Serba Salah dengan Negara Arab Saudi

Lagi-lagi cerita sedih pembantu Indonesia yang bekerja di luar negeri. Kali ini cerita datang dari Arab Saudi. Pembantu rumah tangga asal Indonesia, Sumiati, digunting mulutnya oleh majikannya. Mulut digunting? Memangnya kertas, apa. Sungguh memilukan nasibnya. Kasus Sumiati belum selesai, datang lagi kasus yang menghebohkan. Kikim, seorang pembantu asal Garut, ditemukan tewas dengan leher digorok, lalu mayatnya dibuang di tong sampah di kota Abha, Arab Saudi. Masih manusiakah majikan yang berlaku kejam kepada pembantu asal Indonesia itu?

Penyiksaaan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap pembantu asal Indonesia yang bekerja di luar negeri sudah kerap terjadi. Paling banyak terjadi kasus penyiksaan di Malaysia, Arab saudi, dan Singapura. Cerita orang dari Malaysia, pembantu asal Indonesia yang sering menerima perlakukan kejam kebanyakan bekerja pada majikan etnis Tionghoa. Begitu juga di Singapura. Orang Melayu di Malaysia jarang mengambil pembantu.

Kalau kisah penyiksaan terhadap pembantu terjadi di Arab Saudi, memang menimbulkan kegeraman bagi warga kita di tanah air. Hal ini karena sebagian orang Indonesia memperlebar persoalan ke masalah agama, yang tentu saja tidak proporsional. Bagaimana tidak, Arab Saudi adalah tempat dimana berada dua kota suci, Makkah dan Madinah, negara tempat kelahiran Rasulullah, tempat dimana agama Islam diturunkan, tetapi kenapa justru penyiksaan dan kekerasan terhadap pembantu justru dilakukan oleh penduduk di negara yang memiliki dua kota suci itu? Bagi orang yang phobia terhadap Islam, kasus Sumiati dan Kikim dijadikan amunisi untuk menambah runyam situasi, yaitu dengan mengaitkan masalah penyiksaan, perkosaan, dan pembunuhan terhadap wanita Indonesia untuk menjelek-jelekkan agama dan negara Arab. Hal ini dapat kita baca pada komentar-komentar pembaca berita media online yang memuat berita tersebut. Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menimbulkan kebencian kepada ras Arab, negara Arab, dan Islam. Padahal, ketika banyak kasus penyiksaan terhadap pembantu Indonesia terjadi di Malaysia yang notabene dilakukan oleh majikan etnis Cina yang umumnya beragama Budha atau Kong Hu Chu, tidak ada yang mengaitkan penyiksaan itu dengen etnis maupun agama.

Tentu saja bukan berarti kita membela Arab (negara dan orang-orangnya). Arab Saudi dan negara Arab lainnya tidak identik dengan agama Islam. Menyamakan Arab dengan Islam jelas keliru. Orang Arab Saudi sama saja dengan orang di negara lainnya, dimana ada orang yang berhati baik dan ada pula yang mempunyai hati bengis/jahat. Pembantu yang bernasib malang karena mendapat majikan berhati bengis. Padahal, banyak pula cerita sukses dari pembantu asal Indonesia yang mendapat majikan yang baik dan ramah. Menurut cerita mantan mahasiswa saya yang bekerja di Dubai (Uni Emirat Arab), di lingkungan negara-negara Arab, Arab Saudi adalah negara dengan tingkat pendidikan warganya yang masih rendah. Menurut saya, faktor pendidikan sangat menentukan penghargaaan seseorang terhadap manusia lainnya. Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih dapat menghargai hak orang lain. Faktanya, kata mahasiswa saya itu, sangat jarang kasus penyiksaan terhadap TKI asal Indonesia di negara-negara Arab yang lebih berpendidikan, seperti di Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, dan sebagainya, disamping kenyataan bahwa TKI di negara-negara itu memang tidak sebanyak di Arab Saudi. Oleh karena itu, saya menduga, majikan yang kurang berpendidikanlah yang banyak melakukan penyiksaan terhadap pembantu asal Indonesia di Arab Saudi.

Negara Indonesia sendiri memang agak serba salah dalam menghadapi Arab Saudi, apalagi kalau sampai memutuskan hubungan diplomatik segala gara-gara kasus ini. Terlalu keras terhadap Arab Saudi bisa menimbulkan masalah yang lebih pelik. Indonesia sangat bergantung pada negara ini karena urusan agama. Setiap tahun ratusan ribu jamaah haji Indonesia datang ke negara itu untuk menunaikan rukun Islam kelima, bahkan untuk mengangkut jamaah haji pun hanya boleh maskapai Garuda dan Saudia Airlines. Apa jadinya kalau hubungan diplomatik diputus? Bisa-bisa orang Indonesia tidak bisa lagi berhaji ke sana. Tentu Pemerintah Indonesia akan dimarahi oleh rakyatnya sendiri gara-gara hal ini. Atau, Arab Saudi merasa “pundung” lalu mengurangi kuota haji Indonesia karena Pemerintah Indonesia terlalu keras sikapnya kepada negara itu. Lagi-lagi Pemerintah akan dimarahi oleh rakyatnya karena gagal berangkat haji.

Menarik para TKI dari Arab Saudi? Ini juga bukan solusi. Ada dua juta orang TKI di Arab Saudi, kalau mereka dipulangkan, apakah Pemerintah sanggup mencarikan pekerjaan buat dua juta orang itu di tanah air? Menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi? Ini bolehlah, tetapi hanya bersifat sementara, karena negara tidak bisa melarang orang bekerja di luar negeri. Kalau bersifat permanen, maka seharusnya yang dilarang adalah mengirimkan tenaga kerja informal seperti pembantu rumah tangga. TKI yang dikirim seharusnya tenaga terdidik seperti perawat, sopir, dan sebagainya. Sudah saatnya Indonesia tidak lagi mengekspor (maaf) para ‘babu’ ke luar negeri, termasuk ke Malaysia dan Singapura. Mengirimkan pembantu sama saja merendahkan martabat bangsa. Di negeri orang pembantu itu dilecehkan dan disiksa.

Meskipun Arab Saudi adalah negara tempat kelahiran Nabi, negara dengan dua kota suci agama Islam, dan negara tempat lahirnya agama Islam, bukan berarti penduduk negara ini otomatis islami perilakunya. Sisa-sisa jahiliyah masih terdapat pada sebagian warganya, yakni masih menganggap pembantu sama dengan budak yang dapat diperlakukan semuanya (mungkin karena jahiliyah itulah Nabi Muhammad SAW diutus ke sana). Dengan keistimewaan sebagai ranah kelahiran para nabi, bukan berarti Arab Saudi negara yang bebas kritik. Selama ini negara Arab Saudi sudah menikmati triliunan rupiah dari ratusan ribu jamaah haji dan umrah dari Indonesia setiap tahun, maka seharusnya negara itu lebih menghargai hak-hak warga negara kita yang berada di sana. Negara Arab Saudi harus lebih mengedukasi warganegaranya untuk bersikap lebih baik kepada tenaga kerja asal Indonesia, selain itu mereka harus melindungi warga negara kita yang menjadi tenaga kerja di sana, serta memberikan hukuman berat bagi warganegaranya yang suka menyiksa pembantu. Pembantu bukanlah budak yang bisa diperlakukan seperti binatang. Mereka juga mahkluk Tuhan yang merdeka dan mempunyai hak untuk diperlakukan secara baik.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

23 Balasan ke Serba Salah dengan Negara Arab Saudi

  1. menurut saya berkata:

    Memang di tanah arab saudi, nabi besar Muhammad SAW lahir, tapi jangan lupa, di arab saudi pula abu jahal cs lahir. Generasi arab sekarang punya dua pilihan idola..

  2. petra berkata:

    yang menggelikan buat saya hanyalah mereka-mereka yang selalu sangat bersemangat mendemo Amerika dan Israel dengan pemikiran-pemikiran anti Yahudi seakan-akan tidak ada suaranya mengenai hal ini :(
    saya pribadi melihat hal ini, sama dengan tragedi-tragedi lain, hanya dari sisi kemanusiaan semata, kok :)

  3. Soni Satiawan berkata:

    Memang miris sekali pak mendengarkan berita yang datang dari arab saudi ini, apalagi kalo disangkutpautkan dengan ISLAM.

    Reason yang bapak utarakan di awal paragraf terakhir sudah dapat menjawab kenapa hal seperti ini bisa terjadi, karena memang benar masih banyak sekali orang-orang jahiliah yang ada di bumi arab yang tidak sadar dengan kejahiliahannya.

    Saya juga punya cerita Pak dengan salah satu kejahiliahan beberapa (tidak semua) orang-orang dari timur tengah yang kebetulan kuliah di sini dan ini berhubungan dengan makanan. Cerita ini saya dapatkan dari teman yang sedang mengambil master disini.

    Philippine merupakan satu-satunya negara katolik di Asia ini, otomatis yang namanya pork, B2, atau baboy (kata orang sini) sudah menjadi common meals bagi orang sini, di setiap restoran pasti menyuguhi ini (kecuali di restoran yang bersertifikasi halal, McD, and KFC). Selain karena katolik mereka juga negara yang terbuka, karenanya lumayan banyak mahasiswa-mahasiswa asing yang belajar di sini termasuk dari timteng.

    Singkat cerita, karena sulit mendapatkan makanan yang halal makanya fastfood merupakan salah satu solusi selain cepat juga karena mudah mendapatkannya. Suatu hari ketika teman saya sedang makan bareng ama teman-teman dari timteng ini, tanpa disadari pesanan yang terkandung dari yang dipesan mengandung baboy. Eh teman2 dari timteng yang udah tau ada baboy-nya langsung aja melahap walaupun udah dikasih tau. Mereka bilang kayak gini “yang penting saya pesannya tidak baboy, kalo yang dihidangkan baboy itu bukan urusan saya”. Mendengar jawaban seperti itu teman saya hanya bisa diam seribu bahasa sambil menahan lapar, karena tidak jadi makan..

    Untung saya masaknya dimasakin dan bahan2nya saya awasi langsung..

  4. ady wicaksono berkata:

    Menambahkan tulisan dari Pak Said (ketua NU), di kompas hari ini

    http://www.rimanews.com/read/20101127/7319/pilih-nyawa-atau-devisa

    Pilih Nyawa atau Devisa?

    Sabtu, 27 Nov 2010 09:04 WIB

    Oleh Said Aqil Siroj
    Ketua Umum Pengurus Besar NU

    Musibah yang menimpa Sumiati dan Kikim sekali lagi menampar wajah Indonesia. Walau sudah terlambat, kita harus berseru, ”Cukup!” Ini sudah cukup.

    Dari waktu ke waktu persoalan tenaga kerja Indonesia (TKI) selalu klasik dan berputar-putar di wilayah yang itu-itu juga. Di satu sisi para TKI kita sebut pahlawan devisa. Namun, anehnya, di sisi lain para pahlawan ini diperlakukan dengan cara yang tak manusiawi. Di bandara koruptor bisa melenggang bebas di karpet merah, sementara TKI harus ”disterilkan” melalui terminal dan lawang khusus.

    Kita sering menilai TKI dari segi ekonomi yang merendahkan martabat kemanusiaan. Secara salah kaprah kita mengamini ungkapan negara lain mengekspor produk, Indonesia mengekspor babu. Ungkapan ini sungguh melecehkan sumbangsih besar para TKI. Bahwa sumbangan devisa dari TKI sangat besar adalah fakta yang sama-sama kita ketahui.

    Khazanah Nusantara
    Sumbangsih lain yang sering luput adalah peran TKI sebagai duta kebudayaan. Saya takjub menjumpai banyak TKI yang bekerja merawat anak kecil atau orangtua dengan cara dan khazanah Nusantara. Sejumlah TKI yang Muslim bahkan kerap menidurkan bayi dalam gendongan dengan menyenandungkan selawat dan puji-pujian kepada Tuhan.

    Hari-hari ini dengan mata telanjang kita menyaksikan TKI di Saudi direndahkan kemanusiaannya justru di negeri tempat Nabi Muhammad lahir dan berjuang melawan perbudakan. Sejumlah kezaliman terhadap TKI dibiarkan terus terjadi dan malah cenderung menumpulkan kepekaan kita untuk peduli. Akal sehat dan nurani kita terganggu.

    Pada 1983 saya bertanya kepada Jenderal (Purn) Achmad Tirtosudiro, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Waktu itu nasib TKI sudah memprihatinkan, sementara Pemerintah Indonesia seperti pura-pura tak tahu. Misalnya saja, saya masih tak yakin hingga sekarang apakah pemerintah peduli nasib ratusan TKI yang tinggal di kolong jembatan di daerah Jeddah. Saya bertanya, ”Apa yang bisa dilakukan kedutaan terhadap nasib TKI?” Pak Tirtosudiro menjawab dengan apologetik, tetapi akurat, ”Kami tak bisa berbuat apa-apa karena ini kebijakan dari Jakarta.”

    Lengkaplah sudah ironi TKI. Sementara Pemerintah Arab Saudi memang susah diajak berembuk, Pemerintah Indonesia sendiri tak pernah sungguh-sungguh menjamin nasib TKI, kecuali memeras keringat mereka. Betapapun mudah saya mengerti mengapa bisa terjadi, musibah yang menimpa TKI sama sekali tak bisa saya maklumi. Ironi TKI tak bisa dimaklumi karena banyak hal.

    Pertama, sudah sekitar dua dekade wacana nota kesepahaman Indonesia-Arab Saudi digaungkan. Namun, hingga kini hal itu ibarat menanti pepesan kosong. Di dalam negeri kita saksikan DPR terus menunda pengesahan RUU Perlindungan TKI yang dianggap bukan prioritas. Sementara Pemerintah Saudi terus berdalih penjaminan nasib TKI tak perlu nota kesepahaman. Bersamaan dengan itu, jaringan mafia TKI juga masih leluasa beroperasi memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat akar rumput.
    Kedua, penelantaran TKI di Saudi sekian lama adalah pengingkaran atas hak warga. Pelanggaran hak yang bersifat pasif ini bertentangan secara mendasar dengan kaidah tasharuff al imam ’ala al raiyyah manuthun bi al mashlahah. Segala kebijakan pemerintah harus berorientasi kepada kemaslahatan rakyat. Maka, penyedotan devisa dari saku TKI oleh pemerintah sambil mengingkari hak warga negara para TKI jelas tak bisa dibenarkan.
    Ketiga, pemerintah kerap menyebut bahwa pilihan menjadi TKI adalah hak warga negara yang menyangkut kebebasan menentukan penghidupan layak. Namun, dalam kenyataannya, seseorang menjadi TKI sering bukan karena kemerdekaan pilihan. Menjadi TKI justru merupakan keterpaksaan akibat impitan ekonomi di kampung halaman. Islam menganjurkan min sa’adati islaamil mar-i an yakuuna rizquhu fi baladihi, pencarian seorang mukmin tergelar di tanah airnya. Kini ungkapan subur sarwa tinandur-murah sarwa tinuku (serba subur-serba murah) hanya tinggal ungkapan yang kian jauh dari kenyataan.

    Maka, lonjakan jumlah TKI tak lain merupakan akumulasi dari kegagalan agenda menyejahterakan rakyat. Mestinya pemerintah beriktikad kuat, misalnya, menarik dana BLBI yang dikemplang. Dana BLBI cukup membuka lapangan kerja setidaknya bagi 10 juta jiwa.

    Keempat, sebagian pihak sering menyederhanakan tragedi demi tragedi yang menimpa TKI di Arab Saudi sekadar akibat dari perbedaan budaya. Penyederhanaan ini batal oleh kenyataan bahwa watak banyak penduduk Saudi justru tak berbudaya. Pengalaman 14 tahun tinggal di Arab Saudi membuat saya bisa memastikan berbagai wujud kejahiliahan baru di negeri minyak ini.

    Gemar memperbudak
    Salah satu karakter yang umum di kalangan orang Saudi ialah gemar memperbudak, tetapi tak mau diperbudak. Manusia dianggap milik yang bisa diperlakukan manasuka. Watak ini bertahan dan mengakar berabad-abad. Peradaban Islam di Timur Tengah tampaknya belum berhasil melanjutkan misi kenabian Muhammad dalam menghapus perbudakan.

    Sebagai Muslim tentu saya merasa malu mengapa perlakuan tak manusiawi bisa terjadi di Arab Saudi. Hal yang jauh berbeda justru saya saksikan, misalnya, di Taiwan, yang memperlakukan TKI lebih bermartabat. Di mata orang Taiwan, para TKI bekerja dalam konteks profesi, sementara di Saudi TKI dianggap sebagai budak yang dimiliki. Di Saudi jangankan mencari perlindungan ke kedutaan, nyaris semua TKI di Saudi yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tak diizinkan majikannya bisa mengakses dunia luar.

    Permasalahan tak dibayarnya gaji TKI juga menjadi masalah yang kerap kali terjadi. Padahal, Rasulullah juga telah bersabda, ”Berikan upah pekerja sebelum kering keringatnya.” Hadis sahih diriwayatkan Ibnu Majah. Dan kenyataan ini semakin menjauhkan Saudi dari nilai-nilai yang telah diajarkan atau disabdakan Rasulullah.

    Kita tahu bahwa selama ini kecenderungan pemerintah menangani permasalahan TKI sering kali reaksioner dan minimalis. Kalaupun hari ini pemerintah belum bisa berbuat banyak, yang bisa dituntut dalam waktu dekat ini sederhana saja: penghentian segera pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dalam hemat saya, langkah ini paling tepat jika mempertimbangkan kompleksitas masalah yang ada. Bagaimanapun pemerintah harus mendahulukan keselamatan satu nyawa, bahkan jika harus dibandingkan dengan satu triliun rupiah suntikan devisa

  5. handyawan berkata:

    sebagai orang Islam, mungkin saya cuma punya satu kepentingan dengan yang namanya “arab”, yaitu menunaikan rukun Islam ke-5 (ibadah haji), lebih dari itu NO WAY. Kecuali kepada Rasulullah dan beberapa sahabatnya, saya termasuk orang yang ( dengan atau tanpa alasan) tidak suka sama orang Arab. Yang saya rasakan dengan orang arab ,Klo bisnis, pelit. Klo gaul cenderung pingin lebih dihargai. Pokonya nggak aja. Klo ngomongin agama, sok pinter, tapi giliran akhlak, pada bae..lah. Ana sing seneng ngombem nlembuk.

  6. abu Ray berkata:

    assalamu’alaykum,

    Saya juga tinggal di timur tengah di saudi tepatnya kota dammam, saya banyak dengar cerita miring tentang tkw disini, kata supir taksi yg taksinya saya gunakan, setelah dia tahu saya orang indonesia, dia mendengar berita kalo tkw yg bekerja itu suka diperkosa rombongan seperti bapak, anak, dan saudara-saudara lelaki lainnya untuk satu tkw melayani sekeluarga lelaki, dan ada lagi kalau tkw usia 20 tahun dijadikan ibu susu walaupun dia tidak dalam masa menyusui, dan untuk mengeluarkan susu biasanya harus hamil, dia dipaksa agar hamil dan dimanfaatkan oleh pacarnya seekor supir truk dari yaman untuk memuaskan nafsu si sopir itu.

    Adapun TKW yang kabur biasanya dpt perlakuan jelek dari majikan, kerja 20 jam sehari tidak ada libur dan istirahat, gaji tidak dibayar, pelecehan seksual dan kekerasan fisik lainnya, untuk mencegah kabur biasanya passport ditahan, dan tidak boleh telepon keluar, kalau sudah nekat biasanya kabur ke penampungan dan sebagian jadi wts karena terpaksa dan tidak punya uang, tempat mangkal biasanya penampungan dan kolong jembatan (untuk jeddah terkadang dimanfaatkan bangsa sendiri dari etnis madura – No SARA karena pengalaman sendiri) atau kongkow2 seperti mall atau pantai/ corniche seperti di khobar – dammam.

    Teman-teman bangladesh saya cerita kalau mereka punya simpanan atau mainan wanita indonesia, jadi kebijakan yang disimpulkan dari pemerintahan negara adalah mereka mengirimkan pejantan – karena mereka tidak bawa istri bagi yg punya, dan pemerintah indonesia mengirmkan betinanya dan menikmati devisa hasilnya berupa kiriman uang dan pungutan di bandara serta dari pungutan per kepala dari PJTKI lalu bersikap masa bodo dan EGP (emangnya gue pikirin), dan terkadang kalau ada TKW yg mengadu suka disuruh sabar walau nyawa diujung tanduk dan terkadang di ledek oleh orang konsulat kalau ada pelecehan, jadinya suka malas mengadu lagi.

    Semua ini berawal dari pajak tinggi dan permainan harga yg dilakukan pemerintah untuk tarif utilitas barang dan jasa seperti listrik, bbm, impor bahan baku, jadinya investor pada malas berinvestasi dan memilih berinvestasi di negara tetangga seperti malaysia, ataupun thailand (saya suka melihat elektronik tulisannya selalu “made in malaysia” untuk komputer dan elektronik lainnya). kalaupun ada perusahaan yang berdiri biasanya langsung menekan ongkos produksi dengan mengecilkan upah karyawan karena utilitas seperti listrik, air, dan bahan baku yg dijadikan mahal sudah harga mati yg tidak bisa ditawar lagi.

  7. TheSalt Asin berkata:

    Saya pernah baca FATWA dari ULAMA Arab Saudi, yang menyatakan : ( bunyinya kira-kira begini ): ….bahwa perbudakan itu oleh Rasulullah saw belum dihapus ( dibatalkan ) …bagi yang menolak adanya perbudakan adalah …KAFIR….kalau tidak salah lihat, itu ada dalam bukunya ..Pa ujang bin Pa ujan’ wallahu ‘alam. wassalam.

    • Aditya berkata:

      Wah, jangan asal nuduh. Kalau ngasih tuduhan yang jelas buktinya, jangan masih ada “kalau tidak salah lihat”-nya sudah diutarakan tuduhan itu. Itu bisa menjadi fitnah, apalagi yang Anda tuduh adalah ulama. Ada ungkapan “daging ulama itu beracun”. Jika kita memfitnah/meng-ghibah ulama, kita akan terkena racunnya.. Wallohua’lam..

    • salah satu manusia sampah yang berusaha merusak citra Islam dengan membuat berita palsu dan menjelekkan Ulama Islam
      semoga hidup Anda segera teradili oleh Allah SWT

  8. Bin Adnan berkata:

    Tidak benar jika dikatakan bahwa Arab Saudi adalah negara tempat kelahiran Rasulullah karena waktu Rasulullah lahir di Mekah, kerajaan Arab Saudi belumlah berdiri.

    Kerajaan Arab Saudi baru didirikan di awal abad 20 masehi oleh keluarga Saud yang merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya. Dan keluarga Saud tak ada hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Keluarga Rasulullah adalah Bani Hasyim, yang sudah tersingkir dari jazirah Arab, hijrah ke utara dan mendirikan kerajaan Yordania.

    Jadi, jika ada perilaku tidak terpuji dari pemerintah Arab Saudi ataupun warganya, janganlah dikaitkan dengan Rasulullah atau dengan Islam. Pemerintah dan warga Arab Saudi adalah Muslim, tapi mereka tidak lebih mulia dari Muslim yang lainnya.

  9. Anti Arab berkata:

    KITA GANYANG ORANG2 ARAB. Orang Arab itu gak ada yg bener semuanya Tak punya prikemanusian egois seperti agamanya orang arab maunya benar sendri. Mereka gak mau menghormati kalo agama mereka banyak di anut di Indonesia. Saya sebagai orang Islam merasa kecewa lagi2 orang arab menganiaya TKW kita. Sebaiknya pemerintah harus memutuskan hubungan diplomatik dengan arab karena apa sih untungnya arab terhadap Indonesia. Orang arab tidak memberi lapangan kerja seperti orang2 Cina di Indonesia. Hanya arab saja yg meraup keuntungan dari orang Indonesia yg pada naik haji.

  10. Habieb koclok berkata:

    Sebaiknya pemerintah RI harus menggandeng Israel dan memutuskan hubungan dengan Arab. Percuma orang arab semuanya Jahat2 tak ada satupun yg baik termasuk para pranakan arab di Indonesia mereka sombong2. Mari kita usir mereka dari bumi pertiwi ini.

  11. Duloh berkata:

    @ Bin adnan on. > Sok tau lo ah. Lo kata siapa?? Enak aja lo kalo ngomong sembarangan sok tau lo. Coba kalo lo punya anak atau bini luh jadi TKW lalu di perkosa n di aniaya sama orang arab. Lo pasti ngomong lain. Kodok luh.

  12. LUHUT SIAHAAN berkata:

    cuci tangan ni yeeeee

  13. da'onk berkata:

    kejam,,gk nduwe dudu menungso

  14. da'onk berkata:

    kejam,,dudu menungso

  15. erni berkata:

    Ngapain pergi haji! buang buang duit aja mana lagi uang untuk prgi haji di korupsi lagi, belum lagi uang menunaikan ibadah haji untuk negara BAR BAR ARAB SAUDI. Lebih baik uangnya untuk fakir miskin atau kalau lebih, bisah bikin usaha dan mempekerjakaan orang lain lebih bermakna. Masih banyak cara berbuat kebaikan untuk akhirat nanti. Tidak harus dengan naik haji! Saya setuju kalau pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan negara bar bar arab saudi.

    • nuroh berkata:

      kalo indonesia putuskn hubungan diplomatikx ama saudi bangkrut indonesia toh semua devisa kebanxkan dari tki,aplgi wktu indonesia kena musibah smpe2 saudi nyumbang 20 juta riyal,,n masalah haji bukan arab yg nentukan keharusanx tp apa gk tau rukun islam,,,haji termasuk rukun islam lho,,

  16. syafee berkata:

    Asskm,,sy butuhkn ejen @ psendirian buat ngurusen PRT utk bkrja di Malaysia skitar 1000 org. Semua ursn paspor, tiket, medical, wang pertinggalan anda uruskn tlbh dahulu, smp di Malaysia sy akn byr stiap seorg Rm3000/Rp9juta. *Gaji PRT pblnn Rm600/Rp1800,000 *Ada elaun cuti Rm5/Rp15,000 *Kenaikkn gaji Rm15/Rp45,000 *Bonus Kesetiaan hjg tahun Rm100/Rp300,000 *Dibikinkan rekening bank BRI/BNI *Bkrja d rmh org muslim/d jamin *Masa bkrja dari 5.30pg-9mlm shja *Di urus langsung oleh sy sgla ursn anda slagi bkrja sm majikn. Langsung hbngi sy: +60193930438/syafee/ Ini FB qu: SANGBENTARAGURU……Salam lebaran buat para pengunjung yg budiman semua,,,mksh!

  17. Imashaen berkata:

    Lagi cari refrensi buat bikin cerpen dg tema TKI , :)
    kalo urusan pendapat, semuanya pasti beda…
    THINK BIG

  18. hamba Allah berkata:

    he nomer 10, LA’NATULLAH AILAIKUM INSYAALLAH. InsyaAllah Indonesia aman damai selalu jgn sampai deket2 ma israel biang masalah. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s