rakyat, maka Nusantara boleh mensejahteri rakyat negeri jiran tu secara merata berkeadilan tanpa jurang, ekonomi makin lebar macam sekarang ni.

    U s m a n H a m i d b e r k a c a m a t a k u d a. Usman Hamid – bukan ayah saya Hamid bin Hasan – dari NGO Kontras berkenaan kemungkinan menyertai Muhdi PR dan As’ad kepada syarikat masyarakat Muslim yang kedua terbesar dan pertama tu, tak setuju dengan tu. Jelaskah kerana Hamid membawa misi Barat. NGO Kontras sebagagian wangnya berasal dari Barat. Macam negeri negeri Sarawak jelas tak nak ingin NU dan Muhamamdiyah ada Muhdi PR, As’ad, Suripto, apalagi macam Wiranto ataupun Prabowo, nasionalis-nasionalis pengabdi rakyat dan walaupun mereka berjanji dah berubah dan tak lagi membunuh rakyat, di saat kerajaan Yudhyoono justeru rajin membunuh rakyat sendiri atas nama dan main tuduh korban-korban selama ni dikatakans ebagai pengganas-pengganas. Pabila macam ni, mana yang lebih jelas dan menegakkan hak asasi dan menghormati nyawa manusia, paksi Muhdi PR atau paksi kerajaan Yudhoyono dengan kapolnas a la Hitler. Hamid tak pandai tengok bahawa sesungguhnya yang membunuh Munir kemungkinan besar justeru agen-agen Belanda ataupun CIA. Tengok pula kes penenggelaman corvette Cheonan Korea Selatan baharu baharu ini. Amerika Syarikat dan Korsel main tuduh itu kerjaan Korut, yang jelas dah sering sering berkata: “Itu yalah rekaan Amerika Syarikat.” Barat khususnya Amerika Syarikat sanang membuat rekaan di mana-mana, supaya negara macam Nusantara pun tak maju-maju. Inat dan tengok macam tu.

    Menyertai Muhdi PR, As’ad dan tokoh-tokoh ansionaliss ejati bukan boneka Barat ke dalam NU dan Muhamamdiyah dan kalau perlu pun pula ke syarikat masyarakat majmuk baharu Nasional Demokrat, yalah penting sangat, supaya pemimpin palsu macam Yudhoyono, iaitu boneka kapitalis liar hutan belantara, dan pemiskin majoriti rakyat tu, boleh akan tergantikan. Harusnya dominasi Barat di Indonesia dah selesai sejak mula reformasi 1998, tapi kenapa sehingga kini tak kunjung selesai, dan bahkan sekarang ni dilanjutkan oleh Yudhoyono. Harga-harga mula naik tinggi lagi, orang-orang rakyat diberantasi, bukan kemiskinan yang diberantasi. Mafia keadilan mahupun koruptor profesor pun dalam dalam sahaja dalam ketiak kerajaan Yudhoyono, bermakna sebuah cuci tangan nyata atas nama, sebuah blunder, tak turut campur urusan kehakiman oleh Yudhoyono, sehingga membiari pemimpin-pemimpin korup di dalam kejaksaan agung dan polis Nusantara. Oleh Yudhoyono yang meniru Suharto, agama pun diperalatkan sempurna bagi menipu lagi lagi kepada rakyat.

    Tengok perkataan Yudhoyono dalam sambutan pidato, masih belum puas hamburi wang rakyat bahkan selesai dating ke G20 bahkan jalan-jalan ke Turki dan bahkan pergi atas nama umroh, saat dia berkata untuk kongres Muhamamdiyah. Bukti nyata sangat bahawa walaupun negeri jiran tu telah tinggalkan era Suharto tapi pengganti Suharto, iaitu Susilo Bambang Yudhoyono, terbukti autoritarian pula dengan agenda-agenda kepentingan peribadi dan kumpulan sendiri. Bukti lebih nyata sangat lagi yalah walaupun 10 tahun lebih reformasi demokrasi diupayai, eks tentera tu bermain dengan cara sendiri agak lebih halus tapis ama bahayanya macam Suharto, yang mana hampir semua bidang tetap dikuasa dengan cara-cara lama dari politik sehingga bisnez. Padahal dalam tahun 2004, Yudhoyono dah berkata bahawa semua bisnez dan politik dikuasa mereka harus diakhiri dalam limatahun; masa itu telah lewat dan tak ada tanda itu berakhir. Pabila macam ni ada dua kemungkinan: 1) Yudhoyono Pemain sandiwara murahan, bermakna dia tetap bahagian kekuasaan lama, atau 2) Yudhoyono mencuba berbeza tapi dia lemah sehingga bagaimanapun diam-diam membuat krompomi tak tampak oleh rakyat dan penganalisis bahawa dia telah dalam kejahatan tu. Islam dan ummah Muslim dan non Muslim Indonesia, macam kami Malaysia pula, pasti suka dengan kebersihan, bersih dari rasuah/korupsi, bersih dari pemerintahan yang tak jujur. [Ada opini lebih betul sila majukan kepada saya: saudahahmadbintiusman@msckl.my].

  3. mario berkata:

    aku banyak setujunya dgn encik saodah…sang baginda bukannya berpihak ke rakyat, tapi makin jauh malah: harga2 makin tinggi, bom tabung gas meledak dimana2, kasus2 seperti gayus, rekening polisi gendut, bank century, bibit chandra, anggodo dll tidak tuntas, seperti diambangkan…

  4. Indra Ganie berkata:

    Kalau boleh saya berpendapat, bahwa istilah ‘ulama’ berarti “orang yang berilmu”. Ilmu apa saja, yang penting bermanfaat dan bermaslahat menurut Islam. Tidak melulu ilmu agama. Mungkin kita perlu menyimak sejarah perioda Muslim klasik, tidak ada dikotomi antara ulama dengan cendikia. Cukup dengan istilah ulama, sejumlah orang-orang yang disebut cendikia atau intelek pada perioda tersebut menguasai lebih dari satu ilmu. Contoh, Ibnu Sina (980-1037, beliau lebih dikenal sebagai dokter namun sesungguhnya beliau juga pakar agama, filsuf dan lain-lain. Begitu juga dengan Ibnu Rusyd, beliau lebih dikenal sebagai filsuf namun juga pakar agama. Saya merindukan suasana keilmuan demikian. Ulama bukan hanya tahu ilmu agama dan cendikia bukan hanya tahu ilmu non agama. Intinya ulama dapat bermakna cendikia dan cendikia dapat bermakna ulama. Semoga kebangkitan Muslim menjadi kenyataan, termasuk suasana keilmuan tadi : tidak ada dikotomi ulama-cendikia. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

  5. SEBAIKNYA Anda Diam Jika Anda Tdk Mengetahui tentang smua Yg Anda Bicarakan

    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s