Menjadi Dosen di Daerah, Mana Peminatnya?

Beberapa hari ini saya mendapat banyak kiriman email dari teman-teman maupun dari alumni yang berkarir menjadi dosen Perguruan Tinggi di daerah maupun di Jawa Barat sendiri. Permintaannya satu: tolong dinformasikan kepada alumni Informatika ITB, ada lowongan menjadi dosen PNS untuk Program Studi/Jurusan Teknik informatika atau Ilmu Komputer. Maklum bulan-bulan sekarang memang lagi musim penerimaan PNS, baik di instansi Pemerintah, Departemen, termasuk menjadi dosen di PTN.

Permintaan pertama datang dari teman saya di Universitas Jember (baca pengumumannya di sini: www.unej.ac.id), Jawa Timur, minta tolong dicarikan alumni S2 Informatika untuk formasi dosen Ilmu Komputer di sana. Lalu alumni kami di Undip Semarang juga minta hal yang sama untuk Program Studi Ilmu Komputer. Terakhir datang email dari alumni di UPI Bandung — nah kalau ini di Bandung lho — untuk permohonan yang sama. Katanya di UPI Bandung baru ada dua alumni IF ITB. Tahun lalu malah datang permintaan dari teman di Unsri Palembang dan Unand Padang.

Permohonan mereka sangat mendesak, karena berkas lamaran harus masuk paling lambat minggu ini, sebab tes PNS sudah mulai dilakukan pada akhir Oktober ini. Kualifikasi yang diminta adalah S2, kalau S1 tidak boleh. ITB juga sedang menerima pendaftaran menjadi dosen, dan untuk formasi di STEI kualifikasinya sudah diturunkan menjadi S2, sebab mengharapkan pelamar yang sudah S3 sangat sedikit (atau malah tidak ada?).

Waduh, pusing juga mencari calon yang berminat untuk menjadi dosen di luar ITB, apalagi di perguruan tinggi daerah. Rata-rata alumni S2 di ITB ini enggan menjadi dosen di daerah yang jauh, maunya berkarir tidak jauh-jauh dari Bandung atau Jakarta. Maklum pusatnya duit dan proyek itu ya di Jakarta.

Teman-teman saya di PTN itu maunya kalau bisa yang menjadi dosen adalah alumni ITB sendiri, alamamater mereka juga. Cuma masalahnya ada gitu yang mau menjadi dosen di sana? Profesi menjadi dosen, apalagi di daerah masih belum menarik bagi alumni kami. Bekerja di perusahaan besar, di perusahaan asing, atau menjadi enterpreneur mungkin lebih menarik dibandingkan menjadi dosen. Akhirnya lulusan terbaik “lari” ke luar negeri atau bekerja di perusahaan besar, sementara yang menjadi dosen adalah mereka yang merasa “terpanggil” saja, dan itu pun kebanyakan yang biasa-biasa saja. Padahal seharusnya terbalik, lulusan terbaik seharusnya menjadi dosen karena mempunyai kapasitas mengembangkan ilmu pengetahuan, sementara yang biasa-biasa saja cukup bekerja di industri, sebab industri tidak memerlukan orang yang pintar-pintar amat.

Ayo para alumni, mari berkarir menjadi pendidik. Menjadi dosen itu sangat menarik dan menyenangkan. Biarpun gajinya tidak terlalu besar, tetapi hidup rasanya lebih tenang. Jauh dari stres tingkat tinggi seperti pekerja di Jakarta.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

22 Balasan ke Menjadi Dosen di Daerah, Mana Peminatnya?

  1. petra berkata:

    saya pengen jadi dosen seh… tapi belum lulus S2 pak :(

  2. ady wicaksono berkata:

    saya pribadi tidak berminat jadi dosen pak, selain tidak punya gelar S2, IPK saya juga dibawah 2,75.

    tapi saya pikir, informasinya saja yang kadang kurang terekspos pak, kadang informasi lowongan tidak sampai ke yang bersangkutan (yang punya mimpi jadi dosen, memenuhi syarat dan mampu).

    saya ijin repost di milis 97 kalau boleh pak, kali2 ada yang baca

  3. ibam berkata:

    Halo Pak Rinaldi :)

    Saya berminat sih Pak, tapi mungkin jadi dosen-nya di ITB, soalnya keluarga juga sebagian di Bandung. Kalo mau jadi dosen di daerah agak kasihan juga sama calon istri nanti yang pengennya berkarier di Bandung atau Jakarta. :(

    Tapi sekarang prasyarat jadi dosen udah bisa S2 ya Pak? Tadinya saya kepikiran buat nerusin S3 setelah lulus, kerja sebentar, baru balik buat lamar jadi dosen di ITB. Tapi kalo sekarang S2 udah bisa, menurut Bapak saya sebaiknya nerusin S3 atau langsung balik aja setelah lulus S2?

    Terima kasih akan masukannya Pak, hehe. :D

    • rinaldimunir berkata:

      Bam, kamu sekarang sudah lulus S2? Kalau sudah lulus S2, bisa saja melamar sekarang, karena untuk IF syaratnya hanya S2. Tahun ini formasi untuk IF hanya 2 orang. Saya dengar peminatnya cukup banyak karena syaratnya sudah diturunkan (lihat di situs web ITB yang saya beri pranala).

      Kalau tidak bisa tahun ini, kamu bisa teruskan S3 dulu, nanti kalau sudah selesai bisa melamar ke sini.

      Btw, calon istri anak mana nih?

  4. Nanda Firdausi berkata:

    Saya termasuk orang yang suka mengkritik ITB :P.

    Dulu saya kritik ITB kenapa cuma ingin mendapatkan S3 padahal banyak beasiswa yang mengharuskan pelamarnya adalah dosen di Perguruan Tinggi.

    Lalu sekarang saya juga kritik tentang syarat2 melamar yang agak sulit dipenuhi mereka yang sedang ada di luar negeri. Contohnya, tentang surat keputusan penetapan dan penyetaraan hasil penilaian ijazah. Untuk mereka yang masih di luar negeri yah cukup sulit untuk bisa dapat surat penyetaraan ini kecuali tentunya dengan merepotkan saudara/teman yang ada di Indonesia. Juga tentang surat keterangan sehat yang harus dari Rumah Sakit Umum Pemerintah.

    Lalu tentang surat tidak terikat kontrak. Lah, kalau begitu ITB cuma berharap dapat pengangguran dong? Yah wajar kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Protes selanjutnya tentang jangka waktu pelamaran. Kelihatan sekali kalau ini adalah proyek. Dari lamaran sampai ujian cuma selisih 2 minggu. Sampai hasil ujian diumumkan habis cuma kurang dari 2 bulan. Yah seperti kata saya yang didapat yah cuma mereka yang saat ini sedang menganggur.

    Yah baru protes seperti ini yang bisa saya layangkan. Mudah2an di kemudian hari proses perekrutan dosen menjadi lebih baik dan akomodatif dengan sasaran utama mendapatkan orang2 terbaik di bidangnya.

  5. Agung Cahyawan berkata:

    Akan lebih gampang kalo alumni itu berasal dari daerah yang bersangkutan, jadi sekalian pulang ke daerah asal. Saya alumni EL92 dan magister teknologi informasi 04 sekarang jadi dosen di teknik informatika UNUD.
    Sekalian permisi titip link, kebetulan UNUD juga sedang buka lowongan :
    http://cdc.unud.ac.id/ind/penerimaan-calon-pegawai-negeri-sipil-cpns-universitas-udayana-unud-tahun-2010/

  6. pebbie berkata:

    sayang sekali, dulu yang sudah S2 karena dijanjikan akan diangkat jadi dosen (mas Jo, mbak Risna, Pak Elfan) akhirnya ditelantarkan. Pak Rin, gosipnya STEI hanya membuka dua posisi karena diutamakan untuk yang sudah menjadi asisten akademik ya (mas lukman dan citra) makanya pendaftarannya cuma 1 minggu?

    kalau yang S3 nya di luar biasanya sudah males balik lagi Pak. tawaran karirnya (post-doc) biasanya lebih menarik, kecuali kalau sebelum S3 sudah jadi dosen di ITB terlebih dahulu. itu sudah tidak ada pilihan lain.

  7. rosa berkata:

    “sementara yang menjadi dosen adalah mereka yang merasa “terpanggil” saja, dan itu pun kebanyakan yang biasa-biasa saja.”

    Benar sekali Pak :D. Tapi jika dilogika, orang dengan kemampuan lebih akan mencari hidup yang lebih, kalaupun jadi dosen orientasinya proyek bisa-bisa (proyek dari institusi pendidikan), malah tidak bagus, tidak tulus. Mungkin jika gaji dosen udah Rp. 35 juta sebulan kayak Malaysia baru banyak yang ngelamar orang pinter :D. Tapi balik lagi jadinya gak tulus lagi he he he he….

  8. Riedha berkata:

    Bagaimana kalau sudah S3 tapi usia di atas 40 tahun?

  9. ceuceu berkata:

    sayang saya bukan s2 informatika ya, kalo ya saya mau juga tuh ngelamar. iNFO YG JURUSAN LAIN JUGA POST DISINI YA BANG.
    NUHUN……………

  10. Ian Hehe Lubis berkata:

    saya mau…. tapi S1

  11. Diana Cahyawati berkata:

    Saya tertarik, tapi sayang saya baru tesis dan yang saya ambil adalah magister pendidikan matematika. Apakah ada kesempatan untuk saya Bapak. Mohon jika ada saya diberi info.

  12. thomhertsiadari berkata:

    Saya akan lulus S2 pak, tapi bukan alumni ITB dan bukan informatika :)
    Mepet dikit sih, saya bidangnya telekomunikasi. Kalau ada info, boleh di share juga pak. Insya Allah saya berminat jadi dosen.

  13. thomhertsiadari berkata:

    :D
    betul pak, realitanya memang seperti itu.. Faktor network jg menentukan.
    Saya cari-cari tapi belum ketemu pak, ada tulisan antara realita dan idealisme bagi lulusan luar negeri di Indonesia ga pak? Saya ingin baca pendapat bapak :)

  14. adhi berkata:

    Saya pingin jadi dosen part time sebenarnya. Mengamalkan dan membagikan ilmu, terutama berdasarkan pengalaman saya di industri,karena teori dan praktik sangat berbeda di lapangan.

    Saya sendiri bekerja di industri dengan pendidikan terakhir S3 engineering dari Perancis. Kalau ada kesempatan saya sebenarnya ingin mengajar di universitas, tetapi selama ini lowongan saya tidak pernah ada respon. Apakah karena saya hanya ingin menjadi part-time lecturer ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s