Beda Penangkapan Perampok Bank CIMB Niaga Medan dengan Penangkapan Gayus

Membaca penangkapan orang yang diduga perampok Bank CIMB Medan yang menghebohkan itu membuat hati terasa bergidik. Betapa tidak, ketika pelaku sedang melaksanakan ibadah shalat, Densus 88 menendang dan menginjak-injaknya hingga babak belur. Baca beritanya di sini dan di sini. Tidak kurang Hendardi dari Setara Institute mengecam aksi brutal Densus 88 itu. “Jika benar ini terjadi, tindakan Densus 88 Mabes Polri merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), karena penggunaan senjata api hanya dibenarkan jika sasaran melakukan perlawanan atau melarikan diri,” terang Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, dalam keterangan persnya, Senin (27/9).

Betul bahwa pelaku perampok itu diduga teroris, tetapi itu baru dugaan, belum tentu mereka bersalah. Negara kita menjunjung tinggi hukum. Asas praduga tidak bersalah harus kita junjung tinggi. Benar tidaknya mereka perampok atau teroris baru bisa dibuktikan nanti di pengadilan. Namun bukan berarti polisi berhak bertindak apa saja untuk menangkap mereka, apalagi tindakan itu dilakukan ketika pelaku sedang melaksanakan shalat.

Sangat beda sekali jika dibandingkan dengan aksi penangkapan Gayus di Singapura atau penangkapan para koruptor lainnya. Koruptor merampok uang negara bermilyar-milyar bahkan trilyunan, lebih besar berlipat kali daripada uang yang dirampok oleh perampok itu. Namun, polisi menangkapnya dengan cara yang tidak menghinakan, apalagi melanggar HAM. Gayus misalnya, sebelum ditangkap dia diajak makan-makan dan ngobrol-ngobrol dulu oleh polisi di restoran Singapura. Suasana penangkapannya terkesan santai. Setelah berhasil dirayu untuk pulang ke Indonesia, dia dibawa dengan pesawat terbang dan ditempatkan di ruang tahanan. Tidak jauh beda dengan Gayus, penangkapan koruptor lainnya juga dengan cara yang beradab, tidak brutal.

Entah dimana rasa keadilan. Bukan berarti kita harus membela perampok bank itu dan menolak Densus 88. Pemberantasan terorisme oleh kepolisian (Densus 88) tetap harus didukung, namun bukan berarti tidak menyisakan ruang untuk koreksi, hanya cara-cara penangkapannya yang perlu dipermasalahkan agar tidak melanggar hak asasi seseorang. Polisi boleh menembak jika pelaku melawan atau bersenjata. Pada sisi lain, perampok bank, Gayus, dan para koruptor lainnya sama saja, sama-sama jahat dan tidak pantas dibela. Mereka sama-sama merampok uang yang bukan haknya. Perbuatan mereka sama bejatnya. Mungkin bedanya perampok bank melakukan aksinya secara hard – dengan kekerasan bahkan pembunuhan, sedangkan Gayus atau koruptor melakukan aksinya secara soft — dengan menyuap sana sini. Hanya malangnya karena pelaku perampok bank itu diduga teroris, maka dia harus mendapat perlakuan tak ubahnya binatang.

Menggunakan Laptop Saat Seminar, Sidang, Rapat, Kuliah, dll

Saya seringkali agak jengkel dengan orang yang asik berlaptop ria saat seminar atau sidang tugas akhir. Ketika dosen penguji serius bertanya, dosen pembimbingnya malah asik mengerjakan pekerjaan lain dengan menggunakan laptopnya. Bukannya mencatat perbaikan atau pertanyaan dosen penguji, tetapi malah asyik browsing internet, mengetik laporan, agtau malah coding. Duh, sebel deh, pantesan saja laporan TA mahasiswanya amburadul, nggak diperiksa atau dibaca sih., he..he

Begitu pula saat rapat, beberapa orang terlihat asyik menggunakan laptopnya. Saya tahu mereka tidak mencatat poin-poin rapat dengan komputer laptopnya itu, tetapi malah asyik membaca berita gosip, berita politik, main games, dan chatting. Mungkin pembicaraan dalam rapat itu kurang menarik atau membosankan, makanya ia mengisi kebosanan dengan menggunakan laptopnya.

Di dalam kelas, saya melarang mahasiswa mengoperasikan komputer laptop saat kuliah. Hampir setiap mahasiswa memiliki komputer laptop di dalam tas ranselnya. Kita tidak tahu mereka mengerjakan apa dengan laptopnya itu ketika kuliah berlangsung. Kalau mencari bahan kuliah di internet terkait materi yang sedang diterangkan sih tidak masalah, tetapi mahasiswa malah asyik bermain games, berfesbuk ria, atau nge-twit.

Menggunakan komputer laptop saat-saat momen serius seperti di atas tetap saja kurang etis. Ada kesan kurang menghargai orang yang sedang berbicara. Jadi, matikanlah komputer laptopmu dan dengarkan orang yang sedang berbicara di depan.

Di sisi lain, penggunaan laptop pada saat momen serius tersebut mengindiikasikan bahwa orang yang sedang berbicara tidak menarik dalam membawakan presentasinya. Presentasi atau isi ceramah yang monoton, menjemukan, mengulang-ulang, membuat orang yang mendengarkan bosan, makanya mereka lebih senang mengoperasikan laptopnya daripada mendengarkan. Pembicara harus membuat presentasi yang menarik sehingga membuat orang yang melihat dan mendengar menyimak dengan sungguh-sungguh, terpesona, tersenyum, dan tertawa. Pulang membawa kesan. Tidak mudah ya berbicara di depan banyak orang, apalagi membuat presentasi yang menarik.

NIP Baru yang Bermasalah

Saya baru tahu kalau NIP (Nomor Induk Pegawai) PNS saya sudah berganti, lebih panjang dari semula. NIP saya semula panjangnya 9 angka, yaitu 132084796, sekarang berganti rupa menjadi 18 angka sepanjang gerbong kereta api. Bukan panjangnya itu yang menjadi masalah, tetapi angka-angka di dalam NIP tersebut, sebab di dalam NIP yang baru tercantum data pribadi yang sebenarnya tidak layak diketahui oleh orang lain. Digit 1 sampai 8 adalah tanggal lahir (ddmmyyyy), digit 9 sampai 14 adalah tanggal pengangkatan CPNS, digit 15 adalah jenis kelamin, dan digit 16-18 adalah nomor urut pegawai. Masalah ini sempat ramai di milis kami, sekarang saya angkat ke dalam tulisan ini.

Menjadikan data pribadi sebagai bagian dari NIP ternyata bukan hal yang pertama. Sebelumnya NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang tertera di KTP juga menggunakan tanggal lahir sebagai bagian dari NIK. Coba buka dompet anda, ambil KTP anda dan perhatikan NIK-nya, disitu tertera dengan sangat jelas tanggal lahir anda sebagai elemen NIK. NIK saya saja misalnya, tertulis 105017xxxxxx001 dengan xxxxxx adalah 6 angka tanggal lahir saya (dd-mm-yy). Apakah anda menyadari hal ini?

Ceroboh sekali Pemerintah kita dalam membuat NIP baru atau NIK pada KTP. Bukan karena umur kita akan ketahuan dari NIP/NIK tersebut (masih ada orang yang malu umurnya diketahui?), tetapi di zaman serba komputer seperti sekarang solusi semacam itu tidak dapat diterima. Data pribadi seseorang adalah aset yang harus dijaga kerahasiaannya sebab menyangkut keamanan sistem yang terkait dengan orang tersebut. Pasalnya, masih banyak orang yang memakai data pribadi seperti tanggal lahir sebagai bagian dari PIN atau kata-sandi (password). Misalkan tanggal lahir seseorang adalah 24-08-1972, maka untuk memudahkan mengingat PIN kartu ATM nya yang sekarang panjangnya 6-angka, orang tersebut memakai 240872 sebagai PIN, atau 081972, 720824, dan sebagainya. Dengan mencoba semua kombinasi tanggal lahir yang mungkin, maka nomor PIN tersebut berhasil ditebak. Akibatnya sangat fatal, jika kartu ATM anda berhasil dicuri orang dan pencuri mengetahui NIP atau NIK anda yang sangat “telanjang” menampilkan data pribadi itu, maka jangan kaget kalau uang anda di tabungan berhasil dikuras oleh pencuri.

Dalam kriptografi, usaha yang dilakukan oleh pencuri untuk menebak semua kemungkinan kata-kunci dari data pribadi dinamakan dictionary atack. Data pribadi seseorang (seperti tanggal lahir, alamat rumah, nama orang tua, sekolah, nama anak, nama istri, tempat lahir, tanggal lahir anak, dan sebagainya) menjadi semacam kamus bagi pencuri data untuk menemukan kunci rahasia anda. Secara naluriah seseorang akan menjadikan bagian dari data pribadinya sebagai elemen kata-sandi, PIN, dan kunci rahasia lainnya. Hayo ngaku, PIN anda atau kata-sandi pada sistem komputer sebagian besar terkait dengan data pribadi anda sendiri bukan? Alasan yang sering dikemukakkan adalah mudah untuk mengingatnya, namun justru ini menjadi kelemahan yang dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk mendapatkan akses ke sistem yang menggunakan data anda itu.

Dengan menjadikan data pribadi sebagai bagian dari NIP atau data kependudukan (NIK, SIN atau single idetification number), Pemerintah kita seolah-olah mundur ke belakang ke zaman pra sejarah sebelum ditemukan komputer. Pemerintah terkesan ingin cari gampangnya saja, tetapi tidak memikirkan dampak sosial dan keamanan yang ditimbulkannya. Tidak adakah pakar information security yang terlibat dalam penyusunan kode kependudukan atau kepegawaian tersebut?

Soal Pembangunan Rumah Ibadah

Ribut-ribut soal kasus gereja HKBP di Bekasi yang menimbulkan bentrokan dengan warga sekitar sehingga ada yang terluka parah, membuat saya prihatin. Indonesia hampir saja berada diambang jurang perpecahan bangsa karena masalah agama. Kalau masalah ini tidak cepat diatasi oleh Pemerintah dan tokoh-tokoh agama, bukan tidak mungkin terjadi konflik sosial yang mengoyak-ngoyak bangsa Indonesia.

Masalah agama adalah masalah yang sangat sensitif, banyak orang berhati-hati atau tidak suka membicarakannya karena takut menyinggung perasaan yang berakibat fatal (terjadi kerusahan massal). Kalau sudah membicarakan soal agama, sebagian orang biasanya menghindar. Kurang suka. Namun, jika hanya diam-diam saja juga tidak selalu baik, sebab sepertinya ada masalah yang masih mengganjal yang sewaktu-waktu dapat membara laksana api dalam sekam. Apalagi di Indonesia ini selalu ada saja sekolompok orang yang tidak suka bangsa ini hidup rukun, lalu memainkan isu SARA yang sangat mudah memancing emosi. Sudah cukuplah konflik di Ambon dan Poso sebagai pelajaran berharga dan jangan pernah terulang lagi.

Persoalan bangsa ini, terkait agama, hanya bisa diselesaikan dengan keterbukaan tanpa prasangka. Selama keterbukaan itu tidak ditujukan untuk menjelek-jelekkan ajaran agama lain, atau mencari agama siapa yang benar dan agama siapa yang salah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berdialog. Setiap orang bebas meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar, sedangkan agama lain tidak benar. Dalam konteks agama masing-masing, keyakinan itu tidak salah, malah suatu keharusan sebagai bukti keimanan. Kalau ada orang yang meyakini bahwa bukan agamanya saja yang benar, tetapi agama lain juga benar, maka orang tersebut perlu diragukan keimanannya sebagai orang yang tidak punya pendirian. Yang salah adalah jika memaksakan keyakinan itu kepada orang lain, atau menimbulkan sikap kebencian dan permusuhan.

Kembali kepada soal pembanguan rumah ibadah. Kita seharusnya membedakan antara kebebasan beribadah dan kebebasan membangun rumah ibadah. Kebebasan beribadah adalah hak asasi seseorang dan dijamin oleh undang-undang, namun kebebasan membangun rumah ibadah perlu diatur karena menyangkut masalah sosial. Membangun rumah ibadah di lingkungan yang mayoritas seagama tidak ada masalah, sebab rumah ibadah itu diperuntukkan bagi warga di sekitarnya. Sebagaimana halnya masjid dan mushala yang banyak bertebaran di daerah kantong-kantong muslim, atau gereja-gereja yang terdapat di setiap 100 meter di Sulawesi Utara, Papua, NTT, atau pura-pura yang terdapat di setiap desa di Pulau Bali. Waktu saya jalan-jalan ke pedalaman di Sulawesi Utara, hampir setiap 100 meter saya melihat gereja, nyaris tidak ada satupun masjid di situ. Hal yang sangat lumrah dan wajar saja karena mayoritas penduduk di sana bergama Kristen.

Berbeda halnya jika rumah ibadah dibangun di lingkungan yang bukan mayoritas pemeluknya, misalnya membangun gereja di lingkungan perkampungan muslim, atau membangun masjid di lingkungan pemeluk Hindu. Jelas akan muncul reaksi penolakan dari warga sekitar yang merasa ketentramannya terganggu. Pengguna rumah ibadah itu pasti hanya satu dua dari warga sekitar, sebagian besar datang dari tempat lain yang berjauhan. Banyak masalah yang akan muncul dari kehadiran orang asing di lingkungan itu, seperti masalah keamanan, keramaian, tempat parkir kendaraan, dan sebagainya. Persoalan semakin pelik karena pembangunan rumah ibadah sering dicurigai sebagai isu penyebaran agama seperti islamisasi, kristenisasi, hinduisasi, dan sebagainya, yang sebenarnya masih perlu dipertanyakan kebenaran argumen tersebut.

Oleh karena itu, pembangunan rumah ibadah di lingkungan yang bukan mayoritas pemeluknya memang perlu diatur oleh undang-undang, yang kalau di Indonesia saat ini diatur oleh SKB 2 menteri (menag dan mendagri). Dalam SKB itu diatur bahwa pendirian rumah ibadah harus ada persetujuan 60 orang warga sekitar dalam bentuk tanda tangan dan tanda tangan 90 orang pemeluk agama yang bersangkutan (sebagai orang yang akan beribadah di sana). Jika ada persetujuan dari warga sekitar, maka rumah ibadah itu bisa berdiri, namun jika tidak disetujui, maka pemeluk agama tersebut tidak boleh memaksakan diri untuk membangun rumah ibadahnya di sana. Membangun rumah saja perlu izin tetangga kiri kanan depan belakang, apalagi membangun rumah ibadah tentu memerlukan izin warga sekitar. Inilah yang terjadi di daerah Ciketing, Kecamatan Mestika Jaya, Bekasi, dimana warga sekitar menolak kehadiran rumah ibadah agama lain. Akar permasalahan ini tidak diberitakan oleh media massa, media tidak berimbang dalam pemberitaannya, media hanya memberitakan dari sisi korban saja sehingga menimbulkan kesan seolah-olah warga sekitar adalah orang yang tidak beradab dan intoleran.

Jika pembangunan rumah ibadah ditolak oleh warga sedangkan kehadiran rumah ibadah itu sangat mendesak dikarenakan jumlah pemeluk agama tersebut bertambah, maka kewajiban Pemerintah untuk mencarikan tempat yang lebih netral sehingga tempat ibadah itu bisa dibangun.

Beberapa pihak meminta agar SKB itu dicabut sebab dianggap membatasi kebebasan beragama. Ini jelas sikap yang keliru sebab kebebasan mendirikan rumah badah tidak sama dengan kebebasan beragama. Jika SKB itu dicabut, maka akan menimbulkan kekosongan hukum. Yang terjadi nanti masyarakat akan bertindak sendiri-sendiri, dan akibatnya sangat fatal: terjadi konflik horizontal yang menyengsarakan kita semua. Di negara manapun, termasuk di Eropa dan Amerika yang dianggap negara demokratis, pembangunan rumah ibadah itu juga diatur, tidak bisa seenaknya saja. Saya pernah membaca di sebuah distrik di Belanda masyarakatnya menolak pembangunan sebuah masjid karena dianggap mengganggu ketenangan warga. Akhirnya memang masjid tersebut tidak jadi dibangun. Yang terbaru adalah penolakan masjid di Australia (baca ini).

SKB itu adalah kesepakatan tokoh-tokoh agama untuk mengatur harmoni kehidupan beragama. Saya kira SKB itu cukup fair; jika gereja agak sulit dibangun di tengah populasi muslim, maka umat Islam juga merasakan sulitnya mendapat izin mendirikan masjid di Bali, Papua, NTT, dan di daerah kantong non-muslim lainnya. Mereka tidak memaksakan diri mendirikan masjid di sana. Semuanya diterima dengan ikhlas dan lapang dada, sebab harmoni kehidupan antar umat beragama adalah yang paling penting dan harus didahulukan daripada kepentingan kelompok.

Marilah kita menjaga harmonisasi kehidupan antar umat beragama dan sesama umat beragama. Jangan sampai kita mudah terprovokasi oleh orang-orang yang memancing di air keruh. Hidup rukun adalah dambaan kita semua. Ingat, kita ini satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Tidak semestinya kita berpecah belah karena masalah agama.

Pelajaran dari Surat An-Naml (Kisah Raja Sulaiman)

Beberapa malam ini saya sedang menyenangi membaca surat An-Naml (yang artinya “semut”) di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran banyak sekali terdapat kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran. Kisah-kisah tersebut menunjukkan kebesaran Allah SWT. Salah satu surat yang memuat kisah yang mengagumkan adalah surat An-Naml itu. Di dalam Surat An-Naml (surat nomor 27) dikisahkan tentang Nabi Sulaiman (di dalam Alkitab disebut Solomon) dengan segala keperkasaan dan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT. Nabi Sulaiman adalah seorang raja yang besar, kerajaannya terletak di negeri Palestina sekarang. Hingga saat ini kaum Yahudi Israel masih mencari-cari dimana istana (Solomon Temple) itu berada, dan mereka meyakini bahwa istana itu terletak di lahan tempat Masjid Al-Aqsa sekarang. Inilah alasan mengapa kaum Yahudi ingin meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dan merekonstruksi situs istana Sulaiman.

Berikut ini saya kisahkan kembali terjemahan ayat-ayat yang saya baca tadi mulai dari ayat 16 hingga ayat 44, berikut dengan narasi sesuai yang saya pahami dari ayat tersebut.

16. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.

Raja Sulaiman memiliki kemampuan supranatural yang luar biasa, yaitu memiliki tentara dari golongan jin, manusia, dan burung. Raja Sulaiman juga mampu memahami bahasa binatang.

17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

Pada suatu hari, Raja Sulaiman sedang berjalan-jalan dengan bala tentaranya itu, hingga sampailah mereka di lembah yang banyak semutnya.

18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Mendengar perkataan semut itu, Nabi Sulaiman tersenyum, namun dia tidak menunjukkan kesombongannya karena memiliki kekuatan yang hebat, malah dia bersikap tawadhu (rendah hati).

19. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Selepas dari lembah semut, Raja Sulaiman memeriksa satu-per satu tentaranya. Namun, dia tidak melihat kehadiran burung Hud-hud. Burung Hud-hud adalah sejenis burung pelatuk.

20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud [1094], apakah dia termasuk yang tidak hadir.

Dia mengancam akan menyembelih burung Hud-hud karena dianggap tidak disiplin (mangkir).

21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Untunglah burung Hud-hud tidak lama kemudian datang. Ternyata burung ini baru saja mengunjungi sebuah negeri yang ajaib.

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

Saba nama kerajaan di zaman dahulu, ibu kotanya Ma’rib yang letaknya dekat kota San’a ibu kota Yaman sekarang (sumber dari sini). Di Kerjaan Saba itu memerintah seorang ratu yang bernama Balqis.

23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Sayangnya, kaum Ratu Bilqis itu menyembah dewa matahari, sangat berbeda dengan Sulaiman yang menyebah Allah SWT.

24. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

25. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

26. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.

Mendengar cerita burung Hud-hud tersebut, Nabi Sulaiman tidak langsung percaya. Dia perlu cek dan ricek untuk memeriksa kebenaran cerita tadi.

27. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

Lalu Raja Sulaiman menulis sebuah surat, kemudian menyuruh burung Hud-hud untuk menjatuhkannya ke istana Ratu Balqis.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

Surat itu sampai ke tangan Ratu Balqis. Dia segera memanggil para menterinya untuk membahas surat tersebut.

29. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Di dalam surat itu Raja Sulaiman meminta Ratu Balqis untuk tunduk kepada Raja Sulaiman.

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Ratu Balqis belum menjawab permintaan Sulaiman tersebut, dia berkata kepada para menterinya:

32. Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.

Para menterinya belum mau menyerah, mereka menganggap kerajaan mereka juga adalah kerajaan yang kuat, jangan mau tunduk kepada Sulaiman.

33. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Namun, keputusan tetap berada di tangan Ratu Balqis. Dia khawatir jika kelak Sulaiman berhasil menguasai negerinya, maka penduduknya akan dijadikan tawanan atau budak. Pengalaman negeri-negeri yang dikuasai oleh pasukan asing selalu begitu. Dia khawatir Sulaiman berlaku serupa.

34. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Demi melindungi rakyatnya menjadi budak yang hina, Ratu Balqis mengirim utusan kepada Sulaiman sambil membawa hadiah.

35. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

Nabi Sulaiman tersinggung dengan hadiah yang dibawa oleh utusan Ratu Balqis, sekaan-akan dirinya bisa disuap dengan hadiah itu, padahal harta yang dia peroleh dari Allah jauh lebih banyak dan lebih baik daripada hadiah yang ditawarkan itu.

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Raja Sulaiman menolak hadiah tersebut, lalu menyuruh utusan Ratu Balqis itu pulang dengan membawa ancaman.

37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Setelah utusan itu pergi, Raja Sulaiman memberi tantangan kepada para pembantunya untuk membawa singgasana Ratu Balqis ke hadapannya.

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Tantangan itu diterima oleh seorang jin bernama Ifrit. Ifrit sanggup membawa singgasana ratu dalam sekejap sebelum Raja Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Tapi, ternyata ada yang lebih cepat lagi dari jin Ifrit. Salah seorang pembantu Sulaiman yang mempunyai ilmu dari Alkitab (Zabur dan Taurat) sanggup mendatangkan singgasana ratu sebelum kedipan mata. Luar biasa.

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Setelah singgasana Ratu Balqis berada di hadapan Sulaiman, Sulaiman bukannya merasa jumawa karena merasa berhasil memperlihatkan kehebatannya nanti di hadapan Ratu Balqis. Dia malah makin merendahkan dirinya di hadapan Allah sebab itu semua adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya.

(lanjutan) Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Nabi Sulaiman kemudian meminta agar singgasana Ratu Balqis itu diubah sedemikian rupa untuk menguji apakah ratu itu masih mengenali singgasananya.

41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”.

Ratu Balqis yang menerima pulang utusannya yang datang membawa kembali hadiah yang hendak disampaikan kepada Sulaiman menyadari bahwa Sulaiman bukanlah lawannya. Negerinya pasti akan kalah. Oleh karena itu, dia datang menghadap Raja Sulaiman sebagai bentuk pengakuan.

Di depan istana Raja Sulaiman, kepada Balqis diperlihatkan sebuah singgasana. Raja Sulaiman menyuruh ratu untuk memeriksa apakah itu singgasananya?

42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?”

Balqis merasa kaget, kenapa bisa singgasananya ada di istana Sulaiman, siapa yang membawanya, padahal singgasana itu tadi ketika ditinggalkannya masih ada. Namun dia mengakui pasti ini adalah kehebatan Nabi Sulaiman yang sangat sulit ditandinginya. Dia pun menyerah dan menyatakan tunduk kepada Nabi Sulaiman.

(lanjutan) Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Sulaiman kemudian mengajak Ratu Balqis masuk ke dalam istana.

44. Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”.

Istana Sulaiman sangat megah, lantainya terbuat dari batu pualam seperti kaca. Begitu memasuki istana, Ratu Balqis mengangkat gaunnya karena melihat lantai istana seperti kolam air.

(lanjutan) Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.

Raja Sulaiman berkata bahwa itu bukan kolam, tetapi benar-benar lantai yang sangat licin seprti kaca.

(lanjutan) Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”.

Ratu Balqis sangat kagum dengan semua apa yang telah dialaminya tadi. Dari sinilah dia mendapat hidayah dari Allah bahwa semua itu adalah Kekuasaan Allah SWT, Tuhan yang harus disembah, bukan dewa matahari yang selama ini diyakininya.

(lanjutan) Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Shadaqallahul adzim. Maha benar Allah yang Maha Agung. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Sulaiman di atas, antara lain:.
1. Nabi Sulaiman meskipun diberi kekuasaan dan kelebihan oleh Allah SWT, dia tidaklah merasa angkuh dan sombong. Malah, semakin mendekatkan dirinya kepada Allah yang memberi semua kehebatan dna kekuasaan itu. Ilmu padi: semakin berisi maka semakin runduk. Banyak pemimpin di zaman sekarang ini jika semakin berkuasa maka semakin korup.

2. Nabi Sulaiman tidak ingin berbuat zalim meskipun dia merasa hebat. Dia berlaku lemah lembut pada orang kecil. Semut yang hanya seukuran ujung kuku tidak mau dia injak-injak.

Ada Kerbau di Kampus ITB (Tempo Doeloe)

Dapat kiriman foto dari Pak Johan, dosen Geologi ITB, foto ITB tempo dulu. Gambarnya tentang gedung Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan ITB ketika baru selesai dibangun. Ada kerbau sedang digembalakan di sana. Kalau sekarang di lahan itu mungkin sudah berganti dengan Kijang dan Panther.

Klik foto untuk melihat lebih besar.

Gedung Teknik Geologi sekarang (perhatikan, tidak jauh berubah):

Malas Makan dan Batal Mudik

Beginilah kalau sudah selesai lebaran. Ketupat belum habis, kue-kue yang dibeli dan dikasih orang masih banyak. Mau dimakan, sudah enek duluan. Padahal sebelum lebaran, kita ingin sekali menikmatinya, tetapi setelah lebaran kok malas ya memakannya. Ya sudah, disimpan saja dulu, sebulan atau dua bulan lagi barulah keinginan makan kue-kue itu muncul kembali. Kalau ketupat ya disimpan saja di dalam kulkas, gulainya nanti saja dibeli di rumah makan.

Sebulan kita berpuasa, siang hari kita menahan diri untuk tidak makan dan minum. Ketika kita sedang berpuasa, kita membayangkan kalau pada waktu berbuka nanti ingin makan ini dan makan itu. Tetapi, setelah berbuka dengan semangkuk kolak, sepiring nasi, dan segelas air, keinginan untuk makan ini dan itu pun hilang meskipun makanan itu sudah dibeli tadi. Hal yang sama terjadi ketika lebaran seperti yang saya ceritakan di atas. Tanya kenapa.

Lebaran ini saya tidak jadi pulang kampung. Harga tiket pesawat sudah keterlaluan, naik tiga kali lipat. Dikali lima orang dan dikali dua untuk pulang pergi, harga tiket seluruhnya sudah setara dengan sebuah motor Ho*da terbaru. Ho..ho, dipikir-pikir sayang juga mengeluarkan uang ssebanyak itu hanya untuk mudik. Pulang kampung tidak harus pada masa lebaran, bukan? Bulan-bulan sepi juga bisa.

Salah saya juga kenapa baru beli tiket ketika menjelang puasa. Sebulan sebelum lebaran harga tiket sudah sangat tinggi. Padahal sejak bulan Juli saya sudah rajin mengakses situs web maskapai penerbangan untuk mengetahui harga tiket, tetapi lagi-lagi mereka (maskapai itu) hanya menampilkan tiket kelas tertinggi. Tiket promo atau kelas menengah jangan harap ada.

Kata orang di travel, tiket mudik ke Padang sudah dibeli orang sejak bulan Januari. Apaaaa? Berarti sembilan bulan sebelum lebaran tiket yang masih murah sudah habis dibeli orang. Tidak gila itu, memang kenyataan demikian. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui fenomena ini. Okelah, untuk tahun depan saya akan beli tiket mudik mulai bulan Januari 2011.

Teman saya, Pak Qamaruzzaman di STEI, memberikan resep yang brilian untuk urusan tiket ini. Katanya, naik Air Asia saja dari Bandung ke Kuala Lumpur (Malaysia), lalu dari KL naik Air Asia lagi dari Kuala Lumpur ke Padang. Dari Bandung ada tiga kali penerbangan Air Asia ke KL, sedangkan dari KL ada satu kali penerbangan ke Padang. Tinggal cari jam keberangkatan yang cocok saja dari Bandung sehingga penerbangan dari KL ke Padang pas waktunya (tidak lama menunggu). Sambil menunggu check-in dari KL, kita bisa jalan-jalan dulu di bandara KLCC yang besar itu sambil makan di restoran McCurrie (yang pernah bersengketa dengan McDonald gara-gara urusan nama “Mc” itu) … he..he.

Harga tiketnya jatuhnya lebih murah sebab Air Asia ini sering sekali berpromo murah meriah jauh-jauh hari. Masa dari Bandung ke KL cuma 50.000? Yah, jika ditambah pajak dan macam-macam, jatuhnya gak sampai 200.000 per orang. Untuk fiskal tidak perlu bayar karena saya sudah punya kartu NPWP. Rahasia dapat tiket murah adalah harus rajin mengakses situs Air Asia untuk mengetahui harga tiket promo. Tetapi hal ini tidak murah kalau kita pergi sebaliknya, yaitu dari Padang ke KL, lalu dari KL ke Bandung, sebab sangat jarang ada tiket promo dari kota yang bukan tujuan utama. Kota tujuan utama Air Asia adalah dari Bandung, Jakarta, Medan, dan Denpasar.

Good.. good, Pak Qamaruz. Nanti saya akan coba resep bapak itu. Kalau bawa keluarga, ya harus disiapkan dulu paspor buat anak jauh-jauh hari. Hmm… saya juga perlu bikin paspor baru nih sebab paspor saya masih paspor biru, paspor dinas. Nggak lucu kan kalau mau pulang kampung harus lapor dulu ke Kedubes di KL untuk cap paspor dinas.

“Minal Aidin Wal Faizin” Bukan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Alhamdulillah, tinggal besok satu hari lagi ummat Islam akan menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Setelah sebulan penuh berpuasa, maka insya Allah hari Jumat nanti kita akan memasuki bulan Syawal. Alhamdulillah juga, puasa tahun ini di Indonesia tidak terlalu berat sebab meskipun sekarang ini musim kemarau, tetapi hujan turun terus hampir setiap hari karena anomali cuaca.

Mulai hari ini sudah banyak orang mengirim SMS lebaran, padahal lebaran masih 2 hari lagi. Saya saja sudah menerima 3 SMS. Diperkirakan besok SMS lebaran yang masuk ke ponsel setiap orang akan makin banyak lagi setelah waktu berbuka puasa yang terakhir (setelah Maghrib). Itu belum termasuk ucapan melalui akun jejaring sosial, email, dan blog.

Kalimat apa yang banyak diucapkan orang untuk memberi ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri? Kalau bukan “minal aidin walfaizin”, ya “(mohon) maaf lahir dan batin”. Seringkali penulisan kedua kalimat itu disatukan menjadi “minal aidin walfaizin, (mohon) maaf lahir dan batin”. Bagi orang yang tidak mengerti Bahasa Arab mungkin beranggapan bahwa “minal aidin walfaizin” itu artinya “maaf lahir dan batin”. Bukan saudara-saudara.

Tadi saya mendapat email dari milis sebelah yang menjelaskan arti “minal aidin walfaizin”. Berikut saya kutipkan sebagian isi email tesrebut”

Kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah penggalan sebuah doa dari doa yang lebih panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yakni : “Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Sehingga arti sesungguhnya dari “Minal Aidin wal Faizin adalah “Semoga
kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

Nah, begitu artinya, mudah-mudahan kita sekarang sudah memahami kalimat itu. Menurut penulis emal tadi, hati-hati juga kesalahan penulisan sebab dalam bahasa Arab berbeda satu huruf saja artinya sudah lain.

1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar.
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan Indonesia.
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf
“dzal” dalam abjad Arab.
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya
memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”.
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”,
seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”.

Selain ucapan “minal adin wal faizin, diantara kita juga sering menerima ucapan sebagai berikut: Taqabalalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan, puasaku dan puasa kalian”.

Oh ya, saya juga mendapat email dari teman yang berisi ucapan selamat hari raya, bunyinya cukup unik dan lucu, begini:

Selamat datang di penerbangan RAMADHAN AIR, Flight no 1431 H, dng tujuan IDUL FITRI. Jarak tempuh 2 hari lagi, dengan jelajah ketinggian TAQWA tanpa batas. Penerbangan ini bebas asap maksiat. Kenakan sabuk pengaman berlandaskan AL-Qur,an. Tegakkan sandaran kursi keimanan, lipat meja nafsu dan syahwat, Penerbangan ini bebas asap maksiat. Kenakan sabuk pengaman berlandaskan AL-Qur,an. Tegakkan sandaran kursi keimanan, lipat meja nafsu dan syahwat, serta buka jendela sodaqoh melalui infaq dan zakat. Jika cuaca buruk, perbanyak dzikir serta tilawah, dan beramallah secara luar biasa. Matikan semua alat komunikasi dng Syaetan, krn dpt mengganggu sistem navigasi ketaqwaan. Insya Allah kita mencapai tujuan surga.
Atas nama awak kabin yang bertugas, Pilot NurulSugiPamilih dan Co-Pilot , mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITHRI 1431 H.MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. TAQOBALALLAHU MINNA WAA MINKUM

Apapun kalimat ucapan itu, intinya sama yaitu mendoakan orang lain untuk mendapat kebaikan dari Allah SWT. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin”.